no fucking license
Pustaka Tersimpan
Cover Novel
“Iya....” sahut Intan pelan. Suaranya yang serak- serak basah itu seolah terdengar mendesah di telingaku, mengusik libido dalam tubuh yang telah lama terkubur dan hampir mati suri. Saat itu juga aku merasa jika malam ini akan mejadi malam kebangkitan yang sangat panjang, penuh hasrat dan gairah yang terbakar membara. Bayangkan, berdua bersama Intan di dalam apartement tanpa siapapun yang akan mengganggu. Malam itu adalah malam yang aku tunggu-tunggu. Ya! Benar! Malam itu akhirnya kami melakukannya. Baru saja pintu apartementku terbuka, Intan menyerobot bibirku dengan sangat liar, kedua tangannya bergerak cepat membuka seluruh kancing kemeja kantor yang masih aku gunakan.
Informasi Cerita
Judul
Cinta Dan Gairah
Penulis
elngprtma
Total Chapter
11 Chapter
Hak Akses
Member Eksklusif
Kategori
DEWASA!
DISCLAIMER
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
FeatureImage

Wanita terseksi

Waktu menunjukan pukul 9 malam. Kantor sudah mulai sepi. Di area lobby hanya ada Pak Syarif, security kantor yang kebagian lembur. Setelah melirik jam digital dilayar ponsel yang tergeletak sembarang di atas meja. Aku segera membereskan semua berkas, merapikan barang-barang pribadi, lalu bersiap meninggalkan ruangan kerja agar dapat segera melangkahkan kaki, menembus malam. Mencari sesuatu yang sanggup menghilangkan penat dalam diri. 

Karena harus membereskan semua pekerjaan yang tertunda, hari ini aku pulang terlambat. Sebenarnya tidak masalah, karena tidak ada seorangpun yang menungguku di apartement. Lagian, malam ini aku tidak berencana untuk langsung segera pulang. Biasanya, aku memang harus menunggu tubuhku benar-benar terasa lelah, agar sesampainya di apartement bisa langsung terlelap tanpa perlu memikirkan banyak hal. 

Bulan kemarin, aku baru saja menginjak usia kepala tiga. Walaupun penghasilan bulanan sudah stabil dan mampu mencukupi semua kebutuhan, entah mengapa sampai saat ini aku masih belum diberi kesempatan untuk mulai membangun bahtera rumah tangga dengan seseorang. 

Walaupun aku pernah dijodohkan oleh mama, tapi rasanya aku tidak melihat sosok wanita itu sebagai orang yang tepat untuk menjadi rekan dan pendamping hidup. Entahlah, aku sama sekali tidak merasa ada getaran yang signifikan dalam hati. Aku rasa, dia bukan ‘lah orang yang sengaja Tuhan kirim untuku. 

Karena itu, aku merasa tidak perlu menerima jodoh yang ditawarkan mama untukku. Aku tidak perlu khawatir, wanita yang dekat denganku cukup banyak. Bahkan, kemarin malam, seseorang yang aku kenal dari circle pertemanan di tempat tongkrongan, terang-terangan memberi sinyal kepadaku. Namanya Intan, tingginya hampir sejajar denganku. Mempunyai bentuk kepala tidak terlalu oval, seluruhnya seimbang dengan mata, alis, hidung dan terutama bibirnya yang mempunyai lekukan sempurna. Lelaki manapun akan melirik ke arahnya sampai rela memutarkan kepala saat ia melintas di depannya. 

Rambut yang ikal bergelombang sebahu menambah daya tarik lebih, Tuhan benar-benar menciptakan mahluk yang sangat sempurna. Dengan kulit putih berbulu halus tipis dan postur tubuh tinggi, padat, kencang serta berisi, rasanya Intan tidak akan pernah kesulitan mendapatkan lelaki manapun yang ia mau. 

Malam kemarin, aku sama sekali tidak menyangka ia akan menyapa dan mendekatiku. 

“Hai Rey, apa kabar? Sendiri?” tanyanya, melingkari bahuku dengan tangan kanannya tanpa merasa sungkan. Mungkin karena ia merasa sudah cukup lama kenal denganku, dan aku sama sekali tidak merasa keberatan sama sekali.

