no fucking license
Bookmark
Iklan

Si Putih

"Meoooong." Si Putih mengeong kesakitan, berusaha lompat menjauh, tapi dengan dua kaki yang terluka, gerakannya oleng, dia tersungkur, bulu putihnya digenangi darah dan debu.
-- Blurb --
Informasi Cerita :

Judul Cerita

Penulis

Total Chapter

Hak Akses

Genre

:    Si Putih

:    Tere Liye

:    32 Chapter

:    Free/Gratis!

:    Romance

DISCLAIMER!

Karya ini ditulis oleh penulis di luar fraksikata.com.Jika kamu menyukainya, traktir author secangkir kopi lewat tombol di akhir cerita. Bila penulis keberatan, silakan kunjungi halaman ini untuk penurunan atau penyematan no.rek/e-wallet..

FeatureImage

Bab 1

Cerita ini bermula di Klan Polaris. Sebuah Klan yang unik di konstelasi Ursa.

Hari itu, tanggal 1, minggu 1, bulan 1, tahun 1, dalam sistem kalender Klan Polaris. Kalian tidak keliru membacanya, itu memang hari pertama penanggalan mereka, tapi itu bukan berarti klan itu baru ada, usia klan itu jauh lebih tua dibanding konstelasi lain. Namun hari itu, adalah hari yang amat penting, karena sistem penanggalan di-restart, alias dimulai kembali dari nol.

Dalam sistem kalender Klan Polaris, jumlah hari ada sembilan, dan setiap sembilan minggu, bulan baru terbentuk, lantas setiap sembilan bulan, tahun baru tiba. Sembilan, sembilan dan sembilan. Hari itu, saat kisah ini bermula, adalah tanggal 1, minggu 1, bulan 1, tahun 1, dan itu hanya berarti satu hal, yaitu telah terjadi kekacauan besar.

Bayangkan sebuah apel. Yang seharusnya seluruhnya berwarna merah ranum, segar. Maka hari itu, apel tersebut berubah menjadi dua area yang kontras. Sebagian tetap berwarna merah segar, tapi sebagian lagi berwarna kelabu, suram. Itulah Klan Polaris, area yang berwarna kelabu, suram, terlihat kepul asap membumbung tinggi, dentuman kencang, raungan yang merobek langit-langit, teriakan, suara tembakan, kekacauan terjadi di mana-mana. Gedung-gedung tinggi runtuh, pusat peradaban hancur lebur. Sementara sebagian penduduk bergegas menaiki benda-benda terbang, melintasi dinding yang memisahkan dua bagian tersebut, mereka menuju kawasan yang berwarna merah segar.

Dinding itu menjulang tinggi entah dimana ujungnya, terbuat dari material transparan, tebalnya tak kurang seratus meter. Tidak ada yang bisa menembusnya, kecuali melintasi lorong-lorong evakuasi yang dilengkapi dengan pengaman tingkat tinggi. Benda-benda mutakhir, detektor, robot serta turret paling canggih, yang mencegah siapapun masuk tanpa izin. Ribuan benda-benda terbang berbaris melewatinya, membawa penumpang dengan wajah panik, tegang, dan ketakutan.

Sementara di belakang mereka, di daerah yang kelabu dan kusam, kekacauan terus menggila. Kota-kota besar bertumbangan. Separuh apel itu semakin cokelat, suram.

Apa yang terjadi?

Itu karena Klan Polaris unik. Di Klan ini, dengan bentang alam yang menakjubkan, terhampar hutan-hutan, lembah, gunung, padang rumput, danau, lautan yang sangat kaya dengan makhluk hidup. Bayangkan sebuah klan yang memiliki dua juta spesies tumbuhan, Klan Polaris memiliki lebih banyak lagi. Milyaran, tak terhitung. Bayangkan klan yang mempunyai jenis hewan 4 juta spesies, Klan Polaris ribuan kali lebih banyak lagi. Belasan milyar. Klan ini memiliki tiga belas ribu jenis capung, dua puluh ribu jenis kodok, bahkan semut, spesies barunya tak habis ditemukan.

Itu juga termasuk makhluk hidup berukuran super kecil, yang di Klan lain disebut dengan bakteri, mikroorganisme, atau virus dan sebagainya. Berapa banyak makhluk hidup ini berkembang biak setiap harinya? Milyaran trilyun, tak terhitung.

Penduduk Klan Polaris tahu tentang fakta itu, dan mereka hidup damai berdampingan dengan keunikan klan. Mereka bisa mengendalikan, menjaga keseimbangan dengan sekitarnya. Dengan mempelajari dari alam sekitar, ilmu pengetahuan mereka lompat jauh sekali. Kota-kota di Klan Polaris adalah panggung pertunjukan teknologi terbaik di dunia paralel. Benda-benda terbang telah ditemukan ribuan tahun lalu, juga alat komunikasi, industri manufaktur, pertanian mutakhir, telah ada sejak lama.

Hanya saja, sehebat apapun mereka menjaga keseimbangan itu, termasuk melindungi kota-kota dengan selaput tipis proteksi, tetap saja terjadi letupan kecil di alam yang satu-dua mampu memicu perubahan besar. Virus. Itulah biangnya. Di klan manapun, makhluk super kecil ini terus mengalami mutasi agar bisa bertahan hidup. Dan dalam periode tertentu, mutasi virus menjadi sumber penyakit serius. Sebagian hanya berdampak pada hewan, menginfeksi hewan-hewan lain, lantas beberapa saat, selesai dengan sendirinya, keseimbangan baru terbentuk. Tapi sesekali virus itu lompat menyerang manusia, menular dengan cepat, mematikan. Pandemi terjadi.

Ilmuwan Klan Polaris menyadari hal tersebut. Sejak ribuan tahun lalu, mereka mencatat dengan sangat baik sejarah pandemi di klan mereka. Bahkan mereka telah bersiap dengan risiko terburuknya. Setiap dua ratus tahun, menurut catatan itu, akan terjadi pandemi yang sangat mengerikan, yang bisa menghabisi 99% lebih populasi Klan Polaris. Mereka menyiapkan skenario menghadapinya. Klan Polaris sejak dulu telah dibagi menjadi dua kawasan. Dipisahkan oleh dinding transparan menjulang hingga ke langit, dengan tebal seratus meter itu. Dalam situasi normal, dua bagian terpisah itu sama-sama hijau, sama-sama indah. Dengan kota-kota modernnya. Tapi hanya satu bagian yang dihuni oleh penduduk, satu bagian dibiarkan kosong. Teknologi tingkat tinggi yang merawatnya, sebagai persiapan evakuasi.

Ilmuwan Klan Polaris membuat daftar 10 jenis pandemi. Level 1 itu berarti dengan mudah bisa dikendalikan. Level 10, itu berarti ‘kiamat’. Ketika Pandemi level 10 terjadi, penguasa Klan Polaris akan mengeluarkan Dekrit Darurat. Penduduk harus segera pindah ke bagian yang selama ini dibiarkan kosong. Itulah terjadi hari itu, saat kisah ini dimulai. Wabah mematikan menyebar dengan sangat cepat 24 jam terakhir, dimulai dari satu penduduk yang tumbang di sudut sebuah kota, satu jam kemudian menjadi seribu orang terinfeksi, enam jam kemudian menjadi sejuta. Kapsul-kapsul kesehatan kewalahan menangani gelombang pandemi tersebut. Perhitungan cepat dilakukan, kabar buruk telah datang. Jika tidak ada tindakan yang dramatis, 48 jam peradaban tinggi Klan Polaris akan runtuh kembali ke titik nol.

Menit demi menit menjadi sangat krusial. Ilmuwan Klan Polaris bergegas mengirimkan rekomendasi kepada penguasa Klan, pilihannya adalah, selamatkan sebagian penduduk, lakukan evakuasi, atau musnah semuanya. Protokol Pandemi Level 10 dimulai. Penduduk yang masih sehat, mulai menaiki benda-benda terbang, pindah ke bagian yang kosong. Penduduk yang terkena infeksi harus ditinggalkan di bagian semula. Apa pun risikonya, apa pun harganya, Dekrit Darurat harus dilaksanakan.

Persis protokol itu dimulai, kekacauan meletus. Penduduk panik, marah. Situasi berubah menjadi menegangkan dan berbahaya. Ribuan kapsul dengan senjata berteknologi tingkat tinggi memenuhi langit-langit kota berusaha menertibkan situasi. Evakuasi harus berjalan, penduduk yang sehat dipisahkan dengan yang terinfeksi dalam waktu kurang dari 24 jam. Berkejaran dengan waktu. Penduduk yang terinfeksi melawan, mereka menyerang kapsul-kapsul, menghancurkan gedung, berusaha menerobos lorong-lorong panjang, memaksa ikut dievakuasi. Tapi itu sia-sia, tidak ada yang bisa melewati detektor.

Siapapun yang telah terinfeksi, tidak akan pernah bisa melewatinya.

Kota-kota dibakar, kerusuhan meledak, dengan segera sebagian Klan Polaris menjadi kelabu dan suram.

Hari itu, persis di tanggal 3, minggu 8, bulan 7, tahun 2020, sistem kalender Klan Polaris dinyatakan dimulai kembali dari nol. Bagian yang lama akan ditinggalkan. Kehidupan di-restart di bagian yang baru. Lorong-lorong panjang itu menyambut para pengungsi.

“Selamat datang di era baru.” Layar-layar hologram terlihat di dinding.

Wajah-wajah penumpang menatap keluar.

“Kota-kota baru telah menunggu. Kehidupan baru telah datang.”

Layar-layar hologram terus mengirimkan pesan. Sesekali melintas informasi penting di sana, “95% penduduk sehat telah berhasil dievakuasi. Otoritas menyatakan, proses akan dihentikan dalam waktu 67 menit lagi.” Atau, “Tetap tenang. Kami memastikan pandemi ini akan segera berakhir setelah kalian tiba di tempat baru.” Atau, “Setiap penduduk yang melintasi lorong, diharapkan selalu mengaktifkan identitas hologram di pergelangan masing-masing.”

Juga penguasa Klan Polaris yang bicara, wajahnya terlihat di layar-layar hologram, “Wahai, rakyat Polaris! Ini adalah keputusan menyakitkan yang harus dilakukan. Ribuan tahun, kita tidak pernah kalah dengan pandemi. Maka hari ini, kita juga tidak akan kalah. Ilmuwan terbaik kita telah siap bahkan sebelum mutasi virus itu datang.

“Kita akan memulai kehidupan baru di bagian yang baru. Kita akan melupakan bagian sebelumnya. Puluhan tahun, tanah itu akan menghijau kembali, virus itu akan lenyap, tapi tanah itu akan tetap dibiarkan kosong, digantikan oleh mesin dan robot canggih. Ratusan tahun kemudian, saat Pandemi Level 10 kembali tiba, anak cucu kita akan siap menghadapinya. Sama seperti nenek moyang kita yang ribuan tahun sebelumnya sama berhasilnya mengatasinya.

“Wahai, rakyat Polaris! Hanya dalam waktu 24 jam, situasi akan segera terkendali, dan kita telah memenangkan pertempuran melawan pandemi. Hari ini, tanggal 1, minggu 1, bulan 1, tahun 1, selamat datang di ‘Polaris Baru’.”  

-- Next Chapter--

Bab 2

55 menit kemudian.

Di kota E-um-kota terbesar nomor dua di Klan Polaris, yang berbatasan langsung dengan dinding pemisah.

"Tinggalkan semuanya, N-ou." "Tapi, Ayah-"

"Tidak ada waktu lagi, Nak."

Laki-laki usia tiga puluhan itu berseru tegas. lstrinya telah menyambar sebuah tas kecil berisi benda-benda penting. Berlarian memastikan tidak ada dokumen penting yang tertinggal.

"Tapi 'Proyek Science' N-ou bagaimana-

,,

"Ayo, Sayang." Wanita usia tiga puluhan itu segera menarik lembut tangan anaknya.

"lbu."

"Kamu bisa mengerjakannya lagi nanti­ nanti."

"Tapi, Bu."

N-ou masih bersikeras. Anak kecil usia dua belas tahun itu tetap mengotot hendak membawa proyek science-nya. Dia telah mengerjakan proyek itu selama sebulan terakhir, akan diikutsertakan dalam Festival Anak-Anak Klan Polaris. Benda itu keren sekali, Pembakit Listrik Tenaga Suara, ketika suara bisa dijadikan sumber energi-

BOOOM !

Terdengar dentuman kencang di kejauhan. Lantai yang mereka pijak bergetar.

"N-OU! Segera berangkat." Ayahnya berseru, kali ini dengan tegas menarik tangan anaknya. Tidak ada lagi waktu untuk mengurus segala proyek science, kekacauan telah melanda nyaris seluruh kota E-um. Mereka harus segera pergi.

Anak kecil itu mengangguk. Wajahnya sedikit pias, dentuman tadi kencang sekali. Mereka bertiga berlarian menuju jendela. Apartemen mereka terletak di lantai 19 kawasan elit kota E-um. Ayahnya melambaikan tangan ke udara, jendela kaca terbuka otomatis, sebuah benda terbang telah menunggu, mengambang di sana.

Berlompatan.

BOOOM!

Terdengar lagi dentuman kencang. "Ayah! Lihat!" N-ou berseru.

Tidak perlu diberitahu, Ayah sudah melihatnya sejak tadi, salah-satu gedung di dekat mereka runtuh separuh. Membua kepul debu mengambang di udara. Tembakan-tembakan terdengar. Cahaya hijau, merah, kuning, putih melesat di langit-langit kota. Kapsul­ kapsul sistem keamanan mendesing terbang di sekitar mereka, terus berusaha melumpuhkan para pembuat kerusuhan di bawah sana.

"Segera menuju lorong evakuasi !" Ayah berseru cepat.

Benda terbang yang mereka naiki mendesing lebih kencang, menerima titik tujuan, lantas melesat meninggalkan jendela kaca yang masih terbuka. lbu melihat pergelangan tangannya, ada

gelang transparan di sana, dengan layar hologram berkedip-kedip hijau. Juga di tangan Ayah dan Nou, berwarna hijau. ltu berarti mereka penduduk sehat, terbebas dari pandemi.

"Awas, Ayah." N-ou berteriak saat benda terbang keluarga mereka melintas sebuah bangunan besar yang mirip pusat perbelanjaan. Cahaya hijau melesat menghantamnya.

BOOOM!

Salah-satu sisi bangunan itu meledak. Jarak mereka dengan ledakan lima puluh meter lebih, tapi energi yang dilepaskan oleh ledakan membuat benda terbang yang mereka naiki terbanting. Ayah segera mengambil-alih kemudi otomatis, menggenggam tuas. Benda terbang mereka meliuk di guguran material, dan hiruk-pikuk kerusuhan di bawah sana. Penduduk yang berteriak marah.

Melepas tembakan, melawan kapsul­ kapsul sistem pengaman yang berusaha melumpuhkan mereka.

"Masih berapa jauh lagi lorong evakuasi?" lbu bertanya cemas.

Situasi kota semakin tidak terkendali.

"Lima belas klik." Ayah menjawab cepat, konsentrasi penuh dengan kemudi.

lbu meremas jemarinya.

"Masih berapa lama lagi mereka menutup pintu lorong evakuasi?"

"Tenang saja, Sayang, kita bisa mencapainya tepat waktu. Sekali kita melintasi pos pemeriksaan, sistem keamanan mencegah siapapun bisa melintas, kita aman dari gangguan penduduk terinfeksi."

lbu mengangguk, wajahnya semakin tegang. Benda terbang yang mereka naiki

terus melesat. Keluarga itu terlambat menerima notifikasi evakuasi. Mereka lupa meng-update sistem deteksi virus di identitas pergelangan tangan.

Persis di perempatan kota, yang biasanya adalah tempat paling indah, dengan hamparan taman bunga ribuan spesies, terlihat pertempuran sengit. Penduduk yang marah berhasil menjatuhkan beberapa kapsul-kapsul. Debu mengepul bercampur asap tebal, kapsul-kapsul itu terbakar, teronggok di jalanan. Tidak ada lagi indah-indahnya taman bunga itu. Lubang-lubang besar terlihat di tanah, pertempuran terus berlangsung.

"Kita tidak bisa melewatinya." Ayah mengurangi kecepatan benda terbang.

"Sekarang bagaimana?"

"Kita harus memutar, mencari jalan lain. Berpegangan !" Ayah membanting kemudi, benda terbang itu meliuk.

lbu terlihat cemas, memeluk bahu N-ou.

Benda terbang yang mereka naiki melakukan manuver tajam, berbelok ke kanan, menuju kawasan padat bangunan. Melesat diantara dinding-dinding menjulang apartemen yang menjulang.

"Masih berapa jauh?" "Delapan klik lagi." "Aduh."

"Tenang saja, Sayang." "Awas!" N-ou berseru.

Di salah-satu apartemen itu, melesat cahaya hijau. Entah siapa, ada yang melepaskan tembakan dari dalam, berusaha melawan kapsu-kapsul yang terbang di luar jendela. Benda terbang

mereka melintas diwaktu dan tempat yang keliru, tembakan itu tidak sengaja mengarah kepada mereka, Ayah Nau berteriak, dia segera membanting kemudi, menghindar. lbu menjerit panik. Tembakan itu meleset beberapa senti.

BLAR! Menghantam dinding apartemen lain, yang langsung terkelupas, melemparkan bongkahan batu, dan material bangunannya, menghujami benda terbang mereka.

Kali ini Ayah terlambat bereaksi, benda terbang mereka kehilangan kendali beberapa detik, meluncur deras ke bawah, lantas tersungkur di jalanan, baru berhenti saat menabrak kotak sampah terbang. Membuat isinya berhamburan.

11Kalia n tidak apa-apa?" Ayah berseru.

lbu segera menarik Nou yang separuh badannya ditimpa serakan sampah. Kotak itu hancur.

"LIHAT! MEREKA hendak ke lorong evakuasi !" Salah-satu penduduk yang berdiri tidak jauh dari mereka berseru­ setelah menyaksikan layar di pergelangan tangan keluarga itu yang hijau.

"LIHAT! LIHAT!" Yang lain menimpali.

"Kita bisa ikut mereka." Dengan segera penduduk lain mendekat buas.

Ayah bergegas naik kembali ke dalam kapsul, disusul oleh lbu dan N-ou.

"Tolong, ijinkan kami ikut." Salah-satu penduduk berseru.

"Hei, benda terbang kalian masih muat 3- 4 orang lagi." Yang lain berteriak.

Kapsul-kapsul keamanan mendesing turun, empat kapsul terbang menjaga

keluarga kecil itu. "Segera menjauh! Jangan mendekati penduduk yang sehat." Salah-satu kapsul bicara, mengambang di antara kerumunan dan benda terbang. "Peringatan level 5! Segera menjauh." Kapsul lain menambahkan.

Penduduk tidak peduli. Mereka merangsek hendak naik ke benda terbang. Kapsul-kapsul sistem keamanan tidak punya pilihan, mulai melepas tembakan, melumpuhkan penyerang satu-persatu. Sudut jalan itu segera menjadi lokasi pertempuran. Penduduk balas melemparkan apapun, juga melepas tembakan.

Tidak sempat memperhatikan apa yang terjadi, Ayah telah menarik tuas kemudi, benda terbang mereka kembali mengudara. Empat kapsul lain datang membantu melindungi mereka.

Beberapa detik yang mencekam, N-ou mencengkeram lengan lbunya, gentar sekali melihat penduduk yang buas hendak ikut. Mereka telah meninggalkan pojokan jalan.

"Kalian tidak apa-apa?"

lbu mengangguk. N-ou menyeka wajahnya yang kotor. lkut mengangguk.

"Tenang saja. Kita sudah dekat." Ayah berseru menenangkan.

Benda terbang itu akhirnya tiba di pos pemeriksaan lorong evakuasi. Ada ratusan kapsul sistem keamanan di sana, juga beberapa robot mutakhir dan turret yang menjaga garis pemisah. Benda terbang mereka melewati pemeriksaan, detektor canggih bekerja. lbu melihat layar di pergelangannya, hijau. Ayah, juga hijau. Nou, Juga hijau. Detektor mengijinkan benda terbang itu memasuki

kawasan evakuasi. berlompatan turun.

Mendarat,

Mereka tinggal melintasi satu pintu lagi, gerbang lorong evakuasi. Layar-layar hologram menyambut mereka, "Selamat datang di Polaris Baru. 99,99% penduduk berhasil dievakuasi."

"Ayo bergegas!" Ayah berseru, berlarian menuju mulut lorong.

Di luar sana, penduduk berusaha merangsek. Berteriak marah, melemparkan peledak. Tertahan oleh robot dan turret yang tidak main-main, siapapun mendekat, mereka segera dilumpuhkan.

Ayah telah berasil melintasi gerbang lorong evakuasi, siap melompat ke benda terbang yang akan membawa mereka menuju 'Polaris Baru'. ltu benda terbang terakhir dari kota E-um. Disusul lbu yang

segera naik. Lantas Nou, dia bersiap melintasi detektor yang terbang di atas kepalanya. Tapi persis saat itulah, ketika tubuh anak usia dua belas tahun itu bersiap naik ke benda terbang yang membawanya dari segala kekacauan, detektor mendesing pelan, mencegahnya.

"Penduduk melintas!"

terinfeksi ! Dilarang

Ayah dan lbu menoleh.

"Apa maksudnya?" Ayah berseru kepada alat detektor.

Pasti ada yang keliru. lbunya juga berseru.

Tapi detektor itu tidak pernah keliru. Nou gemetar mengangkat tangannya, melihat layar di pergelangan, tidak lagi hijau, sudah berubah merah.

"Apa yang terjadi?" lbu berseru panik. "Penduduk terinfeksi ! Lumpuhkan !" Cepat sekali kejadian berikutnya.

"Cepat naik, N-ou!" Ayah berusaha menyambar tangan anaknya.

"ltu keliru. Anakku sehat!" lbu berteriak, berusaha membantu.

"Peringatan protokol dekrit darurat. Kontak terhadap penduduk terinfeksi dilarang." Detektor mendesis.

Ayah N-ou tetap berusaha menarik anaknya naik ke benda terbang.

Terlambat. Robot yang lain telah berdatangan, salah-satunya langsung menembakkan cahaya putih. Sinar kejut. Nou menjerit ngeri, tubuhnya seketika tersungkur. Ayah hendak lompat turun menarik tangan anaknya, ikut naik ke benda terbang. lbu berteriak histeris. Sia-

sia, benda terbang itu menutup pintunya, lantas bergerak melesat menuju lorong evakuasi. Meninggalkan anak mereka yang tersungkur di lantai.

"N-OU !"

"N-OUUU!"

Sebuah belalai menarik tubuh Nou, meletakkannya di atas kapsul, sekejap, kapsul itu telah pergi membawa Nou kembali ke kota yang semakin kacau balau. Di bawah tatapan lbu-nya yang memukul-mukul jendela kaca benda terbang.

Anak usia dua belas tahun itu gagal melewati detektor terakhir. Dia telah terinfeksi. Cepat sekali kejadiannya. Saat tubuhnya tersungkur diantara tumpukan sampah beberapa menit lalu, wajahnya tidak sengaja terkena bungkusan mengandung dahak kering penderita

sebelumnya. Virus itu hinggap, hanya butuh beberapa menit saja. Dia memang masih berhasil melewati pas pemeriksaan pertama, tapi virus itu telah menyerangnya, mulai menginfeksi. Layar di pergelangan tangannya berubah menjadi merah, persis dia bersiap pergi ke Polaris Baru.

Hari itu, hari 1, minggu 0, bulan 0, tahun 0, N-ou terpisahkan dengan Ayah dan lbunya.

Dia tertinggal di bagian Polaris yang semakin cokelat dan suram.

Suara ledakan susul-menyusul terdengar. Kepul asap hitam membumbung tinggi. Robot-robot, kapsul-kapsul sistem keamanan terus merangsek melumpuhkan penduduk.

Dan hanya soal waktu, seluruh penjuru kota akan dipenuhi oleh tubuh-tubuh

bergelimpangan. Virus itu sangat mematikan.

Pintu lorong evakuasi telah disegel, 100% penduduk sehat berhasil diangkut menuju Polaris Baru. Tidak ada celah walau sebesar rambut untuk melewati dinding transparan setebal seratus meter itu. Bahkan tidak dengan terbang.

-- Next Chapter--

Bab 3

Menurut perhitungan ilmuwan Klan Polaris yang dirilis sebelum Dekrit Darurat, sekali virus itu menginfeksi penduduk sehat, maka 24 jam berikutnya adalah waktu kritis bagi pasien. Tingkat kematiannya adalah 99,3%. ltu berarti dari setiap seratus orang yang kena, kurang dari satu pasien yang mungkin selamat. Dan virus itu masih akan terus mengkontaminasi hingga ratusan tahun kemudian, lantas berangsur-angsur menghilang, membentuk keseimbangan baru.

Tubuh anak kecil berusia dua belas tahun itu diletakkan begitu saja oleh kapsul di salah-satu sudut jalanan. Meringkuk, tidak berdaya.

Enam jam setelah lorong evakuasi disegel, gerimis turun membasahi Kata E­ um. Menyiram bangunan yang terbakar, meluruhkan kepul debu. Tetes gerimis mengenai tubuh N-ou. Membuat kesadarannya kembali. Matanya terbuka, mengerjap-ngerjap. Wajahnya segera basah, juga sekujur tubuh. Dia beranjak bangkit duduk.

Semua terasa sakit. ltu bukan dampak dari sinar kejut robot sebelumnya, sistem keamanan itu tidak membahayakan siapapun, hanya melumpuhkan. Melainkan virus di dalam tubuhnya yang mulai menyerang setiap sel inangnya. N­ au meringis, tangan, kaki, bahkan lehernya sakit digerakkan. Tubuhnya juga seperti terbakar, dia mulai demam dengan suhu tinggi.

N-ou menatap sekelilingnya. Jalanan yang basah, hujan deras, bongkahan material

gedung yang berserakan. Kapsul-kapsul sistem keamanan yang tergeletak. Sesekali dia masih mendengar ledakan di kejauhan, juga teriakan dan berkas cahaya hijau ditembakkan, tapi dibandingkan enam jam lalu, situasi telah lengang. Sebagian besar penduduk yang terkena infeksi, menyingkir dari jalanan, mereka tahu tidak ada gunanya lagi berusaha menerobos dinding transparan itu. Mereka punya masalah lebih serius, tubuh mereka mulai sakit.

Butir air hujan terus menerpa wajah N­ au. Anak kecil itu menyekanya. Mendongak, sebuah kapsul melintas, mendesing. Membuat ingatan N-ou kembali, kejadian di pintu lorong evakuasi. Apa kabar lbunya? Apa kabar Ayahnya? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Mengaduh pelan, kepalanya terasa pusing. Dia tidak bisa memikirkan

banyak hal dengan normal saat ini, dia harus mencari tempat kering. N-ou beranjak memasuki gedung terdekat.

ltu bangunan tua, sudah lama tidak ada penghuninya.

Dinding gedung itu gompal di sana-sini, bongkahan material besar terlihat dimana-mana, menutupi sebagian lantai pualamnya. ltu sepertinya salah-satu lokasi kerusuhan besar beberapa jam lalu. N-ou melangkah melewati tumpukan, mencari tempat kosong untuk berbaring. Dia semakin lelah.

Persis dia tiba di bagian dalam gedung, telinganya mendengar sesuatu.

ltu bukan desing kapsul sistem keamanan. Juga bukan teriakan penduduk. ltu suara hewan. Mengeong pelan. N-ou menoleh, kepalanya semakin pusing, berusaha menemukan sumber

suara. Dia melihatnya, di bawah salah­ satu bongkahan material gedung yang berserakan, seeker anak kucing terjepit, tidak bisa meloloskan diri.

"Meong."

N-ou merangkak mendekat-dia tidak kuat lagi berdiri.

"Hei, kucing." N-ou bicara pelan. "Meong."

Kondisi N-ou buruk, tapi lebih buruk lagi kucing itu. Separuh badannya terhimpit bongkahan batu, dan batu itu terus bergerak pelan setiap kucing itu berusaha meloloskan diri. Hanya soal waktu, jika kucing malang itu terus meronta berusaha melepaskan diri, tubuhnya akan tergencet habis oleh batu besar.

"Meong." Kucing itu menatap N-ou, bola matanya membesar.

"Kasihan sekali." N-ou menyeka dahinya yang mengucurkan peluh sebesar butir jagung, bercampur dengan basah air hujan.

Dia harus melakukan sesuatu. Lupakan kondisinya, kucing ini mendesak harus ditolong. Dengan tangan gemetar, N'ou berusaha mengangkat batu itu. Sia-sia, dalam situasi sehat saja bongkahan itu mustahil diangkat, apalagi dalam kondisi sakit.

"Meong."

N-ou melihat kesana-kemari, mencoba mencari bantuan. Tidak ada. Gedung tua itu lengang, beberapa tahun tidak ada penghuninya. Apa yang harus dia lakukan? N-ou memejamkan mata, berusaha konsentrasi sejenak, mengusir pusing. Menghembuskan nafas perlahan, sekali lagi menoleh ke sekeliling. Dia melihat potongan besi panjang, sebuah

pipa. ltu bagian dari dinding gedung yang runtuh. N'ou mengangguk, pipa besi itu bisa digunakan sebagai pengungkit, mendorong batu. lbu pernah mengajarinya soal itu.

Anak kecil itu beringsut meraih pipa besi. Dengan sisa kesadaran dan tenaga, memanfaatkan bongkahan batu di dekatnya, dia memasang ujung salah­ satu potongan besi di bawah batu yang menghimpit kucing, kemudian tubuhnya bergelantungan di ujung satunya, memanfaatkan berat badannya. Berhasil, trik kecil itu membuat batu terangkat. Tidak banyak, hanya beberapa senti, tapi itu cukup. Kucing malang itu segera lompat membebaskan diri.

Bruk!

Persis kucing itu bebas, tubuh N-ou terjatuh, kesadarannya kembali habis. Pipa besi berkelontangan jatuh,

bongkahan batu luruh berdebum, membuat kepul debu. N-ou telah terkapar di lantai gedung. Pingsan.

"Meong."

Anak kucing itu lompat mendekatinya. Matanya yang besar menatap orang yang telah menyelamatkannya-yang sekarang tergeletak tak berdaya. Sementara di luar sana, hujan deras terus turun membungkus kota E-um.

Kucing itu menggerung pelan, mendekati wajah N-ou. Hidungnya mencium-cium.

"Meong."

Lengang. Anak kecil itu tidak menjawab sepatah kata pun.

ltu adalah kali pertama mereka berjumpa. Kucing itu baru berusia satu tahun. Tubuhnya besar-dua kali lipat lebih besar dibanding kucing yang kalian

lihat di klan lain. Bulunya sempurna putih, tebal dan lembut. Matanya kuning berkilat. Telinganya runcing tegak, postur tubuhnya gagah. Dan ekornya, itu bagian yang tidak kalah menakjubkan, panjang sekali, nyaris dua kali lipat dibanding tubuhnya. Bergelung di belakang, bergerak fleksibel, begitu memesona.

"Meong." Sekali lagi kucing itu mengeluarkan suara.

Terima kasih. Mungkin itu maksudnya.

***

N-ou adalah anak yang istimewa.

Bahkan sebelum Pandemi Level 10 menyerang klan Polaris, dia telah berbeda dibanding anak-anak lainnya. Orang-tuanya pekerja kelas menengah di kota E-um. lbunya seorang perawat di Pusat Kesehatan Otomatis kota, Ayahnya teknisi mekanik. Biaya hidup kota E-um

tinggi, mereka harus bekerja keras setiap hari, itu membuat N-ou sejak kecil sering ditinggalkan di apartemen. Anak itu tumbuh lebih cepat dibanding yang lain. Mandiri. Dia bisa mengurus dirinya sejak usia enam tahun. Dia bisa berangkat ke sekolah sendiri, menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam sendiri, mengurus perlengkapan. ltu memang dibantu teknologi, makan siang misalnya, dia tinggal memasukkan bungkusan makanan ke dalam kotak, tekan tombolnya, dalam waktu beberapa detik, makanan telah siap. Tapi kalian tidak akan percaya melihat anak sekecil itu sangat mandiri.

Dia menyukai pelajaran science. Jika anak-anak lain minta dibacakan cerita atau dongeng sebelum tidur, N-ou memilih buku-buku pengetahuan tebal, lbu dan Ayah akan membacakannya jika

sedang dirumah dan bisa menemani anak mereka beranjak tidur. N-ou pintar, dia bisa menyelesaikan persoalan rumit Matematika dan logika lima-enam tingkat di atasnya. Namun N-ou tetaplah anak­ anak. Dia menyukai bermain, dia menyukai berjalan-jalan, bertemu dengan yang lain. Setiap sore, dia akan berpetualang menaiki sepeda terbang miliknya, mengeliling sekitar apartemen, taman, perempatan kota dan sebagainya.

Dan anak itu menyukai hewan. Meski lbu dan Ayah melarangnya memelihara hewan di apartemen-karena itu tentu menghabiskan biaya banyak, N-ou selalu punya teman hewan. Dia suka bercengkerama dengan burung-burung di taman kota. Menyapa ikan-ikan di kolam melayang, atau memperhatikan tupai, kupu-kupu, apapun itu yang terlihat. Penduduk lain mungkin tidak

tahu, sibuk dengan kehidupan metropolitan, tapi N-ou bahkan tahu jika setiap malam, kawanan bajing liar mengunjungi kotak sampah di trotoar jalan dekat apartemen mereka.

ltulah yang membuat N-ou bergegas menyelamatkan kucing putih itu, meskipun kondisinya juga butuh pertolongan. Naluri alamiahnya bekerja, dan syukurlah, anak itu tahu cara melepaskan batu besar tersebut.

Enam jam lagi berlalu bagai merangkak di kota E-um.

Hujan telah berhenti, menyisakan basah di luar sana. Matahari telah tenggelam. Lampu-lampu menyala otomatis. Dengan penduduk yang Sebagian telah pergi ke Polaris Baru, dan yang tertinggal berjuang hidup-mati melewati masa kritis, sistem otomatis mengambil-alih kendali kota. Lengang. Hanya kapsul-kapsul terbang

melintas. ltu bukan lagi kapsul sistem keamanan, tapi pelayanan publik. Kapsul itu dilengkapi belalai, yang bisa mengangkut tubuh-tubuh tergeletak di jalanan, trotoar, apartemen dan sebagainya.

ltu pemandangan yang sangat menyedihkan. Cepat sekali angka korban meninggal bertambah. Hanya butuh waktu 12 jam sejak lorong evakuasi ditutup, nyaris separuh pasien terinfeksi berguguran. Jutaan jumlahnya di seluruh klan Polaris. Di kota E-um tak kurang dari dua juta meninggal. Kapsul-kapsul terbang hilir mudik membawa tubuh korban ke tempat pemakaman massal. Menimbunnya di lubang raksasa. Robot­ robot menggantikan manusia, bekerja.

N-ou masih tergeletak di gedung tua itu. Tubuhnya menggigil kedinginan.

Demam sekali lagi menyerangnya.

"Meong," kucing yang dia selamatkan menatap sedih. Bola mata kuningnya mengerjap-ngerjap menatap tubuh anak kecil yang meringkuk menggigil. Sejenak, kucing itu telah melompat cepat, melewati bongkahan batu.

Kemana kucing itu pergi?

Lima menit kemudian, kucing itu kembali membawa selimut. Entah darimana ia mendapatkannya, ia menggigit selimut itu, menyeretnya ke tempat N-ou meringkuk. Lantas meletakkannya di atas tubuh N-ou, menarik ujung-ujungnya dengan mulutnya lagi. Hingga sempurna menutupi seluruh tubuh N-ou, hanya menyisakan bagian wajah anak kecil itu.

"Meong."

Kucing itu mengeong lirih.

Bertahanlah. Mungkin itu maksudnya.

***

Malam bagai merangkak. Detik demi detik terasa panjang dan melelahkan.

Kematian menyergap di seluruh penjuru kota E-um. Lebih sibuk lagi kapsul-kapsul itu membawa tubuh yang telah kaku. Suara erangan, suara menggigil, kesakitan, telah berakhir di banyak tempat. Digantikan lengang.

Malam itu, kucing putih itu ikut meringkuk di atas tubuh N-ou yang ditutupi selimut tebal. Kucing itu menggerung pelan. Ekornya yang panjang berusaha menutupi tubuh anak kecil itu. la tidak pergi lagi walau satu senti dari N-ou kecuali mengambil sesuatu. Menunggu. Menatap malam dari dinding gedung yang belong. Entah berapa kali N-ou mengerang malam itu. Tubuhnya bagai terbakar. Menggigil tapi panas. Tengah malam, anak kecil itu

sempat terbangun. Mulutnya terasa kering, kerongkongannya perih, dia ingin minum. Tapi kemana dia harus mencari minum? Menggerakkan jemari tangannya saja dia susah.

"Meong." Kucing putih itu mendekat, ekornya yang panjang melilit botol air minum, ekor itu bergerak perlahan, menurunkan botol dengan pos1s1 sempurna tepat. Menuangkan air minum segar ke mulut N-ou.

ltu pemandangan yang fantastis.

Pertama, lagi-lagi entah dari mana kucing itu mendapatkan botol air minum. Kedua, menyaksikan saat seekor hewan membantu manusia minum dengan ekornya. Entahlah, apakah penduduk Klan Polaris pernah menyaksikannya.

Air minum segar itu membasahi mulut N­ au. Mengalir ke dalam kerongkongannya.

Hingga isi botol habis. Kucing itu menarik lagi ekornya perlahan, meletakkan botol kosong di lantai bangunan.

N-ou menatap sejenak kucing putih di dekatnya. Kucing m1 gagah sekali. Bulunya yang putih. Telinga runcingnya. Dan ekornya yang kembali bergelung menawan.

"Meong."

"Terima-" N-ou berusaha tersenyum, hendak bilang terima kasih. Tapi kesadarannya kembali habis. Dia pingsan lagi.

"Meong."

Kucing putih itu mengeong pelan.

membalasnya,

Kamu bisa bertahan. Jangan menyerah.

Mungkin itu maksudnya.

***

Persis cahaya matahari pagi menyiram kota E-um, pertempuran itu selesai.

Hanya hitungan jari penduduk yang selamat, dan itupun tidak sepenuhnya pulih seperti sedia kala. Lumpuh dibagian tertentu, atau kehilangan panca indera.

Tapi N-ou, dia berhasil melewati malam panjang itu tanpa kurang satu apapun. Bahkan dia mendapatkan sesuatu yang special sekali-yang kelak lima tahun kemudian dia baru tahu.

Cahaya matahari yang menerobos lubang di dinding menerpa wajah, membuatnya terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap.

Tubuhnya masih terasa sakit, tapi kepalanya tidak lagi pusing. Demam telah reda, suhu tubuhnya normal. Dia beranjak duduk, menatap selimut tebal yang tergeletak di sebelahnya. Juga botol air minum-yang telah terisi kembali.

Menoleh keseliling, teringat kucing putih itu. Tidak ada. Kemana kucing itu pergi. Perutnya berbunyi, anak usia dua belas tahun itu lapar. Jika ini di apartemennya, mudah saja, dia tinggal menuju kotak penyimpan makanan, lantas menghangatkan satu bungkus makanan siap saji, sarapan lezat tersedia.

"Meong."

N-ou menoleh.

Kucing putih itu terlihat melompati tumpukan material. Gerakannya lincah, kaki-kakinya cekatan, sekejap dia telah tiba di depan N-ou. Ekornya bergerak ke depan, meletakkan sebuah bungkusan makanan.

"Meong."

N-ou menatap kucing putih itu. Dia sepertinya tahu apa maksudnya, kucing

ini membawakannya sarapan. N-ou tersenyum, "Terima kasih."

"Meong."

Anak kecil itu meraih bungkusan, dengan tangan yang masih lemah, merobek bungkusnya. ltu roti daging.

"Darimana kamu mendapatkannya?" "Meong."

"Kamu tidak mencurinya dari toke, kan?"

Kucing putih itu tidak menjawab, mengibaskan bulu-bulunya, membuat debu yang menempel luruh, lantas duduk di depan N-ou. Ekornya yang panjang melingkar di atas lantai.

N-ou mulai mengunyah roti daging itu. Terasa lezat. Semalaman sistem imunitas tubuhnya melawan virus, entah keajaiban apa yang terjadi, dia selamat. Pagi ini dia kelaparan.

Menghabiskan separuh roti daging itu, hingga dia ingat sesuatu, N-ou menghentikan sarapannya, menjulurkan roti itu ke kucing putih.

"Kamu sudah sarapan?" Kucing itu menatap N-ou.

"Untukmu." N-ou mengangguk sambil meletakkan potongan roti di atas lantai. Dia belum kenyang, tapi tidak seharusnya dia menghabiskan seluruh roti.

Kucing itu mendekati roti, mulai memakannya. N-ou tersenyum, meraih botol air minum. Menenggaknya. Terasa segar.

"Terima kasih sudah menolongku tadi malam."

Kucing putih itu tidak menjawab, asyik makan.

"Kamu pasti yang membawa selimut dan botol minuman ini, bukan? Ekormu hebat sekali. Bisa bergerak ke segala arah. Kuat dan fleksibel." N-ou menatap kucing itu.

"Namaku N-ou. Senang berkenalan denganmu. Aku tidak tahu namamu apa, apakah kamu kucing liar yang tinggal di gedung tua ini?"

Kucing putih itu hampir menghabiskan potongan roti daging tersisa.

"Baiklah. Aku akan memanggilmu Si Putih. Apakah kamu menyukainya?"

Kucing putih itu berhenti sejenak, mendongak, seolah mengerti apa yang dikatakan oleh anak kecil di depannya, ia membalas mengeong pelan, "Meong."

N-ou tertawa, "Deal. Kita berteman mulai hari ini, Si Putih."

-- Next Chapter--

Bab 4

Saat N-ou sering duduk di taman kota, atau di perempatan jalan yang dipenuhi bunga-bunga indah itu, dia seringkali mengundang decak kagum penduduk lain. Diantara anak-anak lain yang asyik bermain drone terbang, atau remaja yang asyik melemparkan tustel sebesar kelereng ke udara, selfie, foto-foto dengan kamera terbang, N-ou asyik bermain dengan burung-burung, atau kupu-kupu, atau capung. Entah bagaimana caranya, hewan-hewan itu menyukai N-ou.

Penduduk lain harus melemparkan kacang, atau makanan lain ke pelataran taman agar burung-burung itu mau hinggap mendekat. N-ou tidak. Dia cukup duduk di salah-satu kursi taman, dengan sendirinya burung-burung itu mulai

hinggap di dekatnya. Satu, dua, puluhan, seperti hendak mengucapkan salam, lompat riang. Lantas N-ou akan mengajaknya bicara, mengobrol.

"Bagaimana kamu melakukannya, Nak?" Salah-satu pengunjung taman menatap takjub.

"Lihat! Lihat!" Pengunjung yang lain menunjuk, menyaksikan burung-burung itu loncat-loncat kecil hinggap di kursi tempat N-ou duduk.

"Apakah kamu bisa menggunakan bahasa hewan, N-ou?" Salah-satu remaja yang sedang bermain skateboard terbang bertanya-dia menghentikan sejenak kegiatannya.

"Konyol." Temannya berseru, tertawa.

N-ou ikut tertawa. Dia kenal dua remaja ini, sering bertemu di taman. Nama

remaja yang barusaja bertanya adalah S­ ket.

"Hei, boleh jadi kan? llmuwan Klan Polaris bisa melakukan apapun kan? Mungkin dia tahu bocoran penelitian rahasia bicara dengan hewan."

"Aduh, tidak ada manusia yang bisa bicara dengan hewan." Temannya menyergah, "Dan tidak ada penelitian rahasia itu. Kamu terlalu suka teori konspirasi."

N-ou menggeleng. Dia tidak bisa bicara dengan hewan. Apalagi seal penelitian rahasia, dia tidak tahu-menahu. Dia hanya senang saja bermain dengan burung-burung m1, menyenangkan. Mungkin karena itulah burung-burung

liar ini Mereka pelatih

mau mendekat, tidak takut. sering bercengkerama, seperti hewan dengan hewan

peliharaannya. N-ou bahkan bisa menyuruh burung-burung ini berbaris.

Taman itu ramai oleh tawa. Penduduk mengerumuni N-ou. Lucu sekali melihat belasan burung menurut, lompat-lompat kecil, mulai berbaris.

N-ou bisa menghabiskan sepanjang petang di perempatan kota itu, baru bergegas pulang menaiki sepeda terbangnya saat matahari bersiap tenggelam, dia harus menyiapkan makan malam, sebentar lagi lbu akan pulang dari Pusat Kesehatan Otomatis. lbu tentu lelah setelah bekerja sepanjang hari, dia akan menyiapkan makan malam yang lezat.

***

11Meong."

Kucing putih itu mengeong pelan, sejak tadi dia mengikuti N-ou dari belakang.

N-ou menghela nafas perlahan. Terdiam. Helaan nafas itu bukan karena kucing putih itu mengikutinya atau mengeong barusan, melainkan menatap perempatan jalan tempat taman bunga biasanya dia menghabiskan sore. Taman ini porak poranda. Lubang-lubang besar, potongan kursi berserakan, tidak ada satu batang pun bunga yang tersisa. lni pemandangan yang menyedihkan. Dia menatap tempat biasanya dia duduk.

Dua menit lengang.

Setelah menghabiskan sarapan, tubuhnya mulai pulih. N-ou memutuskan kembali ke apartemen mereka. Dia tidak tahu harus pergi kemana dalam situasi ini. Kota E-um hancur. Kepul asap kebakaran memang tidak nampak lagi, tapi gedung-gedung gompal, berlubang, bahkan runtuh terlihat sejauh mata memandang. Pohon-pohon roboh,

trotoar, jalanan dipenuhi oleh bongkahan material. Benda-benda terbang ringsek. Kapsul-kapsul pelayanan publik terus membawa korban pandemi menuju lubang raksasa. Robot-robot terus bekerja.

Setengah jam berjalan kaki, N-ou tak menemukan satu manusia pun. Kota E­ um lengang. Padahal biasanya jam-jam itu, jalanan kota padat oleh penduduk yang pergi ke kantor, sekolah, atau aktivitas lain. Dia sendirian di tengah hamparan kota.

11Meong." Kucing putih itu mengeong lagi pelan.

N-ou mengangguk. Tidak ada yang tersisa di taman ini. Mau seberapa lama dia berdiri, pemandangan ini tidak akan berubah. Tetap menyedihkan.

Dia melanjutkan melangkah. Kucing putih itu kembali melompat mengiringinya dari belakang, ekor panjangnya berdiri tegak ke atas, seperti tiang. Kucing itu sejak dari gedung tua, terus mengikutinya, dan N­ au tidak keberatan.

Mereka berdua melewati Mall raksasa yang remuk. Dinding bagian depannya runtuh, menimpa pohon-pohon besar, tempat pengunjung biasa duduk-duduk menunggu jemputan mobil terbang atau angkutan bus umum. lni juga tempat favorit N-ou, dia suka Mall ini. Apalagi saat ada pameran science di atrium besarnya, itu seru. Juga suka pohon­ pohon besar ini. Biasanya ada tupai-tupai di antara dahan-dahannya. Entah pergi kemana hewan itu. Kekacauan 48 jam lalu pastilah membuat hewan-hewan ini meninggalkan kota E-um, melewati selaput tipis proteksi.

Ada benda terbang terparkir di depan Mall, selamat dari bongkahan material.

Langkah N-ou Menatapnya.

terhenti sejenak.

"Wow." N-ou berdecak kagum.

ltu benda terbang yang keren sekali.

Bentuknya lancip seperti paruh burung, warnanya perak, dengan kelir merah, mengkilat dibawah cahaya matahari pagi. Benda terbang ini untuk kapasitas empat penumpang. Keluaran terkini, dengan mesin canggih, mengambang sempurna di atas trotoar. Benda terbang ini benar­ benar beruntung, tergores pun tidak, padahal di sekitarnya dipenuhi bongkahan material dan pohon roboh. Hanya sedikit berdebu, s1sanya sempurna.

"Meong."

N-ou menggeleng. ltu ide buruk. "Meong."

Kucing putih itu telah lompat ke atas benda terbang itu.

"Hei, Si Putih!" N-ou menyuruhnya tu run. Benda terbang ini pasti ada yang punya. Nanti mereka dimarahi oleh drone security milik Mall. Benda ini bisa parkir di tempat ini karena memang benda ini elit, super mahal. Di klan manapun, mobil atau kendaraan mewah selalu diijinkan parkir persis di depan gedung, atau Mall besar. Simbol betapa prestise bangunan tersebut. Hanya penduduk kelas atas yang bisa memiliki benda terbang ini.

"Meong."

N-ou menatap kucing di depannya, menelan ludah. Benar juga. Tidak akan ada lagi pemilik benda keren ini. Lihat, bahkan Mall sudah hancur lebur, drone

security telah padam. Benda ini teronggok bisu, bisa digunakan siapapun. Bahkan seluruh kota E-um, tidak ada pemiliknya sekarang.

N-ou mengusap rambutnya. Berpikir sejenak.

"Baiklah." N-ou mengangguk. Dia ikut lompat menaiki benda terbang itu, duduk di belakang tuas kemudi yang empuk dan nyaman. Menepuk-nepuk debu.

"Meong." Si Putih telah duduk santai di kursi sampingnya. Ekornya bergelung.

N-ou menoleh, tertawa lebar melihat betapa santainya kucing itu, seolah benda terbang ini memang miliknya sejak lama. Tapi lupakan saja, dia akan mengendarai benda ini, lebih cepat tiba ke apartemen. Tangan N-ou segera mengetuk layar hologram, menyalakan benda terbang. Desing pelan terdengar. Sangat halus.

"Keren." N-ou berseru. "Meong."

"Kamu suka, Put?" "Meong."

N-ou mengangguk. Dia lebih dari mahir mengendarai benda itu. Ayah sering mengajarinya tentang listrik, benda­ benda mekanik, dan sebagainya. Bahkan dia menguasai buku-buku tebal yang sering di bawah pulang oleh Ayah.

"lni benda terbang untuk balapan, Put." "Meong."

N-ou menarik tuas kemudi-dia tidak pernah suka kendali otomatis, mengendarai kendaraan secara manual selalu lebih seru. Membiarkan tutup kacanya terbuka, merasakan udara segar-

Ziiing. Benda terbang itu telah melesat cepat di atas jalanan kota E-um.

"MEONG!"

Si Putih prates, ekornya melingkar berpegangan ke kursi. Bilang-bilang dong.

***

Tidak ada yang tersisa di apartemen.

Jendela kaca tempat mereka keluar kemarin digantikan lubang besar. Benda terbang perak itu mengambang di sana.

N-ou sekali lagi menatap ruang tengah yang berantakan. Sofa mengambang, layar televisi hologram. Kamar Ayah dan lbu juga berantakan. Dia sempat mengambil pigura hologram kecil yang menampilkan Ayah dan lbu dulu saat menikah. Menuju kamarnya, menyaksikan lemari, tempat tidur,

jungkir balik. Apalagi proyek science-nya. Prototype yang dia buat selama sebulan itu berserakan di lantai. Padahal dia menghabiskan malam-malam panjang bersama Ayah menyiapkannya, Pembangkit Listrik Tenaga Suara.

N-ou mengambil ransel sekolah. Mengeluarkan semua 1smya, lantas memasukkan benda-benda penting yang ingin dia bawa. Keputusannya sudah bulat. Tidak ada gunanya lagi apartemen ini. Juga kota E-um. Jangankan Ayah, lbu, bahkan seluruh kota tidak ada lagi orangnya. Dia akan mencari cara menembus dinding transparan, itulah satu-satunya solusi. Dia akan menemukan Ayah dan lbu di sisi satunya Klan Polaris. Berkemas. Sempat membawa sisir kesayangan milik lbu­ lbu akan suka menerima sisir yang terbuat dari kerrang laut ini.

Memeriksa ruang kerja Ayah, siapa tahu ada sesuatu yang hendak dia bawakan.

"Meong."

"lya, sebentar lagi, Put." "Meong."

N-ou menoleh. Ada apa?

Kucing putih itu terlihat menyeret kantong berisi daging di ruang tengah. Dia menemukannya dari kotak penyimpan makanan yang terbuka.

"Kamu lapar? Bukankah barusaja sarapan tadi?"

Kucing itu tidak menjawab, menyeret kantong menuju terbang.

terus benda

N-ou menyeringai. Benar juga. Dia harus menyiapkan logistik. Baiklah. Bergegas membantu Si Putih membawa kantong­ kantong makanan, juga botol-botol

minuman, memindahkannya ke bagasi belakang benda terbang perak yang mengambang di luar lubang.

Lima menit. Beres. "Meong."

"Sudah penuh, Put." N-ou menunjuk. Bagasi benda terbang ini tidak besar.

Ekor Si Putih bergelung di belakang. Dia lompat menaiki benda terbang. Duduk di kursinya.

N-ou sekali lagi menatap apartemen keluarganya. Mengepalkan jemari, ikut lompat ke benda terbang perak tersebut.

"Kita akan mencari Ayah dan lbu, Put." N­ ou memberitahu, semangatnya menggebu-gebu. Dia akan melintasi dinding transparan itu dengan mudah. Kembali berkumpul bersama dengan Ayah dan lbu di Polaris Baru. Lihat, dia

baik-baik saja sekarang. Tidak demam, tidak sakit. Dia telah sembuh dari infeksi virus berbahaya tersebut. Detektor akan membiarkannya lewat.

"Meong."

"Kamu mau ikut bersamaku menuju tempat baru?"

"Meong."

"Bagus. Berpegangan." N-ou memberitahu.

Kucing itu meringkuk santai. Dia tidak akan kaget lagi. Hanya segitu doang mengebutnya.

N-ou menarik tuas kemudi.

Zinggg. Benda terbang itu melesat terbang.

Udara pagi menerpa wajah-wajah mereka.

-- Next Chapter--

Bab 5

Cepat sekali semangat N-ou padam.

Lima menit. Dengan kecepatan terbilang rendah, hanya itu waktu yang dibutuhkan benda terbang berkelir keemasan itu untuk tiba di pintu lorong evakuasi. Persis tiba di sana. Tidak ada lagi pintu masuk lorong. Telah disegel. Robot-robot, turret, detektor, juga tidak hampak. Hanya hamparan benda terbang milik penduduk kota yang terparkir di sana. Dan dinding yang menjulang tinggi sejauh mata memandang.

N-ou memeriksa seluruh bagian dinding. Melintasinya berkali-kali.

Tidak ada pintu masuk. Bahkan celah sebesar rambut pun tidak ada. Dinding setebal seratus meter itu kokoh sekali,

tidak ada alat atau teknologi yang bisa menembusnya.

N-ou mendongak. Menarik tuas kemudi, benda terbang perak itu melesat ke atas, berusaha mencari batas akhir dinding. Sia-sia, setinggi apapun dia terbang, dia tidak menemukan batasnya. Setengah jam, hampir melewati batas oksigen, N­ ou kembali ke bawah, mengambang di depan dinding-dititik inilah pintu itu kemarin, tempat detektor menolaknya masuk.

Menghela nafas perlahan. Wajahnya suram.

Enam jam terus berputar-putar, terbang naik-turun, kiri-kanan. Dia tahu sekarang, dia tidak akan bisa menembus dinding ini. ltu adalah teknologi frekuensi suara. Ditembakkan oleh alat yang mengelilingi Klan Polaris. Sempurna membelah klan

menjadi dua. Bahkan dibawah tanah sana, tetap ada dindingnya, percuma membuat lubang. Frekuensi suara itu diubah menjadi material padat, seperti cakram keping DVD. Rumit menjelaskannya, tapi N-ou tahu. Karena proyek science-nya juga tentang itu. Suara adalah sumber energi yang bisa diubah bentuknya. llmuwan Klan Polaris sejak ribuan tahun lalu berhasil mengubah suara menjadi teknologi dinding.

"Meong."

Si Putih mengeong pelan. lkut sedih. N-ou menghela nafas sekali lagi.

Menggeleng.

Tidak ada cara tersisa menembus dinding ini untuk pergi ke Polaris Baru. Atau mungkin masih ada pintu lorong evakuasi yang terbuka? Benar juga. Boleh jadi ada

pintu-pintu lain. Klan Polaris luas sekali, pasti ada ribuan pintu yang dibuat agar penduduk bisa segera dievakuasi dari berbagai sisi. Satu saja pintu itu masih terbuka, atau lupa ditutup, atau apalah kemungkinannya, dia bisa melewatinya. Atau mungkin ada alat komunikasi di manalah, yang bisa digunakan untuk

menembus dinding transparan setebal seratus meter m1. Memberitahu penduduk di sebelah sana, bahwa dia baik-baik saja, selamat dari pandemi, dan mereka akan membukakan pintu lorong.

Benar juga. Dia tidak boleh berputus-asa. Dia harus bisa menemukan cara berkumpul lagi dengan Ayah dan lbu.

N-ou mengangkat kepalanya lagi. Semangatnya kembali.

11M eong." Si Putih ikut menegakkan ekornya-berdiri bagai tiang.

"Kita berpetualang, Put." "Meong."

"Mengelilingi Klan Polaris." "Meong."

"Menemukan pintu lorong evakuasi yang masih terbuka. Atau alat komunikasi. Atau apa saja."

"Meong."

N-ou menarik tuas kemudi benda terbangnya. Kecepatan penuh.

Ziiing! Benda terbang perak itu melintasi kota E-um, segera menuju utara.

"MEONG !" Si Putih mengeong kencang. Bilang-bilang, dong. la segera melingkarkan ekornya ke kursi. lni teh kenapa kita mengebut banget, beda dengan sebelum-sebelumnya.

***

Lima tahun berlalu.

N-ou tetap tidak menemukan pintu yang terbuka.

ltu benar-benar perjalanan yang mengharukan jika diceritakan secara detail. Lima tahun yang penuh pengharapan, lima tahun yang dipenuhi kesedihan. Se-mandiri, se-spesial apapun N-ou, dia tetap anak kecil usia dua belas tahun. Malam-malam dia sering menangis di depan dinding itu, memohon agar dibukakan pintu. Tak terbilang berapa kali dia berteriak marah, melempari dinding itu. Sia-sia, dinding itu tak peduli.

Tapi fokus kisah ini bukan di sana. Jadi maafkanlah, bagian yang itu kita lompati saja. Besok-besok, jika kalian ingin tahu, mungkin ada bukunya sendiri. lntinya, lima tahun tersebut, lima belas kali N-ou mengelilingi Klan Polaris. Lima belas kali

dia kembali lagi ke titik semula, ke kota E­ um, dia tetap tidak menemukan pintu atau alat komunikasi untuk menghubungi Polaris Baru.

Lima tahun yang menyakitkan. Dan semua semangat itu benar-benar padam. Semua mimpi, harapan itu benar-benar terkubur. Tidak ada lagi kemungkinan yang tersisa.

N-ou sebenarnya sudah tahu sejak hari pertama, kecil kemungkinan dia bisa berkumpul lagi dengan Ayah dan lbu. Dinding itu didesain sebagai skenario pamungkas Dekrit Daurat. Puluhan generasi penduduk Klan Polaris menyaksikan dinding itu. Dulu, sekarang, hingga esok lusa, tidak akan ada yang bisa menembusnya. Bukan dia saja yang pernah mencari cara pergi ke sana, maka jika tidak pernah ada catatan sejarah tentang penduduk yang berhasil

menembusnya-N-ou telah membaca banyak buku tentang itu, maka berarti memang tidak pernah ada solusinya.

Lima tahun itu berlalu menyesakkan tanpa hasil. N-ou hanya menghabiskan perjalanan di sisi-sisi dinding. Minggu demi minggu berlalu menjadi bulan. Lantas bulan demi bulan merangkai membentuk tahun. Tanggal 1, minggu 1, bulan 1, tahun 6. Anak kecil itu kembali lagi ke kota E-um untuk yang keenam belas kalinya.

Tapi dia bukan lagi N-ou yang dulu.

Dia telah berubah menjadi N-ou yang baru. Lima tahun perjalanan senyap, hanya bertemankan Si Putih, telah mendidiknya menjadi remaja usia tujuh belas tahun yang tangguh.

Salah-satu petarung hebat dunia paralel siap 'terlahirkan'.

Belum. Dia belum menyadarinya, tapi hanya soal waktu dia tahu, bahwa dia memiliki kekuatan yang unik sekali. Dan Si Putih, bukanlah sembarang hewan. Si Putih adalah hewan kuno dari dunia paralel yang lahir di peradaban panjang Klan Polaris yang selalu dihantam pandemi.

Lihatlah Si Putih, dia juga bukan anak kucing usia satu tahun. Dia adalah kucing dewasa sekarang. Tubuhnya bertambah berkali lipat, nyaris setinggi lutut N-ou. Bulu putihnya tebal nan mengkilap, matanya kuning tajam, telinganya runcing ke atas, dan ekornya, itu bagian paling fantastis, panjangnya sekarang nyaris dua meter, bergelung, bergerak, berputar, seperti memiliki kesadaran sendiri.

Tanggal 1, minggu 1, bulan 1, tahun 6.

Sekali lagi N-ou mampir di apartemen keluarganya.

lni adalah ritual setiap dia kembali ke kota E-um.

Tapi ini adalah untuk terakhir kalinya dia mampir. Dia telah memutuskan, berhenti mencari pintu lorong evakuasi. Cukup sudah lima tahun hanya berada di sisi dinding itu, menghabiskan waktu memeriksa setiap jengkal dinding itu. Saatnya di berpetualang ke tempat lain, Klan Polaris sangat luas, banyak tempat yang bisa dia datangi, boleh jadi dia menemukan penyintas lainnya. Boleh jadi dia akan menemukan kehidupan lain. Kesempatan lain.

"Meong."

"Sebentar lagi, Put."

N-ou sedang berdiri menatap ruang tengah apartemen itu. Dulu dia suka menghabiskan waktu di ruangan ini. Membaca buku tebal lewat tablet hologram. Membuat peralatan mekanik, atau bermain bersama Ayah dan lbu. Dulu-

"Meong."

"Jika kau tidak suka, kau bisa menunggu di 'Paruh Perak', Put. Aku kan sudah bilang tadi."

"Meong."

Si Putih melangkah anggun, lantas melompati lubang dinding, mendarat di benda terbang itu, meringkuk di kursi favoritnya. ltu masih benda terbang mereka yang lama. Tidak semengkilap

dulu, warnanya mulai pudar oleh waktu, tapi benda itu tetap sama, malah lebih hebat-lima tahun terakhir, saat sedang bosan, atau kesal, N-ou sering mengutak­ atik benda itu, menambahkan fitur baru, kemampuan baru. Bahkan memberinya nama, 'Paruh Perak'. Di dinding luar kanan, ada cap telapak tangan N-ou dan cakar Si Putih.

N-ou menyisir rambutnya-yang dibiarkan gondrong sebahu. Tubuhnya bertambah dua jengkal lima tahun terakhir. Tinggi, gagah, fisiknya kokoh sekali. Garis wajahnya tegas. Mata hitamnya menatap tajam. Ekspresi wajahnya penuh percaya diri, hasil tempaan hidup lima tahun terakhir. Tapi dia masih menyimpan kelembutan di wajahnya, warisan dari lbunya. Senyum yang menawan itu. Tidak pernah hilang.

N-ou tersenyum menatap terakhir kali ruang tengah keluarganya.

Saatnya dia pergi.

"Selamat tinggal semua." N-ou berbisik pelan.

Lantas melangkah cepat menuju lubang di dinding.

Hup! Lompat ke atas Paruh Perak yang mengambang di sana. Duduk di belakang tuas kemudi.

"Kamu siap, Put?"

"Meong." Si Putih menggeliat.

"Berpegangan." N-ou memberitahu­ nyengir.

"Meong." Si Putih menggerakkan ekornya, meringkuk santai. Tidak peduli. Dia sudah lima tahun terbiasa dengan N­ au yang suka melajukan benda terbang

dengan kecepatan tinggi tanpa bilang­ bilang.

N-ou tertawa, menarik tuas kemudi.

Ziiing! Paruh Perak meluncur cepat di atas kota E-um.

Meninggalkan taman kota, perempatan jalan yang sekarang ditumbuhi semak­ belukar. Juga trotoar, bangunan­ bangunan, yang ditumbuhi pepohonan. Burung-burung, tupai, kupu-kupu, hewan-hewan telah kembali memadati kota tersebut. Mengambil-alih kota. Meninggalkan Mall besar yang atap­ atapnya dipenuhi tumbuhan merambat.

N-ou dan Si Putih menatap lurus ke depan, wajah mereka diterpa angin segar. Cepat sekali, benda terbang itu telah meninggalkan kota E-um. Kali ini mereka tidak lagi melintasi sisi dinding transparan, Paruh Perak menuju timur,

gunung-gunung tinggi berselimutkan salju.

***

Benda terbang perak itu terus meluncur ke timur hingga matahari bersiap terbenam.

"Wow." N-ou menatap bola matahari raksasa itu siap istirahat. Langit jingga. lndah sekali.

"Meong."

Lihatlah, kucing itu juga ikut menatap matahari tenggelam, dua kaki depannya mencengkeram dinding benda terbang, kepalanya melongok keluar sedikit. N-ou mengaktifkan kemudi otomatis sejenak, agar dia bisa leluasa menikmati pemandangan. Mereka terbang setinggi 800 meter, di bawah sana hamparan padang rumput yang luas. Sesekali terlihat kawanan hewan di atasnya

sedang berlarian. Juga burung-burung terbang. Gunung-gunung tinggi berlapis salju terlihat semakin jelas di depan mereka.

"Eh, Put, memangnya kamu tahu tentang sunset ?11

" M eong.11

N-ou tertawa. Lima tahun hanya kucing ini teman bicaranya. Entah apakah dia bisa sungguhan bicara dengan kucing ini, memahaminya, atau dia malah terlihat gila, bicara dengan hewan.

Mereka sering menikmati momen­ momen matahari terbenam atau terbit. Selama ini posisi matahari di samping kiri atau kanan karena rute mereka di dekat dinding transparan, sekarang berada di depan atau belakang, seperti menuju atau meninggalkan bola matahari itu.

N-ou masih menatap bola matahari hingga beberapa menit lagi, rambut panjang sebahunya berkibar di tiup angin. Jangan cemas ketinggalan momen sunset di Klan Polaris, di sini proses matahari tenggelam bisa satu jam lebih tergantung musim.

"Meong."

"Ada apa, Put?"

"Meong."

"Oh ya?"

N-ou melongok ke bawah.

"Kamu benar, Put. Baiklah, menu makan malam kita telah ditentukan." N-ou mematikan kendali otomatis, perlahan menarik tuas kemudi.

Paruh Perak meluncur turun ke bawah. Si Putih memiliki mata yang tajam, dari ketinggian tersebut ia bisa melihat aliran

sungai kecil dengan banyak ikan di bawah sana. Benda terbang itu segara mengambang terparkir di samping batang sungai. N-ou dan Si Putih berlompatan turun. Tidak perlu menunggu N-ou, Si Putih telah loncat lincah di antara bebatuan sungai.

Lebar sungai itu enam-delapan meter, dangkal. Airnya jernih. Persis berada di jantung padang rumput. lkan-ikan berenang di airnya, terlihat jelas.

