no fucking license
Bookmark
Iklan

Rahasia Kakak Tiri

"Sejak saat itu, otakku benar-benar rusak, selalu dipenuhi dengan bayangan Kak Shelly. Aku bahkan selalu menunggu saat-saat dimana kak Shelly masturbasi. Dengan Mini Camera yang terhubung ke TV di kamarku, aku bisa dengan bebas melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Shelly."
-- Blurb --
Informasi Cerita :

Judul Cerita

Penulis

Total Chapter

Hak Akses

Hanya Untuk

:    Rahasia Kakak Tiri

:    elngprtma

:    6 Chapter

:    Member Eksklusif

:    DEWASA!

DISCLAIMER!

Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.

FeatureImage

Bab 1 – Kak Shelly

Namaku Eric. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Tanggerang. Saat ini aku kuliah semester III jurusan Management. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakakku. 

“Kak Shelly” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 6 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua.

Rumah yang kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Shelly. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. 

Kak Shelly saat ini bekerja disalah satu Kantor Cabang bank swasta nasional. Meskipun usianya baru 28 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.

Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Shelly, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Shelly saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Shelly.

Namun dari semua kekagumanku pada kak Shelly, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak pernah melihat kak Shelly memiliki hubungan yang spesial dengan seorang laki-laki pun. 

Aku sempat berpikir, kurang apa kakakku ini? Cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan santai ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu.” Ucapnya kala itu. Aku percaya saja mendengar kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.

Sampai pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul  21.30, suasana rumah lenggang dan sepi. Aku keluar dari kamarku di lantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. Aku lihat televisi diruang tengah sudah dimatikan, padahal biasanya kak Shelly asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya.

Karena khawatir pintu rumah belum dikunci,  aku segera memeriksa pintu depan, tapi ternyata sudah dikunci. Sembari bertanya-tanya dalam hati, aku bermaksud kembali masuk ke dalam kamarku. Namun tiba-tiba terlintas satu pertanyaan di benakku, “kok baru jam segini  kak Shelly sudah tidur?” tanyaku dalam hati. 

Dengan iseng, pelan-pelan aku mencoba mengintip kak Shelly di dalam kamar melalui lubang kunci. Walau agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, tapi lewat lubang sekecil itu aku masih dapat melihat ke dalam kamarnya.

Tiba-tiba dadaku berdegup kencang, lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Shelly tampak menggeliat dan meliuk-liukan tubuhnya diatas spring bad. Tanpa tertutupi busana sehelaipun!

Ya Ampun! Aku melihat Kak Shelly menggeliat kesana dan kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal dan guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu dengan luwesnya. Kemudian beberapa saat kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling itu.

Melihatnya, napasku seketika memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Dengan sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh di dalam dadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci untuk beberapa saat, pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. 

Namun, rasa penasaran yang cukup besar mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Shelly masih menindih batal guling itu. Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling tersebut sembari meraih langerie-nya. 

Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. “Ngapain lagi tuh?” tanyaku dalam hati. untuk bebera detik, aku sempat tertegun.

Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh!

Ketika aku mengintipnya kembai ke dalam kamar, aku lihat Kak Shelly mengarahkan pangkal pahanya pada ujung bantal, hingga posisinya benar-benar menunggangi tumpukan bantal itu.

Lalu tubuhnya, terutama bagian pinggul bergoyang dan tampak bergerak-gerak lagi dengan perlahan dan teratur, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kelelakianku sendiri. 

Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Shelly di dalam kamarnya. Nafasku kian memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Shelly yang semakin cepat. Aku pikir mungkin ia hendak mencapai puncak klimaks. Dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh kak Shelly tampak berguncang beberapa saat, sebelum merintih pelan tampak jemari kak Shelly mencengkram seprai.

Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju ke kamarku sendiri. Lalu mengunci pintu dan kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi menyala dalam dada dan semakin lama semakin bergejolak di dalam tubuhku.

Ah! Aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar, aku mulai membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan itu aku selalu menyebut-nyebut nama kak Shelly. Aku membayangkan tengah berguling sambil mendekap tubuh kak Shelly yang padat putih mulus itu. Pikiranku malam itu benar-benar sudah tidak waras.

Dalamkepalaku aku membayangkan sedang menggumuli tubuh kak Shelly sembari meremas setiap lekuk tubuhnya. Aku sungguh tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan mendesis sendiri lalu mengerang perlahan seiring cairan kental yang keluar dari tubuhku tiba-tiba membasahi bantal guling. 

Sejak kejadian malam itu, tatapan mataku terhadap kak Shelly mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak. Lebih dari itu, aku kini melihat kak Shelly sebagai wanita seutuhnya. Ya, wanita cantik, dan seksi tentunya. Ah! maafkan aku kak Shelly.