“Hai, Tan! Iya nih...” sahutku, melirik ke arahnya lalu melemparkan satu buah senyum yang melengkung di wajahku. Terus-terang, jantungku seakan berhenti berdetak saat itu. 

“Sendiri mulu... btw, aku belum pernah liat kamu jalan sama cewek, kapan-kapan ajak ‘lah cewek kamu itu nongkrong di sini...” ucapnya, menatap kearahku dengan tatapan bersahabat. 

“Cewek darimana?! Aku belum punya cewek, Tan! Sedih ‘kan ya? Ahaha....” sahutku sembari tertawa, menyembunyikan rasa kaku yang tiba-tiba menyerangku.

“Masa, sih?” tanyanya, lalu kembali mendekatkan tubuhnya. Sesuatu yang lembut dan menggelembung di dadanya menekan bahu, terasa hangat dan kenyal sekali. Intan seolah sengaja melakukannya. Entahlah, otak kotor di kepalaku seakan di beri sekeranjang harap, tiba-tiba libidoku tersulut dengan cepat.

Selama aku mengenal Intan kurang lebih beberapa bulan ini, aku memang tidak terlalu memperlihatkan secara terang-terangan soal ketertarikanku kepadanya, aku berpikir rasanya tidak mungkin Intan mempunyai rasa yang sama. Apalagi berharap ia mempunyai keinginan yang sama untuk menyalurkan pikiran-pikiran aneh yang selalu melintas dikepalaku saat melihatnya. Bentuk tubuh dan senyum manjanya itu diam-diam sudah menggoda kelelakianku, aku tidak menampik hal itu.  

Intan, kata orang hidupnya berantakan, menurut cerita yang beredar di circle pertemanan kami, Intan itu broken home. Orangtuanya bercerai setelah rahasia besar papinya ketahuan. Ternyata, papinya sudah menikah lagi sejak tiga tahun lalu dengan istri dari rekan bisnisnya yang telah meninggal. Ketika itu Intan benar-benar sangat gusar. 

Lalu, hampir di waktu yang bersamaan, maminya pun kepergok sedang berduaan di dalam kamar, bersama seorang lelaki muda yang segera kabur meloncat ke atas jendela kamar lalu melesat pergi melewati taman belakang rumah dan menghilang seketika.   

Intan adalah anak satu-satunya, kala itu ia benar-benar merasa hancur se-hancur-hancurnya. Walaupun kedua orangtua Intan kini sudah tenang di alam keabadian, kebenciannya kepada kedua orangtuanya telah membawa Intan berkelana dari satu tongkrongan ke tongkrongan lainnya, beserta pergaulan dan pengaruh yang tidak jelas tentunya. Aku tidak tahu sampai sedalam dan sejauh apa. Untuk sementara, kita lewati bagian itu.   

“Serius, aku belum menemukan yang cocok ajak kali, ya...” sahutku, mengusap rambut di ujung puncak kepalaku sembari tersenyum miris. Diam-diam, di antara pangkal pahaku ada sesuatu yang mengembang saat kedua buah di dadanya semakin rapat menempel di punggungku. 

“Sial! Kalem Jon! Kaleum!” teriakku dalam hati, memaki “adik kecilku” yang terkurung di dalam celana yang tiba-tiba terasa ketat. 

Suara Intan yang serak-serak basah, selalu terdengar seakan sedang mendesah manja. Membuat pikiranku terbang ke alam khayal, memompa andrenalin dengan sangat cepat, lalu memicu libido dalam aliran darah hingga melesat ke segala penjuru sel-sel dalam otak yang mengaktifkan pikiran-pikiran kotor dalam kepala. 

Saat kulit kami bersentuhan, aku seolah merasakan aliran listrik yang menyengat. Sentuhan kulitnya yang halus benar-benar memberi sensasi unik yang tidak aku temukan pada wanita-wanita lain yang pernah dekat denganku, dan aku sama sekali tidak meragukan hal itu.

“Oh, ya? Mungkin standar kamu terlalu tinggi, Rey!” ucapnya, lalu duduk di kursi sebelahku dan mengambil satu seloki kosong, mengisinya dengan wine yang aku pesan. Sembari mengangkat satu seloki kecil ke arahku, Intan tersenyum sembari meminta izin. 

