no fucking license
Bookmark
Iklan

Catatan Luka

"Sejujurnya, aku memang terlena, kala itu mimpi bersamanya terasa sangat indah. Tapi nyatanya, ia hanya mampu merobekan sebuah luka, menghancurkan makna agung yang aku miliki tentang cinta."
-- Blurb --
Informasi Cerita :

Judul Cerita

Penulis

Total Chapter

Hak Akses

Genre

:    Catatan Luka

:    elngprtma

:    3 Chapter

:    Free/Gratis!

:    Romance

DISCLAIMER!

Karya ini ditulis oleh penulis di luar fraksikata.com.Jika kamu menyukainya, traktir author secangkir kopi lewat tombol di akhir cerita. Bila penulis keberatan, silakan kunjungi halaman ini untuk penurunan atau penyematan no.rek/e-wallet..

FeatureImage

Bab 1 - Bukit Moko

Riak gemulai suku kata terdengar sayu, harum aroma senja tidak begitu tercium, sekalipun senyum indah di wajahnya terbentang luas.

Untaian kata berbisik pelan, menyusuri keluh kesah dalam hati, merasuk jauh di antara sunyi, pelan membisikkan kata-kata cinta, semakin hari semakin samar terasa. 

Andai saja cinta seindah gundukan bukit hijau di depan sana, tentu cerah segera mengilhami, menyegarkan mata dengan segala warna-warna ceria yang dimilikinya. 

Jika saja seperti itu cinta, tentu aku tidak akan pernah meredup dalam gelap, meresapi luka sebelum akhirnya melemparkanku ke dalam sungai dangkal bebatuan hingga tubuhku hancur berkeping-keping.

Sore ini di atas bukit moko, aku berdiri berusaha tampak tegar di hadapan semesta. Walau rasa sakit masih terasa mengoyak hati, rela itu harus aku lepaskan. 

Perlahan, belaian lembut angin senja membawa kesejukan, sedikit melembutkan hati, mengusap jiwa yang pernah hancur karenanya. 

Sebelum senja beranjak pergi, aku ingin menatap keindahannya sekali lagi, berharap tenaga kembali pulih, agar mampu menghadapi kemarahanku sendiri. 

Kilau cahayanya seolah berbisik tegas, menolak tetesan air mata dariku. Pendaran sinar di ujung sana seolah memelukku, memintaku untuk stetap terjaga. 

Waktu terus bergulir, lukisan senja mulai bersiap menyambut gelap, menawarkan lengkung senyum ramah, terpancar indah dari paras yang memerah menyambut malam.

Sungguh, aku mengagumi seluruh alam semesta beserta seluruh isinya, rasa takjubku bukan berpura-pura. 

Aku bersaksi, tidak ada sedikit pun yang dapat membandingkan kuasa-Nya, Pecipta dari semua yang tampak dan yang tidak tampak di seluruh alam semesta ini.

Aku hanya membenci salah satu mahluk di dalamnya, seseorang yang tega menorehkan luka, sengaja menggoreskan perih. Dan aku membencinya.

Makna suara semesta tidak pernah ingkar, ketetapannya adalah suatu kepastian, aku meyakini itu. 

Tetapi, tidak dengan salah satu penghuninya. 

Salah satu manusia yang berlainan jenis denganku itu, berhasil mengkhianati janji, menghancurkan mimpi yang saat itu pernah merajutnya sama-sama. 

Hari ini, aku sengaja ke atas bukit moko bukan untuk menangisi luka, aku hanya menyesali pernah memuja sebuah janji, berharap pada mimpi semu, bahkan bergantung kepadanya. 

Sekarang, aku ingin menyerahkan kembali semua mimpi-mimpiku bersamanya, mengubur segala janji yang telah ingkar. 

Sejujurnya, aku memang terlena, kala itu mimpi bersamanya terasa sangat indah. Tapi nyatanya, ia hanya mampu merobekan sebuah luka, menghancurkan makna agung yang aku miliki tentang cinta. 

