Judul Cerita
Penulis
Total Chapter
Hak Akses
Hanya Untuk
: Bara Dalam Sekam
: elngprtma
: 7 Chapter
: Member Eksklusif
: DEWASA!
DISCLAIMER!
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
Bab 1 – Jack
“Sudah nungu lama, Wit?” Tanya Jack, lalu melangkah pelan memasuki ruang tamu.
“Gak juga, paling 15 Menit, barusan Kiki tumben agak susah ditidurkannya.” Jawab wanita cantik mungil yang bernama Dewitri ini. Ia baru saja menidurkan anaknya, Kiki yang masih berumur 3 tahun-nan.
Jack bergegas masuk, pintu rumah itu terlihat masih dibiarkan terbuka. Di dalam, lampu rumah Dewitri terlihat remang. Dewitri lalu menyusul, melangkah pelan hendak menemani Jack duduk di ruang tamu.
Tiba-tiba, saat itu juga Jack berbalik arah dan langsung memeluk Dewitri erat. Ia merengkuhnya dalam kecupan ganas yang membabi buta.
Dewitri tidak sempat mengelak. Ia terlihat pasrah dalam rangkulan Jack yang mempunyai tubuh jauh lebih besar darinya.
Napas keduanya terdengar memburu. Pelukan-pelukan tangan kekar Jack nampak erat mengunci tubuh Dewitri. Kedua tangan Jack yang liar itu meremas pinggul belakang Dewitri yang montok, lalu berpindah ke dadanya, perlahan Jack mulai bergerak turun mengecup kedua bukit kembar Dewitri yang mulai nampak membusung.
“Jack, Pin-pintu, Jack!” bisik Dewitri mendesah pelan.
Setengah enggan, Jack terpaksa harus melepaskan Dewitri untuk sesaat, lalu bergerak ke arah pintu dan segera menguncinya dari dalam.
Jack nampak tidak sabar, ia segera kembali menyerbu Dewitri, menangkapnya seperti bola dan merebahkannya di sofa berwarna kuning gading mewah yang menerima hempasan badan kedua insan manusia itu dengan enggan.
Tangan keduanya saling berbalut. Dewitri mulai melakukan perlawanan, ia tidak mau diam saja di bawah permainan Jack.
Tangan Dewitri mulai berani menarik sabuk yang melingkar di pinggang Jack. Jack sengaja membiarkannya, lalu bangkit dan bertumpu pada lutut. Kedua tangan Dewitri dengan gesit mempereteli kancing kemejanya. Nampak gairah keduanya sudah sangat menggelora.
Jack tidak mau kalah, ia pun bergegas melepaskan pengkait Bra yang terkunci di belakang punggung Dewitri. Kimono yang dikenakan Dewitri nampak sudah teronggok malas di lantai sedari tadi.
Jack kembali membaringkan tubuh sintal dan mulus Dewitri itu pelan-pelan.
Lalu, salah satu tangan Jack mulai menyusup ke celana dalam Dewitri. Jari tengah Jack pelan-pelan menyentuh lapisan daging membusung yang agak berambut itu.
“Ssssssshhhhhhh ....” Desah Dewitri menahan gejolak gairahnya yang menggebu dalam dada.
“uughhhhh ... “ Jack mendesis pelan saat tangan Dewitri pun mulai bergerak menggenggam batang kelelakiannya yang sudah tegak berdiri sedari tadi.
Di bawah tindihan Jack, Dewitri nampak liar menggigit tipis daging kecil di atas dada Jack yang atletis itu. Sedangkan Jack masih bermain di tengah area sensitif Dewitri, menusuk-nusuk lembut lubang sempitnya itu dengan jari tengahnya. Matanya liar melirik ke bawah, ke celah sempit yang gelap milik Dewitri.
“Punyamu besar sekali Jack ....” Dewitri mengerang pelan.
“Hmmm, punyamu juga sangat sempit, aku suka.” Balas Jack.
“Jack, aku takut ...” bisik Dewitri manja.