“Boleh?” pintanya.

“Tentu! Mari bersulang!” sahutku, kembali membalas senyuman diwajahnya sembari melebarkan kedua bola mataku, memberinya tatapan bersahabat walau otak nakalku berkata hal lain. 

Semenjak aku mengenalnya, aku sudah menjadi penganggum rahasinya. Intan adalah wanita yang sangat beruntung, ia di ukir dengan sempurna oleh Tuhan. Mungkin saat menciptakannya, Tuhan sedang berbahagia, hingga yang ada pada dirinya hanyalah sebuah keindahan. Tidak ada yang bisa di cela. 

Kedua mata kami sempat beradu pandang untuk beberapa saat sebelum bunyi denting gelas beradu. Lalu, dengan senyum dan pandangan genit walau sekilas, wine itu pun meluncur bebas membasahi tenggorokan kami berdua. 

Setelah menghabiskan satu seloki, aku kembali bercerita tentang perjalanan cinta yang pernah aku lewati selama ini, “Bukan karena standarku terlalu tinggi. Entahlah, aku hanya belum menemukan seseorang yang benar-benar cocok... pernah beberapa kali mencoba menjalin hubungan, tetapi selalu kandas di tengah jalan. Rata-rata mereka meninggalkanku begitu saja.”

“Mengapa? Ada yang salah?”

“Entahlah, ya mungkin mereka merasa kurang sreg atau apalah, aku gak ngerti juga...” aku menyahut, lalu kemudian melirik kearahnya dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Kalau kamu sendiri? Terakhir aku lihat kamu dekat sama si Dangke, kemana dia sekarang?”

“Dangke?! Gak, kami cuma partner ngamen di cafe ini aja, gak ada hubungan yang aneh-aneh sama dia, lagian Dangke sudah punya istri....”

“Oh, iya? Kok aku baru tahu,”

“Memang istrinya Dangke gak pernah diajak kemana-mana, katanya sih biar dia bebas! Haha dasar si Dangke, Bangke!” Intan menggerutu sembari tertawa lepas. 

Demi apapun yang menjalankan sistem alam semesta, tawa Intan saat itu benar-benar membuat kedua bola mataku semakin melebar, tidak kuasa untuk tidak mengikatkan diri ke arahnya. Deretan gigi putih yang rapi, tampak sempurna menghiasi lengkungan bibir yang melebar saat ia tertawa. Cantik dan seksi. Dan yang lebih parahnya lagi, saat itu Intan benar-benar sudah membuat si “Joni” siap memberontak. Eh aduh, astaga. 

Percakapan singkatku dengan Intan kemarin malam benar-benar sangat membekas. Malam ini aku ingin segera sampai di cafe tempat Intan mengisi sesi musik, atau “ngamen”,  istilah yang sering Intan gunakan. Tiba-tiba saja, aku rindu mendengar suaranya yang serak-serak basah itu. Sungguh, mendengarnya saja selalu berhasil membuatku ngilu. 

Kemarin malam, Intan memang sengaja mendatangi meja dimana bokongku melekat di kursi itu. Ia datang hanya sekedar menyapaku sembari menunggu waktu wampil. Baru pertama kalinya kami terlihat akrab seperti tadi malam. Aku benar-benar merasa senang ia mau menemaniku, dan berani untuk mulai mengakrabkan diri. Sesuatu yang sangat jarang terjadi selama ini.

Cafe di daerah perbukitan dengan suasana enak memang menjadi salah satu tempat yang biasa aku kunjungi. Awalnya hanya sekedar melepas penat setelah seharian bekerja di kantor. Karena suasananya yang nyaman, lama-lama aku merasa betah nongkrong di sana, terlebih adan Intan yang rutin mengisi acara musiknya. 

Malam ini aku akan kembali ke sana. Karena aku terlambat pulang dari kantor, kemungkinan besar aku akan ketinggalan melihat perfom Intan. Karena menurut info, malam ini Intan hanya akan mengisi sesi pertama saja, lalu sesi kedua akan di isi oleh talent yang lain.

“Tidak apalah, mudahan setelah selesai perform, Intan tidak langsung pergi bersama teman-temannya,” ucapku dalam hati. 