Terkadang aku merasa berdosa, manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku sering memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Shelly yang menggoda sangat birahiku.  Mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Shelly sedemikian putih, padat dan molek? Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu benar-benar membangkitkan gairah kelelakianku. Ah, lehernya apalagi. Hmmm, rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajahku dilehernya.

“Hei, kenapa melamun aja? Ayo dimakan rotinya,“ ucap kak Shelly sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Shelly, lalu bergerak ke kerongkonganya. Ahhh, kenapa aku jadi memperhatikanya sedetail itu?

“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa ini kak?” aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Shelly menatapku dengan pandangan aneh.

“Nanas! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah!” kak Shelly bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan. 

“OK, tenang aja!” mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Shelly yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya begitu putih dan mulus. Astaga. Aku hanya bisa menarik napasku dalam-dalam.

 

Bab 2 – Teman Kak Shelly

“Kamu gak pergi kemana-mana ‘kan ?“ tanya kak Shelly. 

“Enggak…” kataku sesaat sebelum meneguk air minum, hari sabtu aku memang gak ada jadwal mata kuliah.

“Periksa semua kunci rumah ya Ric kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan!”

“Mmhhh… iya, tenang aja…” kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.

Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku ke teras depan, Honda Jazz warna silver itu sudah berlalu meninggalkan pekarangan.

Setelah memastikan kak Shelly pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku memiliki satu rencana. Aku akan memasang Mini Camera ke kamar kak Shelly, biar bisa online ke TV dikamarku, “Hehe....” aku tersenyum dengan wajah mesum tergambar di wajahku seorang diri.

Sejak saat itu, otakku benar-benar rusak, selalu dipenuhi dengan bayangan Kak Shelly. Aku bahkan selalu menunggu saat-saat dimana kak Shelly masturbasi. Dengan Mini Camera yang terhubung ke TV di kamarku, aku bisa dengan bebas melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Shelly. 

Aman! sejauh ini kak Shelly tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati. Benar rupanya hasil survey sebuah lembaga bahwa 60% dari wanita lajang senang melakukan masturbasi. 

Kalau kuhitung, bahkan ka Shelly melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat! malam rabu dan malam minggu. Kasihan kak Shelly. Ia mestinya sudah berumah tangga. Tapi biarlah, kak Shelly toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang dilakukannya. 

Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Shelly melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh! Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Shelly ketika kak Shelly tengah menggeliat-geliat sendiri.

Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia? Walaupun Kak Shelly bukan kakak kandung, tetap saja rasanya tidak etis.

Malam ini. Aku sudah tak sabar menunggu, jam di dinding sudah menunjukan hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya Kak Shelly akan melakukan itu. Ia masih tampak asyik nongkrong di depan TV ruang tengah. 

Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang. 

“Mau kemana Ric ?”

“Kunci gerbang ah, udah malem !” kataku sambil menggoyangkan anak kunci.

“Jangan dikunci dulu, temen kak Shelly mau kesini !”

“Mau kesini ? siapa kak ?”

“Fitri… yang dulu itu lho !”

“Ohh…” aku mencoba mengingat. 

Fitri? ah masa bodo, aku lupa. 

“Tapi, kalo dia kesini, berarti dia akan nginep? Yah! hangus deh.” Keluhku.

Aku bergegas kembali ke dalam. Dan ketika menaiki tangga menuju ke lantai atas, Ponsel kak Shelly berdering. Aku mendengar kak Shelly berbicara, rupanya temennya si Fitri brengsek itu udah mau datang. 

“Huh!”

Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketiduran.

Aku lantas mencuci muka di wastafel, lalu mengambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin, tapi lumayan daripada tidak ada. Setelah itu, untuk menetralisir tenggorokanku aku segera meneguk air putih, dan dengan santai membakar sebatang Class Mild.

Asap mulai memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Shelly udah pulang kali?! Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron, Mistery, fffpuih! 

kuganti-ganti channel tapi emang semua channell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video, seketika itu juga aku terkaget, “lho apa itu?! Ya ampun! sungguh pemandangan yang menjijikan.” Desisku dalam hati.

Apa yang akan dilakukan kak Shelly dan temannya itu, membuatku menggeleng-gelengkan kepala, ada rasa marah dan kesal juga. Aku tidak menyangka kalau kak Shelly ternyata menyukai sesama jenis.

Apa kata Mama. Ya ampuuuuun! Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat. Aku ambil lagi segelas kopi yang hanya tingga tersisa sedikit itu. Satu tetes, lalu kering. Ah segera aku ambil segelas air putih dan meng habiskan segelas air air putih itu sampai tetesan terakhir.

Lalu, aku tekan lagi tombol power TV, Upps, masih On Line! Aku melihat kak Shelly dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup menunjukan kalau mereka tak berpakaian. Mereka saling menatap dan tersenyum.

