Judul Cerita
Penulis
Total Chapter
Hak Akses
Hanya Untuk
: Demi Keluarga
: elngprtma
: 6 Chapter
: Member Eksklusif
: DEWASA!
DISCLAIMER!
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
Bab 1 – Lelaki itu Datang
Musim kemarau berkepanjangan tahun lalu telah menghancurkan semuanya. Semua tanaman di ladang dan kebun Abah mati kekeringan. Karena stress, Abah terkena stroke dan aku pun harus membatalkan niatku untuk melanjutkan kuliah ke tingkat S2.
Semakin hari kondisi Abah semakin bertambah menurun. Kami sekeluarga harus menjual barang-barang berharga untuk membiayai pengobatan dan membayar cicilan kredit ke bank. Pada bulan ke-enam, kami sudah tidak punya apa-apa lagi yang dapat kami jual, sementara rumah dan ladang sudah diagunkan Abah ke bank untuk mendapatkan kredit sehingga tidak mungkin kami menjualnya.
Sebulan yang lalu, beberapa orang petugas bank datang menagih pembayaran cicilan kredit yang sudah tidak lagi dapat kami bayar selama tiga bulan. Mereka mengancam akan menyita rumah dan ladang apabila kami tidak dapat melunasi tunggakan pembayaran dalam waktu dua minggu.
Kami hanya bisa menangis, memohon belas kasihan dari orang-orang bank itu. Namun, mereka hanya petugas yang tidak memiliki kewewenangan yang berpengaruh, tidak mungkin mereka dapat membantu kami.
Di tengah kekalutan yang menyelimuti keluarga, laki-laki paruh baya mendatangi kami dan bersedia membantu kami. Dia adalah salah seorang yang paling kaya di kampung, yang juga sekaligus merupakan saingan usaha Abah.
Kami mengenal pria ini sebagai Pak Suryo. Semua hutang-hutang kami dibayar lunas oleh Pak Suryo pada hari itu juga. Kami semua sangat senang dan berterima kasih pada Pak Suryo, tanpa dia, kami mungkin harus tinggal di kolong jembatan atau emperan toko, menjadi gembel.
Suatu malam, Pak Suryo datang kembali ke rumah kami, aku menemani Ambu untuk menemuinya. Tak disangka, ketika Ambu pergi menengok Abah di kamar, Pak Suryo mengatakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiranku.
“Kamu tau, kan Lusi, Utang abah kamu itu sangat besar sekali. Saya harus mengeruk semua tabungan untuk melunasinya. Tentu saja saya tidak mau itu hanya cuma-cuma. Saya harus mendapatkan sesuatu. Saya ingin mendapatkan kamu, Lusi,” kata Pak Suryo blak-blakan.
“Mak ... Mmaak ... mak-masud Pak Suryo, bapak mau mengambil saya sebaga istri?” tanyaku terbata-bata, dengan kedua mata terbelalak.
“Lusi ... Lusi ... kalau saya mengambil kamu sebagai istri, maka hubungan utang piutang di antara kita akan hilang. Saya tidak mau itu. Saya bilang kan tadi saya ingin mendapatkan kamu, tubuh kamu persisnya. Saya ingin menikmati tubuh kamu sampai saya anggap semua utang itu lunas,” kata Pak Suryo sambil menyeringai licik.
Begitu mendengar keinginan Pak Suryo, Ambu yang kebetulan menghampiri kami dan mendengarnya, langsung meminta Pak Suryo pergi dari rumah kami. Namun Pak Suryo membalas ucapan ambu dengan mengatakan bahwa dialah yang sebenarnya paling mempunyai hak untuk mengusir kami dari rumah ini.
Pak Suryo benar, dan kami tidak punya alasan lain untuk membantahnya. Aku dan Ambu menangis sambil berpelukan. Walau merasa jijik, aku kemudian menyadari, bahwa memang kenyataannya aku tidak mempunyai pilihan lain selain harus merelakan tubuhku agar aku dapat menyelamatkan kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi. Karena itu, aku akhirnya menyetujui permintaan Pak Suryo.
Malam itu juga, Pak Suryo menjadi lelaki pertama yang “tidur” denganku. Dengan berderai airmata, aku merelakan kesucianku untuk membayar utang Abah. Di kamarku ini, untuk pertama kalinya aku melayani laki-laki memuaskan birahinya. Pak Suryo bahkan tidak mau repot-repot menghabiskan uang untuk menyewa kamar hotel untuk menikmati tubuhku. Begitu aku menyetujui niatnya, Pak Suryo meminta aku bersiap-siap di kamarku sambil menunggu obat kuat yang diminumnya bereaksi.