Jalanan malam ini lumayan padat merayap, mungkin karena weekend, banyak mobil-mobil dengan plat nomor luar kota lalu lalang di sekitar jalan yang aku lalui. Di trotoar sisi kiri dan kanan jalan tampak berderet motor-motor antik dari beberapa komunitas, mereka duduk-duduk dan saling bersenda gurau dengan riang. Tanpa terasa, senyum lebar merekah di wajahku, teringat masa-masa remaja dulu yang melakukan banyak hal seperti mereka. 

Setelah hampir menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit di jalan, akhirnya aku tiba di sana. Dan, sesuatu yang tidak aku duga terjadi. Baru saja membuka pintu mobil, telingaku mendengar suara jeritan dari samping bangunan cafe yang kedua sisinya tidak memiliki begitu banyak pencahayaan.

“Arrgh! Lepasiiin!!”

Suara teriakan semakin jelas terdengar, kening di kepalaku tampak berkerut rapat saat mendengarnya sembari memicingkan mata ke arah sisi kanan gedung cafe itu. 

“Siapa itu yang menjerit?” tanyaku dalam hati. 

Dari tipe suaranya, aku agak sedikit curiga sekaligus khawatir. Curiga, sesuatu yang menjijikan sedang terjadi. Khawatir, jika suara teriakan itu berasal dari bibir Intan yang mempunyai lekukan seksi sempurna.


Bab 2 – Membawanya Pulang

Langkahku bergerak cepat menghampiri asal suara. Karena cahaya di samping cafe itu sangat minim, aku harus benar-benar memicingkan kedua mataku. Dengan samar, aku lihat dua orang lelaki mendominasi dan berusaha menguasai tubuh seorang wanita yang terpojok. Satu orang tampak mengunci tubuh wanita malang itu dengan kedua tangannya. Sementara seorang lagi yang berdiri di depan wanita itu, terlihat sedang menyingkapkan rok pendek yang dikenakan wanita itu dengan paksa, tampaknya ia bermaksud akan menarik celana yang dipakai wanita itu.

“Arrrgh! Anjeeng Lo!! Jangan berani coba-coba, lu setaaan!! Lepasin!!” Wanita itu kembali berteriak sekuat tenaga dengan histeris. Suara musik yang menggelegar dari dalam cafe benar-benar mengalahkan teriakannya, sehingga pihak security dan pengunjung cafe tidak ada satupun yang menyadari, bahwa di samping bangunan cafe sedang terjadi pelecehan seksual terhadap wanita.

Wanita itu masih tampak meronta dengan sekuat tenaganya, kedua kakinya menendang, melayang kesana dan kemari berusaha menghalau maksud buruk dari kedua lelaki itu. Langkah kakiku semakin cepat, firasatku mengatakan wanita itu memang benar Intan. Bentuk tubuh dan kostum khsusus yang biasa ia pakai untuk perform seolah mengkonfimasinya. 

Tidak memakan waktu lebih lama lagi, satu tendangan yang cukup keras dari kaki kananku segera menghantam punggung lelaki yang sedang berusaha membongkar pakaian Intan dan membelakangiku. Lelaki itu pun terdorong ke bawah tanah dengan sangat keras dan mengaduh kesakitan. Sementara temannya yang sedang mengunci tubuh Intan tampak membelalakan kedua matanya, lalu dengan cepat membuka cengkraman tangan yang mengunci tubuh Intan dan mulai menyerangku. Dari gerakan tubuhnya yang lemah dan tampak sempoyongan, aku melihat serangannya benar-benar asal dan sembarang. 

“Keparat! Ikut campur urusan orang, cari mati lu, hah!” lelaki itu berteriak, ayunan kepalan tangannya mengarah ke wajahku benar-benar tampak lambat. Percuma saja aku memegang sabuk hitam karate jika tidak bisa menghadapi pukulan lemah seperti itu.

Dengan gerakan singkat, tubuhku menyamping, lalu secepat kilat satu pukulan keras bergerak cepat menghantamnya, kepalan tanganku tepat mendarat di ulu hatinya dengan telak. Saat itu juga ia terpental jauh ke belakang lalu tersungkur di tanah dan tidak lagi mampu berdiri.