Mungkin, kala itu aku sedang berhalusinasi, berani membangun mimpi bersamanya, menjadikannya sebuah tujuan atas kehadiranku di dunia. 

Ternyata aku salah, aku bukan 'lah satu-satunya. 

Sekarang, aku kembalikan semuanya. 

Semoga semesta mengampuni kekeliruanku karena telah memberi kepercayaan penuh kepada salah satu mahluk-Nya. 

Kini aku menyadari, menaruh harapan kepada manusia adalah satu kesia-siaan. Semoga alam raya mengampuniku.

Masih terang dalam ingatan, janji manis yang keluar dari mulutnya mengobarkan sebuah harapan, tentang hidup yang indah penuh warna-warna cantik dan gemerlap. 

Senja, secangkir teh, segelas kopi dan sebuah cerita. Dari kami yang pernah dipertemukan, hanya untuk menemui perpisahan yang sudah diatur oleh Sang Pemilik Waktu. 

Senja ini di sebuah bukit indah ternama, aku menolak pasrah. Beserta semua getir yang tertanam di dalamnya, aku berserah, menerima alur sebagaimana mestinya. 

Gemerlap bintang-bintang mulai menampakan diri diantara gelapnya malam, lampu-lampu kota di bawah sana tampak saling menyusul, memberi terang, menghiasi permukaan bumi. 

Tatapan kedua bola mataku masih terasa kosong, menyapu hamparan kilau lampu-lampu kota di bawah bukit, menjelajahi riuh dan kesibukan manusia kota  yang menyesakan.

Perlahan, angin malam membelai rambut ikalku hingga sedikit tergerai, lalu terbang meliuk pelan. Memaksa tanganku untuk segera menyibakan beberapa helai yang mengganggu pandangan sebelum mengusir kegelisahan diri.

Terbayang kembali dalam ingatan, beberapa bulan lalu ia menjatuhkan tubuhnya, menekukan kedua lutut lalu menyampaikan penyesalannya yang percuma. 

Mungkin ia lupa, lukisan indah tentang cerita cinta yang pernah ia lukit telah hancur menjadi serpihan busuk, sama sekali tidak lagi mempunyai arti.

Entah apa yang ia pikirkan saat melakukannya. Setan mana yang merasuki dirinya hingga ia tenggelam dalam kubangan lumpur hitam penuh fitnah dan maksiat. 

Tetapi sekarang aku sudah tidak perduli, ia bukan lagi urusanku. Aku hanya ingin memperbaiki diri. Bukan untuknya, tapi untuk kehidupan baru yang tengah menungguku di masa yang akan datang.

Dalam keputusasaannya, ia kembali berusaha membuka pintu maaf untuknya, walau ia tahu itu percuma.

"Aku menyesali semuanya. Maafkan aku. Kamu tahu, seluruh duniaku selalu mengelilingimu, kamu adalah 'seseorang' bagiku, atau sebuah dosa yang aku beri, entahlah. Kamu boleh mengambil semuanya, lalu lemparkan kembali ke wajahku, sampai kamu merasa puas menghakimi seluruh rasa yang kadung melekat erat dalam jiwaku." 

Suaranya mengiba, berharap meluluhkan jiwaku. 

Tetapi ia keliru, raut wajah keruh yang dipertontonkannya sudah tidak dapat lagi menguasaiku, pintu hatiku sudah tertutup rapat karena langkah dan tingkah laku yang telah ia pilih.

Kepala lelaki itu terlihat tertunduk semakin jauh ke bawah kakinya, mukanya memerah, kusam kehilangan harapan. 

Karena benar, semua yang ditampilkannya tidak akan mampu mengguncangkan hatiku seperti yang lalu. Tidak akan pernah, lagi.

