no fucking license
Bookmark
Iklan

Dukun Cabul

“ke ... ini Mbah, aduh ... ma-malu aku ... Ke ini, tempat pipis saya, di ciumi dan dijilati juga ...” ucap Surti berdesis, lalu semakin menundukan kepalanya. Sedetik kemudian suaranya terhenti. "
-- Blurb --
Informasi Cerita :

Judul Cerita

Penulis

Total Chapter

Hak Akses

Hanya Untuk

:    Dukun Cabul

:    elngprtma

:    7 Chapter

:    Member Eksklusif

:    DEWASA!

DISCLAIMER!

Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.

FeatureImage

Bab 1 –Dunia Perdukunan

Suatu hari, Mbah berbicara serius kepadaku, mengajakku untuk menjadi “murid”nya. Saat itu aku hampir saja ketawa mendengarnya. Murid? wong aku sama sekali tidak percaya tentang segala hal takhayul macam itu, kok mau diangkat menjadi murid? 

Tetapi, segala keraguanku tiba-tiba hilang ketika Mbah Karto menjelaskan sesuatu yang menjadi akar permasalahanku selama ini, “Punya ilmu ini bisa buat cari uang, Marji.” katanya, lalu melanjutkan, “apa kamu tahu berapa penghasilan dukun-dukun itu? Mereka kaya-kaya lho. Meskipun ilmunya, dibandingkan dengan ilmu mbahmu ini, masih cetek banget.” Katanya dengan nada yang sangat meyakinkan dan tentu saja, gaya mata melotot.

Aku menggaruk kepalaku. “Apa benar?” tanyaku dalam hati. Akhirnya aku tertarik juga. Meskipun masih dengan malas-malasan dan sedikit tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Naik turun gunung, masuk ke dalam goa dan bertapa, yang dinginnya minta ampun. Dan aku pun dipaksa berpuasa mutih, puasa yang mengharuskan minum air dan nasi putih saja, empat puluh hari penuh. 

Terus terang, aku tidak merasa mendapatkan pengalaman aneh apapun selama mengikuti segala kegiatan itu. Tetapi, setiap mbah Karto menanyakan “apa kamu sudah ketemu jin ini atau jin itu” atau, “apa kamu melihat cahaya yang berkelebat waktu bersemadi?” aku iyakan saja, biar cepat. 

Akhirnya, setelah enam bulan berkelana, mbah Karto menyatakan aku sudah lulus ujian walaupun sebenarnya aku masih tidak tahu apa-apa. Dan mbah Karto pun memperkenalkan aku sebagai assistennya untuk menyembuhkan pasien dari berbagai penyakit yang aneh-aneh. Bahkan setelah beberapa lama, aku akhirnya dipercaya untuk buka praktek sendiri, di rumahku, dengan mempergunakan kamar samping rumah sebagai tempat praktek, meskipun aku harus membuat Mbak Min, kakakku marah-marah karena memintanya untuk pindah kamar tidur.

Setelah beberapa bulan praktek, aku baru menyadari bahwa ucapan mbah Karto ternyata benar. Aku kira, ini satu-satunya perkataannya yang benar, bahwa jadi dukun itu bisa dapat banyak duit! 

Aku baru sadar bahwa salah satu syarat untuk menjadi dukun yang sukses bukanlah terletak pada ilmunya, yang aku nggak percaya sama sekali. Tetapi, pada kemampuannya untuk meyakinkan pasien. Dukun adalah aktor yang harus bisa membuat pasien percaya setengah mati hingga tergantung kepadanya, walau harus dengan segala cara dan tipu daya.

Pada mulanya, beberapa orang datang meminta pertolongan kepadaku, katanya menderita sakit aneh, sakit kepala sudah sangat lama dan tidak dapat disembuhkan. Dengan lagak dibuat meyakinkan, aku memberinya mantra-mantra, lalu menyuruh mereka menghirup asap dupa, dan minum air kembang, yang di dalamnya sudah aku campur gerusan obat Paramex, dan tanpa aku sangka, mereka sembuh. 

Sejak itulah banyak pasien datang membanjiri tempat praktekku. Ada yang minta disembuhkan sakitnya, kebanyakan aku suruh mereka ke dokter dulu, kalau tidak sembuh baru kembali, dan sebagian besar memang tidak kembali. 