Tangan kiri kak Fitri mengelus-elus pundak kak Shelly. Sementara kuperhatikan tangan kak Shelly nampaknya mengelus-elus pinggang kak Fitri, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu. 

Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.

Perlahan kepala kak Fitri mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Shelly. Aku Cemburu! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. 

fffpuih! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita.

Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, darahku seakan mulai mendidih, dada berdebar dengan kencang. 

Sesaat kak Fitri nampak menelusuri leher kak Shelly dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri.

Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Shelly yang pasrah tengadah, sementara kak Fitri dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga. Aku tak tahan melihat kak Shelly diperlakukan seperti itu. 

Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.

Situasi semakin seru, kak Shelly kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Fitri yang kini terlentang ditindih kak Shelly.

Kepala kak Fitri mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya.

Kemudian kak Shelly berpindah menciumi dada kak Fitri, sekarang baru nampak jelas wajah kak Fitri. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Shelly. 

Ah! Saat itu juga aku merasa terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.

Kak Shelly benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Fitri. Wajah kak Fitri mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Shelly mengemut putting bukit kembarnya. 

Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Shelly. Bergantian kak Shelly mengerjai kedua payudara kak Fitri. 

Kak Fitri tampak semakin menggeliat-geliat. Semakin liar, apalagi ketika kak Shelly menyelinap ke dalam selimut.

 

Bab 3 – Ketahuan

Tiba-tiba kepala Kak Shelly muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, karena kulihat kak Fitri tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Shelly.

Sesaat kemudian kak Shelly menghilang lagi ke dalam selimut. Kak Fitri tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Shelly, tapi menurut perkiraanku kepala kak Shelly tepat diantara selangkangan kak Fitri. Entah apa yang tengah dilakukannya.

Namun yang terlihat, kak Fitri mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Shelly. Kepala kak Fitri bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama.

Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kelelakianku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah edan !

Tiba-tiba aku lihat kak Fitri mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Shelly. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam.

Matanya terpejam. Kemudian kak Shelly muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Fitri tersingkap karenanya.

Kak Fitri kemudian meraih kedua bahu kak Shelly, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Shelly, lalu merangkul kak Shelly ke dalam pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kelelakianku sendiri.

Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Shelly membaringkan badanya. Terlentang. Kak Fitri menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh.

Kak Shelly kelihatan protes, tapi protes kak Shelly dibalas dengan lumatan bibir kak Fitri. Tubuh kak Fitri menindih tubuh kak Shelly. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun.

Saling menyentuh, Kak Fitri kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri. Kak Shelly nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Fitri nampak lebih terampil dari kak Shelly, hampir setiap inci tubuh kak Shelly dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Shelly dari arah perut dan terus bergerak ke awah.

Kak Shelly hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Shelly yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Fitri menahanya, akhirnya kak Shelly menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad.

Kak Fitri kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Shelly. Tangan kanan kak Shelly mengusap-usap area kewanitaannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat.

Tubuh kak Fitri kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Shelly. Kak Fitri menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Shelly, sehingga tubuh bagian bawah kak Shelly makin terangkat. Kepala kak Shelly terjepit persis diantara selangkangan kak Shelly.

Sebelah tangannya meremas-remas payudara kak Shelly. Aku lihat tubuh kak Shelly mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Shelly menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kelelakianku menggesek-gesek ujungnya.

Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Shelly dan kak Fitri. 

“Kak Shellyii… kak Fitri… ini Eric… asssshhh ... ahhkk kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.

Semakin lama kak Shelly kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Fitri.

Semakin lama gerakan kak Shelly semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. 

Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan! Brengsekkkkkk! 

Aku terengah-engah dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Shelly dan kak Fitri pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan.

“Dor! Dor! Dor!”

“Eric! bangun, udah siang!“ 

Suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.

“Bangun!” suara kak Shelly kembali terdengar.

“Iya! udah bangun!” teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Shelly menjauh dari pintu kamarku.

Ya ampun! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal gulin, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus! 

Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi.

Kalau tidak khawatir mendengar kembali teriakan kak Shelly yang menyuruh sarapan mungkin aku memilih untuk tidur lagi. Akhirnya aku keluar kamar, mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi.

Didekat ruang makan aku berpapasan dengan kak Shelly yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek kak Shelly yang belum kering benar jelas terlihat.

Aku teringat kejadian tadi malam. “abis keramas nih yee!” kataku dalam hati. 

“Apa senyam-senyum gitu ?”, kak Shelly menatapku heran. 

“Enggak! Siapa yang senyam-senyum. Mmm enak!” kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat.

“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Shelly sambil meletakan piring yang dipegangnya. 