Dulu, ketika cinta yang aku miliki untuknya masih teramat besar, ia selalu berhasil membuatku luruh, lalu lemah di hadapannya. 

Terpaan perih atas luka yang ia beri, telah membangkitkan kesadaranku, memberi kekuatan yang tidak aku duga sebelumnya, hingga aku mampu berdiri tegak menghadapinya seorang diri. 

Dan ternyata, relaku jauh lebih besar dibanding rasa sakit yang ia beri, sampai aku dengar sebuah suara dalam hati, “kita pernah saling mencintai, tidak sepantasnya sekarang saling membenci.” 

Akhirnya, satu kali tarikan napas cukup memberiku tenaga untuk menatapnya dan berkata, "Baiklah, aku tidak lagi membencimu. Bahkan aku memaafkanmu sebagai manusia yang tidak pernah diberi hak atas kesempurnaan. Tetapi, untuk kembali mengulang cerita denganmu, adalah satu hal yang tidak mungkin dapat aku lakukan. Pergilah bersamanya, bawa do'a dariku, semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertai kalian." 

Aku berbisik pelan ke arahnya. Satu lengkungan senyum tipis sengaja ku arahkan, tanpa sedikitpun beban. Aku sudah merasa terbebaskan dari hal-hal yang terkait dengannya.

Sungguh hebat luka, aku yang dulu begitu lemah di depannya, kini sanggup berdiri tegak tanpa harus berpegang teguh pada harapan semu, memuja janji yang ia tanamkan pada cinta yang pernah kumiliki untuknya.

Dulu, lelaki itu adalah segalanya, ia adalah salah satu tujuanku hidup di dunia. Dulu, lelaki itu adalah separuh napasku, ia yang menumbuhkan rasa cinta bergulir layaknya bola salju. 

Tapi itu dulu, beberapa bulan lalu, saat aku mempercayai kekuatan cinta milik kami begitu besar, sebelum ia tega merobeknya menjadi sekumpulan luka yang mengiris hati. 

Aku lalu benar-benar bersyukur, semesta berkenan membukakan aib dan kebusukannya tepat di hadapanku, agar aku dapat mengukur dan membaca bentuk kesetiaan cintanya yang ternyata palsu. 

Sungguh hebat luka, ia sanggup membalikan hati yang merindu menjadi tingkah laku kaku seperti batu. Aku bersyukur atas itu.

Hanya satu yang aku sesali, dan itu tidak dapat aku tolak. Semuanya sudah menjadi kepastian yang sudah di tetapkan. Hanya do’a yang mampu aku tarungkan ke atas langit, demi kedamaian tidurnya di sana. 

Ini adalah kilas balik, tentang cinta, persahabatan dan pengkhianatan. Dan sekarang, aku harus menatap masa yang sudah berada di depanku, aku tidak akan kembali ke belakang bersamanya.


Bab 2 - Tidak Mungkin Kembali

Sebenarnya, aku jenis manusia rapuh, ketika lelaki itu menggoreskan luka, sembilu tajam ditangannya benar-benar berhasil membuat hatiku lebam dan membiru. 

Saat itu aku merasa duniaku tidak lagi menjadi tempat paling aman untuk aku tinggali seorang diri tanpa kehadirannya di sisiku, aku terpental jauh ke dalam jurang ketiadaan, hingga remuk redam. 

Kedua mataku ternoda saat menyaksikan tubuh berlainan jenis itu bersatu padu, tepat di depan hidungku! 

Lelaki brengsek itu benar-benar menaburi luka dengan bumbu kegetiran, tidak ada yang lebih menyakitkan selain itu.

Bagaimana bisa aku menerimanya kembali ke pelukanku? Sedangkan rasa sakit yang aku terima teramat dalam.

Setelah aku mampu merangkak pelan, menjauh dan meninggalkan nama-nama mereka dalam hidupku, lelaki itu kembali. Membawa cinta yang telah ia campuri racun, sepanjang perjalanannya.