Pyar! Si Putih sudah lompat menerkam salah-satunya. Rahang kokohnya berhasil menggigit ikan besar, melompat keluar dari air, menuju tepian, tempat N-ou telah siap dengan kotak.

lkan besar itu menggeliat-geliat ketika diletakkan di dalam kotak. Tidak hanya satu, dua ikan sekaligus. Satunya lagi dililit oleh ekor Si Putih, ekor panjangnya itu juga bereaksi saat rahangnya

menerkam. Lebih besar ikan yang berhasil ditangkap ekornya.

"Kamu perlu bantuan?" " Meong.11

N-ou mengangkat bahu. Baiklah. Dia akan menonton saja.

Si Putih kembali loncat di atas bebatuan sungai. N-ou menatap sekitar. Sungai ini jernih sekali, dasar bebatuan terlihat jelas. Lima tahun tanpa manusia, bagian Klan Polaris yang ditinggalkan kembali menghijau. Pucuk-pucuk rumput terlihat sejauh mata memandang. Langit masih jingga, dengan gumpalan awan, dan burung-burung terbang. Sesekali terdengar suara jangkrik dan hewan liar di kejauhan.

Tiga kali Si Putih bolak-balik, kotak itu penuh.

"Heh, cukup, Put." N-ou mencegah kucing itu kembali ke sungai, "Berapa kali kamu akan memenuhi bagasi Paruh Perak dengan makanan? Nanti terbuang sia­ sia."

"Meong." Si Putih mengeong pelan, tapi dia batal menuju ke sungai.

Satu tahun pertama dulu, mereka mengandalkan makanan kaleng, minuman botol. ltu banyak tersedia, tinggal pergi ke toko-toko yang terbengkalai, atau pusat perbelanjaan. Nyaris di setiap kota melimpah persediaannya, tidak akan habis untuk puluhan tahun. Sesekali mereka pura­ pura mengantri hendak membayar di kasir. N-ou meletakkan boneka manekin di pos kasir. "Wah banyak sekali belanjaannya." "Meong." "Begitulah, ini untuk persediaan satu minggu." "Meong." "Oh, itu kucingku,

menyebalkan memang. Anggap saja dia tidak ada." "MEONG." Tertawa.

Masalahnya, N-au dan Si Putih lama-lama basan. Tidak seru lagi permainan belanja itu. Termasuk saat iseng mengunjungi pabrik makanan kemasan itu langsung. Bertumpuk kaleng-kaleng di gudangnya. Juga di dalam truk terbang. Tidak asyik. Mereka mulai mencari makanan di alam liar. Belajar menangkap ikan, memetik buah liar, mengumpulkan biji-bijian di hutan. ltu seru dan lezat.

"Kamu hendak makan sekarang, Put?" N­ au membawa katak menuju tanah lapang.

"Meang."

"Okay. Kita makan malam sekarang." N­ au mengangguk-perutnya juga lapar, "Bisakah kamu mengambil peralatan masak, Put?"

"Meong."

Si Putih lompat ke atas Paruh Perak, menurunkan kotak satu lagi yang lebih besar dengan ekornya. Membawanya mendekati N-ou.

Empat tahun terakhir, N-ou belajar menyiapkan makanan sendiri. Dia membaca banyak buku tentang memasak di masa lalu, bukan sekadar makanan instan dari kaleng. Membuka kotak itu, mengeluarkan peralatan masak dan bumbu-bumbu yang dia kumpulkan dalam perjalanan. Tangannya mulai cekatan membersihkan ikan, melumurinya dengan bumbu. Lantas meletakkan kompor portable tenaga surya, memanggang ikan itu. Aroma lezat segera tercium.

"Meooong." Si Putih tidak sabaran. Ekornya bergerak-gerak.

N-ou tertawa.

Setengah jam ke depan, mereka berdua telah asyik menghabiskan dua ikan besar. Duduk kekenyangan menatap sungai. Aliran air terdengar menyenangkan. Langit semakin jingga. Sekitar mulai remang. Saatnya membereskan bekas makanan. Memasukkan kotak-kotak ke dalam bagasi benda terbang. Mereka tidak akan bermalam di padang rumput terbuka ini, berbahaya. Lebih baik mencari tempat yang lebih tertutup.

"Meong." Si Putih menggerung. N-ou menoleh. Ada apa?

"Meong." Gerungan Si Putih semakin serius.

ltu berarti waspada. Ada ribuan jenis meong dari kucing putih ini, N-ou hafal setiap jenisnya. Termasuk yang satu ini, itu berarti bahaya. Si Putih memiliki

insting tajam, selain bisa melihat sesuatu dari kejauhan, ia juga bisa mendengar, merasakan sesuatu sebelum sesuatu itu tiba.

Tanah yang mereka pijak terasa bergetar. "ltu apa?"

Getaran itu semakin hebat.

"Gempa bumi? Atau tanah longsor?" "MEONG."

N-ou mengangguk, tidak banyak bicara lagi, segera lompat masuk ke Paruh Perak, disusul oleh Si Putih. Menarik tuas kemudi, benda terbang itu segera melesat ke udara. Apapun itu, pasti sumber getarannya ada di darat, berada di atas lebih aman. Lima tahun melakukan perjalanan, mereka tidak terhitung harus menghadapi rintangan dan bahaya. Ular berbisa, kalajengking beracun, semut

mematikan, monyet penganggu, burung pemakan daging, dan hewan-hewan lain yang mereka temukan di dekat dinding transparan itu. Lima tahun itu, N-ou terus meningkatkan kemampuan pertahanan mereka-di samping Si Putih yang sangat membantu, menjadi alarm bahaya.

Kali ini, apapun itu, mereka telah bersiaga dengan kemungkinan terburuknya.

-- Next Chapter--

Bab 6

Ziiing. Paruh Perak terbang di ketinggian dua ratus meter.

"Meong."

Tidak perlu diberitahu, N-ou akhirnya tahu sumber yang membuat tanah bergetar hebat tadi. Lihatlah, di salah­ satu bagian padang rumput, kawanan banteng bertanduk lima sedang bergerak bersama. Jumlahnya tak kurang seratus ribu ekor. Berderap melintasi padang rumput. Kaki-kaki besar mereka menghantam tanah, debu mengepul tinggi.

"Wow." N-ou menonton. Dia jarang menemukan pemandangan seperti ini. Hewan-hewan di dekat dinding transparan lebih terbatas. Hewan-hewan

ini mungkin sedang bermigrasi, bergerak dalam kawanan yang massif.

Dari ketinggian yang aman, menyaksikan banteng-banteng ini seru. Tidak perlu khawatir dilindas habis oleh mereka.

"Meong."

"Ada apa lagi, Put?" "Meong."

Bahaya? Apanya yang bahaya? Mereka baik-baik saja di atas sini, bisa menonton santai pemandangan spektakuler di bawah sana. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kecuali jika itu kawanan burung pemburu, atau kawanan lebah sebesar betis, mereka harus bersiap mempertahankan diri dari serangan. Banteng ini toh tidak bisa terbang.

"Meong." Si Putih mengacungkan ekornya ke depan.

Mata N-ou menyipit ke arah yang ditunjuk.

"Astaga !" Apakah dia tidak salah Iihat?

Kali ini dia benar-benar tidak percaya melihatnya.

"Ambilkan peralatanku."

"Meong." Si Putih gesit lompat ke kursi belakang, sedetik, melemparkan beberapa peralatan dengan ekor panjangnya.

N-ou dengan cepat menangkap lantas memasang benda kecil di wajahnya. Mirip kaca-mata, tapi tidak memiliki gagang. Berwarna perak. ltu gadget canggih, bisa membuatnya melihat dari jarak-jauh, dalam gelap, dan dilengkapi berbagai sensor mutakhir. N-ou juga memasang dua gelang di tangannya, dan dua gelang di kakinya. ltu sistem

pertahanan yang dia modifikasi. Bersiap. Situasi ini serius.

N-ou mengetuk gadget di wajah-yang mulai bekerja. Dia bisa melihat lebih jelas apa yang tadi dilihatnya dengan mata telanjang. Ada bangunan di tengah padang rumput itu. Rumah kayu. dengan cerobong batu, mengeluarkan asap tipis. Dengan halaman luas, pagar kayu di sekelilingnya. Asap tipis dari cerobong? Rumah itu ada penghuninya, tidak salah lagi. Lima tahun N-ou tidak menemukan manusia, ini sangat menarik. Tetapi yang jadi masalah sekarang, ratusan ribu banteng bertanduk lima persis sedang menuju rumah itu. Debu mengepul tinggi. Situasi genting, hanya hitungan menit, rumah itu akan rata dihajar rombongan banteng.

"Berpegangan, Put." "Meong."

N-ou menarik tuas kemudi, Paruh Perak bagai peluru yang ditembakkan, meluncur deras menuju bangunan, mendahului rombongan banteng. Kemudian dengan manuver hebat, berhenti persis di halaman bangunan itu. N-ou melompat, juga Si Putih. Tanah yang mereka pijak bergetar hebat.

Siapa yang tinggal di bangunan ini? Terpencil dari manapun. lni bukan lokasi yang baik untuk menetap. N-ou bersiap merangsek masuk.

Tidak perlu. Tuan rumah justeru keluar dari bingkai pintu.

Termangu.

N-ou termangu menatap tuan rumah. Seorang laki-laki tua, dia menaiki kursi roda (terbang). Rambutnya putih

berantakan, berantakan

mengenakan pakaian yang kotor. Jenggotnya

berantakan, ada sisa makanan mengering. Pak Tua ini mengenakan alat bantu pernafasan yang tabung oksigennya tersangkut di belakang kursi roda, sedangkan ujung selangnya terpasang di hidung. Kursi roda itu beringsut pelan, mengambang setengah meter dari tanah. Tuan rumah sepertinya tahu dia dalam bahaya, itulah kenapa dia keluar, tapi bagaimanalah, kecepatan kursi roda-nya bahkan kalah cepat dibanding anak kecil lari.

Tuan rumah juga termangu menatap N­ ou dan kucing putihnya. Dia tidak menyangka ada orang lain yang datang di teras rumahnya.

"Kamu siapa?" Tuan rumah bertanya, batuk satu-dua.

"Pak Tua, kita harus segera pergi."

"Heh, tapi kamu siapa? Kenapa ada di teras rumahku?"

"Kita bahas nanti-nanti, Pak Tua. Kita harus pergi sekarang, ada kawanan banteng sedang berlari menuju bangunan ini."

"Aku tahu." Laki-laki tua itu batuk lagi, memperbaiki selang di hidungnya, kursi rodanya terus bergerak, sudah di halaman-membuat N-ou ikut melangkah menseJaJannya, "Banteng sialan itu selalu saja berisik. Pernah ada satu ekor yang masuk ke dalam rumah, repot sekali-"

"Kita harus menyelamatkan diri-"

"Aku tahu. Kau tidak lihat, heh. Aku justeru sedang menyelamatkan diri." Bapak tua itu berseru ketus, kursi rodanya meninggalkan N-ou dan Si Putih,

dia sudah di halaman, sedikit lagi melewati gerbang pagar kayu.

Aduh. Dengan kursi roda (terbang) itu, jangankan banteng buas, bahkan seekor marmut atau hamster lucu pun bisa mengejarnya. Tanah yang mereka pijak semakin bergetar, banteng-banteng itu sudah amat dekat. N-ou bergegas hendak menarik kursi roda itu.

"Heh, apa yang kamu lakukan?" Tuan rumah memukul tangan N-ou dengan tongkat yang dia pangku sejak tadi.

"Membantu, Bapak."

"Aku tidak perlu dibantu." Laki-laki tua itu batuk lagi.

Kursi rodanya terus melaju, sekarang sudah berada di padang rumput, terus menjauh dari rumahnya. Seolah dia akan selamat dengan kursi roda itu.

N-ou meremas jemarinya, menyusul. lni situasi yang menyebalkan, tidak tahukah Pak Tua ini jika ada ratusan ribu banteng mengamuk sedang lari ke sini. Lima tahun dia tidak bertemu dengan manusia, kenapa pula saat akhirnya bertemu, harus yang satu ini.

"Pak Tua bisa ikut aku menaiki benda terbang itu." N-ou menunjuk Paruh Perak, "Kita lebih amat berada di atas sana hingga banteng-banteng lewat."

"Buat apa? Aku sudah sering menghadapi banteng. ltu hanya satu-dua ekor saja."

"ltu tidak hanya satu-dua ekor. ltu ratusan ribu. RATUSAN RIBU!" N-ou mengencangkan suaranya. Dia sepertinya mulai paham kenapa tuan rumah santai. Pak tua ini pendengarannya telah jauh berkurang. Dia mungkin mengira hanya satu-dua banteng pengganggu, cukup menyingkir meninggalkan rumahnya

sejenak hingga banteng itu pergi dengan sendirinya.

Tanah yang dipijak N-ou semakin bergetar hebat.

"Meong." Si Putih memberitahu. Peringatan terakhir.

N-ou mengangguk, tidak ada waktu lagi, dia memaksa menarik kursi roda itu, hendak membawanya ke Paruh Perak.

Buk!

"Heh, jangan pegang-pegang kursi rodaku." Tuan rumah memukulkan tongkatnya ke tangan N-ou.

"Kita harus pergi sekarang." Buk!

"Tidak mau." Batuk satu-dua kali. "Meong."

"Ayolah, Pak Tua." N-ou berseru cemas.

"Meong."

"Tidak mau. Aku tidak mau merepotkan siapapun. Aku baik-baik saja. Lebih baik kamu mengurus dirimu sendiri. Nanti banteng itu menyerudukmu, jangan salahkan aku."

N-ou meremas jemarinya. Setiap kali dia hendak menarik kursi roda itu, orang tua ini memukulkan tongkatnya. Tidak sakit, tapi itu membuatnya kesulitan. Dasar menyebalkan, waktunya semakin menipis. Dinding bangunan itu terlihat bergetar, satu-dua benda mulai berjatuhan. Rumput di sekitar mereka bergoyang.

"MEONG."

Terlambat sudah. Ratusan ribu banteng itu telah tiba, bagai air bah. Melibas apapun yang ada di hadapannya.

N-ou mengepalkan tinju. Dia menyaksikan banteng-banteng itu menghantam bangunan, dinding- dindingnya runtuh, perabotan terpental, cerobong batu itu roboh, wajah-wajah buas banteng itu muncul, lima tanduknya mengkilat disiram cahaya matahari yang siap tenggelam. Pagar kayu berterbangan. N-ou menggeram, saatnya dia mengaktifkan sistem pertahanan.

Tangan kanannya meninju ke depan. Splash.

Tameng transparan terbentuk dari gelang yang dia kenakan. ltu teknologi yang serupa dengan dinding menjulang itu, bedanya tameng transparan milik N-ou tebalnya hanya satu jengkal. Kaki N-ou menghentak di tanah, mengaktifkan pengunci posisi di gelang kedua kakinya. Jangkar kokoh transparan terbentuk di kakinya.

N-ou menahan nafas, bersiap.

BUK! BUK! BUK!

Satu, dua, tiga ekor banteng menghantam tameng transparan miliknya, membuat N-ou terbanting mundur setengah langkah. N-ou menggeram, tangan kirinya giliran meninju ke depan. Splash. Mengaktifkan gelang satunya lagi, dia membuat dua lapis tameng transparan.

BUK! BUK! BUK!

Semakin banyak banteng yang menabrak tameng itu. Lebartameng itu cukup untuk melindungi N-ou, Si Putih dan Pak Tua­ yang termangu menatap ribuan banteng melintasi mereka, debu mengepul. Dia batuk lagi satu-dua, memperbaiki selang oksigen di hidung.

N-ou berteriak, dia mengerahkan seluruh tenaganya, sekali lagi mengunci kuda-

kuda kakinya agar tidak terserat dihantam oleh banteng-banteng buas ini. Belum pernah dia menahan serangan sehebat ini, biasanya tameng-tameng ini hanya menghadapi rombongan kecil hewan-yang segera menyingkir saat tahu lawannya tidak bisa ditembus. Bagai air bah, banteng melewati kiri-kanan mereka, juga yang menabrak tameng.

11M eooong." Si Putih menatap cemas N­ au.

N-ou mulai terseret arus banteng. Pengunci transparan di kakinya yang menghunjam tanah mulai goyah. Ayolah, bertahan, N-ou mendengus. Masih berapa lama lagi gelombang bah banteng-banteng ini? Seperti tidak ada habis-habisnya.

11Aku kira bantengnya cuma satu." Orang tua itu batuk-batuk, 11Ternyat a banyak sekali. Aduh, rumahku hancur lebur."

N-ou hendak meneriakinya kesal. Kalau saja Pak Tua ini menurut, sejak tadi mereka sudah berada di atas Paruh Perak, terbang aman, menonton. Bukan malah terjebak di tengah kekacauan. Batal, tidak ada gunanya juga meneriaki Pak Tua ini, ada hal mendesak yang harus dia urus. Pertahanan tameng transparannya semakin kedodoran.

BUK! BUK! BUK!

Banteng-banteng terus mengalir, kiri kanan, dipenuhi oleh lautan banteng yang terus berlarian, dan puluhan yang terus menabrak tameng tersebut.

Krak!

Salah-satu tameng itu mulai retak. Astaga. N-ou berseru panik. "Meong!" Si Putih mengeong.

Krak!

Retakan itu bertambah lebar.

N-ou mendesis. Apa yang harus dia lakukan? Sekali tamengnya hancur, dia akan terserat arus deras banteng. Juga Pak Tua yang duduk di kursi rodanya.

11 M eong." Si Putih melakukan sesuatu.

memutuskan

Sekejap, kucing itu telah lompat meninggalkan area yang dilindungi tamen transparan, itu gerakan yang lincah­ sekaligus nekad. Kucing itu menerobos banteng-banteng, kakinya meniti punggung banteng-banteng yang sedang lari, lompat kesana-kemari diantara kepul debu, menuju Paruh Perak yang mengambang tiga puluh meter dari mereka..

11Hei, kamu mau kemana, Put?" N-ou berteriak.

"Meong!" Jawaban Si Putih terdengar samar di antara lenguh banteng.

Satu, dua, tiga, empat kali lagi kucing itu melompat di punggung banteng yang berlarian, hup, ia melakukan lompatan terakhir, menuju Paruh Perak yang mengambang tiga meter di udara.

N-ou menoleh ke Paruh Perak. Sepertinya dia tahu apa yang dilakukan oleh Si Putih. Kucing itu mengaktifkan mode perintah suara benda terbang itu.

Bagus sekali. Dengus N-ou. Kucing pintar. Paruh Perak mendesing pelan, mode perintah suara telah aktif.

"Paruh Perak, terbang di atasku, SEKARANG !" N-ou berteriak.

Benda terbang itu segera melesat, mengambang di atas kepala N-ou yang mati-matian terus menahan serbuan banteng.

"Paruh Perak, tembakkan lampu paling terang ke depan, SEKARANG !"

Persis kalimat itu tiba di ujungnya, benda terbang itu menyalakan lampu sorot. Terang sekali, memancar ke arah ribuan banteng yang mendekat. Membuat banteng-banteng itu silau, tidak bisa melihat sejenak, reflek mengubah arah larinya, menghindari cahaya lampu.

Berhasil. Gelombang bah banteng itu tersibak dua, melintas di kiri-kanan tempat N-ou berdiri dengan tameng transparannya.

Debu mengepul tinggi. Bercampur dengan suara lenguh banteng yang merangsek menghindari cahaya lampu.

Lima menit lagi berlalu, akhirnya ujung kawanan itu terlihat. Banteng-banteng terakhir berlarian melintas, menjauhi posisi mereka, kemudian menyisakan

lengang. Menyisakan porak poranda padang rumput, juga rumah yang hancur lebur.

N-ou terduduk kelelahan. Menyeka keringat di wajah. Nyaris saja, terlambat beberapa detik lampu sorot itu, nasib mereka berada di ujung tanduk-tanduk tajam itu.

11Meong." Si Putih telah lompat turun dari Paruh Perak, ekornya bergelung.

11 Ka mu baik-baik saja, Put?"

11M eong." Kucing itu tergores pun tidak­ dia hebat sekali melintasi kawanan banteng.

11Syukurlah." N-ou menghembuskan nafas.

Suara jangkrik dan serangga lain terdengar lagi. Bola matahari telah

sempurna tenggelam, malam telah tu run. Sekitar mereka mulai gelap.

"Kamu melihatnya, anak muda?" Pak Tua itu batuk-batuk, memperbaiki selang di hidungnya, "ltu tadi kawanan banteng yang banyak sekali."

N-ou menoleh. Pak Tua ini juga terlihat baik-baik saja.

"Hampir saja kamu diseruduknya tadi, anak muda. Ceroboh sekali. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati."

N-ou mendengus. Dia yang membuat semua masalah, kenapa aku yang disalahkan. Dasar Pak Tua menyebalkan.

-- Next Chapter--

Bab 7

Nama Pak Tua itu adalah Br-ham. Usianya nyaris seratus tahun. Dia sejak dulu menyukai tinggal di tempat-tempat terpencil. Ketika pandemi meletus, dia tidak berada di kota manapun, jadi dia tidak tertular.

Kondisi kesehatannya memburuk sejak dua puluh tahun lalu. Ada belasan penyakit menggerogotinya, kursi roda itu dilengkapi dengan obat-obatan dan peralatan medis-yang dia modifikasi sendiri. Dia tahu tentang pandemi saat mengunjungi kota terdekat untuk mengetahui kabar terbaru, menyaksikan kota itu telah lengang.

Baguslah, Br-ham memang tidak suka keramaian, dia kembali ke alam liar.

Meski pendengarannya kurang, terlihat selalu santai, suka bicara ketus, Pak Tua tidak semenyebalkan itu. Setidaknya bagi N-ou yang lima tahun tidak mengobrol dengan manusia, sekarang punya teman bercakap-cakap sejenak, saling berkenalan. Ada hal yang menarik dari sosoknya, dia menikmati hidupnya. Dan lebih penting lagi, wawasannya tentang Klan Polaris luas. Br-ham muda dulu adalah pencinta buku-buku tua, dia banyak membaca, menghabiskan waktu mengakses koleksi buku-buku tersebut.

Rumahnya hancur lebur, tidak ada yang tersisa, tidak ada tempatnya tidur malam ini, N-ou menawarkannya ikut menaiki Paruh Perak, setidaknya hingga Br-ham punya tempat baru menetap. Pak Tua itu tidak bisa terlantar sendirian di padang rumput.

"Wah, ini benda terbang yang bagus sekali." ltu komentarnya saat berhasil duduk di kursi belakang, kursi roda (terbang)-nya telah dilipat, diletakkan di sampingnya, "Bilang dong dari tadi, aku dengan senang hati naik, tidak perlu ditawari dua kali."

N-ou tidak menimpali. Dasar Pak Tua, bahkan sejak sebelum banteng itu mengamuk, dia sudah mengajaknya naik Paruh Perak. N-ou menekan layar benda terbang, jendela kaca menutup bagian atas Paruh Perak, membuat nyaman penumpang barunya. Terasa hangat.

"Heh, itu kucingmu?" Pak Tua menatap Si Putih.

"lya. Namanya Si Putih." N-ou menjawab, dia menarik tuas kemudi.

Paruh Perak mengudara. "Nama yang jelek."

"Eh?" N-ou menoleh ke belakang.

"Meong." Si Putih ikut mengeong. Tidak

terima.

"Hanya karena bulunya putih, tidak harus Namanya juga Si Putih.11 Pak Tua meluruskan kakinya, santai, "Tapi baguslah, kamu tidak memberinya nama Si Buntut Panjang."

"Meong." Si Putih menggerung. Ekornya terangkat tinggi.

N-ou tertawa, menoleh ke kursi sampingnya, "Jangan dimasukkan ke dalam hati, Put."

"Meong.11 Enak saja.

"Pak Tua hanya bergurau. Dia tidak serius.11

Pak Tua batuk-batuk, memperbaiki selang di hidung, "Bukan main, kalian

berdua bicara satu sama lain? Saling memahami?"

N-ou mengangkat bahu. Kalau Pak Tua mau bilang dia gila, silahkan.

Tapi Pak Tua tidak bicara lagi, dia dengan seksama menatap Si Putih dan N-ou bergantian. Mengamati, berpikir, lantas dia menghela nafas perlahan.

11 Ka mu jelas bisa bicara dengan hewan, anak muda."

N-ou tidak sengaja menarik tuas kemudi, membuat benda terbang itu berhenti.

11M eo ng. 11 Si Putih prates.

11Ast aga! Bilang-bilang dong kalau mau berhenti." Pak Tua prates lebih kencang, 11 At au kamu tidak bisa menyetir benda terbang ini, heh?"

11Maaf .11 N-ou menyeringai.

"Punggungku sakit sekali, anak muda. Kamu kira enakjadi orang setua ku, heh?" Pak Tua mengomel, memperbaiki posisi duduknya.

"Maaf, Pak Tua." N-ou sungguh-sungguh, "Tapi apa maksud Pak Tua tadi? Aku bisa bicara dengan hewan?"

"Jelas sekali maksudku. Kami bisa bicara dengan hewan." Pak Tua masih menggerutu, "Dasar anak muda ceroboh, tadi nyaris ditanduk banteng, sekarang hampir membuat punggungku patah."

"Bicara dengan hewan?"

"lya. Berapa kali lagi harus kubilang, heh? Apa pendengaranmu juga bermasalah sepertiku?" Pak Tua melotot, "Kamu bisa bicara dengan hewan."

Eh, tapi bagaimana caranya? N-ou tidak pernah merasa melakukannya. Dia hanya berinteraksi biasa saja dengan Si Putih,

dengan burung-burung di taman dulu, dengan tupai. Dia tidak bicara. Dia hanya menebak maksudnya, seperti pelatih hewan profesional di sirkus, dia tidak-

"Meong."

"lya, aku tidak akan berhenti mendadak lagi. Tadi hanya kaget, gara-gara Pak Tua itu bilang aku bisa bicara dengan hewan."

"Meong."

Pak Tua tertawa pelan, "Kamu bisa bicara dengan hewan, anak muda. Hanya karena kamu mengabaikannya, menganggap itu hanya menebak-nebak saja, kamu jelas sekali memiliki kemampuan spesial itu."

"Tidak ada manusia yang bisa bicara dengan hewan, Pak Tua."

"Ada. Banyak."

"Banyak?"

"Klan Polaris adalah klan dengan puluhan milyar mahkluk hidup. Ribuan tahun berlalu, sejarah mencatat, ada banyak penduduknya yang bisa bicara dengan hewan, saling memahami. ltu kemampuan yang unik sekali."

N-ou termangu. Dia tidak pernah mendengar fakta tersebut.

"ltu karena penduduk Klan Polaris telah melupakannya sejak lama. Mereka lebih terpesona dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban mereka melesat, modern, canggih, hebat, spektakuler, dan istilah lainnya. Tapi mereka melupakan kemampuan unik bangsa Klan Polaris asli. Bicara dengan hewan. Kade genetik itu masih ada, dan diturunkan dalam siklus tertentu, kamu beruntung, anak muda. Kamu memiliki kode genetik tersebut."

"ltu tidak masuk akal."

"Oh ya." Pak Tua terbatuk, "Apakah dinding transparan menjulang itu masuk akaI?"

"ltu masuk akal. Teknologi bisa menjelaskannya. Energi suara."

"Maka bicara dengan hewan sama masuk akalnya, anak muda. Teknologi bisa menjelaskannya, masalahnya ilmuwan Klan Polaris tidak pernah menggapai penjelasannya."

"Meong." Si Putih mengeong. "ltu tidak masuk akal, Put." "Meong."

Sejenak, N-ou terdiam. Menelan ludah. Akhirnya dia menyadarinya. Lihatlah, dia jelas-jelas sedang bicara dengan kucing ini. Dia tahu maksud meong-nya tadi. ltu seperti percakapan dengan manusia. Astaga? Dia tidak gila selama ini. Dia

memang mengerti maksud meong tersebut. Lima tahun berlalu, kejadian di taman bunga, burung-burung yang berbaris dulu. Dia memang bisa menyuruh-

Pak Tua terkekeh. Meluruskan kakinya lagi, memperbaiki posisi selang di hidung.

***

Satu jam kemudian, Paruh Perak telah parkir di kaki gunung-gunung berselimutkan salju.

Ada tanah lapang di dekat bongkahan batu besar. ltu posisi yang baik untuk bermalam. Di sekitar mereka hutan lebat, dengan pohon-pohon menjulang. Bongkahan batu itu melindungi satu sisi, jadi lebih aman dari gangguan hewan liar.

N-ou membuka bagasi benda terbangnya, mengambil tenda lipat. ltu bukan tenda biasa, sekali N-ou mengetuk,

mengaktifkannya, tenda itu mulai membesar. Lengkap dengan tiang-tiang setinggi dua meter, dan tangga menjuntai. N-ou memodifikasi benda itu lima tahun terakhir, membuatnya menjadi lebih besar, lebih nyaman.

"Tidak buruk." Pak Tua berkomentar, memeriksa ke dalam tenda.

N-ou menyeringai. Tenda lipatnya ini jelas lebih bagus dibanding rumah Pak Tua tadi. Lihat, di dalamnya ada ruang santai, empat kamar tidur lengkap dengan kasur empuk. Terasa hangat dan nyaman. Dan lebih penting lagi, tenda lipat ini bisa dibawa kemana-mana, tempat dia istirahat lima tahun terakhir.

N-ou mendongak menatap bintang­ gemintang di langit malam, masih terlalu dini untuk tidur, setelah mengaktifkan sistem pengaman dinding transparan di sekitar lokasi mereka, N-ou berbaik hati

menyiapkan makan malam untuk Pak Tua. Si Putih terlihat riang, ekornya bergerak-gerak. Aroma lezat ikan bakar membuatnya tidak sabaran.

Pak Tua ikut duduk di samping mereka. Kursi roda itu masih terlipat di dalam Paruh Perak, batal ikut diturunkan. "Kalau akum au, aku masih bisa berlari satu-dua klik, anak muda." Pak Tua menjelaskan, "Kursi roda itu hanya kugunakan jika sedang malas bergerak."

N-ou mengangkat bahu. Terserahlah, jangan salahkan dia kalau punggungnya sakit lagi.

"Apa nama kota asalmu tadi, heh?" Pak Tua mencomot sembarang topik percakapn.

"Kata E-um, berbatasan dengan dinding pemisah itu."

"Semua kota di Klan Polaris memang berbatasan dengan dinding pemisah itu, anak muda. Atau paling jauh hanya 40-50 klik saja."

N-ou menoleh. Dia baru tahu.

"ltu untuk memudahkan evakuasi." N-ou mengangguk, masuk akal.

"Kamu tidak pernah terbang jauh dari dinding pemisah itu selama lima tahun terakhir?"

N-ou menggeleng-sambil membalik posisi ikan. lni baru pertama kali dia menjauh dari dinding, dan langsung mengalami kejadian menarik.

"Ada lebih banyak lagi hal menarik semakin jauh dari dinding pemisah itu, anak muda." Pak Tua menatap ikan yang sedang dimasak, "Penduduk kota Klan Polaris benar-benar hanya sibuk dengan

peradaban modern mereka. Sibuk dengan pandemi, evakuasi. Lupa jika peradaban asli ada di tempat-tempat jauh."

"Peradaban asli? Apakah ada penduduk lain di luar sana?"

"Mungkin. Aku tidak tahu pasti. Aku hanya membaca buku-buku tua itu. Tapi pandemi itu jelas tidak membunuh semua penduduk. Pasti ada yang selamat. Buktinya, kamu terlihat sehat bugar, tidak mati. Aku juga tidak mati. Tua, sakit­ sakitan memang, tapi virus itu tidak membunuhku."

N-ou menelan ludah. Benar juga. Jika ada penduduk lain di luar sana, pemukiman, perkampungan, atau apalah bentuk peradaban tersebut, itu akan membuat petualangan ini semakin seru.

"Ngomong-ngomong, darimana kamu belajar memasak seperti ini, anak muda? Aromanya lezat sekali. Sudah lama bangsa Klan Polaris melupakan cara masak seperti ini. Mereka diperdaya oleh prgamatisme makanan kaleng, kemasan instan."

"Otodidak, Pak Tua. Dari buku-buku lama."

"Bumbu-bumbunya, kamu dapat dari mana?"

"Aku kumpulkan sendiri, sambil mempelajarinya."

Pak Tua mengangguk-angguk.

lkan bakar itu siap. N-ou meletakkannya di atas pmng-pmng. Dia hanya menyiapkan dua ikan. Satu untuk Pak Tua, satu lagi untuk Si Putih. Dia masih kenyang.

"Meong." Si Putih mengeong saat menatap ikan di atas piringnya.

"Tidak, Put. Jatahmu yang itu." "Meong." Si Putih masih prates. "Kamu sudah makan tadi kan?"

"Kucing itu bicara apa?" Pak Tua yang bersiap menikmati ikan bakar bertanya.

"Eh, dia tidak mau ikannya lebih kecil."

Pak Tua diam sejenak, lantas tertawa, "Heh, Buntut Panjang."

"Meong." Si Putih menggerung kesal. Satu karena ikannya lebih kecil, dua karena dipanggil buntut panjang. Pak Tua ini rese' mengambil jatah ikan yang besar.

"Aku punya ide lebih baik." Pak Tua meraih sendok, lantas memotong ikan di atas piringnya menjadi dua, memindahkan satu potong ke piring di depan Si Putih, "Nah, bagianmu lebih

banyak sekarang, bukan? Aku sudah tua, tidak perlu makan banyak-banyak."

"Meong." Si Putih terlihat senang. Ekornya bergerak-gerak.

Pak Tua tertawa lagi, melambaikan tangan.

"Meong."

N-ou menyeringai menatap Si Putih. Mudah sekali mengambil hati kucing ini, cukup dengan sepotong ikan saja, tadi dia marah, bilang Pak Tua rese', sekarang dia mengeong bilang Pak Tua ini paling baik hati se-Klan Polaris.

-- Next Chapter--

Bab 8

Matahari pagi menyiram tenda lipat.

N-ou terbangun, matanya mengerjap­ ngerjap. Segera bangkir dari tempat tidur.

"Put, bangun." Berseru pelan.

Kucing itu masih meringkuk dengan ekornya bergelung seperti selimut menutupi tubuh. Menggeliat pelan mendengar suara N-ou.

Apakah Pak Tua sudah bangun? N-ou memeriksa kamar satunya. Kosong. Kemana dia?

Pak Tua bukan hanya sudah bangun sejak tadi, dia telah duduk di kursi rodanya yang terbang mengambang, dia menikmati cahaya matahari. Bajunya dilepas, hanya mengenakan celana

panjang, memperlihatkan badan tuanya yang dipenuhi gelambir dan keriput.

"Apa yang Pak Tua lakukan?" N-ou bertanya.

"Berjemur."

"Tapi kenapa bajunya dilepas?"

"Heh, itu biar kulit tubuhku langsung menerima cahaya matahari. Masih untung hanya baju, kadang aku telanjang bulat berjemur."

"Telanjang?"

"Bagaimana jika dilihat orang lain?"

"Padang rumput itu bertahun-tahun tidak ada orang. Paling hanya banteng."

N-ou terdiam, itu betulan? Mengangkat bahu. Terserahlah. Dia segera melepas tonggak-tonggak pemancar frekuensi suara yang membuat dinding transparan, menyimpannya ke dalam bagasi benda

terbang. Si Putih sudah lompat turun, ekornya mengetuk tombol di tiang tenda. Sekejap, tenda itu mulai menyusut satu persatu-termasuk perabotan di dalamnya. Teknologi yang keren.

lni ritual pagi N-ou dan Si Putih. Disusul menyiapkan sarapan dan minuman segar. Mengajak Pak Tua sarapan-sambil menyuruh dia mengenakan baju. Setelah itu membersihkan sekitar, memastikan tidak ada sampah secuil pun, bersiap melanjutkan perjalanan.

11Apakah Pak Tua ada tempat tujuan baru?" N-ou bicara, setelah membereskan kotak-kotak, 11Eh,

Giliran Pak Tua mengangkat bahu, dia kembali duduk santai di kursi rodanya, 11Aku tidak punya tujuan."

N-ou mengusap rambut panjangnya.

"Atau Pak Tua punya lokasi menetap lain? Aku bisa meminjamkan tenda lipat cadangan sebagai tempat tinggal sementara."

Pak Tua menggeleng.

"Aku tidak punya lokasi menetap lainnya, anak muda. Satu-satunya rumahku telah hancur. Aku tidak tahu harus kemana sekarang."

N-ou terdiam. lni mulai rumit. Dia sejak tadi mencari kalimat terbaik, hendak bilang bahwa dia dan Si Putih akan melanjutkan perjalanan. Mereka harus berpisah, dia bisa mengantar Pak Tua kemanapun, memastikan dia punya tempat tinggal baru.

"Memangnya kamu punya tujuan, heh?" Pak Tua bertanya balik.

N-ou menggeleng. Dia hanya memutuskan terus ke timur.

"Jika kalian mau meneruskan perjalanan, kalian bisa meninggalkanku di sini." Pak Tua berkata santai, "Aku tidak memerlukan apapun. Apalagi tenda lipat teknologi canggih-mu itu. Aku alergi teknologi. Kalian bisa pergi."

N-ou menelan ludah. Meninggalkan orang tua ini di sini? Di kaki gunung­ gunung berselimut salju. ltu ide buruk. Tadi malam saja, entah berapa kali hewan buas mendekati tenda mereka. Hanya karena ada dinding transparan itu yang mencegah hewan itu menyerang. Orang tua ini tidak akan bertahan 24 jam sendirian.

"Meong." Si Putih mengeong.

N-ou menoleh. Menggeleng. ltu juga ide buruk.

"Meong."

"Tidak, Put." "Meeeong."

N-ou menepuk dahinya pelan.

"Apa yang dibilang Si Buntut Panjang itu, heh?" Pak Tua bertanya.

Si Putih bilang, meong pertama, 'Kenapa tidak kita ajak saja orang tua ini?' Meong kedua, 'Ada kursi kosong di Paruh Perak'. Meeeong ketiga, 'Ayo/ah, Pak Tua ini orang terbaik se-klan Polaris.'

Pak Tua terkekeh saat N-ou menjelaskannya. Membuat jenggotnya yang semrawut bergerak-gerak. Batuk sekali-dua, buru-buru memasang selang oksigen di hidungnya. Menggeleng.

"Rombongan kalian sudah aneh. Satu manusia, satu kucing. Ditambah denganku, orang tua yang sakit-sakitan,

naik kursi roda, lebih aneh lagi. Seperti rombongan sirkus. Pergilah. Aku baik­ baik saja. Lagipula, tidak penting juga kamu mencemaskan orang tua sepertiku. Cepat atau lambat aku akan mati."

N-ou mengusap rambut panjangnya. lni jadi sedikit rumit.

Adalah lima menit lagi mereka berdiskusi. Diselingi dengan meong, meong Si Putih. Keputusan diambil. Pak Tua ikut. Setidaknya sampai menemukan tempat yang lebih baik untuk meninggalkannya. Boleh jadi ada pemukiman di luar sana, atau kawasan yang aman untuk menetap, barulah mereka berpisah. Meong, Si Putih mengeong senang. Ekornya bergerak­ gerak, lompat naik ke benda terbang perak, duduk di posisinya.

Lima menit berikutnya, Pak Tua telah duduk di kursi belakang-dia tidak mau dibantu siapapun, susah-payah naik

sendiri ke atas benda terbang. Kursi rodanya dilipat lagi.

Semua siap di kursi masing-masing. N-ou menarik tuas kemudi. Paruh Perak meluncur meninggalkan lokasi tersebut. Terus menuju ke timur, melangkahi gunung-gunung berselimutkan salju.

***

Ziiing.

Benda terbang berwarna perak dengan kelir keemasan itu melintasi gunung­ gunung bersalju. Jendela kacanya sekarang tertutup sempurna-N-ou tidak mau batuk-batuk Pak Tua tambah parah gara-gara udara dingin. Dengan kaca ditutup, bagian dalam benda terbang itu hangat dan nyaman. Si Putih menatap pemandangan, kepalanya menempel di jendela. Ekornya bergelung di kursi.

Hewan itu seperti sedang memperhatikan sesuatu sejak tadi.

Sejauh mata memandang hanya pegunungan dilapisi salju. Puncak-puncak menjulang. Juga jurang-jurang dalam. Hutan pinus raksasa. Mereka belum pernah melewati bentang alam seperti ini. Selama ini yang dilihat hanya dinding transparan setebal seratus meter itu saja.

"Meong." Si Putih mengeong.

"Heh, kita barusaja sarapan dua jam lalu, Put."

"Meong."

"Tidak. Kita baru akan berhenti setelah melewati gunung-gunung ini. Aku tidak mau mendarat di bawah sana. ltu sama saja mencari masalah."

"Meong."

"Si Buntut Panjang itu bilang apa?" Pak Tua ikut bicara.

"Dia minta makan lagi." Jawab N-ou kesal.

"Apa susahnya, berikan saja."

"Dia juga minta mendarat di bawah sana, Pak Tua. Kucing ini tidak mau makan di dalam benda terbang."

"Kalau begitu, mari kita mendarat.11

Heh? N-ou menoleh. Lima tahun terakhir, N-ou selalu menuruti maunya Si Putih, dimanapun kucing ini minta mendarat, maka benda terbang akan mendarat. Tapi ini bukan jalur biasa yang mereka lewati. Lihat, itu gunung-gunung berlapiskan salju, dengan jurang-jurang terjal.

"Meong." Si Putih mendesak.

"Kita baru mendarat setelah gunung­ gunung ini. Sebagai gantinya aku akan

menyiapkan dua ekor ikan untukmu. Aku janji, Put."

"Meong." Si Putih menolak. Ekornya mengacung tinggi, hingga menyentuh atap kaca. Kuping runcingnya juga ikut tegak.

"Kamu pernah mendarat di gunung salju, anak muda?" Pak Tua ikut bicara.

N-ou menggeleng.

"Bagus sekali. lni pengalaman baru, mendarat."

akan menjadi bukan? Ayo

"ltu bukan padang rumput, Pak Tua. Di bawah sana dingin dan berbahaya."

"Saal dingin itu gampang, kamu pasti punya pakaian berteknologi tinggi untuk mengatasinya, bukan? Saal aku, jangan cemas, orang tua ini sudah lama tidak merasakan udara dingin pegunungan.

Buntut panjang ingin kita mendarat, apa susahnya dipenuhi."

Astaga. Dulu dia hanya harus menghadapi rengekan Si Putih, yang terus mengeong, mengeong, dan mengeong memaksa minta mendarat. Sekarang bertambah satu, Pak Tua ini juga ikut mendesaknya. lni yang pegang tuas kemudi siapa?

"Meong." Si Putih mengeong lagi.

N-ou menatapnya. Dia menelan ludah. Dia baru pertama mendengar 'meong' jenis ini. Apa maksudnya? ltu serius? Selain makan, juga ada yang hendak dilihat Si Putih di gunung-gunung salju itu? Mata kuning kucing itu terlihat mengkilat. Dia mau melihat apa?

"Meong."

Baiklah. N-ou mengalah, dia menarik tuas kemudi. Benda terbang itu segera

meninggalkan ketinggian, meluncur menuju lereng-lereng gunung.

***

N-ou menyuruh Pak Tua mengenakan rompi gelap. Sekali rompi itu dikenakan, ketuk tombol di dadanya, pakaian itu tumbuh, membesar, menutupi sekujur tubuh dengan kulit yang lembut, nyaman dikenakan, dan hangat. N-ou juga memberikan sepatu dan sarung tangan berteknologi tinggi. Agar mereka bisa turun dengan aman di lautan salju luar sana. N-ou juga mengenakan pakaian tersebut.

Paruh Perak mengambang di salah-satu ceruk, parkir di sana. N-ou membuka jendela kaca, angin kencang langsung menerpa wajah, dingin sekali.

"Pak Tua mau dibantu turun?"

Pak Tua melambaikan tangan, jangan cemaskan dia.

Si Putih lompat lebih dulu. Bulu tebalnya lebih dari cukup untuk membuatnya tetap hangat. Telapak dan kaki-kakinya juga lincah mendarat di atas salju. Nyaris tidak menimbulkan jejak saat dia berjalan anggun.

N-ou mengambil sembarang bungkusan makanan di bagasi, membuka kemasannya, menyerahkannya kepada Si Putih. Dia tidak akan sempat menyiapkan masakan. Si Putih tidak protes, menghabiskannya dengan cepat.

"lni segar sekali." Pak Tua telah bergabung, cuek merentangkan kedua tangan. Seolah sedang liburan musim dingin di resort mewah. Dia duduk di kursi roda yang mengambang. Janggutnya terkena butir salju. Juga pakaian gelap yang dia kenakan.

N-ou tidak sempat menimpali, Si Putih mendadak lompat meninggalkannya. Kucing itu telah selesai makan.

"Heh! Kamu mau kemana, Put?" Kucing itu berlarian di atas salju tebal. N-ou menoleh ke Pak Tua.

"Pergilah. Aku akan menyusul di belakang. Jangan cemaskan orang tua ini, aku baik-baik saja."

N-ou mengangguk, segera berlarian mengejar Si Putih.

lni ganjil sekali. Jarang-jarang kucing itu pergi meninggalka benda terbang. Lima tahun terakhir, kucing itu tidak pernah jauh darinya. Si Putih mau kemana? N-ou masih sempat melihat ekor panjang milik kucing itu, mengejar ke arah yang benar. Melewati pohon-pohon pinus tinggi, juga bebatuan terjal yang diselimuti salju.

Si Putih terus berlarian, beberapa ratus meter, kucing itu baru berhenti. Langkah kaki N-ou terhenti, mendongak, termangu menatapnya. Kucing itu berhenti di depan mulut sebuah gua besar.

N-ou mendekat. Dia tidak mengira akan menemukan gua di lereng gunung ini. Tinggi mulut gua itu tak kurang sepuluh meter, dengan lebar yang sama. Lorong panjang terlihat menuju perut gunung, tidak gelap, bebatuan di dinding gua mengeluarkan cahaya alami-meski tidak terang.

Udara terasa hangat. "lni gua apa, Put?" "Meong."

Kucing itu melangkah masuk.

"HehI

kamu tidak bisa

masuk

sembarangan saja." N-ou mencegah.

"Meong."

hendak

Si Putih tidak mendengarkan, terus maju, mata kuningnya menatap waspada, ekornya berdiri tegak. N-ou mengomel, tapi dia segera melangkah di belakang kucing itu. Dia juga penasaran ini gua apa, kenapa Si Putih membawanya ke sini.

Lorong terus membesar, sekarang tinggi dan lebarnya menjadi dua kali lipat, terus masuk ke dalam, hingga lima puluh meter, N-ou tertegun. Langkah kakinya terhenti lagi. ltu sungguh pemandangan fantastis. Lihatlah, ada ruangan raksasa di perut gunung ini. Luasnya tak akan kurang dari tiga klik, dengan tinggi menjulang. Dan tidak hanya itu, di atas lantai itu, terhampar ratusan bangunan yang terbuat dari batu dan kayu.

Bebatuan di dinding gua mengeluarkan cahaya alamiah, menerangi ruangan besar tersebut.

Tidak salah lagi ini adalah pemukiman penduduk-meski sekarang kosong melompong.

N-ou menelan ludah, dia tidak pernah tahu jika Klan Polaris memiliki kota kecil di dalam gua. Buku-buku yang pernah dia baca tidak pernah membahasnya. Tempat ini dulu pasti ramai oleh penduduk. Jalanannya tersusun rapi, bangunannya kokoh, dengan jendela­ jendela besar dari kayu. Ada peradaban tua di gua-

"MEONG !" Si Putih mendadak mengeong kencang.

N-ou menoleh, bersiaga. ltu peringatan bahaya.

Belum genap meong Si Putih, dari balik bangunan terdekat, keluar dua, tiga, aduh, empat ekor singa salju. N-ou berseru tertahan. Satu, dia tahu hewan ini, meski belum pernah bertemu secara langsung, tapi dia pernah membaca dan melihat informasinya di tablet. Singa ini adalah hewan buas penguasa pegunungan. Dua, N-ou baru menyadari, dia lupa mengenakan gelang di tangan dan kaki, celaka, dia tidak membawa sistem pertahanan. lni gara-gara Pak Tua sialan itu, membuatnya abai protokol keamanan.

N-ou bergegas balik kanan, hendak berlarian keluar lorong. Terlambat.

Dua ekor singa salju lompat lebih dulu, memotong gerakannya. Membuat posisinya terkunci. Empat singa itu mengurungnya, dengan jarak hanya dua meter. Dua di depan, dua di belakang.

Tubuh hewan ini tinggi besar, nyaris setinggi dada N-ou, bulunya tebal berwarna putih, dengan bulu tengkuk berwarna pirus. Taringnya terlihat tajam, cakarnya mengerikan.

"Rrrrr." Salah-satu menggerung. Membuat berdiri.

singa bulu

salju kuduk

"Tidak. Kami bukan makanan yang bergizi." N-ou berusaha membujuk.

"Rrrrr."

Singa itu menggerung kasar: Diam! Mereka kelaparan, sudah berhari-hari tidak menemukan hewan buruan di luar sana. Hari m1 hari keberuntungan mereka, mangsa datang sendiri ke sarang. Ruangan kosong ini menjadi tempat tinggal singa-singa.

"Rrrrr."

Kapanpun hewan-hewan ini siap menerkamnya. N-ou meremas jemarinya. Tamat sudah petualangannya. Tidak ada celah untuk melarikan diri. Tanpa gelang­ gelang sistem keamanan miliknya, dia tidak punya kesempatan melawan.

"Kamu segera lari ke benda terbang, Put. Beritahu Pak Tua. Segera tinggalkan gunung ini." N-ou berbisik kepada Si Putih yang berdiri di dekat kakinya.

"Meong." Si Putih mengeong, ekornya bergerak liar.

"Aduh. Lari, Put!" "Meong."

"Heh, apa susahnya kamu segera lari. Aku akan menahan singa-singa ini. Kamu bisa menyelinap lincah diantara mereka. Salah-satu dari kita bisa selamat."

Si Putih tetap tidak pergi. N-ou merutuk dalam hati. Kenapa sih hidupnya harus selalu rumit? Kucing ini amat keras kepala-

"RRRRR...."

Tidak ada waktu lagi berdebat. Disertai geraman buas, salah-satu singa telah melompat menerkam. N-ou berkelit menghindar, juga Si Putih. Luput, terkaman itu mengenai udara kosong. Tapi itu hanya sebentar, tiga singa lain serempak merangsek menerkam, cakar tajam mereka siap merobek tubuh N-ou. Susul-menyusul.

Sekali lagi N-ou berusaha menghindar, satu, dua, dia berhasil berkelit, menghindari dua serangan bertubi-tubi. Tapi yang ketiga tidak sempat, cakar itu siap merobek dadanya. Tangan kanan N­ ou reflek memukul, setidaknya dia mengurangi laju serangan itu,

mengurangi dampak buruknya. Syaraf otaknya mengirim perintah ke sel-sel di tangannya, pukul sekencang mungkin.

BUM!

Astaga ! N-ou tidak percaya melihatnya. Bagaimana mungkin, tangannya barusaja mengeluarkan pukulan berdentum, seolah dia mengenakan gelang itu. Singa yang hendak menerkamnya terpental ke belakang. N-ou menatap tangan kanannya. Apa yang terjadi? Kenapa tangannya bisa-

"RRRR...." Tiga singa lain marah melihat rekannya jatuh, dengan buas merangsek lagi.

Reflek N-ou kembali melepas pukulan. BUM! BUM! Dua pukulan berdentum terlepas dari tinjunya, bertubi-tubi, mengenai tubuh besar singa-singa itu. Lagi-lagi, dua singa terpelanting.

"Meong!" Sementara Si Putih juga telah lompat, ekornya yang panjang tiba lebih dulu, membelit leher singa terakhir yang sedang menyerang, dan seolah membelit boneka besar yang ringan, ekor Si Putih membanting singa salju itu. BRUK! Singa itu terlempar, menghantam dinding lorong.

"Wow, Put."

"Meong." Si Putih mengeong galak. Dia tidak berhenti, dengan galak dia maju mendekati dua singa yang telah bangkit hendak menyerang lagi. Ekornya bagaikan cambuk, melesat ke depan.

Ctar! Ctar!

Menghajar telak wajah dua singa itu, membuatnya terduduk. ltu keren sekali, N-ou sebenarnya masih kaget dengan tangannya yang bisa mengeluarkan pukulan berdentum, tapi sekarang dia

lebih kaget lagi menyaksikan Si Putih menaklukkan tiga singa salju sekaligus.

"MEOOONG." Si Putih menggeram. Suaranya melengking di langit-langit lorong. Ekornya berdiri tegak, telinganya runcing, mata kuningnya menatap galak.

Sedetik berlalu, empat singa yang terkapar di depan mereka segera lari lintang-pukang menuju mulut gua. Seperti barusaja mendengar suara paling menakutkan seumur hidup mereka. Singa-singa salju itu bahkan tidak peduli saat Pak Tua datang dengan kursi rodanya, meluncur bergabung. Terus lari di lorong secepat yang mereka bisa.

***

"Bukan main." Pak Tua berseru, menatap N-ou yang sedang mengatur nafas.

Anak muda itu belum pernah bertarung seperti ini. Lima tahun terakhir setiap

bertemu bahaya dia selalu bertahan, menghindar atau pratakal lainnya yang lebih aman. Tadi cukup menegangkan, jantungnya berdetak cepat-meski dia tidak takut.

Kursi rada Pak Tua berhenti di depan N­ au-yang menatap dua tangannya tak percaya.

"ltu tidak mengherankan, anak muda." Pak Tua berkata santai, "Kekuatanmu telah diaktifkan. Kade genetik di dalam tubuhmu mulai bereaksi, maka satu­ persatu keajaiban itu keluar."

"Kade genetik? Kekuatan? Apa maksud, Pak Tua?"

"Pukulan berdentum. ltu salah-satu kekuatan yang dimiliki petarung klan."

"Tapi, tapi, bagaimana aku melakukannya. Aku tidak memakai gelang yang memang bisa mengeluarkan

gelombang suara, atau memodifikasi energi suara menjadi pukulan berdentum. Lihat. Tanganku tidak mengenakan apapun."

"Kamu tidak akan pernah lagi membutuhkan gelang itu, anak muda. Buat apa?" Pak Tua tertawa lebar, "Karena kedua tanganmu adalah gelang organik tersebut. Sel-sel di tanganmu adalah rangkaian organik-mekanik menakjubkan. Pukulan berdentum, kamu bisa melakukannya. Juga tameng transparan."

N-ou terdiam. Tameng transparan? Sungguh?

"Kamu bisa mencobanya. Apa susahnya."

N-ou mengepalkan tinjunya, sel-sel syarafnya memberi perintah dengan cepat. Melesat menuju sel-sel di tangannya. Seperti perintah yang

meluncur di benda mekanik canggih: bentuk tameng transparan !

Splash! Tameng transparan terbentuk di depannya. ltu tameng yang kokoh.

Astaga ! N-ou kaget sendiri, dia nyaris terjatuh kehilangan keseimbangan melihatnya. Dia tidak tahu jika kedua

tangannya tersebut.

memiliki kemampuan

"Meong." Si Putih mengeong, melangkah anggun dengan ekor bergelung.

"lni keren, Put. Kamu melihatnya." "Meong."

"Dan kucing itu-" Pak Tua menatap Si Putih, batuk dua kali, memperbaiki selang di hidung-janggutnya masih dipenuhi butir salju, "Si Buntut Panjang itu juga bukan hewan sembarangan. Dia bisa bertarung, aku sempat melihatnya

melemparkan singa besar tadi, ekornya sangat kuat. Aku tidak akan heran jika dia bisa melakukan hal lain yang lebih menakjubkan."

N-ou ikut menatap Si Putih yang telah melangkah menuju ruangan besar di perut gunung. Si Putih bukan hewan sembarangan? Kucing yang dia temukan di gedung kosong kota E-um?

"Tapi mari kita lupakan sejenak soal kekuatan itu, ada yang lebih menarik dibahas sekarang. lni sungguh menarik. Aku tidak pernah membayangkan akan melihatnya sendiri." Pak Tua tertawa, menggerakkan kursi rodanya maju. Menatap ruangan besar di depan mereka.

"Selamat datang di kota tua Klan Polaris. Si Buntut Panjang telah menemukannya."

-- Next Chapter--

Bab 9

N-ou mengetahui kisah berikutnya milik Pak Tua.

Bahwa sedari muda, orang tua itu juga melakukan perjalanan mengelilingi sudut Klan Polaris. Dia membaca banyak buku­ buku tua, terobsesi, mulai mencari jejak masa lalu. Mengepak logistik, membawa benda terbang, berpetualang. Masalahnya, berpuluh tahun dia melakukannya, dia tidak mengalami kemajuan. Dia tahu buku-buku tua itu bukan sekadar dongeng atau cerita kosong. Tapi dia tidak kunjung menemukan buktinya. Hingga menyerah, menetap di tempat-tempat terpencil.

"Aku benar-benar keliru tempat mencarinya. Peradaban tua ini ada di bawah tanah, bukan di permukaan." Pak

Tua terlihat antusias, kursi rodanya bergerak mengelilingi ruangan luas itu, "Dan itu masuk akal. Hari ini kota-kota modern berusaha melindungi penduduknya dengan selaput tipis. Kota tua ini dulu melindunginya dengan dinding-dinding kokoh gunung."

Kursi roda itu terus beringsut-itu sebenarnya menyebalkan, mengingat kecepatan kursi roda (terbang) itu amat rendah. N-ou berkali-kali tidak sabaran hendak membantu mendorong, biar lebih cepat. Aduh, bahkan spesies tertentu siput merayap lebih cepat. Tapi dia khawatir Pak Tua marah dan memukulnya dengan tongkat. Sementara Si Putih berjalan anggun di samping mereka, sesekali berhenti, mendongak menatap sekitar. Sesekali lompat kesana­ kemari, mood kucing itu sedang baik, dia belum bertanya tentang makan siang.

"Sebentar, anak muda." mengangkat tangan. rombongan berhenti.

Pak Tua Membuat

Ada apa lagi? N-ou bergumam dalam hati. Mereka sudah nyaris empat jam di ruangan besar itu, berhenti berkali-kali, hasilanya sama, kosong, tidak ada siapapun di sana. Semenarik apapun kota tua ini, tanpa penduduk, maka ini hanya situs purbakala. Sejak tadi dia mau kembali ke benda terbang, melanjutkan perjalanan.

"Tidak salah lagi, ini adalah bangunan pusat kota. Semacam balai kota, aula pertemuan, atau apalah." Pak Tua menunjuk bangunan batu di depannya.

Kursi rodanya bergerak mendekati pintu bangunan yang terbuka. Masuk.

Pak Tua benar, bangunan itu berbeda, N­ ou ikut masuk, menatap ruang depannya.

Ada beberapa sisa perabotan tua tergeletak di lantai. Tombak-tombak panjang. Beberapa kendi, juga tembikar lain yang pecah. Berantakan. Meja pertemuan, kursi-kursi. Ada koridor panjang di bagian belekang, dengan pintu ruangan-ruangan lain.

Kursi roda Pak Tua memasuki satu per satu ruangannya, memeriksa. Sesekali batuk.

"Hei, anak muda, kemarilah." Suaranya terdengar dari salah-satu ruangan.

N-ou mendekat, diikuti Si Putih dengan ekor bergelung.

"Akhirnya ! Kita menemukan harta karun kota tua ini." Pak Tua terkekeh­ jenggotnya bergerak-gerak, terpotong sejenak oleh batuk-batuk, memperbaiki selang di hidung.

"Harta karun?" N-ou memastikan. ltu kertas, bukan? Sudah lama dia tidak melihat kertas, digantikan gadget hologram.

" Meong.11 Si Putih ikut mengeong.

ltu tumpukan perkamen tua, bukan kertas, mungkin terbuat dari kulit binatang. Ada tulisan di atasnya, huruf­ huruf yang tidak dipahami oleh N-ou. Apanya yang harta karun? ltu paling catatan pemilik bangunan ini. Mungkin daftar belanjaan mingguan. Atau daftar hutang tetangganya. Atau pelajaran berhitung milik anaknya dulu.

Pak Tua menggeleng, membentangkan salah-satu perkamen-dia bisa membaca huruf-huruf aneh itu, bahkan kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, Pak Tua menunggu momen-momen ini.

'Siklus ke-219 Ursa Minor. Musim dingin yang ke-9 .1 Pak Tua berhenti sejenak, berhitung cepat, 'ltu berarti sekitar seribu tahun lalu, sistem penanggalan lama, kita tahu usia perkamen dan kota ini,' Tersenyum antusias, kembali melihat perkamen, meneruskan membaca.

'/tu musim dingin yang sangat berat pegunungan terus disiram badai salju berhari-hari. Penduduk kesulitan ke/uar. Jalur Jogistik antar kota mulai terputus. Topi ada sesuatu yang Jebih berat Jagi persis purnama wabah penyakit muncu/.

'Sa/ah-satu anak dari Suku Pendaki yang sedang bermain di hutan pinus digigit o/eh sesuatu. Tangannya terluka. Tabib kota berusaha mengobatinya mengira itu hanya Iuka biasa. Topi itu awal kengerian seluruh kota. Sekujur tubuh anak itu dipenuhi o/eh bisul merah satu jam kemudian yang me/etup bernanah

dua jam kemudian. Anak itu meninggal dengan kond i tubuh mengenaskan enam jam kemudian. Ketika anak itu meninggal, tabib kota, dan anggota keluarga anak itu mulai terkena geja/a penyakit yang soma.

'Cepat sekali semua terjadi. Dua be/as jam kemudian, separuh kota sakit. Penguasa kota memutuskan menutup lorong. Wabah penyakit itu bisa membahayakan kota-kota lain, tapi itu terlambat, serombongan Suku Penganyam te/ah berangkat beberapa jam sebelumnya menuju ibukota. Topi tidak ada yang sempat memikirkan soa/ itu, tidak ada yang bisa menyusul rombongan itu agar menghentikan perjalanan, seluruh kota sedang kiamat. Tubuh-tubuh berbisul dan bernanah tergeletak di jalanan. Wabah penyakit itu menyebar dengan cepat, tidak hanya

menyebar lewat sentuhan kulit, tapi juga udara.

'Aku menu/is halaman terakhir perkamen ini dalam kondisi buruk, susah bernafas. Tubuh bagai terbakar, dan bisul-bisul itu mulai muncul. Cerita Jama atas wabah penyakit itu ternyata nyata. lni adalah momen paling menakutkan bertahun­ tahun aku mempe/ajari wabah tua itu. Aku mendengar teriakan kesakitan, jerit­ tangis di jalanan, penduduk mengetuk pintu ba/ai kota memohon diobati, untuk sejenak kemudian terkapar tak bisa bergerak Jagi. Penguasa kota tidak bisa menangani situasi. Kekacauan melanda seluruh kota.

'Aku tahu aku tidak akan selamat. Bagi siapapun yang menemukan catatan ini, aku meningga/kan semua yang aku ketahui. Dua pu/uh empat jam sejak serangan pertama, aku telah berusaha

menemukan penjelasan apa yang telah menggigit anak Suku Pendaki itu. Apakah itu hewan, atau tumbuhan, atau bukan kedua-duanya. Setiap kali wabah ini terjadi, sulit sekali mengetahui sumbernya. /tu membuat - 11

Pak Tua menghela nafas. Menatap perkamen di depannya.

"Meong." Si Putih mengeong. "Ada apa?" N-ou ikut bertanya.

Catatan di perkamen itu habis. Sepertinya yang menuliskannya sudah tidak sanggup lagi, terkulai lemas di mejanya, atau terkapar jatuh di lantai ruangan. Pak Tua batuk satu-dua, memeriksa perkamen­ perkamen lain yang dipenuhi tulisan, ilustrasi, dan sebagainya.

"Pemilik catatan ini mungkin seorang ilmuwan. Dia telah mengumpulkan banyak informasi tentang wabah

penyakit di jaman itu. lni mungkin bisa menjadi informasi menarik. Aku akan membawa tumpukan perkamen ini, lumayan untuk bacaan di benda terbang." Pak Tua meletakkan perkamen di pangkuannya.

Terserahlah. N-ou tidak menanggapi.

Mereka masih lima menit lagi di bangunan itu, memastikan tidak ada yang penting lainnya, kursi roda Pak Tua kembali beringsut keluar, terus menuju lorong gua.

N-ou mengiringinya dari belakang.

"Meong." Si Putih riang, lincah melompat-lompat di dinding batu.

N-ou belum pernah melihat Si Putih melakukannya, hewan ini ternyata bisa berjalan di dinding vertikal dengan mudah. Telapak kakinya lengket. Tapi di kepala N-ou ada hal lain yang lebih

penting sekarang. Arggh, kursi roda milik Pak Tua ini lambat, amat menyebalkan. Rombongan mereka seperti merangkak menuju mulut gua. Dan itu masih harus disambung lagi dengan perjalanan di atas salju menuju Paruh Perak.

Menyebalkan.

***

Sisa perjalanan hari itu berjalan lancar. Si Putih sibuk menempelkan wajah di jendela kaca, memperhatikan pemandangan. N-ou sengaja terbang rendah, agar bisa melihat-lihat gunung­ gunung tinggi itu. Pak Tua sibuk dengan perkamen, membacanya. Sesekali dia berkomentar tentang isinya. Wabah penyakit. N-ou tidak terlalu mendengarkan, dia tidak pernah tertarik membahas tentang pandemi. Apa serunya? ltu hanya mengembalikan

kenangan pahit lima tahun lalu saat dia terpisahkan dengan Ayah dan lbu.

Catatan yang dibaca Pak Tua di ruangan tadi misalnya, N-ou tahu persis kepanikan tersebut. Kekacauan seluruh kota. Menyaksikan tubuh-tubuh bergelimpangan. Bahkan dia tahu rasanya tubuhnya terbakar, sakit di sekujur tubuh. Bedanya tidak ada bisul bernanah yang muncul-mungkin jenis mutasi virusnya berbeda. Jadi N-ou tidak terlalu mendengarkan celoteh Pak Tua. Sesekali dia mengaktifkan mode terbang otomatis, agar lebih leluasa menatap pemandangan.

Fantastis, mereka melewati tujuh air terjun di lembah-lembah terjal. Berbaris air terjun itu, dengan hamparan salju di sekitarnya.

"Meong." Si Putih juga antusias melihatnya.

Atau di kesempatan lain, benda terbang mereka melintasi kawanan burung yang sedang terbang. Burung-burung itu tidak agresif, tidak terganggu dengan Paruh Perak yang melintas di bawahnya. Seperti menari, kawanan burung warna-warni itu berputar, melakukan manuver yang indah, dengan bentang sayap mereka yang nyaris enam meter, dan ekor menjuntai lima meter.

"Meong." Si Putih mengeong. Biasa saja,

komentarnya-dia tidak tertarik.

"Oh ya? Kamu bisa melakukannya, Put?" "Meong."

N-ou tertawa.

"Apakah kalian berdua tidak bisa diam sejenak, heh." Pak Tua memotong percakapan, "Aku sedang konsentrasi mempelajari ilustrasi ini."

N-ou menepuk dahinya pelan. Siapa yang berisik? lni normal saja dilakukannya bersama Si Putih. Mengobrol selama perjalanan. lni benda terbang miliknya, kenapa Pak Tua yang malah mengatur­ ngatur.