“kamu, 'kan sudah pernah melahirkan, punyaku tidak akan terasa terlalu menyakitkan, tenang, ya.” ucap Jack ngotot.
“Aku melahirkan lewat bedah, Jack.” Ucap Dewitra menjelaskan, sembari mengocok keras batang kelelakian Jack.
Jack nampak merem melek menerima kenikmatan itu. Lalu kembali mencongkel lebih dalam celah sempit Dewitri yang terasa sudah basah itu.
“Berarti, Kiki sayang sama calon Papanya ... ia jaga betul celah sempit ini untuk calon Papanya”
“Pokoknya aku takut, jangan malam ini.” Dewitri menggeleng, tangannnya nampak bersemangat memainkan senjata pusaka milik Jack. Ia berharap tongkat pusaka milik Jack segera memuntahkan lahar panas, agar ia tidak perlu melayani gairah Jack yang sudah nampak menggebu-gebu itu.
“Kamu selalu begitu, ah! Aku sudah tak tahan, sayang.” ucap Jack dengan napas yang terengah.
“Biar aku hisap saja, ya ....” ucap Dewitri sembari turun dari sofa. Jack membiarkannya dan lalu membalikan badan.
Bab 2 – Hasrat Yang Menggebu
Kini, Jack sudah rebah terlentang. Pahanya nampak berbulu lebat, sementara organ vital kelelakiannya itu terlihat gundul, --ia memang suka mencukurnya-- alat reproduksinya itu sekarang terbuka lebar, siap menerima sentuhan Dewitri.
Dewitri kemudian jongkok dan membelai paha Jack yang perkasa itu. Lalu tanpa ragu-ragu, mulut kecilnya langsung mengulum batang kelelakian yang sudah nampak tegang kencang berdiri.
Mulut mungil Dewitri kepayahan menghisap senjata pamungkas yang panjang dan besar milik Jack itu.
Jack nampak menggelinjang hebat. Ia berusaha menahan gejolaknya, ia tidak ingin sampai muntah di dalam mulut Dewitri.
"Harus malam ini." Tekadnya dalam hati.
15 menit sudah berlalu, Dewitri masih beraksi, Senjata pusaka milik Jack nampak berdiri agak miring ke kiri seperti menara Pisa.
Lama-lama, bibir Dewitri seakan kesemutan akibat terlalu lama menghisap batang kelelakian Jack yang panjang dan besar itu.
Sementara genggaman tangannya pun sudah pegal naik turun menggenggam tongkat panjang dan besar milik Jack. Jika ukurannya standart, mungkin bisa pas dalam genggaman tangannya yang mungil, hingga tidak akan semelelahkan ini. Tapi, batang kelelakian milik Jack memang lain, belum pernah Dewitri melihat tongkat pusaka yang ukurannya jumbo seperti milik Jack. Panjang, keras, dan besar.
“Aku capek Jack” Erang Dewitri.
“Aku masih belum keluar, sayang,” rengek Jack macam anak kecil.
Lalu tiba-tiba Jack berdiri dan dengan kuatnya mengangkat tubuh Dewitri yang sudah tidak berbusana itu.
Tanpa Dewitri duga, Jack membawanya ke dalam kamar Dewitri. Lalu dengan tidak memperdulikan pintu, Jack merebahkan tubuh Dewitri di ranjangnya.
“Jack, ka-kamu mau apa?” tanya Dewitri ragu.
"Aku inginkan kamu, sayang.” ucap Jack dengan napas yang memburu kencang di dadanya.
“Kamu mencintaiku?” tanya Dewitri.
“Apa itu yang ingin kamu dengar dariku? Agar aku mendapatkannya?” tanya Jack, pelan berbisik ke telinga Dewitri.
“Aku butuh kejelasan ….”
“Aku akan memberimu kenikmatan, aku tidak bisa berjanji lebih. Aku takut untuk membangun komitmen dalam satu hubungan.” ucap Jack masih dengan suaranya yang berat dan pelan.
“Jadi, kamu hanya ingin tubuhku?”