Ada yang minta rejeki, itu mah gampang, tinggal didoain macem-macem. Ada pula yang mengeluhkan soal jodoh, pertengkaran keluarga dan lain-lain. Dan kalau masalah seperti itu, aku hanya kasih nasihat-nasihat saja. 

Jadi inilah aku, mbah Marji, dukun ampuh dari lereng Merapi. Lucu sih, aku sudah dipanggil mbah, padahal umurku baru 25 tahun. Setiap hari paling sedikit ada sepuluh orang yang antrti di halaman rumah, dari siang sampai malam. Begitu ramainya sampai akhirnya halaman depan rumahku dijadikan pangkalan ojek. 

Tidak kuperdulikan lagi omelan Mbakyu Min serta pandangan sinis orangtuaku yang selalu menasehati, “hati-hati lho Marji, jangan membohongi orang!”  

Dan, aku tetap pada jalan yang telah aku pilih sekarang. Pikirku, yang penting duit masuk terus, jauh lebih besar daripada gajiku saat masih bekerja di pabrik sepatu. Dengan ilmu yang asal hantam dan tampang yang meyakinkan, jenggot panjang, pakai jubah putih kalau sedang praktek, maka orang-orang akan sangat percaya kepadaku.

Semuanya berjalan lancar-lancar saja, sampai terjadi suatu kejadian yang meruntuhkan segala-galanya.

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pasien sudah sepi, dan aku sudah merasa sangat mengantuk. Sambil menguap aku berdiri dari “meja kerja” ku, berjalan menuju pintu bermaksud untuk menutupnya. 

Tetapi, sedetik kemudian, aku lihat si Paijo sekretarisku menghampiri dan berkata, “ada pasien satu lagi mbah” bisiknya ke arahku, lalu melanjutkan dengan nada genit,  “anak gadis, ayu banget”.  Ucapnya sembari nyengir dan menunjuk pelan ke ruang tunggu di depan. 

Di sana aku melihat seorang gadis yang memakai T-shirt putih dan rok warna coklat duduk di bangku. Aku tidak melihat wajahnya karena dia sedang memperhatikan TV yang memang khusus kusediakan di situ.

“Masuk, nduk,” kataku dengan suara yang aku buat berat biar terdengar berwibawa. Si gadis itu pelan-pelan berdiri, dan dengan takzim berjalan kearahku. Aku sekarang dapat melihat wajahnya dengan jelas. Aku sempat menahan napas untuk beberapa detik, gadis itu memang betul-betul cantik. 

Rambutnya yang lurus sebahu bewarna hitam, matanya seperti mata kijang dan bibirnya seperti delima merekah, sangat menggoda. Tubuhnya pun bongsor tinggi dengan buah dada yang tampak seperti akan memberontak keluar dari baju T-shirtnya yang ketat. Aku kira umurnya baru 17 atau 18 tahun kurang lebih.

 

Bab 2 - Berguru

“Sugeng dalu mbah,” katanya dengan suara agak bergetar. Suaranya seksi banget. Kecil dan halus, seperti berbisik. Dengan lagak kebapak-bapakan aku lalu mempersilahkannya untuk segera masuk, diiringi sorot mata nakal si Paijo yang seperti akan menelan bulat-bulat gadis itu. Aku segera pelototi Paijo, dan dia pun cepat-cepat kabur, lari sambil terkikik-kikik. Aku piun segera menutup pintu ruang praktek.

Kulihat si gadis duduk dengan sangat hormat di kursi pasien yang kusediakan. Tangannya sengaja di taruh di pangkuannya dengan wajah menunduk. Cantik sekali. 

Dengan bersikap pura-pura tidak acuh, aku lantas menyiapkan alat-alat perdukunanku, menyalakan lampu minyak, sebagai media pemanggil arwah, lalu menyiapkan baskom kecil berisi air kembang, dan menyalakan dupa. Seketika itu juga asap dupa segera memenuhi ruangan kecil tempat praktekku.

“Siapa namamu, nduk?” tanyaku tanpa memandangnya, tetap sibuk melakukan persiapan. “Surti, mbah” katanya. “Wah, nama yang lokal banget.” Ucapku dalam hati. Aku berdehem pelan, lalu kembali bertanya, “berapa umurmu? ” 

Surti, si gadis cantik itu menjawab pelan dan tetap menunduk, “enam belas tahun, mbah”. 