“Rey!” Teriak Intan sembari berlari memelukku. Kedua matanya tampak memerah, sedikit membengkak. Entah sudah berapa lama ia menahan tangis, amarah serta rasa takut yang menyelimutinya. 

Sembari melingkari pinggangku dengan kedua tangannya, ia berkata dengan suara yang terdengar bergetar dan lirih, “Makasih, Rey... entah apa yang menimpaku jika kamu tidak datang dan menyelamatkanku, huhuhu.....”

“Ssshh, sudah jangan takut, kamu aman sekarang....” ucapku, lalu dengan perlahan aku membawanya ke dalam cafe, membimbing langkah kakinya setelah meyakinkan diri, jika kedua lelaki itu sudah tidak lagi mampu bergerak apalagi mengejarku. 

Beberapa menit kemudian, dua orang security yang berbadan tegap di ikuti 2 orang dari manajemen cafe bergerak cepat ke samping bangunan dan meringkus kedua pemuda yang mabuk itu dengan sangat mudah. 

“Kamu ngapain di luar?” tanyaku, setelah mendapatkan meja dan memesan sebotol wine kesukaannya.

“Setelah selesai tampil di sesi pertama, aku tadinya mau ambil charger di bagasi motor. Baru beberapa langkah, dua orang tadi menyeret paksa lalu membawaku ke samping bangunan cafe. Kebetulan tadi security sedang berada di dalam, kemungkinan mereka tidak mengetahui kejadian itu. Aku sangat kaget dan takut Rey! Huhuu...” Terang Intan, tampak sekali ia masih merasa shock karena kejadian itu.

“Ssshh udah, kamu tenang dulu... mau minum?” ucapku sembari menawarkan segelas wine untuk menenangkannya. Intan menganggukan kepalanya pelan lalu mengambil segelas seloki yang aku sodorkan ke arahnya. 

“Rey, tolong bawa aku ke mana saja, aku takut ....” kata Intan, setelah menghabiskan segelas seloki wine, kedua tangannya lalu memegang erat lenganku, memohon dengan nada suara yang benar-benar mengiba. 

“Oke, tenang... kamu tenang dulu, ya...” aku menyahutnya sembari menepuk-nepuk punggung tangannya dengan lembut lalu kembali bertanya, “by the way, siapa mereka? Apa kamu mengenalnya?” tanyaku. Setelah Intan bisa duduk dengan tenang, aku masih berusaha menenangkannya. ia tampak kembali mengambil gelas kosong di atas meja lalu mengisinya dengan wine yang aku pesan.

Setelah tenggorokannya terasa basah, Intan menundukan kepalanya beberapa detik lalu pandangan matanya tampak mengelilingi sekitar area cafe seolah masih merasa ada yang memperhatikannya dengan seksama. Pelan-pelan, Intan berkata kepadaku, “Itu anak tongkrongan di Truno, mereka memang sering banget godain aku, tapi tidak pernah aku gubris....”

“Anak-anak Si Badil?” tanyaku sembari membelalakan kedua mata, lalu mendekatkan tubuhku dan kembali berkata, “Aku kenal beberapa orang yang suka nongkrong di Truno, tapi rasanya kedua lelaki itu belum pernah aku lihat di sana....”

 “Iya, Badil suka nongkrong di Truno, tapi kayaknya kedua lelaki tadi bukan genk-nya di Badil. Soalnya, setiap aku tampil di sana, kedua lelaki tadi tidak pernah terlihat satu tongkrongan sama anak-anak si Badil.”

“Hmm.... gitu, ya... ya sudah, yang penting kamu sekarang aman.” Ucapku kembali menegakan punggung dan mengalihkan pandanganku ke arah stage, menyaksikan penampilan Band yang mengisi sesi kedua. Mereka sudah hampir menyelesaikan lagu terakhir saat Intan mengucapkan satu buah permintaan yang sama sekali diluar perkiraanku.

“Mmmm, Rey...”

“Ya?”

“Malam ini aku boleh ikut kamu, gak?”

“Hah? Kemana?”

“Terserah... aku benar-benar takut pulang ke kostan sendirian,”

“Aku tadinya mau langsung balik ke apartement, tapi kalo kamu mau aku antar ke kostan, ayok! Motor kamu gak apa-aka ‘kan kalau di titip dulu di sini?” ucapku, kembali memutarkan kepala dan melihat ke arah Intan yang masih keliatan trauma akibat kejadian tadi.