"Bagus. Tetap diam seperti itu. Jangan berisik lagi."

N-ou menghembuskan nafas perlahan. Dasar Pak Tua rese'.

Menjelang matahari tenggelam, benda terbang itu berhasil melintasi rangkaian gunung-gunung bersalju. Pemandangan digantikan oleh hamparan hutan dataran rendah dengan danau luas. Tempat istirahat malam ini telah ditentukan, ada tanah lapang kosong di dekat danau, kesanalah benda terbang meluncur turun.

***

Ritual malam dilakukan.

N-ou melemparkan tenda lipat, Si Putih mengetuk tombolnya, tenda itu membesar seperti biasa. Tiang dan tangganya terjuntai. N-ou memasang tonggak-tonggak yang memancarkan frekuensi suara, mengaktifkan dinding transparan di sekeliling lokasi berkemah. Hanya Pak Tua yang tidak sibuk, dia santai berdiri menatap hamparan danau luas yang terlihat kemerah-merahan, memantulkan langit senja.

Kursi rodanya dilipat, dia sedang ingin menggerakkan badannya.

N-ou menyiapkan makan malam, kali ini dia membuat sup ikan. Si Putih menunggui tidak sabaran. Ekornya terus bergerak-gerak seolah mau bilang, 'Buruan. Aku lapar.' N-ou tertawa.

Sekitar mereka telah gelap saat mereka asyik menghabiskan mangkok sup masing-masing.

"lni enak sekali, anak muda." Pak Tua memuji.

N-ou menyeringai. Terima kasih.

"Sepertinya aku tahu sekarang, kamu juga memiliki kekuatan hebat lainnya."

Kekuatan apa? N-ou menoleh, tertarik.

"Bisa memasak makanan lezat." Pak Tua terkekeh, jenggotnya yang terpercik satu­ dua tetes kua sop bergerak-gerak, "ltu kekuatan yang sama pentingnya dengan pukulan berdentum atau tameng transparan."

Tidak lucu. Dengus N-ou.

"Meong." Si Putih sebaliknya, bilang itu lucu sekali.

N-ou melotot. Kucing ini sih, kenapa malah berpihak pada Pak Tua? Lagi-lagi hanya karena diberikan jatah tambahan dari Pak Tua, heh?

"Meong." Si Putih tidak menanggapi, meneruskan makan.

Pinggir danau itu lengang sejenak.

"Ngomong-ngomong soal kode genetik itu, Pak Tua. Seberapa banyak yang mewarisinya?" N-ou mencomot topik percakapan yang lebih penting.

"Tidak tahu. Tepatnya tidak ada yang tahu," Pak Tua menjawab, memperbaiki pos1s1 duduknya, "Di jaman dulu, mungkin lebih banyak yang memilikinya, saat penduduk Klan Polaris masih hidup bersama alam sekitar. Hari ini, mereka sibuk dengan teknologi modern, melindungi kota dengan selaput tipis,

satu-dua mungkin masih mewansmya, tapi tidak pernah menyadarinya."

"Tidak menyadarinya?"

"Yeah. Seperti kamu, anak muda. Usiamu tujuh belas, kamu baru mengetahui jika bisa bicara dengan hewan. Dan bahkan baru beberapa jam lalu kamu tahu bisa mengeluarkan pukulan berdentum."

N-ou menatap mangkok-nya. Benar juga. Sejak kecil dia tidak tahu tentang itu. Ayah dan lbu juga tidak menyadari. Padahal saat usianya lima tahun, dia telah berbicara dengan lebah yang masuk ke kamarnya. Lebah itu nyaris seukuran telapak tangan, sengatnya bisa mematikan. lbu berseru-seru panik. Ayah rusuh mencari alat untuk mengusir lebah itu. Sementara dia, menatap lebah yang bilang 'ingin pulang ke sarangnya, tersesat, tidak berniat menyerang siapapun'. N-ou membuka jendela

kamarnya, lebah itu pergi sebelum Ayah memukulnya.

"Apa saja kekuatan yang diberikan kode genetik itu, Pak Tua?"

"Tidak tahu. Tepatnya tidak ada yang tahu," Pak Tua menjawab lagi, "Tapi yang pasti aku tahu sekarang, salah-satunya kekuatan memasak sup ikan ini." Pak Tua bergurau lagi.

N-ou melotot. Ayolah, dia serius.

"Tergantung seberapa lengkap kode genetik yang kamu warisi, anak muda." Pak Tua menjawab lebih baik, "Dari buku­ buku tua yang pernah kubaca, ada banyak variasi kekuatan yang muncul. Pemilik kode genetik paling lengkap, dia bisa menjadi petarung dunia paralel paling hebat."

"Dunia paralel itu apa?"

"Nah, untuk pertanyaan yang satu ini, susah menjawabnya, anak muda." Pak Tua meletakkan mangkok yang telah kosong, "Buku-buku tua hanya menuliskannya, tapi tidak ada bukti, atau petunjuk nyata. Bahwa di luar sana, juga ada Klan lain dengan penduduk manusia. Tersambung lewat portal antar Klan. Para petualang dan petarung melewati portal­ portal tersebut. ltu teori provokasi paling hebat yang pernah aku baca. Dunia paralel. Seolah masuk akal, tapi tidak ada buktinya. Jadi aku tidak tahu."

"Buku-buku itu menulis, kekuatan tersebut memiliki peta, silsilah, merujuk ke leluhur yang sama. Akan ada kemiripan satu klan dengan klan yang lain, tapi juga ada kekuatan khas yang hanya dimiliki Klan tertentu. Seperti Klan Polaris, kamu bisa bicara dengan hewan,

memahaminya. ltu khas sekali. Tapi itu bukan kekuatan yang paling hebat."

"Ada yang lebih hebat?"

"Yeah. Besok-besok mungkin kita akan menyaksikannya." Pak Tua batuk satu­ dua, memperbaiki selang di hidungnya, "Baiklah anak muda, bisa kita sambung percakapan m1 besok? Aku sudah kenyang, aku hendak istirahat. Orang tua ini sudah lama sekali tidak berkeliaran, dan tadi kita malah mendaki gunung." Pak Tua bangkit berdiri, meraih tabung oksigen portable di sebelahnya.

N-ou ikut berdiri, hendak membantu Pak Tua menaiki tangga tenda lipat.

Pak Tua melambaikan tangannya. Tidak usah. Beranjak naik sendiri-susah payah sebenarnya.

"Meong." Si Putih yang ikut memperhatikan mengeong.

"Buntut Panjang itu bilang apa?" Pak Tua menoleh.

"Dia bilang, semangat1 Pak Tuai orang terbaik di seluruh Klan Polaris."

Pak Tua terkekeh. Masuk ke dalam tenda lipat.

Tanah lapang di dekat danau itu lengang beberapa. Sisa-sisa makanan telah dibereskan. Peralatan memasak telah disimpan. N-ou belum mengantuk, dia hendak melakukan sesuatu, mengambil kotak peralatan mekaniknya. Melakukan hobi-nya.

Sementara Si Putih, meringkuk dengan ekor melingkar, menonton N-ou yang segera sibuk dengan obeng terbang, solder terbang, dan berbagai alat canggih lainnya.

-- Next Chapter--

Bab 10

Esoknya, N-ou dan Si Putih terbangun bukan oleh cahaya matahari pagi.

Melainkan teriakan mengomel.

HEH, ANAK MUDA!! BANGUUN!!" Pak

Tua berteriak marah. N-ou membuka mata.

Meong." Si Putih ikut bangun, menggeliat. Ada apa?

APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN, HAH? BANGUN ATAU KUSIRAM TENDA

KALIAN ! !" Pak Tua berteriak lagi.

N-ou turun dari tempat tidur, keluar dari tenda lipat. Menahan tawa.

Meong," Si Putih yang ikut turun mengeong menyaksikan apa yang terjadi.

"DASAR ANAK KURANG AJAR! KAMU PASTI PELAKUNYA!"

Pak Tua basah kuyup, separuh kakinya hingga lutut terendam di pinggir danau. Kursi rodanya teronggok di sana. Tapi dia baik-baik saja, hanya basah. N-ou segera membantu mengeluarkan kursi roda itu, Pak Tua melangkah ke rumput kering.

"Kamu apakah kursi rodaku, heh?"

N-ou menyeringai. Dia tahu apa yang barusaja terjadi. Seperti biasa, Pak Tua bangun pagi-pagi, hendak berjemur, menikmati cahaya matahari, naik ke atas kursi rodanya, menggerakkannya maju. Tapi yang dia tidak tahu, kecepatan kursi rodanya telah di otak-atik oleh N-ou tadi malam. Pak Tua menarik tuas seperti biasa, tapi tarikan tuas kemudi itu setara sepuluh kali lipat lebih cepat dengan standar yang baru. Kursi rodanya melesat terbang menuju danau, dia terjungkal.

"Aku membuatnya lebih keren, Pak Tua." N-ou menepuk-nepuk kursi roda itu, mengeringkannya. Benda itu baik-baik saja, anti air.

"Enak saja. Kembalikan kursi rodaku yang lama."

"Eh, ini masih kursi roda yang lama, Pak Tua."

"Kau membuatku nyaris celaka. Kau pasti mengotak-atik kursi rodaku, heh?"

"Aku minta maaf tidak bilang-bilang Pak Tua. Tapi aku tidak bermaksud jahat. Sebaliknya, aku meng-upgrade benda ini." N-ou masih menahan tawa-lucu sekali melihat wajah Pak Tua, jenggotnya basah kuyup, rambut berantakannya juga basah.

"Apanya yang lucu, heh? Kembalikan kursi roda lamaku!"

"Sebentar Pak Tua, tunggu dulu, Iihat, aku melengkapinya dengan banyak fitur baru." N-ou menekan tombol di pegangan, layar hologram muncul, "Lihat, ada sistem pertahanan tameng transparan di dalamnya. Aku memindahkan empat gelang itu di kaki­ kaki kursi roda-aku tidak membutuhkannya lagi, jadi buat Pak Tua saja. Tekan tombol ini misalnya."

Splash.

Tameng transparan terbentuk di depan mereka.

"Meong." Si Putih ikut mengeong.

Keren-kali ini dia sepakat dengan N-ou. "Atau tombol yang ini."

Splash.

Tameng transparan terbentuk di belakang mereka.

"Tapi obat-obatku bagaimana?" lntonasi suara Pak Tua membaik.

"Tenang, Pak Tua. ltu yang paling penting. Malah sekarang Pak Tua tidak perlu repot-repot membawa tabung oksigen itu. Merepotkan. Lihat .11 N-ou mengambil clip dari kantong di belakang kursi roda, "lni konverter oksigen. Tidak perlu lagi tabung atau selang, cukup dipasang di hidung Pak Tua. Benda ini akan mengalirkan 100% oksigen murni. Cobala h.11

Pak Tua batuk satu-dua, baru mengambil benda kecil berbentuk tabung mini dengan penjepit, ragu-ragu memasangnya di hidung-menggantikan selang-selangnya. Mencoba menarik nafas. Terasa dingin. Segar. Paru-parunya segera dipenuhi oleh oksigen segar. Heh, benar juga, alat ini lebih praktis. Menyeringai.

"Tidak jelek." Dengusnya.

N-ou tertawa. Tidak jelek? Ayolah apa susahnya memuji teknologi ini?

Tapi Pak Tua akhirnya memujinya setelah dia sekali lagi mencoba kursi roda itu. Lewat penjelasan dari N-ou dia tahu standar baru kecepatan kursi roda tersebut. Menyesuaikan tuas kemudi dengan kecepatan yang baru, kursi roda itu melesat anggun di atas permukaan danau. Pak Tua terkekeh, ini keren, mencoba berbelok, kursi roda itu dengan mulus berbelok, juga manuver lain, meliuk, naik-turun. Menyentuh permukaan danau, membuat garis panjang. Belum pernah dia merasa seseru ini. Dulu dia membenci benda ini, terpaksa saja memakainya, agar tubuh tuanya tidak perlu banyak bekerja keras. Sekarang, dia seperti pilot pesawat

tempur. Sepertinya dia tidak terlalu alergi lagi dengan teknologi.

Ziiing. Kursi roda itu mendesing, mendarat di samping N-ou dan Si Putih yang sejak tadi menonton. N-ou bertepuk-tangan. Si Putih ikut mengeong.

Semalaman N-ou mengotak-atik kursi roda itu. Bukan agar dia tidak perlu kesal lagi menunggu Pak Tua beringsut maju, tapi petualangan ini sepertinya masih panjang, dia tidak tahu kapan Pak Tua akan menemukan tempat menetap. ltu berarti selama bersama mereka, Pak Tua yang sakit-sakitan ini, perlu memiliki protokol pertahanan sendiri. Agar dia bisa melindungi diri sendiri.

"Bagaimana, Pak Tua?"

"Lumayan." Pak Tua turun dari kursi rodanya.

"Ayolah, Pak Tua. ltu keren loh."

"Cukup bagus.11 Pak Tua mengangkat bahu. Tidak peduli.

"Meong.11

"Buntut Panjang itu bilang apa?"

"Dia bilang, Pak Tua seharusnya memujiku. 11

"Baiklah, baiklah, Buntut Panjang. ltu keren. Terima kasih banyak, anak muda.11 Pak Tua melambaikan tangan, melangkah menuju Paruk Perak, "Aku hendak berganti baju kering. Kamu masih punya rompi lain di bagasi, heh?"

N-ou mengangguk.

"Bagus. Aku juga lapar. Siapkan segera sarapan sekarang."

" M eong.11 Si Putih mengeong. Hore! Sarapan.

N-ou menepuk dahi. Nasib. Kenapa ujian hidupnya semakin hari semakin berat,

dulu Si Putih yang menyuruh-nyuruhnya, sekarang enak sekali Pak Tua ikut menyuruh-nyuruhnya.

***

Benda terbang berwarna perak berkelir keemasan itu kembali mengudara satu jam kemudian. Si Putih meringkuk di kursinya-kekenyangan. Pak Tua sibuk menatap lagi tumpukan perkamen.

N-ou menatap pemandangan di luar. Paruh Perak terbang rendah di atas danau. Terus menuju timur. Danau itu luas, dengan pulau-pulau kecil di tengahnya. Ada banyakjenis burung yang terlihat. Ada yang terbang satu-dua, ada yang terbang bersama kawanannya, ribuan, seperti awan merah, hijau, biru, sesuai warna burung tersebut.

Sesekali N-ou melihat hewan yang melompat keluar dari dalam danau,

menyambar mangsa yang terbang di atasnya. Mungkin itu gurita, atau kepiting terbang yang menangkap serangga, tidak sempat memperhatikan, N-ou bergegas menaikkan ketinggian Paruh Perak-dia tidak ingin tiba-tiba benda terbangnya disambar penghuni danau ini.

Empat jam perjalanan, danau itu terlampaui, mereka tiba di hutan lebat berikutnya. Cuaca buruk langsung menyambut, langit biru digantikan oleh kabut tebal. Membuat jarak pandang terbatas. Tidak ada lagi pemandangan indah, hanya kabut sejauh mata memandang.

11 M eong." Si Putih menempelkan wajah di jendela kaca yang berembun.

Pak Tua tidur-mendengkur.

11Menurut mu bagaimana, Put?" N-ou bertanya.

Bukan bertanya soal Pak Tua yang berisik mendengkur, melainkan soal kabut di sekitar mereka. Sejak tadi N-ou mengurangi kecepatan benda terbang. Lebih berhat-hati. lni pengalaman baru baginya. Entah darimana asal kabut ini, semua terlihat kelabu. Suram.

"Meong."

N-ou menggeleng. Dia sudah mencoba menaikkan ketinggian Paruh Perak tadi, cuaca di atas sana bertambah buruk. Awan tebal hitam memenuhi langit, petir menyambar berkali-kali, juga gemeretuk guntur, kembali menurunkan benda terbang.

"Meong."

N-ou menggeleng lagi. Dia juga sudah memikirkan opsi itu, mendarat, menunggu hingga kabut menghilang. Tapi hanya hutan lebat yang ada di bawah

sana. Pohon-pohon menjulang ratusan meter, dengan kabut itu juga tetap ada. ltu situasi yang mengkhawatirkan, mereka tidak tahu apa yang telah menunggu di balik pohon-pohon besar itu. Berbahaya.

11 At au kita kembali ke danau sebelumnya, Put?"

11M eong."

N-ou menghela nafas perlahan. Si Putih juga benar, mereka sudah terlanjur masuk jauh ke dalam kabut ini. Boleh jadi sedikit lagi terlewati, kembali ke danau tidak menjamin kabutnya menghilang. Mungkin sudah menyebar hingga ke sana.

Pak Tua masih mendengkur.

N-ou memperhatikan layar hologram lebih seksama, kecepatan benda terbang mereka tinggal seperempat normal, dia

telah mengaktifkan sensor gerak, agar benda terbang tidak menabrak apapun yang bergerak di dalam kabut. Lampu Paruh Perak tidak banyak membantu, jarak pandang mereka tetap terbatas. Entah mereka berada di mana sekarang. Kabut ini mengganggu alat-alat navigasi.

Ctar!

Petir menyambar terang. Beberapa ratus meter di depan mereka.

11 M eong." Ekor Si Putih tegak berdiri. Matanya menatap tajam.

11Tenang, Put. Benda terbang kita telah dilengkapi anti petir."

Ctar!

Petir itu menyambar lagi.

11W ow." Mata N-ou membulat. ltu jenis petir yang aneh sekali, ada lintasan api

menyala di langit-langit. Mana ada petir seperti itu.

"Meong." Si Putih mengeong lagi. "Ada apa, Put?"

"Meooong."

"Kamu melihat apa?"

N-ou mencengkeram tuas kemudi, benda terbang itu terus maju, sedikit terbanting oleh hempasan angin kencang. Entah dari mana angin tadi, tidak terlihat di layar navigasi. Sensornya menatap gerakan empat benda besar di atas sana? ltu awan? Kenapa bisa bergerak kesana­ kemari.

Ctar!

Larikan api panjang kembali terlihat.

"Meooong." Suara Si Putih terdengar berbeda.

"Hei, ada apa, Put?" N-ou menoleh, belum pernah dia mendengar meong seperti itu. Kucing ini tidak pernah takut menghadapi apapun. Meong-nya selalu yakin, mantap. Tapi kali ini, suaranya berbeda. Bukan takut, tapi sangat waspada. Seolah ada kekuatan besar di sekitarnya.

lnsting tajam Si Putih merasakan sesuatu?

CTAR!

Terang sekali larik api itu. Mereka sudah dekat dengan sumbernya. Angin kencang kembali menghempaskan benda terbang. N-ou berusaha mati-matian menjaga keseimbangan Paruh Perak. Kabut tersibak.

"Meong."

N-ou mendongak, menatap ke atas.

Astaga ! N-ou berseru tertahan.

"ROOOAAAA R11 Sesuatu yang terbang di atas mereka meraung kencang. Membuat benda terbang yang mereka naiki bergetar.

ltu adalah pertemuan pertama N-ou dengan hewan penguasa alam liar Klan Polaris. Larik api panjang itu keluar dari moncong hewan tersebut. Sayapnya terkembang lebar tak kurang dua puluh meter, mengepak-ngepak membuat angin kencang, sementara tubuhnya yang dilapisi sisik baja berwarna gelap meliuk di udara, panjangnya tiga puluh meter. Empat kakinya dilengkapi cakar sebesar betis manusia, mengkilat. Begitu fantastis. Begitu mengerikan.

" ROOOAAAR! 11 Hewan itu meraung lagi.

"ltu mahkluk apa?11 N-ou bertanya dengan suara serak-dia tahu itu hewan

apa, dia pernah melihat gambarnya, tapi melihatnya sendiri secara langsung, N-ou merasa ini hanya mimpi.

"Naga." Pak Tua yang menjawab. Pak Tua sudah bangun sejak benda terbang mereka terbanting berkali-kali oleh angin. Dia ikut mendongak, menatap hewan itu yang terbang seratus meter lebih tinggi di atas sana.

"Naga-" N-ou menelan ludah. "Meong." Si Putih memperingatkan. CTAR!!

Larikan api panjang merobek kabut. Ujung api itu nyaris menyambar Paruh Perak-N-ou membanting kemudi, terlambat sepersekian detik, Paruh Perak dipanggang oleh api itu.

Tetapi bukan mereka sasaran lidah api dari mulut naga itu. Melainkan empat

burung phoenix yang sedang bertarung melawannya. N-ou mengusap mata, tidak percaya apa yang dia lihat. Astaga? Dia tidak pernah membayangkan akan melihat naga dalam hidupnya. Bahkan di Klan Polaris, hewan itu hanya legenda. Juga burung phoenix, itu juga hanya mitos dalam dongeng atau buku cerita yang dulu diceritakan lbu. Tapi sekarang.... N-ou menyaksikannya langsung. Dalam salah-satu pertarungan paling epik di Klan Polaris. Rombongan N­ au tidak sengaja melewati lokasi tersebut.

Sayap burung itu mengembang menyala­ nyala, ekornya panjang dengan bulu-bulu runcing. Paruhnya kokoh, dengan leher panjang. Empat burung api itu balas mengirimkan lidah api, menyambar naga.

CTAR! CTAR!

Naga meliuk, menghindarinya. Empat ledakan besar di udara. Bagai kembang api malam tahun baru kota E-um ukuran raksasa.

"ROOOAAAR!" Naga kembali meraung, merangsek maju, ekornya melenting memukul salah-satu burung phoenix terdekat, tidak sempat menghindar, burung itu terpelanting di tengah kabut.

N-ou menelan ludah. Tangannya yang memegang kemudi mencengkeram erat­ erat. Dia tidak pernah membayangkan

pertarungan sehebat ini. lalu dia memutuskan dinding menjulang itu,

Baru dua hari meninggalkan berpetualang

menuju timur, baru dua hari lalu.... Hari m1, dia menyaksikan hewan-hewan legenda ini bertarung.

"Anak muda, kita harus meninggalkan lokasi ini." Pak Tua berseru. Sekali lagi

benda terbang mereka terbanting oleh angin.

N-ou mengangguk, Pak Tua benar, pertarungan ini amat berbahaya. Mereka sebenarnya terpisah ratusan meter dari ground zero pertarungan, tapi sambaran ujung lidah api, hempasan angin, bisa membuat benda terbang mereka rusak parah. N-ou segera menarik tuas kemudi, menambah kecepatan Paruh Perak.

Saat itulah, ketika benda terbang

meninggalkan lokasi matanya melihat

pertarungan, sosok yang

menunggangi naga itu. Samar di antara kabut tebal, dia bisa menyaksikannya, sosok itu mengenakan pakaian gelap sesuai warna sisik naga. Juga empat burung phoenix. Ada sosok-sosok manusia di atas burung itu. Mengenakan pakaian berwarna merah menyala. ltu bukan hanya pertarungan naga melawan

empat phoenix, tapi juga melibatkan petarungan manusia.

Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin? "ROOOOAAAR!"

Suara raungan naga samar terdengar di belakang mereka, Paruh Perak telah menjauh beberapa klik. Tapi suara itu .... Tetap mengerikan mendengarnya.

-- Next Chapter--

Bab 11

Mereka masih terbang satu jam lagi, ketika N-ou melihat sesuatu yang menarik di bawah sana. Masih di atas hamparan pohon kaktus yang semakin rapat dan tajam duri-durinya.

"Kamu tahu itu apa, Put?" N-ou bertanya. "Meong." Si Putih menggeleng.

"Pak Tua, bangun." N-ou berseru. Pak Tua membuka matanya.

Mereka terbang dengan ketinggian enam ratus meter, di bawah sana, di tengah hutan kaktus yang lebat, ada hamparan padang rumput. Tapi luasnya tidak akan lebih dari satu klik, paling hanya dua puluh atau tiga puluh kali lapangan bola. ltu rumput jenis apa? Tumbuh rapi, dengan jalur-jalur seperti jalan setapak.

Kenapa ada di tengah hutan kaktus? Ganjil sekali.

Mata Pak Tua menyipit. lkut memperhatikan.

"Turunkan benda terbang ini, anak muda."

"Turun? Eh?"

Pak Tua mengangguk mantap, wajahnya semangat.

"Tunggu apa lagi? Kita telah menemukan pemukiman penduduk."

N-ou menoleh ke Pak Tua. Mana ada pemukimannya? Tidak ada bangunan apapun di sana. Jangan bergurau.

"Meong." Si Putih yang wajahnya menempel di jendela kaca setuju, dia ingin turun.

Baiklah. N-ou menarik tuas kemudi, benda terbang itu meluncur turun

mendekati padang rumput ganjil. Berputar sejenak, mencari lokasi pendaratan. Ada tanah lapang di tengah­ tengahnya, Paruh Perak parkir di sana, mengambang setengah meter. N-ou membuka jendela kaca, lompat turun, disusul oleh Si Putih, dan Pak Tua yang susah-payahikutturun.

Dari jarak sedekat ini, N-ou tahu, rumput ini memiliki bulir buah di ujung-ujungnya. Dia sepertinya tahu, m1 biji-bijian, gandum, padi, atau apalah. lni bukan tumbuhan liar, ada yang menanamnya. Pak Tua benar, mereka telah menemukan pemukiman penduduk. Tapi di mana? Padang rumput ganjil ini dikelilingi pohon kaktus rapat, seperti benteng yang melindungi.

"Meong."

N-ou menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Si Putih.

Di sana, terpisah jarak sepuluh meter, hamparan tanah lapang terlihat bergerak, seperti ada benda mekanik yang sedang bekerja. Lima detik, sebuah lubang diameter empat meter terbuka, dan dari dalamnya, keluar empat orang membawa tombak panjang berwarna hijau. Wajah mereka siaga, tombak-tombak itu teracung. Ada gemeretuk percik listrik di ujung tombak.

"Wow-" N-ou berseru. Separuh kaget, separuh lagi antusias.

Dia tahu sekarang, pemukiman itu ada di bawah tanah. Terlindungi dari alam sekitar. Sama seperti gua di perut gunung.

Empat orang itu maju serempak, tombak mereka tetap teracung.

"Wahai, tahan tombak kalian." Pak Tua yang telah berhasil turun, duduk di kursi

rodanya berseru, mengangkat tangan. Membuat N-ou bergegas memperbaiki posisi, tadi dia saking semangatnya, hendak mendekat, ingin tahu itu tombak apa. Polos mengira acungan tombak itu ucapan selamat datang atau tarian penyambutan. Tuan rumah jelas waspada dengan kedatangan mereka.

"Kami tidak bermaksud jahat." Pak Tua sekali lagi bicara. Batuk satu-dua, memperbaiki posisi konverter oksigen.

Empat orang itu saling tatap. Menimbang. Pak Tua ini jelas tidak berbahaya, mana ada bahaya dari orang yang sakit-sakitan duduk di atas kursi roda. Juga anak muda ini, tinggi besar, mungkin berbahaya, tapi wajahnya yang asing baru saja tersenyum-senyum adalah simbol keramahan yang universal. Kucing ini? Lucu. Tidak ada bahayanya.

Mereka sekali lagi saling tatap, menurunkan tombak.

"Siapa kalian?" Salah-satu berseru. Syukurlah, bahasa mereka sama.

"Kami petualang." Pak Tua menjawab­ sedikit bergaya seolah sedang berdiplomasi, "Kami terbang melintasi alam-alam liar Klan Polaris. Tidak sengaja melihat pemukiman ini."

"Apa tujuan petualangan kalian?"

Pak Tua diam sejenak, "Menambah wawasan. Menimba ilmu pengetahuan."

N-ou hendak menyikut Pak Tua. Heh? Mana ada mereka sedang menambah wawasan? Rombongan mereka hanya berkelana tidak tahu arah. Apalagi menimba ilmu pengetahuan?

"Kenapa kalian berhenti di ladang gandum kami?"

"ltu mudah menjelaskannya," Pak Tua mengangguk takjim, "Kami lapar. Mungkin kalian punya makanan untuk rombongan kami."

Heh? N-ou menoleh. Tidak salah? Mereka baru bertemu dan Pak Tua meminta makan. Lama-lama Pak Tua mirip dengan Si Putih, selalu makan yang ada di pikiran.

Tetapi jawaban Pak Tua jitu. Pemukiman itu adalah milik para petani. Mereka adalah penduduk yang bersahaja dan ramah-sepanjang tamu yang datang tidak berniat jahat. Menjamu tamu adalah tradisi kebanggaan bagi mereka. Jadi jawaban Pak Tua efektif, salah-satu penduduk mengangguk, berseru ke bawah lubang, memberitahu penduduk yang juga berjaga-jaga di sana. Kemudian dia melambaikan tangan, menyuruh rombongan mengikutinya.

Si Putih melangkah anggun lebih dulu, ekornya bergelung di belakang. Disusul Pak Tua dengan kursi rodanya yang berdesing pelan. Terakhir N-ou. Mereka menuruni anak tangga yang terbuat dari batu, tak kurang dua puluh undak, terus turun. Tiba di lorong terang, dengan lampu-lampu alamiah di dindingnya, berjalan di lorong itu, empat puluh meter, akhirnya tiba di pemukiman.

"Wow." N-ou berseru-dia selalu takjub melihatnya.

"Meong."

Pak Tua mengelus-elus jenggotnya­ masih bergaya.

lni sama kerennya dengan ruangan besar di perut gunung. Lebih sedikit rumahnya, hanya tigapuluh atau empat puluh. Tapi karena pemukiman ini dipenuhi penduduk, jelas itu lebih menarik.

N-ou menatap penduduk yang menyambutnya. Para petani. Orang tua, penduduk dewasa, remaja, juga anak­ anak kecil yang sibuk bermain, berkejaran, tidak peduli ada orang asing yang mengunjungi pemukiman. N-ou menatap wajah-wajah ingin tahu itu, satu-dua berbisik-bisik, menunjuk. Wajah-wajah penasaran. N-ou tersenyum-senyum milik lbunya yang ramah. Membuat penduduk ikut tersenyum. Rumah-rumah penduduk terbuat dari tanah liat, beberapa bertingkat. Terlihat kokoh, dengan jendela kayu lebar. Jalanan ditata rapi, ada banyak pohon-pohon di ruangan besar ini. Terang, tidak gelap, dan tidak pengap. lni seperti berada di permukaan. Penduduk mengenakan pakaian warna­ warni terang. Beberapa mengenakan penutup kepala dari kain panjang.

"Selamat datang di suku kami." Salah­ satu tetua menyambut. Membungkuk.

"Terima kasih, Kepala Suku. lni sambutan yang sangat indah." Pak Tua ikut mengangguk takjim. Bukan main, Pak Tua itu sudah mirip ahlinya berdiplomasi, dan merasa rombongan mereka super penting.

"Maaf, bukan saya Kepala Suku-nya. Tapi yang satu itu." Tetua tadi meluruskan.

"Oh?"

N-ou hendak tertawa melihat wajah salah-tingkah Pak Tua. Dasar sok tahu. Tapi batal, Ketua Suku yang asli telah menyambut ramah. Rombongan dibawa menuju pusat pemukiman, ada rumah pertemuan di sana, dengan meja panjang dari kayu dan kursi-kursi.

"Lama sekali kami tidak menerima tamu." Ketua Suku bicara setelah menyilahkan

tamunya duduk, "Sekitar lima tahun terakhir."

"Apakah itu sejak wabah penyakit?" N-ou bertanya.

"Benar sekali." Ketua Suku mengangguk.

"Bagaimana kalian bertahan dari wabah penyakit?" N-ou bertanya lagi. Pemukiman ini jelas tidak terkena dampak pandemi tersebut.

Salah-satu tetua menjelaskan, "Kami memiliki kebijaksanaan sederhana. Suku Petani sejak dulu hidup dengan kelompok kecil seperti yang kalian lihat. Sekali ada kabar tentang wabah penyakit, maka pintu ditutup, penduduk di dalam tidak bisa keluar, penduduk yang dalam perjalanan pulang tidak bisa masuk, hingga semua berakhir."

N-ou mengangguk. Benar juga, cara sederhana itu bisa menyelesaikan

masalah pandemi. Tapi itu tidak bisa digunakan di kota-kota modern dengan pergerakan penduduk tinggi. Pemukiman ini jauh dari manapun, terisolasi. Hutan kaktus itu selain mencegah hewan liar menyerang ladang gandum, juga mengisolasi pemukiman ini dari peradaban luar.

"Kalian berasal dari mana?" "Kata-"

Pak Tua lebih dulu menginjak kaki N-ou di bawah meja.

"Padang rumput." Pak Tua 'meluruskan'.

"Anak muda ini tadi bilang kota. Kalian tidak berasal dari kota-kota sialan itu, bukan?" Salah-satu tetua menyelidik. Dia jelas tidak suka mendengar istilah 'kota' disebut.

"Maksudnya, kami datang dari padang rumput tidak jauh dari kota-kota itu, dekat gunung-gunung bersalju. Tapi kami tidak berasal dari kota-kota itu." Pak Tua berusaha meyakinkan.

"Kalian suku apa?"

"Suku Pemburu, tepatnya pemburu banteng. Wah, ada banyak sekali banteng di padang rumput." Pak Tua mengelus­ elus jenggotnya-seolah baru kemarin dia menangkap satu banteng itu.

Tetua suku menatap menyelidik. Separuh sangsi.

"Bagaimana kalian memperoleh benda terbang itu? Bukankah itu dari kota-kota sialan itu ?"

"Eh, iya, tapi tidak juga," Pak Tua menggeleng-dia sedang berpikir cepat mengarang jawaban, "Benda itu memang kami peroleh dari kota, hanya untuk

membantu perjalanan. Sedikit teknologi modern, tidak akan berakibat buruk. Seperti tombak-tombak kalian, mengeluarkan percik listrik, bukankah itu teknologi?"

"Benar." Salah-satu tetua menimpali, "Aku bertahun-tahun berusaha meyakinkan Suku kami soal itu. Sedikit teknologi tidak akan merusak alam sekitar."

"Aku juga setuju, tapi definisi sedikit itu apa?" Yang lain ikut bicara, "Hari ini kita memasang lampu-lampu canggih itu, listrik mereka menyebutnya. Besok kita membendung aliran sungai. Mengeduk tanah, memotong gunung. Menghancurkan semuanya. Keseimbangan alam liar rusak. Hewan­ hewan marah. Virus-virus itu bermutasi."

"Sedikit artinya cukup untuk keperluan, Kawan."

"Masalahnya keperluan manusia itu apa? Kita baik-baik saja tanpa harus memerlukan benda terbang misalnya. Tapi jika terus rakus, hancur lebur seluruh alam liar, tetap kurang."

"Maksudku, mereka tentu memerlukan benda terbang, Kawan. Mereka berpetualang, Suku Pemburu, beda dengan kita yang menetap, Suku Petani. Jadi benda terbang itu bisa dipahami."

"Terserah. Aku tetap tidak pernah menyukai kota-kota dengan teknologi sialan itu. Merekalah yang merusak alam sekitar, membawa malapetaka bagi seluruh Klan. Lantas berlindung dengan aman dibalik selaput tipis kota mereka. Belum lagi tembok tinggi yang mereka dirikan, membelah Klan menjadi dua. Timur dan Barat. Memisahkan leluhur kita."

"Heh, kenapa kita membahas kota-kota itu. Tembok tinggi. Percakapan ini jadi kemana-mana. Tamu kita ini tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka. Hanya karena mereka membawa benda terbang, bukan berarti rombongan ini bagian dari mereka."

"Aku tidak bilang mereka bagian dari kota-kota itu. Kamu yang membuat percakapan ini kemana-mana dengan membawa-bawa kota-kota itu. Logikamu selalu saja menyebalkan."

Perdebatan di meja panjang itu mulai memanas. Wajah-wajah bersitegang. N­ au menelan ludah, dia sepertinya bisa memahami kenapa penduduk pemukiman ini tidak menyukai kota-kota modern. Dan kenapa Pak Tua tadi bergegas menginjak kakinya. Pak Tua sekali lagi benar mengambil posisi, keliru menjawab pertanyaan, mereka bisa

diusir dari pemukiman itu. Atau lebih serius lagi, harus bertarung lebih dulu. Si Putih asyik menjilati badannya, meringkuk di kursi sebelah.

"Ayolah, para Tetua," Kepala Suku yang tadi diam mengangkat tangannya, menyuruh dua tetua itu berhenti berseru-seru, "Kita tidak akan bertengkar saat menjamu tamu, bukan? ltu bukan tradisi luhur Suku Petani. Mari tunjukkan keramahan suku kita."

Tetua yang lain mengangguk-angguk.

Dua tetua yang bersitegang terdiam. Benar juga, "Maaf."

"Ah, bicara tentang banteng, aku pernah bertemu kawanan banteng. ltu menakutkan." Tetua lain telah lompat ke topik lain, lupakan perdebatan barusan.

"Berapa jumlah kawanan banteng itu?" Pak Tua bertanya.

"Dua puluh."

"ltu sih sedikit. Kami pernah menghadapi ratusan ribu banteng mengamuk." Pak Tua berkata mantap-tapi itu benar, bukan bualan.

"Astaga? Ratusan ribu? Dan kalian selamat?"

"Tentu saja. Anak muda itu," Pak Tua menunjuk N-ou, "Adalah anggota Suku Pemburu paling hebat, dia bisa mengatasinya."

"Sungguh? Aku percaya itu. Lihatlah, anak muda ini gagah sekali."

"Benari Benari Dia lebih mirip keturunan bangsawan."

Wajah N-ou sedikit memerah. Pak Tua mulai ngelantur-dan peserta jamuan itu percaya saja omongannya.

Percakapan terus berlangsung, sementara makanan dan minuman mulai dihamparkan di atas meja. Nyaris tidak ada celah yang tersisa, semua diisi oleh tumpukan makanan dan minuman segar. ltu jamuan besar. "Meong." Si Putih terlihat antusias, matanya menatap makanan lezat.

"Mari bersulang untuk tamu kita." Ketua Suku mengangkat gelas berisi air madu.

"Bersulang."

"Untuk Suku Pemburu." "Bersulang."

"Untuk pemburu paling hebat, anak muda ini, penakluk ratusan ribu banteng."

"Bersulang."

Demi sopan-satun, N-ou terpaksa mengangkat gelasnya.

"Ayo, jangan malu-malu, silahkan dinikmati jamuan kami."

"Meong." Si Putih sudah lompat duluan, ekornya yang panjang menarik piring berisi tumpukan daging lezat. Peserta jamuan tertawa melihatnya, sejenak membahas tentang kucing itu.

Lantas pindah lagi ke topik-topik berikutnya.

"Apakah ada pemukiman lain di sekitar sini?" N-ou bertanya, dia memutuskan mengumpulkan informasi.

"Tentu saja ada. Kalian telah tiba di kawasan Penguasa Gunung Timur. Semakin ke sana, semakin banyak pemukiman, hingga ibukota E-sok."

"lbukota E-sok?"

"Kamu belum pernah mendengarnya?" N-ou menggeleng polos.

"Wah, Kawan, untuk petualang sepertimu, itu mengherankan. Semua orang tahu tentang lbukota E-sok di perut Gunung Timur, Gunung Matahari Tenggelam."

"Dia baru kali ini berpetualang," Pak Tua lagi-lagi menginjak kaki N-ou, dasar anak muda ceroboh, kamu seharusnya lebih hati-hati bicara, "Begitulah, dia hanya menghabiskan waktu di padang rumput sejak kecil, hingga orang tuanya meninggal beberapa minggu lalu. Aku memutuskan mengajaknya berpetualang, melupakan kesedihan."

"Ahh, jika demikian, bisa dipahami dia tidak tahu ibukota E-sok yang megah. Aku ingat, Kawan kita yang satu itu juga setelah rambutnya beruban baru dia keluar melihat dunia." Tetua lain yang tadi bertengkar menunjuk lawannya.

"Enak saja. Kamu lupa fakta, jika aku lebih dulu pergi ke ibukota itu dibanding kamu." Lawannya tidak terima.

"ltu betul. Tapi setidaknya, aku sudah beberapa kali ke ibukota itu, Kawan. Tidak hanya sekali." Tidak mau kalah.

"Hentikan !" Ketua Suku melotot, "Kalian berdua bisa dikeluarkan dari anggota jamuan meja panjang. Kita tidak berdebat di depan tamu. ltu bukan tradisi Suku Petani."

"Maaf."

Sementara itu, makanan dan minuman di atas meja mulai habis. Tapi jamuan itu belum berakhir. Penduduk menarik piring-piring kosong, gelas-gelas kosong, menggantikannya yang baru. "Meong." Si Putih mengeong lagi, ekornya bergerak­ gerak. lni keren. Ronde kedua jamuan itu dimulai.

"Ngomong-ngomong apakah kalian tahu tentang pertarungan Para Pengendali Hewan?" Kali ini Pak Tua yang bertanya. Di tengah gayanya yang menyebalkan, dia juga mengumpulkan informasi-tapi lebih hati-hati.

Meja panjang itu terdiam sejenak, tetua saling pandang.

"Kami tidak sengaja melewati hutan berkabut beberapa jam lalu. Ada naga- 11

"Kalian melihatnya?" Salah-satu tetua memotong.

Pak Tua mengangguk, "lya, kami melihat pertarungan Naga melawan empat burung Phoenix. Dengan Para Pengendali Hewan di atasnya."

Ketua Suku menahan nafas-juga tetua yang lain.

"Kalian nekad sekali pertarungan itu."

menonton

"Benar. Tidak ada penduduk Gunung Timur yang bahkan mau berada di antara kabut itu. Kalian benar-benar Suku Pemburu yang berani."

"Sebenarnya kami tidak sengaja melewatinya. Kabut tebal, benda terbang kami tersesat," Pak Tua 'merendah', "Tapi apa maksud pertarungan hidup mati itu?"

Meja panjang itu lengang lagi sejenak. Hanya Si Putih yang asyik makan. Tidak peduli.

"Kalian tidak tahu siapa penunggang hewan-hewan itu?"

Pak Tua mengangkat bahu. Dia juga barusaja berpetualang, wajar dong tidak tahu kabar dunia luar.

"Naga itu dikendalikan oleh Raja Gunung Timur, penguasa tunggal kawasan timur Klan Polaris. Sedangkan empat phoenix itu dikendalikan oleh empat Menteri­ nya." Ketua Suku akhirnya menjelaskan.

Apa yang terjadi? Pak Tua sekali lagi mengangkat bahu.

"Kalian berpetualang di waktu yang kurang tepat. Pertikaian kekuasaan sedang terjadi. Sejak lima tahun terakhir, sejak pandemi meletus, perbedaan pendapat Raja dan empat Menteri-nya semakin runcing. lni buruk, sudah sejak beberapa waktu lalu terbetik kabar dari

ibukota, mereka akan menyelesaikannya.

Pengendali Hewan."

bertarung untuk

Tradisi para

"Tapi kenapa mereka bertarung?"

"Banyak penyebabnya. Lihatlah, di meja panjang ini, tetua Suku Petani tidak akur,

sering bertengkar. Apalagi mengurus kekuasaan yang besar. Tapi itu pasti sesuatu yang serius sekali jika mereka sampai bertarung. Raja dan empat Menteri adalah kawan dekat. Mereka adalah Pengendali Hewan yang hebat, menunggang hewan-hewan legendaris Klan Polaris, berteman sejak muda. lni menyedihkan, perpecahan terjadi di ibukota E-sok."

11 Pengendali Hewan menguasai ibukota E­ sok?"

11 lya. Kawasan Gunung Timur diperintah oleh Para Pengendali Hewan sejak dulu. Mereka menguasai politik, pemerintahan, ekonomi, ibukota, semuanya, karena mereka memiliki kekuatan. Tidak semua penduduk memiliki kekuatan itu, kebanyakan hanya penduduk biasa seperti penghuni pemukiman ini. Sebagian pengendali

hewan itu bersifat jahat, menggunakan kekuatan untuk berkuasa. Tapi sebagian lagi tidak. Raja Gunung Timur misalnya, dia dicintai oleh penduduk. Saat wabah penyakit meletus lima tahun terakhir, dia berhasil menyelamatkan penduduk. Belum pernah dalam sejarah wabah penyakit Klan Polaris, nyaris tidak ada korban jiwa di ibukota E-sok. ltu berkat kepemimpinannya."

Tetua mengangguk-angguk.

"Bersulang untuk Raja Gunung Timur. Penguasa Matahari Tenggelam."

"Bersulang."

Gelas-gelas kembali terangkat.

"Ngomong-ngomong, mengerikan pertarungannya?"

itu pasti menyaksikan

"Lebih dari mengerikan. Suara menggelegar memenuhi langit. Nyala api menyambar ratusan meter, bagai petir besar. Kepak sayap hewan-hewan itu, seperti angin badai."

Peserta jamuan termangu. Satu-dua sampai salah menyendok makanan.

"ltu mengerikan sekali."

"Tapi baiklah, kita tidak akan membahas hal itu dalam jamuan ini." Ketua Suku menghentikan topik percakapan tersebut, "Ayo, mari kita bahas hal yang lebih menyenangkan. Misalnya tentang anak muda ini, apakah dia tidak berniat mencari jodoh dalam perjalanan? Mungkin gadis dari Suku Petani menarik hatinya."

"Ah, benar-benar. Kamu harus tahu, gadis Suku Petani cantik-cantik, dan patuh." Tetua perempuan yang ikut jamuan

menimpali. Terlihat antusias membahasnya.

N-ou berusaha tersenyum sesopan mungkin.

"Dia pemalu. Tidak pernah naksir ataupun ditaksir anak gadis." Pak Tua terkekeh-ikut semangat menjahili N-ou.

"ltu justeru bagus. Anak muda gagah yang pemalu seperti dia, lebih menarik lagi. Ah, ayolah, kamu suka gadis dengan rambut panjang, pendek, atau bagaimana?"

"Meong." Si Putih mengeong. Kasihan, itu maksudnya.

Nasib. N-ou buru-buru meraih gelas, menenggak air minum seperlahan mungkin, agar tidak segera menimpali kalimat para tetua. Ujian hidupnya semakin bertambah saja.

-- Next Chapter--

Bab 13

Keramahan Suku Petani itu tidak hanya terhenti hingga jamuan makan di meja panjang. Dua jam kemudian, saat mereka siap melanjutkan perjalanan, penduduk memberikan banyak makanan dan hadiah. Membuat bagasi benda terbang penuh-sesak. Mereka harus menolak sebagian benda-benda itu, karena siapa pula yang akan membawa karung-karung besar berisi gandum?

Pak Tua melambaikan tangan, dia sudah di kursinya.

11M eong. 11 Si Putih menggerakkan ekornya, menatap ke bawah.

Di lapangan, puluhan penduduk Suku Petani balas melambaikan tangan.

N-ou menarik tuas kemudi, benda terbang mereka menuju ketinggian, sekali lagi melambaikan tangan untuk terakhir kali, ziiing, Paruh Perak melesat meneruskan perjalanan.

"Meong." Si Putih tidur telentang di kursi. Perutnya buncit. Dia kekenyangan.

Pak Tua meluruskan kaki, menepuk­ nepuk jenggotnya yang menyisakan remah makanan.

N-ou memutuskan diam saja. Dia tidak mau memancing percakapan menyebalkan. Tadi lama sekali dia 'bertahan hidup' saat seluruh peserta jamuan meja panjang membahas perjodohan antar suku dan sebagainya. Dasar menyebalkan.

Benda terbang itu terus menuju timur.

Hutan kaktus itu digantikan padang rumput dengan sungai-sungai besar.

lnformasi dari tetua tadi akurat, sepanjang perjalanan N-ou bisa melihat satu-dua pemukiman lain di luar sana. Tetap tidak terlihat bangunan rumah­ rumahnya, tapi menelisik kondisi di permukaannya itu pasti ada pemukiman bawah tanahnya. Di salah-satu sisi sungai

besar itu dengan bundar.

misalnya, ada dermaga kayu, perahu-perahu berbentuk ltu pasti milik penduduk,

mungkin Suku Nelayan. Atau di sisi lain, N-ou menyaksikan lapangan rumput yang dikelilingi pagar, ratusan ekor sapi ada di dalamnya. ltu juga pasti milik penduduk, mungkin Suku Pemerah Susu.

Empatjam terbang tanpa henti. Matahari bersiap tenggelam.

N-ou menatap bola raksasa berwarna merah di horizon kaki langit.

"Meong." Si Putih ikut menatap pemandangan.

"Buntut Panjang itu bilang apa?" Pak Tua bertanya, dia juga ikut menatap matahari.

Mataharinya bu/at sekali. N-ou menjelaskan.

"Memangnya kucing itu paham soal matahari tenggelam?"

Begitulah. Kucing ini pencinta sunset dan

sunrise.

"Meong." Si Putih mengeong, tidak lucu.

"Nah, Buntut Panjang itu sekarang bilang apa?"

N-ou tertawa.

Kali ini, mereka tidak buru-buru mendarat, mencari lokasi bermalam. N­ ou sengaja menikmati pemandangan matahari tenggelam. ltu berarti satu jam lagi mereka terbang ke arah matahari. Seolah benda terbang itu akan ditelan

oleh bola raksasa merah itu. Sebelum kalian protes, di Klan Polaris, matahari tenggelam memang di timur.

Hingga seluruh bola itu hilang. Sekitar mereka gelap.

"Meong." Si Putih mengeong.

"Siap, Put." N-ou mengangguk, menarik tuas kemudi. Dia juga telah melihat lokasi yang ditunjuk oleh Si Putih, ada tanah lapang di dekat sungai besar. Tempat itu bisa untuk bermalam.

Benda terbang mereka segera meluncur turun.

***

Ritual malam dilakukan. N-ou melemparkan tenda lipat, Si Putih menekan tombolnya, tenda itu membesar. N-ou memasang tonggak­ tonggak di sekeliling tenda, mengaktifkan

dinding transparan, melindungi kemah dari hewan luar.

Pak Tua santai di kursi rodanya. Menatap sungai besar di depan mereka. Air mengalir tenang, suara serangga dan hewan kecil sungai lainnya terdengar nyaring.

N-ou tidak perlu memasak malam itu, dia membuka bungkusan makanan dari Suku Petani. Bertiga, mereka mulai menikmati makan malam.

"Apakah Pak Tua punya keluarga?" N-ou bertanya, mencomot topik percakapan.

"Punya. Tapi mereka sudah mati semua."

Jika dia belum mengenal Pak Tua selama empat hari terakhir, jawaban itu terdengar sangat kasar. Tapi itulah Pak Tua, dia selalu terus-terang, dan santai menyikapi masalah apapun.

"Meong." Si Putih mengeong.

"Buntut Panjang bilang apa? Dia sedih mendengar jawabanku."

N-ou menggeleng. Si Putih tidak membahas itu. Kucing itu bilang, sudah 24 jam Pak Tua tidak sering batuk-batuk lagi.

"Ah kamu benar, Buntut Panjang." Pak Tua mengangguk-angguk, terkekeh, "Aku merasa lebih sehat. Sepertinya pergi bersama rombongan aneh kalian menyehatkanku."

Mereka meneruskan makan. Suara serangga terdengar berirama. Di langit sana, dua bulan sabit terlihat. Satu menggelantung di barat, satu di timur.

"Penduduk Suku Petani tadi, mereka sepertinya membenci kota-kota modern." N-ou lompat ke topik percakapan lain.

"Yeah. ltu bisa dipahami. Mereka punya alasan kuatnya. Manusia merusak keseimbangan alam. Kota-kota modern itu menghabisi banyak lahan, mengeduk tambang, menghisap sumber daya. Hutan-hutan ditebang, tanah dilubangi. Teknologi-"

"Teknologi tidak merusak apapun, Pak Tua. ltu hanya alat. Seperti kebanyakan alat, tergantung manusia yang menggunakannya. Bisa untuk kebaikan, atau sebaliknya untuk keburukan."

"Sama saja. Jika teknologi itu tidak pernah ditemukan, toh semua baik-baik saja. Manusia tetap bisa hidup dengan baik bersama alam tanpa teknologi apapun. Tidak mengganggu hewan­ hewan, virus."

N-ou menggeleng. Tapi dia tidak langsung menanggapi.

Dia tahu betapa sakitnya dampak pandemi itu. Dia berpisah dengan Ayah, lbu, dia nyaris meninggal malam itu. Berjuang sampai detik terakhir, di dibantu oleh Si Putih. Bertahun-tahun hidup di alam liar, dia juga menyukai kehidupan barunya ini. Tapi menyalahkan kota-kota modern, membenci penduduknya, itu juga tidak adil. Wabah penyakit itu bisa muncul kapan pun, di mana pun, tidak ada yang tahu sumbernya.

Lihatlah, mereka juga korban. Jutaan penduduk kota E-um meninggal. Banyak sekali keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Orang tua berpisah dengan anak-anaknya. Adik berpisah dengan kakaknya. Pasangan terpisah, sahabat baik terputus, tidak pandang bulu. Lorong evakuasi itu menjadi saksi, bahkan yang berhasil pergi ke Polaris Baru, tetap

merasakan sakitnya akibat pandemi. Mereka tidak bahagia pergi ke sana. Dengan penanggalan di-restart, dimulai kembali dari hari ke-1, itu simbol mereka ingin melupakan masa lalu. Kesedihan.

"Heh, kenapa kamu melamun, anak muda?" Pak Tua menyelidik.

N-ou mengangkat bahu.

"Kamu tidak sedang memikirkan tawaran tetua tadi, kan? Perjodohan dengan anak Ketua Suku?" Pak Tua tertawa, jenggotnya bergerak-gerak.

"Meong." Si Putih ikut mengeong.

Tertawa.

N-ou mendengus. menghabiskan makanan.

Meneruskan

Lengang di pinggir sungai itu. Hanya suara aliran sungai, dan derik serangga yang terdengar. Setengah jam kemudian,

mereka membereskan sekitar. Lantas naik ke tenda lipat. Saatnya tidur. Perjalanan besok akan lebih menantang, pegunungan Timur itu tidak jauh lagi, mereka tidak sabar ingin tiba di ibukota E­ sok.

***

Ternyata mereka tidak harus menunggu besok.

Saat mereka telah tertidur lelap. Pak Tua mendengkur kencang, N-ou tidur dengan penutup kuping tebal agar bisa tidur, dan Si Putih meringkuk nyenyak di lantai, dengan ekor menyelimuti tubuhnya, tantangan baru telah tiba. Mengetuk proteksi dinding transparan yang melindungi lokasi bermalam.

KRAK!

Sesuatu menghantam dinding itu. Membuat tanah bergetar. Tenda mereka juga bergetar.

N-ou terbangun dari tidurnya.

KRAK!

Sekali lagi menghantam, membuat retakan besar.

M eong." Si Putih ikut terbangun, ekornya segera berdiri tegak.

Pak Tua mengomel, Siapa lagi sih yang berisik malam-malam? Dasar rese'. Anak muda, heh. Buntut Panjang. Siapa diantara kalian yang membuat suara kencang itu? lni waktunya tidur."

KRAK!

Dinding transparan itu runtuh. Tonggaknya terlempar. Empat hewan besar merangsek masuk ke lokasi

bermalam. Salah-satunya langsung menghantam tiang tenda lipat.

KRAK!

Sekali pukul, tiang itu patah dua, membuat tenda lipat oleng seketika. Kacau balau di dalamnya. Tempat tidur terpelanting, perabotan terseret, BRUK! Tenda itu tumbang di tanah.

11Meong." Si Putih yang lebih dulu berhasil keluar-sebelum tenda roboh.

Disusul N-ou, dia berhasil keluar tepat waktu. Tapi tidak dengan Pak Tua, tubuhnya terguling bersama tenda. Tubuhnya menghantam tanah. Tapi dia baik-baik saja, berusaha menyibak dinding tenda, keluar.

Apa yang terjadi?

Empat kepiting berukuran sebesar banteng merayap mendekat. Hewan-

hewan ini mencium aroma makanan dari lokasi kemah, merangsek masuk, menghancurkan dinding transparan. Tidak menemukan makanan, melihat N­ au dan Pak Tua, itu juga bisa mereka makan. Tanpa perlu mengucap salam atau kata sambutan apapun, kepiting itu mulai menyerang.

Dua ekor paling depan menyerang N-ou, capit besar mereka terangkat tinggi. Lantas meluncur deras menuju tubuh N­ au. KLAP! KLAP! Seperti gunting besar, hendak memotong. N-ou berseru, bergegas lompat mundur dua langkah, capit itu mengenai udara kosong.

Dua kepiting itu mendesis-desis marah. Enam kakinya melangkah cepat, kembali menyerang. N-ou telah siap. Persis capit­ capit itu bersiap menghantam, N-ou balas memukul.

BUM! Pukulan berdentum terdengar lantang.

BUM! Disusul satunya. Dua capit itu terbanting.

N-ou maju. Loncat ke depan. Tinjunya menghantam kepiting paling dekat. BUM!

Tapi serangan itu tidak mempan. N-ou mendengus. Dia keliru berhitung. Dia pikir teknik baru yang dia kuasai itu bisa melumpuhkan kepiting. Hewan ini bukan Singa Salju, kepiting-kepiting besar ini memiliki cangkang sekeras baja. Pukulan berdentumnya jangankan menembus cangkang, membuat retak pun tidak. Hanya membuat hewan itu mundur satu­ dua langkah.

Untuk kemudian enam kakinya maju lagi sambil mendesis marah. Capit-capitnya teracung tinggi. Kiri dan kanan, sama bahayanya. N-ou bersiap, memasang kuda-kuda.

Di saat yang bersamaan, di sisi satunya, dua kepiting lain juga ikut maju menyerang Pak Tua-yang masih berusaha menuju kursi rodanya.

M eong." Si Putih memotong gerakan dua kepiting itu.

Kepiting mengabaikan kucing itu. Terlalu kecil, tidak bisa dimakan. Desis mereka, kaki-kakinya terus bergerak di tanah, merangsek mendekati Pak Tua.

 M eooong." Si Putih menggeram.

Kucing itu lompat ke udara setinggi dua meter, persis di depan kepala dua kepiting itu, ekor panjangnya melesat.

CTAR! CTAR! Dua kali ekornya menghantam kepala kepiting, seperti pecut.

"Meong." Si Putih mendarat lagi di tanah.

N-ou yang sedang menahan laju dua kepiting lain tahu apa maksud meongan itu. Sial. Cangkang lawan mereka keras sekali. Pukulan Si Putih mungkin hanya seperti membelai-belai saja. Gerakan mereka tidak terhenti, tinggal dua meter dari Pak Tua.

N-ou hendak membantu Pak Tua, tertahan.

Dua capit telah meluncur ke arahnya. Memotong gerakan.

BUM! BUM! N-oun melepas dua pukulan berdentum. Menahan laju capit-capit itu.

Kepiting di sebelahnya mendesis marah, dua capitnya terangkat. Meluncur deras.

Splash. N-ou bergegas membuat tameng transparan, melindungi tubuhnya.

KRAK! KRAK! Capit-capit itu menghantam tameng.

Kepiting mendesis-desis, mengangkat lagi capitnya.

KRAK! Tameng N-ou mulai retak.

KRAK! Pukulan ketiga, tameng itu hancur.

N-ou menelan ludah, bergegas mundur. Urusan ini menjadi kapiran. Teknik baru bertarungnya tidak mempan, atau mungkin belum terlalu kuat. Dia belum melatihnya.

Dua kepiting itu mengejarnya tanpa ampun. Enam kakinya bergerak di atas tanah.

Meong." Di sisi lain, Si Putih sekali lagi berusaha menghalangi dua kepiting yang hendak menyerang Pak Tua.

Ekor Si Putih melesat ke depan, zap! Berhasil menangkap capit yang teracung. Melilitnya. Lantas kucing itu menggeram, berusaha membanting kepiting itu. Tubuh kepiting itu mulai terangkat.

KLAP! Kepiting itu tahu apa yang akan terjadi, dia menghunjamkan capit satunya yang bebas ke tanah, capit itu terbenam hingga satu meter.

Meooong!" Si Putih mengeong kesal, dia tidak berhasil mengangkat tubuh kepiting itu. Hanya sebagian yang terangkat, sebagian lagi masih menempel di tanah, tertahan oleh capit yang bagai jangkar kokoh.

KLAP! Kepiting lain membantu temannya. Saat Si Putih masih berusaha, capitnya meluncur hendak memotong ekor kucing yang terentang. Nyaris saja. Si Putih lebih dulu melepas lilitan, gunting besar itu mengenai udara kosong.

"Meong." Si Putih lompat, kaki-kakinya mendarat di tubuh kepiting. Berusaha mencakar. Menggigit.

Sial. Cangkang kepiting itu keras dan licin. Kuku-kuku jarinya tidak bisa mencengkeramnya, kehilangan keseimbangan, Si Putih lompat lagi ke tanah. Dua kepiting itu terus maju. Tinggal setengah meter dari Pak Tua yang akhirnya berhasil menaiki kursi roda.

Empat capit terangkat di udara, meluncur deras menuju kursi roda.

Ziiing. Pak Tua telah menarik tuas kemudi. Kursi rodanya melesat menghindar. KRAK! KRAK! Capit-capit itu menghantam tanah kosong.

"Meong." Si Putih mengeong senang. Dia berhasil menahan kepiting m1, memberikan waktu yang cukup agar Pak Tua bisa meloloskan diri.

Tapi itu terlalu cepat, demi melihat kursi roda itu terbang, salah-satu kepiting mendongak, melontarkan ludah dari mulutnya. ltu bukan cairan ludah biasa, itu seperti satu gentong lem yang dilemparkan. Semburan pertama berhasil ditahan, Pak Tua mengetuk layar hologram. Splash. Tameng transparan keluar dari kursi roda. Tapi semburan kedua dari kepiting di sisi kiri, tidak sempat dihindari, mengenai telak tubuh Pak Tua dan kursi roda. Kehilangan keseimbangan, kursi roda yang mengambang dua meter itu terjungkal jatuh di atas semak belukar.

Pak Tua berseru. Mengomel marah, berusaha berdiri. Cairan itu lengket, membuatnya susah melepaskan tubuhnya dari kursi roda. Tubuhnya juga menempel di semak belukar. Sementara dua kepiting kembali maju, bersiap

mengunyah mangsanya yang sudah tidak berdaya.

"Meong!" Si Putih mengeong. Meminta bantuan.

Tapi N-ou yang dipanggil tidak bisa membantu banyak. Dia terus terdesak mundur menghadapi dua kepiting lainnya.

KLAP! N-ou lompat ke belakang lagi.

KLAP! N-ou melompat lagi. Terus menghindari capit-capit besar itu.

Situasinya rumit. Dia tidak tahu bagaimana mengalahkan dua kepiting ini. Cangkangnya tidak bisa ditembus. Kepiting ini tidak punya kelemahan. Mungkin satu-satunya cara adalah segera menaiki benda terbang mereka. Tapi Paruh Perak terpisah dua puluh meter di sebelah sana. Dia tidak bisa mendekati benda terbang itu. Dan dia punya

masalah baru, Pak Tua dalam situasi genting.

"Meong!" Si Putih sekali lagi mengeong.

N-ou menoleh. Menggigit bibir, baiklah dia akan lari secepat mungkin menuju posisi Pak Tua. Bersiap lompat.

BUK!

Salah-satu kaki kepiting lebih dulu menghantamnya dari belakang. N-ou terpelanting dua meter, tersungkur di tanah. Punggungnya terasa sakit. lni tidak adil, dengus N-ou, hewan ini punya dua capit, enam kaki, dan semuanya bisa digunakan untuk menyerang. Bagaimana dia bisa menang?

Kepiting-kepiting itu mendesis mendekat. Capit mereka terangkat lagi tinggi-tinggi. Tidak memberikan waktu bagi N-ou untuk berdiri, capit-capit itu meluncur deras.

Splash. Dalam posisi telentang di tanah, N-ou membuat tameng transparan.

KRAK! Hantaman pertama.

Tameng itu masih bertahan, tapi tubuh N­ au terhenyak ke dalam tanah.

KRAK! Hantaman kedua. Tameng itu mulai retak. Separuh tubuh N-ou telah melesak ke dalam tanah.

"MEOOONG ! Si Putih mengeong kencang.

Situasi mereka benar-benar rumit. Di sisi sana, dua kepiting siap mencabik Pak Tua, di sisi sini dua kepiting lain siap mencacah N-ou.

N-ou menoleh sekali lagi ke Si Putih.

Mata mereka saling bersitatap. Terpisah jarak dua belas meter.

Sepertinya petualangan mereka akan tamat di tepi sungai ini. Setelah lima

tahun bersama-sama. Bola mata hitam N­ au memantul di bola mata kuning Si Putih. Dan sebaliknya, bola mata kuning Si Putih memantul di bola mata hitam N­ au.

"MEOOONG !" Si Putih menggeram kencang.

"ARGHH!!" N-ou ikut berteriak.

Malam itu, bonding pertama mereka terbentuk. Cemas menyaksikan nasib Pak Tua, memicu ikatan unik antara petarung Klan Polaris dengan hewan. Seperti ada letupan listrik, sel-sel syaraf di kepala N­ au mengalami lompatan. Juga sel-sel syaraf Si Putih.

"MEOOONG !" Si Putih menggeram lagi.

"ARGHH !" N-ou juga berteriak sekali lagi.

Sekejap. N-ou bisa merasakan menyatu dengan Si Putih. Dia bisa melihat dari

mata Si Putih. Merasakan kaki-kaki Si Putih. Dan tidak hanya itu, N-ou merasakan kekuatannya tumbuh dua kali lipat. Panca inderanya berkembang. Tubuhnya terasa ringan. N-ou menghentakkan kakinya. Tubuhnya melenting berdiri.

Splash. Membuat tameng transparan sekali lagi.

Dua kepiting itu mendesis marah melihat mangsanya ternyata masih bisa melawan.

KRAK! Menghantamkan capit besar mereka.

Tidak masalah. Dengus N-ou marah, tameng baru yang dibuat tangan kanannya kokoh sekali. Tidak retak, sebaliknya membuat capit kepiting itu bergetar. Tidak hanya itu, N-ou melangkah maju, keluar dari balik

tamengnya, tangan kirinya balas meninju. Mengirim pukulan berdentum.

BUM! ltu pukulan yang berbeda dari sebelumnya. Tetap tidak mampu menghancurkan cangkang, tapi kekuatan pukulannya membuat tubuh kepiting itu terangkat ke udara, lantas kepiting itu terbalik di atas tanah. Cangkangnya di bawah, kaki dan capitnyanya di atas. Tahu rasa. Dengus N-ou, kepiting itu mendesis panik, tidak bisa membalikkan badannya.

KLAP! Kepiting satunya menyerang.

N-ou lompat menghindar. Astaga-dia merasakan kakinya begitu lincah, seperti gerakan kucing. lni keren. Persis kakinya mendarat, N-ou melenting lagi maju, laksana seeker kucing, tubuhnya melesat cepat, muncul di depan kepiting itu, BUM! Melepas pukulan berdentum.

Kepiting itu mendesis kaget, hendak menangkisnya dengan capit, terlambat, tubuhnya telah terpelanting, berguling di tanah, satu kali, dua kali, tiga kali. Sial baginya, berhenti persis saat posisinya terbalik. Dua kepiting itu bernasib sama. ltulah kelemahannya. Saat badannya terbalik, kepiting-kepiting sebesar banteng ini jangankan menyerang, beringsut pun tidak bisa.

Di sisi lain, Si Putih juga mengalami lompatan kekuatan.

