Bab 1 – Ada yang Mengintip
Namaku Joice, umurku sekarang sudah 25 tahun. Waktu menikah, umurku memang masih muda, yaitu sekitar 18 tahun. Walaupun sempat tidak setuju, anakku satu-satunya tetap disekolahkan di luar negeri oleh Mas Bram, -suamiku. Tepatnya di Australia yang masih tetangga negara kita Indonesia.
Mas Bram beralasan, ia ingin mendapatkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Dan kebetulan, kedua orangtuanya yang memang sekarang tinggal di Australia, sangat mendukung keputusan suamiku.
Di rumah, aku tinggal hanya berdua dengan suamiku beserta dua orang assiten rumah tangga yang bekerja hanya untuk membersihkan perabotan rumah serta taman-taman di halaman rumah sampai menjelang senja mereka baru pulang.
Mas Bram seorang pengusaha yang terbilang sukses, ia memiliki beberapa perusahaan di dalam negeri, bahkan hampir di satu benua asia memiliki cabang serta anak-anak perusahaannya. Semua kesibukan suamiku membuatnya sangat jarang berada di rumah. Terus terang, aku selalu merasa kesepian.
Mas Bram hanya sesekali berada di rumah, itupun hanya untuk istirahat, ganti baju dan tidur. Lalu, saat matahari terbit, ia sudah kembali lenyap dalam pandangan mataku, bahkan tidak jarang kepergiannya saja tidak aku ketahui. Karena memang suamiku jarang membangunkanku untuk sekedar pamit, dan itu sangat mengecewakanku. Aku ulangi, “Sangat Mengecewakan!”
Sebelum anakku menuntut ilmu di luar negeri, hari-hariku masih terasa menyenangkan, karena mungkin masih ada yang dapat aku kerjakan, entah itu untuk mengantarkannya ke sekolah ataupun membantunya menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, seperti membaca, menulis, menggambar atau mewarnai.
Namun, baru saja enam setelah anakku berada di luar negeri, hari-hariku benar-benar terasa sepi dan membosankan. Terlebih lagi jika Mas Bram sedang berada di luar negeri untuk mengurus semua urusan bisnisnya, ia bisa meninggalkan aku sampai 2 minggu lamanya. Selama itu, semuanya benar-benar terasa membosankan.
Aku memang tidak pernah ikut campur urusan bisnis suamiku. Dan rasa bosan itu akhirnya membawaku menjelajah ke berbagai tempat dan mall-mall yang sekiranya dapat menghiburku walau hanya sekedar jalan-jalan, belanja ataupun melakukan perawatan kecantikan dan tubuh sampai pergi ke klub senam di kotaku.
Sampai suatu hari, tiba-tiba rasa sepi di hatiku berubah total karena kelakuan nekat Jaka, -supir pribadiku. Suatu hari, setibanya di rumah dari tempatku biasa melakukan kegiatan senam, tanpa aku duga sama sekali, Jaka berani menyatukan tubuhnya secara paksa kepadaku.
Sore itu menjelang malam, semua assisten rumah tanggaku sudah pulang. Seperti biasa, sesampainya di dalam rumah aku segera membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam, lalu melangkahkan kedua kakiku menaiki anak tangga yang melingkar menuju lantai dua di mana kamar utama berada.
Kebiasaanku jika sudah berada di dalam kamar adalah melemparkan tas ke meja rias dan segera melepaskan semua pakaian senamku yang berwarna merah yang melekat di tubuhku, hingga yang tersisa hanyalah sebuah bra yang melingkari dada serta celana paling dalam yang berbentuk segitiga di bagian dalam tubuhku, seolah aku ingin terbebas dari semua pakaian yang melekat ditubuhku seharian.
Aku lalu berjalan menuju ke ruang kamar mandi, melewati meja rias yang terdapat kaca besar di dalam kamarku. Untuk sesaat, aku memandang ke arah cermin yang memantulkan tubuhku. Betis yang masih kencang dan berbentuk mirip perut padi itu untuk beberapa saat aku putar perlahan, membuat tarian-tarian kecil. Lalu, mataku mulai beralih ke pinggulku yang besar seperti bentuk gitar dengan pinggang yang kecil, kemudian aku menyampingkan tubuhku hingga bokongku terlihat menonjol dengan kencangnya.
Dalam hati aku sempat berkata, “Apa Mas Bram tidak pernah lagi tergoda melihat tubuhku? Mengapa ia sudah tidak pernah menyentuhku? Apa ia sudah bertemu wanita lain diluar? Ah! Entahlah.” Tanpa terasa aku mendesis pelan sembari mengambil napasku dalam-dalam.
Kemudian, aku perhatikan bagian atas tubuhku, buah dadaku yang masih diselimuti bra berwarna hitam menampakan lipatan bagian tengah, terlihat sangat putih, mulus, padat dan berisi.
Tiba-tiba, kedua tanganku spontan berusaha menutupi sebagian tubuhku saat menyadari ada sesorang yang mengintip ke dalam kamarku.
“Hey! Ngapain kamu!!?” teriakku dengan kencang, kedua mataku tampak melotot ke arahnya.