Mendengar itu aku sempat tersentak kaget, “Enam belas tahun? masih kecil banget, tetapi kok tubuhnya sudah bongsor gitu, ya? Dadanya pun sudah membusung.” Tanyaku dalam hati, sesaat aku melirik ke arahnya lalu menelan air liurku sendiri dan berusaha kembali bersikap biasa saja, memamerkan kewibawaan seorang dukun hebat. Walau dalam hati masih saja merasa heran. 

“Ada masalah apa nduk?” tanyaku, lalu duduk di kursi depannya dibatasi meja yang penuh segala pernak-pernik perdukunan. Perlahan, Surti mengangkat kepalanya, raut wajahnya tampak sangat gelisah. Matanya jelalatan ke kiri dan ke kanan. Lalu terdengar suaranya yang kecil itu agak bergetar, “nyuwun sewu mbah, sebetulnya saya sangat gelisah dan takut. Nyuwun tulung mbah,” suaranya terdengar semakin rendah dan bergetar, seperti sedu sedan menahan isak tangis dan ketakutan.

Kemudian dengan cepat dan dengan suara yang tetap terdengar agak bergetar, Surti bercerita bahwa ada seorang laki-laki bernama Pak Sugeng yang sangat ditakutinya. 

Pak Sugeng adalah tetangganya yang sudah punya istri dua dan anak yang sangat banyak, tetapi matanya masih saja jelalatan kalau melihat perempuan cantik. Karena rumah Pak Sugeng itu sebarisan dengan rumah Surti, tiap hari dia bisa melihat Pak Sugeng memandanginya seakan tidak berkedip. 

Lebih celaka lagi, karena kamar mandi rumahnya menjadi satu dengan kamar mandi rumah Pak Sugeng, maka semakin besar kesempatan lelaki hidung belang itu mencuri pandang pada tubuhnya yang sangat seksi itu. Bahkan pernah suatu hari Surti sampai berteriak-teriak dan lari keluar dari kamar mandi, karena ketika ia sedang mandi melihat kepala Pak Sugeng mengintip dari bagian atas kamar mandi yang memang tidak tertutup. 

Dan ternyata itu saja belum cukup, “Pak Sugeng tiba-tiba mendatangi saya, mbah” kata Surti mulai bercerita panjang dan lebar. 

Pak Sugeng si hidung belang itu memang bicaranya baik-baik, bahkan sangat kebapakan. Tetapi yang membuat Surti kaget, dia tiba-tiba mengeluarkan botol kecil yang berisi air, entah apa itu. Lalu dengan sangat cepat Pak Sugeng si hidung belang itu memercikkan air di botol ke wajah dan tubuh Surti. 

Tentu saja si gadis kecil yang bertubuh seksi itu berteriak, tetapi sesaat kemudian, dengan entengnya Pak Sugeng cepat-cepat minta maaf dan dengan lembut berkata pelan, “Enggak apa-apa, Surti, itu tadi cuma air kembang kok. Bapak ini lagi belajar ilmu kebatinan, jadi bapak mengerti cara-cara untuk membahagiakan orang. Bener lho Surti, nanti setelah kena air tadi kamu akan merasa bahagia sekali”. katanya tersenyum.

Surti tentu saja semakin kesal, “Bahagia bagaimana, Pak? Wong sudah membasahi baju nggak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala!”

Pak Sugeng hanya tersenyum dan menjawabnya dengan suara pelan, “Anak kecil, kamu belum mengerti, gimana rasa enaknya kepunyaan laki-laki, nduk! Nanti saja kamu akan tahu.” Setelah berbicara tidak jelas, Pak Sugeng si hidung belang itu pun pergi.

“Setelah kejadian itu, pikiran saya jadi bingung, mbah,” ungkap Surti, lalu kembali menceritakannya, “Setiap malam, wajah Pak Sugeng selalu terbayang, seakan-akan Pak Sugeng  mau menerkam saya saat itu juga” ucap Surti bergidik ngeri. Lalu, setelah mengambil napas, Surti melanjutkan, “Malah, saya sampai pernah mimpi ...” ucapnya pelan lalu sedetik kemudian terdiam, seolah tidak berani untuk melanjutkan. 