“Kamu juga menginginkan aku, 'kan?”
“Aku tak serendah itu!” Desis Rini judes sembari mendelik tajam ke arah Jack.
“Hehehe, aku lebih tinggi dari kamu, sayang.” seloroh Jack mengedipkan sebelah matanya.
“Dasar! Bukan rendah dan tinggi macam itu!”
“Ya, sudah aku akan jongkok” ucap Jack tiba-tiba menurunkan badannya. Di depan kedua matanya terpampang paha mulus yang putih licin mengkilat milik Dewitri. Dan di atasnya, ada sesuatu yang berambut tipis terlihat indah di matanya. Seonggok daging tebal terbelah yang menggairahkannya, nampaj lembab dan sangat beraroma.
Jack lalu segera membenamkan wajahnya ke gundukan daging terbelah itu, organ vital yang paling sensitif milik Dewitri yang selama ini ia tunggu.
Dewitri nampak menggelinjang, kakinya terbuka semakin lebar dan tangannya sibuk menjambak rambut Jack.
“Aku jilat, ya.” Ucap Jack sembari melirik ke arah Dewitri, menggodanya.
“Iiiiiiyaaaaaaaa ....” belum selesai Dewitri menjawab, ia tiba-tiba mengerang, saat dirasakannya sapuan lembut yang basah dari lidah Jack di sela-sela gundukan daging organ vitalnya. Lidah Jack dengan penuh gairah membelah laut merah Dewitri, lalu lidahnya mulai menusuk ke sana dan ke mari di dalam celah sempit itu.
Tangan Jack lalu nampak bergerak lincah ke atas, mencari kedua segumpal daging kecil di atas bukit kembar Dewitri. Keduanya terasa sudah mengeras, pertanda sudah berada di posisi puncak gairah. Jari jempol dan telunjuk Jack mulai menunjukkan kebolehannya, memutar puncak bukit kembar di dada Dewitri.
“uuugghhhh ... lebih keras, Jack!” jerit Dewitri tertahan, sembari mendesah pelan.
“Aku tak tahan lagi, Wit ... masukin, ya?” pinta Jack nampak memelas.
“Jangan!” Sahut Dewitri ragu-ragu.
“Apa kamu mau aku perkosa, Wit?" Desak Jack. Napas yang sudah memburu itu terdengar setengah memaksa. Jack nampak mengedipkan matanya, Dewitri seketika melotot ke arah Jack. Namun, tangan Dewitri tetap merangkul pinggang Jack dengan sangat erat.
Jack lalu berdiri, menarik kaki Dewitri, hingga organ vital Dewitri yang paling sensitif itu tepat berada di depan senjata pusaka miliknya.
Kedua bola mata Jack menatap mata Dewitri seolah ingin meyakinkan. Dewitri nampaknya masih merasa takut, namun dari sorot mata Jack yang tajam itu, tiba-tiba saja ia menangkap kenyamanan yang dapat mengusap hangat hatinya. Dewitri lalu terdiam pasrah.
Perlahan, Jack kembali menarik dan membuka kaki Dewitri pelan-pelan, hingga posisi area sensitif Dewitri kini sudah tepat berada di sudut sisi ranjang.
Jack nampak siap berdiri dengan sebelah tangannya menggenggam senjata pusakanya yang siap diluncurkan ke sasaran sarang belut milik Dewitri.
“Jangan ....” Dewitri kembali berusaha mengelak.
"Tahan sedikit ....” sahut Jack, napasnya terdengar semakin memburu.
Dengan perlahan, Jack menarik pinggang Dewitri agar mendekat ke arahnya. Dengan sedikit menekukan lutut, Jack mulai menghujamkan batang kelelakiannya itu tepat ke arah celah sempit Dewitri.
“Jaaaack! Ssssaaakkiitt!” Teriak Dewitri tertahan, ia berusaha memundurkan pinggulnya, sedang tangannya masih bertumpu pada tepi ranjang.