"Lethia, tolong hukum aku, kelilingi tubuhku dengan segala getir yang kamu miliki, kembalikan luka itu kepadaku, biar aku menanggung semuanya, izinkan aku kembali bersamamu." ucapnya putus asa.

Sembari memangil namaku, bola matanya membengkak, kumpulan sesal menyempit di ujung kelopak matanya. 

Tiba-tiba, lelaki itu membungkukan tubuhnya dengan cepat, memeluk kedua kedua kakiku erat sembari menangisi penyesalannya. 

Percuma!

Aku sama sekali tidak bergeming. 

Cinta untuknya telah hancur dan menghilang, berbaur bersama perih yang ia ciptakan untukku.

Napas panjang, terasa kencang memenuhi sistem pernapasanku. Aku lipat kedua tangan di atas dada demi menahan getir, bukan untuk menunjukan kecongkakan atas penyesalannya. Walaupun, ia memang pantas mendapatkannya, rasa sakit ini tidak akan mudah terobati. 

Ketika bayangan tubuh mereka yang menyatu kala itu tertangkap kedua bola mataku tanpa sengaja, darah di dalam pembuluh benar-benar mendidih sesketika. 

Aku dikuasai amarah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. 

Semuanya seakan kembali tergambar dengan jelas dalam ingatan, memenuhi pikiranku. Napasku sesak, kedua bola mataku membulat sempurna saat menangkap basah perbuatan mereka. 

Sungguh demi apapun, itu adalah satu pemandangan yang sangat menyesakan dada, selamanya akan selalu melekat dalam ingatan. 

"Kamu tahu? Luka ini tidak akan pernah terobati dalam waktu yang hanya sebentar!" 

Ucapan penuh kegetiran bergema dalam hati, mengumpat dalam diam. Amarahku dalam diam benar-benar terpendam.

"Apa yang kau pikirkan, saat tubuhmu menyatu dengannya?! Apa yang terlintas dalam kepalamu, saat kau memeluk tubuhnya erat, hingga tega menghiraukan makna kesetiaan yang pernah kita agungkan?!" Ucapku tajam, lalu mendengus tanpa sedikit pun ingin meliriknya. 

Salah satu manusia yang berlainan jenis denganku itu tampak terdiam, kembali bersimpuh di atas tanah yang kering. Tubuhnya tampak semakin lemah seolah-olah kerangka di dalam tubuhnya terlepas seluruhnya, wajahnya tampak basah, kumal dan tak memiliki cahaya.

Lelaki yang pernah memberi ruang tenang saat aku terpojok itu, kini hanya mampu menundukan kepalanya dalam-dalam, tanpa kata. Ia sudah selesai. 

Hanya kedua matanya saja yang tertutup rapat, berusaha keras mencegah kelenjar lakrimal di sudut kelopak matanya bagian atas, agar tidak membanjiri seluruh wajahnya. 

Lelaki itu merasa sudah kalah, kini ia harus menikmati air mata kepedihan yang lebih menyiksa.

Penyesalan menghampirinya dengan sangat terlambat. 

Untuk mereka, pintu maafku memang telah aku buka lebar, tetapi bukan berarti aku dapat menerimanya kembali. 

"Tidak, aku tidak akan pernah menjadi sepertimu, aku tidak akan menghalalkan sebuah pengkhianatan, menggembirakan hati lalu meghancurkan hati yang lain. Jadi, segera 'lah kembali kepadanya. Aku baik-baik saja, sendirian." Ucapku pelan dan dingin, tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. 

Lelaki itu tetap terdiam bersama hening sebelum ia akhirnya kembali memeluk kedua kakiku erat, memohon dengan sangat mengiba agar aku bersedia kembali bersamanya. 

"Tidak akan pernah." ucapku pelan.

Dengan cepat aku lepaskan kakiku dari pelukan tangannya. 