Kucing itu lompat memotong gerakan dua kepiting yang hendak mencabik Pak Tua. Zap! Sepersekian detik sebelum capit itu merobek tubuh Pak Tua, ekor Si Putih sekali lagi berhasil melilitnya.

"Meong!" Si Putih menarik ekornya, capit itu bergeser menghantam semak kosong, juga mengenai capit lain, bertabrakan. Menjauh dari kursi roda Pak Tua.

Kepiting-kepiting mendesis marah.

KLAP! Kepiting yang bebas berusaha hendak memotong ekor Si Putih yang terentang.

Kali ini Si Putih tidak melepaskan ekornya, membiarkan capit itu datang. Persis capit itu mengatup ekor kucing, kepiting itu yang mendesis kesakitan. Capitnya bergetar hebat. Seperti menggunting baja, alih-alih bajanya yang putus, guntingnya yang gompal.

"Meong!"

Si Putih menarik ekornya. Bersiap membanting lawan yang telah terkunci.

KRAK! Kepiting itu segera menghunjamkan capit satunya ke tanah, berusaha menahan. Tapi itu sia-sia, tenaga Si Putih tumbuh dua kali lipat, capit itu tercabut dari tanah, tubuh kepiting besar itu terangkat di udara,

BRUK! Terpelanting dilemparkan sejauh sepuluh meter, menghantam pohon, kemudian terguling, berhenti di posisi terbalik.

"Meong."

Si Putih kembali lompat. Tersisa satu lagi.

Kepiting satunya masih berusaha memberikan perlawanan. Capitnya meluncur deras di udara, memotong gerakan. BUM! Si Putih tidak menghindar, dia menghantamkan tubuhnya, yang mengeluarkan pukulan berdentum. Capit itu terbanting.

Si Putih lompat lagi, menabrak kepiting itu.

BUM!

Pukulan berdentum keluar dari tubuh Si Putih.

Kepiting itu terjungkal, badannya terbalik. Nasibnya serupa dengan tiga yang lain. Enam kakinya bergerak-gerak hendak membalikkan badan, tapi itu sia­ sia. Pertempuran telah selesai. Empat kepiting itu kalah telak.

N-ou berlarian mendekati Pak Tua.

"Pak Tua tidak apa-apa?" N-ou bertanya, segera menarik tubuh Pak Tua yang terduduk di semak belukar.

"Aku baik-baik saja. Tapi cairan ini menjijikkan sekali. Lengket. Bau."

Tubuh Pak Tua juga dipenuhi daun, tanah, yang menempel.

"Meong." Si Putih ikut mendekat.

N-ou menoleh.Dia bersitatap lagi dengan Si Putih.

Sepersekian detik. Bola mata hitam N-ou memantul di bola mata kuning Si Putih.

Dan sebaliknya, bola mata kuning Si Putih memantul di bola mata hitam N-ou. lkatan unik itu terlepas. Kembali normal.

"Bantu aku membersihkan cairan ini, anak muda." Pak Tua berseru, "Jangan hanya menonton. Aku hampir muntah mencium baunya."

"Siap, Pak Tua." N-ou mengangguk berlarian menuju bagasi Paruh Perak, mengambil alat pembersih.

"Meong."

"Heh, Buntut Panjang, jangan meong, meong saja. Aku tidak mengerti ucapanmu. Ambilkan handuk atau apalah. Bantu aku." Pak Tua melotot.

"Meong." Ka/au sudah bisa mengomel

/agi, itu berarti Pak Tua baik-baik saja, tidak perlu dibantu. Demikian maksud meongan itu.

Si Putih santai meringkuk di tanah, mulai menjilati bulunya yang kotor oleh pertarungan.

-- Next Chapter--

Bab 14

Matahari terbit, bola bundar itu terlihat di kaki langit barat. Besar. Merah. Menerobos kepul uap pagi di atas sungai besar.

Mereka tidak tidur lagi, sibuk membereskan kekacauan. Tenda itu rusak. Butuh waktu diperbaiki, N-ou melipatnya, menyumpalkannya ke bagasi. Pak Tua sudah bersih, tidak susah membersihkan cairan ludah itu. Sekali N­ au menyemprotkan teknologi pembersih kota E-um, cairan itu luruh. Beres.

"Dasar menyebalkan." Yang tidak segera beres itu adalah omelan Pak Tua, sepanjang pagi dia mengomel.

"Meong."

"Bilang apa lagi Si Buntut Panjang itu?"

Si Putih bilan& anggap saja itu sekalian mandi. Sudah lama Pak Tua tidak mandi, bukan?

N-ou tertawa, benar juga. Seluruh tubuh Pak Tua jadi bersih, persis habis mandi. N­ au menyerahkan pakaian ganti baru.

"Aku lebih sehat jika tidak mandi." Omel Pak Tua.

Apa? N-ou dan Si Putih saling tatap.

Mereka sempat sarapan, menghabiskan bungkusan kedua dari Suku Petani.

"Aku bersumpah, tidak akan pernah lagi makan kepiting." Pak Tua bersungut­ sungut.

N-ou mengangguka-angguk. Menghabiskan jatah sarapannya, sambil melirik empat ekor kepiting yang masih terbalik. Kaki dan capit besar mereka terus bergerak-gerak, mendesis-desis,

meminta tolong agar dibantu. Butuh kuali super besar untuk memasak empat kepiting ini. Jangan-jangan mereka menyerang kemah karena marah anak­ cucunya dimakan.

Persis bola matahari sempurna keluar dari kaki langit, mereka telah berlompatan menaiki Paruh Perak (kecuali Pak Tua, dia tetap susah payah naik).

Benda terbang berwarna perak dengan kelir keemasan itu melesat melanjutkan perjalanan. Meninggalkan empat kepiting yang merangkak kembali ke sungai. N-ou membalikkan badan hewan itu sebelum pergi. Kasihan. Melepas dua pukulan berdentum berturut-turut di cangkang tebalnya, hewan itu berguling, kaki­ kakinya kembali menginjak tanah. Si Putih mengurus dua sisanya, lompat menabrakkan tubuhnya ke cangkang

kepiting. Dua kali suara berdentum, dua kepiting tersisa menyusul dua temannya yang lebih dulu bebas.

Mood Pak Tua membaik di atas benda terbang. Dia meluruskan kaki, melanjutkan membaca perkamen tua. Tidak banyak komentar.

Si Putih meringkuk di kursinya, asyik menjilati bulu.

N-ou menggenggam tuas kemudi, menatap pemandangan di luar.

Mereka segera meninggalkan kawasan padang rumput dan sungai besar itu. Digantikan dengan hamparan tanah bebatuan sejauh mata memandang. Mulai dari batu kecil, hingga batu-batu sebesar gedung dua puluh lantai. Mulai dari batu yang bulat biasa, hingga yang seolah dipahat seniman, membentuk kerucut, kotak, berlubang, bahkan

menyerupai bentuk tertentu seperti gerbang, tiang menara, sosok orang, dan sebagainya. Sepanjang tahun, hujan dan angin mengikis, mengiris, memahat batu­ batu itu, hingga tidak sengaja menyerupai benda lain.

ltu pemandanga yang seru.

Sesekali benda terbang melewati oase hijau. Tumbuhan mirip kelapa menjulang tinggi, rapat melingkari mata air tersebut. Semak belukar tumbuh subur di bawahnya. Dari ketinggian, N-ou bisa melihat hewan-hewan berkumpul di oase, mencari air segar.

N-ou belum menemukan pemukiman penduduk, tapi dia sering melihat tiang tinggi dari batu-bata. ltu bukan tumpukan batu karya alam, itu jelas buatan manusia. Tingginya tak kurang enam puluh meter, dengan ruangan beratap,

berjendela empat sisi. Ada tumpukan kayu di ruangan itu.

"Sistem peringatan." Pak Tua bicara-dia telah meletakkan perkamen, ikut menatap salah-satu tiang barusaja mereka lewati.

N-ou menoleh. Sistem peringatan apa?

"Wabah penyakit." Pak Tua menjelaskan, "Sekali pandemi terjadi di satu pemukiman, perapian di puncak tiang terdekat dari pemukiman itu akan dinyalakan. Penduduk lain di kejauhan bisa melihatnya, mereka juga segera menyalakan tiang di dekat pemukiman masing-masing. Saat tiang-tiang ini menyala, kabar itu melesat cepat ke seluruh kawasan tanpa harus penduduk meninggalkan pemukiman."

N-ou mengangguk. ltu masuk akal. Cara sederhana tapi efektif. Tiang-tiang ini

sengaja diletakkan dengan jarak puluhan klik, di titik-titik tertinggi yang mudah dilihat dari kejauhan. Seperti rantai panjang, menuju penjuru kawasan timur Klan Polaris.

"Bagaimana Pak Tua tahu?" N-ou bertanya.

"Mudah." Pak Tua mengangkat perkamen di tangannya. Ada ilustrasi tiang di sana.

N-ou tertawa. Pantas saja.

Enam jam tanpa henti terus ke timur, hamparan bebatuan itu semakin berbatu sekaligus semakin hijau. Tumbuhan memenuhi celah-celah batu, sungai­ sungai kecil terlihat.

Cuaca di perjalanan berubah. Hujan deras turun. Tapi itu tidak mengganggu; navigasi dan sensor bekerja baik. ltu bukan kabut tebal seperti beberapa hari

lalu. Jarak pandang masih baik, tidak ada masalah serius. Yang jadi masalah, mereka tidak bisa mendarat untuk makan siang. Si Putih merajuk, dia mengeang, ngeang tiada henti.

"Ayalah, Put, kita tidak akan berhenti di bawah sana, makan sambil hujan­ hujanan. Tidak ada tempat berteduh di sana."

"Meang."

N-au menepuk dahi.

"Caba kamu lihat sendiri, tidak ada tempat berteduh."

"Meang."

"Pak Tua punya saran?"

"Aku tidak mau turun. Cukup tadi pagi saja badanku basah kuyup. Kita makan siang di sini." Pak Tua kali ini dipihak N­ au.

"Meong."

"Apa kata Buntut Panjang itu, heh?"

"Dia bilang Pak Tua orang paling rese se­ klan Polaris."

Pak Tua terkekeh, membuat jenggotnya bergerak-gerak.

Dua lawan satu, kucing itu kalah suara. Ekornya bergelung, sekali lagi mengeong, ia mengalah. Makan di atas benda terbang.

N-ou membuka bungkusan berikutnya dari Suku Petani.

ltu makanan yang lezat, aromanya memenuhi benda terbang. "Meong", Si Putih mengeong riang melihat jatah makanannya yang banyak. Tidak banyak prates lagi, mulai makan. Jendela kaca benda terbang basah, suara tetes air hujan menerpa jendela terdengar

menyenangkan. Menjadi musik latar makan siang. Benda terbang itu dibiarkan mengambang di udara, agar mereka bisa makan dengan santai.

Tidak buruk juga. Tetap seru makan siangnya. N-ou melahap jatahnya.

11Anak muda, kamu tidak ingin membicarakan kejadian di pinggir sungai tadi malam?" Pak Tua memilih topik percakapan lebih dulu.

N-ou mengangkat bahu, 11Pak Tua ada di sana tadi kan? Apanya yang harus dibicarakan?"

11Heh, kamu tahu persis apa maksud orang tua ini."

N-ou tahu apa maksudnya. Pak Tua bertanya tentang bonding atau ikatan unik tersebut.

11Apa rasanya?"

"Tidak bisa dijelaskan, Pak Tua. Sekejap, aku seperti berada di tubuh Si Putih, dan sebaliknya, Si Putih berada di tubuhku. Kami bisa saling memahami."

Pak Tua mengangguk-angguk.

"Dan kekuatan kalian tumbuh dua kali Iipat?"

Giliran N-ou yang mengangguk. Tidak hanya itu, dia juga bisa bergerak lebih lincah, lebih cepat. Dia benar-benar bukan lagi anak kecil usia dua belas tahun yang menangis di depan dinding setebal seratus meter, memohon agar dibukakan pintu lorong evakuasi. Dia telah tumbuh menjadi petarung.

"Buntut Panjang ini terlihat lucu, menggemaskan, tapi dia sangat istimewa." Pak Tua menatap Si Putih di kursi depan, "Aku melihat capit kepiting berusaha memotong ekornya. Capit itu

yang gompal. Ekor kucing ini kuat sekali. Aku yakin, masih banyak kekuatan lain yang dia miliki. Dan saat kalian terikat satu sama lain, kekuatan itu akan muncul."

N-ou mengangguk lagi. Si Putih sibuk makan, tidak tertarik dengan percakapan.

"Kamu harus sering melatih kekuatan itu, anak muda. Petarung dunia paralel yang hebat, berlatih panjang untuk mencapai level tertentu. Siapapun bisa mewarisi kode genetik itu, tapi tidak semua pewarisnya bisa memaksimalkan kekuatannya. Latihan adalah kuncinya. Ada petarung yang ribuan tahun berlatih, membuat teknik itu semakin hebat."

"Ribuan tahun?"

"lya. Dalam beberapa kasus, kode genetik itu memberikan umur panjang."

"Darimana Pak Tua tahu itu?"

"Buku-buku yang pernah kubaca. Entahlah, aku lupa di mana meletakkan buku-buku itu. Terbuat dari lembaran kertas, kecokelatan, dimakan rayap. Banyak orang menganggap buku-buku itu hanya dongeng lama, tapi aku tidak. Aku tahu itu bukan sekadar cerita fiksi." Pak Tua meluruskan kaki, "Beberapa hari lalu, aku kesal sekali melihat rumahku hancur gara-gara kalian."

Eh, enak saja. ltu gara-gara banteng. N-ou hendak memotong.

"Tapi sekarang, orang tua ini bahagia. Aku tidak gila seperti yang dibilang teman­ temanku dulu di universitas. Semua teoriku dulu nyata. Lihatlah, di depanku, seorang Pengendali Hewan. Dia barusaja melakukan bonding pertama dengan kucingnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok lusa, mungkin dia akan menjadi Pengendali Hewan terhebat di

Klan Polaris. Dan aku tetap selalu bisa meneriaki, menyuruh-nyuruhnya." Pak Tua tertawa.

N-ou menyeringai. Apa maksudnya?

"Makanku sudah selesai, anak muda. Tolong kamu bereskan." Pak Tua menyerahkan piring yang telah kosong.

Eh? N-ou menatap Pak Tua.

"Ayo, kamu bereskan. Aku hendak melanjutkan membaca perkamen. Pastikan kamu dan Buntut Panjang itu tidak berisik."

Nasib. N-ou 'pasrah' menerima pmng kosong itu. Juga piring yang dijulurkan ekor Si Putih. Makan siang telah selesai.

***

Benda terbang itu melanjutkan kembali perjalanan.

Satu jam membaca perkamen, Pak Tua jatuh tertidur, mendengkur. Si Putih juga meringkuk di kursinya, matanya tertutup, sesekali terbuka, tertutup lagi. Ekornya bergerak-gerak sendiri. Kakinya kadang dilipat, kadang diluruskan. Kucing itu memang menggemaskan.

Pemandangan di luar masih padang bebatuan dengan tumbuhan hijau. N-ou asyik mengendalikan benda terbang sambil menatap bentang alam dengan hewan-hewannya.

Lihatlah! Kawa nan jerapah berlarian. Leher mereka nyaris sepuluh meter, kaki­ kaki yang jenjang sama tingginya, melintasi semak di bawah sana.

W ow." N-ou berdecak kagum.

Juga kawanan burung yang silih berganti terlihat. Warna-warni memenuhi langit.

N-ou menoleh hingga burung-burung itu menjauh.

Juga hamparan batu-batu lebar laksana jamur raksasa. N-ou mengira itu hanya batu, tapi ternyata batu-batu itu bergerak. N-ou menurunkan ketinggian, melihat lebih dekat. Keren. ltu adalah kura-kura purba Klan Polaris, tempurungnya sebesar rumah, berlumut mirip batu. Ratusan jumlahnya, sedang merangkak menuju sungai terdekat. N-ou beberapa menit terbang pelan di antara kura-kura purba itu. Menyaksikan kaki­ kaki mereka yang melangkah seperti slow-motion.

Padang bebatuan ini kaya sekali dengan hewan liar. Dari yang berukuran besar, hingga yang kecil seperti virus, bakteri, mikroorganisme. Dari yang bisa terbang, hingga yang merayap dengan perutnya.

Dari yang polos satu warna, hingga bagai spektrum warna.

Enam jam terbang tanpa henti. Bola matahari bersiap tenggelam di depan mereka.

Pak Tua bangun, dia ikut menatap keluar jendela. Juga Si Putih, wajahnya menempel di kaca. Ekornya bergelung melilit kursi.

M eong."

lya, Put. Kita akan segera mendarat."

Meong."

Tentu saja. Tidak di dekat sungai lagi. ltu ternyata berbahaya"

Setengah jam lagi, mereka asyik menatap bola merah raksasa yang sudah separuh masuk di kaki langit timur.

Meong." Si Putih mengeong lagi.

"Ada apa, Put?"

"Meong." Lihat ke samping kanan.

N-ou segera menoleh. Dia terlalu asyik menatap matahari, abai melihat ke samping sejak tadi. Astaga ! N-ou berseru tertahan.

Pak Tua juga telah melihatnya. lkut berseru.

lni keren. lnilah yang mereka nantikan dalam petualangan ini.

Mereka memang belum tiba di kaki Gunung Timur, tempat ibukota E-sok bersemayam. Tapi mereka telah tiba di kota terbesar kedua penguasa Timur Klan Polaris.

Kota Mah-rib. Dan kota itu, berbeda dengan kota-kota lain yang ada di perut bumi, yang satu ini berada di atas permukaan. Di lembah yang dikelilingi

batu-batu raksasa. Pesona kota Mah-rib terlihat, menggoda siapapun yang melintas untuk mampir.

"Meong."

"Tentu saja, Put. Kita mendarat di sana."

Tidak perlu diminta dua kali, N-ou telah menarik tuas kemudi.

Paruh Perak segera meluncur menuju gerbang kota tersebut.

-- Next Chapter--

Bab 15

Kota Mah-rib adalah kota persinggahan, terbuka bagi pendatang. Ada sepuluh ribu penduduknya. Bangunan bertingkat terbuat dari batubata merah berbaris rapi, jalan-jalan yang lebar, dan lapangan­ lapangan besar pusat keramaian. ltu salah-satu pusat peradaban kawasan Timur Klan Polaris. Budaya, sosial, ekonomi, terpusat di sana. Hanya kekuasaan politik yang tidak dimilikinya­ itu ada di kota E-sok. Tapi siapa yang peduli dengan politik di sini?

Kota itu terbuka atas pendapat siapapun. Baik yang ekstrem pendukung teknologi,

maupun yang ekstrem teknologi. Bebas.

menolak

ltulah kenapa Paruh Perak tidak kesulitan mencari tempat parkir. Juga tidak akan

ada yang bertanya-tanya mereka berasal dari suku mana. Di lapangan dekat gerbang masuk, terlihat puluhan benda terbang lain yang terparkir rapi. Setiap hari ada ratusan pendatang yang mengunjungi kota ini. Lapangan itu sibuk, beberapa petugas mengatur lalu lintas parkir.

Paruh Perak mengambang rapi diantara benda terbang lainnya.

N-ou, Si Putih melompat turun. Disusul oleh Pak Tua.

Mereka segera menuju pintu gerbang kota yang terbuat dari pahatan batu. Menjulang tinggi, dengan penjaga berdiri di atasnya, dilengkapi meriam. Kata itu sebenarnya juga terisolir oleh tumpukan batu-batu di sekelilingnya. Hanya ada satu jalan masuk, gerbang kota itu. Dan tidak ada benda terbang yang diijinkan

melintas di atas kota-meriam itu akan menembakinya.

"Meong." Si Putih melangkah anggun. Sesekali loncat kesana-kemari, melintas di antara kaki-kaki penduduk. Pintu gerbang ramai, ada banyak penduduk yang datang dan pergi meninggalkan kota.

N-ou menatap sekeliling, terus masuk ke dalam kota. Dia lama tidak melihat penduduk sebanyak ini. Mengingatkannya dengan kota E-um dulu-dalam versi yang lebih lengang. Pak Tua menyusul, menaiki kursi rodanya.

Bangunan-bangunan itu, N-ou tahu itu toko-toko. Menjual pakaian, kebutuhan pokok, juga peralatan sehari-hari. Barisan toko-toko satunya lagi, menjual berbagai jenis bahan makanan, mulai dari gandum, padi, ikan, daging.

"Meong."

"lya, Put. Kita akan segera makan. Tapi nanti. Kita melihat-lihat kota dulu."

Mata N-ou sedang menatap bangunan besar di depannya. ltu mirip seperti mall kota E-um-dalam versi yang lebih mungil. Penduduk ramai di depannya. Duduk di atas kursi-kursi batu, mengobrol, tertawa. Pakaian mereka warna-warni, dengan penutup kepala dari kain panjang. Mereka sepertinya sedang menikmati senja. Anak-anak kecil berlarian riang. Satu-dua nyaris menabrak N-ou dan Pak Tua. Satu-dua gemas jongkok melihat Si Putih-tapi kucing itu menggerung galak, membuat anak-anak tertawa, kembali asyik berkejaran.

Tidak ada kendaraan di Kota Mah-rib, semua orang berjalan kaki. Lagipula kota itu tidak luas, hanya empat atau lima klik.

Hanya butuh setengah jam mengelilingi semua sudutnya dengan berjalan kaki. Mereka telah melihat bangunan sekolah, rumah sakit, pelayanan publik, juga gedung penguasa kota. Kembali lagi ke titik semula.

11 M eong." Lihat.

11Bena r juga, Put. Mereka punya penginapan?" N-ou mendongak, rombongan melintasi bangunan penginapan di dekat gerbang kota.

11Meong." Kita bisa bermalam di sini, bukan?

11Kit a tidak punya uang kota ini, Put." N­ eu menggeleng. Dia masih menyimpan gelang identifikasi miliknya, di sana ada saldo uang yang diberikan Ayah. Tapi kota ini jelas tidak akan menerima mata uang digital dari kota E-um.

"Jika kalian mau, orang tua ini punya uangnya." Pak Tua berseru.

"Oh ya?"

"Meong."

Pak Tua mengeluarkan kantong berisi koin. Melemparkannya ke N-ou.

"Dari mana Pak Tua mendapatkannya?" N-ou menatap kantong di tangannya.

"Suku Petani, menghadiahkannya."

"Kapan?"

mereka

"Saat wajahmu merah padam berpamitan dengan Ketua Suku dan istrinya. Mereka memberikan uang ini sebagai bekal perjalanan."

ltu bagus sekali. Maksudnya kantong uang ini yang bagus sekali-bukan soal perjodohan tersebut. Mereka bahkan bisa makan malam di rumah makan kota

Mah-rib. Tadi mereka sudah melewatinya. Aroma dan asap masakannya mengepul hingga jalanan. Si Putih berkali-kali mengeong bilang dia lapar. Malam ini dia tidak perlu memasak.

"Meong."

"Siap, Put. Mari kita makan malam." N-ou melangkah menuju perempatan kota.

"Meong."

Si Putih lompat-lompat riang.

Pak Tua menarik tuas kemudi kursi roda, benda itu terbang mensejajari.

Matahari telah sempurna tenggelam. Ratusan bangunan kota menyalakan lampu-lampu. ltu bukan penerangan alami dari batu atau hewan. ltu lampu­ lampu dari listrik. Membuat jalanan terang, kerlap-kerlip indah Kata Mah-rib. Mereka jelas tidak keberatan dengan

teknologi listrik ini. Entah darimana sumbernya, mungkin batubara, atau mungkin dari energi yang lebih ramah lingungkan.

Akan tetapi, meskipun kota itu terbuka dengan pendapat apapun, sebagaimana seluruh kawasan Timur Klan Polaris lain, ada satu hal yang tetap berlaku sama di kota tersebut. Sesuatu yang tidak bsia diganggu-gugat siapapun. Bahwa kekuasaan komunitas dipegang oleh Para Pengendali Hewan.

Mereka ada di kelas paling tinggi struktur sosial.

"MINGGIR!" Terdengar seruan lantang. "MINGGIR!" Sekali lagi.

Ctar! Ctar!

Suara cambuk terdengar.

N-ou lompat ke trotoar sambil menoleh, juga Si Putih dan Pak Tua. Penduduk lain yang sedang berjalan juga buru-buru menyingkir dari jalan. Ada apa?

Sumber teriakan itu segera terlihat, dari gerbang kota, meluncur deras kawanan burung flamingo. Tak kurang dari dua belas burung raksasa itu. Tingginya dua meter lebih. Lehernya panjang, kaki jenjangnya berderap membuat kepul debu di jalanan tanah. ltu bukan flamingo pink yang sering kalian lihat, warna burung itu hitam legam, dengan paruh berwarna merah darah. Burung-burung itu mengenakan baju zirah, melindungi bulu-bulunya. Dan di setiap punggung burung, sosok-sosok berpakaian hitam duduk dengan gagah, memegang tali kekang.

"MINGGIR!"

berseru.

Penunggang terdepan

Ctar! Ctar!

Salah-satu penduduk yang terlalu dekat dengan jalan terduduk disambar pecut. Terjungkal di trotoar. Penduduk lain bergegas mundur, anak-anak menjerit ketakutan, lari meringkuk di belakang orang dewasa, suasana menjadi kacau­ balau. N-ou termangu menatapnya. Jelas sekali jika penduduk kota takut dengan rombongan ini.

N-ou beranjak membantu penduduk yang terjatuh, menariknya berdiri.

"Terima kasih."

N-ou mengangguk. "Siapa mereka."

"Pasukan Elit Kata E-sok. Penunggang 12 Flamingo." Penduduk yang barusan jatuh menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.

Rombongan flamingo itu terus maju, menyisakan kepul debu di belakangnya. Baru berhenti di perempatan kota. Burung flamingo hitam itu ditambatkan di tiang-tiang, penunggangnya berlompatan turun. Rombongan itu telah tiba di tempat tujuan. Kekacauan yang dibuatnya sepanjang jalan sejak dari gerbang kota kembali reda.

N-ou menghela nafas, meneruskan langkah menuju rumah makan. Juga penduduk lain, kembali memenuhi jalanan, melanjutkan aktivitas malam.

"Kenapa mereka menyebalkan sekali? Sok berkuasa?" N-ou bersungut-sungut.

"Karena mereka memang penguasa." Pak Tua menjawab datar, kursi rodanya mengambang di sebelah N-ou, "Mereka memiliki semua syarat untuk menjadi penguasa absolut. Kekuatan.

Kemampuan bertarung. Penduduk biasa bukan tandingan mereka."

N-ou menghembuskan nafas.

Sementara Si Putih melangkah anggun, dia tidak peduli.

"Meong."

"Buntut Panjang itu bilang apa, heh?"

Buruan. Lapar tahu. ltu maksudnya.

***

Nasib. Rumah makan yang mereka tujuh penuh.

N-ou baru paham, di tengah pesona kota tersebut, betapa dalamnya jurang diskriminasi saat mereka tiba di rumah makan itu. Hanya ada satu rumah makan di kota Mah-rib, dan itu hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu. Rumah makan itu dibagi menjadi dua tingkat. Tingkat atas, hanya boleh

dikunjungi oleh Para Pengendali Hewan. Lantai di bawahnya, untuk penduduk biasa yang memegang jabatan di kota. Bahkan saat dua lantai itu kosong, tidak ada penduduk biasa yang bisa memasuki rumah makan itu. Apalagi saat penuh.

11M eo ng. 11

Si Putih mengeong marah.

11 M au bagaimana lagi, Put. Kita tidak bisa masuk."

11M eo ng. 11

11Kit a makan di Paruh Perak saja, masih ada bungkusan makanan. Atau aku akan membuat masakan untukmu, Put, lebih enak dari rumah makan menyebalkan ini."

11M eo ng. 11

Si Putih tetap tidak terima.

"Sebentar, Wahai." Pak Tua sekali lagi memajukan kursi roda, mendekati meja penerima tamu di pintu masuk rumah makan.

"Maaf, Pak. Tidak ada kursi kosong." Petugas menggeleng.

"Aku tahu." Dengus Pak Tua-dia sejak tadi berdebat dengan petugas itu.

"Kamu bilang lantai atas untuk Para Pengendali Hewan bukan?"

"lya." Petugas itu mengangguk.

"Nah, kami adalah pengendali hewan. Kami bisa masuk."

Petugas itu menatap Pak Tua sangsi.

"Dasar bodoh. Bukan aku, tapi lihat anak muda ini!"

Petugas menoleh ke N-ou. Dari postur tubuh, pemuda ini terlihat meyakinkan. Gagah. Tapi dengan pakaian seperti ini,

anak muda ini hanyalah penduduk biasa. Tidak ada Pengendali Hewan sepolos dan sekusam ini. Dan apa hewan yang anak muda ini kendalikan? Kucing putih ini? Aduh, itu lucu sekali. Semua Pengendali Hewan memiliki hewan-hewan buas. Petugas itu menggeleng. Rumah makan itu hanya untuk kalangan-

11Buntut Panjang, perlihatlah ke dia kekuatanmu." Pak Tua berseru.

11M eong." Si Putih mengeong. Demi makan malam yang lezat, ia lompat ke meja penerima tamu, ekornya teracung ke udara. Telinga runcingnya tegak, mata kuning mengilat. Menggeram.

Petugas menghela nafas. Menggeleng. ltu tetap kucing yang imut, dia tidak percaya mereka Pengendali Hewan. Aduh, ekornya lucu sekali, bisa tegak seperti itu. Juga telinganya-

"MEONG!" Si Putih tidak terima. Badannya menghentak ke bawah. BUM!

Pukulan berdentum keluar dari

tubuhnya, mengenai meja, membuat meja itu hancur seketika.

" Ast aga.11 Petugas penerima tamu berseru, dia terjungkal jatuh.

Kepala-kepala tertoleh. Leher-leher pengunjung di lantai bawah terjulur, ingin tahu apa yang terjadi. Juga pejalan kaki di luar. Pemilik rumah makan bergegas menuruni anak tangga-dia melihat kejadian tersebut.

"Sungguh aku minta maaf, Tuan." Wajah pemilik rumah makan pias, "Pelayan kami baru. Dia tidak mengenali jika Tuan adalah Pengendali Hewan. Silahkan masuk.11

"Meong." Asyik, Si Putih lompat lebih dulu.

N-ou menelan ludah. Menatap meja yang berserakan, dan petugasnya yang gemetar berusaha membereskan. Pak Tua sudah menarik tuas kemudi, kursi rodanya bergerak maju.

"Silahkan, Tuan." Pemilik rumah makan membungkuk dalam-dalam.

N-ou ikut melangkah.

Tapi mereka tetap tidak mendapatkan kursi di lantai atas. Rombongan 12 Flamingo sedang makan malam di sana, tidak ada yang boleh masuk kecuali anggota pasukan elit itu. N-ou mendapatkan meja di lantai bawah, karena posisi mereka lebih tinggi, pemilik rumah makan 'mengusir' pengunJung lain, agar memberikan kursi.

ltulah sistem yang bekerja. Tiga pengunjung itu hanya bisa menunduk, segera pergi. Mereka kalah kelas dengan Pengendali Hewan. Meja segera dibersihkan, pelayan berdatangan.

"Meong." Si Putih lompat, duduk di kursi kosong.

N-ou mengusap wajahnya. lni tidak semenyenangkan seperti yang dia kira. Dia sama sekali tidak berniat mengusir pengunjung lain. Jika tahu seperti ini, lebih baik mereka batal-

"Silahkan, Tuan." Pemilik rumah makan menunjuk kursi kosong untuknya.

Pak Tua duduk lebih dulu. Santai.

"Sekali lagi aku sungguh minta maaf. Atas kesalahpahaman tadi, makan malam kali ini kami sediakan gratis, Tuan." Pemilik rumah makan tersenyum lebar, "Rumah

makan ini selalu setia kepada Para Pengendali Hewan. 11

"Bagus. Segera sia pkan.11 Pak Tua menyuruh.

Pemilik rumah makan mengangguk, undur diri.

Pengunjung lain meneruskan makan, melupakan kejadian. Satu-dua pengunjung melirik meja tempat N-ou duduk, tapi bergegas kembali menatap makanan masing-masing. Mereka tahu ada peraturan tidak tertulis, tidak ada penduduk biasa yang bisa belama-lama bersitatap dengan Pengendali Hewan. Atau terima resikonya jika Pengendali Hewan tersebut marah.

"Pak Tua." N-ou berbisik.

"lya?" Pak Tua yang sedang memperbaiki konverter di hidung menoleh.

"Kita seharusnya tidak makan di sini." "Heh, kenapa tidak?"

"Kita mengusir tiga pengunjung lain."

"Lantas kenapa? Bukan kita yang mengusirnya, pemilik rumah makan yang mengusirnya."

N-ou meremas jemarinya, kesal. Seharusnya Pak Tua sensitif atas kejadian ini. ltu bukan sikap yang baik, mengusir begitu saja orang yang sedang makan, seolah mereka tidak penting. Semua orang seharusnya setara. Diperlakukan dengan respek.

Pak Tua melambaikan tangannya, "Aku tidak akan memikirkan soal moralitas, etika, atau apalah sekarang, anak muda. Aku lapar. Nantilah jika perutku kenyang, kita diskusi soal itu."

"Meong." /ya, aku juga lapar nih.

N-ou menepuk dahinya. Si Putih juga mengesalkan kali ini.

"Tapi Pak Tua."

"Aku tahu, anak muda. ltu tidak adil. Tapi bukan salah kita jika kota ini, atau kawasan Timur ini memiliki kasta sosial. Bukankah kamu mendengar sendiri tetua Suku Petani. Pengendali Hewan adalah penguasa. Ayolah, berhenti membahas soal ini, mari kita nikmati makan malam gratis. Jangan membuat selera makanku hilang."

N-ou menghela nafas kesekian kali. Dasar menyebalkan, itu tetap keliru.

Percakapan itu terhenti sejenak, pelayan berdatangan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Yang segera memenuhi setiap jengkal meja.

"Meong." Si Putih mengeong tidak sabaran.

"Meong." Sekali lagi. Ekornya bergerak­ gerak, mengincar makanan pertama yang hendak dia habiskan.

Persis semua makanan telah terhidang, pemilik rumah makan sekali lagi menghampiri meja, mempersilahkan mereka menikmatinya, ekor Si Putih meluncur cepan mengambil dua piring sekaligus. Pak Tua terkekeh melihatnya.

Kabar baiknya, masakan itu lezat. Lebih lezat dibanding jamuan meja panjang Suku Petani. N-ou sedikit melupakan masalah itu. Dia mulai makan. Lagipula, pengalaman ini tidak buruk. Dia sudah lama sekali tidak makan di restoran. Dulu, Ayah dan lbu sering mengajaknya makan di restoran terbaik kota E-um. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam menikmati kuliner kota E-um yang mahsyur. lni mengembalikan kenangan masa lalu. Bedanya, tidak ada Ayah dan

lbu. Digantikan Si Putih-yang sudah mengambil piring ketiga. Dan Pak Tua­ yang jenggotnya dipenuhi remah makanan.

N-ou menatap Si Putih dan Pak Tua bergantian. Gerakan sendoknya terhenti sejenak.

Lima tahun m1, banyak sekali yang berubah dalam hidupnya. Dia memiliki 'keluarga' baru. Rombongan mereka memang aneh, satu manusia, satu hewan, satu lagi orang tua suka mengomel; tapi mereka dekat satu sama lain. Entahlah apa kabar Ayah dan lbu di Polaris Baru, juga penduduk kota E-um yang ikut dievakuasi, atau apakah ada penduduk lain yang selamat dari pandemi?

Mungkin ada penduduk kota E-um yang selamat. Penduduk itu juga berpetualang

di kawasan Timur Klan Polaris, menyambung hidup. Boleh jadi-

"N-OU?"

N-ou nyaris tersedak. Ada yang memanggil namanya. Reflek menoleh.

"N-ou, bukan?" lni seperti mimpi.

Barusaja dia membenak apakah ada penduduk kota E-m yang selamat dari pandemi, salah-satunya, yang dia kenal, justeru berdiri di depannya.

"S-KET!" N-ou balas berseru.

-- Next Chapter--

Bab 16

Kalian masih ingat taman bunga di perempatan kota E-um? Tempat favorit N-ou duduk menghabiskan petang. Bermain bersama burung-burung, tupai, kupu-kupu. Ditonton takjub oleh penduduk lain yang ikut menikmati taman bunga itu. Masih ingat dengan remaja yang suka bermain skateboard terbang di sana? ltulah S-ket, remaja yang dulu mengobrol sebentar dengan N-ou.

Dia berdiri di depan meja N-ou, membawa nampan berisi makanan, hendak menambah ulang makanan di atas meja. S-ket mengenakan pakaian pelayan. Usianya dua puluh tiga tahun, bukan lagi remaja belasan tahun.

N-ou bergegas berdiri. Dia lebih tinggi dari S-ket sekarang.

"Astaga, S-ket."

N-ou hendak lompat memeluk S-ket. Batal, ada nampan di tangan S-ket. Nampan itu bisa berantakan. Tertawa satu sama lain.

"Kamu selamat, N-ou?"

"lya. Kamu juga selamat, S-ket."

Mereka berdua tertawa lagi. lni sungguh di luar dugaan.

"Oh iya, perkenalkan rombonganku, itu Pak Tua. Sedangkan itu, kucing sahabatku, Si Putih." N-ou menunjuk.

S-ket mengangguk ke arah dua kursi, membalas anggukan Pak Tua. Dan berhenti lama saat menatap Si Putih yang mengeong kepadanya, kembali menoleh ke N-ou, "Aku benar dulu. Benar sekali. Meski teman-teman kita

menertawakanku. Kamu bisa bicara dengan hewan, bukan?"

N-ou mengangguk. Dia ingat percakapan itu.

"Bagaimana kamu tiba di kota ini, S-ket?" N-ou bertanya.

"ltu cerita yang gila, N-ou." S-ket masih memegang nampan.

"Ceritakan. Apa yang terjadi?"

"Malam itu aku nyaris mati, N-ou. Tubuh terbakar, kerongkongan kering, nafas tersumpal. Semalaman tersiksa. Lantas akhirnya terbangun ketika cahaya matahari muncul, serangan itu berakhir. Tubuhku masih sakit semua. Lima hari aku sendirian di apartemen yang hancur. Hari keenam, saat aku berjalan melihat­ lihat kota yang lengang, ada rombongan datang. Penduduk dari Kawasan Timur, mereka datang memeriksa kota E-um,

menemukanku, membawaku pergi. Ada sekitar sepuluh penduduk lain yang selamat dan dibawa."

"Perjalanan siang malam. Mereka menggunakan kendaraan jenis lama yang lambat, namanya mobil kalau tidak salah. Hingga kami tiba di kota ini. Kami dikurung di sebuah bangunan, mereka mengamati kondisi kami bertahun-tahun. Memeriksa ini itu, mencatat. Baru melepaskan kami di tahun keempat. Aku tidak tahu harus pergi kemana setelah itu. Kota ini gila sekali, N-ou. Orang-orang berbicara dengan hewan. Para penunggang hewan. Teknik bertarung. Kau tidak bisa membayangkannya jika tidak menyaksikannya sendiri."

N-ou tertawa. Dia tahu maksud S-ket.

"Dan lihatlah sekarang, aku menetap di kota ini, menjadi pelayan rumah makan. Sudah hampir setahun. Tidak buruk untuk

orang yang nyaris tewas lima tahun lalu. Aku kira aku akan menghabiskan hidup sendirian di kota E-um. Ternyata aku memiliki kehidupan baru di sini. Aku memiliki kesempatan kedua di sini."

N-ou mengangguk.

"Bagaimana kamu bisa sampai di sini, N­ eu? Dan, astaga, kamu Pengendali Hewan? Tadi pemilik rumah makan menyuruh semua pelayan agar sopan melayani meja ini. Aku tidak menyangka, ternyata kamu N-ou. Anak kecil aneh yang dulu sering menyuruh burung­ burung berbaris di taman bunga. Lihatlah, dia tumbuh menjadi pemuda yang tinggi, gagah."

N-ou tertawa.

"Aku ingat itu burung-burung berbaris itu. Bukankah saat itu kamu bilang aku bisa bicara karena tahu bocoran

penelitian rahasia. Konspirasi ilmuwan kota E-um. Kamu suka sekali dengan segala teori konspirasi."

Gantian S-ket tertawa.

HEI! HEI!" Sebuah

menghentikan tawa S-ket.

teriakan

Sungguh terlalu." Pemilik rumah makan mendekat, dia barusaja melihat meja itu, Aku minta maaf, Tuan. Pelayan yang satu ini lancang sekali mengganggu kalian. Malah mengajak mengobrol dan tertawa sendiri seperti orang gila."

Pemilik rumah makan itu menoleh ke S­ ket, 11Segera letakkan nampan itu ! Dasar pelayan rendahan, tugasmu adalah mengirim makanan, bukan mengganggu tamu yang terhomat."

S-ket menelan ludah. Wajanya sedikit pias.

Tidak," N-ou mengangkat tangan, 11 Dia

tidak menganggu kami."

Eh? Tidak menggganggu?"

Aku justeru senang jika dia mau duduk sebentar menemani kami makan malam."

Eh?" Pemilik rumah makan termangu.

Aku mengenalnya. Dia teman lamaku."

Tapi, tapi bagaimana mungkin? Pengendali Hewan tidak punya teman orang biasa. Mereka terlalu hebat untuk berteman dengan-"

ltu tidak benar." Pak Tua kali ini ikut bicara, meletakkan sendok, 11 Wahai, Pengendali Hewan yang satu ini, anak muda itu, punya banyak teman orang biasa. Pelayan ini temannya. Jika dia bilang begitu, siapapun tidak bisa membantahnya. Atau kamu berani

melawan kalimat seorang Pengendali Hewan?"

Pemilik rumah makan menelan ludah.

Aku minta maaf, Tuan. Sekali lagi, atas kesalahpahaman baru. Jika demikian, tentu pelayan kami yang sangat beruntung ini boleh mengobrol dengan tuan. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami. Maaf mengganggu."

Pemilik rumah makan menarik kursi kosong ke meja itu, menoleh ke S-ket.

11Selalu sopan. Jangan bicara melantur." Berbisik.

S-ket mengangguk.

Ka u sedang bicara dengan Pengendali Hewan. Tahu diri." Pemilik rumah makan berbisik lagi. Sebelum bertepuk-tangan memanggil pelayan lain, agar mengambil

nampan di tangan S-ket, menggantikan tugasnya sejenak.

***

Bukan main." Seloroh S-ket setelah pemilik rumah makan dan pelayan lain pergi, dia duduk di kursi kosong itu, 11Aku mungkin akan naik pangkat besok. Atau menjadi pejabat di kota E-Mah-rib."

Naik pangkat?"

 lya. Memiliki teman seorang Pengendali Hewan adalah cara tercepat menjadi orang penting di kota ini." S-ket tertawa, 11Tapi itu tidak penting. Sungguh. Aku lebih senang kita akhirnya bertemu, aku rela menukarnya dengan apapun untuk momen ini. Kamu terlihat hebat sekarang, N-ou. Tapi aku tahu sejak dulu, kamu memang berbeda. lstimewa."

N-ou tertawa. Teringat taman bunga itu, juga kursi panjangnya.

Ka mu tidak menyimpan skateboard

terbang itu?"

Tidak. Mungkin sudah rusak di apartemen."

Benda itu juga mungkin akan disita di sini."

lya. Penduduk kota E-um tidak akan pernah membayangkan ada kota seperti ini. Penduduk yang hidup tanpa teknologi modern. Lampu-lampu itu baru dipasang beberapa tahun terakhir, setelah diskusi panjang pejabat kota."

N-ou mengangguk.

Bagai mana kamu bisa sampai di kota ini, N-ou? Kamu belum menjawabnya tadi."

11Pa njang ceritanya, S-ket."

11Cerit aka n. Aku sudah lama tidak bercakap-cakap dengan teman. Aku memang punya beberapa teman baru di

kota Mah-rib, tapi mereka bukan teman lama seperti kamu."

N-ou menceritakan petualangannya. Malam yang panjang itu-sama dengan S-ket. Si Putih yang menolongnya. Lima tahun mengelilingi dinding transparan setebal seratus meter itu. "ltu sia-sia, Kawan. Sia-sia belaka. Teknologi ilmuwan kota E-um sangat hebat, dinding itu mustahil ditembus. Entah ada berapa banyak lagi penelitian rahasia mereka." Ucap S-ket prihatin. N-ou mengangguk. Menceritakan petualangannya ke timur. Bertemu Pak Tua, perjalanan seminggu terakhir. Hingga mereka tiba di kota ini.

Lengang sejenak. Pak Tua masih makan sambil menguping. Si Putih mengambil piring ke-8, tidak peduli percakapan di sekitarnya.

"Aku suka dengan kehidupan kota Mah­ rib. Penduduk di sini hidup sederhana." S-

ket bicara, 11Tapi sesekali aku rindu dengan kota E-um."

N-ou mengangguk, dia juga rindu.

11Pa ndemi itu, menghabisi semuanya. Entah apa kabar orang-tuaku, teman­ teman sekolah, teman-teman apartemen. Tidak akan lebih dari 20% yang dievakuasi ke Polaris Baru, sisanya tertinggal di kota E-um. Berguguran."

N-ou mengangguk lagi.

ltu semua karena penguasa kota E-um dan kota-kota modern lain yang jahat."

Eh, apa maksudnya? N-ou menatap S-ket.

Ka mu tidak tahu, N-ou? Pandemi itu konspirasi." S-ket bicara dengan semangat, seperti dulu. Wajahnya serius.

Konspirasi apa?"

Virus itu diciptakan oleh ilmuwan kota E­ um dan kota-kota modern lainnya. Mereka sengaja mengembangkannya."

N-ou tertawa, menggeleng. ltu tidak masuk akal.

Kau harus percaya, N-ou. Penguasa kota­ kota modern selalu mengendalikan jumlah penduduk. Mereka harus tetap menguasai banyak hal, terlalu banyak penduduk, kekuasaan mereka bisa terancam. Maka setiap periode tertentu mereka akan melepaskan virus baru, mengurangi jumlah penduduk. Caba lihat, siapa yang duluan berhasil dievakuasi? Orang-orang penting. Keluarganya. Mereka semua selamat. Sedangkan rakyat kebanyakan, ditinggal di kota E-um."

N-ou sekali lagi menggeleng. S-ket tetap tidak berubah. S-ket tetap suka dengan teori konspirasi, seolah itu masuk akal.

Bagaimana mungkin penguasa kota E-um tega menghabisi penduduknya sendiri. Sekali virus itu menyerang, tidak pandang bulu, semua bisa kena, seperti dia yang hanya terjerambab di kotak sampah.

"ltu benar, N-ou. Virus pandemi itu buatan laboratorium canggih kota E-um."

"Boleh jadi." Pak Tua ikut bicara menimpali.

"Nah, Pak Tua juga setuju bukan." S-ket terlihat senang.

"Aku hanya bilang boleh jadi, anak muda. Aku tidak otomatis setuju. Di dunia ini semua mungkin saja terjadi." Pak Tua menepuk-nepuk jenggotnya, dia sudah selesai makan.

"Tapi itu masuk akal, bukan?"

11 M ungkin. Tapi terserahlah. Perutku kenyang. Aku malas bicara yang berat­ berat."

11M eo ng. 11 Makanan yang lezat. Si Putih juga sudah kekenyangan, tubuhnya bersandar ke kursi.

Aku senang kita bertemu lagi, S-ket." N­ eu mengalihkan percakapan. Dia tidak ingin berdebat dengan teman baik yang lima tahun tidak bertemu.

Aku juga senang, N-ou. Kamu hendak melanjutkan perjalanan?"

lya. Ke kota E-sok. Tapi malam ini aku akan menginap di sini."

Tentu saja, kamu harus pergi ke kota E­ sok, N-ou. Untuk seorang Pengendali Hewan sepertimu, posisi dan jabatan tinggi mudah didapat."

N-ou tertawa-menghargai pendapat temannya. Tapi dia tidak tertarik dengan posisi dan jabatan.

Aku harus kembali bekerja, sebelum pemilik rumah makan itu mengomel lagi. Maaf tidak bisa menemani kalian berlama-lama, Pak Tua, Si Putih. Jika kalian mampir lagi di kota ini, jangan lupa singgah ke sini lagi." S-Ket berdiri, dia tahu rombongan ini sudah selesai makan, dan dia harus bekerja.

Apa yang akan kamu lakukan sekarang, S-ket?" N-ou bertanya, ikut berdiri.

Aku menyukai kota ini, aku akan menetap di sm1, siapa tahu aku beruntung, bisa menikah dengan gadis setempat."

Ah, itu bagus, anak muda." Pak Tua berdiri, menepuk-nepuk bahu S-Ket.

M eong." Si Putih lompat ke lantai.

Sampai bertemu lagi, S-ket."

Sampai bertemu lagi, N-ou."

Dua teman lama itu berjabat tangan erat. Berpelukan lama.

Rombongan N-ou kemudian melintasi meja-meja yang dipenuhi pengunjung, menuju pintu keluar. S-ket berdiri menatapnya, tersenyum lebar. Dia bahagia sekali malam itu, sampai lupa peraturan mendasar di kota Mah-rib. Bahwa jika ada Pengendali Hewan hendak lewat, penduduk biasa harus menyingkir.

ltulah yang terjadi, dari lantai atas rombongan penunggang 12 Flamingo itu bergerak tu run. S-ket tidak menyadarinya, dia masih berdiri di sana. Asyik menatap punggung N-ou. Pemilik rumah makan hendak menarik tubuhnya, terlambat.

MINGGIR! 11 Salah-satu dari mereka berseru ketus, menendang S-ket.

BRAK!

Tubuh S-ket terpelanting menabrak meja. Makanan dan minuman tumpah. Seruan tertahan memenuhi lantai bawah.

Dasar pelayan hina."

BUK! Satu kali lagi tendangan menghantam tubuh S-ket.

Masalah serius itu telah datang.


-- Next Chapter--

Bab 17

BUK!

N-ou yang sudah dibingkai pintu menoleh. Berseru melihatnya.

"Jangan. Jangan melibatkan diri, anak muda." Pak Tua bergegas menahan tangannya.

BUK! Sekali lagi tendangan mengenai tubuh S-ket yang meringkuk di lantai. Setiap anggota rombongan 12 flamingo itu lewat, mereka santai mengirim tendangan. Seolah tubuh S-ket hanya onggokan benda tidak penting.

"S-KET!" N-ou berseru lagi.

"Astaga, jangan mencari penyakit, anak muda. ltu bukan urusan kita." Pak Tua mencengkeram tangan N-ou.

BUK!

"Tidak, Pak Tua. S-ket adalah temanku. ltu urusanku. ltu urusan kita semua. Dia tidak bisa ditendang seenaknya. Jika Pak Tua tak mau terlibat, silahkan pergi lebih dulu."

"Meong." Si Putih mengeong. Ekornya sejak tadi sudah berdiri tegak, telinganya runcing ke atas. Dasar kurang ajar enak sekali mereka menendangi orang lain. Demikian artinya.

N-ou dan Si Putih saling tatap. Mereka mengaktifkan bonding atau ikatan unik tersebut.

Satu anggota 12 flamingo hendak menendang.

N-ou sudah merangsek maju. Splash, sambil meluncur, tangan kanannya membuat tameng transparan yang kokoh.

BUK!

Anggota 12 flamingo yang hendak menendang terpelanting jatuh. Tidak menduga akan menendang tameng yang kokoh.

Pecah sudah kekacauan besar di ruang bawah rumah makan itu. Pengunjung yang tadi takut-takut melihat S-Ket ditendangi, berseru-seru. Sebagian dari mereka segera menyingkir. Lupakan makanan di atas meja.

"Meong." Si Putih juga sudah loncat di tengah kekacauan. Mata kuningnya menatap galak anggota 12 flamingo yang balas menatap marah N-ou.

"Kamu baik-baik saja, S-Ket." N-ou bergegas memeriksa keadaan temannya.

S-ket mengangguk, mengelap darah di bibir.

"Siapa anak muda ini, hah?"

"Berani-berani sekali dia melawan kita."

"Entahlah ! Anak ini gila, dia tidak tahu siapa kita."

"Habisi dia segera, beri pelajaran !"

Salah-satu anggota pasukan elit kota E­ sok itu menyerang N-ou yang sedang membantu S-ket duduk. Hendak menendangnya.

"Meooong!" Si Putih lompat lebih dulu, memotong gerakan, menabrakkan badannya ke tubuh penyerang.

BUM!

Pukulan berdentum keluar dari tubuh Si Putih.

Penyerangnya terpelanting.

"Kurang ajar!" Anggota 12 flamingo berseru buas.

"Kucing sialan."

Mereka bersiul kencang. Persis siulan itu terdengar nyaring di langit-langit ruangan, 12 flamingo yang tertambat di depan rumah makan berderap masuk, membuat meja dan kursi terpental. Membuat pengunjung yang hendak keluar terpelanting. Rebah jimpah.

Pak Tua yang berlindung di sudut ruangan mengusap wajahnya. lni menjadi kapiran.

"Flamingo, serang mereka !" Anggota pasukan elit itu berseru.

Mereka ikut mengaktifkan bonding, sama seperti N-ou dan Si Putih.

Cepat sekali pertarungan itu meletus. Sebelum N-ou sempat membantu S-ket duduk, 12 flamingo berbulu hitam memakai baju zirah itu telah menyerang. Dengan para Pengendali Hewan berlompatan, duduk di punggungnya. Mereka menghunus tombak gelap.

"Habisi mereka !" "Seraaang!"

Empat tombak gelap teracung.

BUM! BUM! Tombak itu bisa melepas pukulan berdentum. Teknik bertarung itu dialirkan lewat tombak tersebut.

N-ou lompat mundur, splash, memasang tameng transparan.

BUM! BUM! Tameng itu berhasil menahan serangan.

"Meong." Si Putih keluar dari balik tameng N-ou lompat ke udara. Dari posisi dua meter, kucing itu melepas pukulan lewat ekornya.

CTAR! CTAR! ltu bukan cambuk biasa, itu juga disertai pukulan berdentum.

"Berlindung!" Anggota 12 flamingo mengangkat tombak mereka, splash, membuat tameng transparan.

Lantas empat diantaranya maju, kaki-kaki flamingo bersiap menendang Si Putih. Juga paruh mereka yang berwarna merah darah, mematuk Si Putih.

"Meong." Si Putih lompat menghindar.

BLAR! BLAR!

Kaki-kaki dan paruh itu menghantam lantai kosong, membuat lubang, meja­ meja terpelanting, kursi berserakan. Debu mengepul. Empat flamingo lain ikut merangsek maju tanpa ampun.

"Meong." Si Putih terdesak.

N-ou lompat membantu. Splash, splash,

dua tameng terbentuk di dua tangannya.

BLAR! BLAR!

Menahan serangan burung flamingo, dan juga tombak-tombak penunggangnya yang menghunjam diantara kepul debu.

"Meoong!" Si Putih kembali keluar dari balik tameng N-ou, lompat, ekornya menangkap salah-satu leher burung flamingo. Cepat dan kuat sekali hentakan ekor itu. Sesaat, BRUK! Burung flamingo itu telah terpelanting, menabrak burung yang lain. Penungangganya terbanting ke lantai.

"Anak muda itu menguasai teknik bertarung." Seru salah-satu anggota 12 flamingo, mereka sejenak menahan serangan.

"Jangan anggap remeh. Dia tidak memerlukan benda untuk menyalurkan teknik bertarungnya." Dengus yang lain, "Dan kucing itu, hewan sialan itu bukan mahkluk sembarangan.11

Anggota 12 flamingo menyusun formasi. Yang terjatuh telah lompat lagi ke punggung burung. Kepul debu memenuhi

lantai bawah. Ruangan itu tidak jelas lagi bentuknya.

"Gunakan kekuatan penuh." Salah-satu anggota 12 flamingo berseru.

Lantas bersiul melengking.

N-ou tidak menduganya sama sekali. Dia belum pernah bertarung melawan para Pengendali Hewan, dia hanya pernah bertarung melawan kepiting. Lihatlah, persis siul itu terdengar, di depannya, 12 flamingo itu mengalami transformasi bentuk, mengeluarkan sisik-sisik hitam di sekujur tubuhnya. Bulu-bulu sayapnya berubah laksana pisau-pisau tajam, mengembang, mengerikan.

"Meooong." Maju kalian. Si Putih menggeram, tidak gentar.

N-ou mengepalkan tinjunya. "HABISI DIA!"

"SERAANG !11

Dua belas flamingo menyerbu ke tengah ruangan, dari seluruh sisi. Mereka membentuk formasi dua lapis, saling melindungi, saling mengisi.

N-ou berteriak, splash, splash, dua tameng terbentuk. Dia menyambut serangan itu.

BLAR! BLAR!

Kiri, kanan, atas, bawah, cepat sekali serangan itu datang. N-ou mengatupkan rahang, dia masih bisa menangkisnya. Gerakan tangannya lincah, kakinya melenting ke sana kemari.

"Meooong!" Dan Si Putih juga gesit lompat membantu, keluar dari balik tameng. Tubuh kucing itu bagai menari diantara kepul debu. Sesekali menahan serangan dengan tameng transparan, lebih sering lagi membalas mengirim

pukulan berdentum. Ekornya seperti bergerak sendiri. Menyambar kesana­ kemari.

BUM! BUM! BLAR! BLAR!

Dua belas flamingo terus merangsek. Enam di depan, enam di belakang. Bergantian. Sayap burung itu sangat kuat, bulunya yang setajam pisau bisa mengiris tameng transparan N-ou. Membuat N-ou bergegas menghindar, memanfaatkan setiap celah yang tersedia. Membentuk lagi tameng yang baru, atau melapisinya dengan tameng dari tangan yang lain.

Keringat deras mengucur deras dari tubuhnya. Lima belas menit berlalu cepat, pertarungan itu menguras seluruh tenaga. Pertempuran melawan empat kepiting sebelumnya tidak ada apa­ apanya. Dia telah mengerahkan semua

kemampuan menahan serangan, juga Si Putih, hewan itu mulai menggerung kelelahan. Tapi lawan mereka jelas lebih banyak. Dua belas burung ditambah dua belas penunggangnya.

BLAR! Sayap salah-satu flamingo menghantam tameng milik N-ou.

Tameng itu retak.

BLAR! Sayap yang lain sekali lagi menghantamnya sebelum N-ou melapisi.

Tameng itu hancur.

Dua tombak melesat menuju ke badan N­ au.

"Meong." Si Putih berseru mengingatkan-dia tidak bisa membantu N-ou, kucing itu harus mengurus empat flamingo lain.

BUM!

Tongkat pertama berhasil menghantam bahu N-ou, membuatnya terbanting ke belakang. N-ou bergas hendak memasang kuda-kuda.

BUM!

Tongkat kedua lebih dulu tiba mengenai dadanya. Telak. Tubuh N-ou terpelanting dua meter, menabrak meja, membuat meja itu hancur.

Dua penunggang flamingo lain merangsek maju, tidak memberi ampun. Kaki-kaki burung itu terangkat tinggi, bersiap menghantam N-ou.

11M eong!" Si Putih hendak lompat membantu.

BLAR!

Flamingo lain lebih dulu menahannya, membentangkan sayap lebar-lebar, bulu­ bulunya yang tajam mengenai Si Putih.

Kucing itu ikut terpelanting jatuh. Dua flamingo bergantian merangsek menghabisinya. Si Putih lompat ke udara melewati celah sayap-sayap, berhasil lolos, tapi tidak dengan N-ou, kaki-kaki burung itu tinggal setengah meter dari tubuhnya yang masih terduduk kesakitan di atas lantai yang berlubang.

N-ou menatap jerih kaki-kaki flamingo dengan sisik-sisik gelapnya.

Nasibnya di ujung tanduk.

Splash!

Sepersekian detik kaki-kaki itu menghantam, sebuah tameng transparan terbentuk di depan tubuh N-ou. BLAR! BLAR! Berhasil menahan terjangan kaki­ kaki burung, membuat burung flamingo terbanting ke belakang.

Pak Tua, dia memutuskan melibatkan diri dalam masalah, mencari penyakit. Kursi

rodanya maju, dia mengetuk layar transparan di kursi, gelang-gelang di roda membuat tameng transparan tersebut.

"HABISI JUGA ORANG TUA ITU!"

Anggota 12 flamingo berseru marah. Dua diantaranya buas menyerang Pak Tua. Tidak peduli jika lawannya hanyalah kakek tua di atas kursi roda.

Splash.

BLAR! BLAR!

Sayap burung flamingo yang tajam menghantam tameng dari kursi roda, tameng itu hancur dengan mudah. Dua tombak meluncur. BUM! Menghantam telak kursi roda, membuat benda itu terpelanting, Pak Tua terjatuh.

"Pak Tua!" N-ou berteriak. "Meong!" Si Putih ikut berseru. "JANGAN KASIH AMPUN!"

"HABISI !11

Dua flamingo itu terus mengejar Pak Tua yang berusaha merangkak.

"Meong!" Si Putih berseru marah. Terpisah jarak enam meter, dan empat flamingo mengepungnya.

N-ou juga berteriak marah. Tapi dia dalam kondisi rumit, masih terduduk, tidak bisa membantu. Dua flamingo lain telah kembali menyerangnya.

"MEEEONGG!" SI Putih menggeram kencang.

N-ou menatap mata kuningnya. Dan mata kuning Si Putih menatap mata hitamnya.

N-ou ikut berteriak kencang, "AARGGH !"

Persis dua pasang mat aitu bersitatap. Sel syaraf di kepala N-ou mengalami lompatan. Juga sel di kepala Si Putih. Koneksi itu mengalami peningkatan.

Upgrade. Dia mulai paham bagaimana bonding ini bekerja. Jika level pertama berhasil dicapai, maka hanya soal waktu level berikutnya tergapai. Semakin kuat ikatan yang terbentuk, semakin kuat pula teknik bertarung mereka.

Level ke-2 bonding itu terbentuk.

Kekuatan N-ou dan Si Putih tumbuh dua kali lipat lagi, seperti pertumbuhan eksponensia I.

11MEEOOONG!" Si Putih melompat. Persis masih di udara, tubuhnya mengalami transformasi mengagumkan. Hewan itu membesar satu setengah kali, kuku­ kukunya memanjang tajam, telinganya runcing ke udara. Ekornya mengeluarkan cahaya putih.

Juga N-ou, dia merasakan kekuatan baru bergolak di dalam tubuhnya. Siap meledak.

N-ou berteriak, menghentakkan kakinya. Cepat sekali gerakannya. Sekejap, dia sudah muncul di depan Pak Tua. Memotong serangan sayap dari dua burung flamingo, tinju kosongnya memukul ke depan, menyambut bulu­ bulu setejam pisau itu.

BUM!

Sayap itu robek, burung flamingo pertama terpental jauh.

BUM!

Juga burung flamingo berikutnya, bulu­ bulunya yang tajam remuk, berguguran. Penunggangnya terbanting hingga atap ruangan.

11M eooong!" Si Putih di udara juga telah mengmm serangan.

CTAR! CTAR!

Ada cahaya putih melesat setiap kali ekor itu mengincar lawannya. Dua dari empat flamingo yang mengepungnya terbanting ke lantai bahkan sebelum melihat serangan itu datang. Paruh burung­ burung itu remuk, juga penunggangnya. Tombak-tombak gelap itu terlempar.

Saat penunggang lain masih berusaha memahami apa yang terjadi, N-ou telah merangsek maju, meninggalkan Pak Tua yang telah berhasil berdiri. Tinju N-ou silih berganti mengincar.

BUM! BUM!

Dua lagi flamingo terkapar di lantai.

11Meooong!" Si Putih juga mengamuk. Kakinya mendarat di tiang-tiang ruangan, berlompatan dari satu tiang ke tiang lain, juga berlarian di atap ruangan, dengan ekor yang terus menyambar.

CTAR! CTAR!

Cepat sekali sisanya terjadi, delapan anggota flamingo telah tersungkur di lantai. Burung-burung itu mendesis kesakitan, sayap mereka patah, robek, terluka, juga paruh-paruhnya retak.

Lengang sejenak.

N-ou berdiri gagah di antara kepul debu. Dia menahan serangannya. Menatap empat anggota 12 flamingo yang tersisa.

"Meong." Si Putih yang nyaris setinggi lutut N-ou ikut berdiri di sebelahnya.

Empat anggota 12 flamingo menelan ludah.

lni mengerikan.

Siapapun anak muda ini, mereka belum pernah mengalami hal paling memalukan ini. Pasukan elit Kata E-sok dihabisi begitu saja oleh remaja usia belasan tahun, dengan kucing lucunya.

Nafas mereka tersengal, pakaian gelap mereka kotor oleh debu. Saling lirik, berhitung. Mereka tidak akan punya kesempatan menang. Bahkan dengan anggota lengkap mereka tetap tidak menang, apalagi hanya tersisa empat. Level bonding musuhnya ada di tingkatan yang berbeda. Kucing ini juga jelas bukan hewan sembarangan. Bukan tandingan flamingo mereka.

"Pergi dari tempat ini." N-ou berseru, tangannya mengacung ke pintu.

"Meong!" /ya, pergi sana. Si Putih ikut mengeong.

Empat anggota flamingo saling tatap sejenak. Sekejap, wajah buas mereka sebelumnya redup, berubah menjadi ketakutan, mereka bergegas membantu teman-temannya yang masih terkapar. Burung-burung itu juga melangkah gontai keluar, beberapa dengan Iuka parah.

Pak Tua mendekat, dia sudah di atas kursi roda, dia baik-baik saja.

"Kita benar-benar dalam masalah besar, anak muda."

"Kita menang, Pak Tua. Apa masalahnya?" N-ou mendengus.

Pak Tua menghela nafas. Anak muda ini, dia jelas sekali petarung hebat. Kekuatannya tumbuh cepat sekali beberapa hari terakhir. Anak muda ini, juga memiliki prinsip yang mulia. Demi membela kehormatan temannya, dia rela bertarung hidup mati. Sangat membanggakan melihatnya. Tapi anak muda ini, masih polos sekali. Kejadian hari ini jelas akan memicu masalah lainnya. Mereka benar-benar dalam masalah besar. Tidak hari ini, tapi esok lusa.

"Meong." Si Putih menatap burung flamingo terakhir yang meninggalkan ruangan.

"Apa kata si Buntut Panjang itu, heh?"

Tahu rasa kalian! ltu maksudnya.

Pak Tua mengusap wajahnya. Baik anak muda ini, juga kucingnya, sama saja kelakuan mereka berdua. Seperti kanak­ kanak.

N-ou telah lompat membantu 5-ket duduk.

-- Next Chapter--

Bab 18

Kabar pertarungan itu melesat cepat dari mulut ke mulut di seluruh kota Mah-rib.

Bahwa ada seorang anak muda, gagah, seorang diri menaklukkan para penunggang 12 flamingo. Anak muda itu, entah siapa namanya, seorang Pengendali Hewan, membela penduduk biasa. ltu menakjubkan. Tidak pernah dalam sejarah kota Mah-rib ada Pengendali Hewan yang membela penduduk biasa. Seorang diri dia mengalahkan-

MEONG !"

Baik, direvisi, bersama dengan kucingnya yang lucu menggemaskan-

MEONG !"