“Jorokan juga kak Shelly, gituan dijilatin hiiii….” kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga!

Segar sehabis mandi, hampir aku balik lagi ketika menyadari dimeja makan Kak Shelly tengah sarapan ditemani kak Fitri. 

“Ikutan Indonesian Idol dong Ric!  Jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja!”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Fitri.

Cantik. Bener- benar cantik. Sumpah! Tapi matanya itu, aku merasakan keliaran dimatanya ketika menatapku yang hanya terbungkus handuk sepinggang.

“Eh, maaf kirain gak ada kak Fitri, maaf yah … permisi!” kataku sambil berlalu. Buru-buru aku ganti baju, dan menyisir rambut.

Ah! kenapa aku ingin nampak keren. Karena ada kak Fitri yang cantik kali ya? Pandang dari kiri dan kanan. Sip! Turun kembali ke lantai bawah, menikmati dua wajah cantik, dan sepiring nasi goreng bertabur SoGood Sozzis.

“Nih buruan, sarapan dulu!” kak Shelly yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka sendiri telah selesai.

Aku lalu sarapan dengan diawasi oleh dua mahluk cantik yang tidak buru-buru beranjak dari meja makan. Mereka berbincang ngalor ngidul seputar dunia kerja.

Sesekali aku menimpali meskipun mungkin enggak nyambung. “Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin kerjaan !” aku membatin.

“Tumben dihabisin ?”, kata kak Shelly melihat aku makan dengan lahap. 

“Abis enak sih !”

“Biasanya, dia tuh susah makannya, di masakin ini-itu juga susah makan’”

“Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali

ucapan kak Shelly.

“Alah… emang biasanya gitu kok !”, kak Shelly memotong ucapanku. Kak Fitri hanya tersenyum aja. Manis lagi senyumnya. Mmmuah! ingin rasanya kusentuh bibirnya itu. 

Seminggu berlalu, setiap hari rasanya aku menjadi tambah bejat. Pikiranku kotor terus. Terbayang kak Shelly dan kak Fitri. Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah sosok kak Shelly. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu. Sehingga pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya.

Aku merasa bersalah karena kemudian khayalanku semakin kacau. Aku begitu terobsesi dengan kak Shelly. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Shelly. 

Aku ingin merasakan kehangatan tubuh mulusnya, mengecap setiap inci kulit halusnya. Ahhhhhh!

Rasanya semua hal yang berkaitan dengan kak Shelly membuatku terangsang. Melihat pakaiannya yang lagi dijemur saja aku terangsang. 

Bahkan entah berapa kali ketika kak Shelly tidak ada dirumah, aku mempergunakan benda-benda pribadi kak Shelly menjadi objek fantasiku.

Dan makin lama aku makin berani, hingga aku melakukan self service, di kamar kak Shelly, ketika tidak ada kak Shelly tentunya. Seperti siang itu, sebotol Hand Body Lotion milik kak Shelly kugenggam erat.

Aku terlentang diatas spring bad kak Shelly. Isi lotion telah kukeluarkan sehingga melumuri kelelakianku yang mengacung. Kuurut perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi celana dalam pink kak Shelly. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam kenikmatan. Sehingga aku tak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara didepan rumah. Ah, kak Shelly biasanya pulang jam 6.30, sekarang.

baru jam 2 siang. Aman ... Ach … shhhh .. Aku terhanyut dan bergelenyar penuh kenikmatan hingga tiba-tiba.

“Jeckrek!” 

kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka. Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Shelly Pulang!

Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan Hand Body Lotion itu oun tiba-tiba tumpah. Mati gue!

Sampai aku tidak dapat mencegah karena pintu kamar memang tak kukunci. 

“Blak”

Pintu didorong dari luar. 

“Eric! Ngapain kamu?” 

mata kak Shelly menatapku tajam.

“ng..mmm ini lagi...” aku tak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat.

Wangi Hand Body Lotion tercium kemana-mana. Keringat dingin membasahi tubuhku yang hanya mengenakan training. Napasku tercekat manakala menyadari tatapan kak Shelly ke atas tempat tidur, celana dalam ka Shelly, langerie kak Shelly, bantal guling, dan celana dalamku yang tak sempat kupakai atau kusembunyikan. 

“Shittttt Sialan!”

Kak Shelly menghela nafas panjang dan berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Shelly pastinya dapat menebak kelakuanku. 


---------   Batas Preview    ---------


Maaf, cerita terkunci!

Khusus Member

PAKET EKSKLUSIF

Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!

Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.

Login / Registrasi

Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan terlebih dahulu.

Akun Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -

Klik tombol di bawah ini

Langganan Paket
Paket Eksklusif Sudah Berakhir 💔

Maaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.


Akun Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -


Silahkan berlangganan kembali.

Langganan Paket

Maaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.