Aku masih duduk di ujung tempat tidur ketika Pak Suryo masuk ke dalam kamarku. Dia langsung menghampiriku tanpa peduli pintu kamarku masih terbuka lebar, dan kemudian dengan santainya membelai rambutku.
Tiba-tiba dia membuka retsleting celananya dan mengeluarkan batang hitam miliknya yang sudah tampak berdiri tegang. Aku terkesiap, darahku seakan berhenti mengalir saat itu juga. Itu adalah kali pertama kalinya aku melihat sesuatu yang menjadi alat reproduksinya lelaki, dan itu sekarang berada tepat di depan wajahku.
Pak Suryo meminta aku mengulum batang hitam itu, dengan tangan gemetar aku terpaksa memegangnya, sementara Pak Suryo memasukkannya ke mulutku. Air mataku berlinang, miris rasanya, aku yang menempuh berpendidikan tinggi, terpaksa harus mengulum alat vital dari seorang laki-laki tua.
Pak Suryo menjambak rambutku dengan lembut, lalu memaksaku untuk menghisap dan mengulum miliknya itu dengan mulutku. Meski aku sempat tersedak, aku berusaha untuk menenangkan diri, demi kedua orangtuaku.
Pak Suryo menikmati permainan mulutku sembari mendesis. Setelah beberapa menit berlalu, alat vital Pak Suryo tampak semakin keras dan menegang. Pak Suryo lalu memegang kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendorong batang hitam miliknya itu ke dalam mulutku.
“Ssshhhhhhh Akh! Lusiiii ....” Pak Suryo mendesis sembari memejamkan kedua matanya. Lelaki separuh baya itu akhirnya mencapai klimaks dan air kental yang menyembur seketika pecah di dalam mulutku. Karena kepalaku tertahan kedua tangan Pak Suryo, aku terpaksa menelan lahar panas itu agar aku tetap bisa bernafas. Sebagiannya bahkan meleleh keluar dari mulutku ketika Pak Suryo menarik keluar batang hitamnya itu hingga cipratannya membasahi bajuku.
Kemudian, setelah beberapa menit kemudian, Pak Suryo memintaku membuka semua pakaian yang aku kenakan. Pak Suryo menjadi lelaki pertama yang melihatku tidak mengenakan selembar busana pun yang menutupi tubuh.
Pak Suryo memandangi tubuh mulusku sejenak, matanya tampak membulat. Dan aku tahu, sedetik kemudian Ppak Suryo menelan air ludahnya sendiri, lalu dengan napas yang terengah-engah, Pak Suryo memintaku merebahkan badan di atas tempat tidur, sementara dia melucuti pakaiannya sendiri.
Pak Suryo naik ke atas tempat tidur dengan tergesa-gesa, lalu kedua tangannya mulai berkeliaran menjelajahi kedua bukit kembarku yang terbentang dengan bebas di depan kedua matanya. Dia meremasnya dengan lembut sembari memainkan secuil daging berwarna merah muda kecoklat-coklatan di atas puncak bukit kembarku.
Aku terdiam kaku bagaikan patung. Berusaha untuk mengabaikan rasa geli yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya pada buah dadaku. Salah satu tangannya lalu meluncur ke bawah, dan di antara kedua pangkal pahaku, ia membelai lembut area kewanitaanku, memainkan jari-jarinya di atas oran vital milikku. Sesuatu yang aku jaga selama ini akhirnya terjamah oleh lelaki separuh baya yang telah melunasi hutang-hutang kedua orangtuaku.
Bab 2 – Saat Itu Juga Memintanya
Pada detik itu juga, laki-laki paruh baya itu memainkan lidahnya pada salah satu bukit kembarku. Saat itu sebenarnya aku ingin memarahi diriku sendiri, karena aku seharusnya tidak menikmati apa yang sedang dia lakukan pada tubuhku. Namun, sungguh aku tidak kuasa menahannya. Pak Suryo telah berhasil memberikan sensasi yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sensasi yang membuatku melambung jauh ke awang-awang.
Bahkan, aku seolah tidak menyadarinya ketika aku tiba-tiba saja mulai membuka lebar-lebar kedua pahaku dan mengerakan pinggulku. Pak Suryo lalu membuka bibir area kewanitaanku, dan dengan jari-jarinya dia mulai menggosok-gosok secuil daging lembut di atas bibir alat reproduksiku dengan lembut.