Baik, direvisi lagi, bersama dengan kucingnya yang gagah, memesona, anak muda itu mengalahkan tindakan sewenang-wenang dari pasukan elit Kota E-sok yang menganiaya seorang pelayan rumah makan.

Penduduk kota Mah-rib terus membicarakan kabar itu hingga larut malam. Wajah-wajah semangat, wajah­ wajah antusias. 11 lt u bagus sekali, akhirnya ada yang berani melawan." Seru mereka, 11Set uju. Aku sudah lama muak dengan tingkah para Pengendali Hewan, mentang-mentang mereka punya kekuatan." Dengus yang lain. 11Bena r, benar, mereka selalu diskriminatif. Mau menang sendiri." 11Ngomong-ngomong, kalian jangan terlalu kencang bicaranya. Nanti ada Pengendali Hewan yang mendengarkan." Penduduk yang sedang berkumpul menelan ludah. Benar juga.

Menurunkan volume suara, berbisik­ bisik.

Sementara N-ou, Si Putih dan Pak Tua telah tidur nyenyak di penginapan. Mereka sebelumnya membantu 5-ket pulang ke rumahnya yang kecil di pinggiran kota, seorang tabib mengobatinya, memastikan dia baik-baik saja, hanya perlu istirahat satu-dua hari. N-ou juga sempat menyerahkan kantong uang miliknya kepada pemilik rumah makan, minta maaf atas lantai bawahnya yang rusak berat. 11Tidak, Tuan. Saya tidak bisa menerimanya. Bahkan Tuan sebenarnya tidak perlu minta maaf. Tidak ada Pengendali Hewan yang minta maaf ke penduduk biasa, itu peraturan lama." N-ou terdiam, itu peraturan yang fantastis bodohnya. Pak Tua memasukkan kantong uang itu ke sakunya, baguslah.

Esok pagi-pagi, setelah sarapan di penginapan, setelah singgah sejenak di rumah S-ket, dua sahabat lama berpamitan, rombongan itu melanjutkan perjalanan.

ltu sama epiknya dengan perpisahan di pemukiman Suku Petani. Penduduk kota Mah-rib yang tahu jika pahlawan mereka akan berangkat, berlarian ke pinggir jalan, melambaikan tangan.

"Meong." Si Putih melangkah anggun, ekornya bergelung di atas.

"Hidup kucing putih!"

"Hidup anak muda berambut panjang!"

N-ou dengan wajah sedikit memerah, kikuk, mengangguk sesopan mungkin. lni pengalaman baru baginya. Mereka seolah berjalan di atas karpet merah panjang.

"Hidup pak tua dengan kursi rodanya !"

Pak Tua santai melambaikan tangannya, bergaya. Tersenyum lebar. Kursi rodanya melaju tanpa suara di atas jalanan kota.

"Heh, anak muda, apa susahnya balas melambai?"

N-ou menggeleng tegas. Tidak mau.

"Ngomong-ngomong, jika melihat betapa ramainya mereka melepas kita, kamu bisa berjodoh dengan mudah dengan anak gadis Suku Pedagang kota ini," Pak Tua berbisik.

"Meong." Si Putih tertawa. "Tidak lucu." N-ou melotot.

Pak Tua terkekeh, konverter di hidungnya.

memperbaiki

Mereka tiba di lapangan tempat parkir benda terbang, berlompatan naik. Tidak perlu berlama-lama lagi, N-ou menarik

tuas kemudi, Paruh Perak segera meluncur naik, kembali melanjutkan perjalanan menuju timur.

***

Petualangan mereka kembali normal.

Pemandangan di bawah sana telah berubah. Tidak ada lagi padang bebatuan hijau, digantikan dengan hutan lebat. Kota Mah-rib telah lama tertinggal di belakang.

Pak Tua melanjutkan membaca perkamen, tidak mau diganggu. Si Putih menempelkan wajah di jendela kaca, menatap hamparan hutan. N-ou konsentrasi dengan tuas kemudi.

ltu hutan rimba yang berbeda dengan sebelumnya. Hutan itu terlihat lengang. Enam jam mereka melintas tanpa henti di atasnya, jangankan kawanan burung, kupu-kupu, atau apalah yang terlihat,

seeker serangga terbang pun tidak ada. N-ou sesekali menurunkan benda terbang, memperhatikan hutan dari jarak dekat, juga tidak terlihat hewan liar di sana. Tidak ada bangsa monyet yang bergelantungan di pohon, padahal ada setidaknya 12.000 spesies monyet di Klan Polaris. Entah kemana hewan itu. Jangan tanya rusa, kijang, babi, dan sebagainya. Lengang.

Hutan ini seperti tidak berpenghuni.

M eong." Si Putih mengeong.

 lya, Put. Kita segera mendarat."

N-ou tahu itu sudah masuk jadwal makan siang. Dari tadi benda terbang menyisir tempat yang baik untuk mendarat.

Meong." Si Putih menunjuk dengan ekornya.

"Siap, Put." N-ou juga melihat lapangan kecil di bawah sana. Di antara pohon­ pohon menjulang tinggi, rapatnya semak belukar, ada lapangan rumput sebesar sepuluh kali sepuluh meter, itu cukup untuk mendarat.

Paruh Perak segera meluncur ke bawah. Berhenti mengambang setengah meter dari tanah, jendela kaca dibuka, N-ou melompat turun, menyusul Si Putih yang lebih dulu lompat dengan riang. Pak Tua ikut turun.

N-ou bergegas memasang tonggak­ tonggak di sekeliling.

"Bua tapa lagi, anak muda?" Pak Tua bertanya, sambil melemaskan badan.

"Jaga-jaga."

Bukankah Pak Tua tahu gunanya tonggak ini.

"Kamu seorang pengendali hewan sekarang. Tidak perlu tonggak itu."

N-ou menggeleng. Dia akan terus melakukan protokol keamanan. Bahkan kalaupun tonggak ini tidak berguna banyak. Lagipula, tidakkah Pak Tua melihat hutan ini.

Menyeramkan.

Pohon-pohonnya tidak lurus, tapi meliuk, berpilin, menyerupai sosok-sosok dan bentuk-bentuk aneh lainnya. Daun­ daunnya lebar seperti wajah manusia. Akar-akar panjang menjuntai, semak belukar rapat, dan setiap angin berhembus di sela-sela pepohonan dan daun, seolah terdengar suara berbisik, atau bahkan tertawa cekikikan di kejauhan. Mungkin itu penyebab tidak ada hewan di hutan ini, horor. Hanya karena Si Putih bilang lapar, dan dia tidak

punya alasan baik menolaknya, mereka terpaksa mendarat di sini.

N-ou tidak tertarik masak, aroma atau asap masakan bisa jadi mengundang penunggu hutan ini mendekat. N-ou membuka bungkusan kesekian dari Suku Petani. Meskipun sudah lewat dua-tiga hari, suku itu punya cara mengawetkan makanan ini, bekal dari mereka tetap segar saat bungkusannya dibuka.

Makan siang yang lengang. Jangankan jangkrik atau serangga, semut pun tak terlihat.

"Boleh aku bertanya, Pak Tua."

"Bebas. Tapi terserah aku mau menjawabnya atau tidak."

"Apa yang Pak Tua lakukan dulu waktu muda?"

"Aku sudah pernah bilang, anak muda. Kamu masih terlalu belia untuk punya penyakit pikun."

N-ou menyeringai. Kenapa sih bicara dengan Pak Tua itu tidak bisa normal seperti bicara dengan orang lain. Dia memang sudah tahu jika Pak Tua dulu suka berpetualang hingga tua, hingga akhirnya tinggal di tempat terpencil.

"Maksudku berpetualang?"

sebelum Pak Tua

"ltu bukan urusanmu." "Meong."

"Heh, Si Buntut Panjang bilang apa?"

Pak Tua benar-benar orang paling menyebalkan se-klan Polaris.

Pak Tua terkekeh, hingga batuk-batuk. Meletakkan bungkusan makanan, meraih

botol air minum, menenggaknya. Memperbaiki posisi duduknya.

"Aku dulu pelajar yang sangat bersemangat, anak muda." Pak Tua menjawab pertanyaan lebih baik, "Sejak kecil, aku suka dengan buku-buku. Dua belas tahun pendidikan formal, aku membuat pusing guru-guru di sekolah. Entah berapa kali orang-tuaku dipanggil karena aku bertanya hal yang menurut mereka mengkhawatirkan."

"Saat kuliah di universitas, kecintaanku atas buku lebih menjadi-jadi lagi. Aku membaca buku lebih banyak dibanding seluruh mahasiswa di universitas dijumlahkan. Dosen-dosen menyerah atas pertanyaanku, dan mereka tidak bisa memanggil orang-tuaku. Aneh sekali jika

profesor banyak temanku

mengeluh mahasiswanya bertanya, bukan? Teman- berbisik, bilang aku gila,

menatap kasihan. Tapi tidak masalah. Aku yang sebenarnya menatap mereka kasihan, karena mereka tidak bisa melihatnya."

N-ou mengangguk-angguk.

"Selain mempelajari tentang peradaban tua Klan Polaris, atau tentang dunia paralel, aku juga menyukai mempelajari sifat manusia. Cara mereka berinteraksi. Cara mereka berpikir, ambisi, kepentingan, termasuk struktur masyarakat, pola hubungan sosial, hingga ekonomi, budaya dan politik yang dikembangkan manusia. Kau tahu anak muda, aku menamatkan semuanya. ltu sangat menarik, membuatku memahami banyak hal."

N-ou mengangguk-angguk lagi. ltulah sebabnya Pak Tua tahu banyak hal.

"Misalnya, semua struktur masyarakat selalu punya masalah. Punya 'penyakit'. Kemarin sore kita menyaksikan teman baikmu ditendang berkali-kali. Apa dosanya? Sial. Dia tidak tahu menghalangi jalan Pengendali Hewan. ltu penyakit. Virus dalam kehidupan bermasyarakat. Penyakit itu sama bahayanya dengan virus betulan. Bahkan dalam situasi tertentu, daya rusaknya lebih besar.

"Tapi itu tidak hanya terjadi di sini. Di klan manapun, penyakit ini ada. Kelompok tertentu ambisius ingin berkuasa, mereka menyingkirkan yang lain. Membentuk peraturan sendiri. Kelompok ini korup, mereka membagi kekuasaan hanya untuk keluarganya, atau orang-orang dekatnya. Sementara masyarakat luas hanya diam. Atau dalam kasus lain yang lebih menarik, justeru tertipu oleh pencitraan, topeng,

menyanjung, memuja orang-orang korup tersebut. ltu terjadi dimana-mana, mulai dari klan paling primitif hingga klan paling maju sekalipun.

"Aku minta maaf sempat mencegahmu kemarin sore, tapi itu karena aku mengkhawatirkanmu. Sesungguhnya, aku bangga sekali menyaksikan seorang anak muda berani melawan kesewenang­ wenangan. Berani berdiri gagah melawan, apapun resikonya, saat orang lain memilih diam. Karena sejatinya itulah hakikat kehidupan. Kita senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup. Dari begitu banyak buku yang kubaca itulah definisi mendasar kehidupan, itu bukan

hanya soal bertahan hidup, survive, atau

tentang berkuasa. Karena jika hanya tentang itu, manusia sama saja dengan hewan."

N-ou mengangguk-angguk. Setuju. "Meong."

"Heh, apa maksud meongan Si Buntut Panjang itu?"

N-ou hanya bertanya tentang apa yang Pak Tua lakukan dulu saat muda. Kenapa jadi membahas ha/ lain panjang lebar. Serius sekali.

Pak Tua tertawa.

"Kucing ini, ia berbakat jadi pelawak. Aku semakin menyukainya."

"Meong." Enak saja. "Lucu sekali, lihat." "Meong."

N-ou ikut tertawa.

Tidak terjadi sesuatu s1ang itu. Hingga selesai makan siang, N-ou membereskan sisa-sisa makanan, memastikan tidak ada

sampah walau sebutir remah. Mencabut tonggak-tonggak, memasukkan peralatan ke dalam bagasi, lantas berlompatan naik.

Benda terbang itu kembali melesat terbang.

***

Hutan itu tetap senyap.

Lepas makan siang Pak Tua tidur di kursi belakang, mendengkur. Si Putih asyik menjilati bulunya.

N-ou menatap sekitar. Dia mulai bosan. lni rekor baru, bayangkan sepuluh jam terbang, sejak memasuki kawasan hutan rimba, tidak ada pemandangan menarik di luar sana. Hanya hutan. Pucuk-pucuk kanopi pepohonan. Sesekali memang terlihat awan di atas sana, tapi masa' iya dia menonton awan berarak. Atau menonton langit biru? Apa serunya?

N-ou menguap lebar.

Matanya baru membesar lagi saat matahari mulai tenggelam. Bola merah besar itu terlihat indah di kaki langit timur. Langit bersih, sempurna bundar, fantastis.

Pak Tua dan Si Putih ikut menatapnya.

Satu jam mereka terus melaju menuju bola matahari itu. Hingga lenyap ditelan kaki langit. Malam telah datang.

"Meong."

"lya, Put. Kita segera mendarat."

ltu masih hamparan hutan rimba yang sama. Entah masih berapa luas lagi hutan ini. Tidak banyak pilihan mendarat, ketika sudut matanya melihat lapangan rumput berikutnya, N-ou menarik tuas kemudi, Paruh Perak segera meluncur turun.

Kaki-kaki mereka menginjak rerumputan. Menatap sekitar yang gelap. N-ou melemparkan bola-bola kecil, lamput terbang, membuat terang sekitar. Memperhatikan pohon-pohon yang saling menyilang, berkelindan.

"Meong."

"Ada apa, Put?"

"Meong." Ekor Si Putih bergerak-gerak. Kepalanya mendongak, mencium bau sekitar.

"Eh? ltu mustahil, Put." "Meong."

"Buntut Panjang bilang apa?"

N-ou menelan ludah. Si Putih bilang: ini Japangan yang sama saat mereka tadi makan siang.

"Buntut panjang serius?" Dahi Pak Tua terlipat.

N-ou meremas jemari, memeriksa cepat sekelilingnya. Benar. Pepohonan ini. Batang-batangnya. Semak belukar, bahkan masih tersisa bekas rumput yang mereka duduki tadi siang. Juga bekas tonggak-tonggak yang dia tancapkan. lni horor. Bagaimana mungkin mereka kembali ke titik semula? N-ou tahu, dia pernah membaca jika di hutan lebat, orang-orang bisa kehilangan orientasi, tersesat, hanya berjalan berputar-putar dan kembali lagi ke titik semula.

Tetapi mereka menaiki benda terbang, dengan navigasi lengkap. Dan mereka terbang lurus menuju timur, bahkan matahari tenggelam itu jadi patokan. Bagaimana mungkin mereka hanya berputar-putar saja dan kembali ke sini? Hutan ini membuat mereka berhalusinasi? Ada sesuatu yang mengerikan di dalam hutan ini.

"Meong." Ekor Si Putih berdiri tegak. Waspada.

N-ou menghela nafas. Dia tahu, hutan ini menyeramkan.

Lengang. Tanpa hewan. Jangankan kunang-kunang, derik serangga apapun tidak terdengar. Daun-daun besar di pepohonan laksana wajah-wajah manusia yang mengintip. Bergerak-gerak. Dan suara bisik-bisik, tertawa cekikikan itu semakin lantang terdengar setiap kali angin berhembus.

"Kita sebaiknya naik lagi ke benda terbang."

"Heh, buat apa?" Pak Tua keberatan. "Kita tidak bisa bermalam di sini?"

"Memangnya kenapa?" Pak Tua mengangkat bahu.

"Hutan ini horor, Pak Tua. Seperti ada sesuatu di dalam hutan ini."

"Kamu takut?"

"Aku tidak takut, Pak Tua. Aku berjaga­ jaga kemungkinan terburuk."

"Sama saja. Aku tidak mau lagi terbang. Berjam-jam di dalam benda terbang itu, punggungku sakit. Aku hendak segera tidur, meluruskan badan."

N-ou mengusap rambut. "Bagaimana menurutmu, Put?" "Meong." Bermalam di sini.

Aduh. Si Putih ikut setuju dengan Pak Tua. N-ou sekali lagi menatap pohon-pohon yang meliuk, kait-mengait, daun-daun besarnya, ini ide buruk. Tapi dia kalah suara, dua lawan satu. Baiklah, N-ou mulai beranjak memasang tonggak­ tonggak dinding transparan.

Malam itu mereka makan dengan cepat. Pak Tua lelah, Si Putih tidak tertarik melihat hutan yang lengang, dan N-ou juga butuh istirahat, dia terus memegang tuas kemudi sepanjang hari. Rombongan itu memasuki tenda lipat cadangan. ltu sama bentuknya dengan tenda yang masih rusak. Segera berbaring di tempat tidur.

Lima menit, suara dengkur Pak Tua terdengar.

N-ou memasang tutup kuping. Kembali berbaring.

Satu jam, dia tetap tidak bisa tidur. Di kepalanya melintas berbagai skenario buruk. Bagaimana jika hutan ini ada hewan buas? Yang membuat hewan lain takut berada di dalamnya? N-ou menelan ludah. Atau bagaimana jika ada peri-peri di dalamnya, yang bisa mengubah manusia menjadi kodok, atau mengubah

kodok menjadi manusia yang menyamar jadi Pak Tua. ltu akan repot sekali. N-ou menghembuskan nafas, dia jadi ingat dongeng kanak-kanak yang sering diceritakan lbu dulu.

Dua jam.

Tiga jam. Dia akhirnya tertidur.

Untuk persis di tengah malam, N-ou merasa ada yang menjilat-jilat wajahnya.

N-ou menyingkirkannya. ltu pasti Si Putih. Kadang kucing itu ikut tidur di sebelahnya. Meringkuk di sana. Atau malah tidur persis di depan wajahnya.

Lima menit. N-ou kembali merasakan ada yang menjilat-jilat wajahnya.

N-ou mendengus. Matanya masih terpejam. Ayolah, Put, jangan dekat­ dekat. Dia tidak bisa tidur, menyingkirkan lagi 'Si Putih'.

Lima menit. 'Si Putih' kembali menjilati wajah-

Jengkel, dia membuka matanya. Siap mengomel.

Astaga ! ltu bukan Si Putih.

Melainkan sebuah akar pohon, atau tumbuhan merambat, atau sulur apalah. Bentuknya panjang, dengan mudah melewati dinding transparan di luar, terus merambat ke tiang tenda, menyelinap masuk, lantas ujungnya yang bundar seperti wajah manusia tanpa mata, hidung, dan mulut, mengendus­ endus N-ou.

N-ou berseru ngeri. mendorong tumbuhan lantai tenda.

Dia segera itu, lompat ke

"PAK TUA!!" Berseru membangunkan. "PUT!" Meneriaki Si Putih.

Tidak ada jawaban.

Apa yang terjadi? N-ou bergegas keluar dari kamar. Tumbuhan itu melesat menghalanginya, N-ou mendorongnya, berhasil, tiba di tempat Si Putih tidur. Menatap panik, lihatlah, Si Putih dililit oleh tumbuhan yang lain, membuatnya tidak bisa mengeong, hanya bisa meronta-ronta. Juga Pak Tua, orang tua itu telah dililit oleh tumbuhan merambat lainnya lagi, hanya ujung rambut berantakan Pak Tua yang terlihat.

Dan tumbuhan merambat satunya juga telah menyergap N-ou. Melilit pinggangnya. N-ou berontak, berusaha meninju. Hendak melepas pukulan berdentum, terlambat, tumbuhan merambat itu telah melilit tangannya, cepat sekali. Terus melilit, meluncur, dengan mengeluarkan suara mendesis­ desis, tumbuhan ini bergerak.

Sekujur tubuh N-ou sempurna dililit, tidak ada celah untuk melihat keluar. Susah payah bernafas. Jangankan melepas pukulan berdentum sekarang, menggerakkan jari saja susah.

Tiga tumbuhan merambat itu kembali mundur, keluar dari tenda, turun ke tanah, menarik tubuh-tubuh yang berhasil ia lilit. Terus mundur ke hutan­ hutan lebat, bersama puluhan, ratusan tumbuhan merambat lainnya. Mendesis­ desis.

Lima menit. N-ou, Si Putih, dan Pak Tua telah tergelantung tidak sadarkan diri di atas pohon besar, di sekitarnya, lautan tumbuhan merayap terlihat. Ada di mana-mana. Ujung-ujung tumbuhan itu bergerak-gerak, seperti wajah tanpa mata, hidung dan mulut, mendongak, menatap ke tiga mangsanya yang baru saja berhasil ditangkap. Mendesis-desis ramai.

ltulah sebabnya hutan itu lengang tanpa hewan.

Karena hutan itu dikuasai penuh oleh tumbuhan merambat itu. Bahkan hewan paling buas di Klan Polaris berpikir sepuluh kali sebelum menjejakkan kaki di sana.

-- Next Chapter--

Bab 19

N-ou membuka matanya. Dia bisa melihat.

Dimana dia sekarang? Apa yang terjadi.

N-ou mengeluh, dia jelas sedang menggelantung di atas pohon. Tubuhnya dililit oleh tumbuhan rambat, menyisakan wajah. Dia berusaha berontak, melepaskan diri.

Salah-satu sulur tumbuhan rambat naik mendekati N-ou. Ujungnya yang berbentuk lebar itu berada setengah meter di depan wajah N-ou. Mendesis.

Lepaska n aku," N-ou berseru. Mendesis.

Tumbuhan rambat di badan N-ou mengencangkan ikatan. Membuat N-ou berteriak kesakitan.

Mendesis.

N-ou tersengal. Dia susah bernafas. Tapi dia sepertinya paham apa maksudnya, jangan melawan, atau ikatan akan dikencangkan. N-ou mengangguk, menghentikan rontaannya.

Mendesis.

Sulur tumbuhan itu kembali turun, bergabung dengan ribuan, atau lebih, lautan ujung-ujung tumbuhan rambat yang memenuhi dasar hutan. Mendesis­ desis.

Giliran Pak Tua terbangun, dia tergelantung di sebelah kanan N-ou. Langsung meronta-ronta. Wajahnya tidak dililit lagi, dia bisa bicara sekarang­ mengomel tepatnya.

"Heh, lepaskan aku!" Pak Tua berseru.

Salah-satu sulur tumbuhan rambat naik lagi ke atas, ujungnya yang bundar, lebar, tapi tanpa apapun itu seolah menatap Pak Tua. Mendesis.

"Heh, dasar tumbuhan sial, lepaskan ak u- 11

Pak Tua berteriak, kesakitan. Tumbuhan rambat yang melilit badannya mengencangkan ikatan.

"Lepaskan aku, pengecut!" ltu tidak menghalanginya mengomel, "Berani­ beraninya menyerang saat kami tidur, melilit diam-diam."

Mendesis.

Pak Tua berteriak kencang.

"Jangan melawan, Pak Tua." N-ou berseru.

"Aku tidak aka n- 11

Pak Tua berteriak lagi.

"Tumbuhan ini tidak main-main, jangan melawan, Pak Tua."

"Baik! Baik!" Pak Tua berseru, menghentikan gerakan badannya.

Sulur tumbuhan itu mendesis. Lilitan di badan Pak Tua kembali seperti semula.

Pak Tua berusaha mengatur nafas. Batuk satu-dua.

N-ou menoleh ke samping kiri, Si Putih menggelantung di sana. Sejak tadi sudah siuman, tapi kucing itu tetap tenang. Mata kuningnya tajam menatap sekeliling. Ekornya tidak bisa bergerak­ gerak, karena juga dililit sempurna oleh tumbuhan rayap.

"Kita ada di mana?" Pak Tua berbisik.

"Aku tidak tahu, Pak Tua. Tapi yang pasti, tumbuhan ini ada di mana-mana."

"Aku juga tahu kalau seal itu." Dengus Pak Tua pelan.

Di pohon, di dasar hutan, di dahan-dahan, ujung-ujung tumbuhan rambat ini bermunculan, seperti kecambah tumbuh. Bedanya, kecambah hanya diam di posisinya, sulur tumbuhan ini bisa menjulur naik kemana-mana, entah dimana ujung akarnya berada.

Matahari pagi mulai terbit, cahayanya menerobos kanopi hutan.

"Kamu harus melakukan sesuatu, anak muda."

N-ou menggeleng. Tangannya terkunci. Tidak bisa digerakkan sama sekali. Tumbuhan ini pintar, mereka bahkan tahu jika ekor Si Putih berbahaya, melilitnya sampai ujungnya. Agar mangsa yang mereka tangkap tidak bisa mengirim pukulan berdentum, tameng transparan.

Lagipula, kalaupun posisi mereka bebas, melawan ribuan tumbuhan ini, kemungkinan menang nyaris tidak ada.

"Heh, Buntut Panjang, tidak bisakah kuku-kukumu memotong tumbuhan yang melilit?"

"Meong." Tidak bisa. Jawab Si Putih pendek.

"Atau kamu melakukan sesuatu yang lain?"

Si Putih diam takjim. Tidak menjawab.

"Kita tidak bisa tergelantung dengan

berlama-lama posisi terbalik

seperti ini." Sungut Pak Tua, "Kepalaku mulai pusing."

"Tumbuhan sialan m1 harus membebaskan kita." Pak Tua berseru ketus.

Salah-satu sulur tumbuhan merambat itu naik lagi, ujungnya yang bundar berhenti di depan Pak Tua, mendesis. Mengancam.

"Baik. Baik. Aku akan diam." Pak Tua mengangguk.

Mendesis. Tumbuhan itu kembali turun. N-ou menarik nafas dalam-dalam.

Dia berusaha berpikir keras sejak tadi. Tapi tidak punya ide sama sekali harus melakukan apa. Nasib. Mereka sekarang menjadi tahanan tumbuhan rambat ini. Menggelantung dengan posisi kaki di atas, kepala di bawah. Dia tahu kenapa hutan ini horor. Tumbuhan ini memang mengerikan. Besar tumbuhan rambat ini sepergelangan tangan manusia, berwarna hijau, bergerak fleksibel, dan ujung tumbuhan ini persis seperti wajah manusia, tapi tidak ada mata, mulut dan hidung, polos kosong.

N-ou menghembuskan nafasnya.

***

Enam jam berlalu. Matahari berada di titik tertingginya.

Mereka masih menggelantung di dahan pohon.

"Apa yang mereka inginkan?" Pak Tua berbisik.

"Aku tidak tahu, Pak Tua."

"Jangan-jangan mereka ingin memakan kita?"

ltu kabar buruk. Tapi bagaimana tumbuhan ini akan memakan manusia dan kucing? Mereka tidak punya mulut.

"ltu mudah. Mereka mungkin akan memasukkan kita ke dalam kantong berisi cairan kimia, yang bisa membuat mangsanya meleleh. Lantas mereka akan menyerap nutrisi mangsanya."

Sungguh? N-ou melotot kepada Pak Tua. Dalam situasi begini, Pak Tua harus menjelaskan seal itu dengan detail?

Pak Tua menyeringai. Hanya informasi, apa salahnya.

Si Putih masih tenang di posisinya.

"Kenapa Si Buntut Panjang itu tidak mengeong-ngeong minta makan? Biasanya dia berisik sekali." Pak Tua berbisik.

"ltu karena dia tahu tidak ada gunanya melawan. Si Putih memutuskan diam, menghemat tenaga. Kita dalam posisi tidak menguntungkan. Apapun yang dilakukan hanya akan membuat tumbuhan berwajah datar ini marah. Seharusnya Pak Tua melakukan hal yang sama, tetap tenang, atau Pak Tua lebih cepat pingsan nanti." Bisik N-ou kesal.

Pak Tua hendak bicara lagi, tapi demi melihat salah-satu sulur tumbuhan rambat bergerak naik, dia buru-buru tutup mulut.

Mendesis.

Tumbuhan itu sekali lagi mengancam, menyuruh mereka tetap diam.

***

Dua belas jam. Matahari telah tenggelam di kaki langit timur.

Mereka masih tergelantung di pohon tinggi.

Si Putih dan N-ou masih baik-baik saja, kondisi fisik mereka prima. Tapi Pak Tua, buruk, dia sudah dua kali pingsan. Setiap Pak Tua pmgsan, salah-satu sulur tumbuhan kembali naik, mendesis. Seperti memberi perintah kepada tumbuhan lain yang melilit Pak Tua,

bergerak, menurunkan tubuh Pak Tua ke dasar hutan, membaringkannya. Salah­ satu tumbuhan yang lain akan meneteskan air ke mulut Pak Tua. Membiarkan Pak Tua terbaring sejenak di bawah sana.

N-ou tidak paham. Jika tumbuhan ini berniat membunuh mereka, kenapa mereka membantu Pak Tua kembali sadar? Dan kalau mereka berniat membantu Pak Tua sadar, kenapa mereka lagi-lagi melilit tubuh Pak Tua menariknya ke atas pohon setiap kali Pak Tua membuka matanya.

11Apakah aku tadi pingsan lagi?" Pak Tua bertanya pelan. Dia tidak secerewet sebelumnya.

N-ou mengangguk.

Apakah ini sudah malam?" N-ou mengangguk lagi.

"Tumbuhan-tumbuhan ini, mereka tidak istirahat?"

ltu juga yang dipikirkan oleh N-ou sejak tadi. Dia sebenarnya tidak tahu apakah tumbuhan bisa istirahat atau tidak, tapi yang menarik, lautan tumbuhan merambat ini masih dalam posisi semula. Hanya ujung sulurnya saja yang naik­ turun, bergerak kecil, mendesis-desis. Seolah sedang menunggu. Atau seolah sedang menonton.

Bahkan hingga tengah malam, tumbuhan ini tetap menjulur tegak di posisi masing­ masing. Pak Tua berusaha memejamkan mata di sebelah. Si Putih tetap tenang. Mengagumkan, itu berarti nyaris 24 jam, Si Putih tidak rebut soal jam makan.

N-ou menghela nafas. Entah hingga kapan dia akan menggelantung di pohon ini. Tidak ada celah untuk melarikan diri, dan tidak ada harapan ada yang

mendadak datang menolong mereka. N­ au menatap kanopi hutan, cahaya bulan purnama di atas sana menembus celah­ celah dedaunan lebat di atas sana.

Angin bertiup pelan.

Suara daun-daun bergesekan. Dahan­ dahan pohon bergerak. N-ou bisa mendengarnya. Panca inderanya menjadi lebih sensitif sejak bonding pertama dengan Si Putih. Mendengar desisan tumbuhan rayap ini.

Mereka mendesis satu sama lain.

Mereka mendesis lagi. Lebih banyak desisan.

Hei! N-ou terdiam. Konsentrasi.

Hei! Sepertinya dia bisa memahami percakapan tumbuhan ini.

'Mereka kuat sekali.'

'Benar-benar. Sudah 24 jam tidak ada yang mati.'

Astaga? N-ou menatap lautan di bawah sana. Entah bagaimana caranya, dia bisa mengerti desisan tumbuhan rambat ini. Kekuatan ini, dia tidak hanya bisa bicara dengan hewan, dia juga bisa memahami percakapan tumbuhan.

'Kau akan kalah kali ini, hahaha.' 'Enak saja, masih tersisa 12 jam lagi.'

'/ya, tapi mereka akan bertahan. Bahkan mungkin hingga 72 jam. Kau akan ka/ah taruhan.'

'Sia/. lni sebelumnya. sudah mati.'

berbeda dengan yang Bisanya hanya 12 jam,

'Benar, yang ini susah sekali matinya.'

N-ou menelan ludah. Kupingnya mendengar percakapan itu. Desisan-

desisan mereka. Nyaris semua membicarakan tentang taruhan. Sulur­ sulur tumbuhan merambat ini memang sedang menonton, sekaligus menunggu. Tidak bergeser satu senti pun dari posisi masing-masing. Dan mereka semua asyik memasang taruhan.

'Ayo, siapa lagi, siapa lagi, bandar menaikkan taruhan baru. 48 jam.'

'Aku ikut, aku pegang kucing itu. Dia yang mati terakhir kali.'

'Tidak. Anak muda je/ek itu yang akan bertahan terakhir.'

'Ayo, dipilih, dipilih, taruhan baru, sepu/uh kali Jipat dari bandar jika tebakannya tepat.'

Astaga. N-ou merutuk dalam hati. Dia akhirnya paham. Ternyata mereka bertiga hanya jadi obyek taruhan. Tumbuhan-tumbuhan ini menyebalkan

sekali. Mereka lebih kejam dibanding manusia. Mungkin tumbuhan ini bosan menguasai seluruh hutan selama ratusan atau ribuan tahun, tumbuhan ini mengalami 'revolusi', menemukan permainan baru. Menangkapi hewan, atau manusia yang melintas, lantas menggantungnya di atas pohon. Menjadikannya obyek taruhan seru. Bertaruh yang mana yang mati duluan.

'Lepaskan kami.' N-ou mendesis.

'Eh?' Desisan ramai di bawah sana langsung terhenti. Lautan sulur tumbuhan merambat itu mendongak, menatap dahan pohon.

'Lepaskan kami.' N-ou mendesis lagi.

'Hei, hei, yang satu itu bisa bicara bahasa kita.'

'Benar, benar! Be/um pernah aku melihat manusia bisa bicara dengan kita.'

'Wah iya, bahkan sebenarnya tidak ada hewanjuga yang bisa bicara dengan kita, kan?'

'Anak muda jelek itu bisa bicara-' 'Lepaskan kami,' N-ou mendesis.

Salah-satu sulur tumbuhan rambat itu, yang sepertinya adalah ketuanya, menjulur naik, wajah datarnya berhenti di depan N-ou. Mendesis.

'Bagaimana caranya kamu bisa bicara bahasa kami, heh?'

'Aku tidak tahu. Aku bisa begitu saja. Lepaskan kami, kalian tidak bisa bertaruh atas nasib orang Jain. /tu kejam sekali.'

'Manusia je/ek ini bilang kita kejam.'

Timpal tumbuhan lain di dasar hutan.

'Dengar-dengar, dia bilang kita kejam....'

'Hahahaha.' Lautan sulur tumbuhan merambat itu tertawa bahak.

'Lucu sekali. Kamu bilang kami kejam setelah kalian berkali-kali membakar, menebangi, menghancurkan hutan. Aku menyaksikannya, ribuan tahun, kalianlah manusia yang kejam.' Ketua tumbuhan rambat itu mendesis galak.

N-ou terdiam.

'Atau kalian lepaskan kucing itu. Dia bukan manusia.' N-ou membujuk.

'Oh ya? Lantas kami melupakan jika hewan juga kejam kepada tumbuhan? Naga-naga terbang membakar hutan ini ribuan tahun Ja/u. Semua hangus, nyaris punah. Hewan soma buasnya dengan manusia.' Ketua tumbuhan rambat mendesis-desis.

N-ou menelan ludah. lni kapiran.

Menatap wajah kosong tumbuhan tersebut.

'Tolonglah kami tidak berniat jahat saat melintas-'

'Tutup mulutmu.... Kami tidak akan mengasihani kalian. Hanya karena kamu bisa bicara bahasa kami, tidak berarti kami akan memberikan pengecualian. Kalian akan digantung di pohon ini hingga mati. Ka/ion bisa bebas, jika kalian bisa menga/ahkan kami. Topi jumlah kami ribuan. Tidak mudah melarikan dari kami.'

Ketua tumbuhan rambat itu mendesis. Lantas kembali turun ke dasar hutan.

'Ayo, dipilih, dipilih, taruhan baru, sepuluh kali lipat dari bandar jika tebakannya tepat.'

'Aku ikut, aku bertaruh anak muda je/ek itu yang terakhir bertahan.'

'/ya, aku juga ikut.'

'lkut, ikut.'

Kemampuan N-ou bisa bicara dengan mereka tidak mengubah nasib. Satu­ satunya yang berubah adalah, nyaris separuh lebih tumbuhan itu bertaruh untuk N-ou sekarang. Bertaruh untuk manusia yang ternyata bisa bicara bahasa mereka.

-- Next Chapter--

Bab 20

Enam jam lagi berlalu. Situasi mereka tetap sama.

Menggelantung di atas dahan pohon. Matahari sebentar lagi terbit.

Pak Tua sudah dua kali lagi pingsan. lni buruk, jika tidak ada keajaiban tersisa, Pak Tua tidak akan tertolong. Tumbuhan rambat ini 'kejam' sekali, mereka sengaja memperpanjang usia Pak Tua, membantunya siuman lagi, memberikan air minum dari akar pohon, agar pertunjukan itu semakin seru. Taruhan semakin tinggi.

Lihatlah, 30 jam berlalu, tumbuhan ini semakin semangat. Desisannya semakin ramai. Seolah bagian paling seru akan segera dimulai.

Apa yang harus dia lakukan? N-ou bertanya di dalam hati.

Bagaimana caranya mereka lolos dari sini? Dari tadi dia berpikir, tetap tidak muncul solusinya. Apa kelemahan tumbuhan ini? Bagaimana mengalahkannya.

'Ayo, siapa lagi, siapa lagi, bandar menaikkan taruhan baru. 72 jam.'

'Wah, wah, itu rekor baru. Semakin lama semakin seru.'

'/ya, bahkan aku berharap kita terus menonton hingga satu tahun ke depan.'

'Hahahaha.'

N-ou memejamkan mata. Berusaha konsentrasi. Desisan di bawah sana menyebalkan, mereka terus membahas soal mati, nilai taruhan, lantas tentang mati lagi. Seolah mereka bertiga yang

menggelantung hanya benda tidak penting.

'Heh, itu siapa yang menangis.' 'Benar. Anak siapa itu yang berisik?' 'Ayo/ah, suruh anaknya diam.'

Kuping N-ou bergerak. Matanya terbuka. ltu percakapan yang berbeda. Bukan tentang taruhan. N-ou mendengar suara desisan menangis. Mungkin tumbuhan rambat muda sedang menangis. lnduknya berusaha menenangkan.

'Diam, jangan berisik.'

'Pekak kupingku mendengarnya. Suruh anakmu diam sekarang.'

'/ya, aduh, aku jadi berkunang-kunang.'

'Suara tangis anakmu bisa membuat kita semua stress.'

'Moat maaf'

Kekacauan kecil terdengar di salah-satu sudut lautan tumbuhan rambat itu, hingga tangisan tumbuhan muda itu berhenti. Dan mereka kembali mendesis­ desis membahasa taruhan.

N-ou terdiam. Hei? Bukankah itu fakta yang menarik? Dia memikirkan sesuatu. Suara. Hutan ini lengang sekali. Tumbuhan ini juga berbicara dengan berbisik-bisik. Sepertinya mereka tidak suka suara berisik, itulah kenapa mereka mengencangkan ikatan Pak Tua setiap kali Pak Tua bicara. N-ou tahu sekarang, itulah kelemahan tumbuhan rambat ini. Bahkan suara tangis anak mereka sendiri saja, mereka terganggu.

11Pa k Tua, bangun." N-ou berbisik. Pak Tua membuka matanya.

11Ada apa, anak muda?"

11Bisakah Pak Tua bernyanyi sekarang?"

"Apa maksudmu, anak muda?"

"Aku tahu cara meloloskan diri dari tumbuhan ini. Tapi Pak Tua harus bernyanyi."

"Bernyanyi?"

"lya, sekencang mungkin."

Pak Tua menggeleng. Dia tidak sedang dalam mood baik untuk bernyanyi.

"Ayolah, Pak Tua. Aku serius."

Ketua tumbuhan rambat itu mendengar percakapan, mulai bergerak naik, mendesis marah.

"Seka rang, Pak Tua. Atau kita akan mati di hutan ini." N-ou tidak lagi berbisik, dia berseru.

Pak Tua menatap N-ou. lni serius?

"Meong!" Si Putih mengeong. Kucing itu mengikuti percakapan, dan dengan cepat menangkap rencana N-ou.

"Bernyanyi, Pak Tua!" N-ou mendesak, ketua tumbuhan rambat itu tinggal sedikit lagi. Sebelum sulur sialan itu mendesis menyuruh mengencangkan ikatan.

Pak Tua mengangguk. Menarik nafas dalam-dalam. Lantas bernyanyi sekencang yang dia bisa. Suara fals itu melengking seketika merobek lengang hutan.

"CINTAKU KEPADAMU, OOOH.... BEG/TU TULUS NAN sue,, OOOH"

Gerakan ketua tumbuhan rambat terhenti.

Desisan di bawah sana terdiam.

"MEOOONG! MEOOONG!" Si Putih ikut mengeong kencang-bernyanyi.

"TIDURLAH TIDUR, ANAKKU ! TIDURLAH, MALAM TELAH TIBA!"

N-ou juga ikut bernyanyi-lagu nina boba

kota E-um yang sering dinyanyikan lbunya dulu.

Desisan di bawah sana kembali terdengar. Tapi kali ini, itu desisan panik.

Kekacauan terjadi. Lilitan di badan mereka terasa longgar. Tumbuhan merambat yang melilit terganggu dengan suara itu. Kehilangan fokus.

Yes. N-ou bisa mengepalkan tangannya.

"WAHAI KEKAS/HKU, OOOH

MENGAPA KAU TEGA MENGKHIANATIKU, OOOH."

Pak Tua terus bernyanyi. Semakin kencang-ikatan di badannya terlepas, dia bisa bernafas dengan leluasa. ltu horor sekali mendengarnya.

BUM!

N-ou telah melepas pukulan berdentum, melepaskan diri.

BUM!

Disusul oleh Si Putih. Tubuh mereka terlepas. Masih di udara, N-ou sekali lagi melepas pukulan berdentum ke dasar hutan, membuat tumbuhan itu terpelanting kesana-kemari. N-ou tidak bermaksud jahat, dia tidak mengirim pukulan kencang, hanya untuk membersihkan tempat mendarat. Tubuh Pak Tua meluncur dari dahan, ikatannya terlepas.

"Meong!" Si Putih lompat menyambarnya dengan ekor, melilitnya.

Setelah dua kali melompat di batang pohon besar, ia mendaratkan Pak Tua di dasar hutan. N-ou telah berdiri di sana.

"LARI KE BENDA TERBANG." N-ou

berteriak.

Tidak perlu disuruh dua kali, rombongan itu telah berlarian. Kabar baiknya, posisi mereka tidak jauh dari lapangan tempat Paruh Perak diparkir.

"TETAP BERNYANYI, PAK TUA!"

Pak Tua yang sempat berhenti karena sibuk berlari, mengangguk, kembali bernyanyi.

"SAKIT HAT/KU, OOOH....

KAU SUNGGUH TEGA, OOOH!"

Tumbuhan rambat yang meluncur deras di belakang, hendak melilit mereka kembali tertahan. Mendesis-desis marah. Suara Pak Tua membuat mereka

kehilangan konsentrasi, kunang-kunang. Menghentikan gerakan mereka.

"LOMPAT KE BENDA TERBANG."

"Meong." Ekor Si Putih sekali lagi menyambar tubuh Pak Tua, melilitnya, lantas lompat ke atas Paruh Perak, membawa Pak Tua sekalian.

N-ou juga telah tiba di kursinya, ikut bernyanyi lantang.

"TIDURLAH T/DUR, ANAKKU ! ! TIDURLAH MALAM TELAH TIBA!!"

Juga Pak Tua, berteriak tak kalah kencang

"AKAN KUBAWA KEMANA HIDUPKU, OOOH....

HAMPA RASANYA, OOOH!"

Ribuan ujung tumbuhan rambat itu mengepung benda terbang, tapi gerakan

mereka selalu terhenti setiap kali Pak Tua berteriak melengking.

N-ou menarik tuas kemudi. Ziiing.

Paruh Perak telah melenting setinggi dua puluh meter. Meninggalkan tumbuhan rambat itu yang meluncur deras berusaha mengejar, ribuan jumlahnya, menyeruak ke udara seperti tangan-tangan terjulur, berusaha menangkap benda terbang itu. Tapi gerakan mereka kalah cepat.

Ziiing.

Paruh Perak sudah tidak tergapai lagi. Melesat pergi.

***

"Astaga ! Nyaris menghempaskan sandaran kursi.

saja." Pak Tua punggungnya ke

N-ou tertawa, menyeka wajahnya yang kotor.

"Meong." Si Putih meringkuk, mulai menjilati bulunya.

"ltu gila sekali. Bahkan untuk rombongan aneh kita, itu tetap masuk definisi gila." Dengus Pak Tua, batuk satu-dua, memperbaiki konverter di hidung.

"Ngomong-ngomong lagu apa yang tadi Pak Tua nyanyikan?"

"Memangnya kenapa?" "Liriknya norak sekali."

Pak Tua melotot. Tapi sejenak, dia terkekeh. Lagu itu melintas saja di kepalanya. ltu lagu yang pernah ngetop di kota E-um. Dia menyukai lagu itu, karena saat dia masih mahasiswa, dia pernah patah hati ditinggal mahasiswi lain yang ternyata mencintai pemuda lainnya.

Cahaya matahari pagi menyiram dari belakang benda terbang. Bola merah raksasa itu baru nongol separuh.

N-ou menarik tuas kemudi. Benda terbang mendadak berbelok.

"Heh, kenapa kita melawan ara h?11 " M eong?11 Si Putih ikut bertanya.

"Tumbuhan itu menipu hewan, manusia, apapun yang melintasi hutan mereka. Entah halusinasi apa yang mereka lakukan. Tumbuhan itu bisa membuat alat navigasi tidak bekerja dengan benar. Aku akan membalik logika perjalanan, kita menuju barat sekarang.11 N-ou berseru mantap.

Pak Tua menatap N-ou. "Kamu yakin, anak muda?11 "Aku lebih dari yakin.11

" Meong.11

"Terserah kamu sajalah." Pak Tua meluruskan kakinya. Duduk santai.

Ziiing. Paruh Perak meluncur ke arah bola raksasa matahari.

Tapi itu keputusan yang benar. ltulah arah benar yang harus mereka tuju. Tumbuhan rambat itu melepaskan butir­ butir air dari tubuh mereka, melingkupi langit-langit di atas hutan dengan butir air itu, membuat pantulan palsu, yang membuat manusia atau hewan tersesat, berputar, berputar dan berputar lagi. N­ au melakukan hal sebaliknya, setiap dia melihat navigasinya bergerak ganjil, dia akan membanting kemudi, melakukan hal sebaliknya yang ditunjukkan navigasi.

Satu jam terus terbang, mereka berhasil lolos dari hutan horor itu.

Puuuh, N-ou menghembuskan nafas, menoleh ke belakang. Hutan itu

sebenarnya tidak luas-luas amat, hanya seratus atau dua ratus klik saja. Tapi tumbuhan rambat itu membuat mereka nyaris 48 jam terjebak di sana.

"Meong."

"lya, Put. Aku juga lapar sekali." "Meong."

"Kita akan mendarat segera, Put."

N-ou masih melajukan Paruh Perak seratus klik dari hutan itu, dia khawatir, tumbuhan rambat itu masih bisa menyusul mereka.

Tapi tidak. Di hutan itu, kekacauan baru sedang terjadi. Jangankan mengejar rombongan N-ou, mereka sendiri sedang bertengkar hebat.

'Kembalikan uang kami.' '/ya, kembalikan uang kami!'

'Tidak bisa, taruhan ini batal demi hukum. Tidak ada refund taruhan.'

'Enak saja. Demi hukum siapa?'

'Demi hukum yang baru beberapa menit la/u ditetapkan.'

'Kembalikan uang kami.'

'Eh, itu anak siapa lagi yang menangis.' 'Aduh, suruh diam anaknya. Berisik.'

'Wooi, mataku berkunang-kunang nih. JANGAN BER/5/K.'

'Dasar sulur menyeba/kan, KAMU JUGA BERISIK.'

'KAMU TUH YANG BER/SIK!!' "WOii !! JANGAN BER/SIKl"

Lautan sulur tumbuhan itu bergerak liar. Saling bertabrakan, saling melilit. Stres massal.

-- Next Chapter--

Bab 21

Mereka sarapan di tengah padang rumput.

Hutan menyebalkan itu tidak terlihat lagi. Digantikan hamparan hijau rumput setinggi mata kaki, dengan pohon-pohon besar satu-dua. ltu padang rumput yang subur, dengan hewan-hewan beraneka­ ragam.

Saat N-ou membuka bungkusan makanan, burung-burung kecil dengan warna kuning berkerumun mendekat, melompat-lompat. Burung-burung itu tidak menganggu, juga tidak meminta makanan, hanya menonton. Sekawanan tupai di pohon besar dekat Paruh Perak parkir, ikut mengamati. Pun serombongan hewan pengerat, kepala

mereka celingukan di balik rumput, tertarik.

"Meong." Si Putih asyik menghabiskan makananan.

Juga Pak Tua, tidak banyak komentar, terus makan.

N-ou menatap hewan-hewan itu, tersenyum. Satu, dia teringat taman bunga di perempatan jalan kota E-um dulu. Dua, hewan-hewan ini pertanda kabar baik. Jika banyak hewan kecil di sekitar, berarti mereka aman. Tidak ada bahaya serius lagi.

"Meong." Si Putih meminta makanan tambahan. Cepat sekali dia menghabiskan bungkusan pertamanya.

"Siap, Put." N-ou mengangguk, beranjak mengambil bungkusan makanan lainnya.

Sarapan itu berjalan lancar. Tanpa gangguan. Juga tanpa percakapan. Mereka terlalu lelah, terlalu tegang, terlalu haus, pun terlalu lapar, setelah 36 jam menggelantung terbalik di atas pohon.

Saat matahari naik sepenggalah, mereka siap meneruskan perjalanan. Membereskan sisa-sisa makanan. Kembali naik ke atas benda terbang.

Burung-burung kecil berwarna kuning itu melompat-lompat seolah mengucapkan selamat jalan. Juga kawanan tupai dan rombongan hewat pengerat. Mengeluarkan cicit pelan, berseru-seru.

N-ou melambaikan tangan. Bersiap terbang.

"Meong." Si Putih ikut berseru, bye

semua.

Pak Tua hanya melirik sekilas, dia meluruskan kaki.

N-ou menarik tuas kemudi, benda terbang itu melesat.

Cuaca baik. Langit biru dengan satu-dua gumpalan awan tipis. Padang rumput terhampar sejauh mata memandang. Dengan cuaca baik, dan tanpa sesuatu yang harus dicemaskan di bawah sana, N­ eu memutuskan mengaktifkan mode otomatis. Dia hendak istirahat, 36 jam terakhir tidak bisa tidur selama menggelantung di atas pohon itu.

N-ou ikut meluruskan kaki, merebahkan sandaran kursi, memejamkan mata.

Pak Tua mendengkur di belakangnya.

N-ou menggerutu, membuka matanya lagi, meraih tutup telinga.

Kembali memejamkan mata. Beranjak tidur.

Juga Si Putih, meringkuk dengan ekor bergelung menutupi tubuhnya.

Lengang di kabin Paruh Perak. Hanya suara dengkuran Pak Tua.

Benda terbang itu meluncur dengan kecepatan stabil. Terus menuju timur

***

Mereka mendapatkan enam jam yang tenang.

"Meong." Si Putih terbangun lebih dulu. Mengeong, perutnya lapar.

N-ou membuka matanya, mengerjap­ ngerjap. Menggeliat. Tubuhnya terasa segar dan ringan. ltu tidur yang sangat berkualitas-atau mungkin karena fisiknya bisa pulih dengan cepat sejak bonding terbentuk.

"Bangun, Pak Tua." N-ou berseru. Pak Tua ikut membuka matanya. "Di mana kita sekarang?"

"Masih melintas di padang rumput." N-ou melihat layar hologram navigasi, mereka telah maju sekitar 800 klik dari tempat sarapan tadi pagi. Cuaca masih cerah. Matahari sudah tergelincir dari titik tertingginya, pukul dua siang. Semua terlihat oke.

"Meong."

"Siap, Put. Kita segera makan siang."

Tidak susah mencari lokasi pendaratan di tengah padang rumput itu. Semua tempat bisa digunakan. Benda terbang itu meluncur ke bawah, parkir, mengambang di dekat pohon besar berikutnya. N-ou, Si Putih berlompatan. Pak Tua seperti biasa

turun berpegangan dengan dinding Paruk Perak, sedikit merosot.

"lni mulai membosankan," Sungut Pak Tua saat N-ou membagikan lagi bungkusan dari Suku Petani, "Berapa banyak sih mereka menyiapkan bekal untuk kita?

"Bisa untuk satu minggu lagi, Pak Tua."

"Tidak bisakah kamu menggunakan kekuatan supermu itu? Memasak?"

N-ou mengangkat bahu. Bisa saja, tapi mereka tidak punya bahannya. lkan segar beberapa hari lalu sudah lama habis.

"Kalau petualangan kita ini dijadikan novel, dan aku membacanya, maka aku akan prates kepada penulisnya." Omel Pak Tua, tapi dia tetap duduk, membuka bungkusan.

"Meong." Memangnya kenapa? Si Putih mengeong, dia sejak tadi sudah mulai makan, tidak banyak mengeluh perkara itu makanan apa.

"Bayangkan, nyaris tiap bagian diselipkan dengan adegan makan. Mulai dari sarapan, makan siang, makan malam. Apa pentingnya coba? Seolah-olah itu bakal ditunggu pembacanya. Padahal jelas-jelas penulisnya saja yang tidak kreatif."

N-ou tertawa, ikut membuka bungkusan makanan jatahnya.

"Meong."

"Si Buntut Panjang itu bilang apa lagi?"

Pak Tua kebanyakan ngomel. "Heh, Buntut Panjang, itu TL." "Meong." TL apa?

"Tidak lucu." Dengus Pak Tua.

Mereka mulai menghabiskan jatah bungkusan masing-masing. Suku Petani itu terbiasa menyiapkan perbekalan jika ada anggota sukunya bepergian jauh membawa hasil ladang gandum. Mereka membungkus makanan sesuai porsinya. Yang dibungkus dengan daun berwarna hijau gelap, itu berarti makanan berat. Yang dibungkus dengan daun berwarma hijau muda, itu berarti makanan ringan. Dengan dibuat terpisah, makanan yang belum dibuka bisa awet.

"Boleh aku bertanya satu hal, Pak Tua?"

"Bahkan sebelum kamu bertanya satu hal itu, kamu sudah bertanya padaku, anak muda." Pak Tua menyahut ketus seperti biasa, "Jadi terserah kamu sajalah, mau bertanya atau tidak."

N-ou menyeringai, benar juga. Dia sudah bertanya: ijin bertanya.

"Apakah Pak Tua percaya jika pandemi itu konspirasi?" N-ou mencomot sembarang topik percakapan, "Maksudku, beberapa hari lalu di kota Mah-rib, saat S-ket bilang pandemi itu konspirasi kota-kota modern, Pak Tua menanggapinya dengan bilang 'boleh jadi'.

Pak Tua memperbaiki posisi duduk. Topik yang ini menarik minatnya.

"Aku tidak percaya.

"Tapi Pak Tua bilang 'boleh jadi'.

"ltu agar temanmu tidak berkecil hati. Dia sangat mempercayai teori konspirasi itu. Aku memberikan jawaban paling diplomatis. Aku tidak meng-'iya'-kan pendapatnya, pun tidak menolaknya. Tapi pandemi lima tahun lalu jelas bukan konspirasi dari kota-kota modern. Karena jika itu hasil konspirasi mereka, maka ilmuwan kota-kota itu bodoh sekali. 

Dahi N-ou terlipat, tidak mengerti.

"Bayangkan jika kamu memang sengaja hendak menyingkirkan separuh penduduk, apa yang kamu lakukan sebelum melepas virus itu ke tengah kota?"

"Eh, mungkin memastikan aku dan orang­ orang tertentu aman dulu, baru melakukannya."

"Tepat sekali. Virus itu dilepaskan setelah kamu dan orang-orang tertentu aman seratus persen. Dengan menyiapkan anti virus terlebih dahulu misalnya, lantas diam-diam memakainya sebelum melepas virus. ltu baru strategi yang masuk akal. Tapi apa yang terjadi saat pandemi? Bahkan orang-orang penting, penguasa kota, juga ilmuwan-ilmuwan, mereka terbirit-birit melintasi lorong evakuasi. Keluarga mereka juga banyak yang terkena pandemi, mereka tidak bisa

mengontrol siapa yang kena siapa yang tidak. Maka itu artinya, mereka memang tidak tahu-menahu soal pandemi itu."

"Tambahkan dinding transparan setebal seratus meter yang memisahkan Klan Polaris tersebut. Jika penguasa kota-kota modern itu sudah siap dengan anti virusnya, mereka tidak perlu repot-repot membangun peradaban dari nol di tempat baru itu. Buat apa lagi? Mereka tetap bisa meneruskan kehidupan di kota masing-masing, lepaskan virus, tunggu 24 jam, siapkan pop corn dan minuman ringan, menikmati tontonan, hingga separuh penduduk mati. Misi selesai."

Pak Tua menjawab santai-seolah itu topik percakapan ringan saja.

N-ou mengangguk-angguk. Penjelasan Pak Tua masuk akal.

"Tapi itu bukan berarti teori konspirasi temanmu itu tidak berguna. Boleh jadi dia juga benar. Karena apapun bisa terjadi di Klan Polaris. Beberapa jam lalu kita bahkan dijadikan obyek taruhan oleh sulur-sulur tanpa wajah itu. Maka boleh jadi, wabah penyakit mematikan yang muncul di Klan Polaris setiap periode tertentu adalah konspirasi hewan­ hewan, tumbuhan, bahkan konspirasi virus itu sendiri. Mereka marah. Klan ini akan baik-baik saja tanpa manusia di dalamnya. Manusia yang membutuhkan alam, bukan sebaliknya."

"Meong." Si Putih mengeong.

"Heh, Buntut Panjang, kalau kamu mau rese mengomentari percakapan m1, mending kamu makan saja. Percakapan ini bukan untuk kucing."

"Meong."

N-ou tertawa.

"Si Putih hanya bilang dia masih lapar, minta tambah bungkusan, Pak Tua. Dia tidak peduli dengan percakapan kita."

"Oh."

"Meong." Si Putih menatap sebal Pak Tua.

***

Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan setelah makan siang.

Benda terbang itu terus meluncur menuju timur.

Pak Tua tiduran. Si Putih menempelkan wajah di jendela kaca.

Pemandangan di padang rumput itu semakin menakjubkan. Sesekali N-ou memperlambat laju benda terbang. Matanya sekarang sedang menatap tak berkedip 'pertunjukan' spektakuler air mancur alami. Lihatlah, di depan mereka,

ada empat air mancur yang menyembur tinggi ke udara. Air itu keluar dari bebatuan besar, menyembur empat puluh meter. Dan yang membuatnya menakjubkan, persis di ujung semburannya, terdapat batu besar lainnya yang mengambang. Batu itu tidak jatuh karena dorongan konstan dari air.

"Meong."

"lya, Put. ltu keren sekali."

Empat batu itu seolah melayang di atas sana, dengan tiang air. Percik butir air terbawa angin membuat jendela kaca Paruh Perak basah. N-ou menghabiskan lima belas menit, berputar mengelilingi lokasi air mancur itu. Terbang diantara tiang-tiang air, mengambang di dekat batunya.

"Bagaimana jika airnya berhenti menyembur?" N-ou bergumam.

"Batunya jatuh. Apalagi?" Pak Tua menyahut.

N-ou menyeringai, dia juga tahu batunya akan jatuh. Dia hanya tidak percaya bagaimana caranya batu itu terus stabil berada di ujung semburan air. ltu bukan bola karet atau bola plastik. ltu batu. Semburan air ini kuat sekali.

Setelah sekian kali berputar mengelilingi empat air mancur, itu, benda terbang melanjutkan perjalanan.

Puluhan klik berikutnya, mereka menemukan pemandangan lain yang tidak kalah fantastis. Mereka melewati danau garam yang mengering. ltu membuat hamparannya berubah menjadi bagaikan kaca raksasa di bawah sana.

" M eong.11

"Kamu benar, Put, kita bisa bercermin. Lihat, lihat, itu ada kita."

N-ou tertawa. Paruh Perak terbang pelan dengan jarak sepuluh meter dari hamparan kaca itu. Kepala mereka keluar dari jendela yang dibuka. Bahkan Pak Tua ikut melongokkan kepala, tertarik, menatap rambut berantakan, wajah tuanya yang terpantul di bawah sana.

Pluk!

Terdengar benda kecil yang jatuh. "Berhenti, berhenti!" Pak Tua berseru. "Ada apa?"

"Konverter oksigenku jatuh." N-ou menepuk dahinya. "Meong." Dasar ceroboh.

Benda terbang itu berputar lagi, mengambil konverter oksigen milik Pak

Tua yang terjatuh. berhenti, kepalang

Karena tanggung,

sudah N-ou

sekalian memarkir Paruh mengambang setengah Rombongan berlompatan turun.

Perak, meter.

"Meong." Si Putih mengeong-ngeong riang, dia telah melompat-lompat di atas kaca. Sesekali kakinya meluncur, seperti sedang bermain sepatu roda. Berputar, berkelok, kembali lagi ke titik semula.

N-ou tertawa. lkut berlarian, lantas menjatuhkan diri, meluncur dengan pantatnya.

Wuush! Seru.

"Ayo, Pak Tua, ikutan."

Pak Tua mendengus, memasang konverter di hidung. Dia bukan kanak­ kanak seperti dua 'bocah' ini.

"Jangan malu-malu, Pak Tua."

"Meong." Tidak usah nanti Pak Tua ma/ah malu-maluin betulan.

N-ou tertawa. Memegang ekor Si Putih, mereka meluncur berdua.

"Meong." Si Putih mengeong riang.

Mereka sering melakukan itu. Bahkan diawal-awal mengelilingi dinding transparan tersebut, hampir setiap hari mereka bermain berdua. Setiap kali N-ou sedih, teringat Ayah dan lbu, Si Putih akan loncat-loncat di sekitarnya, mengajak bermain. Setiap kali N-ou menangis, atau berteriak marah ke arah dinding menyebalkan itu, Si Putih akan menyenggolkan ekornya, mengajak bermain, melupakan rasa sedih, marah, kesal di hati. Mereka sahabat sejati. Bermain bersama, saling menemani, saling menghibur. N-ou mungkin tidak menyadarinya, bonding hebat itu telah

terbentuk sejak lima tahun lalu, bukan sejak beberapa hari terakhir.

"Meong." Awas.

"Eh, eh!" N-ou yang tidak menduga Si Putih juga meluncur ke arahnya berusaha menghindar. Terlambat.

Bruk! Mereka bertabrakan, bergulingan. "Meong."

N-ou tertawa. Maaf, Put. "Meong." Enak saja. "Maaf, Put."

"Meong." Rasakan ini.

Si Putih lompat pura-pura menerkam N­ ou.

Mereka berdua bergulingan lagi. Pura­ pura saling piting.

"Ampun, Put. Ampun." N-ou tertawa.

"Meong." Tidak ada ampun.

"Tolong! Ada kucing buas menerkamku. Pak Tua, tolong aku."

Pak Tua yang berdiri tidak jauh dari mereka menepuk dahi. Astaga, tidakkah mereka malu dilihat orang lain? Bermain seperti anak kecil? Anak muda ini, dia sepertinya lupa jika dia adalah Pengendali Hewan sekarang, dan kucing itu, bukan hewan sembarangan. Sekarang malah bergulingan, bermain-main seperti ini bak pasir sebuah Taman Kanak-Kanak.

"Ayolah, Pak Tua. Bergabung bersama kami." N-ou bangkit duduk.

"Tidak sudi." Pak Tua beranjak melangkah ke sisi lain, menatap pemandangan.

N-ou tertawa lagi.

"Meong." Si Putih sudah melompat-lompat meluncur hamparan cermin.

-- Next Chapter--

Bab 22

Mereka baru melanjutkan perjalanan setelah satu jam lebih berhenti di danau garam yang mengering itu. Kembali naik ke benda terbang.

Seratus klik meninggalkan danau garam, matahari mulai tenggelam di depan sana. Langit cerah, dengan gumpalan awan tipis, bola raksasa berwarna merah itu seperti ditelan kaki langit.

Sejak tadi N-ou mencari tempat berhenti yang baik. Mereka akan bermalam di tengah padang rumput ini. Tapi persis saat N-ou bersiap menarik tuas kemudi, sudut matanya melihat sesuatu di ujung sana. Sepuluh klik dari tempat mereka.

Meong." Si Putih juga telah melihatnya. Yes. N-ou mengangguk semangat.

Tidak salah lagi, mereka telah menemukan pemukiman berikutnya.

ltu bukan pemukiman seperti Suku Petani, atau kota Mah-rib, itu lebih mirip 'rest area'. Tempat peristirahatan para pengelana. Ada lubang besar di tengah padang rumput itu, dengan diameter dua klik. Lubang itu sedalam lima puluh

meter, di dasarnya terdapat rumah­ rumah kayu, tenda-tenda, bangunan­ bangunan untuk rombongan yang hendak beristirahat menuju ibukota E­ sok.

Kesanalah benda terbang mereka meluncur turun, ada lapangan tempat parkir benda terbang, hewan tunggangan, kendaraan lain yang digunakan para pengelana. Paruh Terbang parkir diantara kendaraan itu. N­ au, Si Putih berlompatan turun, disusul Pak Tua.

N-ou mendongak menatap dinding­ dinding lubang. Ada jalan berkelok di dinding, seperti spiral, hingga tiba di atas sana, yang bisa dilalui oleh hewan tunggangan dan atau kendaraan lain yang tidak bisa terbang. Dia tahu, sama seperti pemukiman lain, lubang ini juga terisolir. Dinding itu memisahkan rest area dengan dunia luar. Matahari telah tenggelam, lampu-lampu menyala. Malam ini, ada banyak yang singgah di rest area itu, melepas penat perjalanan. Parkiran penuh.

"ltu apa?" N-ou menunjuk benda berbentuk kotak, dengan empat roda.

"Mobil." Pak Tua menjawab. "Mobil?"

"Yeah. Salah-satu kendaraan jaman primitif. Bergerak dengan roda."

N-ou teringat cerita S-ket. Kota-kota modern tidak lagi memakai benda ini, bahkan roda sudah punah seribu tahun lalu. Tapi di kawasan timur Klan Polaris, banyak penduduk yang

menggunakannya-untuk barang-barang.

membawa

"Meong." Si Putih melangkah di depan, memimpin rombongan. Hidungnya mencium aroma makanan.

"Nanti, Put, kita keliling dulu." "Meong." Okay. Si Putih mengeong lagi.

Lubang itu tidak besar, hanya memerlukan setengah jam mengelilingi setiap sudutnya. Mereka melewati tenda­ tenda. Bangunan penginapan. Juga toko­ toko yang menjual keperluan perjalanan. Juga beberapa bengkel, serta penjual makanan hewan. Pengunjung lubang itu datang dari berbagai penjuru kawasan.

Pakaian mereka beragam, sesuai suku asal mereka-tapi mau dari suku manapun, semua terlihat warna-warni, dengan kain panjang penutup kepala.

"Meong."

"Sebentar, Put. Sedikit lagi." N-ou sedang memperhatikan toko yang menjual pakaian. Dia terpikirkan hendak membeli satu-dua. Selama m1 dia masih mengenakan teknologi pakaian kota E­ um. Kain yang bisa membersihkan sendiri, tahan panas, tahan dingin, lapisan pengaman dan semua fitur penting dalam petualangan. Tapi mengenakan pakaian penduduk setempat, akan membuat mereka lebih mudah membaur.

"Heh, anak muda, bagaimana

menurutmu?"