Jack tidak ingin secepat itu menyerah, ia mulai merasakan sensasi kenikmatan yang teramat sangat hebat saat kepala batang kelelakiannya itu menyerodok masuk ke dalam celah sempit Dewitri, baru sebatas kepalanya saja, Dewitri sudah terlihat sedikit kesakitan menahan desakan benda tumpul yang sangat besar itu.
“Tahan, ya Wit, baru kepalanya ....” Jack mengerang.
“Uuughhh ... ampun, Jack ... ampun ...” Desis Dewitri ketakutan. Pahanya berusaha menutup celah itu. Tapi tentu saja, tangan Jack lebih kuat menekan keduanya ke sisi ranjang.
Lalu sekali lagi, Jack kembali menyodokan pinggulnya dengan keras, sementara tangannya mengangkat pinggul Dewitri ke arahnya.
“Aduhh ... Ampun ....” jerit Dewitri pelan.
Jack nampak menahan napas, meresapi kenikmatan celah sempit milik Dewitri. Perlahan, Jack merebahkan badan menindih tubuh Dewitri, bertumpu dengan siku-siku dan lututnya, Jack mengangkat perlahan tubuh Dewitri agak ke tengah ranjang, sedangkan batangnya yang panjang besar itu masih di dalam celah sempit itu setengahnya.
Lalu keduanya bergeser ke tengah, Jack kembali mengulum habis bibir Dewitri, menghisap salivanya dalam-dalam sembari memainkan lidahnya di dalam mulut Dewitri dengan liar.
Perlahan, Dewitri mulai merasakan kenikmatan yang tiada tara. Pelan-pelan, rasa sakit yang menjalar di dalam organ vitalnya itu berubah menjadi kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun.
Dewitri mulai merangkul tubuh Jack erat, menariknya hingga dada keduanya menempel lengket.
“Masukkan semuanya, Jack ...” pinta Dewitri sembari merintih keenakan.
“Tunggu.” Jack menarik senjata pusakanya pelan-pelan hingga celah sempit itu pun ikut tertarik. Secara reflek pinggul Dewitri turut dinaikkannya, seakan-akan tidak ingin batang kelelakian Jack terlepas meninggalkan celah sempit miliknya.
Pada saat itu, tanpa di duga, Jack menghujamkan senjata pusakanya dengan keras.
“Aaaaahhh!” Dewitri berterik, kini rasa sakit itu benar-benar hilang. Ia merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa.
“Uuunnchh!” Jack mengerang, napasnya kian memburu.
Bab 3 – Di Depan Anaknya
Di luar, hujan mulai turun. Suasana semakin dingin. Di kamar Dewitri, hembusan angin dari AC memang biasanya terasa lebih dingin jika turun hujan.
Kedua insan berlainan jenis tersebut semakin panas bergulat demi mereguk kenikmatan. Keringat mereka mulai menetes dari tubuh keduanya.
Tampak punggung Jack hampir menutup seluruh badan Dewitri yang ditindihnya dari atas. Sementara Dewitri mulai sibuk mencakar punggung Jack dengan liar. Sekali-kali Dewitri melingkarkan kakinya ke pinggul Jack seakan meminta Jack untuk lebih memasukinya lebih dalam lagi.
Suara desahan Dewitri semakin membuat Jack bersemangat menghentakan pinggulnya dengan lincah ke selangkangan Dewitri. Kadang-kadang, suara-suara seperti closet mampet muncul dari ranjang yang berderit akibat tarikan ulur yang di mainkan batang kelelakian milik Jack yang panjang dan besar itu.
Tiba-tiba, keduanya menghentikan gerakannya. Dewitri nampak memalingkan wajahnya ke arah pintu. Begitu pula Jack. Keringatnya perlahan bercucuran dengan deras lalu turun ke jakunnya hingga menetes sebagian ke tubuh Dewitri.