Aku benar-benar terkejut, ketika aku sedang memuji keindahan tubuhku sendiri, tiba-tiba saja aku kepala Jaka terlihat dari pantulan cermin di meja riasku. Ia tampak menelan air liurnya sendiri sembari berdiri di bibir pintu kamarku yang sedari tadi lupa aku kunci.
“Keluar sana!!!”
Aku membentaknya sekali lagi dengan lebih keras sambil berusaha menutupi sebagian tubuhku yang tidak tertutupi busana lain selain pakaian paling dalam.
Jaka bukannya takut, ia malah dengan sengaja membuka pintu kamarku semakin lebar, lalu melangkahkan kedua kakinya, masuk ke dalam kamarku sembari menahan deru napasnya yang terdengar sedikit agak memburu.
“Jaka!! Saya sudah bilang cepat keluar!!!” Aku kembali membentaknya dengan kedua bola mataku melotot ke arahnya. Sementara kedua tanganku semakin kerepotan menutupi tubuhku.
“Teriak sekuat tenaga pun percuma, bu... suara hujan diluar kencang sekali, pasti akan segera melenyapkan suara ibu ....” ucapnya, berkali-kali aku lihat ia menelan air liurnya sendiri sembari menahan napas.
Sepintas aku melihat ke arah jendela yang berada di sampingku, dari sedikit celah yang terbuka, aku bisa melihat sedikit ke arah luar. Hujan sedang turun dengan sangat lebat.
Jendelan di ruangan kamar tidurku memang cukup rapat, sehingga hujan turun dengan deras sekali pun tidak akan terdengar, hanya saja di luar sana dedaunan dan ranting pohon bergoyang tertiup angin kesana kemari dengan cukup kencang.
Perlahan, detik ke detik langkah kaki Jaka semakin mendekat, tanpa merasa takut sedikitpun ia terus saja melangkah pelan menghampiriku. Jantungku semakin berdetak kencang, tiba-tiba saja tubuhku terasa semakin bergetar.
Aku lalu melangkah mundur teratur selangkah demi selangkah berusaha menjauhinya. Saat itu aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya kakiku terpojok di ujung ranjang tempat tidurku.
“Jaka! Ja-jangan!” ucapku, suaraku mulai terdengar bergetar halus.
“Hehe... sudah lama saya tertarik meliat ibu ....” Jaka tampak menyeringai meliatku sudah tersudut di pojok dan hampir menyentuh tembok kamar.
“Jangan!” Aku menjerit sejadi-jadinya saat Jaka yang sudah berjarak satu meteran dariku menerjang hingga tubuhku terpental jatuh di atas ranjang. Lalu satu detik kemudian tubuh Jaka segera menyusulku, menindih tubuhku yang sudah tampak telentang di atas ranjang.
Aku berusaha meronta sekuat tenaga saat Jaka mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya. Perlawananku yang membabi-buta dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kakiku untuk menendang-nendang tubuhnya membuat Jaka sedikit agak kewalahan hingga ia merasa kesulitan saat berusaha mencium wajahku. Sampai akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari himpitan tubuhnya yang besar dan kekar itu. Jaka memang masih muda, seumuran denganku. Tenaganya pun benar-benar kuat.
Merasa mendapat kesempatan untuk dapat menjauh darinya, dengan segera aku membalikkan tubuhku dan berusaha merangkak, namun gerakanku kalah cepat. Jaka berhasil menangkap celana paling dalamku sambil menariknya, hingga tubuhku kembali terjatuh dan terseret ke pinggir ranjang.
Celana paling dalam, kain berbentuk segitiga berwarna putih yang masih aku kenakan adalah satu-satnya yang tersisa yang menutupi area paling sensitif di tubuhku, benar-benar telah tertarik oleh renggutan tangannya. Membuat bagian tubuh belakangku terbuka cukup lebar. Kedua bulatan bokong yang putih, padat dan berisi itu tampak terlihat olehnya. Namun aku masih berusaha merangkak ke tengah ranjang agar dapat menjauhinya.
Bab 2 – Jaka Bergerak Cepat
“Ta-tapi saya ini majikan kamu, Jaka... saya akan laporkan perbuatan kamu!” ucapku mencoba untuk mengingatkan dan mengancamnya.
Tetapi, lagi-lagi aku kalah cepat, Jaka kembali berhasil menangkap tubuhku. Belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak menjauh lagi, tiba-tiba saja pinggulku terhimpit sesuatu yang berat, hingga tidak dapat bergerak lagi.
“Jaka.. Jangan.. jangan.. tolong...” ucapku berulang-ulang sembari terisak. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya, Jaka seperti orang yang sedang kesurupan hingga lupa siapa yang sedang ditindihnya.
Melihat tubuhku yang sudah mulai tampak kelelahan, Jaka dengan cepat menggenggam lengan kananku dan melipatnya kebelakang tubuhku, begitu pula dengan lengan kiriku. Ia kemudian mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya.
“Aaaakhhh! Lepasin Jaka! Apa-apaan kamu!” teriakku histeris.