N-ou menoleh, Pak Tua barusaja keluar dari toko sebelah.

Lihatlah, Pak Tua telah mengenakan pakaian khas setempat. Melapisi rompi canggih kota E-um dengan kain warna­ warni. Pak Tua ternyata memikirkan hal yang sama, bahkan dia telah membelinya lebih dulu.

"Aku membelikan satu untukmu."

Pak Tua melemparkan pakaian. N-ou menangkapnya, segera mengenakannya di tempat, pakaian itu tipis, cocok untuk lapisan luar. Mematut sejenak di kaca toko. Mereka berdua sekarang mirip penduduk setempat. Tertawa.

"Meong."

"Si Buntut Panjang itu bilang apa?"

Tidak ada bagus-bagusnya. ltu maksud meongan Si Putih.

"Heh, Buntut Panjang, kamu menghina budaya setempat."

"Meong."

"Dia bilang apa lagi?"

Bukan pakaiannya yang tidak bogus. Aku bilang: Tidak ada bagusnya Pak Tua ou mengenakan pakaian itu.

"Terserahlah." Pak Tua melambaikan tangan, "Ayo kita makan."

"Meong."

"Nah, kalau sudah urusan makan, kucing ini baru lompat-lompat."

Kabar baiknya, karena lubang besar itu adalah tempat singgah, otomatis banyak penduduk yang membuka rumah makan. Tinggal pilih yang mana. Tapi tetap sama dengan situasi di kota Mah-rib, setiap rumah makan memiliki ruangan yang terpisah. Ruangan khusus untuk

Pengendali Hewan, dan ruangan untuk pengelana biasa.

Mereka menuju rumah makan yang lebih sepi-agar tidak mengundang perhatian. Rumah makan itu terbuat dari tenda. Masih banyak meja kosong. Penjaga pintu masuk tidak menolak kedatangan mereka. Bagian belakang tenda dengan meja-meja lebih besar, jarak antar meja lebih lapang untuk Pengendali Hewan, bagian depan tenda yang lebih kecil mejanya dan sempit jaraknya untuk pengelana biasa.

N-ou menuju bagian depan. Tidak masalah. Dia tidak tertarik menggunakan privilege seorang Pengendali Hewan. Dari sepuluh meja di sana, ada empat meja yang terisi. Tiga meja diisi oleh pengelana keluarga, yang membawa anak-anaknya. Satu lagi diisi oleh wanita berpakaian

gelap. Duduk sendirian, menghabiskan makanannya.

"Meong." Si Putih lompat riang menuju meja yang kosong-bersebelahan meja dengan wanita berpakaian gelap.

N-ou dan Pak Tua ikut duduk.

Tapi yang N-ou tidak duga, kejadian di kota Mah-rib telah menyebar ke banyak tempat. Termasuk di tenda makan itu. Persis dia duduk, pemilik tenda tergopoh­ gopoh mendekat. Sejak tadi pemilik tenda itu memperhatikan rombongan.

"Tuan, aku sungguh minta maaf, tapi sebaiknya Tuan duduk di bagian belakang." Pemilik tenda membungkuk.

N-ou menatap pemilik tenda tidak mengerti.

"Aku tahu Tuan adalah seorang Pengendali Hewan yang hebat, kekuatan

Tuan telah terdengar di penjuru kawasan Timur, dengan kucingnya yang gagah memesona- 11

"Meong." Bagus sekali, Si Putih mengeong senang.

"Sebuah kehormatan Tuan Pengendali Hewan yang hebat bersedia makan di tendaku yang bersahaja. Tapi jangan di bagian ini, aku akan mengosongkan bagian belakang, hanya untuk Tuan Pengendali Hewan yang hebat, Kucing yang gagah memesona-"

"Meong." Bagus, bagus.

"Juga untuk Pak Tua dengan kursi rodanya."

"Heh, kami mau duduk di mana, itu terserah kami." Pak Tua berseru ketus­ dia agak kecewa hanya dipanggil 'Pak Tua dengan kursi rodanya', "Kami mau makan di sini."

"Tapi, Tuan."

N-ou mengangkat tangannya, berkata mantap, "Aku akan makan di sini. Tidak masalah."

Pemilik tenda terdiam. ltu titah seorang Pengendali Hewan. Dia menelan ludah, matanya sedikit berkaca-kaca. Satu, dia tidak menyangka tendanya akan dikunjungi, dua, aduh, dia terharu bangga. Lihatlah, anak muda ini, yang beberapa hari lalu mengalahkan penunggang 12 flamingo, memilih makan di bagian penduduk biasa. Sungguh mulia-

"Heh, kenapa kamu malah bengong? Segera siapkan makanan." Pak Tua berseru.

"Baik. Baik. Akan kami siapkan makanan terlezat yang kami punya."

Pemilik tenda makan undur diri.

"Padahal kita sudah mengenakan pakaian ini, mereka masih bisa mengenali." Pak Tua bersungut-sungut, "lni gara-gara Buntut Panjang, dia mencolok sekali dengan bulu putihnya. Harusnya dia juga dibungkus kain warna-warni ini."

"Meong." Enak saja.

N-ou tertawa.

Tersebarnya kabar itu jelas menguntungkan mereka dalam banyak situasi. Seperti malam itu, pemilik tenda menggratiskan makanan, sekaligus menawarkan penginapan miliknya. Tapi itu juga membawa masalah.

Mereka baru separuh jalan menghabiskan makanan, ketika terdengar keributan di depan tenda. Serombongan pengelana merangsek masuk. Mereka bukan pasukan dari kota

E-sok, tapi mereka juga Pengendali Hewan.

"Mana anak itu, heh?" Berseru ke petugas di pintu masuk.

Tanpa perlu menunggu jawaban, mereka mendorong kasar petugas tersebut, melangkah masuk, sambil menatap seluruh tenda bagian depan.

Berhenti persis di meja tempat N-ou, Si Putih dan Pak Tua makan.

"Lihat, mereka di sana."

Susasana di dalam tenda mulai memanas.

Enam orang itu melangkah sambil menendang meJa dan kursi yang menghalangi. Di samping mereka ikut masuk enam ekor anjing hutan. Hewan itu tingginya nyaris sepinggang, dengan bulu hitam, mata merah, dan lidah terjulur. Taring-taringnya tajam. Persis

rombongan itu masuk, pengunjung tenda makan lain segera menyingkir-kecuali wanita yang sendirian di mejanya, tetap duduk.

"Ternyata ini anaknya." Salah-satu dari rombongan itu berseru.

N-ou menoleh-tidak mengerti kenapa enam orang ini mengelilingi meja mereka dengan anjing-anjing besar itu. Pak Tua ikut menoleh. Si Putih terus makan, tidak peduli.

"Aku tak percaya melihatnya." Dengus yang lain, "Hah, anak m1 bisa mengalahkan penunggang 12 flamingo? Omong-kosong kabar itu."

"Lihat kucingnya. Dengan mudah anjingku mencabik-cabiknya."

"Anak ini lebih mirip nelayan miskin atau petani ladang gandum."

Salah-satu dari rombongan itu mendekati kursi N-ou. Membungkuk, tanpa basa­ basi memegang kerah baju N-ou dengan kasar, mendekatkan wajahnya.

"Kamu adalah aib bagi Pengendali Hewan." Ludahnya muncrat saat bicara, "Kamu menyerang sesama Pengendali Hewan hanya untuk membela pelayan hina."

"Aku ingin tahu seberapa hebat anak ini."

"Benar. Mari kita beri pelajaran. Kabar itu jelas bohong belaka."

Enam anjing di sekitar mereka mulai menggeram. Pertarungan siap meletus di tenda makan itu.

N-ou masih diam, menatap orang-orang yang marah. Kenapa mereka marah? Pak Tua menghela nafas, bersiap menarik tuas kemudi kursi rodanya. Si Putih masih asyik makan.

"Kalau aku jadi kalian, aku tidak akan melakukannya."

Wanita berpakaian gelap yang duduk di meja sebelah bicara.

"Hah, apa katamu?" Orang yang memegang kerah baju N-ou menoleh, berseru galak.

Wanita itu mendorong piringnya pelan, tersenyum tipis.

"Kalau aku jadi kalian, aku tidak akan melakukannya." Mengulangi lagi kalimatnya.

"Dasar wanita sialan, kamu berani mencari penyakit dengan Pengendali Hewan, hah? Kamu hanya penduduk biasa. Kami adalah Penunggang 6 Anjing Hitam. Seharusnya mendengar nama itu, kamu merangkak mencium kaki kami."

Wanita itu masih tersenyum, menggeleng pelan, "Wahai, aku tidak menyangka jika klan ini dipenuhi orang-orang bodoh seperti ini."

"Heh, dia bilang apa?" "Dia bilang kita bodoh!" "Dasar kurang ajar!"

Salah-satu rombongan itu merangsek ke meja wanita itu, sambil bersiul, anjing di sebelahnya menggeram, lompat menerkam. Taring hewan itu panjangnya nyaris sejengkal, siap merobek tubuh lawannya.

Tapi wanita itu lebih dulu mengangkat tangannya.

Sejenak. Anjing yang masih di udara itu membeku.

Brak!

Lantas terjatuh di lantai menimpa kursi kosong.

Tidak hanya anjing itu, enam penunggang dan lima anjing lainnya juga membeku. Jangankan menyerang, menggerakkan jari mereka tidak bisa.

ltu teknik bertarung yang hebat sekaligus mengerikan-dari seorang 'pengelana biasa'. Rombongan anjing liar itu benar­ benar tidak tahu siapa yang mereka sedang hadapi. Kondisi mereka buruk, leher mereka tercekik, megap-megap, tidak bisa bernafas bernafas. Tubuh mereka terasa dingin, laksana dihimpit batu es raksasa. Wajah mereka mulai pucat pasi, kehabisan oksigen.

Enam penunggang anjing tersentak ke belakang. Satu-dua terjatuh, sisanya membungkuk, berusaha menghirup udara segar. Tangan dan kaki mereka gemetar. Mereka nyaris tewas jika wanita itu tidak menghentikan serangan di detik terakhir.

Siapa wanita ini? Enam penunggang anjing menatap jerih. Apakah dia pengendali hewan juga? Tapi tidak ada hewan di dekatnya.

"Kalau aku jadi kalian, aku sudah lari terbirit-birit pergi dari tenda ini."

Wanita itu tersenyum lagi. Matanya menatap tajam, bagai es runcing.

Kali ini, enam penunggang anjing itu mengerti.

Mereka jelas tidak mengerti bagaimana tubuh mereka mendadak membeku, susah bernafas, tapi mereka mengerti,

wanita inilah yang melepas serangan itu. Siapapun wanita ini, dia ada dipihak anak muda, kucing dan orang tua itu. Melawan mereka sekaligus, itu akan jadi masalah besar. Enam penunggang anjing itu saling tatap. Sejenak, mereka balik kanan dengan langkah gontai. Disusul anjing­ anjing mereka yang merunduk. Tidak tersisa lagi buasnya.

-- Next Chapter--

Bab 23

"Aku berani bertaruh, teknik itu tidak pernah dikuasai oleh petarung Klan Polaris."

Pak Tua yang lebih dulu bicara saat tenda bagian depan itu kembali normal­ pelayan bergegas mengembalikan posisi kursi dan meja yang terpelanting. Tamu­ tamu sebelumnya kembali masuk, melanjutkan makan malam.

"Oh ya?" Wanita itu tersenyum, menoleh ke arah Pak Tua.

Ditilik dari wajahnya, wanita itu berusia empat puluh tahun atau sekitar itulah. Matanya terlihat tajam, garis wajahnya tidak mudah dipahami, seolah itu sebuah buatan seniman.

"Aku sudah membaca lebih banyak buku dibanding penduduk klan ini, Nona. Aku yakin sekali, aku belum pernah membaca atau mendengar teknik bertarung tadi. Teknik membekukan lawan. Nona pastilah petarung yang istimewa."

"Wahai," Wanita itu tertawa pelan, "Aku juga belum pernah menyaksikan orang seperti Pak Tua. Duduk di atas kursi roda, mengenakan alat bantu pernafasan, tapi tetap berpetualang dengan semangat. Pak Tua pastilah petualang yang istimewa."

Pak Tua terkekeh, jenggotnya bergerak­ gerak.

"Nona siapa? Jika aku boleh tahu nama?"

"Gill. Aku bisa dipanggil dengan nama itu. Tapi aku tidak pantas dipanggil Nona."

"Tidak pantas? ltu cocok sekali untuk wanita muda sepertimu, Nona." Pak Tua tertawa.

Wanita itu mengangguk perlahan-Pak Tua sungguh tidak punya ide berapa usianya.

"Baiklah, Nona Gill. Aku akan memanggilmu demikian."

N-ou memperhatikan percakapan. Merapikan kerah bajunya yang tadi ditarik. lni menyebalkan sekali, dia sedang makan enak, diganggu rombongan tidak tahu sopan-santun. Beruntung mereka telah pergi.

"Kamu datang dari suku mana, Nona Gill?"

"Jauh. Mari kita sebut saja Suku Malam & Misterinya."

Pak Tua mengangguk-dia tahu suku itu tidak ada, itu hanya simbol, "ltu pastilah tempat yang sangat jauh. Apakah itu melibatkan portal-portal?"

Wanita itu tersenyum. Diam di mejanya.

"Atau melibatkan lorong-lorong berpindah?" Pak Tua menyelidik.

"Aku tidak akan menjawabnya, pun tidak akan membantahnya."

Wajah Pak Tua antusias. lni menarik sekali. Tidak salah lagi. Petualangan ini ternyata membawanya menyaksikan banyak hal. Pengendali Hewan. Kekuatan-kekuatan hebat. Dan yang satu ini, buku-buku itu jelas bukan dongeng. Hanya karena orang-orang tidak tahu, tidak ada buktinya, bukan berarti dunia paralel itu mitos belaka. Dia tidak gila seperti yang disangkakan teman dan

dosen-dosen di universitas dulu. Teori dia tentang dunia paralel benar.

"Apa yang Nona Gill lakukan di Klan Polaris?"

"Untuk yang satu ini, aku menjawabnya. Aku mencari dengan kekuatan besar. ltulah

akan hewan kenapa

aku menjelajahi Klan Polaris. Klan ini memiliki milyaran spesies hewan. Satu­ dua adalah hewan-hewan fantastis." Wanita itu menatap Si Putih lamat-lamat, "Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun­ tahun, lima tahun mencari, lihatlah, hewan itu datang sendiri di hadapanku."

"Si Putih?" N-ou bicara. Si Putih hewan tersebut?

"lya, kucing ini. Kucing putih ini adalah spesies langka kucing purba dunia paralel."

Si Putih kucing purba? N-ou menoleh ke Si Putih yang asyik makan.

Wanita itu diam lagi, masih menatap Si Putih.

"Seharusnya, detik ini juga aku akan menyerang kalian, dan kita akan terlibat petarungan. Aku akan mengalahkan kalian. Bukan karena aku lebih kuat, tapi karena anak muda ini masih perlu proses panjang untuk menjadi petarung dunia paralel yang hebat. Aku membawa kucing itu pergi. Pertemuan kita selesai. Selamat tinggal. Tapi sekarang aku paham. ltu mustahil kulakukan. Fakta ini sangat menjengkelkan."

N-ou menatap wanita di meja dekatnya. Wanita ini serius?

"Hewan-hewan itu baru bisa digunakan jika memiliki ikatan unik dengan manusia. Tanpa itu, sia-sia. Kucing itu telah

memiliki ikatan unik denganmu, anak muda. lkatan yang kuat. Aku bisa merasakannya, sama seperti aku merasakan kekuatan kucing ini. Aku tidak bisa memutusnya secara paksa. Karena sekali ikatan itu terputus, dia hanyalah kucing biasa. Kekuatannya kembali dormant, pasif. Ini sangat menjengkelkan, aku baru menyadarinya."

"Tapi buat apa hewan terhebat itu, Nona Gill? Bukankah Nona sudah menjadi petarung kuat? Nona hendak menjadi Pengendali Hewan?" Pak Tua bertanya hati-hati. Lawan bicaranya jelas lihai menghindari pertanyaan-bahkan mungkin, juga lihai menyamar.

Wanita itu tertawa renyah, "Selalu ada langit di atas langit, Pak Tua. Anggap saja, aku sedang berusaha menggapai langit yang baru. Menguasai kekuatan yang hebat. Tidak, aku tidak tertarik menjadi

Pengendali Hewan. Aku ingin kekuatan itu menyatu dalam diriku. Berapapun yang harus kubayar. ltu akan menakjubkan."

Pak Tua menelan ludah.

N-ou terdiam. Apa maksudnya?

"Baiklah, aku akan mencari hewan lain, yang mungkin sukarela menjadi percobaanku. Selamat malam semua." Wanita itu telah berdiri, "Senang bertemu dengan kalian."

Dan sebelum sempat Pak Tua bertanya lagi, atau N-ou bicara satu-dua kalimat, wanita itu telah melangkah meninggalkan mejanya. Melemparkan koin ke pelayan, sejenak, punggungnya telah hilang di pintu masuk tenda.

Membuat Pak Tua dan N-ou saling tatap.

Sementara Si Putih, dia tetap asyik makan. Dia tidak peduli.

***

"Siapa wanita tadi, Pak Tua?" N-ou bertanya.

"Nona Gill. Kau tidak mendengar dia menyebut namanya? Astaga, kamu masih terlalu muda untuk punya masalah pendengaran." Pak Tua meneruskan makan.

N-ou menggerutu, "Aku tahu namanya. Tapi siapa dia? Apa itu Suku Malam & Misterinya?"

Pak Tua memperbaiki posisi duduk, "Menurut tebakan orang tua ini, dia tidak datang dari Klan Polaris. Nama suku itu bisa berarti banyak hal, mungkin simbol tempatnya berasal, atau pekerjaannya, atau keahliannya. Dia adalah petualang dunia paralel."

"Wanita itu tadi, wajahnya ganjil. Maksudku, itu terasa berbeda, bukan? Apakah Pak Tua juga melihatnya?"

Pak Tua mengangguk, "Matamu tajam, anak muda. Aku juga melihatnya. Dia seperti sedang menyamar. ltu bukan wajah aslinya."

"Dan teknik bertarungnya. Dia bisa membuat beku lawan tanpa menyentuhnya sama sekali. Bagaimana dia menguasainya?"

Pak Tua mengangguk lagi, "Kade genetik itu memberikan banyak sekali kemungkinan jenis kekuatan yang unik, anak muda. Sepanjang seorang petarung bisa mengaktifkannya, memahaminya, kekuatan itu akan muncul."

"ltu kadang tidak masuk akal, Pak Tua."

"Oh ya?" Pak Tua meluruskan kaki, "Bagi orang yang tidak bisa masak, maka saat

melihat koki yang hebat bisa membuat berbagai jenis masakan lezat, dia juga bisa bilang itu tidak masuk akal."

N-ou menggeleng, itu tidak sesederhana seperti kemampuan memasak. Banyak orang bisa memasak, itu jelas masuk akal. Tapi membuat orang lain beku?

"Baiklah, mari kita bahas," Pak Tua menjawab lebih baik, "Perhatikan, bukankah bagi manusia, jika dia tidak pernah menyaksikan seeker burung, maka terbang adalah kekuatan yang mustahil? Pun jika dia tidak pernah melihat ikan, dia akan mengotot bilang menyelam di air itu kekuatan yang tidak masuk akal? Tapi manusia tidak pernah memperdebatkan itu mustahil, kenapa? Karena manusia melihatnya, menyaksikannya. Burung bisa terbang, ikan bisa menyelam di air. Kemampuan itu menjadi masuk akal, padahal manusia

boleh jadi sama sekali tidak tahu

bagaimana melakukannya."

hewan-hewan ini

"Burung jelas bisa terbang, Pak Tua, hewan itu punya sayap."

"ltu benar. Burung bisa terbang, karena punya sayap. lkan bisa menyelam, karena punya insang, dan sebagainya. Struktur fisik hewan berbeda dengan manusia. Tapi pertanyaan menariknya, bagaimana burung punya sayap, ikan punya insang, sedangkan manusia tidak punya kedua­ duanya? Bukankah itu lebih seru untuk dicari jawabannya? Kenapa?"

N-ou menggeleng lagi.

"ltu karena hewan-hewan tersebut memiliki kombinasi kode genetik yang membuat dia punya sayap, dan atau punya insang. Kode genetik itu seperti cetak biru yang khas, yang mewariskan

kemampuan tersebut sejak sebelum lahir. Sayap tumbuh, insang terbentuk.

"Jika burung mewarisi kode genetik bisa menyelam, maka burung bisa berenang. Apakah itu masuk akal? lya, di luar sana ada spesies burung yang bisa menyelam di air. Pun sebaliknya, jika ikan mewarisi kode genetik bisa terbang di udara, maka ikan itu bisa terbang. Lagi-lagi, apakah itu masuk akal? lya, di lautan ada ikan yang bisa melompat keluar dari permukaan air. Memang bukan terbang seperti burung, karena cetak biru yang dia miliki hanya memberikan kemampuan terbatas. Tapi jika ikan itu mewarisi sempurna kode genetik itu, ikan tersebut bisa terbang laksana burung. Permasalahannya adalah kita belum menyaksikannya. Belum melihatnya. Jadi saat ini otak kita menyimpulkan, itu tidak masuk akal.

"Nah, wanita tadi, dia jelas memiliki kekuatan yang unik. Karena dia mewarisi kode genetik tersebut, dan dia tahu bagaimana menggunakannya. Melatihnya menjadi teknik bertarung mematikan. Kamu dengar kalimatnya tadi, bukan karena aku Jebih kuat, tapi karena anak muda ini masih perlu proses panjang untuk menjadi petarung dunia para/el yang hebat. Nah, dia telah memberikan tips terbaik. Di dalam tubuhmu juga ada cetak biru yang menakjubkan tersebut. Baru beberapa hari lalu kamu termangu menyadari bisa mengeluarkan pukulan berdentum. Jika kekuatan itu terus dilatih, boleh jadi dengan cepat-tidak perlu lama-akan membuka kemampuan lain yang hari ini terlihat sangat tidak masuk akal. Teknik membekukan lawan misalnya."

N-ou terdiam. Pak Tua ini jika sudah bicara, dia bisa membuat besi yang bengkok menjadi lurus, saking meyakinkannya.

"Meong." Si Putih mengeong, menyela.

"Buntut Panjang bilang apa, heh? Dia mau mengomentari percakapan kita?"

"Meong."

N-ou menggeleng. Si Putih membahas hal lain.

"Dia bilang apa?"

Pak Tua masih mau makan atau tidak? Ka/au tidak, buat aku saja.

Ekor Si Putih telah bergerak meraih piring makanan yang tersisa.

***

Malam itu mereka tidur di penginapan.

Besok pagi-pagi, saat cahaya matahari menyiram lubang besar, para pengelana bersiap melanjutkan perjalanan. Termasuk rombongan N-ou. Berkemas.

Mereka sempat sarapan, pemilik tenda makan (sekaligus pemilik penginapan) menyiapkan masakan yang lezat. Juga semangat menjelaskan sisa perjalanan menuju ibukota E-sok. Lubang besar itu adalah rest area 'terakhir' sebelum tiba di sana. Jika menaiki benda terbang, hanya butuh 10-12 jam lagi. ltu berarti, nanti sore, sebelum matahari tenggelam mereka akan tiba di kota terbesar penguasa Timur.

"Meong." Si Putih mengeong antusias.

Dengan diiringi lambaian pemilik tenda, mereka melangkah menuju tempat parkir. Lapangan itu ramai, para pengelana menaiki hewan tunggangan, mobil, dan kendaraan yang N-ou tidak tahu itu apa. Jalan spiral yang mengelilingi dinding lubang dipenuhi mngan pengelana yang menuju permukaan. Ada Suku Petani yang membawa buah-buahan, gandum, padi, dan berbagai hasil pertanian lainnya, menuju kota E-Sok, mereka menggunakan mobil besar-'ltu truk,' jelas Pak Tua. Lewat jalur darat, rombongan ini masih butuh empat-lima hari lagi tiba di sana.

Ada Suku Gurun Pasir, yang menaiki unta­ unta besar, kembali ke pemukiman mereka setelah berniaga di kota E-Sok beberapa hari lalu. Punggung unta-unta itu dipenuhi barang-barang. Ada Suku

Pengrajin yang membawa gerabah, tembikar di atas gerobak kayuh. Juga ada rombongan pengelana yang menaiki empat balon terbang, entah dari mana dan hendak kemana, balon-balon berwarna terang itu mulai naik ke udara satu per-satu.

N-ou, Si Putih dan Pak Tua duduk di posisi masing-masing.

"Kita berangkat, Put?" "Meong."

"Siap, Pak Tua?" N-ou menoleh ke belakang.

"Aku sudah siap dari kemarin malam." Jawab Pak Tua santai.

N-ou tertawa, menarik tuas kemudi, ziiing, Paruh Perak meluncur menaiki lubang besar. Sekejap kemudian, tiba di

permukaan, perjalanan.

melesat melanjutkan

"Kalau ada orang berlarian di padang rumput itu, lantas dia tidak melihat lubang besar tersebut di depannya, malang sekali nasibnya. Jatuh puluhan meter." Pak Tua bergumam, sambil menoleh ke belakang.

N-ou tertawa. Lubang itu besar sekali, bagaimana mungkin tidak terlihat.

"Boleh jadi, bukan?"

"Meong." Bodoh sekali orangnya sampai tidak lihat.

Pak Tua tidak menanggapi Si Putih. Meraih tumpukan perkamen.

Cuaca cerah, langit biru. Rest area itu dengan cepat tertinggal di belakang.

Seratus klik berikutnya, pertunjukan spektakuler alam dimulai.

N-ou berkali-kali mengaktifkan mode otomatis agar dia bisa menikmati pemandangan lebih leluasa. Wajah Si Putih menempel di jendela kaca, ikut memperhatikan. Juga Pak Tua, berkali­ kali berhenti membaca tumpukan perkamen.

Mereka melewati sebuah danau. Sepintas lalu tidak ada yang spesial, sama saja dengan danau lain. Tapi ketika burung, atau benda terbang melintas di atasnya, permukaan danau itu mulai meletup kecil. Di ujung letupannya, satu gelembung air seukuran bola keluar dari danau, disusul gelembung berikutnya, hingga seluruh langit-langit di atas danau dipenuhi gelembung-gelembung air.

11W ow.11 N-ou berseru, menatap gelembung-gelem bung.

11M eong."

Gelembung itu tidak berbahaya, meletus saat mengenai Paruh Perak. Dengan jumlahnya yang ribuan, benda terbang yang mereka naiki seperti berada di tengah lautan gelembung. Tess! Tess! Si Putih menatap jendela kaca Paruh Perak yang basah terkena letusan gelembung air.

"Meong." Ekor Si Putih bergerak, mengetuk layar hologram.

"Heh, apa yang kamu lakukan, Put?"

Si Putih membuka jendela kaca. Dia ingin merasakan sensasi gelembung itu meletus di depannya. Kakinya terjulur.

Tess! Tess! Gelembung-gelembung itu meletus, membuat kabin terkena cipratan air.

"Heh, tutup lagi jendelanya !" Pak Tua mengomel, 11Perkamenku jadi basah,"

Berusaha melindungi tumpukan perkamen dengan bajunya.

"Meong." lni seru, Pak Tua.

Si Putih masih asyik memecahkan gelembung dengan kakinya.

Tess! Tess!

N-ou tertawa, segera mengetuk layar hologram, menutup kembali jendela. ltu memang seru, seperti permainan di taman kota E-um dulu, Ketika anak-anak membuat gelembung air dari sabun. Mengejar-ngejar gelembung itu. Tapi kabin benda terbang lama-lama bisa basah oleh ribuan gelembung yang meletus di atasnya.

"Meong."

Paruh Perak meninggalkan danau gelembung.

Benda terbang itu juga melewati kawasan dengan cuaca yang unik.

Entahlah itu cuaca buruk atau cuaca lucu. Yang pasti, ada awan-awan tebal di atas sana, menumpahkan hujan deras. Tapi awan-awan itu terpisah satu sama lain sejarak sepuluh klik, alih-alih berkumpul di satu titik. Ketika Paruh Perak melintas, mereka melewati perbatasan antara area hujan, tidak hujan, area hujan lagi, tidak hujan lagi, dan seterusnya. Kontras sekali. N-ou menarik tuas kemudi, membuat Paruh Perak berbelok, mereka bahkan bisa meniti perbatasan area hujan dan tidak hujan tersebut, sebelah kiri benda terbang terkena hujan deras, sebelah kanannya kering total.

11Meong."

Ekor Si Putih bergerak lagi, menjulur ke layar hologram. Kucing itu hendak

membuka jendela kaca sebelah kiri yang disiram hujan.

"Tidak, Put." Seru N-ou, segera menyingkirkan ekor itu. Kabin benda terbang benar-benar basah kuyup jika jendela dibuka.

"Meong." Dasar tidak asyik.

N-ou tertawa. Benda terbang terus melesat.

Juga melewati kawanan hewan-hewan yang menakjubkan.

"Lihat."

"Meong."

"Kamu pernah melihat padang rumput seaneh itu, Put." N-ou menunjuk ke depan, di bawah sana, terlihat hamparan berwarna ungu. Dengan luas sepuluh klik.

"Meong."

N-ou menurunkan benda terbang, dia ingin melihat padang rumput itu lebih jelas. Apakah itu rumput berwarna ungu, atau apa. Persis Paruh Perak tinggal sepuluh meter, hamparan 'padang rumput' itu bergerak. ltu ternyata kawanan burung berbulu ungu yang sedang bergerombol mendarat di atas tanah. Terganggu oleh benda terbang yang mendekat, jutaan burung itu kembali terbang.

"Meong." Si Putih mengeong. "Keren." N-ou berseru.

Sekeliling mereka dipenuhi oleh warna ungu. Tidak bisa melihat kemana-mana, atas ungu, kiri, kanan, bawah, semua ungu. N-ou bergegas menarik tuas, menghentikan gerakan Paruh Perak, mengambang diam. Hingga burung itu terbang seluruhnya, menjauh dari mereka.

Dan yang paling mengagumkan, ketika benda terbang melintasi sebuah lembah dengan batu-batu terjal yang mengalirkan air terjun. Lembah itu sangat indah. Tumbuhan di bawah sana memiliki daun dengan berbagai warna; kuning, hijau, merah, biru, seperti hamparan lukisan. Pelangi terbentuk dari pantulan air terjun, ada delapan pelangi, melengkapi pemandangan fantastis itu.

N-ou sekali lagi menurunkan benda terbang. Hendak melihat lembah itu lebih dekat.

"Meong."

"Ada apa, Put?"

Belum genap kalimat N-ou, dari balik pepohonan warna-warni itu melesat ke udara kawanan kuda. Astaga? Sejak kapan kuda bisa terbang?

N-ou nyaris membuat Paruh Perak kehilangan kendali, karena reflek menarik tuasnya, "Kuda-kuda itu memiliki sayap?" N-ou berseru.

"Meong."

"ltu aneh sekali - 11

"Apa anehnya?" Pak Tua menimpali­ tapi dia ikut menatap tanpa berkedip rombongan kuda itu.

"Kuda-kuda itu punya sayap, Pak Tua." N­ ou menepuk dahi. Apakah Pak Tua tidak melihat sayap-sayap itu?

"Beberapa hari lalu kita melihat naga dan burung Phoenix, apanya yang mengherankan dari menyaksikan kuda dengan sayap."

Kuda-kuda itu tidak berbahaya, dengan bulu putih, surai panjang, sayap-sayapnya terbentang lebar, kaki-kakinya menekuk

dalam posisi yang elegan, terbang begitu anggun. Meringkik di udara, saling sahut­ menyahut ringkikan itu, terbang memutari lembah, menjauh dari Paruh Perak, kembali mendarat di sisi lembah yang jauh.

N-ou mengusap wajah. Tetap saja dia tidak bisa mempercayainya dengan segera. lni seperti tidak nyata. Dulu, kuda terbang ini ada dalam buku dongeng hologram yang dibacakan oleh lbu. Hari ini, dia menyaksikan dengan mata sendiri. Klan Polaris benar-benar kaya dengan spesies hewan dan tumbuhan paling menakjubkan. Hewan-hewan itu bukan lagi mahkluk dalam mitologi.

Paruh Perak terus meluncur ke timur.

Sisa perjalanan hari itu berjalan lancar. Setelah dijeda makan siang selama setengah jam, terus melesat menuju

timur, saat matahari bersiap tenggelam, mereka akhirnya tiba di tujuan.

lbukota E-sok.

***

Bola raksasa berwarna merah itu bersiap terbenam di kaki langit.

Di depan mereka, masih seratus klik lagi, mulai terlihat dengan gagah, Gunung Timur.

"Meong."

"Kita sebentar lagi tiba, Put." N-ou mengangguk.

Pak Tua ikut menatap seksama, sejak tadi dia sudah menyimpan perkamen di bagasi. ltu juga momen spesial bagi Pak Tua. Sudah lama sekali dia membaca tentang peradaban lama Klan Polaris. Tak terhitung buku yang dia baca untuk membuktikan keberadaannya. Sore ini,

akhirnya, mereka mengunjungi pusatnya. lbukota E-sok yang megah.

Lima puluh klik lagi, gunung itu terlihat semakin jelas.

Menjulang tinggi, pucuknya berselimutkan salju. Sepuluh kali lebih besar dibanding gunung bersalju yang pernah mereka lewati sebelumnya.

"Meong."

"Keren sekali, bukan?" "Meong." Banyak makanan?

"Kamu benar, Put. Pasti banyak yang menjual makanan lezat di sana."

"Meong." Bagus sekali.

N-ou tertawa.

Dua puluh klik, gunung itu semakin jelas terlihat. Lerengnya dipenuhi hutan lebat,

kabut tipis mengambang bagai selimut. Lapisan saljunya abadi. Putih. Memesona.

N-ou menatap ke bawah, mulai menurunkan ketinggian Paruh Perak.

Gunung itu berada di tengah danau luas. Hamparan air biru terlihat di sekeliling kakinya. Siapapun yang hendak menuju gunung, harus melewati danau. Ada jembatan sepanjang lima belas klik terbuat dari batu yang menghubungkan sisi daratan dengan gunung tersebut. Tiang-tiang kokohnyanya menghujam di dalam air. Sementara barang-barang, diangkut dengan perahu yang tertambat di dermaga dekat jembatan. Puluhan perahu terlihat hilir mudik membawa barang-barang.

Kita sepertinya harus mendarat di sini."

Meong."

ltu benar, tidak ada benda terbang yang bisa mendekati Gunung Timur. Lebih tepatnya lagi, tidak ada kendaraan dengan teknologi apapun bisa memasukinya. Semua benda terbang, kendaraan bermesin, harus berhenti di pintu gerbang jembatan batu. Ada lapangan parkir luas untuk meninggalkan kendaraan di sana. Pengunjung harus turun, melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, atau menunggang hewan. Barang-barang besar akan dibawa dengan perahu.

N-ou menarik tuas kemudi, Paruh Perak meluncur menuju tempat parkir.

Lapangan itu sesak oleh penduduk. lni musim semi, banyak pengunjung dari penjuru Kawasan Timur datang ke ibukota E-sok. Sebagian untuk berdagang, menjual hasil bumi, kerajinan, atau membeli keperluan. Sebagian lagi

mengunjungi kerabat jauh. Ada banyak penduduk dari berbagai suku yang menetap di Gunung Timur. Musim semi adalah momen terbaik untuk berkunjung.

Paruh Perak diam mengambang setengah meter di atas tanah. N-ou, Si Putih berlompatan turun, gesit. Pak Tua, berpegangan bibir jendela, merosot turun. Tiba di lapangan tanah liat. N-ou merapikan lapisan pakaian luar yang warna-warni, dia ingin terlihat seperti penduduk biasa. Membaur dengan yang lain. Pak Tua memperbaiki konverter di hidung. Menatap sekeliling.

11M eong." Si Putih melangkah anggun lebih dulu, menuju antrian penduduk di depan gerbang jembatan batu.

N-ou dan Pak Tua mengikutinya.

Tempat parkir ini sibuk, selain menurunkan penumpang, menurunkan

barang-barang yang baru tiba; juga sibuk menaikkan penumpang dan barang­ barang yang hendak meninggalkan Gunung Timur. Celoteh percakapan, seruan, sesekali ditimpali tawa terdengar. Tidak susah memahami percakapan, mengingat Klan Polaris hanya memiliki satu bahasa-aksen atau dialeknya yang berbeda.

Si Putih lincah melewati kaki-kaki pengunjung, juga pekerja kasar yang memikul barang-barang.

"Hati-hati, Kawan! ltu piring-piring mahal."

"Awas, perhatikan jalan kalian."

"Ayolah, hanya lima koli, itu upah angkut yang terlalu mahal."

"Ya sudah, angkut sendiri saJa ke dermaga."

Sesekali terdengar teriakan kencang dari kejauhan.

"MINGGIR!" "MINGGIR SEMUA!"

Penduduk menoleh. Mereka hafal

teriakan tersebut, itu berarti ada Pengendali Hewan yang hendak melintas. Penduduk segera lompat ke tepi-tepi, memberikan jalan. Debu mengepul. Pengendali Hewan itu melintas tanpa mengurangi kecepatan, menuju gerbang jembatan batu. Pun di sana, terus melintas tanpa melewati pos pemeriksaan, melesat di jembatan, memaksa siapapun yang sedang berjalan di atasnya segera merapat ke pinggir. Atau terima nasib kena tendang, pecut atau pukulan dari Pengendali Hewan.

Sambil terus melangkah, N-ou mendongak, menatap bola merah

raksasa, matahari senja menggelantung persis di atas Gunung Timur. ltulah kenapa, gunung ini juga sering disebut 'Gunung Matahari Tenggelam'. Mereka tinggal duapuluh meter dari gerbang pemeriksaan. Antrian panjang penduduk terus maju. Rombongan demi rombongan. Ada belasan penjaga dengan tombak berwarna gelap bertugas.

"Asal suku?" Penjaga gerbang bertanya ke setiap penduduk yang hendak lewat.

"Tujuan kedatangan?" Bertanya lagi. "Riwayat sakit keras?"

"Periksa yang satu itu." Teriak penjaga gerbang lainnya.

"Hei, hei, kamu tidak bisa melintas seenaknya."

"Buka kantong itu, kami harus memeriksanya. Semua." Timpal penjaga yang lain.

Satu-persatu, antrian terus maju.

Setengah jam berlalu, N-ou tiba di pintu gerbang.

Salah-satu penjaga menatapnya. Juga menatap Si Putih yang melenggang santai hendak melintasi gerbangjembatan batu.

Penjaga itu mengangkat tangan. Berseru. "TAHAN!"

Pak Tua menghela nafas. Sepertinya mereka menemukan masalah baru. Mau bagaimana lagi, di Gunung Timur pasti banyak Pengendali Hewan yang marah atas kejadian itu. Sebenarnya biasa saja Para Pengendali Hewan bertarung. ltu 'pekerjaan' mereka. Apalagi anggota pasukan elit, nyaris tiap hari mereka bertarung. Tapi Tindakan N-ou yang

membela pelayan rendahan, itu tidak lazim. Kabar itu sepertinya telah tiba di sini.

"TAHAN KUCING ITU, TUAN!" Penjaga itu

sekali lagi berseru, menyuruh Si Putih berhenti.

N-ou menatapnya. Bersiap dengan kemungkinan terburuk.

"Meong." Si Putih mengeong. Heh, kenapa berhenti?

"Harap Tuan Pengendali Hewan mengikutiku." Penjaga itu bicara.

"lkut kemana, heh? Kami mau menyeberang." Pak Tua menolak, kursi rodanya maju.

"Harap Tuan mengikutiku." Penjaga itu melangkah lebih dulu, meninggalkan gerbang. Satu penjaga lain menggantikan posisinya.

N-ou dan Pak Tua saling tatap. lkut kemana? Baiklah. N-ou memutuskan mengikutinya. Sepanjang mereka belum mengajak bertarung, berarti semua masih baik-baik saja.

"Heh, anak muda, kenapa kamu mengikutinya?"

N-ou melambaikan tangan, menyuruh Pak Tua ikut saja.

"Meong," Si Putih lompat menyusul N-ou.

Pak Tua menggerutu, bagaimana kalau ini jebakan, mereka diajak ke ruangan sepi atau tertutup, lantas mereka ditangkap. Tapi dia menarik tuas kemudi kursi roda, segera mengikuti N-ou dan Si Putih.

Penjaga itu ternyata membawa mereka ke dermaga.

"Heh, kita disuruh naik perahu barang?" Pak Tua terlihat tersinggung.

"Meong."

"Si Buntut Panjang bilang apa?" Berisik. Tenang saja bisa nggak sih. Pak Tua melotot ke Si Putih.

Penjaga berhenti, dia menunjuk sebuah

perahu yang tertambat di antara perahu­ perahu barang, dan kesibukan bongkar­ muat dermaga.

"Aku tidak mau naik perahu barang. Kami Pengendali Hewan, seharusnya lewat tanpa diperiksa-"

Gerutu Pak Tua tersumpal.

ltu bukan perahu barang. ltu kapal kayu yang mewah. Dengan ukiran elok di dindingnya, serta tiang-tiang dengan layar siap terkembang. ltu bukan kapal biasa. Tiga petugas kapal berlompatan turun demi melihat N-ou, Si Putih dan Pak Tua. Wajah mereka ramah, tersenyum

lebar, mengenakan seragam yang ringkas. Membungkuk sopan.

"Selamat datang, Tuan Pengendali Hewan yang hebat."

"Juga kucing yang gagah perkasa." "Dan Pak Tua yang bijaksana."

Astaga? Kuping Pak Tua terangkat satu senti. Mereka memanggilnya apa barusan? Pak Tua yang bijaksana. Wahai, itu terdengar keren. lni jelas bukan masalah yang dia khawatirkan. lni sebaliknya, kejutan yang menyenangkan.

"Apa mau kalian?" Pak Tua berseru ketus-bergaya seolah dia bisa memerintah siapapun.

"Kami ditugaskan menjemput rombongan Tuan." Salah-satu petugas bicara.

"Siapa yang menyuruh kalian?"

"Jenderal Uh-lhar, berkenan menyambut kedatangan Tuan di kediamannya."

Pak Tua terdiam-dia jelas tidak mengenal nama itu, tapi sepertinya orang penting di Gunung Timur. N-ou menatap tiga petugas itu.

"Meong." Si Putih mengeong. Ekornya bergelung.

"Jika Tuan telah siap, harap naik ke atas kapal."

Tiga petugas itu membungkuk lagi.

Si Putih melenggang menaiki tangga kapal yang terjulur. Ekornya bergerak­ gerak. Disusul oleh Pak Tua, kursi rodanya bergerak maju.

"Silahkan, Tuan Pengendali Hewan." Tiga petugas sekali lagi membungkuk.

N-ou mengangguk, ikut naik ke atas kapal.

Tiga petugas itu berlarian gesit, menggulung tangga, melepas jangkar, mengembangkan layar. Salah-satu dari mereka memegang roda kemudi.

"Kita berlayar, Tuan Pengendali Hewan." Seru petugas.

"Aye-aye." Timpal yang lain, "Kita akan melintasi danau yang indah, menuju jantung ibukota E-sok yang megah, yang bersemayam di perut Gunung Timur yang perkasa."

***

BAB25

Kapal kayu dengan ukiran elok itu membutuhkan setengah jam melintasi danau. Layar-layarnya terkembang lebar. ltu pengalaman baru bagi rombongan mereka-karena N-ou hanya menaiki benda terbang lima tahun terakhir. Bahkan sejak kecil, dia tidak pernah menaiki kapal.

Mereka bisa menyaksikan hamparan danau yang tenang. Jembatan batu yang dipenuhi hilir-mudik pengunjung. Perahu-perahu lain yang dipenuhi barang. Di atas sana bola merah raksasa matahari tinggal separuhnya.

Petugas kapal tidak hanya menjemput, mereka juga menyediakan makanan dan minuman untuk tamu terhormat.

"Meong."

Si Putih mengeong riang, melihat piring­ piring dipenuhi daging lezat. Keranjang rotan dipenuhi oleh buah-buah segar. Roti-roti besar. Mangkok-mangkok dengan sup hangat. Nyaris setiap jengkal meja dipenuhi oleh makanan. Ekornya terangkat tinggi, mengincar piring terbaik.

Tidak hanya itu, di dalam kapal ternyata telah menunggu penduduk dari Suku Pemusik. Mereka memainkan alat musik tiup, menghibur tamu terhormat.

"Silahkan dinikmati, Pak Tua yang bijaksana." Petugas meletakkan gelas kristal berisi minuman segar di meja mereka.

"ltu keren. Aku senang mendengarnya." Pak Tua terkekeh-keren maksudnya, lebih karena panggilan itu. Bukan semata­ mata untuk makanan, minuman, atau hiburan musiknya.

"Meong."

Ekor Si Putih telah mengangkat salah-satu piring. Makan.

N-ou tertawa, ikut meraih sebutir apel.

lni benar-benar kejutan. Beberapa menit lalu mereka bersiap untuk bertarung, ternyata sebaliknya. Mereka justeru dijemput, dijamu, dihibur, dibawa dengan kapal khusus. Langsung menuju jantung ibukota E-sok.

"Apakah kalian sering mengangkut penumpang?" Pak Tua bertanya.

"Tidak, Pak Tua yang bijaksana. Kapal ini hanya digunakan untuk tamu-tamu penting."

"Siapa gerangan Jenderal itu?"

"Beliau adalah Panglima Perang, Pimpinan Tertinggi seluruh pasukan.

Hanya Raja Gunung Timur yang memiliki posisi lebih tinggi dibanding Panglima."

"Jenderal ini, apakah dia berniat jahat?"

Tiga petugas menggeleng, "Pak Tua yang bijaksana tidak akan dijemput dengan kapal ini jika Panglima berniat jahat. Sebaliknya, kapal ini adalah sambutan kehormatan."

"ltu juga keren. Aku senang mendengarnya." Pak Tua melambaikan tangan, menyuruh tiga petugas menyingkir, dia hendak menikmati pemandangan sambil diiringi musik.

Akan tetapi rombongan itu terlalu cepat menyimpulkan. Tanpa mereka sadari, mereka justeru sedang menuju masalah besar. ltu adalah cuaca indah sebelum badai menggila. Dan kali ini, bahkan Si Putih tidak bisa membantu banyak.

***

Setelah melintasi danau, jembatan batu itu langsung masuk ke sebuah mulut gua. Tinggi mulut gua itu tak kurang seratus meter, lebarnya dua kali lipat. Di dalam gua itu, di balik dinding-dinding batu karang, ruangan besar terhampar. ltulah ibukota E-Sok, yang bersemayam di perut Gunung Timur.

Kapal berukiran yang mereka tumpangi juga memasuki mulut gua itu. Jika pengunjung lain tiba di ujung jembatan, melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di jalanan kota, kapal itu terus berlayar melewati kanal-kanal buatan.

Mata N-ou nyaris tak berkedip menatap sekelilingnya.

Kata ini sama besarnya dengan kota E­ um. Bedanya, bangunan di sini terbuat dari batu, kayu, dan bahan-bahan alami lainnya. Dia dengan cepat tahu, jika kota itu dibagi menjadi dua kawasan. Bagian

luar, dan bagian dalam. Mereka sekarang memasuki bagian luar.

N-ou sejak tadi berdiri di geladak, agar bisa melihat sekitar dengan jelas. Si Putih juga ikut-telah selesai makan. Nyaris tidak ada bangunan bertingkat di bagian luar. Penguasa ibukota sepertinya melarang penduduk membangun rumah yang lebih tinggi dibanding barisan bangunan yang terlihat di bagian dalam­ tempat tinggal para Pengendali Hewan.

Ruangan itu terang. Udara terasa segar dan hangat. Dinding-dinding ruangan memiliki bebatuan yang memancarkan cahaya alami. Juga rumah-rumah, jalanan, memiliki lampu-lampu dari sumber alami. Spesies tertentu kunang­ kunang, atau hewan yang mengeluarkan cahaya lainnya, diletakkan di dalam toples kaca, kemudian digantungkan, itu bisa menerangi sekitarnya bertahun-

tahun, sepanjang serangga di dalam toples itu diberikan makanan. Jika penduduk hendak tidur, mereka tinggal menutup toples itu dengan kain. Lampunya 'padam'. Juga bebatuan di dinding karang, di jam-jam tertentu, bebatuan itu akan redup dengan sendirinya.

Kapal berukiran elok terus melintasi kanal-kanal. Melewati rumah-rumah penduduk. Jalanan terlihat ramai. Anak­ anak berlarian, berkejar-kejaran, bermain. Penduduk dewasa duduk di teras rumah, sambil mengobrol, menghabiskan petang. Satu-dua penduduk menonton kapal yang melintas. Anak-anak melambaikan tangan.

N-ou tersenyum, ikut melambaikan tangan.

Membuat anak-anak itu berseru-seru, semangat. Jarang sekali penumpang kapal yang mau membalas lambaian, yang ada mereka malah diteriaki, atau terdengar suara pecut di udara. Membuat orang tua mereka bergegas menyuruh anak-anak masuk. Anak-anak itu berlarian mengikuti laju kapal berukiran elok. Sambil menunjuk-nunjuk. Jumlah mereka bertambah ramai.

N-ou tersenyum lagi, melambaikan tangan.

"Meong."

"Tidak, Put."

"Meong."

kembali

"Tetap di kapal, Put." N-ou menggeleng tegas.

Si Putih barusan mengajaknya lompat ke tepi kanal. Mudah saja melakukannya, itu

hanya dua-tiga meter, sekali lompat, telah mendarat di sana. Sepertinya bermain kejar-kejaran bersama anak­ anak itu lebih seru dibanding di kapal ini. Hanya Pak Tua yang sok asyik mendengarkan hiburan music di kabin.

Lima klik terus melewati kanal-kanal.

Gerakan anak-anak itu terhenti, kapal tiba di batas bagian dalam. Ada tembok mengelilingi bagian itu, dan jalan masuk menuju bagian itu dijaga ketat. Anak­ anak melambaikan tangan di belakang, menatap kapal yang terus melaju masuk menuju jantung ibukota E-sok.

"Meong."

Kepala N-ou mendongak lagi, menatap tepi kanal. Bangunan di bagian dalam lebih besar dan bertingkat. Terlihat lebih kokoh dan lebih mewah. Jalanan lebih lengang, tidak banyak penduduk yang

menghabiskan waktu di teras rumah, atau di taman-taman. Sesekali N-ou menatap rombongan Pengendali Hewan yang melintas-bersama hewan-hewan mereka. ltu mungkin anggota pasukan, atau pejabat tinggi ibukota.

"Meong."

N-ou mengangguk, memperhatikan.

Kapal berukiran itu terus maju, tiba di bagian terdalam kota. Bangunan­ bangunan yang lebih besar terlihat di kiri­ kanan kanal. Dilapisi dengan pualam. Pepohonan berbaris hijau. Taman bunga terpangkas rapi. Tidak salah lagi, mereka telah tiba di jantung ibukota E-sok. Kapal berukiran itu mengurangi kecepatan. Satu klik lagi, merapat di dermaga kayu.

Petugas kapal gesit melemparkan jangkar, mengikat kapal. Lantas berbaris di geladak, mempersilahkan N-ou, Si

Putih dan Pak Tua turun dari kapal. Di dermaga telah menunggu enam Pengendali Hewan dengan seragam gelap. Di belakang mereka juga berdiri 6 gorila besar. Tinggi besar, dengan bulu tebal berwarna hitam. Tapi hewan­ hewan itu terlihat tenang. Tidak siap menyerang.

"Selamat datang di ibukota, Esok." Salah­ satu Pengendali Hewan menyambut.

"Terima kasih." Jawab Pak Tua. Matanya menyelidik, para pengendali hewan yang ini sopan-berbeda dengan sebelum­ sebelumnya.

"ljinkan kami mengantar menuju aula pertemuan."

"Jenderal itu sudah menunggu, heh?" "Benar, Pak Tua. Harap ikuti kami."

Enam Pengendali Hewan itu melangkah lebih dulu, disusul 6 gorila yang setiap kakinya menghentak tanah membuat suara berderak.

Si Putih melenggang santai, ekornya bergelung. Dia sama sekali tidak peduli dengan gorila itu. N-ou ikut menyusul, mensejajari kursi roda Pak Tua yang telah meluncur.

***

Ada beberapa bangunan besar dengan dinding batu pualam di sekitar mereka.

Yang paling megah, persis menempel di dinding perut gunung. Bangunan itu memiliki belasan tiang setinggi tiga puluh meter. Setiap tiang tergantung lampu kristal dengan ikan bercahaya di dalamnya. ltu sepertinya lstana penguasa Kawasan Timur. Tapi mereka tidak menuju kesana, Enam Pengendali Hewan

itu membawa mereka ke bangunan persis di sebelah lstana. Ukurannya lebih kecil, tapi sama mewahnya.

Rombongan melintasi teras dengan tiang­ tiang tinggi. Melangkah di atas hamparan keramik. Lampu-lampu kristal tergantung di langit-langit. Bahkan gedung paling mewah di kota E-um tidak bisa menandingi keindahan bangunan ini. Seluruh gedung dibuat oleh pemahat terbaik Klan Polaris. Setiap jengkalnya dipahat sedemikian rupa nyaris tanpa cacat.

Melewati pintu besar pertama, rombongan melintasi lorong sepanjang lima puluh meter, dengan lantai dilapisi permadani tebal. Tiba di ujung lorong itu, pintu kedua telah menunggu.

Enam Pengendali Hewan mendorong pintu kayu besar. Suara berdebam terdengar bergema.

Aula pertemuan itu akhirnya terlihat. Mereka telah sampai.

Sebuah ruangan dengan lebar tak kurang seperempat lapangan bola, tinggi dua puluh meter. Lantainya kembali dilapisi pualam. Mereka melangkah melintasi ruangan, tiba di tengahnya, menuju sebuah kursi besar berwarna gelap. Dan di atas kursi itu telah menunggu tuan rumah.

"Jenderal Uh-lhar, rombongan tamu yang terhormat telah tiba."

Seru lantang salah-satu Pengendali Hewan 6 gorila yang mengawal. Mereka membungkuk, menyibak pasukan, berpindah posisi ke samping kiri dan kanan bersama enam gorila.

Jenderal Uh-Lhar berdiri dari kursinya.

Tangannya terentang lebar, berseru, "Wahai, akhirnya kita berjumpa."

Gelar 'Panglima Perang' itu tidak among kosong. N-ou menatap tuan rumah. Tubuhnya tinggi besar, gagah, mengenakan pakaian gelap, dengan kain panjang penutup kepala. Wajahnya berwibawa, matanya tajam. N-ou melirik kesana-kemari, dia tidak melihat hewan apapun bersama panglima perang ini, sekitar mereka kosong. Hanya tiang-tiang tinggi berlapiskan pualam yang menopang atap. Mana hewan milik Panglima?

"Bagaimana perjalanan kalian?" Jenderal Uh-lhar bertanya.

Pak Tua menarik tuas kemudi, kursi rodanya maju, dia memutuskan bicara­ karena N-ou masih menatap tiang-tiang pualam itu, matanya melihat sesuatu yang menarik. Dasar anak muda ini tidak tahu tempat, dengus Pak Tua dalam hati. Pun sama dengan Si Putih, kucing itu

santai meringkuk di lantai, menjilati bulunya. Mereka kira ini taman bermain kanak-kanak, heh.

"Perjalanan kami lancar, Jenderal Uh­ lhar." Pak Tua menjawab takjim.

"Bagus sekali. Apakah ini pertama kali kalian mengunjungi ibukota E-sok?"

Pak Tua mengangguk, "lya. Tapi kami pernah melihat sisa-sisa kota tua di gunung bersalju dekat padang rumput. Reruntuhan kota itu mirip dengan ibukota E-sok."

"Ah, aku tahu kota itu. Dulu tempat itu adalah pusat kekuasaan lama, sebelum wabah penyakit menghabisinya. Ratusan tahun penduduk terpencar dimana­ mana, hingga Raja memutuskan membangun ibukota baru di Gunung Timur. Lokasi ini brilian. Tidak hanya dilindungi oleh dinding gunung yang

tebal, tapi juga danau luas. ltu mencegah siapapun keluar masuk saat wabah penyakit kembali terjadi."

Pak Tua mengangguk lagi, "Terima kasih banyak atas sambutan yang luar-biasa, Jenderal Uh-ljar. lni diluar dugaan, mengingat kejadian di kota Mah-rib. Kami minta maaf telah menyerang pasukan dari ibukota."

Jenderal Uh-lhar melambaikan tangan, melangkah maju, "ltu bukan masalah, Pak Tua. Penunggang 12 flamingo itu mendapatkan pelajaran yang mereka butuhkan. Mereka terlalu lama merasa paling kuat, sedikit arogan dan tidak terkendali, hingga luput mengenali kekuatan besar di depannya. Mereka pantas dipermalukan. Dua belas orang, 12 flamingo, tidak bisa mengalahkan satu anak muda dan kucingnya."

Jenderal Uh-lhar berdiri di depan N-ou. Terpisah dua Langkah.

"Anak muda ini, terlihat gagah dibalik pakaian biasanya. Aku suka melihat garis wajahnya. Berapa usiamu, Nak? Delapan belas?"

Pak Tua menyikut N-ou, menyuruhnya bicara.

"Tujuh belas." N-ou menjawab.

"Ah, bahkan lebih belia lagi." Jenderal Uh­ lhar tersenyum, menoleh ke Si Putih, "Dan ini adalah kucing hebat itu."

Si Putih masih asyik menjilati bulunya.

"Aku tidak pernah menyangka jika seekor kucing bisa membentuk ikatan unik dengan manusia. ltu biasanya dimiliki oleh hewan-hewan buas, besar, menakutkan. Tapi ternyata tidak, kucing ini memiliki kekuatan yang lebih besar

dibanding ukuran tubuhnya. Dari kabar yang kudengar, ekor panjangnya sangat kuat, bukan?"

Pak Tua hendak menyenggol Si Putih, menyuruhnya lebih sopan di hadapan Panglima Perang-tapi jaraknya terlalu jauh, Si Putih duduk di sebelah N-ou. Menggerutu dalam hati, coba saja ada makanan lezat di sini, Buntut Panjang ini akan lebih santun.

"Sejak kapan kalian bisa membentuk

bonding?" Jenderal menoleh lagi ke N-ou.

"Eh, seminggu yang lalu." N-ou mendongak, tingginya hanya sebahu Panglima Perang.

"Wahai? Seminggu? Dan kalian telah lompat ke bonding Level Dua?"

N-ou mengangguk.

"ltu menakjubkan, anak muda. Butuh bertahun-tahun seorang Pengendali Hewan untuk lompat ke level berikutnya, bahkan lebih banyak lagi yang terhenti di Level 1, tapi kalian hanya butuh seminggu.... Ah, Pak Tua yang duduk di kursi roda ini pastilah membantu banyak, bukan?"

"Tidak banyak, Jenderal Uh-lhar. Orang setuaku hanya bisa membimbing dan mengarahkan yang lebih muda agar bisa fokus mencapai cita-cita, begitulah. Hanya sedikit kebijaksanaan. Pengetahuan. Dari buku-buku yang pernah kubaca." Pak Tua merendah­ untuk meninggi.

Jenderal Uh-lhar tersenyum. "ltu bijaksana, Pak Tua."

Kuping Pak Tua naik sesenti. Jenggotnya bergerak-gerak.

Pluk!

Terdengar suara dari benda yang jatuh. Saking senangnya dipuji, Pak Tua luput memperbaiki pos1s1 konverter di hidungnya. Benda kecil itu jatuh. "Maaf." Sedikit kikuk. Pak Tua membungkuk mengambil konverter, wajahnya sedikit memerah.

"Meong." Dasar ceroboh.

Pak Tua melotot. Kembali berdiri, memasang konverter itu.

"Meong." Makanya jangan sok.

N-ou menyeringai. lni lucu, dia nyaris tertawa.

Tapi batal, di depannya Jenderal Uh-lhar telah mengangkat tangannya, tanda dia hendak bicara serius, "Mari kita maju ke percakapan yang lebih penting. Kita tutup sejenak ramah-tamah ini. Karena kalian

tahu, pertemuan ini bukan hanya untuk itu. Aku telah menunggu kalian sejak penunggang 12 flamingo tiba di sini dua hari lalu, dengan kondisi terluka."

"Sebagian Pengendali Hewan berpendapat itu sebuah penghinaan, melanggar peraturan, tapi Raja Gunung Timur memiliki pendapat yang berbeda, dan aku setuju dengannya. Kejadian itu adalah kesempatan yang baik untuk mengirim pesan jika Pengendali Hewan adalah petarung yang terhormat dan bisa dicintai. Apalagi dengan tampilan belia anak muda ini, dan kucingnya yang lebih bersahabat dibanding gorila, flamingo hitam, atau anjing hutan."

Jenderal tersenyum.

Uh-lhar diam sejenak,

Pak Tua dan N-ou mendongak, menunggu.

"Maka, malam ini, aku menawarkan kesempatan emas untuk kalian." Jenderal Uh-lhar menunjuk N-ou, "Anak muda ini, beserta kucingnya, akan diangkat menjadi Penjaga Singgasana. ltu sebuah posisi yang sangat tinggi, satu level dibawah Panglima Perang, dua level dibawah Raja Gunung Timur." Jenderal Uh-lhar menunjuk Pak Tua, "Dan Pak Tua, aku menawarkan posisi Penasihat yang mengurusi kebijakan lstana atas penduduk biasa. Saran-saran Pak Tua akan menjadi petunjuk, bimbingan dan arahan."

Astaga? Pak Tua tersenyum lebar, matanya membesar. Apakah dia tidak salah dengar? Tidak terbayangkan dalam hidupnya, dia ditawari posisi yang hebat itu. Dulu, teman-temannya di kampus menganggapnya gila, dosen-dosennya enggan berdebat dengannya. Tapi

sekarang, dia justeru diangkat menjadi penasihat di ibukota peradaban lama Klan Polaris. ltu keren.

Tapi senyum Pak Tua padam. Seketika. N-ou menggeleng.

"Apa maksud gelengan itu, anak muda?" Jenderal Uh-lhar menatap tajam-untuk pertama kalinya, wajah itu terlihat tidak ramah.

"Aku tidak tertarik dengan jabatan atau posisi apapun."

Hei, Pak Tua menyikut N-ou. Ayolah, itu tawaran yang hebat sekali.

N-ou menoleh ke Pak Tua, "Aku tidak tertarik, Pak Tua. Maaf"

Aduh. Atau setidaknya bisa dipikirkan dulu, kan? Ditimbang-timbang? Minimal bilang terima-kasih dulu kek, apa kek. Masa' langsung ditolak mentah-mentah,

di depan anak-buahnya pula, Panglima Perang ini bisa tersinggung. Urusan ini bisa kapiran.

Aula pertemuan besar itu lengang sejenak.

Aroma menegangkan mulai tercium di udara.

N-ou sekali lagi menggeleng. Dia tidak mau.

Jenderal Uh-lhar tertawa-tapi itu tawa yang sinis.

"Anak muda m1 sepertinya tidak memahami tradisi Pengendali Hewan. ltu sejatinya bukan tawaran, Nak, itu kewajibanmu. Raja memanggilmu untuk berbakti, ribuan Pengendali Hewan lain bahkan bertarung hidup-mati menembus lingkaran kekuasaan, saling menyingkirkan, dan kamu barusaja menolaknya begitu saja?"

"lzinkan aku membujuknya, Jenderal Uh­ lhar." Pak Tua buru-buru bicara, "Aku harap Jenderal bisa memakluminya. Dia masih muda, jalan pikirannya masih pendek. Emosinya masih besar. Kejadian di kota Mah-rib mempengaruhinya, membuatnya tidak menyukai kekuasaan, jabatan, dan-"

"Tidak, Pak Tua. Aku tidak tertarik." Ayolah.

N-ou menggeleng tegas.

Pak Tua mengusap jenggotnya. Nasib. Kalau sudah begini, selamat tinggal jabatan tinggi itu. Mereka memang baru hitungan hari saling mengenal, tapi Pak Tua tahu. Dia menghabiskan waktu puluhan tahun memahami sifat manusia. Dia tahu, anak muda ini kokoh bagai karang, memiliki prinsip yang mulia. Tapi dunia tidak bekerja seperti itu. Kadang

kita perlu mengalah, kadang kita perlu bernegosiasi. Kadang kita perlu mencuri waktu-

Jenderal Uh-lhar mendengus, "Sepertinya Pak Tua tidak sebijaksana itu. Anak muda ini sama sekali tidak mendengarkan saran Pak Tua. Baiklah. Aku akan mengajarimu tentang tradisi pengendali Hewan, anak muda."

Apa maksudnya? Pak Tua menelan ludah, itu terdengar buruk.

Jenderal Uh-lhar memberi perintah, "Bawa tahanan itu ke sini!"

Persis suara itu tiba di ujungnya, terdengar suara benda di dorong memasuki aula pertemuan. Rombongan menoleh.

"Meong."

N-ou berseru tertahan.

Lihatlah, sebuah kerangkeng di dorong masuk oleh pasukan, dan di dalam kerangkeng itu, S-ket, teman baik dari kota E-um dulu, terduduk dengan tangan dan kaki dirantai. Tanpa sepengetahuan N-ou, saat mereka meninggalkan Kota Mah-rib, S-ket telah ditangkap, dengan tuduhan melawan kekuasaan para Pengendali Hewan.

"Apa yang kalian lakukan?" N-ou berteriak marah.

Pak Tua menahan tangannya- membujuk agar dia tenang dulu.

"Meooong." Ekor Si Putih berdiri. Dia juga marah.

"Dengarkan aku baik-baik, anak muda." Jenderal Uh-lhar bicara, "Terima tawaran itu, menjadi bagian dari kekuasaan Gunung Timur, maka penduduk biasa yang kamu bela di kota Mah-rib itu akan

dibebaskan. Dia akan baik-baik saja. Menolak tawaran itu, maka kita harus melakukan tradisi panjang para Pengendali Hewan."

"Apa yang kamu inginkan?" N-ou berteria k lagi.

"Meong!"

"Aku menantangmu duel, anak muda." Jenderal Uh-lhar berseru. ltulah tradisi tersebut, bertarung hidup-mati untuk memutuskan sebuah perkara.

"Baik." N-ou mendengus, menoleh ke Pak

Tua-tolong lepaskan tanganku.

Pak Tua menggeleng, itu ide buruk. Sangat buruk.

"Aku akan mengalahkannya, Pak Tua." N­ ou mendesis.

Pak Tua menggeleng lagi. Tidakkah anak muda melihatnya, Panglima Perang ini

bukan penunggang 12 flamingo. Situasi ini sudah dirancang sedemikian rupa agar anak muda ini patuh, bersedia. Pak Tua berbisik, membujuk, Kita tidak tahu level bonding yang dia miliki. Bahkan kita tidak tahu apa hewan peliharaannya. Ayolah, apa susahnya diterima saja tawaran itu? S-ket akan dibebaskan, hidup kita, termasuk hidup S-ket menjadi lebih baik. Besok-besok dengan jabatan itu kita bisa membuat perubahan.

N-ou menggeleng. Keputusannya telah final.

"Meooong!" Si Putih telah siap.