Sedangkan mulutnya tak henti-hentinya menghisap ujung puncak bukit kembarku dengan penuh napsu tinggi. “Aaaakhhh .....” aku kembali mendesis pelan, tubuhku benar-benar sudah berada di luar kendaliku sendiri, nafsu birahi ini telah menguasaiku.
Perlahan-lahan kepala Pak Suryo berpindah dari dadaku, turun ke perutku dan akhirnya dia menempatkan kepalanya tepat di depan selangkanganku. Dengan lidah dan bibirnya dia melahap habis area kewanitaanku. Hancur sudah pertahananku. Aku kini bahkan menaikkan pinggulku seolah sengaja nyodorkan area keintimanku sambil memembelai dan sesekali merenggut rambut Pak Suryo. Sensasi rasa yang seperti ini benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya. Begitu indah dan nikmat terasa.
“Uuuuccchhhh Sssssshhh .... Aakkkhh ...” Aku kembali mendesis panjang, memejamkan kedua mataku, menahan segala rasa yang dipenuhi dengan kenikmatan tak terbantahkan.
Melihat aku sudah begitu sangat terangsang, Pak Suryo lalu berhenti memainkan lidahnya di area kedua pangkal pahaku, lalu mengambil posisi di antara selangkanganku. Batang hitamnya itu mulai digesek-gesekkannya ke daerah sensitifku.
Aku yang sedari tadi sudah dikendalikan andrenalin tinggi dan letupan libido yang menderu kencang, segera mengangkat bokongku, sehingga ujung batang hitam milik Pak Suryo mulai terasa menyelinap masuk ke dalam lubang sempit yang masih perawan milikku.
Seketika itu juga aku tersentak. Sensasi yang aku rasakan ternyata jauh lebih nikmat sehingga tanpa sadar aku memohon kepada Pak Suryo untuk cepat-cepat memasukkan batang pusaka miliknya itu ke dalam area kewanitaanku yang sudah basah oleh cairanku lendir dan air liur Pak Suryo.
“Masukin, Pak ... masukin aja ... Sssshhh... Akkkhhh ... aku sudah tidak tahan lagi,” ucapku mendesah pelan.
“Hehe ... siapa tadi yang menangis tersedu-sedu gak mau tidur denganku? Hahahaha ... Nih, aku kasih ....” ucapnya penuh dengan nada kemenangan, sambil medesakkan pinggulnya, batang pusakanya itu nya perlahan menerobos masuk ke dalam lubang kewamitaanku yang masih sangat sempit, Pak Suryo kembali berkata, “Agak sakit sedikit, kamu tahan ya ....”
“Akkkhhhhhhh ... Shhhhhhh ... i-iiyaaa Paaak ....” ucapku, kedua mataku masih terpejam, menahan desakan birahi yang meletup-letup memenuhi rongga dadaku. Separuh batang hitam milik Pak Suryo kini sudah masuk ke dalam area kewanitaanku.
“Aaaaakkhhhh ... Ssssshhhhhh ... Paak .... Aduuuhhh ....” Kembali aku sama sekali tidak bisa menahan raungan desahanku. Kedua tanganku kini sudah berada di balik pinggul Pak Suryo, membantunya membenamkan organ vital miliknya ke dalam area kewanitaanku.
Dia mengerakkan pingulnya maju mundur dengan perlahan. Aku meracau dilanda kenikmatan yang timbul karena gesekan dinding di dalam area kewanitaanku dengan tongkat pusaka milik Pak Suryo.
Lalu tiba-tiba Pak Suryo mengigit leherku dan menyentakan pinggulnya semakin maju sehingga batang hitamnya itu kini masuk seluruhnya ke dalam area kewanitaanku.
“Aaaaauuuw .... sakit ... pak!” seketika itu juga aku tersentak. Selaput daraku kini sudah tembus di robek batang hitam milik Pak Suryo. Namun rasa pedih di leher dan rasa kaget karena digigit secara tiba-tiba membuatku tidak terlalu merasakan pedih yang timbul karena sobeknya selaput daraku. Pak Suryo cuma terkekeh.
“Gimana? Gak terlalu sakit kan?” tanya Pak Suryo sembari terkekeh.
“Enggak Pak, tapi pelan-pelan, ya keluar masuknya, masih agak ngilu ....”