Aku harus segera pergi, meninggalkan luka dan membersihkan diri, dari lelaki yang memberiku perih. 

Kembali ke bukit Moko yang tengah menjemput malam, langit jingga di atas bukit itu mulai menghitam, tanda gelap sudah mulai menghampiri. Aku kembali duduk di atas bangku kayu di sampingku. 

Segelas coklat panas tidak lagi menampakan kepulan asapnya, pertanda kehangatan miliknya sudah menghilang. Sama, seperti hatiku ketika itu, begitu dingin dan membeku.

Ingin rasanya aku berteriak kencang, memaki segala kebodohan diri. Andai saja cerita cinta yang aku miliki tidak serapuh kesetiaannya, mungkin saat ini hatiku masih terbang mengeliligi malam, bersama cahaya cinta yang bersinar terang, mengelilingi wajah ceria, berdansa bersamanya.

Atas nama cinta yang telah usang, aku mengutuk kebodohan diri. Cinta yang seharusnya memberi kenyamanan, sekarang benar-benar terasa basi, warna busuknya mengotori mimpi, ia hanya mampu menepi di ujung gelisah.

Di antara senja yang telah beranjak pergi, aku biarkan cinta itu menguap, mati lalu pergi jauh meninggalkanku. 

Sekali lagi, aku sama sekali bukan menyesalinya, hanya saja aku tidak mengerti, seseorang yang sudah aku anggap sebagai sahabat, tega membutakan mata dan suara hati, lalu ikut serta mengambil peran, merobekan luka itu untukku.  

Rasa sakit yang aku terima melebihi apapun. Disaat yang bersamaan, aku harus berjuang keras merelakan semua, merelakan perbuatan mereka sebagai jalan hidup yang harus aku tempuh.

"Huuuuffffft!" 

Entah sudah berapa kali aku menghela napas, membuang sakit yang masih bersemayam itu rasanya sungguh sangat menyesakan. 

Aku adalah wanita rapuh yang berpura-pura menjadi wanita tegar, si paling kuat di muka bumi. 

Nyatanya, aku lemah. 

Aku tidak sanggup menghadapi Aleeza, --sahabatku.  

Saat kami bertatap muka kala itu, Aleeza tampak berusaha berdiri tegak seolah tanpa cela. Kedua bola matanya menyipit, menatapku samar. 

Suram pandangannya mengelilingi sekitar, sementara tubuhnya bergetar lalu bergoyang pelan, menunggu runtuh dan hampir terjatuh.

"Leth, semua terjadi di luar kehendak, aku tidak bermaksud merebutnya darimu! Saat itu kami berdua tengah terbang ke udara, kami mabuk Leth! Semua mengalir begitu saja. Uumph … Ok! Kami memang saling tergoda ..." ucap Aleeza terdengar gamang, pengaruh obat tampaknya masih menempel di jaringan otaknya yang kacau itu.

Melihatnya, tidak terasa air mataku menetes membasahi pipi. 

Percuma rasanya membalas semua perkataannya, hanya akan menambah rasa sakit yang mengoyak jiwa.

Tanganku terlihat gemetar, ingin rasanya melayangkan tamparan keras untuknya. Tapi untuk apa? Bodoh rasanya, hanya karena lelaki yang tidak dapat memegang janji, aku harus mengotori tangan.

Ironis, wanita itu yang menabur garam di atas luka, seakan tidak merasa bersalah. Ia kembali menghunus sembilu tajam di tangannya, menambah daftar getir yang harus aku tampung akibat frustasi yang ia tampilkan di wajah kotornya itu. 

"Leez, silahkan ambil! Dia sekarang milikmu, sedikit pun aku sudah tidak berminat. Ambil semuanya untukmu ..." ucapku waktu itu. Terdiam beberapa detik sembari menahan sesak dalam dada, lalu kembali berbisik pelan kepadanya, "Tetapi ... tolong Leez berhenti 'lah merusak diri. Berhenti 'lah Leez ... sebelum semuanya semakin rusak parah!" aku berbisik pelan, diam-diam aku selalu megkhawatirkan keadaannya.