Aku pura-pura menghela napas dengan penuh rasa simpati. Sebenarnya, kalau saja yang bicara saat ini bukan gadis se-seksi Surti, aku pasti sudah menyuruhnya angkat kaki. Tapi melihat anak secantik ini, otak nakal kelelakianku tiba-tiba bangkit seketika. Rasanya ada yang berdenyut-denyut di balik celanaku. “Jangkrik tenan!”, pikirku. Sepertinya aku mulai terangsang pada gadis ini.

“Teruskan Nduk,” kataku penuh wibawa, “kamu mimpi apa?”

Surti menggigil. Suaranya terdengar tersendat-sendat: “a-du-duh m-mbah, nyu-nyuwun se-sewu, mbah, sa-saya ma-malu banget,” 

“Wah, ini dia mulai seru” ucapku dalam hati. Lalu, dengan gaya yang masih mempertahankan kewibawaan yang paten,  aku lalu berdiri dan mendekat ke arah Surti dan dengan perlahan mendudukan bokongku di kursi sebelahnya, sembari memeluk pundaknya. Lembut dan hangat. 

Terus terang, seketika birahiku bertambah naik. Setelah mengembuskan napasku perlahan, aku berbisik ke arah Surti, “wis, wis tenang,” kataku menenangkan. “Ora jadi bingung, ceritakan saja. Si mbah ini siap mendengarkan.” Ucapku berusaha meyakinkan Surti.

Akhirnya, setelah mengatur napas, Surti melanjutkan, “Anu ... akhir-akhir ini saya sering mimpi, lagi di “anu” sama Pak Sugeng. Bolak balik mbah, bahkan hari-hari terakhir ini rasanya semakin sering.” Ucap Surti, tampak kedua pipinya yang putih mulus itu kini mulai memerah. 

Aku berusaha menahan tawa, lalu bertanya seolah-olah aku tidak mengerti, “Di anu itu apa maksudnya, nduk?” tanyaku. Surti tampak semakin malu dan menundukan kepalanya dalam-dalam dan kembali berkata, “ya itu lho mbah ... seperti katanya kalau suami istri lagi dolanan di kamar itu lho ... katanya mbak-mbak saya seperti itu,” ucap Surti tergagap, wajahnya semakin bertambah memerah.

“Waaduuhhh ...” jeritku dalam hati, level libidoku sekarang benar-benar meningkat tajam. Lalu, aku pun semakin berani menggodanya lagi. Dengan mimik muka serius, bahkan penuh belas kasihan, aku kembali berkata pelan, “Coba ceritakan dengan jelas, apa saja yang dilakukan si Sugeng dalam mimpimu itu?” tanyaku sembari melekatkan pandanganku ke arah wajah ayu Surti. Dan ya, sesekali kedua bola mataku mengarah ke dua gundukan besar di dadanya.

Setelah mengumpulkan keberaniannya, Surti akhirnya berhasil menguatkan hatinya untuk menceritakannya kepadaku secara detail.  Terbukti dari suaranya yang lebih terdengar mantap ketika menceritakannya kembali, “Pertamanya, saya mimpi Pak Sugeng berdiri di depan saya tanpa mengenakan apapun. Terus, tiba-tiba saya juga kok tidak mengenakan pakaian, terus ... Pak Sugeng memeluk saya, menciumi saya, di bibir dan di badan juga ...” ucap Surti, dadanya tampak naik turun, seakan sesak membayangkan impiannya yang luar biasa itu. 


Bab 3 - Kronologi

Mendengar ceritanya itu, badanku rasanya semakin terasa panas dingin, lalu kembali bertanya sembari mendekatinya lagi, “Apanya yang dia cium, Nduk?” tanyaku. Surti tampak semakin malu, lalu berkata dengan suara yang agak bergetar, “Di sini, Mbah,” katanya sambil menunjuk buah dadanya, “Di cium dan disedot kanan kiri, bolak balik, terus ke bawah juga ...” 

“Ke bawah mana? Tanyaku, masih pura-pura tidak tahu. 

“ke ... ini Mbah, aduh ... ma-malu aku ... Ke ini, tempat pipis saya, di ciumi dan dijilati juga ...” ucap Surti berdesis, lalu semakin menundukan kepalanya. Sedetik kemudian suaranya terhenti. 