Pak Suryo mengangguk sembari tersenyum kepadaku, bersama napas yang masih tersenggal-senggal lelaki pasruh baya yang sudah berhasil membeliku itu mulai melakukan gerakan memompanya. Awalnya perlahan-lahan dan beberapa saat kemudian irama hentakannya terasa semakin cepat.
“Akkkhhhhh Yunii ... Nikmaaat bangeeeet ….. “ desis Pak Suryo mulai meracau. Aku tidak menjawabnya, terlalu sibuk menikmati penyatuan diri yang sama sekali tidak pernah aku duga sebelumnya. Sesekali aku melakukan perlawanan, mengangkat bokongku untuk menyambut hentakan pinggul Pak Suryo yang menghujamkan batang pusakanya ke dalam area kewanitaanku dengan berirama.
Aku semakin lupa diri, kesadaranku seolah menguap seiring rangkulan kedua tanganku di belakang punggung Pak Suryo. Antara kecewa kepada diri sendiri dan kepasrahan rupanya hanya beda tipis. Aku benar-benar sudah tidak bisa berpikir lagi dengan jernih, bahkan aku sekarang memperlakukan Pak Suryo sudah seperti seorang suami.
Pak Suryo tampak mempercepat gerakannya, dan aku pun semakin melambung tinggi ke angkasa. Tiba-tiba aku merasakan dorongan yang sangat kuat di bagian rahimku yang membuat aku seperti mengejan. Reluruh otot-otot di tubuhku mengejang. Area kewanitaanku berdenyut-denyut halus.
“Aaaakkkhh... Ssshhhh... Paaaaakkk .... a-aaakkuu .... aaakkhhh ...” Seketika itu juga aku mendesah dengan cukup keras ketika aku mencapai orgasme pertamaku, kedua tanganku melingkar di punggung Pak Suryo dengan erat, meresepi kenikmatan luar biasa yang ternyata sangat diluar perkiraanku selama ini.
Awalnya, semua ini aku lakukan benar-benar terpaksa, hanya untuk menyelamatkan martabat orang tuaku ternyata, agar terbebas dari lilitan hutang yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah itu. Nyatanya sekarang, aku begitu menikmatinya, walaupun harus dengan lelaki paruh baya yang umurnya terpaut jauh denganku.
Mungkin ini adalah kompensasi yang diberikan Tuhan atas pengorbananku, atau opini itu hanyalah sebuah pembenaran atas segala tindakanku. Aku tidak tahu, yang jelas saat ini tubuhku terasa santai setelah mencapai puncak kenikmatan itu aku raih. Aku terbaring lemas di atas tempat tidur sembari meresapi setiap helaan napas yang memburu dan sisa-sisa sensasi luar biasa yang sudah aku rasakan.
Pak Suryo yang masih belum mencapai puncak kepuasannya, tampak tidak terlalu suka melihat kondisi area kewanitaanku yang sudah sangat basah, terlebih menyaksikan tubuhku yang lemas tanpa reaksi. Dia lalu mencabut batang hitam miliknya itu dari lubang kewanitaanku dan berganti posisi.
Pak Suryo lalu menempatkan tongkat pusakanya di antara kedua buah dadaku yang putih dan bulat menantang. Dengan kedua tangannya dia memegang dan meresa buah dadaku dengan hingga batang hitam yang mengeras miliknya itu terjepit oleh kedua gundukan benda lembut dan kenyal milikku.
Perlahan, Pak Suryo menggerakkan pinggulnya dan memperlakukan celah di antara kedua buah dadaku seperti yang dia lakukan pada area kewanitaanku. Aku yang masih lemas karena orgasmeku hanya terdiam memandangi kepala batang pusakanya yang tampak timbul dan tenggelam dari himpitan kedua bukit kembarku.. Setelah beberapa menit, Pak Suryo terlihat mempercepat gerakkannya, semakin lama semakin bertambah cepat hingga akhirnya ia pun menegang, kedua bola matanya menutup merasakan hal yang sama sepertiku barusan. Dan beberapa detik kemudian, cairan larva putih itu menyembur kencang membasahi wajah, rambut, leher dan kedua bukit kembarku.
--------- Batas Preview ---------
Maaf, cerita terkunci!
Khusus Member
PAKET EKSKLUSIF
Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!
Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.
Login / Registrasi
Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan
terlebih dahulu.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Klik tombol di bawah ini
Langganan PaketMaaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Silahkan berlangganan kembali.
Langganan PaketMaaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.