"Menyingkir dari aula." Jenderal Uh-lhar meneriaki anak-buahnya.

Kerangkeng itu segera di dorong keluar dari aula pertemuan.

"Jenderal Uh-lhar, mungkin lebih baik kami saja yang melawan anak itu."

Salah-satu Pengendali Hewan 6 gorila bicara.

Jenderal Uh-lhar menggeleng, "Anak muda itu bukan tandingan kalian. Menyingkir dari sini." ltu sebuah titah. Pengendali Hewan 6 gorila mengangguk, balik kanan, menyingkir ke dinding ruangan, berdiri menonton di sana.

Pak Tua sekali lagi menatap N-ou. Hendak mencoba membujuk. Menghela nafas perlahan. Baiklah, dia tidak akan bisa membujuknya. Pak Tua menarik tuas kemudi, kursi rodanya bergerak menuju area yang aman.

Aula pertemuan besar itu menyisakan Jenderal Uh-lhar yang berdiri lima langkah dari N-ou dan Si Putih. Aroma ketegangan tercium pekat.

"Meooong." Ayo dimulai.

N-ou memasang kuda-kuda kokoh. Kapanpun tuan rumah siap, silahkan.

Jenderal Uh-lhar mengangkat tangannya, bersiul. Melengking.

Persis siul itu terdengar, salah-satu tiang pualam di belakang kursi terlihat bergerak. 'Tiang' itu meluncur turun ke lantai pualam. ltulah hewan milik Panglima Perang, seeker ular rakasasa. Panjangnya tiga puluh meter, dengan diameter sebesar paha. Sisik-sisik kulitnya berwarna pualam. Taring tajam di mulutnya sepanjang dua jengkal, matanya merah, menatap buas.

Dari kejauhan, Pak Tua menahan nafas. Kacau sudah urusan ini. Ular raksasa itu terlihat mengerikan, entah kekuatan apa yang dimilikinya.

"Sssstttt." Ular itu mendesis-desis. Kepalanya terangkat.

"Meooong." Si Putih balas mengeong.

Pertarungan besar siap meledak kapan pun.

Bonding masing-masing petarung telah diaktifkan.

***

Jenderal Uh-lhar mengambil inisiatif menyerang pertama.

Tubuh tinggi besarnya melenting ke depan, tinjunya terangkat. Dia jelas tidak membutuhkan senjata untuk mengalirkan kekuatan. Kesiur angin terdengar menyertai tinju itu. N-ou bergegas ikut mengangkat tangannya. Tidak, dia tidak membuat tameng transparan. Dia lompat, ikut meninju.

BUM!

Dua pukulan berdentum bertemu. Jenderal Uh-lhar terbanting setengah langkah, N-ou terpelanting di udara dua langkah. Bergegas mengembalikan keseimbangan, persis kakinya menginjak lantai pualam, N-ou menghentakkan

kakinya, lompat ke depan, balas menyerang.

"Sssttt." Ular besar itu bergerak maju, memotong serangan. Mulutnya siap mencabik tubuh N-ou.

"Meong!" Si Putih ikut lompat, menabrakkan tubuhnya ke badan ular.

BUM! Membuat serangan ular itu terdorong setengah meter. Luput.

Tinju N-ou telah tiba. Jenderal Uh-lhar membuat tameng transparan dengan tangan kanannya. Splash.

BUM!

Kokoh sekali tameng itu.

N-ou berteriak, masih dalam posisi di udara, melepas pukulan berdentum berikutnya.

BUM! BUM! Kiri-kanan, tinjunya menghantam tameng itu.

BUM! Pukulan keempat tameng itu retak. BUM! Pukulan kelima tameng itu runtuh.

N-ou merangsek tidak memberikan kesempatan lawannya, hendak melepas pukulan berikutnya. Terlambat, Jenderal Uh-lhar telah membalas, tangan kirinya meninju ke atas. N-ou bergegas mengubah gerakan tinjunya menjadi tameng transparan.

Splash.

BUM!

Meskipun tamengnya tidak hancur, tubuhnya terpelanting satu meter.

"Bagus sekali, anak muda." Jenderal Uh­ lhar berseru, tubuh tinggi besar itu lompat mengejar, "Giliranku. Terima ini."

Dua tinjungnya telah datang.

BUM! BUM!

Tameng N-ou hancur. N-ou jatuh terduduk. Disusul serangan berikutnya, N-ou tidak sempat menghindar. Tinju jenderal siap memukul lagi.

"Meong." Si Putih lompat membantu N­ ou, ekornya melesat.

CTAR!

Splash. Jenderal Uh-lhar menangkisnya dengan tameng transparan.

"Meong." Si Putih hendak memukulkan lagi ekornya.

"Sssstt." Ular besar mendesis, ekornya lebih dulu tiba menghantam Si Putih­ yang tidak melihat serangan dari belakang.

BUK!

Membuat kucing itu terpelanting dua meter, tersungkur di lantai pualam.

"PUT!" N-ou berseru tertahan.

Tapi tidak ada waktu bagi N-ou untuk mencemaskan Si Putih, karena Jenderal Uh-lhar merangsek lagi. Tubuh tinggi besar itu kembali lompat di udara, mengirim dua pukulan berdentum. N-ou bergegas berguling menghindar.

BUM! BUM!

Lantai pualam merekah, lubang besar terbentuk. Debu mengepul. Pukulan berdentum Panglima Perang ini kuat sekali, N-ou bergegas berdiri dari balik debu, terlambat sepersekian detik dia menghindar, tubuhnya bernasib sama dengan pualam itu.

"Sudah lama aku tidak melemaskan tubuhku." Jenderal Uh-lhar menghentikan serangannya sejenak, dia menyermga1 lebar. Terpisah enam langkah dari N-ou.

"Ssstt." Ularnya juga menahan serangan, meluncur di atas lantai pualam, tegak di sampingnya.

N-ou menyeka wajahnya yang kotor. Kakinya kembali memasang kuda-kuda.

"Meong." Si Putih telah loncat bergabung, bulu putihnya dipenuhi debu.

"Kamu baik-baik saja, Put?" N-ou bertanya.

"Meong."

Debu mengepul di sekitar mereka.

"Aku sekali lagi memberimu kesempatan, anak muda, terima tawaranku. Bergabung dengan kekuasaan Gunung Timur."

N-ou menggeleng. Tidak.

"Dasar keras kepala, aku akan mengajarimu sopan-santun." Jenderal Uh-lhar menggeram.

"Ssstt." Ularnya mendesis buas.

Mereka telah mengaktifkan bonding Level Tiga.

Persis bonding itu terbentuk, Jenderal Uh-lhar lompat maju, serangan penuh. Cepat sekali gerakannya kali ini, N-ou bergegas membuat tameng, splash, BUM! Terpelanting satu langkah. Tamengnya masih utuh.

Di sampingnya, ular besar itu juga lompat, ekornya terangkat tinggi, siap menghantam N-ou.

"Meong." Ekor Si Putih lebih dulu menyambarnya, melilitnya.

Jenderal Uh-lhar tidak memberi ampun. BUM! BUM! Terus melepas pukulan berdentum, tameng milik N-ou hancur lebur, tubuhnya terbanting di lantai pualam.

Sementara itu, "Sssttt," ular besar mendesis marah melihat ekornya dililit oleh ekor Si Putih, dia mengangkat ekornya. ltu gerakan yang kuat dan cepat, Si Putih tidak kuasa menahannya. Kaki­ kakinya terlepas dari pijakan, badannya terangkat tinggi. Sepuluh meter di udara.

BRAK! Ular besar membanting ekornya. Tubuh Si Putih menghantam pualam.

Sekali lagi ular besar itu mengangkat ekornya tinggi-tinggi, lantas menghantamkannya kembali. BRAAK! ! Tubuh Si Putih terbanting lagi. Kali ini lilitan ekornya terlepas dari ekor ular, dia terguling di atas lantai. Baru berhenti saat tubuhnya menabrak bongkahan pualam besar.

Di sisi lain, Jenderal Uh-lhar terus memburu buas N-ou.

"Terima ini, anak muda." Panglima Perang itu berseru.

BUM! BUM! Dua tangannya meninju. "Kamu hendak lari kemana, hah?" BUM! BUM!

N-ou mati-matian menghindar, berguling. Lebih banyak lagi lubang di lantai pualam. Debu mengepul memenuhi sekitar.

"Ssstt."

Ekor ular besar lebih dulu menangkap tubuh N-ou, dia tidak melihat serangan itu, karena fokus menahan serangan Panglima Perang. Cepat sekali ekor itu telah melilitnya, dari ujung kaki, paha, perut, dada, hingga leher, menyisakan wajah. Tubuhnya terangkat ke udara. Berusaha berontak, sia-sia, ular besar itu mengencangkan lilitannya. Membuat dia tersengal.

Dari kejauhan, Pak Tua menahan nafas. Selesai sudah. N-ou terhimpit lilitan ular besar, Si Putih masih terkapar di lantai pualam, di antara kepul debu.

Jenderal Uh-lhar melangkah mendekati N-ou yang berontak. Sia-sia, lilitan hewan itu kencang sekali. Sisik-sisiknya yang kasar terasa dingin menjepit sekujur tubuh.

"Kesempatan terakhir, anak muda. Terima tawaranku."

N-ou menggeram, menggeleng. Sejak tadi dia berusaha melepaskan lilitan ular besar, sambil menatap Si Putih yang masih terbaring. Bangunlah Put. Mendesis dalam hati.

"Dasar bodoh, aku menawarkan kekuasaan, kekayaan, kamu menolaknya mentah-mentah. Memilih dihajar habis­ habisan."

Tangan Jenderal Uh-lhar, kesiur angin terdengar. Tangan itu siap melepas pukulan mematikan.

N-ou menatap Si Putih yang tergeletak dua belas meter darinya. Bangunlah, Put. Bantu aku. Yes! Si Putih terlihat merangkak bangun, dan kucing itu balas menatapnya. Di antara kepulan debu. Bola mata hitam N-ou memantul di bola mata kuning Si Putih. Dan sebaliknya, bola mata kuning Si Putih memantul di bola mata hitam N-ou.

"MEOOONG !" Si Putih mengeong kencang.

"ARRGHH !" N-ou ikut berteriak lantang.

Bonding level berikutnya diaktifkan. ltu bukan Level Tiga, itu lompat langsung ke Level Empat. Kekuatan mereka tumbuh empat kali lipat.

Splash.

Tubuh N-ou yang dililit oleh ular besar menghilang, untuk kemudian splash. Muncul di depan Jenderal Uh-lhar, BUM! Tinju N-ou teracung. Tanpa sempat menghindar, tanpa sempat membuat tameng transparan, tubuh Jenderal Uh­ lhar terkena telak pukulan tersebut, tubuhnya terbanting dua meter. Sementara Si Putih, berlarian cepat, lompat ke udara, menabrakkan tubuhnya ke kepala ular besar.

BUM!

Ular itu juga tidak sempat menghindar, tubuhnya ikut terbanting dua meter.

Pak Tua nyaris bertepuk-tangan melihatnya. Tinjunya teracung, memberi semangat. Dia tahu, N-ou dan Si Putih telah mengaktifkan level berikutnya. Kekuatan baru, anak muda itu bisa melakukan teleportasi sekarang. Pengendali Hewan 6 gorila juga berseru

melihatnya. Mereka tidak menyangka jika anak muda itu masih bisa melawan, bahkan menjatuhkan Panglima Perang dan ular besarnya. Mereka hendak merangsek maju, ikut bertarung.

"Menyingkir dari area pertarungan !" Jenderal Uh-lhar berteriak marah, bangkit dari posisinya. Wajahnya galak.

Membuat langkah Pengendali Hewan 6 gorila terhenti.

"Ssssttt." Ular besar kembali meluncur di samping Panglima. Sisiknya kuat sekali, pukulan berdentum dari Si Putih tidak banyak menyakitinya.

"lni menarik, anak muda. ltu bonding Level Empat, bukan?" Jenderal Uh-lhar menatap N-ou dibalik kepul debu.

N-ou tidak menjawab, kaki-kakinya memasang kuda-kuda. Si Putih telah bersiaga, ekornya teracung tinggi. Tubuh

kucing itu bertambah besar satu setengah kali, sebetis N-ou. Ekornya bercahaya. Telinganya runcing ke atas. Mata kuningnya menatap tajam.

"Tapi kamu jangan senang dulu. ltu tetap bukan level setara denganku. Baiklah. Mari kita bertarung dengan kekuatan penuh, anak muda." Jenderal Uh-lhar mengepalkan tinjunya. Bersiul. Dia mengaktifkan bonding level berikutnya.

"Ssssttt." Ular besar di sampingnya mendesis. Tubuh ular itu bergetar hebat, sisik-sisik berwarna pualam itu berubah menjadi gelap. Ekornya bergerak-gerak, di ujung ekornya tumbuh tombak tajam terbuat dari logam berwarna hitam. Ular besar itu telah bertransformasi.

N-ou menelan ludah. Apakah itu Level Empat juga?

Belum sempat N-ou memikirkan jawabannya. Jenderal Uh-lhar telah melesat maju. Splash. Tubuhnya menghilang, untuk splash, muncul di depan N-ou, tangannya terangkat. Panglima Perang itu juga bisa melakukan teleportasi sekarang.

BUM!

N-ou masih sempat membuat tameng transparan.

Splash, tubuh Jenderal Uh-lhar hilang lagi, splash, muncul di belakang. Mengirim pukulan berdentum berikutnya, N-ou bergegas menghindar. BUM! Mengenai udara kosong.

Splash, splash. N-ou mengatupkan rahangnya, cepat sekali teleportasi yang dilakukan oleh Jenderal Uh-lhar, dia mati­ matian bertahan, sambil berusaha melepas serangan balik.

Sementara Si Putih telah terlibat pertarungan sengit dengan ular besar. Tubuh kucing itu lompat kesana-kemari menghindari tombak runcing di ekor ular. BLAR! BLAR! Setiap kali tombak itu menghantam pualam, suara memekakkan telinga terdengar, lantai hancur lebur. Si Putih balas menyerang dengan mencakar ular, tapi itu sia-sia, sisik-sisik gelapnya keras tak bisa ditembus. Juga dengan sambaran ekornya, CTAR! CTAR! Tidak mempan.

Cepat sekali situasi berbalik, N-ou kembali terdesak habis-habisan. Dia benar-benar tidak menyadari jika level lawannya lebih tinggi. Jenderal Uh-lhar telah mengaktifkan bonding Level 5. Hanya hitungan jari petarung Klan Polaris yang memiliki level tersebut.

BUM!

Tubuh N-ou terbanting lagi.

BUM! BUM!

Tangannya yang membuat tameng transparan bergetar hebat. Kesemutan.

Splash, splash, tubuh Jenderal Uh-lhar menghilang, lantas muncul di samping kanannya, tangannya terangkat. N-ou bergegas melindungi dirinya dengan tameng. Splash, splash, sial itu gerakan tipuan, Jendera Uh-lhar telah berpindah posisi lagi, muncul di belakangnya. Kali ini N-ou terlambat memberikan respon.

BUM!

Pukulan berdentum itu telak menghantam punggungnya, membuatnya terpelanting dua meter, tersungkur di lantai pualam.

Splash, splash, Jenderal Uh-lhar muncul di hadapannya.

"Berdiri, anak muda." Jenderal Uh-lhar berseru galak, dia sejenak menahan serangan.

N-ou terbatuk, menyeka mulutnya yang berdarah. Berusaha bangkit.

"Mana teleportasimu tadi, hah?" Jenderal Uh-lhar menarik kerah baju N­ ou, mengangkat tubuh anak muda itu ke udara, "Oh? Bahkan sekarang kamu kesulitan bernafas?"

N-ou tersengal.

"Kamu bukan lawanku, anak muda. Gerakan teleportasimu masih lambat, pukulanmu masih lembek, dan tameng transparanmu, masih rapuh. Kamu tidak akan pernah mencapai level kekuatanku."

Sementara dua belas meter dari mereka, nasib Si Putih sama buruknya. Setelah berkali-kali berhasil menghindari tombak

runcing di ekor ular besar itu, di serangan kesekian, Si Putih terlambat berkelit. Tombak hitam itu meluncur deras di antara kepul debu.

JLEB!

"Meooong!" Si Putih mengeong kencang, tombak itu menembus paha kaki belakangnya. Mengerikan melihatnya. Darah segar mengucur deras, paha kucing itu terluka parah.

"Sssstttt." Ular besar itu tidak menahan serangan, dengan buas dia menarik lagi tombak itu ke udara, kemudian menghantamkannya lagi.

JLEB!

Si Putih tidak sempat menghindar lagi. Tombak itu telak menembus paha kaki belakang satunya.

"Meoooong." Si Putih mengeong kesakitan, berusaha lompat menjauh, tapi dengan dua kaki yang terluka, gerakannya oleng, dia tersungkur, bulu putihnya digenangi darah dan debu.

Ular besar itu mengejar, siap menghabisi-

"Jenderal Uh-lhar, aku mohon."

Pak Tua menarik tuas kemudi, kursi rodanya maju. Berseru dengan suara bergetar.

Jenderal Uh-lhar menoleh. Gerakan ular besar itu juga terhenti.

"Aku mohon, Jenderal." Pak Tua nekad memasuki area pertarungan. Dua telapak tangannya menangkup, membungkuk di atas kursi roda.

"Apa maksudmu, hah?" Jenderal Uh-lhar membentak. Dia masih memegang kerah

baju N-ou, membuat N-ou tersengal, kesulitan bernafas.

"Dia masih belia. Tujuh belas tahun. Berikan dia kesempatan. Aku mohon."

Jenderal Uh-lhar mendengus. Anak muda ini tidak tahu sopan-santun, tidak menghargai tradisi Pengendali Hewan. Anak muda ini tidak pantas diberi ampunan. Tapi sudut matanya melihat Si Putih yang meringkuk sekarat di atas lantai pualam. Kucing itu terkapar, tidak bergerak, dua kaki belakangnya terluka parah.

Demi melihat Si Putih, Jenderal Uh-lhar tertawa sinis.

Tamat sudah. Riwayat Pengendali Hewan muda ini sudah berakhir. Kucingnya jelas tidak bisa diselamatkan. Tidak ada hewan yang bisa sembuh dari Iuka tombak runcing milik ularnya. Tombak itu

beracun, sangat mematikan. Kucing itu hanya memiliki waktu setengah jam, sebelum racun itu membakar sel-sel tubuhnya dari dalam.

"Aku mohon, Jenderal Uh-lhar. Kasihani nyawa anak muda itu. Dia telah kalah, biarkan dia pergi dengan kekalahan ini." Pak Tua kembali berseru.

Jenderal Uh-lhar medengus sekali lagi. Tapi kalimat orang tua ini benar. Tidak ada gunanya juga membunuh anak muda ini. Tanpa kucingnya, dia hanya petarung biasa, tidak berbahaya. Jenderal Uh-lhar melemparkan tubuh N-ou ke lantai dengan kasar. Berdebum. Debu mengepul lagi.

"Bawa mereka pergi dari sini. Turunkan di tepi seberang danau. Biarkan mereka sekarat di sana." Jenderal Uh-lhar memberi perintah anak buahnya.

Pengendali Hewan 6 gorila mengangguk, segera maju.

Mereka menggotong tubuh N-ou, juga membawa Si Putih.

"Terima kasih, Jenderal Uh-lhar. Sungguh Terima kasih."

"Pergi dari sini. Dan jangan pernah kembali lagi." Jenderal Uh-lhar membentak.

Pak Tua mengangguk. Menarik tuas kemudi, bergegas menyusul rombongan Pengendali Hewan 6 gorila keluar dari aula pertemuan.

Wajah tua itu terlihat sedih. Buruk. lni buruk sekali. Baru beberapa menit lalu mereka ditawari jabatan dan posisi tinggi, sekarang situasi berbalik total, Si Putih sekarat. Petualangan mereka berakhir buruk. Sad ending.

-- Next Chapter--

Bab 24

Setengah jam kemudian.

"Kamu baik-baik saja, anak muda?11 Pak Tua bergegas turun dari kursi roda, mendekati N-ou.

Baru beberapa detik lalu Pengendali Hewan 6 gorila menurunkan mereka di salah-satu sisi danau dengan perahu. Jika menurutkan keinginannya, Pengendali Hewan 6 gorila itu hendak sekalian membuat tamat Riwayat N-ou dan Si Putih. Tapi karena Jenderal Uh-lhar memerintahkan sebaliknya, hanya itu yang bisa mereka lakukan. Perahu mereka kembali ke ibukota.

N-ou mengangguk, tubuhnya sakit semua, seperti remuk, tapi dia baik-baik saja. Daya tahan tubuhnya luar biasa.

Yang dia cemaskan adalah Si Putih. N-ou merangkak mendekatinya.

Lihatlah, kucing ini tergeletak di tanah, tak bergerak sedikit pun. Hanya denyut nafasnya yang menandakan kucing ini masih hidup. Dan matanya yang terbuka redup.

Sekitar mereka gelap. Tidak ada cahaya lampu. Sisi danau tempat mereka sekarang jauh dari dermaga dan gerbang jembatan batu. Mungkin mereka di seberangnya.

"Put, apakah kamu baik-baik saja?" N-ou bertanya dengan suara serak.

"Meooong." Si Putih mengeong lemah.

"Bertahanlah, Put. Kita akan mencari pertolongan." N-ou memegang tubuh Si Putih yang terasa panas. Racun itu mulai bekerja. Tangan N-ou gemetar saat memeriksa Iuka di dua kaki belakangnya.

Besar sekali Iuka itu, tembus, darah segar masih mengalir.

N-ou melepas pakaian warna-warninya, merobeknya, mengikat Iuka itu agar darah berhenti keluar. Pak Tua ikut melepas pakaian luarnya, memberikannya ke N-ou, untuk mengikat Iuka satunya.

"Pak Tua, kita harus kembali ke lapangan parkir. Mengambil Paruh Perak. Kita harus membawa Si Putih ke tabib, dokter, atau apalah."

Pak Tua mengangguk-meski dia tahu itu mustahil. Lapangan parkir itu entah ada di mana, mereka mungkin terpisah puluhan klik. Sekeliling mereka gelap total.

"Ayo, Pak Tua." N-ou telah menggendong Si Putih. Berlarian.

Pak Tua mengangguk lagi, naik ke kursi rodanya.

"Meooong." Si Putih mengeong lemah, kesadarannya mulai habis.

"Tidak, Put. Bertahanlah, kamu akan selamat." N-ou terus berlarian di sisi danau.

Pak Tua menarik tuas kemudi kursi roda, menyusul. lni menyedihkan. Butuh satu­ dua jam menuju lapangan parkir itu, waktu mereka terbatas. Dan bahkan jika mereka tiba di sana, naik benda terbang, kemana mereka akan mencari tabib?

"Meooong." Si Putih sekali lagi mengeong. Dia tidak kuat lagi.

Selamat tinggal, N-ou.

"Tidak, Put." N-ou berseru-panik. "Meooong." Jangan bersedih, N-ou.

"TIDAK, PUT!" N-ou beteriak parau. Dia berlari secepat yang dia bisa. Seperti gila.

"Ayo cepat, Pak Tua. Ayooo, kita harus tiba di lapangan parkir." N-ou berteriak.

Pak Tua menahan nafas. Mengangguk, mempercepat laju kursi rodanya.

"Meooong."

"Jangan bilang itu, aku mohon, Put."

"Meooong." Si Putih mengeong lagi. Amat pelan. Dia telah tiba di ujungnya. Matanya mulai menutup.

Gerakan lari N-ou terhenti. Anak muda usia tujuh belas tahun itu menatap tidak percaya kucing di gendongannya. Dia tersungkur di sisi danau.

"Jangan pergi, Put." Suaranya bergetar.

"Sungguh jangan." N-ou memegang kepala kucing itu. Tetap tidak ada respon

dari Si Putih. Tubuh itu semakin panas, seperti memegang bara api.

"Aku mohon.... Aku harus bersama siapa jika kamu pergi, Put? Siapa yang akan menemaniku berpetualang? Siapa yang akan menemaniku bermain-main. Kejar­ kejaran. Berguling. Bergulat. Pak Tua, dia tidak suka melakukan itu. Jangan pergi, Put."

Tidak ada jawaban. Hanya lengang.

N-ou terduduk, dia berteriak ke langit gelap.

Pak Tua menunduk, ikut menyeka ujung matanya. lni sangat menyedihkan sekaligus menyebalkan. lni juga salahnya. Seharusnya dia mencegah N-ou pergi ke ibukota E-sok. Seharusnya mereka tetap saja di padang rumput dengan banteng­ banteng itu.

Denyut nafas di tubuh Si Kucing nyaris tak bersisa lagi.

N-ou berteriak sekali lagi. Merobek langit malam.

Saat itulah, dari atas langit, terlihat dua bola api mendekat.

Cepat sekali bola api itu melesat.

Beberapa detik, di saat yang sangat genting.

Splash!

Splash!

Dua bola api itu telah mendarat di samping mereka.

***

Dua burung Phoenix.

Dua penunggangnya berlompatan turun.

"BERGEGAS!" Salah-satu dari penunggangnya berseru.

"ljinkan kami memeriksanya." Yang lain merangsek mendekat. Tidak menunggu jawaban N-ou ataupun Pak Tua, tangannya langsung memegang Si Putih. Memeriksanya dengan cepat.

Splash. Penunggang phoenix itu membuat gelembung transparan di sekitar Si Putih. Membuat kucing itu terbungkus sempurna, menyisakan lubang kecil di moncong untuk bernafas. Splash. Rekan satunya melapisi lagi gelembung transparan itu.

"Kucing ini masih bisa diselamatkan, anak muda. Kami telah menahan efek racunnya. Gelembung ini akan memberikan waktu empat jam dari sekarang."

N-ou menelan ludah, dia menatap dua penunggang Phoenix.

"lkutlah bersama kami, anak muda. Kita harus menemui tabib paling hebat di Klan Polaris. Semoga kita berhasil menemukannya, semoga dia bersedia menyembuhkan kucing ini. Karena hanya kucing ini satu-satunya harapan kita sekarang."

N-ou mendongak, masih menatap dua penunggang Phoenix tersebut.

Dua penunggang Phoenix itu perempuan. Tinggi, kurus. Rambutnya putih, wajah keriput-tapi wajah itu terlihat ramah dan lembut. Usianya mungkin ratusan tahun atau lebih. Mengenakan jubah berwarna merah. Senada dengan bulu burung Phoenix. Ekor burung itu terlihat menyala, menerangi sisi danau. ltulah bola api yang terlihat di langit tadi.

"Ayo, anak muda. Jangan membuang waktu." Salah-satu penunggang Phoenix menjulurkan tangan, tersenyum.

Rekannya mengangguk.

N-ou masih mencerna semua kejadian.

"Apakah, apakah," N-ou menelan ludah, "Si Putih masih bisa diselamatkan?"

"lya. Jika kita berhasil menemukan tabib hebat itu."

"Dimana tabib itu?"

"Hutan Lengang. Tabib itu penguasa hutan tersebut. Burung phoenix bisa terbang cepat ke sana, dua jam perjalanan. Semoga dua jam sisanya masih cukup untuk menemukan dan membujuk tabib itu."

Sekali lagi N-ou menatap penunggang burung Phoenix. Apakah itu benar? Penunggang itu tersenyum membesarkan hati, mengangguk mantap.

"Ayo, anak muda." Kali ini Pak Tua yang berseru, "Jangan buang waktu lagi, kita ikut dengan mereka."

N-ou mengangguk, dia berdiri cepat, sambil menyeka pipinya. Si Putih masih bisa diselamatkan, itu kabar baik, wajahnya kembali semangat. Menggendong Si Putih erat-erat. Dia tidak mengenal siapa dua penunggang Phoenix ini, tapi mereka sepertinya tidak berniat jahat.

Dua penunggang Phoenix lompat ke punggung burung-burungnya. N-ou yang memeluk Si Putih ikut menaiki burung, sementara Pak Tua ikut di burung lainnya. Kursi roda itu dicengkeram kaki salah­ satu burung.

Penunggang Phoenix bersiul.

Burung api itu melesat kembali ke udara. Cepat sekali gerakannya. Empat kali lebih

cepat dibanding benda terbang Paruh Perak, menembus langit gelap.

Berkejaran dengan waktu.

***

"Siapakah kalian?" N-ou bertanya.

Burung Phoenix sudah satu jam meninggalkan Gunung Timur, melintasi padang rumput yang gelap. Dua bulan sabit tergantung di atas sana. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh N-ou selain memeluk erat-erat Si Putih. Dia duduk di belakang punggung burung. Cukup nyaman. Sekitar mereka tidak dingin meski angin malam menerpa kencang, bola api di ekor burung memberikan udara hangat. Dengan bercakap-cakap mungkin bisa mengusir sedikit cemas di hati.

"Kami penunggang Phoenix, anak muda." Jawab perempuan tua di depan-itu

bukan jawaban ketus khas Pak Tua. ltu jawaban dengan intonasi suara penuh penghargaan.

"Maksudku, bukankah kalian berempat." N-ou menambahkan.

"lya. Kami awalnya berempat. Sekarang tinggal berdua. Yang lain telah gugur."

N-ou menelan ludah, "Apakah itu karena pertarungan dengan naga di hutan berakbut?"

Penunggang burung Phoenix menoleh, tersenyum sambil mengangguk. Senyum itu tidak sedih, melainkan senyum bangga.

"Aku melihat pertarungan itu. Hebat sekali."

"Oh ya?"

"Aku minta maaf telah bertanya tentang itu."

"Kamu tidak perlu minta maaf. Dua rekanku gugur membela keyakinan yang mereka pegang. Sama seperti yang kamu lakukan di aula pertemuan itu. Seorang anak muda usia tujuh belas tahun, demi membela prinsip yang dia yakini, berani bertarung melawan Panglima Perang. Kamu tahu berapa usianya?"

N-ou menggeleng. "Empat ratus tahun." Mata N-ou membesar.

"Yeah. Petarung-petarung hebat lazim berumur panjang. ltu tidak mengherankan. Uh-lhar telah melatih bonding-nya ratusan tahun. Level Lima. Hanya Raja Gunung Timur yang bisa menga lahkannya."

"Apakah, eh, apakah Naga itu hewan milik Raja Gunung Timur?"

"Yeah."

"Kenapa kalian bertarung? Bukankah kalian adalah teman dekat dengan Raja?"

Perempuan tua itu diam sejenak, matanya menatap kejauhan.

"Kami bertarung karena kami tahu apa yang telah dia lakukan." Menghela nafas perlahan, "Dan itu melanggar keyakinan yang kami pegang teguh."

N-ou terdiam. Apa maksudnya? Tapi kali ini dia menunggu perempuan tua di depan bercerita sendiri, tidak mendesak.

"Kami berempat bertugas memastikan keseimbangan alam terjaga. Raja mengurus kekuasaan, politik, ekonomi, dan semuanya, termasuk mengatur para Pengendali Hewan. Kami berempat menjaga keseimbangan alam. ltu benar, kami teman dekat. Sejak ibukota mulai dipindahkan ke perut Gunung Timur,

kami bahu-membahu membangun peradaban baru yang megah. Raja, Jenderal Uh-lhar, dan kami berempat adalah teman tak terpisahkan. Selalu kompak."

"Raja adalah Pengendali Hewan yang kuat, berwawasan luas, dengan visi jauh ke depan. Uh-lhar adalah ujung tombak kekuasannya, yang memastikan semuanya terlaksana dengan baik. Raja menyatukan semua suku, membentuk kekuasaan yang besar. Dulu kami berempat sangat menghormati visinya, cita-citanya. Hingga lima tahun lalu."

Penunggang burung Phoenix diam lagi sejenak.

"Aku tahu kamu bisa menebaknya, lima tahun lalu, itu terjadi Ketika wabah penyakit menyebar di Klan Polaris. ltu peristiwa wabah penyakit yang kesekian kalinya, tapi ada yang ganjil. Seluruh

penduduk ibukota E-sok selamat. Tidak satupun korban jatuh. Padahal di pemukiman lain, di suku-suku lain, ribuan penduduk tewas. Juga di kota-kota modern itu, jutaan yang tewas. Kami mengunjunginya, menyaksikan lokasi pemakaman massal dengan luas sepuluh klik, tempat robot-robot meletakkan tubuh-tubuh korban."

"Seharusnya itu kabar baik. lbukota E-sok tak tersentuh wabah penaykit. Tapi salah­ satu dari kami memiliki dugaan, kecurigaan. Bahwa wabah penyakit kali itu bukanlah mutasi alamiah virus. Adalah tugas kami menjaga keseimbangan, kami bertugas menyelidikinya. Kami menanyai semua penjaga gerbang jembatan batu, dan menemukan informasi penting. Di hari pandemi itu meletus, ada dua rombongan yang menunjukkan gejala penyakit melintasi gerbang. Penjaga tidak

sempat mencegahnya, dan rombongan itu terlanjur masuk ibukota.

"ltu cukup untuk menghabisi seluruh kota. Tapi apa yang terjadi? Tidak ada satupun penduduk ibukota yang tertular. Seluruh rombongan itu ditemukan tewas di penginapan, pengawal lstana diam­ diam membawa pergi tubuh mereka. Tanpa keributan, tanpa laporan ke meja kerja kami. Padahal jelas sekali, setiap kematian misterius harus dilaporkan.

"Kami berempat menemui Raja, mendesaknya terbuka. Dia menolak mentah-mentah, bilang tidak tahu­ menahu tentang itu. Kami mengenal Raja sejak dia masih remaja, kamilah yang membantunya berpetualang, memahami kekuatan itu. Kami tahu tabiatnya, dia tidak pernah berbohong. Tapi hari itu, dia telah berbohong. Raja mengetahui wabah penyakit itu. Bahkan boleh jadi,

dialah yang diam-diam menyebarkan virus itu."

N-ou yang sedang memeluk erat-erat Si Putih di punggung belakang burung Phoenik terdiam. Astaga? Apakah tuduhan itu benar?

"Sayangnya kami tidak memiliki buktinya. Penyelidikan kami terhenti. Lima tahun yang sangat menjengkelkan, karena kami yakin sekali. Ratusan tahun kami tidak peduli tentang kekuasaan mutlak para Pengendali Hewan. Kami membiarkan Raja dengan ujung tombaknya Uh-lhar dan pasukannya bertindak arogan, sewenang-wenang. Tapi yang satu ini, itu melewati batasnya, dia sengaja merusak keseimbangan seluruh alam liar."

"Tapi kenapa Raja Gunung Timur melakukannya?"

Perempuan tua yang duduk di depan diam sejenak. Matanya menatap lurus kegelapan malam. Burung Phoenix terus terbang dengan kecepatan tinggi menembus langit gelap.

"Karena dendam." Perempuan tua itu akhirnya menjawab.

"Dendam?"

"Yeah. Karena Raja Gunung Timur sama persis sepertimu, Nak. Dia berasal dari kota-kota modern. Empat ratus tahun lalu, saat wabah penyakit terjadi, dia terpisah dengan Ayah dan lbu-nya. Seorang anak usia Sembilan tahun tertinggal di kota itu. Menangis. Sendirian. Ketakutan. Kami berempat masih muda waktu itu, terbang melintasi kota-kota, memeriksa, dan menemukan anak itu. Saat menatap wajahnya, kami tahu anak itu memiliki kekuatan, kami menolongnya, mendidiknya.

"Anak itu tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Dia mulai berpetualang, mengelilingi penjuru Kawasan Timur. Tapi diam-diam, ternyata dia memiliki mimpi untuk kembali bertemu Ayah dan lbu­ nya. Dia ingin melewati dinding transparan setebal seratus meter itu. Dia mulai mencari hewan yang hebat, menemukan Naga itu, melakukan bonding. Sayangnya, Naga itu tidak cukup kuat melewati dinding. Setinggi apapun terbang, sekuat apapun apinya menyambar, dinding itu bergeming."

"Ratusan tahun berlalu, dia seolah mulai melupakan kejadian tersebut. Hingga pandemi terjadi lagi. Siklus yang sama. Penduduk kota modern di sisi Barat, pindah ke sisi Timur. Tapi apa yang diharapkan oleh anak muda itu? Saat penduduk kembali memenuhi kota modern sisi Timur, jangankan Ayah dan

lbunya masih hidup, bahkan catatan sejarah tentang mereka telah terlupakan. Usia penduduk biasa hanya puluhan tahun.

"Anak mud aitu menyimpan kesumat di hatinya. Dia mulai membangun kerajaan besar, menaklukkan banyak Pengendali Hewan lain, agar tunduk di bawah kekuasaannya. Kami tentu mendukungnya, karena itu memastikan seluruh penduduk Kawasan timur bersatu. Tidak masalah jika harus dibayar dengan sedikit arogansi Pengendali Hewan. lbukota E-Sok berdiri megah. Seharusnya kami semua bisa hidup dengan damai, tapi dia, tetap menyimpan kebencian. Dia menuduh ilmuwan, penguasa kota-kota modern-lah yang menyebarkan virus itu. Membuat dia terpisah dengan orang-tuanya. Maka sebagai balasan, diam-diam dia

menyebarkan virus yang sama lima tahun lalu.

"Wabah penyakit meletus kembali. Kali ini, bukan karena siklus normal. Kota-kota modern terpaksa mengevakuasi penduduknya ke sisi Barat. ltu sangat menyedihkan. Bahkan kalaupun itu adalah mutasi alamiah, tetap saja menyedihkan melihat korban awabah penyakit berjatuhan. Apalagi jika itu disengaja. Raja Gunung Timur telah melanggar keyakinan kami. Dia merusak keseimbangan alam. Kami akhirnya menantangnya. Tradisi panjang Pengendali Hewan. Jika dia kalah, maka dia harus mengakui semuanya.

"Pertarungan terjadi di hutan berkabut. Tetapi anak muda itu telah tumbuh menjadi Pengendali Hewan paling hebat. Dia memiliki bonding Level Enam. Hanya dia yang memilikinya. Kami berempat

Level Lima, sama dengan Uh-lhar. Meski kami mengeroyoknya, kami tetap kalah. Dua diantara kami tewas bersama burung Phoenixnya di hutan berkabut tersebut."

Penunggang burung Phoenix menghela nafas perlahan.

N-ou terdiam, menelan ludah. ltu sangat menyedihkan. Menatap Si Putih di pangkuannya. Dia tahu rasanya cemas, takut kehilangan hewan-hewan itu. Dia baru lima tahun bersama Si Putih. Para penunggang burung Phoenix ini sudah ratusan tahun bersama, itu membuat hati hancur lebur.

"Maaf jika aku membuat pertarungan itu disebut lagi."

"Tidak masalah, anak muda." Perempuan tua itu menoleh, tersenyum, "Dua temanku gugur karena membela keyakinan. Mereka gugur dengan

terhormat. Selalu membanggakan saat melihat Pengendali Hewan berdiri tegak dengan keyakinan tersebut. Seperti dirimu, anak muda. Berdiri gagah melawan  flamingo, berdiri tegak melawan Uh-lhar."

N-ou menunduk. Dia hanyalah Pengendali Hewan yang lemah.

Perempuan tua itu menggeleng.

Tidak, anak muda. Kamulah satu­ satunya kesempatan bagi kita semua. Kucing ini adalah jawaban besarnya. Kami terlambat menyadarinya, seharusnya saat berita itu terbetik, bahwa ada anak muda berani membela pelayan sebuah rumah makan, kami bergegas meluncur menemuimu. Tapi kami masih banyak termangu tiada guna. Hingga akhirnya kabar pertemuan dia aula itu sampai, kami bergegas menuju ibukota, mengambil resiko besar jika Raja Gunung

Timur muncul, dia bisa menghabisi kami. Kami terlambat, pertarungan itu telah selesai, tiba di sisi danau itu, menemukan kalian."

"Kita harus menyelamatkan kucing itu. Sekali hewan itu berhasil disembuhkan, sisanya biarlah mengalir bagai aliran air sungai. Kamu memiliki kekuatan itu, anak muda. Kucing ini juga bukan hewan sembarangan, dia adalah spesies kucing purba. Hanya ada satu setiap belasan ribu tahun. Jadi jangan bersedih hati lagi, jangan gentar, jangan takut. Kami akan membantumu."

N-ou mengangkat kepalanya.

Menatap wajah lembut perempuan tua di depannya.

Mengangguk.

"Wahai, itu anggukan yang kutunggu­ tunggu." Perempuan tua itu balas

tersenyum, "Bersiaplah, kita telah tiba di Hutan Lengang."

N-ou menjulurkan kepala, melihat ke depan.

Seketika dia berseru tertahan.

Hutan Lengang itu ternyata adalah hutan yang pernah mereka lewati.

Dua burung Phoenix mendarat di pinggir hutan itu. Penunggangnya berlompatan gesit, membawa N-ou, Si Putih dan Pak Tua turun. Kursi roda diletakkan di atas tanah.

11Tabib hebat itu ada di tengah hutan ini, tapi kita tidak bisa mendarat di sana. Malam hari, sangat beresiko terbang di

atasnya. pengelana arah."

Hutan m1 bisa membuat berputar-putar kehilangan

N-ou menelan ludah. Dia tahu maksudnya.

11 Kit a harus berjalan kaki menembusnya. Kalian siap?"

N-ou memeluk Si Putih erat-erat. Pak Tua sudah naik ke kursi rodanya.

Salah-satu penunggang Phoenix menatap ekspresi wajah N-ou.

"Kalian pernah masuk ke hutan ini?" N-ou mengangguk.

"Wahai!11 Penunggang burung Phoenix itu berseru, "Kalian bertemu dengan sulur­ sulur tumbuhan merambat itu?"

Tentu saja. N-ou mengangguk lagi. Sementara wajah Pak Tua yang baru tahu itu hutan menyebalkan tersebut terlihat tegang-dia masih ingat 36 jam menggelantung di dahan pohon. Tapi Pak Tua kehilangan selera untuk cerewet, sejak tadi dia fokus, mereka harus menyelamatkan Si Putih.

"Tenang saja, aku membawa ini.11 Penunggang Phoenix mengeluarkan

benda kecil yang saat digerakkan terdengar gemerincing kencang. Jangankan sulur-sulur tumbuhan itu, bahkan manusia saja terganggu mendengarnya.

"Baik, jangan buang waktu lagi, kita harus segera mencari tabib."

Dua penunggang Phoenix telah melangkah memasuki Hutan Lengang.

Tidak butuh waktu lama, baru sepuluh langkah, sulur-sulur tumbuhan rambat itu telah bermunculan. Berbisik-bisik, mendesis.

'Lihat, Bro, ada yang masuk hutan ini lagi.'

'Asyiiik, kita bisa taruhan lagi.' 'Panggil yang lain.'

Cepat sekali, di sekitar mereka telah dipenuhi lautan sulur-sulur tumbuhan merambat. Desisan semakin ramai.

'Eh, bukankah itu yang beberapa hari lalu kita gantung'

'Eh iya, benar. /tu anak muda yang bisa bicara dengan kita, juga Pak Tua yang menyebalkan, dan kucingnya.'

'/tu kucingnya kenapa? Terluka?'

'Bodo amat, Bro, yang penting masih bisa kita gantung.'

'Mari kita tangkap mereka.' 'Hayuuuk.'

Persis sulur-sulur itu mendekat, penunggang Phoenix menggerakkan benda kecil di tangannya. Gemerincing itu terdengar nyaring.

'Aaahhh, berisiiik!'

'Siapa nenek tua ini?'

'Tidak tahu. Topi dia membawa a/at pengusir.'

'Dasar menyebalkan.'

'Aaaah, mataku berkunang-kunang.'

Ribuan sulur-sulur itu berhenti mendekat, sibuk sendiri.

Penunggang Phoenix terus maju memimpin menembus hutan lebat. N-ou dan Pak Tua mengikuti dari belakang.

Lima klik terlewati dengan cepat. Setiap kali sulur-sulur itu mendekat, benda kecil itu digerakkan, mengusir mereka. Tapi sulur-sulur ini keras kepala, mereka tetap saja berusaha menjerat rombongan. Tidak peduli seberapa sering mereka kacau balau berlarian menjauh, tetap akan kembali lagi dengan semangat.

Sepuluh klik terlewati lagi. Sudah setengah jam. Waktu mereka semakin sempit. N-ou berkali-kali sejak tadi memeriksa kondisi si Putih. Kucing itu nyaris tidak lagi menunjukkan gerakan bernafas. Tubuhnya semakin panas.

'Nenek tua ini kenapa sih? Dikit-dikit berisik.'

'/ya, nggak asyik.' 'Bagaimana ini dong?'

'Pokoknya tetap berusaha, okeh.' 'Ayo kita serbu /agi.'

Sulur-sulur itu bermunculan dari kanan, kiri, atas, bawah, depan belakang, siap menyambar kaki-kaki rombongan. Penunggang Phoenix mengerakkan benda kecilnya. Gemerincing.

'Wooi, berisiiik!'

'Aduuuh, JANGAN BER/SIK!'

'KAMU JUGA BERISIK!'

'Woooi, mataku berputar-putar, ini.'

Tiga puluh klik lagi terlewati. Mereka berjalan tanpa henti.

"Apakah pusat hutan itu masih jauh?" Pak Tua bertanya.

"Kita sudah sejak tadi berada di pusat hutan." Jawab salah-satu penunggang Phoenix.

"Sudah di pusat hutan? Tapi dimana tabib hebat itu?"

"Kita harus mencarinya. Dan semoga masih ada waktu."

Pak Tua menelan ludah. Sudah satu setengah jam mereka berjalan kaki di dalam hutan lebat. Bagaimana jika mereka tidak berhasil menemukan tabib itu? Hanya tersisa setengah jam lagi. N-ou

memeluk Si Putih erat-erat, terus berbisik, 'Bertahanlah, Put.'

Mereka kembali maju.

Wajah penunggang Phoenix semakin tegang. Mereka juga tahu waktu mereka semakin sempit. Tapi menemukan tabib itu tidak mudah. Sejatinya, bahkan berhari-hari mencari tidak ada jaminan berhasil ditemukan, hutan lengang ini penuh lapisan misteri.

'lni kacau, Bro. Kita gaga/ melu/u.'

'Tidak apa, mari kita coba sekali Jagi. Jangan nyerah gitu, dong.'

'/ya, m, baka/ seru, kita bisa menggantung lima taruhan. Seru, kan ?'

'Benar, itu baka/ seru. Aku akan bertaruh untuk nenek-nenek ngeselin itu.'

'/ya, iya. Siap-siap serang.'

Sulur-sulur tumbuhan rambat itu maju lagi. Persis ujung tumbuhan itu hendak menyambar mereka, penunggang Phoenix kembali menggerakkan benda kecil bergemerincing.

'Aduuh, berisik.'

'Tolooong, kepa/aku hendak pecah.' 'Diam, JANGAN BERISIK!'

'KAMU JUGA BER/SIK! DIAAM!'

'Heh, itu anak siapa yang menangis ?'

'Tahu, sudah berisik, ditambah pu/a suara tangis. Stress ini!'

'Aduh, suruh anaknya diam, dong.'

'Maaf, maaf, tapi gemerincing itu membuat anakku menangis. Lihat, ke/uar cairan dari tubuhnya. Tolong, anakku tidak tahan /agi. Dia bisa mati-'

Langkah kaki N-ou terhenti. Membuat Pak Tua, dan penunggang Phoenix juga berhenti. 'Ada apa?' Salah-satu dari mereka bertanya.

N-ou menelan ludah.

"Bisakah suara benda gemerincing itu dihentikan?"

"ltu sangat berbahaya. Sekali benda ini berhenti berbunyi, sulur-sulur itu bisa menangkap kita."

"Aku mohon, hentikan. Atau nanti anak sulur-sulur tumbuhan merambat ini bisa mati."

Penunggang Phoenix menatap N-ou heran. Apa maksudnya? Anak sulur?

"Aku bisa memahami desisan tumbuhan itu. Mereka barusaja bicara tentang salah-satu anak mereka menangis karena

suara gemerincing. Anak itu tidak tahan lagi, bisa mati."

"Astaga?" Salah-satu Phoenix berseru.

penunggang

"Kamu bisa bicara bahasa tumbuhan?" Rekannya bertanya.

N-ou mengangguk, "Tolong hentikan."

"Tapi itu berbahaya, anak muda. Sulur­ sulur itu akan menangkap kita. Dan waktu kita semakin sempit. Tinggal lima menit lagi, tabib itu harus ditemukan. Ayo bergerak maju. Atau kucingmu tidak bisa diselamatkan."

N-ou menunduk, memeluk erat-erat Si Putih, menatap wajah Si Putih.

"Aku tahu. Tapi aku tidak akan menyakiti tumbuhan, hewan, atau apapun lainnya lagi. Cukup." N-ou berkata serak, matanya berkaca-kaca.

Penunggang Phoenix termangu. Apa maksudnya?

"Semua ini, cukup. Aku tidak ingin apapun lagi. Sungguh, aku juga sama dengan Raja Gunung Timur itu. Aku bertahun-tahun terus mencari cara melewati dinding transparan itu. Si Putih, dia akan baik-baik saja jika aku berhenti sejak lama. Kami bisa meneruskan hidup dengan damai. Bermain Bersama. Tertawa Bersama. Bukan malah melihatnya sekarat. Aku seharusnya berhenti.... Bukan malah senang dengan semua kekuatan itu. Berharap kekuatan itu akan membantuku menembus dinding. Aku juga sama jahatnya." N-ou menangis.

Hutan itu lengang seketika.

Gerakan tangan Penunggang Burung Phoenix terhenti. Gemerincing itu padam.

Pak Tua menahan nafas.

'Wah, suaranya berhenti.' Sulur tumbuhan itu mendesis-desis.

'/ya, suara menyebalkan itu berhenti.' 'Asyik. Mari kita tangkap sekarang.' 'Ayo, ayo!'

N-ou beranjak menurunkan Si Putih. Meletakkannya di atas rerumputan. Dia tidak peduli lagi dengan desis sulur-sulur itu. Dia hendak melepas kepergian Si Putih dengan baik.

"Maafkan aku, Put. Sungguh maafkan." N-ou berbisik pelan di telinga kucing itu, "Aku membalas semua persahabatanmu dengan ambisi itu. Aku paham sekarang. Ada yang juga penting dibanding berkumpul lagi dengan Ayah dan lbu-ku. Hewan. Tumbuhan. Mereka juga penting. Dunia ini tidak semata-mata tentang

manusia. Aku minta maaf, Put. Sungguh minta maaf."

N-ou berdiri, menyeka matanya. Menoleh ke penunggang Phoenix.

"Pergilah. Aku akan menemani Si Putih hingga detik terakhir. Kalian bisa keluar dari hutan ini. Pak Tua, pergilah, aku mohon."

Dua penuggang Burung Phoenix terdiam.

'Serbu!!'

'Serbuuu!!'

Ribuan sulur-sulur tumbuhan rambat itu telah meluncur, siap menjerat tubuh­ tubuh di dasar hutan. Mereka tidak peduli, mereka akan punya obyek taruhan yang seru. Penunggang Phoenix juga tidak sempat mengerakkan benda kecil itu. Masih termangu menyaksikan kejadian di depannya. ltu di luar

dugaannya. Anak muda ini, memiliki pemahaman yang benar-benar berbeda.

Desisan sulur-sulur semakin dekat. Ujung-ujung tumbuhan rambat itu bermunculan dari setiap jengkal hutan.

Tapi persis sulur-sulur menyentuh tubuh­ tubuh itu, seekor burung Merak terbang turun di hadapan mereka. lndah sekali burung itu. Bulu-bulunya berwarna keemasan, bercahaya membuat terang sekitar, ekornya terkembang lebar. Aroma wangi yang susah dijelaskan dengan kata-kata tercium.

"Hentikan, wahai!" Burung merak itu mendesis.

Gerakan ribuan sulur itu seketika berhenti.

Tabib hebat itu telah muncul.

Penguasa Hutan Lengang itu telah datang. Dia memang tidak pernah bisa ditemukan. Dialah yang menemukan. Sejak tadi dia memperhatikan dalam lengang, menyimak dalam gelap. Kalimat­ kalimat terakhir dari N-ou mengetuk hatinya. Anak muda ini istimewa. Kucing putih itu berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Burung merak itulah yang dicari oleh dua penunggan Phoenix sejak tadi.

***

"Kucing itu terkena racun ular mematikan." Burung merak mendesis, bicara dalam bahasa hewan-yang dimengerti oleh N-ou, "Kalian cari tumbuhan yang kubutuhkan."

Sulur-sulur mengangguk. Tumbuhan rambat itu patuh dengan penguasa Hutan Lengang. Satu-satunya hewan yang

mereka tidak berani menggantungnya. Karena dulu, Burung Merak inilah yang menyelamatkan spesies mereka saat hutan terbakar hebat.

Sulur-sulur itu melesat cepat, hilang dari pandangan.

Burung merak melangkah mendekati Si Putih. Paruhnya mematuk gelembung tipis. Tess! Dua lapis gelembung itu pecah.

Ekornya kembali terkembang, kakinya menyentuh kaki belakang Si Putih.

ltu Teknik Penyembuhan yang hebat. Kalian mungkin pernah mendengarnya, bukan? Bahwa sedikit sekali petarung dunia paralel yang mewarisi kode genetik teknik langka tersebut. Apalagi seeker hewan, itu sukar dipercaya. Tapi burung Merak itu memiliknya. Maka sekali cetak biru itu ada di tubuhnya, dia bisa

melakukan Teknik Penyembuhan. Kakinya menyentuh tubuh Si Putih, dia bisa melihat milyaran sel tubuh kucing itu, merasakannya, dan bisa mulai menyulamnya kembali, mengirimkan energi, membantu sel-sel itu menggantikan sel yang rusak dengan yang baru. Cahaya terang menyilaukan mata menyelimuti Si Putih. Kaki burung Merak terus bekerja.

Lima menit, sulur-sulur itu kembali, membawa tumbuhan yang dibutuhkan. Meletakkannya di samping burung Merak.

"Buatkan aku ramuan." Desis Burung Merak.

Sulur-sulur itu bekerja cepat. Menumbuk tumbuhan itu dengan kepala mereka, membuatnya menjadi halus, 'Lumurkan ke lukany!' Lagi-lagi sulur itu bergegas melumurkan ramuan ke kaki Si Putih yang

terluka. Ramuan itu berfungsi menyedot racun keluar. Darah hitam menggumpal kental mulai mengalir, membasahi ramuan obat.

Lima menit lagi berlalu. Burung Merak melipat ekornya. Membalik tubuhnya, menatap N-ou, mendesis. Dia telah selesai.

"Wahai, aku punya kabar baik untukmu, anak manusia muda !"

"Apakah," N-ou meremas jemarinya, "Apakah Si Putih selamat?"

"Demikian, kucing itu akan baik-baik saja. Sebentar lagi siuman."

"Sungguh?" N-ou bergegas mendekat, tangannya gemetar terjulur.

"Dan tidak hanya itu, dia akan pulih dengan kekuatan lebih hebat. Apapun yang tidak bisa membunuhmu, akan

membuatmu semakin kuat. Bonding kalian akan lompat ke level yang lebih tinggi. Kejadian besar selalu bisa mempercepat level itu naik."

"Terima kasih, sungguh terima kasih." N­ au meraih Si Putih yang masih meringkuk dengan mata terpejam. Luka di kakinya hilang tanpa bekas, Burung Merak telah menyulamnya kembali, menumbuhkan bulu-bulu putih itu. Nafasnya kembali teratur. Tubuhnya tidak lagi panas membara. Kucing itu seperti sedang tidur.

"Tapi aku punya kabar buruk untukmu." N-ou menoleh. Kabar buruk?

"Racun itu telah terlanjur masuk ke syaraf-syarafnya. Aku berhasil mengeluarkan sebagian besar, tapi tidak semua bisa dikeluarkan. Sesuatu yang jahat telah meracuni sel-sel syaraf itu. Dengan demikian, ada kemungkinan-

meski itu kecil-kucing itu berubah menjadi jahat."

N-ou menelan ludah.

"Maka pastikan kamu terus bersamanya. Sepanjang dia melakukan bonding dengan manusia yang baik, maka kucing itu akan tetap baik. Tapi jika ikatan unik itu terbentuk dengan manusia yang jahat, aku tidak bisa membayangkan kerusakan yang akan terjadi. Berjanjilah, kamu akan selalu bersamanya."

N-ou mengangguk. Bahkan sebelum dia diminta berjanji, dia telah meniatkan bersungguh-sungguh akan selalu bersama-sama Si Putih sejak lima tahun lalu. Kucing ini yang membantunya saat dia melawan virus pandemi itu.

"Selesaikan apa yang harus kamu selesaikan, anak manusia muda. Kali ini jangan ragu-ragu, jangan cemas. Ketika

kamu memiliki keyakinan yang teguh, hati yang baik, maka segenap dunia akan membantumu. Mereka akan datang menjulurkan tangan, menolong. Klan Polaris membutuhkan petarung sepertimu, tumbuhan, hewan, manusia di dalamnya. Bahkan seluruh dunia paralel membutuhkanmu. Teruslah selalu menjadi petualang yang rendah hati."

N-ou kembali mengangguk.

"Tugasku telah selesai. Kalian bisa pergi dari hutan ini dengan aman setelah kucing itu siuman. Sulur-sulur ini tidak akan mengganggu kalian. Selamat tinggal."

Burung Merak mengembangkan lagi ekornya. Cahaya keemasan itu memancar terang. Sejenak, burung itu telah lompat ke udara, terbang di antara batang­ batang pohon. Menutup kembali ekornya. Cahaya itu padam.

Burung Merak itu telah lenyap. Begitu saja.

***

Setengah jam lengang.

Matahari mulai terbit, semburat merahnya terlihat di langit.

N-ou menunggu Si Putih siuman-dengan tidak sabaran, dia masih memangku kucing itu, tangannya gemetar, lagi-lagi karena tidak sabaran. Menatap kepalanya yang terbaring. Ekor panjangnya yang bergelung. Bulu Si Putih bersih, bahkan terlihat bersinar. Sementara Pak Tua duduk takjim di kursi rodanya, penunggang Phoenix berdiri di sampingnya, ikut menunggu. Sulur-sulur tumbuhan rambat juga berdiam diri. Tidak sibuk mendesis-desis. Hutan itu lengang, sesuai namanya.

Persis cahaya matahari pertama menerobos kanopi pepohonan, tiba di

dasar hutan, menimpa tubuh Si Putih, kucing itu perlahan membuka matanya. Tubuhnya menggeliat.

"PUUUT!" N-ou seketika berseru.

"Wahai-" Penunggang Phoenix berbarengan juga berseru.

Pak Tua mengusap wajahnya. Akhirnya, setelah semua ketegangan beberapa jam terakhir, ini kabar yang sangat baik.

Sulur-sulur tumbuhan rambat ikut mendesis.

'Lihat, lihat, kucing itu bangun.' '/ya, kucing itu selamat.'

'Hebat sekali si Burung Merak, dia berhasil.'

'Yoi, Bro, dia tabib yang hebat.'

"Meong." Si Putih mengeong pelan. Mata kuningnya mengerjap-ngerjap menatap

N-ou. Dia mengenali wajah itu. Wajah manusia yang amat disayanginya. Apa yang terjadi? Bukankah terakhir yang dia ingat, dia bertarung melawan ular besar itu. Kakinya terluka. Si Putih beranjak berdiri, melihat kaki belakangnya. Luka itu sudah sembuh.

"Meong." Si Putih mengeong lagi, lebih kencang. Tubuhnya dengan cepat pulih, tidak terasa sakit lagi. Dia sepertinya tahu apa yang telah terjadi, samar-samar, dia dibawa ke hutan ini, ada tabib yang menyembuhkannya. Dia telah pulih.

"PUUUT!" N-ou telah memeluk Si Putih.

Alangkah senang hati N-ou

"Meong." Si Putih sekarang mengeong seperti biasanya, empat kakinya balas memeluk N-ou. Dia juga senang.

Pelukan yang erat. Mereka berdua sampai bergulingan di dasar hutan.

Tertawa. Mengeong.

Tiba-tiba Si Putih berusaha memiting N­ au.

N-ou tertawa, balas memiting N-ou. Mereka berdua bergulat sekarang. "Meong." Rasakan ini.

"Tidak kena." N-ou tertawa, membalas. "Meong." Rasakan yang ini juga.

"Tidak kena lagi." Mereka berdua bermain-main.

N-ou tertawa, menoleh, "Pak Tua, kemarilah, ikut bermain Bersama kami."

Pak Tua yang duduk di kursi roda menepuk dahinya.

"Ayolah, Pak Tua. lni seru sekali. Main gulat dengan Si Putih."

Penunggang Phoenix menoleh ke Pak Tua. Apa maksudnya? Pak Tua juga suka

ikut bermain gulat? Guling-gulingan di tanah?

"Aku tidak mengenal mereka berdua." Pak Tua menggeleng. Dasar malu-maluin

Mereka kembali bergulingan di dasar hutan, tertawa, mengeong lagi, daun kering, remah tanah, humus, menempel di baju dan bulu mereka, asyik bermain, tidak peduli sekitar, baru terhenti ketika tubuh N-ou tertahan batang pohon, Si Putih berada di atas, pura-pura siap menerkam N-ou.

"Pak Tua, tolooong!" "Kucing ini akan Tolooong."

N-ou berseru, menerkamku.

Pak Tua mendengus. Tidak mau. "Pak Tua, tolooong aku."

"Meong." Tidak asyik. Pak Tua tetap sok gengsi.

N-ou tertawa.

Si Putih lompat turun dari tubuh N-ou. Menyundul-nyundulkan kepalanya ke kaki N-ou yang beranjak duduk di tanah.

N-ou menunduk, dia ikut menyundulkan dahinya ke Si Putih.

Dahi-dahi mereka beradu. "Aku senang sekali, Put." "Meong." Aku juga.

"Terima kasih banyak, Put. Untuk semuanya."

"Meong." Aku juga. N-ou beranjak dudul.

Si Putih lompat, empat kakinya memeluk lehar dan badan N-ou.

N-ou ikut memeluknya. Erat-erat. Seperti tidak akan pernah dilepaskan lagi. Cahaya matahari pagi membasuh tubuh mereka

"lya. ltu indah sekali." Timpal penunggang Phoenix yang lain.

"Aku tidak pernah melihat bonding seperti ini. Mereka sahabat satu sama lain, saling menghormati, saling menyayangi. Aku tahu kenapa mereka bisa cepat sekali menaikkan levelnya. Dan semua kekuatan itu .... Berasal dari ikatan yang sangat spesial."

Pak Tua tersenyum di atas kursi rodanya. Nah, kalau yang ini, dia kenal.

Sulur-sulur tumbuhan rambat mendesis lagi.

'Eh, sial, kenapa aku jadi menangis melihatnya.'

'/ya, hiks, ini mengharukan.'

'HIKS, HIKS!'

'Aduh, menangis sih boleh, tapi JANGAN

BERISIK!'

'HIKS, HIKS, KAMU JUGA BERISIK!'

***

"Baik, apa yang kita lakukan sekarang?" Pak Tua bertanya setelah matahari semakin tinggi, momen bahagia itu dipotong sejenak.

"Kita harus kembali ke ibukota." N-ou bicara.

Dia berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.

"Meong." Setuju. Si Putih mengangguk, berdiri di samping N-ou, ekornya bergelung di belakang.

"Tidak. ltu ide buruk." Pak Tua segera menggeleng, "Kita kembali ke padang rumput dengan banteng-banteng itu. Aku

lebih suka menghabiskan waktu di sana. Sambil sesekali berburu banteng. Kita bisa menjadi Suku Pemburu betulan. Lupakan semua ibukota itu."

"Aku harus menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan, Pak Tua."

"Biarkan orang lain saja yang melakukannya, anak muda."

N-ou menggeleng, "ltu kewajibanku. ltu kehormatan yang diberikan oleh seluruh hewan, tumbuhan, dan manusia Klan Polaris. Burung Merak bilang, mereka membutuhkanku. Kita harus kembali ke ibukota. Aku harus menolong S-ket, dan juga memaksa Raja mengakui perbuatannya."

Pak Tua mengusap jenggotnya, masalah ini kembali kapiran. Baru beberapa jam lalu mereka cemas, takut, sedih, kehilangan Si Putih, dan sekarang anak

muda ini ingin kembali situasi itu terjadi? Dia bahkan sudah merelakan posisi Penasihat itu pergi. Tidak ada rumah megah dengan lantai dan dinding pualam di ibukota. Tidak ada kapal berukiran dengan makanan lezat dan Suku Pemusik. Tidak masalah. Tapi heh, anak muda ini malah mau menantang Raja?

"Anak muda ini benar, kita harus kembali ke ibukota, Pak Tua." Salah-satu penunggang Phoenix bicara.

Rekannya turut mengangguk.

"Tapi bagaimana kita akan menyelesaikan masalah itu?" Pak Tua berseru ketus, "Anak muda itu hanya memiliki bonding Level 4, bahkan mengalahkan Jenderal Uh-lhar dengan bonding Level 5 saja tidak bisa. Apalagi menantang Raja yang memiliki Level 6. ltu gila. Kita kembali ke padang rumput itu, anak muda. Sekarang."

"Pak Tua tidak menyimak kalimat Burung

Merak." menggeleng.

Penunggang Phoenix

"Tentu saja aku menyimak semua kalimatnya. Tapi itu butuh waktu. Proses. Setidaknya anak muda ini berlatih dulu di padang rumput, sampai levelnya naik."

"Aku bisa mengalahkan mereka, Pak Tua." N-ou bicara.

"ltu juga kamu katakan saat di aula pertemuan. Lantas apa yang terjadi?"

"Karena aku belum sekuat sekarang, Pak Tua."

Pak Tua menggeleng, hendak berseru lagi-

N-ou lebih dulu menoleh ke sampmg, menatap Si Putih.

Si Putih juga menoleh ke N-ou mendongak. Bola mata hitam N-ou

memantul di bola mata kuning Si Putih. Dan sebaliknya, bola mata kuning Si Putih memantul di bola mata hitam N-ou.

"Meooong!" Si Putih menggeram. Tidak kencang, tapi itu membuat bergetar pohon-pohon di sekitar, dedaunan bergerak, sulur-sulur itu bergoyang.

"Arghh !!" N-ou ikut menggeram. Mengepalkan tinjunya.

Seketika, Si Putih mengalami transformasi mengagumkan. Tubuhnya membesar dua kali lipat, tingginya nyaris sepaha N-ou. Ekornya memanjang mengeluarkan cahaya terang. Telinganya runcing berdiri tegak. Surai-surai panjang tumbuh di tengkuknya. Begitu memesona. Begitu gagah.

"Astaga !" Pak Tua berseru.

"Bonding Level 6." Penunggang Phoenix ikut berseru.

"lni.... lni sangat hebat. Levelnya naik lagi dua tingkat!" Rekannya menimpali, "Kita benar-benar punya kesempatan yang baik mengalahkan Raja. Level mereka sama sekarang.11

Ribuan sulur-sulur tumbuhan merambat sibuk menonton.

"Aku akan menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan, Pak Tua." N-ou berkata tegas.

" M eong.Si Putih mengeong.

Pak Tua menghela nafas, mengangguk. Anak muda ini sangat teguh pendirian. Sekali dia memutuskan sesuatu, maka itu tidak bisa diubah lagi. Baiklah, dia juga akan ikut pergi ke ibukota. Apapun yang terjadi, rombongan aneh mereka tidak bisa dipisahkan.