“Om! Om kok di atas Mama?“ Tanya suara mungil milik Kiki, anak Dewitri. Rupanya suara hujan telah membangunkannya. Dan anak yang ketakutan ini bermaksud mencari Mamanya ke kamar, Kiki tidak mengerti apa yang sedang Mamanya lakukan bersama Om Jack pacar baru Mamanya itu, yang selama ini dikenalnya sebagai Om yang baik, yang suka bawa oleh-oleh kalau datang bertandang ke rumah.
“Euuummm ... karena Om sayang sama Mama.” jawab Jack sembari tersenyum. Senjata pusakanya itu nampak masih nenancap kokoh. Sejenak Jack sempat berpikir, apakah bijaksana mempertontonkan adegan dewasa di depan anak 3 tahunan?
Namun, nalurinya yang lain bersikeras untuk tetap melampiaskan gairah yang sudah susah payah ditahannya selama beberapa bulan ini.
Malam ini, ketika ia baru saja berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dari Dewitri, janda cantik yang dikasihinya itu, Jack tidak rela jika terhenti begitu saja di tengah jalan.
“Gak sakit, Ma?” tanya Kiki kepada Mamanya itu. Dewitri hanya tersenyum malu, ia nampak berusaha melepaskan rengkuhan dan tindihan tubuh Jack yang tinggi besar itu.
Sekeras apapun usaha Dewitri, tenaga Jack bukan tandingannya, sedikit pun ia tidak dapat bergerak melepaskan diri.
“Gak bakal sakit, Om gak bakal nyakitin Mama kamu, sayang.” Jawab Jack dengan lembut, terlihat seutas senyum melingkar di wajahnya.
“Kiki takut, Om! Di luar banyak petil” ucap Kiki cadel.
“Oalah, jangan takut, ya Ki.” ucap Jack sembari menarik batang miliknya itu sedikit demi sesdikit sebelum kembali menghentakannya perlahan hingga tenggelam ke dalam celah sempit milik Dewitri.
Sementara itu, Dewitri nampak susah payah menahan ekspresi liarnya, agar tidak terlihat oleh anaknya.
“Kalau digoyang begini, Mama akan keenakan, Ki.” Jelas Jack tanpa malu.
Jack lalu mulai menggoyang pinggulnya kembali, maju dan mundur. Dewitri hanya bisa merintih pelan tanpa tahu harus bagaimana membalas serangan Jack di atas tubuhnya itu.
“Kiki bantu ya, Om!” tanpa mereka duga, Kiki lalu medekat ke arah mereka dan mulai mendorong pinggul Jack berkali-kali.
Jack tertawa geli saat tangan mungil Kiki mulai ikut serta mendorong pinggulnya, hingga batang kelelakiannya itu kembali menusuk-nusuk selangkangan Dewitri dengan perlahan tapi pasti.
“Gila, aku mengauli Dewitri dibantu anaknya." Ucap Jack dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kiki juga, 'kan sayang Mama, Om!” Ucap Kiki polos.
Lalu, semakin lama, goyangan Jack semakin cepat, dan mengganas. Dewitri nampak kepayahan dan mulai mengerang keenakan.
“Ayo Om! Terus, yang kencang!” Kiki, anak Dewitri itu terdengar menyemangati.
Jack tidak sempat untuk grogi, dari dalam tubuhnya mulai terasa ada desakan yang seolah ingin segera ia keluarkan.
Lalu, terakhir kali, ditariknya batang kelelakian Jack dari celah sempit Dewitri, dan disorongkannya kembali dengan sangat teramat kuat, sambil menahan erangannya.
"Croooot! croottttt!"
Sekitar 5 semprotan cairan kental putih sampai menetes di ranjang Dewitri. Lalu sembari mengatur napas, Jack merebahkan diri di atas tubuh Dewitri tanpa berani menarik organ vitalnya itu dari celah sempit Dewitri, ia merasa malu bila sampai dilihat oleh Kiki.
“Om, ada yang bocol!” teriak Kiki. Jack paham, itu karena mutahan dari organ vitalnya tumpah ke mana-mana.