"Hehe ... a-aku memang sudah rusak parah! Aku sudah ru-rusak, Leth ...." sahut Aleeza terkekeh, suaranya tergagap, seakan-akan tengah menahan tangis yang mendera batinnya.  

Badannya kembali terhuyung, lalu dengan perlahan ia tampak menghisap sebatang rokok yang terselip diantara sela-sela jarinya dalam-dalam. 

Sembari berusaha menyeimbangkan tubuh, kedua bola matanya terlihat berputar tak tentu arah mengitari udara. Kehampaan benar-benar sudah menguasai jiwanya. 


Bab 3 - R.I.P Aleeza

Melihat kosong kedua mata Aleeza, hatiku kembali berduka. Aku rela jika harus kehilangan lelaki yang pernah aku cintai asal dapat melihat wajah Aleeza kembali bersinar, setelah tragedi yang menimpa keluarganya. 

Aleeza yang aku kenal dulu adalah gadis yang cantik, pintar, baik dan ramah kepada siapa saja. Setelah kedua orangtuanya berpisah, tiba-tiba Aleeza berubah menjadi pribadi yang sangat berantakan.

Papa Aleeza menikah lagi dengan wanita selingkuhannya. Tidak lama kemudian, Mamanya meninggal saat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga menabrak pembatas jalan, berputar beberapa kali sebelum akhirnya melayang ke udara dan terpental.

Semenjak itu Aleeza mulai berubah dan menjauhiku, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman baru yang ia kenal, tentu saja di dunianya yang baru.

Semakin lama, Aleeza berubah menjadi gadis liar. 

Asap rokok dan barang-barang terlarang menjadi teman akrabnya. Wajahnya yang dulu cerah dan selalu ceria, saat itu selalu terlihat kusut. Kedua bola mata sayu miliknya memerah penuh amarah.

Sumpah demi Zat yang menggenggam ubun-ubun di atas kepalaku, aku tidak kuasa melihat Aleeza seperti itu. 

Tatapan bola matanya tampak tidak terarah, nada bicara yang keluar dari mulutnya tidak pernah terkontrol, di arahkan kepadaku saat itu, berhasil menyayat hatiku. 

Aku masih ingat, beberapa waktu yang lalu sebelum semuanya berubah. Aleeza selalu setia menemaniku. Hari-hari yang kami lalui seolah tidak memiliki jeda dan sekat. Setiap saat, dimana ada Aleeza, pasti ada aku di sampingnya.

Berbagi cerita dalam gelak tawa yang menyenangkan menjadi salah satu kebiasaan yang sering kami lakukan bersama. 

Bukan hanya itu, setiap saat bahu kami selalu siap dijadikan sandaran hati, kala getir menghampiri salah satu dari kami.

Hingga sampai suatu ketika, aku dikenalkan kepada lelaki yang menjadi biang masalah. Lelaki itu adalah Farrel. 

Aku mengenal Farrel di salah satu acara kantornya, Saat itu Aleeza mengenalkanku kepadanya. Farrel dan Aleeza memang bekerja pada satu atap perusahaan yang sama.

Sejak saat itu Farrel mendekatiku seolah tanpa batas waktu. Hampir setiap jam dalam sehari ia selalu berusaha mengalihkan perhatianku kepadanya, menebar benih-benih cinta, lalu perlahan-lahan meracuniku dengan sangat indah. 

Perhatian dan cinta yang sellau Farrel tawarkan sulit dihindari, sungguh terasa sangat menggoda. Bahkan pesonanya sanggup mengalahkan indahnya pelangi saat hujan telah reda. Hatiku benar-benar terasa lebih berwarna dari bunga-bunga di taman surgawi. 