“Gak, aku gak mau pulang ke kostan...” sahutnya.

“Lah, terus?”

“Terserah kamu kemana....”

“Kemana? Ikut ke Apartement?”

“Terserah, asal jangan antar aku pulang ke kostan, aku bener-bener takut, Rey!”

“Mmmm, ya udah hayu. Malam ini aku bisa tidur di sofa ruangan depan, nanti kamu tidur di kamarku aja....” ucapku.

Intan menganggukan kepalanya pelan-pelan dan kembali berkata, “Terima kasih, ya Rey....”

“Santai....” sahutku sembari kembali melingkari wajahku dengan sebuah senyum kecil. Tiba-tiba saja otak kotor dalam kepalaku mengeluarkan percikan-percikan nakal, menyalakan api libido dalam diriku. “Astaga, Rey!” seketika itu juga sebuah bentakan dari dalam batinku menggema seolah menyadarkanku dengan tamparan keras. 

Aku memang tertarik, karena Intan memang benar-benar menarik. Tapi aku tidak ingin berbuat licik, mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan otak picik. “Sabar Jon! Jika waktunya sudah tiba, kamu pasti dapat berkunjung ke rumahnya!” aku mendesis pelan ke arah bawah, di mana si “Joni, adik kecilku” bersemayam di dalam kurungan celana yang paling dalam. Meringkuk lengket dalam pengap.

 Aku sudah sangat lama tidak membawa si “Joni” jalan-jalan, menembus rimba lalu menjelalahi gua sempit yang membuatnya muntah berkali-kali. Terakhir, si “Joni” muntah di dalam tubuh Erine yang melentingkan punggungya saat “si Joni” menyemprotkan lahar putih panas ke dalam tubuhnya sebelum ia terkulai lemas dengan napas yang tersenggal-senggal. Sudah lama, sekitar beberapa bulan lalu. Semenjak itu tiba-tiba Erine meninggalkanku. Katanya, ia tidak kuat menerima  kunjungan “si Joni” yang mempunyai ukuran tubuh di atas rata-rata standar nasional.

“Pulang jam berapa?” tanya Intan, membuyarkan lamunanku. Dengan segera aku melirik ke arahnya, lalu sekilas melihat jam digital yang selalu tertampang di layar ponsel yang sudah menunjukan pukul 12 malam. Diam-diam aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran nakal yang tadi sempat melintas di kepala.


Bab 3 – Terasa Menjepit

“Hayuk, bentar lagi. Abisin dulu ‘lah winenya... sekali lagi, nih!” ucapku, menyodorkan satu gelas seloki ke arah Intan, lalu mengambil satu gelas lagi untukku sendiri.

“Tring!”

Bunyi gelas beradu, dengan lengkungan senyum yang masih tergambar indah di wajah, Intan memandangiku dengan tatapan yang selalu melumerkan hati, menegangkan urat syaraf terutama di sekitar selangkangan. 

Bagaimana tidak? Intan adalah salah satu sosok wanita yang seratus persen nyaris sempuna. Mempunyai wajah yang tidak hanya cantik, tetapi juga unik. Rasanya, karakter yang dimiliki Intan tidak akan pernah membuat siapa saja merasa bosan karena hadirnya, ia selalu mengukir rindu dalam hati. 

Lalu, bentuk tubuh? Duh, kalau kamu cowok, pasti kamu sepakat denganku. kulit putih bersih dengan dihiasi bulu-bulu halus di sekitar pergelangan tangan dan paha sangat cocok dengan bentuk tubuhnya yang mirip biola, tetapi ini biola kelas internasional. Kualitasnya jauh melebihi barang lokal. 

Satu lagi, yang membuat lelaki tidak mampu mengedipkan matanya, Bokongnya! Iya, serius! Bokongnya yang bulat, lembut dan tampak masih sangat kencang dengan pinggangnya ramping, perut rata dan buah di dada yang membusung, tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil. Sangat seimbang dengan semua yang dimilikinya. Waktu Tuhan menciptakan Intan, Tuhan sepertinya benar-benar sedang senang hati. 