Saat itu juga, tiba-tiba terlintas pikiran licik menyambar otakku. Dengan segera aku pun lalu bertindak.

 “SUGENG KEPARAT!” teriakku tiba-tiba. Aku meloncat berdiri, diikuti oleh Surti yang juga terlonjak kaget mendengar bentakanku, “Mbah ... Mbah ... kenapa Mbah?” tanyanya bingung.

Aku terdiam sejenak, pura-pura menerawang. Lalu dengan gaya yang meyakinkan, aku memutarkan kepalaku dan menatap ke arah Surti dan berkata dengan nada khawatir, “Nduk, Nduk, kamu dalam bahaya besar. Si Sugeng itu pasti sudah menyihir kamu. Mimpimu itu baru permulaan dari ilmu gendamnya. Setelah ini kamu akan semakin terbayang pada wajahnya, sampai lama-lama kamu tidak akan bisa berpikir lain selain mikirin dia. Lalu, dia tinggal menguasaimu saja ...” ucapku sembari terus saja menatap ke arah Surti, mataku mendelik dan kembali berkata, “Kasihan banget kamu, Nduk...” 

Surti tampak shock berat mendengar ucapanku yang meluncur seperti senapan mesin itu, lalu dengan terbata-bata, Surti bertanya, mulai panik, “Terus bagaimana Mbah, tolong saya Mbah ...” katanya seperti orang setengah sadar.

Aku menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali,  “Berat, Nduk.  Aku bisa saja menolongmu, tetapi itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ilmu gendamnya berbalik kepadaku. Bisa mati aku.” 

Aku lihat mata Surti membelalak penuh kengerian, “jadi ... la-lalu bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya dengan suara bergetar. 

Aku kembali menghampiri gadis itu, lalu memeluknya, berlagak seperti pelukan seorang kakak yang paling besar kepada adik kecilnya. Tubuh Surti benar-benar bahenol, seksi, kenyal dan hangat sekali. Dadaku berdebar kencang saat itu juga. Tapi tetap berlagak tenang.

“Ya sudah Nduk, aku kasihan kepadamu,” kataku dengan penuh wibawa, lalu kembali berkata pelan,  “Aku akan mencoba menolongmu, dengan sepenuh ilmuku. Tetapi, kamu harus mau melaksanakan semua perintahku, ya Nduk. Kamu bersedia, Nduk?” tanyaku memastikan kesiapan Surti untuk mengikuti semua perintahku.

Aku dapat merasakan tubuh dalam pelukanku itu bergetar. Pelan kudengar Surti terisak, “matur nuwun sanget mbah ... saya sudah ndak bisa mikir lagi ...” ucapnya berbisik.

Aku lalu melepaskan pelukanku, dengan nada suara yang masih di buat berat dan berwibawa aku berkata, “Sekarang, untuk menghilangkan ilmu hitam itu, kamu harus ngelakoni persis sama dengan mimpimu itu,” ucapku, tidak terasa deru napas di dadaku bertambah cepat, sebelum bertambah sesak aku lalu berusaha mengontrolnya dan kembali berkata setengah berbisik, “Buka bajumu, Nduk.” 

Aku lihat mata Surti terbelalak keheranan mendengar perintahku, tetapi tidak begitu lama kedua mata itu tampak segera meredup. Sembari menghela napas, Surti berucap sangat pelan, “Inggih Mbah, sakkerso kulo nderek kemawon,” yang artinya, “Iya Mbah, terserah saya iku saja.” 

Lalu, perlahan-lahan Surti mulai membuka kaos T-shirtnya dan meletakkannya di kursi. Seketika itu juga aku menelan ludah. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya melihat branya yang berwarna putih, berkembang-kembang, buah dadanya putih mulus sekali, menggelembung di belakang bra yang tampak agak kekecilan itu. 

“Baru 16 tahun dadanya sudah besar banget, ya? Jangan-jangan anak ini kebanyakan hormon pertumbuhan.” Pikirku sok-sok gaya menganalisa.

Lalu, walau agak terlihat sedikit ragu, ia mulai membuka roknya hingga melorot ke bawah lantai. Surti berdiri di depanku, tetap dengan sikap yang sangat hormat. Kedua tangannya tampak menyilang di depan celana dalamnya. 