Oke, aku tahu, semua terasa berlebihan. Tapi saat itu memang seperti itu yang aku rasa. Tentu, sebelum perselingkuhan itu terjadi.

Aku tidak tahu jika Aleeza ternyata diam-diam menyukai Farrel. Malam itu, ketika kami bersama dalam satu meja, seringkali aku menangkap kekakuan Aleeza ketika mereka saling beradu pandang. 

Saat itu aku sama sekali tidak menaruh curiga. Aku pikir, tidak mungkin sahabatku sendiri tega mengkhianatiku.

"Leez, kapan mau ajak cowok kamu bareng kita? Kapan-kapan, kita adain double date 'lah! Seru kayaknya!?" ucapku waktu itu, wajahku menampakan senyum yang ceria, melengkung dengan sempurna. Aku ingin Aleeza turut merasakan kebahagiaan yang aku rasakan.

Tetapi, Aleeza sepertinya salah menangkap makna ucapanku. Ia tiba-tiba mengernyitkan dahi, lalu berkata dengan pelan dan gugup.

"Eh, apa? Hmm, entahlah Leth! A-aku ti-tidak a-ada co-cowok, kamu tahu itu, 'kan?!" sahut Aleeza sedikit agak terbata, seketika wajahnya berubah masam.

"Lah, bukan'kah waktu itu kamu pernah cerita, ada teman kantor yang kamu taksir, siapa itu? Farrel pasti kenal juga dong, kalian 'kan satu kantor, ya sayang?" tanyaku, sembari mengalihkan pandangan ke samping, menatap Farrel yang duduk di sampingku.

Aleeza terdiam beberapa saat sebelum ia menggelengkan kepalanya lemah. 

Aku tau, Aleeza sedang tidak ingin membahas itu, begitu pula Farrel, ia hanya mengangkat bahunya ke atas lalu menggelengkan kepalanya. Aku pun terdiam, mulai merasakan kekakuan di antara mereka. 

Hingga saat ini, aku tidak mengerti. Jika Aleeza memang menyukai Farrel, mengapa Aleeza mengenalkannya kepadaku? 

Ah! Aku ternyata sudah menyimpan kebodohan ini sedari awal. Kepercayaanku dikoyak begitu saja oleh lelaki brengsek itu. 

Aku sama sekali tidak menyangka, Aleeza mampu berbuat apa saja demi melampiaskan hasrastnya. Bahkan tega menghancurkan persahabatannya denganku. 

Setelah beberapa waktu berlalu, kecurigaanku mulai menunjukan kebenarannya. Farrel dan Aleeza seringkali terlihat bersama penuh keakraban dan gelak tawa. 

Aku pikir dari sana mulai terbuka pintu peluang pengkhianatan itu. Di belakangku, perselingkuhan di antara mereka pun terjadi.

"Huuftt!" 

Kabut asap memenuhi rongga pernapasan, aku embuskan sampai memenuhi gelapnya langit malam. 

Udara dingin di atas bukit tidak sanggup meredam sesal dalam hati, mendinginkan jiwa yang pilu kala mengingat semuanya.

Aku mengerti, semua yang telah terjadi adalah kepastian yang telah di tetapkan. Mungkin, memang itu yang harus terjadi. Pilihan antara baik dan buruk terasa setipis kertas. Aku tidak bisa menyalahkan atau mengutuk siapapun.

Sampai saat ini penyesalanku hanya satu, aku tidak mampu untuk menyelamatkannya. Kemana hadirku saat ia membutuhkan hangat pelukku? Dimana peranku, ketika Aleeza terjerembab ke dalam lembah hitam penuh kekacauan itu? Apa yang telah aku lakukan untuk menyelamatkannya? Tidak ada.

Hingga suatu hari, kabar yang tidak mengenakan sampai di telinga. Aku menjerit sejadi-jadinya. Rasanya, dunia runtuh seketika. Alam bawah sadarku seakan ingin berontak sekuatnya, aku tidak mampu menerima takdir yang telah digariskan untuknya.