Lalu, perlahan Jack mulai menarik senjata pusakanya dari celah sempit Dewitri pelan-pelan dan menggeser tubuhnya. Celah sempit Dewitri nampak basah. Batang kelelakian miliknya yang panjang dan besar itu kini sudah terlihat lemas, menggantung di antara kedua paha besarnya.
“Ih, om jolok!” Kiki bergidik melihat organ vital Jack yang mirip terong dibakar itu berleleran cairan kental yang masih menetes-netes.
Tanpa banyak bicara, Dewitri segera bangkit berdiri dan bergegas mencari pakaiannya di ruang tamu.
Setelah memakai kembali pakaiannya, Dewitri kembali ke kamar, di dapatinya Jack masih terlentang tanpa busana, nampak jelas batang kelelakiannya itu sudah tegang dan berdiri lagi, rupanya Kiki asyik maik-main dengan senjata pusaka milik Jack.
“Punya om ini besar yah”
“Punya Kiki juga nanti kalau sudah besar pasti besar juga” Ucap Jact tersenyum geli.
“Kiki! Ayok nak, tidur lagi, ya!?”
Dewitri dengan segera mengangkat Kiki, lalu menemaninya sampai Kiki benar-benar tertidur. Pikirannya masih khawatir, apa yang barusan dilakukannya dengan Jack tentu bukan perbuatan yang pantas sebagai orang tua. Dewitri memikirkan dampak psikologisnya bagi Kiki yang masih kecil itu. Apakah hal itu akan menyebabkan trauma?
Dewitri masih ingat bagaimana tadi Kiki nampak bersemangat main-main dengan rudal Milik Jack yang memang luar biasa itu.
Namun, saat itu gairahnya benar-benar tidak bisa ia redam sedikitpun. Setelah sekian lama ditinggal mati suaminya, baru kali ini Dewitri merasakan kembali sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa dari Jack.
Dewitri masih merasakan gairah wanitanya menggelora. Bersama Jack, laki-laki yang sangat laki-laki itu, libidonya terasa seakan memuncak hingga sampai ke ubun-ubun.
Sembari menidurkan Kiki, pikirannya masih belum bisa melepaskan bayangan batang besar panjang dengan badan tegap sempurna itu. Di antara pangkal paha yang kokoh berbulu itu ada sesuatu yang mampu menghujam celah sempit miliknya dengan kuat dan gagah.
Dewitri benar-benar masih teringat akan semua gairahnya. Di dalam celah sempit miliknya, tongkat pusaka milik Jack itu seakan masih menempel di selangkangannya.
Permainan Jack di atas ranjang benar-benar telah menghipnotisnya. Terlebih saat Jack menciumi dadanya. Memikirkannya saja sudah membuat kedua bukit kembarnya itu seketika mengeras.
Sekitar 10 menit, Dewitri akhirnya berhasil menidurkan Kiki, anak lelaki satu-satunya dari suaminya yang pertama.
Di kamar Dewitri, Jack nampak sedang membelai batang kelelakiannya yang masih basah dan lengket. Senjata pusaka miliknya masih saja nampak kencang dan mengeras.
Jack masih membayangkan tubuh mungil Dewitri yang barusan ada di bawah pelukannya. Dia masih membayangkan gundukan merah jambu yang menggiurkan di antara pinggang padat Dewitri.
Masih jelas dalam ingatannya, kedua bukit kembar yang membusung itu. Tidak terlalu besar namun masih sangat kencang. Rasanya seperti agar-agar, kalau disentuh. Lembut, kenyal tapi keras. Kamu tahu maksudku.
Sekali-kali, kedua mata Jack menatap langit-langit kamar putih yang sangat bersih itu. Kembali terbayang saat Kiki membantunya menggoyang Dewitri. Rasa serba salah tak pelak lagi menerjangnya.
--------- Batas Preview ---------
Maaf, cerita terkunci!
Khusus Member
PAKET EKSKLUSIF
Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!
Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.
Login / Registrasi
Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan
terlebih dahulu.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Klik tombol di bawah ini
Langganan PaketMaaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Silahkan berlangganan kembali.
Langganan PaketMaaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.