“Makasih, ya Rey...” ucapnya, setelah gelas ditangannya kosong, ia kembali melemparkan satu lengkungan senyum memikat yang menghiasi wajahnya. Aku menganggukan kepala pelan, diam-diam menelan air liurku sendiri sebelum membalas senyum cantiknya dan berkata, “It’s my pleasure, Tan. Jangan sungkan....” ucapku.

“Ya udah, mau berangkat sekarang?” tanyanya.

“Hayuk! Aku ke kasir dulu, ya!” ucapku sebelum melangkahkan kaki ke arah kasir.

Intan menganggukan kepala, lalu mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Tampak ia membuka beberapa aplikasi, mengecek semua notifikasi yang masuk. Sembari menungguku, ia membalas beberapa pesan ataupun mention yang ia rasa harus dibalas.

“Yuk!” 

Tidak beberapa lama, aku sudah kembali menghampiri Intan dan mengajaknya meninggalkan cafe. Jantungku masih berdebar tidak menentu, “Membawa Intan ke apartement? Serius? Kuat kamu Joni!?” aku mengeluh dalam hati, masih menyalahkan si “Joni” adik kecilku yang kadang-kadang memang tidak pernah tahu diri.

“Udah? Hayuk!” ucap Intan sembari berdiri, lalu membawa ponsel dan tas kecilnya, mengikuti langkah kaki yang aku ayunkan di atas lantai menuju pelataran parkir. 

Sesaat sebelum kami keluar, tampak Pak Irawan, kepala security cafe menghampiri kami dan berkata, “Rey, kedua orang tadi sudah kami serahkan ke polsek, besok Intan usahakan datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, ya!” 

“Oh, iya pak! Siap, besok saya akan antar Intan ke kantor polisi. Oh, iya Pak! Titip motor di sini, gak apa-apa? Intan malam ini ikut saya,” tanyaku minta izin, tidak mungkin aku membiarkan Intan mengendarai sepeda motornya sendirian tengah malam, mengikuti laju mobil yang aku kendarai di jalan raya.

“Oh, iya gak apa-apa. Kunci aja motornya, ya!” Sahut Pak Irawan.

“Siap, makasih pak!”

Pak Irawan menganggukan kepala sebelum akhirnya kembali ke pos jaga. Cafe sebentar lagi closing, lampu-lampu di dalam cafe sudah mulai dimatikan satu persatu. Perlahan, kedua tanganku mengapit langkah Intan yang mulai tampak sedikit sempoyongan. Setelah membukakan pintu mobil, aku segera menghidupkan mesin dan meluncur menuju ke arah apartement.

Di perjalanan, Intan tidak banyak bicara, ia hanya memandang lurus ke arah depan, sesekali ia meilirk ke arahku sembari melengkungkan senyum tipis di wajahnya. Aku sama sekali tidak mengerti arti lirikannya itu. Hanya ada getaran halus dalam dada, lalu tiba-tiba ada sesuatu yang terasa berdenyut di antara kedua belah pangkal paha. 

“Sial, Jon!” umpatku dalam hati.

“Kenapa, Rey?” tanya Intan, seolah mengerti apa yang tengah aku risaukan. Mungkin ia sempat melihat gerakan tanganku yang sempat membetulkan posisi si “Joni” agar tegak lurus.

“Eh, gak apa-apa Tan!” ucapku, menahan malu.

“huummpp....” Intan berguman kecil, lingkaran senyum di wajahnya semakin tampak melebar.

“Ngomong-ngomong, kamu yakin gak kenal sama kedua lelaki yang gangguin kamu itu, Tan?” tanyaku, memecahkan kesunyian yang sempat terjadi di dalam mobil.

“Gak... tapi memang rasanya penah lihat, tapi aku gak tahu nama mereka siapa.”

“Hmmm, ya sudahlah, semoga mereka mendapatkan ganjaran setimpal atas semua kelakuan mereka, ya!” 

“Iya, Rey.... aku bener-bener takut....” ucapnya.

“Udah, tenang....”