Aku menyayangi sahabatku, melebihi rasa sayangku kepada lelaki yang telah melukaiku itu.

Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Harusnya, ia bahagia dengan hidupnya. Walau harus dengan mengambil seseorang yang pernah berada di puncak tertinggi di hatiku. Sungguh, hal itu tidak akan menjadi persoalan besar bagiku.

Aku dapat melepaskan lelaki itu begitu saja. Karena cinta tidak boleh dibuat rumit. Karena, jika memang cinta sejati, ia tidak akan pernah berpaling walau sedetik. 

Kini, hanya sesal yang bersemayam dalam jiwaku. Kesedihan dan kegetiran kali  ini benar-benar telah melewati batas kekuatanku. 

Aku tidak menyangka, Aleeza begitu rapuh, hingga terjerembab semakin dalam ke dunia yang dipenuhi amarah dan keputusasaan. Kehancuran keluarganya membuat ia sengaja menjerumuskan diri. 

Setelah pertemuan terakhirku dengannya waktu itu, ia menambahkan dosis obat terkutuk itu tanpa sepengetahuanku,

Di perjalanan pulang, kesadarannya hilang sepenuhnya. Aleeza melarikan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi, hingga menabrak bahu jalan dan terpental, jatuh dari jembatan layang. Mobilnya meledak, hancur terbakar.

"Aleeza!" 

Aku menjerit dalam hati, tangis dan teriakan histeris tidak dapat aku sembunyikan. Kedua lututku bersimpuh di samping pusaranya. 

Bunga-bunga yang menghiasi gundukan tanah menyeretku ke dalam lembah kegetiran yang menyedihkan.

Begitu pula Papa Aleeza, wajahnya yang mulai menampakan guratan usia, tidak dapat menyembunyikan penyesalan dan kesedihan yang mengguncang hatinya. 

Aku tidak berhak menyalahkan siapapun. Aku hanya menyesali diri yang tidak mampu merangkulnya saat ia butuh pelukan hangat yang mendamaikan. 

Kini, Aleeza sudah meninggalkan semuanya. Aku hanya berharap. Semua luka, amarah dan dendam di dalam dirinya ikut terkubur, tergantikan dengan senyum bahagia yang menenangkan di alam sana. 

Di batu nisannya, aku kembali bersimpuh, mengucapkan berjuta kata maaf, seiring dengan do'a tulus yang aku panjatkan untuk keselamatan dan kebahagiaannya di alam keabadian sana. 

Aku sudah tidak kuasa lagi menahan air mata yang memenuhi kelopak mataku. Ingin rasanya sekali lagi menjerit sekuat tenaga, melepaskan semua kesedihan yang menyiksa, menebus segala penyesalan dalam diri.

Sesak rasanya saat ingatan itu kembali hadir di sela dinginnya udara di puncak bukit ini. Tidak terasa, air mataku kembali meleleh, membasahi seluruh wajah.

Pada malam yang gelap, aku hanya ingin menitipkan salam dan do'a. 

"Aleeza, istirahatlah dengan tenang di sisi-Nya." Bisikku dalam hati.

"Sayang, di luar sini dingin, masuk, yuk!" Tiba-tiba suara lembut terdengar dekat di telingaku. Reynard, kekasihku yang selalu penuh perhatian, sudah berada di sampingku. Kedua tangannya melingkar di pundak setelah ia menyelimuti tubuhku dengan sweater miliknya. 

Aku tersenyum ke arahnya sembari mengagguk pelan, lalu mengikuti langkah di sampingnya, menuju ke dalam cafe di puncak bukit Moko, malam ini.

 

---------   T A M A T    ---------

BCA Bank BCA
E-Wallet Dana / OVO / Gopay

Terima kasih, semoga rezekinya terganti dan berlipat ganda. Amin.