"Jika burung-burung api itu berkenan, bisakah mereka terbang menjemput ke

sini?" N-ou menoleh ke penunggang Phoenix, "Sulur-sulur tumbuhan rambat akan menghentikan sementara melepas butir-butir air yang melingkup langit­ langit hutan. Mereka aman mendekati pusat kota."

"Tentu saja, anak muda. ltu sebuah kehormatan." Salah-satu penunggang Phoenix mengangguk, dia bersiul memanggil.

Persis siulan itu dikirim, dari tepi hutan, dua burung api itu segera terbang ke udara, menuju sumber siulan.

Sementara N-ou menoleh ke ribuan sulur-sulur tumbuhan rambat.

"Bolehkah aku meminta tolong sesuatu?" Sulur-sulur itu mendesis.

"Bisakah kalian menghentikan menggantung hewan atau manusia yang melintasi hutan ini?"

'Wah, itu tidak bisa, Bro.' 'Susah, cuy. /tu hobi kita /oh.'

'Hewan dan manusia tidak bisa masuk hutan ini. /tu final. No deal.'

N-ou tersenyum, "Aku setuju, hutan ini terlarang bagi mereka. No deal. Tapi setidaknya, jika mereka tetap memaksa

masuk, atau mengusirnya Menyeretnya

tersesat, kalian bisa baik-baik, bukan?

keluar boleh.

Melemparkannya ke tepi hutan, boleh.

Tapi menggantungnya sampai mati? ltu berlebihan.11

'Bisa sih. Tapi nanti hiburan kami apa dong?'

'/ya, benar. Nanti kami taruhan dengan apa?'

'Atau begini saja deh, bagaimana kalau kita gantung salah-satu dari kita yang suka berisik. Kita taruhan seberapa lama dia tahan di atas sana?'

'Wah, ide bogus itu. Seru ini.' 'Benar. Baka/ seru ini!'

'Dasar su/ur Don, otakmu di mana sih? Otakmu di akar? Kita itu tumbuhan, kalau digantung di dahan pohon, tentu saja kita bisa tahan ribuan tahun. Apa serunya? Kita mati tua nungguin siapa yang menang.'

'Oh iya. Benar juga. Maaf, maaf. Tapi jangan bilangin Don gitu dong.'

'Tahu, dikit-dikit bilangin Don. Padaha/ sendirinya Don juga.'

'HEH?'

'HEH?'

'JANGAN BERISIK, ANAK SAYA NANGIS LAGI!'

Desisan tumbuhan itu memenuhi sekitar.

N-ou tertawa. Sulur-sulur tumbuhan rambat ini kadang menyenangkan. N-ou mendongak, dua burung Phoenix telah terlihat di atas sana, sayapnya mengepak­ ngepak mulai menembus kanopi hutan, mendarat anggun di dasar hutan.

"Kita berangkat sekarang, anak muda !"

Salah-satu penunggang Phoenix berseru. N-ou mengangguk.

"Meong." Si Putih mengeong. Kucing itu telah kembali ke ukuran normal, bonding itu sementara waktu dipadamkan.

Mereka berlompatan naik ke punggung burung api itu.

Sekejap, dua burung itu telah melesat menembus kanopi hutan. Kembali terbang menuju Gunung Timur. Menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.

-- Next Chapter--

Bab 25

ltu rute yang sama, yang mereka lewati beberapa hari lalu. Bedanya, burung Phoenix terbang empat kali lebih cepat, dan empat kali lebih tinggi. Mereka melintasi awan-awan.

"Meong."

Si Putih mengangkat kaki depannya, menjulurkan kaki itu, meraih gumpalan awan yang sedang dilewati.

"Awas jatuh, Put."

"Meong." Aku tidak seceroboh Pak Tua.

N-ou tertawa.

Entah apa kabar Pak Tua di Phoenix satunya, tapi sepertinya dia baik-baik saja. Meski tanpa jendela penutup, duduk di punggung burung ini tetap hangat. Bola

api yang menyala di ekor burung melindungi sekitarnya.

Bola api itu juga yang menjadi perhatian Si Putih-setelah dia bosan bermain dengan awan-awan. Mata kuningnya menyelidik.

"Meong."

Ekornya terjulur ke belakang.

"Eh, apa yang mau kamu lakukan, Put?"

Ekor Si Putih berusaha menyentuh bola api itu.

"MEONG !" Si Putih mengeong kaget.

Penunggang Phoenix di depan tertawa, menoleh, "Tentu saja panas."

Si Putih menepuk-nepukkan ekornya. Bulu ekornya baik-baik saja, hanya kaget.

"Rasa ingin tahunya besar sekali."

N-ou mengangguk. Lima tahun lalu, mereka pernah terjebak semalam di sebuah lubang kelinci, gara-gara Si Putih ingin tahu itu lubang apa.

Dua burung Phoenix terus melaju ke timur. Mereka tidak jauh lagi.

Lima menit berlalu, penunggang Pheonix menoleh, "Berpegangan anak muda, Si Putih. Kita bersiap menurunkan ketinggian."

N-ou sekali lagi mengangguk, tangannya berpegangan dengan bulu-bulu besar burung Phoenix. Si Putih melilitkan ekornya ke N-ou.

Gunung Timur itu telah terlihat di bawah sana. Menjulang gagah dengan pucuk berselimutkan salju. Hamparan danau biru, jembatang batu panjang, perahu barang yang hilir-mudik dan segenap

kesibukan para pengunjung ibukota E-sok juga terlihat.

11Kit a meluncur tu run!" penunggang Phoenix berseru.

Burung api itu menghentikan kepak sayapnya, menderu turun seperti sebuah roket menyala. Menembus awan-awan, menuju ke bawah.

Lihat ! Lihat! Penunggang Phoenix!"

Penduduk yang sedang berada di atas jembatan berseru-seru, menunjuk.

Wah, benar! Penunggang Phoenix datang!"

Ayah, Ayah, apakah itu Pengendali Hewan yang baik itu?"

lya, Nak. ltulah para Penunggang Phoenix, penjaga keseimbangan."

Kepala penduduk mendongak, satu-dua melambaikan tangan, melepas kain di

kepala, melambaikannya, lebih banyak yang bertepuk-tangan, berseru-seru. Sepertinya penunggang Phoenix adalah sedikit dari Pengendali Hewan yang dicintai penduduk.

Tetapi kedatangan burung Phoenix yang speltakuler itu juga memicu keributan lain. Persis dua burung Phoenix itu terlihat. Penjaga gerbang jembatang batu berteriak kencang.

"MUSUH DATAANG!"

"AKTIFKAN PERTAHANAN IBUKOTA!"

Penjaga lain berlarian, lompat meniup terompet besar di dekat gerbang. Sejak penunggang Phoenix kalah melawan Naga, mereka terusir dari ibukota, dianggap musuh oleh Pengendali Hewan lain. Kedatangan mereka memicu perang baru.

"TOOOEEET!"

Suara terompet itu menggema.

TOOOEEET!"

terompet lain.

Ditimpali terompet-

Permukaan danau yang tenang terlihat bergolak, mendidih. Dan dari dalamnya bermunculan tiang batu dengan moncong meriam di sana. Puluhan meriam. Sistem pertahanan ibukota telah aktif.

Berpegangan

Penunggang Mencengkeram

lebih erat,

Phoenix leher

semua!" berseru. burungnya.

Wajahnya serius, konsentrasi penuh.

N-ou dan Si Putih berpegangan lebi kuat. BUM!

Meriam itu mulai melepaskan tembakan. BUM! BUM!

Susul-menyusul membidik dua burung Phoenix.

Persis ledakan pertama berdentum, penduduk di atas jembatan berteriak panik. Tiarap, memeluk anak-anaknya, berlarian kembali ke ujung gerbang. Bola meriam itu mengenai udara kosong, membuat letupan besar seperti kembang api. Burung-burung Phoenix lincah menghindar, melakukan manuver tajam.

Sesekali melengkung, sesekali berbelok, sesekali terbang rendah di permukaan air. Dan tidak hanya itu, balas menyerang, ekor burung Phoenix bergerak, melemparkan bola-bola api.

BUM! Satu meriam hancur lebur terkena bola api itu. Tiang batunya berguguran jatuh ke dalam danau.

BUM! Disusul bola api berikutnya. Terus bermunculan dari ekornya.

TAHAAAN BURUNG ITU!"

JATUHKAN SEBELUM MASUK IBUKOTA!"

Penjaga gerbang sekali lagi berteriak, mereka berlarian mengeluarkan busur­ busur besar, memasang anak panah sepanjang dua meter.

TEM BAAAK!"

Bagai hujan, anak panah melesat menuju burung Pheonix.

Akan tetapi itu bukan lawan mereka, penunggang Phoenix memiliki bonding Level Lima. Burung itu melengking nyaring, mengepakkan sayapnya, angin kencang menderu, membuat anak panah berguguran jatuh ke permukaan danau.

Dua burung Phoneix terus melaju menuju mulut gua.

TUTUP PINTUNYA!"

Penjaga gerbang berusaha melakukan usaha terakhir. Mereka berlarian,

mencabut tombak, memukulkannya ke rantai besi. Rantai itu putus, pintu baja mulai bergerak turun dari atas lubang gua. Berderak kencang. Membuat penduduk di atas jembatan batu berteriak-teriak panik, memeluk anak­ anak mereka, sebagian lari bergegas masuk ke dalam gua, sebagian lagi berlari ke arah danau.

Dua burung Phoenix tidak mengurangi kecepatan, menuju mulut gua.

Dan di detik terakhir sebelum pintu itu menutup sempurna, burung Phoenix menukik ke permukaan air danau, menyelam di air, melewati pintu yang bersiap meluncur ke dasar danau, kemudian muncul di sisi berikutnya, mereka berhasil masuk.

Burung Phoenix kembali terbang di langit-langit ibukota.

Sayapnya bergemuruh, mengepak- ngepak. Air terpercik bagai hujan.

Lihat ! Lihat! Penunggang Phoenix telah kembali !" Penduduk bagian luar kota berseru-seru.

lbuuu, ada burung Phoenix di luar." Anak-anak berteriak riang.

Lupakan kekacauan yang terjadi. Lupakan penjaga ibukota yang kembali sibuk mengaktifkan pertahanan di dalam kota. Penduduk mencintai penunggang Phoenix. Lihatlah, burung itu kembali terbang dengan gagah, bola api di ekornya mengluarkan cahaya terang. Menuju jantung ibukota E-sok.

TEM BAAK!" Penjaga di dalam kota mulai menyerang dua burung.

Meriam-meriam di dinding ruangan meletus. Juga anak panah, berhamburan. Tapi itu tidak menghentikan laju burung

api, dengan mudah burung itu telah memasuki bagian dalam ibukota. Kali ini, penduduk bagian tersebut keluar dari rumah masing-masing, bersama hewan mereka. Berlarian ikut mengejar burung Phoenix.

"Kalian lihat bangunan paling besar yang menempel di dinding terdalam gua?" Penunggang Phoenix menoleh.

N-ou mengangguk.

"ltu adalah lstana Raja. Pagi ini, jadwal yang sama, hari yang sama, dia memimpin pertemuan dengan Jenderal Uh-lhar dan yang lain di Aula Singgasana. Kalian bisa menemukan Raja di sana. Sementara kami akan menahan Pengendali Hewan lainnya di halaman lstana."

N-ou mengangguk lagi.

Burung api mendarat di depan tiang-tiang tinggi lstana.

N-ou berlompatan, disusul Si Putih. Pak Tua juga telah turun dari punggung burung api satunya, menaiki kursi rodanya.

"Aku percaya padamu, anak muda." Penunggang Phoenix berseru, "Jangan ragu-ragu. Jangan takut. Selesaikan apa yang harus kamu selesaikan I"

N-ou mengangguk, lantas berlarian masuk menuju teras lstana.

Di halaman, di belakang mereka, ratusan Pengendali Hewan telah berdatangan, mengepung penunggang Phoenix. Juga pasukan ibukota, membawa busur-busur dengan anak panah teracung. Pertempuran besar di halaman itu akan segera meletus. Dua penunggang

Phoenix bersiap, melemparkan jubah merah mereka, memasang kuda-kuda.

***

N-ou terus berlarian. Si Putih melompat di sampingnya. Ziiing, kursi roda Pak Tua meluncur di belakang.

Mereka melintasi pintu besar yang terbuat dari kayu. Tiba di lorong panjang berlapiskan permadani. Bentuk bangunan ini sama dengan bangunan Jenderal Uh-lhar, hanya lebih besar, lebih megah. ltu berarti, Aula Singgasana ada di ujung lorong Panjang ini.

Berani sekali kalian kembali ke sini!" Seruan lantang terdengar.

Pengendali Hewan 6 gorila keluar dari balik tiang-tiang pualam, menghadang.

N-ou mendengus, terus maju.

Meong." Si Putih mengeong.

Bonding Level Enam telah diaktifkan kembali.

Kalia n hanya mencari mati!" Teriak salah-satu Pengendali gorila.

Habisi mereka !"

Hewan-hewan itu menggerung buas. Tinggi besar, wajah garang. Satu dua menghentak-hentakkan kakinya ke lantai,

membuat lorong memukul-mukul

bergetar. dadanya,

Sisanya hendak

menunjukkan betapa kuat menakutkan mereka.

dan

N-ou konsentrasi. Dia tidak punya waktu melayani enam gorila ini, jadi semakin cepat dibereskan semakin baik. Dia konsentrasi sambil terus berlarian. Dia ingat, wanita yang mereka temui di tenda makan itu bisa membekukan lawan tanpa menyentuh. Teknik itu. Sel-sel syarafnya bekerja cepat, Teknik itu, dia juga bisa

melakukannya. Sel-sel syaraf N-ou terus mengeduk semua kode genetik, mengombinasikannya, menjalinnya, berhasil! Dia tahu bagaimana cara melakukannya.

N-ou mengangkat tangan. Sel-sel syaraf memberi perintah ke tangan itu. Teknik Beku.

Splash.

Enam Pengendali Hewan dan enam gorila itu membeku. Seketika. Lucu sekali melihat posisi mereka, juga ekspresi wajahnya. Seeker gorila bahkan terjungkal jatuh, karena satu kakinya tadi sedang terangkat. Sementara yang lain, dengan mulut terbuka, mata membelalak, tangan memukul dada, beku, tak bergerak lagi. Tak tersisa sedikit pun ekspresi buas di sana.

N-ou melintasi mereka.

M eong." Bye.

Keren." Pak Tua mengusap jenggotnya. Dasar bebal, pengendali Hewan 6 gorila ini keras-kepala. Bahkan Jenderal Uh-lhar telah berkali-kali bilang, mereka bukan lawan setara N-ou.

N-ou tiba di pintu besar ujung lorong.

Meong." Si Putih mengeong. Biar aku saja.

Tubuh kucing itu lompat ke depan. BUM! Menabrak pintu kayu, membuat pintu itu terlepas dari engsel, terpelanting. Aula Singgasana terlihat. Ruangan itu empat kali lebih besar dibanding milik Jenderal Uh-lhar. Tinggi menjulang seratus meter, dengan dinding-dinding batu karang gunung langsung.

Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dan kursi-kursi terlihat. Ada enam orangsedang berkumpul di sana. Raja.

Jenderal Uh-lhar. Dan empat anggota Dewan yang baru. Hewan-hewan mereka berdiri di belakang masing-masing. Kecuali Naga. Hewan itu duduk di ceruk dinding karang, di atas sana. Seisi ruangan menoleh ke pintu yang terpelanting. Jenderal Uh-lhar segera berdiri.

N-ou dan Si Putih tidak menghentikan kecepatan. Melintasi lantai pualam.

Siapa mereka? Anggota Dewan yang baru bertanya.

Astaga? Mereka merangsek masuk ke Aula Singgasana? Di mana para penjaga? Enam gorila? Rekannya menimpali.

lt u anak muda dengan kucing putihnya.

Kucing Putih itu sela mat ? Anggota Dewan menoleh ke Jenderal Uh-lhar, tidak mengerti.

"Aku akan membereskan mereka lagi." Jenderal Uh-lhar berseru marah, "Dan kali ini, aku akan memastikan mereka benar-benar tidak bernafas lagi."

Panglima Perang itu maju 'menyambut', dia bersiul, ular besar di sampingnya meluncur dengan badan bergetar hebat. Sejenak, sisik-sisiknya telah berubah menjadi hitam, tombak runcing muncul di ujung ekornya.

Panglima Perang menyerang lebih dulu. Splash. Tubuhnya menghilang, untuk kemudian splash, muncul di depan N-ou, tangannya terangkat, siap memukul. Juga ular besar itu, meluncur deras dengan ekor terangkat, siap menombak tubuh Si Putih.

Tapi mereka benar-benar tidak menyadari jika lawan mereka telah lompat menuju bonding Level Enam,

mereka bukan lawan yang sama beberapa jam lalu.

Tangan N-ou terangkat. Meninju ke depan. Kesiur angin kencang terdengar. Butiran salju berguguran di sekitar mereka. Udara dingin seketika.

BUM!

Telak sekali tinju itu menghantam tubuh Jenderal Uh-lhar, dia masih sempat bergegas mengubah serangannya menjadi tameng transparan. Tapi itu sia­ sia, tameng itu tembus, hancur lebur, pukulan itu telak mengenainya. Jenderal Uh-lhar terpelanting empat meter, menabrak meja panjang, membuat meja itu patah dua, terjerambab di lantai.

Meong! Si Putih juga lompat ke udara, dia menyambut tombak runcing di ekor ular besar. Kaki depan Si Putih

menyambar, mengeluarkan cakar berwarna putih berkemilauan.

"TRANG!" Cakar itu memotong tombak runcing. Tombak berwarna gelap dengan racun mematikan itu berkelontangan jatuh. Tak bersisa apapun di ekor ular itu sekarang.

"Ssssttt..." Ular besar mendesis panik. Dia tidak menyangka itu akan terjadi.

"Meong!" Si Putih telah lompat lagi, menerkam kepala ular. Kuku-kuku tajamnya menembus sisik-sisik hitam itu.

"Ssstttt...." Ular besar itu terbanting ke lantai. Terkunci, tidak bisa bergerak lagi.

"Meong." Diam!

Ular besar itu terdiam. Dia telah kalah. Dia tahu, sekali kucing itu menekan lebih dalam cakarnya, kepalanya akan robek.

"Meong." Pergi dari sini.

Si Putih melepaskan cakarnya. Ular besar itu menggerung lemah, tanpa mendesis lagi, ia meluncur menuju pintu keluar Aula Singgasana.

N-ou melangkah maju, menginjak meja panjang yang terjerambab di lantai. Berhenti di sana. Menatap Raja Gunung Timur yang masih duduk di kursinya.

Aku akan menggunakan tradisi panjang Pengendali Hew an! N-ou berseru lantang, Aku menantangmu bert ar ung.

***

ltu adalah pertemuan pertama mereka.

Raja Gunung Timur menatap tak berkedip anak muda di depannya. Dan dia bagai melihat cermin. Anak muda ini mirip sekali dengannya dulu. Penuh semangat. Penuh percaya diri. Tapi juga menyimpan tatapan mata kesedihan. Kehilangan.

N-ou balas menatap Raja Gunung Timur. ltu bukan kabar kosong, Raja adalah petarung hebat. Tinggi besar seperti Jenderal Uh-lhar, tapi wajahnya lebih berwibawa. Matanya lebih tajam. Garis wajahnya adalah guratan panjang dari perjalanan hidupnya yang penuh rintangan. Mengenakan jubah gelap. Dengan ikatan kain panjang di kepala.

Raja berdiri dari kursi. Tangannya terangkat, memanggil.

Naga yang duduk di ceruk dinding batu karang bergerak. Terdengar suara bergemuruh. Ekornya bergerak di dinding batu. Kepalanya terjulur ke depan. Dan saat tubuhnya lompat turun, kesiur angin kencang memenuhi Aula Singgasana. Udara terasa panas. Naga itu mendarat di samping Raja. Kepalanya mendongak, menatap N-ou dan Si Putih.

" Rooooaaa rr! Meraung pelan. Gemeretuk api keluar dari mulutnya, bau mesiu tercium pekat. Taring panjang. Surai-surai menjulur. Sisiknya gelap, tebal, bagaikan lempeng baja.

"Aku akan menerima tantangan itu, anak muda. Raja balas berseru, "Siapapun bisa menantangku. Dan bersiaplah menerima resikonya. Tapi apa yang membuatmu menerobos Aula Singgasana, anak muda? Apa yang kamu permasala hkan?

"Bebaskan temanku, S-ket! "Hanya it u?

"Dan juga wabah penyakit lima tahun lalu N-ou berteriak lagi.

"Ah, lagi-lagi soal itu. Sepertinya kamu telah bertemu dengan penunggang Phoenix yang tersisa, bukan? Mereka

terus merengek seperti anak kecil, menceritakan versi mereka?"

"lni tidak ada urusannya dengan penunggang Phoenix. Aku tahu apa yang terjadi."

"Tahu dari mana, anak muda? Lima tahun lalu kamu hanyalah anak kecil yang menangis di salah-satu kota modern itu. Kamu tidak tahu apa-apa."

"Aku tahu bagaimana penduduk ibukota selamat." N-ou mendengus.

"Oh ya?"

"ltu karena sebelum virus itu disebarkan, Penjaga lstana diam-diam telah menumpahkan anti virus di kanal-kanal ibukota. Penduduk menggunakan kanal itu sebagai sumber air bersih. Mereka mengonsumsi air itu, kekebalan tubuh terbentuk satu-dua hari sebelum virus itu dilepas. Tidak ada yang tahu itu, tidak ada

yang menyadarinya. Bahkan penunggang Phoenix luput melihat hal sesederhana itu. ltulah kenapa seluruh penduduk ibukota selamat."

Kali ini, Raja Gunung Timur terdiam.

"Aku tahu dari mana? Dari anak-anak yang berlarian melambaikan tangan di jalanan tepi kanal. Mereka riang menyambut siapapun yang datang. Tak peduli apakah itu Pengendali Hewan atau penduduk biasa. Aku tahu dari mana? Dari keluarga-keluarga yang tertawa bahagia, duduk menatap kanal, menghabiskan petang. Satu-dua dari mereka menurunkan ember untuk mengambil air-air kanal sebagai sumber air bersih. Aku tahu dari sana."

Raja Gunung Timur menatap N-ou tajam.

"ltu jahat. Jutaan penduduk tewas saat virus itu dilepaskan. Kota-kota modern itu

bertumbangan. Tubuh-tubuh kaku menumpuk di kuburan massal. Evakuasi dilakukan di Lorong dinding transparan. Keluarga terpisah. Orang-tua berpisah dengan anaknya. Adik berpisah dengan kakaknya. Sahabat berpisah dengan sahabat baiknya. ltu sungguh jahat. Bukankah kamu tahu itu sangat menyakitkan? Karena kamu mengalaminya sendiri empat ratus tahun lalu!"

Raja Gunung Timur menggeram. Naga di sampingnya ikut menggeram, kepul uap panas menyembur memenuhi Aula Singgasana.

0mong kosong! Penduduk kota-kota modern itulah yang jahat. Mereka yang menyebar virus itu empat ratus tahun lalu. Lewat ilmuwan-ilmuwan mereka yang ceroboh. Virus itu lolos dari penelitian mereka. Dan penduduk-

penduduk kota modern itulah yang merusak alam ribuan tahun terakhir, mengganggu hewan, merusak tumbuhan, mengeduk tanah, memotong gunung, membendung sungai. Virus-virus itu marah. Siapa yang jahat? Kamu berani sekali memutar balik fakta di lstana yang kubangun dengan tanganku sendiri!

N-ou menggeleng. Tanpa perlu pertarungan, Raja telah mengakui perbuatannya. Sekaligus membangun argumen, menyalahkan pihak lain. Boleh jadi penguasa kota-kota modern itu memang jahat, mereka rakus, demi kemajuan, pertumbuhan ekonomi, peradaban yang hebat, mereka merusak alam sekitar. Tapi itu bukan alasan pembenaran melepaskan virus itu.

Percakapan ini tidak ada gunanya lagi.

Satu-satunya alasan kenapa harus bertarung hanyalah

mereka tentang

menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Raja Gunung Timur telah selesai, dia harus turun dari kekuasaannya. Eranya telah berakhir. Dia harus membayar mahal perbuatannya lima tahun lalu.

N-ou mengepalkan tinjunya. Bersiap.

Meoong." Si Putih mengeong. Tubuhnya mulai membesar. Mereka telah mengaktifkan lagi bonding Level Enam.

Bagus sekali. Aku sudah lama tidak melihat level setinggi itu." Raja Gunung Timur menggeram.

Naga di sebelahnya ikut menggeram. Tubuh hewan itu bergemeretuk, sisik­ sisik tebalnya semakin kelam. Tanduk tumbuh di kepalanya. Bonding Level Enam juga telah diaktifkan.

Pak Tua segera menyingkir, juga empat anggota Dewan, mereka bergegas

membawa Jenderal Uh-lhar yang masih pingsan. Pertempuran besar akan segera dimulai.

Level Enam versus Level Enam.

Belum pernah terjadi dalam sejarah Panjang Klan Polaris.

"Roooaaaar!" Naga itu yang pertama kali menyerang. Tubuh besarnya lompat ke depan, hendak menerkam N-ou.

"Meeeooong!" Si Putih mengeong, ikut lompat, menabrakkan tubuhnya.

BUM! Dentuman kencang terdengar, angin menghempas sekitar.

Naga terbanting setengah meter, tapi pukulan itu tidak menyakitinya. Sisik­ sisiknya terlalu kuat untuk ditembus. Ekornya yang panjang balas bergerak, menghantam Si Putih. BUM! Mengenai udara kosong, Si Putih lebih dulu lompat menghindar. Kucing itu balas melepas ekornya. CTAR! Petir menyambar bersamaan dengan ekor itu, menyelimuti tubuh Naga.

"Roooaaar!" Naga meraung marah. Menyemburkan api. Membakar apapun yang ada di hadapannya. Si Putih gesit menghindar.

Sementara itu, Raja juga ikut merangsek maju.

Splash. Cepat sekali teknik teleportasi yang dia lakukan. Splash. Muncul di depan N-ou.

BUM!

N-ou telah membuat tameng transparan yang kokoh. Kakinya terhenyak dua senti ke lantai menahan serangan itu. Tapi tamengnya tetap kokoh.

BUM! BUM! Tinju Raja susul menyusul datang.

Tameng itu retak. Sebelum betulan hancur. Splash. N-ou menghilang, splash, muncul di belakang Raja, balas meninju.

Raja telah menunggu, cepat sekali dia membalik posisinya, seperti bisa membaca gerakan lawan. Meladeni tinju itu, balas mengirim tinju.

BUM!

Dua pukulan berdentum bertemu. Suaranya menggelegar, membuat dinding-dinding karang bergetar. Lantai retak. Debu mulai mengepul.

Splash. Raja kembali menghilang, Splash muncul lagi di atas N-ou, dua tangannya melepas pukulan berdentum sekaligus. N-ou menyilangkan tangannya, membentuk tameng transparan. BUM! Tubuhnya terbanting satu langkah. BUM! BUM! Susul-menyusul.

ltu pertarungan dengan intensitas tinggi, didetik pertama dimulai. Masing-masing mengerahkan kekuatan dan teknik terbaik. Aula Singgasana dengan cepat

dipenuhi kepul debu, lubang-lubang, dan bongkahan batu. Belum lagi kepul uap panas, sambaran api, langit-langit bagaikan oven. N-ou dan Raja silih berganti melepas serangan, juga membuat pertahanan, maju lagi menyerang, bertubi-tubi. Juga Naga dan Si Putih. Ekor-ekor hewan ini saling sambar, saling memukul.

Naga itu tidak selincah Si Putih yang bisa menyelinap di celah sekecil apapun, tapi Naga itu memiliki pertahanan kokoh. Sisik-sisik tebalnya bagai lempeng baja. Cakar Si Putih hanya menggoresnya, tak bisa menembus. Sambaran petir dari ekor kucing itu juga hanya membuat Naga itu tambah marah, membalas menyemburkan api. Membuat Si Putih harus bergerak secepat mungkin menghindar.

Sementara itu di halaman lstana, penunggang Phoenix terus menahan Pengendali Hewan yang mengepung, berusaha merangsek masuk ke lstana. Sejauh ini mereka bisa mengatasinya, memukul satu demi satu lawan yang maju. Hanya karena penunggang Phoenix berbaik hati, tidak mau membunuh lawannya, halaman itu tidak dipenuhi oleh Pengendali Hewan dan hewan­ hewan tergeletak. Penunggang Phoenix

menghindari mematikan.

melepas serangan

Sedangkan Pak Tua menatap tak berkedip pertarungan di Aula Singgasana. Menahan nafas berkali-kali. lni sangat menegangkan. Sesekali dia memperbaiki posisi konverter di hidung. Udara panas, pengap, membuat peluh mengalir deras, membuat bajunya basah. Tapi Pak Tua

tetap di sana, dia tidak akan meninggalkan N-ou dan Si Putih.

BUM!

Sekali lagi tinju-tinju beradu di udara.

CTAR! ROAR! Juga sambaran petir dan semburan api.

Di balik kepul debu, uap panas, empat tubuh itu terlihat melenting kesana kemari. Bagai siluet pertunjukan tari. lni tidak kalah dengan pertarungan di hutan berkabut. Saat empat penunggang Phoenix melawan Raja dan Naga. Bahkan lebih epik, dua kekuatan yang sama, bonding Level Enam, bertemu.

Masalahnya, meskipun level mereka sama, N-ou jelas kalah pengalaman. Dia masih hijau sekali dalam pertarungan besar. Lawannya memiliki berbagai trik dan strategi.

Splash. Raja muncul di samping kanan N­ au, tangannya terangkat. Seolah hendak melepas pukulan berdentum.

N-ou bergegas membuat tameng transparan.

Splash. Splash. Raja telah berpindah tempat di sisi kiri. ltu gerakan tipu sederhana yang kesekian, tapi tetap saja anak muda itu tidak menduganya. Dia masih harus belajar. N-ou bergegas melindungi sisi kiri. Terlambat. Tinju Raja lebih dulu menghantam badannya.

BUM! N-ou terpelanting dua meter. Raja garang mengejarnya, tidak memberikan kesempatan N-ou untuk membuat pertahanan, tinjunya susul-menyusul menghantam tubuh N-ou yang masih melayang di udara.

BUM! BUM!

N-ou terbanting ke lantai pualam. Jatuh terduduk diantara bongkahan batu.

Juga Si Putih, terpisah dua belas meter dari N-ou, kucing itu memang lebih lincah menghindar, tapi lama-kelamaan, Naga memahami gerakannya.

ROAAR! Api menyembur menyambar Si Putih.

Kucing itu lompat menghindar ke kanan. ltu yang ditunggu oleh Naga, dia sudah menduga gerakan itu. Ekornya terangkat, bergemuruh. Melesat menghantam posisi itu-bahkan sebelum Si Putih tiba. Persis kucing itu betulan lompat ke sana. Meong! Dia hanya bisa mengeong kaget.

BRAAK! Ekor naga menghantam telak tubuhnya. Kucing itu terpelanting enam meter, bergulingan di lantai berdebu.

Di tepi ruangan Pak Tua berseru tertahan. N-ou dan Si Putih dalam situasi rumit.

Mereka berada di bawah angin. Raja siap menghabisi N-ou dengan pukulan berdentum, melesat maju, Naga telah terbang ke udara, siap menghantamkan sekali lagi ekornya ke Si Putih yang masih merangkak berusaha berdiri.

"Arrghh!" N-ou berteriak, dalam pos1s1 duduk, dia mengangkat tangannya.

ltu bukan tinju pukulan berdentum, juga bukan tameng transparan. ltu Teknik membekukan lawan. Seketika. Gerakan Raja terhenti. Tubuhnya membeku. Juga Naga itu, ekornya tertahan, seluruh tubuhnya telah membeku, jatuh berdebam di lantai.

N-ou menggeram, mengepalkan jemari, dia konsentrasi penuh. Dia membutuhkan seluruh kekuatan untuk melepas Teknik itu. Si Putih lompat ke sampingnya, bulunya kotor oleh debu, tapi kucing itu baik-baik saja.

N-ou berteriak lagi. Raja dan Naga itu melawan teknik tersebut dari dalam. Mereka berusaha menggerakkan tubuh masing-masing. Mengerahkan tenaga. lni tidak seperti membekukan Pengendali Hewan 6 gorila, N-ou mulai kehabisan tenaga. Tersengal.

"ARGGHH !" Raja berteriak, berhasil melepaskan diri. Tubuhnya kembali bisa bergerak.

"ROAAAR!" Naga meraung marah, tubuhnya juga telah bebas.

Serempak mereka menyerang lagi. Lebih buas kali ini.

BUM! Tameng transparan N-ou hancur lebur di pukulan pertama.

BUM! N-ou lompat menghindar. Lubang besar menganga di sampingnya.

"Kamu mau lari kemana, HAH !" Raja berteriak galak. Terus mengejar. Sekali lagi N-ou terdesak, bertahan mati­ matian.

Si Putih juga sekali lagi lompat kesana­ kemari menghindari semburan api dan sambaran ekor Naga. Ronde kedua telah dimulai. Dengan N-ou dan Si Putih bertahan habis-habisan.

BUM!

Pukulan itu akhirnya telak mengenai tubuh N-ou. Tubuhnya terpelanting jatuh. Raja mengejarnya. BUM! BUM! N- au melakukan apapun menahan serangan itu, membuat tameng transparan, berguling, menghindari. Apapun itu.

"ROAAAR!" Naga meraung, melepas semburan api dan sambaran ekor sekaligus.

Si Putih berhasil menghindari api panas itu, tapi dia tidak lolos dari ekor Naga. BRAAAK! Tubuh kucing itu lag-lagi terbanting jatuh.

N-ou menyeka mulut. Darah segar mengalir. Tubuhnya terasa sakit terkena pukulan berdentum. Entah berapa banyak Iuka dan memar di tubuhnya. Dia harus melakukan sesuatu, sebelum terlambat. Dia tidak akan menang jika situasinya terus begini.

"Meong!" Si Putih mengeong. N-ou menoleh.

Kucing itu merangkak dari jatuhnya.

Mata mereka saling bertatapan. Di antara kepul debu dan uap panas.

"Meong!" Kita masih bisa menang, N-ou.

N-ou mengangguk. Dia tidak takut lagi. Dia tidak akan ragu-ragu.

"Meong!" Bersiap N-ou. Bersiap apanya?

"MEOOONG !" Si Putih mengeong kencang. Bola mata hitam N-ou memantul di bola mata kuning Si Putih. Dan sebaliknya, bola mata kuning Si Putih memantul di bola mata hitam N-ou.

"AAARGGH !" N-ou berteriak lantang.

Gerakan serangan Raja tertahan. Juga ekor Naga. Apa yang terjadi?

Bonding Level 7 telah diaktifkan. Level ikatan unik milik N-ou dan Si Putih telah lompat lagi. Kekuatan mereka bertambah tujuh kali lipat sekarang.

Astaga! Raja berseru. Naga ikut menggeram.

Belum genap seruan mereka. N-ou merangsek maju.

Splash. Splash. Tubuhnya telah muncul di depan Raja. Tangannya terangkat. Kesiur angin kencang terdengar. Butir salju turun semakin deras.

BUM!

Raja terpelanting ke belakang. Tameng transparannya hancur lebur.

"Meong!" Si Putih juga telah menyerang Naga.

Splash. Tubuh kucing itu menghilang. Splash. Muncul di atas Naga.

Tidak pernah ada sejarah yang mencatat hewan bisa melakukan teleportasi. Tapi kucing itu bisa. Dia mewarisi cetak biru tersebut. Kekuatan itu telah muncul.

"ROAAAR!" Naga berusaha melepaskan semburan api, menahan serangan.

CTAR! SI Kucing lebih dulu melepas sambaran ekornya.

ltu bukan lagi petir yang keluar. Melainkan kesiur angin dingin. Semburan api Naga berubah cepat menjadi es, berkelontangan jatuh di lantai.

"Meong!" Si Putih lompat, menabrakkan tubuhnya ke depan.

BUM!

Naga itu tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhenyak ke belakang, kuat sekali pukulan itu. Walaupun tetap tidak bisa menembus sisik-sisik tebalnya, tetap saja membuatnya terbanting menggelinding di atas pualam. Sisik-sisik itu berlumuran debu.

Yes! Pak Tua mengepalkan tinjunya. N-ou dan Si Putih kembali berada di atas angin.

"Aargghh !" mengeJar berdentum.

N-ou Raja,

berteriak, melepas

masih pukulan

BUM! BUM!

Tubuh tinggi besar itu terbanting kesana­ kemari. Jubah hitamnya robek. Kain di kepalanya terlepas. Susah-payah Raja menahan serangan.

Nasib yang sama dialami oleh Naga, dia seperti mainan, tidak berdaya terbanting ke sana-kemari, setiap kali Si Putih menabrakkan tubuhnya, mengmm pukulan berdentum. Dia tidak bisa menghindar, tubuhnya terlalu besar, dan kucing itu bisa melakukan teleportasi. Hanya karena sisik-sisik tebal itu saja dia masih bisa bertahan. Tidak terluka parah.

Akan tetapi pertarungan belum selesai. Saat Pak Tua merasa kemenangan sudah di depan mata. Pak Tua lupa kalimat burung Merak: bahwa kejadian serius, situasi genting, atau hal-hal luar biasa lainnya bisa memicu level bonding naik. Sudah lama Raja tidak mengalami situasi

ini, itulah kenapa bonding-nya ratusan tahun terakhir mentok di Level Enam. Tapi saat ini, dia mengalami situasi hidup­ mati. Genting. Jika dia tidak melakukan sesuatu, riwayatnya tamat.

Maka persis di detik terakhir, Ketika N-ou siap mengalahkannya, Raja juga bisa meningkatkan level bonding-nya. Naga itu yang pertama kali meraung marah.

"ROOOAARR!" Membuat dinding-dinding gunung bergetar hebat.

"ARGGG !" Raja ikut berteriak. Level Tujuh itu aktif.

Naga itu lompat ke udara, tubuhnya bergetar hebat. Sisik-sisik tebal itu seperti dilapisi cat hitam pekat yang baru. Berkemilauan. Tanduk di kepalanya bertambah panjang. Uap yang keluar dari mulutnya semakin panas, dan api yang tersembur berubah menjadi biru.

"lni menakjubkan! Seru Raja, tubuhnya telah berdiri di antara kepul debu.

N-ou memasang kuda-kuda. " M eong. Si Putih bersiap.

"Aku sudah lama sekali tidak merasakan sensasi ini. Raja tertawa lantang, "Sudah terlalu lama. Hingga aku lupa, inilah sensasi hebat yang kut unggu-tunggu.N-ou menyilangkan tangannya. Tetap menunggu.

Pak Tua menahan nafas.

Ronde ketiga akan dimulai. Level Tujuh versus Level Tujuh.

***

Raja Gunung Timur melesat maju, splash, teleportasinya sangat cepat, splash, telah muncul di depan N-ou. BUM! Pukulan berdentum itu menghantam tameng transparan.

BUM! BUM!

"Kamu bukan lawanku!" Teriak Raja. Tameng itu hancur lebur.

Splash. N-ou menghindar, mundur ke belakang. Splash. Membangun pertahanan baru di sana. Raja mengeJarnya. BUM! BUM! Tamengnya kembali hancur.

"Begitu cara mengmm pukulan berdentum, anak muda ! Bukan dengan pukulanmu yang lemah." Raja tertawa meremehkan.

Splash. Splash. Terus mengejar.

Pak Tua yang menyaksikan pertarungan dari dinding ruangan memejamkan mata. Bukan karena ngeri, atau kasihan melihat N-ou yang terdesak, melainkan matanya terasa perih. Gerakan mereka terlalu cepat untuk diikuti dengan mata penduduk biasa. Siluet bayangan mereka dibalik kabut dan uap panas hanya menyisakan bayangan hitam yang bergerak kesana-kemari.

Situasi Si Putih juga terdesak. Kucing itu masih bisa menabrakkan tubuhnya ke Naga, tapi dengan sisik-sisik baru itu, dia seperti menabrak tembok. Naga itu tidak bergeming. Serangannya sia-sia. Dan setiap kali dia selesai melepas serangan, pertahanannya terbuka.

ROAAAR!" Naga meraung, balas menyerang.

Api birunya menyembur.

CTAR! Ekor Si Putih balas memukul. Kesiur angin dingin menusuk tulang.

Tidak semua api itu berhasil dibekukan sekarang, ujungnya masih menyambar panas. Splash. Si Putih bergegas lompat menghindar sebelum api biru memanggangnya. Splash. Muncul di sisi lain. Naga menyusul memukulkan ekornya, BRAK! Lantai merekah, tanah retak. Debu berterbangan. Splash. Splash. Si Putih muncul di dinding ruangan. Menjauh.

ROAAA R!" Kau tidak akan bisa lari.

Naga itu melesat terbang.

Si Putih berlarian di dinding ruangan, seperti itu lantai datar-alih-alih dinding vertikal.

BRAK! BRAK!

Naga mengejarnya, terus memukulkan ekor di dinding. Si Kucing lincah menghindar. Bebatuan karang rontok dari dinding. Berdebum berjatuhan. Dua hewan itu bertarung sengit di atas sana. Si Putih masih bisa bertahan karena dalam situasi genting, dia bisa melakukan teleportasi, sementara Naga besar itu tidak bisa melakukannya. Tapi Si Putih sama sekali tidak bisa menyerang. Sisik tebal milik Naga tidak bisa ditembus dengan teknik bertarung miliknya. Kucing itu terus lompat, berlarian, di dinding ruangan.

Sementara di sisi satunya, N-ou mulai kehabisan tenaga.

Dia kalah stamina. Raja Gunung Timur telah berlatih ratusan tahun. Staminanya lebih tangguh. Tepatnya, Raja tahu bagaimana mengatur energinya

dilepaskan, agar bisa bertahan dalam pertarungan durasi panjang.

Sudah nyaris satu jam pertarungan epik itu berlangsung. Aula Singgasana hancur lebur, tidak tersisa kemegahannya. Dinding berlubang, lantai dipenuhi serakan batu. Di luar sana, penduduk ibukota hanya bisa berdiam diri di rumah masing-masing. Mereka merasakan lantai yang bergetar setiap kali pukulan berdentum dilepaskan. Perabotan yang tergantung bergoyang. Anak-anak menangis. Meringkuk ketakutan.

Penduduk tidak bisa mengungsi karena pintu baja masih menutup mulut gua. Pengunjung tertahan di diluar, sebagian besar kembali ke seberang danau.

Satu-satunya kabar baik yang tersisa, dua penunggang Phoenix telah berhasil melumpuhkan lawan-lawan di halaman lstana. Mereka bergegas menuju lorong

panjang itu, bergabung bersama Pak Tua, menatap pertarungan sengit di depan sana.

"ltu bukan lagi Level Enam." Salah-satu dari mereka mendongak.

"ltu Level Tujuh." Rekannya berseru.

"Tidakkah kalian bisa membantu N-ou dan Si Putih?" Pak Tua bertanya dengan suara gentar. Daritadi dia tidak bisa melihat pertarungan. Terlalu cepat, juga udara terlalu panas. Kursi rodanya telah mundur bergeser ke lorong.

"Tidak ada yang bisa mendekati pertarungan itu, Pak Tua. ltu diluar level siapapun."

Pak Tua mengusap wajahnya. Bagaimana jika N-ou kalah?

"Percayalah dengan anak muda itu, Pak Tua. Percayalah dengan kucing putih itu." Penunggang Phoenix membesarkan hati.

Pak Tua menghela nafas.

"BUM!"

Sekali lagi suara berdentum terdengar. Lantai lorong bergetar hebat. Dinding­ dinding runtuh. Tinju Raja barusaja menghantam tameng transparan N-ou. Untuk kesekian kalinya.

Tubuh N-ou terpelanting di udara. Splash. Splash. Raja mengejarnya. BUM! BUM!

N-ou mati-matian menghindar.

Splash. Splash. Gerakan Raja masih sama cepatnya, tidak berkurang. Sementara gerakan N-ou semakin lambat. Tenaganya terkuras habis.

BUM!

Tinju Raja telak menghantam tubuk N-ou yang terlambat membuat tameng transparan. Tubuhnya terlempar hingga menabrak dinding ruangan. BRUK!

Di saat yang bersamaan, Si Putih juga terkena hantaman ekor Naga. Selincah apapun dia menghindar, tetap saja serangan itu akhirnya mengenainya.

BRAK! Separuh tubuh Si Putih terbenam ke dalam dinding. Untuk kemudian, jatuh meluncur ke bawah. Bersisian dengan N­ ou.

PUT!" N-ou yang juga meluncur jatuh berseru.

 Meong." Si Putih menoleh.

Ka mu baik-baik saja?"

Meong." Tubuhnya remuk terkena hantaman ekor bersisik baja itu.

"Kita masih bisa menang, Put!" N-ou tersenyum.

"Meong."

Tubuh mereka meluncur dari dinding. Sesekali terkena tonjolan batu karang. Terbanting kiri-kanan, mengaduh (dan mengeong) pelan.

"Aku selalu senang bermain denganmu,

Put." N-ou menoleh lagi "Meong."

"lni permainan yang seru, bukan?" "Meong."

Mata mereka saling bertatapan, lima meter lagi tubuh mereka akan terhempas menghantam reruntuhan batu di bawah sana. Bola mata hitam N-ou memantul di bola mata kuning Si Putih. Dan sebaliknya, bola mata kuning Si Putih memantul di bola mata hitam N-ou.

lni hanyalah permainan yang seru, bukan?

"MEOOONG !Si Putih mengeong lantang. Membuat dinding ruangan bergetar. Benar, ini hanyalah permainan yang seru, bermain bersama teman terbaiknya.

Maka mari kita naikkan level keseruannya.

"ARRGGHH ! N-ou ikut berteriak. lni hanyalah permainan....

Tubuh Si Putih mengalami transformasi. Bulunya berubah. Tidak lagi hanya putih, tapi tumbuh bulu-bulu hitam. Entahlah, apakah sekarang kucing itu berwarna putih dengan corak-corak hitam. Atau sebaliknya, kucing itu berwarna hitam denga corak-corak putih. Jumlah dan lebar warna putih, sama banyaknya dengan warna hitam. Telinganya semakin

runcing ke udara. Warna bola matanya juga berubah hijau. Bonding Level 8 telah diaktifkan.

Splash. Splash. Dua tubuh itu menghilang dari pandangan persis sebelum menghantam lantai. Splash. Splash. Muncul di tengah ruangan, di belakang Raja dan Naga-nya.

Raja Gunung Timur bergegas membalik tubuhnya, termangu. Menatap transformasi lawannya. Naga di sebelahnya menggerung. Kali ini suaranya tidak terdengar sebuas sebelumnya.

"Apa yang t erjadi?  Pak Tua mata. Hanya debu dan depannya.

membuka kabut di

"Pertarungan telah selesai. Jawab salah­ satu penunggang Phoenix.

"Anak muda itu telah menaikkan lagi levelnya."

"Astaga? Level Delapan?"

"lya."

"Bagaimana dengan Raja?"

"Raja dan Naga tidak akan punya kesempatan. Mereka tidak memiliki bonding sehebat anak muda dan kucingnya. Level Tujuh adalah batas atas untuknya."

Di tengah ruangan, N-ou melangkah maju mendekati Raja dan Naga.

"Meong." Si Putih juga maju. Ekornya tegak ke belakang.

Raja segera bersiap. Dia tidak akan menyerah begitu saja, peduli amat dengan level lawannya sekarang. Naga juga menggerung.

Tetapi sisa pertarungan berakhir dengan cepat.

Ketika Si Putih telah lompat lebih dulu.

Dia melepas teknik paling hebat yang belum pernah disaksikan penduduk Klan Polaris.

"MEOOOONG !

Kucing itu mengeong kencang ke arah Raja dan Naga.

ltu adalah Teknik Suara. Ketika energi suara diubah menjadi senjata mematikan. Ditembakkan dari rahangnya. Gelombang suara itu menghantam dinding gunung. Membuat lubang besar tembus hingga ke sisi luar. Mengerikan melihatnya.

Si Putih tidak mengincar Raja dan Naga, dia sengaja melepas teknik itu beberapa meter di atas mereka. Tapi itu pesan yang

jelas sekali. Jika dia mau, jangankan Raja dan Naga, seluruh Gunung Timur bisa runtuh oleh suara meong-nya barusan. Raja tersungkur di lantai, walaupun serangan itu tidak mengenainya, tapi imbas serangan cukup membantingnya jatuh. Juga Naga itu, terpelanting. Kali ini sisik-sisik tebal itu terlihat bergetar. Tidak cukup kuat lagi.

Si Putih maju lagi. Mata hijaunya menatap tajam Naga.

"Meong." Tunduk!

Naga itu menurut, menundukkan kepalanya. Geramannya melemah. Gemeretuk api biru dari mulutnya mulai padam.

"Meong." Pergi dari sini.

Naga itu mengangguk.

"Meong." Bawa dia. Jangan pernah kembali.

Sekali lagi Naga itu mengangguk.

Kaki depannya meraih tubuh Raja yang masih tersungkur. Lantas terbang ke udara, menuju lubang besar yang barusaja terbentuk dari serangan Si Putih.

Siang itu, apa yang harus diselesaikan telah diselesaikan. Raja Gunung Timur telah kalah, diusir dari ibukota E-sok. Dia membayar perbuatannya lima tahun lalu.

Aula Singgasana lengang sejenak. Naga itu mulai hilang dari pandangan. Tiba di sisi luar gunung, terbang melintasi danau, membawa Raja entah kemana.

Si Putih mendongak ke N-ou-yang juga menoleh ke arahnya.

"Kita menang, Put." "Meong."

N-ou tertawa. Menyeka wajahnya yang kotor oleh debu.

/ya. Topi aku lapar. ltu maksud meongan tersebut.

***

Ekor panjang Si Putih bergerak mengibas debu di sekitar. Dia melangkah menuju pintu lorong, mensejajari Langkah N-ou.

Tubuh mereka terlihat.

Pak Tua berseru senang. Mengepalkan dua tinjunya ke udara. Yes! Yes! Mereka berhasil mengalahkan Raja. Jenggot Pak Tua bergoyang-goyang. Dua penunggang Phoenix tertawa.

Saking senangnya, Pak Tua tidak sengaja menarik tuas kemudi, kursi roda itu meluncur deras, tersangkut bongkahan batu, membuat Pak Tua terjatuh, tersungkur.

"Meong!" Si Putih berseru. Lihat, Pak Tua mau bermain guling-gulingan.

SI Putih berlarian lompat 'menerkam' Pak Tua. 'Memitingnya'. Berguling.

"Meong."

"Aduh, lepaskan aku, Buntut Panjang!"

"Meong?" Pak Tua bukannya tadi ngajak main.

N-ou tertawa, menerjemahkan maksud meoangan itu.

"Enak saja. Aku tadi jatuh. Siapa pula yang mau mengajak kamu bermain." Pak Tua beranjak berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu.

"Meong." Dasar nggak asyik.

Si Putih kembali melenggang menuju lorong.

N-ou membantu Pak Tua kembali menaiki kursi roda.

Tiba di lorong. Tempat dua penunggang Phoenix dan burungnya menunggu.

"ltu tadi hebat sekali, anak muda." "Dan kucing itu, hebat-"

Kalimat itu terhenti. Tidak ada debu atau kabut tebal di lorong, mereka bisa melihat lebih jelas kucing itu. Si Putih, kulitnya ternyata tidak lagi putih. Meskiupun bonding itu tidak aktif, tapi bulu Si Putih tidak kembali normal, tetap memiliki corak-corak hitam.

"Meong?" Ada apa?

"Bulumu, Put. Berubah." N-ou jongkok, menepuk-nepuk bulu yang berdebu.

Si Putih menggerakkan kepalanya. Memeriksa. Benar. Tubuh dan ekornya, tidak lagi putih. Ada corak hitam di sana.

Warna bola matanya juga tidak lagi kuning, berubah menjadi hijau.

"Meong." Bogus. Aku suka.

N-ou mengangguk. lni sama keren dengan sebelumnya.

"Mungkin kita perlu panggilan baru, Put. Si Putih Hitam? Si Hitam Putih?"

"Meong." Tidak usah.

"Okay, Put."

Si Putih melangkah santai melintasi lorong. Perutnya lapar, ada yang lebih penting diurus dibandingkan Aula Singgasana yang hancur lebur. Atau Jenderal Uh-lhar yang mulai siuman, dan empat anggota baru Dewan yang menatap gentar mereka. Atau Pengendali Hewan 6 gorila yang terduduk saat mereka lewat.

N-ou melangkah di belakang Si Putih. Urusannya juga telah selesai di ibukota. Dia tidak tertarik dengan kekuasaan dan jabatan. Dia hanya ingin berpetualang, melanjutkan perjalanan. Mengelilingi Klan Polaris. Ziiing. Pak Tua menyusul dengan kursi rodanya. Rombongan itu tidak akan lengkap tanpa Pak Tua yang selalu cerewet, bicara ketus, dan suka bertengkar dengan Si Putih.

"Kemana kita sekarang, Put?" "Meong." Cari makanan.

-- Next Chapter--

Epilog

Seharusnya kisah ini ditutup di sini. Maka kalian akan menutup halaman terakhir dengan tenang dan nyaman. Tapi sayangnya, kisah ini justeru baru dimulai.

Maka maafkanlah, kisah ini harus ditutup dengan sebuah kejadian penting. Yaitu kejadian satu minggu kemudian. Jangan bersedih hati, jangan marah, jangan jengkel membacanya. Karena itulah bagian dari realitas kisah ini.

lbukota E-sok kembali normal.

Dengan perginya Raja Gunung Timur, ibukota membutuhkan penguasa baru. Dua penunggang Phoenix mengambil-alih kursi singgasana. Jenderal Uh-lhar memutuskan bergabung dengan kekuasaan baru, dan berjanji mengubah banyak hal, terutama diskriminasi antara

penduduk biasa dan Pengendali Hewan. Perubahan besar sedang terjadi di Kawasan Timur.

N-ou, Si Putih, dan Pak Tua melanjutkan perjalanan. Mereka menaiki Paruh Perak, dilepas oleh ribuan penduduk ibukota yang melambaikan tangan sejak dari dalam perut gunung. Lebih banyak lagi yang melambaikan tangan di jembatan batu. Bersorak-sorai.

"Ayah! Lihat, itu Pengendali Hewan hebat dengan kucingnya."

"lya, aku sempat melihat kucing itu pas mereka naik kapal. Lucu sekali." Timpal temannya.

"MEONG!" Si Putih mengeong protes di atas Paruh Perak-dia mendengar percakapan.

"Tapi meski imut, kucing itu hebat sekali, loh!"

"Meong!" Si Putih mengangguk senang. Ekornya bergelung.

Benda terbang itu meluncur meninggalkan Gunung Timur.

Menuju Kota E-um, tempat N-ou lahir, dan menjadi sumber masalah baru tersebut.

Mereka memerlukan enam hari perjalanan untuk tiba di kota E-um.

Siang itu, benda terbang itu kembali ke asalnya. Kota itu masih seperti dulu. Lengang. Dengan Gedung-gedung tinggi yang gompal, runtuh separuh. Tumbuhan memenuhi taman kota, jalanan, teras apartemen, mall, dan sebagainya. Hewan liar berlarian di kota. Hewan dan tumbuhan mengambil-alih kota.

Paruh Perak mendarat di dekat dinding transparan setebal seratus meter itu.

Apa yang hendak mereka lakukan?

ltulah juga yang menjadi sumber masalah tersebut.

Pak Tua punya teori, bahwa Teknik Suara yang dilepaskan oleh Si Putih, bisa menembus dinding transparan tersebut. "Gunung pun bisa tembus, apalagi dinding itu. Buntut Panjang bisa melakukannya." Jelas Pak Tua seminggu lalu sebelum meninggalkan Gunung Timur.

N-ou sejatinya telah melupakan keinginan berkumpul dengan Ayah dan lbu-nya. Dia tahu, Ayah dan lbu-nya baik­ baik saja di sana, melanjutkan kehidupan, sama seperti dia yang baik-baik saja di sisi Timur. Tapi teori itu terlalu menggoda untuk diabaikan. Bagaimana jika Si Putih memang bisa melakukannya? Bagaimana jika dia bisa bertemu beberapa menit dengan Ayah dan lbu, hanya untuk

menyapa, lantas kembali lagi ke sisi Barat. Maka berangkatlah rombongan itu. Enam hari perjalanan, tiba di Kota E-um saat kabut mengambang di sekitar.

N-ou dan Si Putih berlompatan turun.

Pak Tua berpegangan dengan jendela benda terbang, ikut merosot turun.

N-ou mendongak menatap dinding transparan itu. Di titik inilah dulu pintu lorong evakuasi berada. Di titik inilah juga dulu dia terpisah dengan Ayah dan lbu. Detektor menolaknya masuk, virus itu telah menginfeksinya. Dia hanya bisa menangis menatap benda terbang yang membawa Ayah dan lbunya pergi.

"Kamu siap, Put?"

Si Putih mengangguk. Dia telah siap dari tadi.

Empat kakinya mencengkeram tanah.

Bonding Level 8 diaktifkan.

N-ou menghela nafas sekali lagi. Dia siap. Jika Teknik itu gagal, dia telah siap menerimanya. Toh, dia memang telah melepaskannya dengan lega.

Masalahnya, Teknik itu berhasil.

"MEOOONG!"

Suara meong Si Putih ditembakkan ke dinding. Bagai peluru. Gelombang suara itu membuat lubang panjang di dinding transparan, tembus hingga sisi sana.

"Astaga!" Pak Tua berseru tertahan. N-ou menatapnya tak percaya.

Lubang itu telah terbuka. Setelah lima tahu sia-sia. Siang itu mereka bisa membukanya. N-ou bisa bertemu dengan Ayah dan lbu. N-ou melangkah cepat

memasuki lubang di dinding, lantas melesat, melakukan teleportasi. Splash.

Sayangnya, persis N-ou berada di dalam lubang itu, saat Si Putih juga hendak menyusulnya masuk, dari balik kabut, terdengar raungan kencang.

"ROAAAR !"

Naga bersisik hitam itu muncul dengan Raja di punggungnya. Kaki-kaki Naga cepat sekali menyambar Si Putih, membawanya terbang, sebelum sempat Si Putih melawan.

N-ou yang sudah separuh jalan berseru marah. Splash, bergegas hendak kembali. Tapi dia lupa, jika dinding transparan itu adalah teknologi frekuensi suara. Bukan dinding gunung, yang sekali dilubangi, maka lubang itu permanen ada di sana. Sisi di sebelah Timur kembali menutup

karena Si Putih telah menghentikan tembakannya.

N-ou berteriak. Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak bisa menembus dinding itu untuk kembali ke sisi Timur, bahkan dia sekarang dalam situasi bahaya. Karena dia bisa terkunci di dalamnya jika tidak segera bergerak. Splash, N-ou meneruskan gerakan menuju s1s1 Barat. Dengan harapan Si Putih bisa melepas teknik itu lagi, melubangi dinding. Splash. N-ou mendarat di permukaan tanah sisi Barat. Menatap seratus meter di seberangnya. Berteriak memanggil Si Putih. Menyuruhnya melepas lagi Teknik Suara tersebut.

Masalahnya, bonding itu telah terputus.

Si Putih mengeong kencang, menyerang Naga, berhasil melepaskan diri, lompat kembali ke tanah. Hendak mengeong

kencang menyerang Naga dengan Teknik tersebut. Tapi kekuatannya mulai pudar. ltu hanya meong pelan. Dia membutuhkan ikatan unik dengan manusia agar kekuatannya kembali. Tanpa itu, dia hanyalah kucing biasa.

ROAAAR!

Naga mengambang di udara, menatap remeh Si Putih. Raja ikut tertawa bahak. ltulah yang dia rencanakan saat tahu N­ au akan mencoba menembus dinding tersebut.

"Meong." Si Putih lompat kesana-kemari, mencari N-ou.

Tapi yang dicari telah ada di sisi barat, terpisah seratus meter.

"Meong." Si Putih kembali lompat. Kasihan sekali melihat kucing itu.

Pak Tua berteriak marah ke arah Naga dan Raja. Tapi apa yang bisa dia lakukan?

"HABISI KUCING ITU!" Raja berteriak.

ROAAAR!

Naga itu mendekat, siap menyerang Si Putih. Menghabisinya.

Tanpa N-ou dia jelas bukan lawan Naga. Kaki-kaki Naga siap meremuknya.

"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan melakukannya, anak muda !"

Seseorang telah muncul di depan Naga. Mengambang di udara.

Raja menoleh. Naga mengangkat kepalanya. Serangannya tertahan.

"Apa maksudmu, hah?" Raja berteriak.

"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan melakukannya, anak muda !" Orang itu mengulangi kalimatnya. Sama persis.

Raja menggerung, ini menjengkelkan. Tapi mengherankan. Satu,

sangat sekaligus bagaimana

caranya, orang ini, seorang wanita usia

empat puluh tahunan, mengambang di udara. Seolah dia bisa terbang. ltu teknik yang fantastis. Dan dua, bagaimana rumusnya wanita ini memanggilnya 'anak muda', seolah dia lebih tua dibanding Raja?

"Siapa kamu, Nona?" Raja membentak. Wanita berpakaian gelap itu tersenyum.

"Namaku Gill. Tapi kamu bisa memanggilku Bibi Gill."

"Aku memanggilmu, kosong."

B"Ib "I.?

Omong

"Aku tahu usiamu empat ratus tahun. Tapi percayalah itu panggilan yang tepat."

Pak Tua yang menyaksikan percakapan dari kursi roda terdiam. Sejak tadi dia mengenali wanita yang tiba-tiba muncul. Mereka pernah bertemu di rest area lubang besar. Teringat jika waktu itu

wanita ini juga dipanggil Nona. sebenarnya.

awalnya keberatan Berapakah usianya

"Meong." Sementara itu, Si Putih, masih lompat kesana-kemari. Kucing menggemaskan itu mencari N-ou. Wajahnya terlihat sedih. Ekor panjangnya terseret di tanah. Tidak ada lagi kekuatan itu.

"Menyingkir dari sini!" Raja berseru.

Wanita berpakaian gelap itu menggeleng. Dia tidak akan pergi.

"Aku akan mengajarimu sopan-santu !" Raja membentak ke arah wanita berpakaian gelap. Naganya menggerung

marah. Mereka telah mengaktifkan bonding Level Tujuh. Kapanpun siap menyerang.

Wanita berpakaian gelap itu mengusap keningnya, "Wahai, aku tidak menyangka jika klan ini dipenuhi orang-orang bodoh seperti ini."

ROOAAAR!!

Naga telah menyerang. Pertarungan itu meletus.

***

*bersambung ke "BIBI GILL"

Bab Bonus: Liburan

ILY terus meluncur turun memasuki ruangan menakjubkan itu. Sejak pintu ruangan itu dilewati, hamparan hutan, pegunungan, dengan danau jernih di tengahnya seketika terlihat. Persis di tengah danau itu, sebuah bangunan bersejarah berdiri gagah. Ruangan itu simetris empat sisi. Tidak ada yang bisa membayangkan, ternyata di perut Klan Bumi ada ruangan seindah itu.

ltulah Bor-O-Bdur yang legendaris.

Ali menarik tuas kemudi ILY, mendaratkannya di pelataran bawah Bor­ O-Bdur. Mengambang setengah meter, mereka berlompatan keluar.

"WAHAI! Kita kedatangan tamu istimewa. Nglanggeram berseru riang. Matahari barusaja terbit, wajahnya

terlihat cerah. Mereka sengaja datang di waktu yang peta, saat Ceros dalam wujud manusianya.

"Benari Wahai, ini kejutan yang menyenangkan.  Sahut saudara kembarnya, Nglanggeran.

"Hai, Ceros, apa kabar?" Seli bertanya.

"Kabar kami baik, Seli. Kalian membawa apa?"

Nglanggeram menatap bungkusan yang di bawah Seli.

Seli tersenyum, mengulurkan bungkusan itu. Makanan. Dia sengaja tadi mampir sebelum berangkat, selama ini, Ceros selalu repot menyiapkan makanan untuk mereka. Sekali-kali mereka yang membawakan makanan. Siapa tahu dua saudara kembar ini suka.

"Kenapa kalian mendadak datang ke sini?" Nglanggeram bertanya ke Seli.

"Klan Bumi lagi kena pandemi. Tidak boleh berkumpul di sana, jadi kami pergi ke sini. 

Raib lebih dulu tersenyum menjelaskan.

"Siapa, Ra?" Sahut Ali.

"Siapa apanya?" Raib menoleh.

"Siapa yang nanya kam u. Ali berkata santai, "Jelas-jelas Nglanggeram bertanya ke Seli.

Arggh, Raib nyaris mengirim pukulan berdentum. Tapi batal, dia tidak akan kesal di hari yg baik ini. Biar sajalah Ali nyebelin. Terserah.

"Ah, pandemi itu. Aku turut sedih mendengarnya. Semoga semua cepat berlalu, kalian bisa Kembali sekolah, juga

bebas bepergian kemana-mana di atas sana.  Nglanggeran mengangguk.

Raib dan Seli ikut mengangguk.

Nglanggeram membuka rantang, melihat 1smya, berseru, "Wahai, kalian membawakan kami pizza. Bukan main."

"Kalian tahu masakan itu?" Seli sedikit kecewa, tadi dia semangat membawanya, dibela-belain mampir ke restoran pizza itu, mengira itu akan jadi surprise untuk Ceres.

"Tentu saja, Seli.  Nglanggeram tertawa, "Kami yang mengajarkan membuat masakan ini. Ternyata Klan Bumi masih menyukainya."

"Baiklah, mari kita makan. Saudara kembarnya menoleh, berseru ke atas bangunan Bor-O-Bdur-ada seseorang duduk di sana sejak tadi, "Hei, Tanpa Mahkota, kemarilah."

Sayangnya, Si Tanpa Mahkota yang sedang duduk di stupa paling tinggi tidak mau mendekat. Dia pura-pura tidak mendengarkan panggilan.

"Kenapa dia?" Ali bertanya.

"Entahlah. Mungkin masih kesal dengan kalian.

"Atau mungkin dia tidak suka pizza." Ali nyeletuk, "Makanya, tadi kamu seharusnya membawa nasi goreng, ayam goreng lebih banyak lagi jenis makanan lain. Lihat tuh, Si Tanpa Mahkota tidak mau bergabung bersama kita."

Nglanggeram tertawa. Dia tahu Ali sedang bergurau.

"Wahai, biarkan saJa dia sendirian di sana, mari kita makan-makan."

"ltu lebih baik. Mungkin butuh waktu lebih lama lagi hingga dia mau menyapa orang lain." Timpal Nglanggeran.

Demikianlah. Ali, Raib dan Seli sedang liburan di ruangan Bor-O-Bdur. Mereka menghabiskan bersama-sama pizza itu sambil menatap matahari terbit di dinding ruangan. Sayangnya, Batozar tidak bisa ikut bersama mereka. Batozar sedang pergi ke Zaramaraz.

---------   T A M A T    ---------

BCA Bank BCA
E-Wallet Dana / OVO / Gopay

Terima kasih, semoga rezekinya terganti dan berlipat ganda. Amin.