Setelah itu, suasana kembali senyap, jalanan tampak lenggang, hanya ada satu dua kendaraan yang sempat berpapasan. Lalu, tanpa aku duga, Intan kembali berkata sembari melirik ke arahku dengan genit, “Daripada dipaksa sama kedua lelaki yang gak jelas itu, mending sama kamu, Rey...” ucapnya, perlahan telapak tangannya menyentuh kulit pergelangan tanganku. Saat itu juga aku merasa seperti ada semacam aliran listrik yang menyengat.

“Hah? Maksudnya?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“Kamu ah, suka pura-pura gak ngerti....” 

Sungguh, senyum di wajahnya tampak sangat misterius. Aku sih menangkapnya sebagai tatapan “mengajak”, terlebih saat Intan kembali melirik ke arahku sementara telapak tangannya semakin jauh mengusap pergelangan tanganku hingga menyentuh bahu dan menyusuri dada dengan sangat lembut. Sontak si “Joni” berdiri seakan ingin segera meloncat keluar saat itu juga. Setelah sekian lama tidak menemukan lawan, si “Joni” sekarang benar-benar siap berperang sampai darah titik penghabisan.

“Ih Intan, jangan!” keluhku pelan pura-pura polos, seolah menahan malu. Padahal, gendang di dalam dada sudah bergemuruh dengan sangat kencang. Sedetik kemudian aku balas melirik ke arahnya sembari kembali berkata dengan nada yang nakal, mulai berani menggodanya, “Jangan di sini....” 

“Iya....” sahut Intan pelan. Suaranya yang serak- serak basah itu seolah terdengar mendesah di telingaku, mengusik libido dalam tubuh yang telah lama terkubur dan hampir mati suri. Saat itu juga aku merasa jika malam ini akan mejadi malam kebangkitan yang sangat panjang, penuh hasrat dan gairah yang terbakar membara. Bayangkan, berdua bersama Intan di dalam apartement tanpa siapapun yang akan mengganggu. Malam itu adalah malam yang aku tunggu-tunggu.

Ya! Benar! Malam itu akhirnya kami melakukannya. Baru saja pintu apartementku terbuka, Intan menyerobot bibirku dengan sangat liar, kedua tangannya bergerak cepat membuka seluruh kancing kemeja kantor yang masih aku gunakan. 

Aku tidak mau kalah, setelah menutup pintu apartement dengan sebelah tangan, aku bergegas menjelajahi seluruh bagian tubuh Intan. Seperti orang kelaparan, tidak ada satupun yang terlewat. Bahkan, ketiaknya yang halus itu tidak luput dari sasaran bibir dan lidahku. Suara Intan yang mengerang dan mendesah liar, entah sudah berapa kali terdengar di telingaku. 

Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali mendapatkan sensasi mendebarkan seperti ini. Intan sosok wanita terhebat yang pernah bersamaku. Kecantikannya, bentuk tubuhnya, aromanya, semuanya yang ada pada dirinya tidak ada yang tidak dapat aku nikmati. Aku sugguh merasa sangat beruntung malam ini.

Entah mulai sejak kapan, kami berdua tiba-tiba sudah berada di kamar dalam keadaan busana yang tidak lagi lengkap. Bibir kami saling bertaut, menjelajahi rongga mulut dengan lidah yang saling mengikat satu sama lain. 

Kedua lengan kami tampak sibuk saling melepaskan pakaian masing-masing, hingga sampai busana terakhir, Intan menghentikan kegiatannya sejenak dan berbisik ke telingaku dengan sangat pelan, “Rey, bisa matiin lampunya? Aku malu...” ucapnya sembari mendesah.

Tanpa pikir panjang, aku segera menyentuh tombol saklar lampu di dalam kamar, saat itu juga keaadaan kamar tampak remang-remang, hanya terlihat bayangan lekuk tubuh yang menambah denyut andrenalin semakin kencang, terpompa dengan sangat hebat.


---------   Batas Preview    ---------


Maaf, cerita terkunci!

Khusus Member

PAKET EKSKLUSIF

Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!

Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.

Login / Registrasi

Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan terlebih dahulu.

Data Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -

Klik tombol di bawah ini

Langganan Paket
Paket Eksklusif Sudah Berakhir 💔

Maaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.


Data Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -


Silahkan berlangganan kembali.

Langganan Paket

Maaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.

Berhasil Berlangganan