Surti memandang ke arahku dengan tatapan mata polos sembari berbisik pelan hampir tidak terdengar,  “Sudah, Mbah,” ucapnya. 

Aku mendeham, “Belum, Nduk” ucapku, lalu mendelik ke arahnya dan kembali berkata, “Aku bilang semuanya, buka juga pakaian dalammu. Ilmuku nggak bisa masuk kalau bagian tubuhmu yang diciumi si bangsat itu masih terhalang kain.” 

Mendengar penjelasanku, Surti tampak sangat bingung, hampir semenit dia berdiri terpaku tanpa berkata apapun. Tetapi, setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Surti terdengar menghela napas, dan mengulangi perkataannya tadi, “Inggih Mbah, kulo nderek,” 

Tanpa menunggu perintah dua kali, Surti lalu membuka kaitan branya, dan sebelum kain itu jatuh ke lantai, dia melanjutkan membuka celana dalamnya. Sekarang, dia benar-benar berdiri tanpa busana di depanku. Entah sudah berapa kali aku menelan air liurku sendiri. Menahan deru napasku yang mulai berdebar dengan sangat kencang.

Surti benar-benar sangat cantik, walau usianya masih sangat muda, tapi postur tubuhnya bongsor, tinggi dan memiliki bentuk tubuh padat. Kalau  saja Surti tinggal di Jakarta dia pasti sudah jadi rebutan cowok, atau mungkin jika beruntung, dapat memerankan salah satu peran cerita sinetron, minimal jadi piguran. 

Tubuhnya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 158 cm, kulitnya sungguh halus, kuning agak keputih-putihan. Buah dadanya segar mengkal dengan putting berwarna coklat kemerah-merahan, terlihat agak menonjol ke luar. Pinggangnya bagus, meskipun agak sedikit gemuk di perut. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit kekar, tapi gak jadi masalah, tidak ada manusia sempurna. 

Di bawah perutnya, terlihat segundukan kecil bulu-bulu halus, pas dan cocok dengan usianya yang baru 16 tahun. Bulu-bulu itu belum mampu menutupi belahan area kewanitaannya yang berwarna kemerahan, tampak agak menonjol ke depan.

Demi apapun, saat itu juga aku merasa sangat terangsang, napasku benar-benar memburu, jantung berdetak dengan sangat cepat. Aku lalu mengedip-ngedipkan kedua mataku, berkali kali menarik napas dalam-dalam agar aku dapat mengontrol birahiku. 

Dengan gerakan dibuat setenang mungkin, aku lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air kembang dari baskom di atas mejaku. Setelah itu, pelan-pelan aku mendekati Surti dan bertanya, “Bagian mana yang diciumi si Sugeng dalam mimpimu itu, Nduk?” tanyaku. 

Surti tampak berpikir sebentar, lalu kemudian ia menunjuk bibirnya sembari berkata, “Di sini Mbah, saya di cium di bibir,” katanya. 

Lalu tanpa ragu-ragu, aku segera mencipratkan air dalam gelas itu ke bibirnya. Aku kemudian menunduk ke bawah, mulutku tampak komat-kamit. Sebenarnya aku tidak membaca mantera, hanya mengitung satu sampai seratus dengan sangat cepat. 

Selesai ritual yang Surti pikir itu adalah ritual agung, padahal hanya kegiatan berhitung, aku lalu menghela napas panjang dan kembali berkata, “Aku juga harus melakukan hal yang sama Nduk. Supaya ngelmu hitamnya bisa aku sedot keluar.” Ucapku sembari mendekati wajahnya, dan sedetik kemudian aku mulai menyeruduk bibirnya tanpa merasa perlu permisi, aku benar-benar mencium bibir Surti yang indah itu dengan nafsu yang sangat bergejolak.  


---------   Batas Preview    ---------


Maaf, cerita terkunci!

Khusus Member

PAKET EKSKLUSIF

Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!

Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.

Login / Registrasi

Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan terlebih dahulu.

Akun Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -

Klik tombol di bawah ini

Langganan Paket
Paket Eksklusif Sudah Berakhir 💔

Maaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.


Akun Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -


Silahkan berlangganan kembali.

Langganan Paket

Maaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.