Jaka benar-benar tidak memperdulikan teriakanku, tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk ke atas.
Saat itu aku merasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku pun mendapat giliran berikutnya, ia mengikat benar-benar mengikat kedua kakiku.
“Saya sudah tidak tahan lagi, bu...” bisiknya di dekat telingaku. Deru napasnya terasa hangat menyentuh daun telingaku. Lalu, sembari mengelus kulit tubuhku, ia kembali berkata, “Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sangat menunggu kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan suara napas yang semakin memburu.
“Ta-tapi saya ini majikan kamu, Jaka... saya akan laporkan perbuatan kamu!” ucapku mencoba untuk mengingatkan dan mengancamnya.
“Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam berarti saya sudah bebas tugas...” sahutnya terkekeh sembari melepas ikatan tali bra yang aku kenakan.
“Hhhmm... uughhh...” Suara desah napasnya mulai memenuhi telingaku. Kedua tangannya semakin berani meraba ke hampir seluruh area tubuhku yang sedari tadi hanya mengenakan pakaian paling dalam saja.
Di antara deru napasnya yang cepat dan tidak beraturan, Jaka kembali berkata pelan, “Malam ini Bu Joice harus mau melayani saya,” ucapnya sembari mendengus, mendekatkan hidungnya di sekitar telingaku. Saat itu juga tubuhku merinding dan terus terang, aku merasa geli.
Setelah Jaka melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, ia lalu membalikan tubuhku hingga telentang. Seketika itu juga, mau tidak mau aku melihat tubuh polosnya. Aku menutup kedua mataku sembari menahan debaran hebat yang mengguncang dadaku.
Tidak lama kemudian, Jaka menekuk kedua kakiku sampai pahaku melekat dan hampir menyatu dengan perutku. Lalu, ia mengikatkan tali lagi pada perutku.
Tubuhku kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian kepala ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang sengaja ia selonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya.
Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku seketika itu juga bersandar di dadanya yang tampak bidang, otot dadanya yang berbentuk itu benar-benar kuat dan kencang. Sedangkan tangan kanannya mulai mejalar, meremas kulit pinggul, paha dan bokongku yang kencang dan putih bersih.
“Ja-jaka... jangan Ja-jaka... jangan!!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata berusaha untuk menyadarkan pikiran kotornya. Namun Jaka sama sekali tidak memperdulikan perkataanku, dengan senyum penuh napsu birahi, ia terus saja meraba-raba paha dan bokongku berkali-kali meremas dan mengelusnya.
“Ooh... Ja-jakaa.... Euh...” tanpa sadar aku mendesis cukup panjang, tubuhku menegang menahan geli, rasanya seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.
Aku memang sudah terlalu lama merasakan belaian dan sentuhan dari Mas Bram, entah sudah berapa tahun ia tidak memberikan nafkah batinnya untukku. Beberapa kali aku sempat mencurigai, mungkin saja Mas Bram sudah mempunyai wanita lain yang lebih cantik dan memikat gairah serta hasratnya.
Lalu, saat aku masih merasakan kegellian itu, telapak dan jemari tangan Jaka tiba-tiba berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku. Seketika itu juga aku kembali mendesis, “Jaka! Eeuumhhh...” rintihanku kini lebih panjang.
Dengan tubuh yang mulai bergetar, aku memejamkan kedua bola mataku saat jari jemarinya mulai mengusap belahan bibir kewanitaanku. Tangan Jaka semakin aktif menyentuh dan bergerak lincah dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan hingga beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan, hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir kewanitaanku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.
Tangannya yang sangat aktif meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir kewanitaanku membuat libidoku naik dengan cepat, apalagi sudah sangat lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan lagi dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk.
Entah siapa yang memulai, saat pikiranku sedang melayang, aku merasakan sesuatu yang hangat dan kenyal menyentuh bibirku, dan saat itu juga tanpa aku sadari kami sudah saling berpagut mesra hingga menjilat, mengecup, menghisap liur yang keluar dari dalam mulut masing-masing.
“Ouuuuh... Joice... kamu benar-benar sangat cantik sekali, sayang....” ucapnya mendesis dengan napasnya yang semakin memburu. Setelah meracau, ia mendorong sedikit tubuhku, hingga kedua bukit kembarku yang menantang kelelakiannya tepat berada di depan wajahnya.
Kemudian, “Oookkhhhh... Jaka... iihhh...” Aku kembali mendesis panjang. Kepalaku tampak menengadah kebelakang, menahan geli yang bercampur nikmat tiada terhingga setelah bibirnya memagut buah di dadaku yang ranum dan segar itu.
Tubuhku meliuk-liuk saat bibirnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil sebutir daging lembut di puncak bukit kembarku sembari sekali-kali menarik dan melepaskannya dengan gigi, lidah serta bibirnya.
Perasaanku saat itu benar-benar bercampur aduk. Antara takut, ngeri bahkan sebal. Namun, lebih dari itu, semuanya benar-benar terkalahkan dengan rasa yang sangat nikmat luar biasa sekali, seakan-akan ada sesuatu yang pernah lama hilang, kini kembali merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah.
“Bruk..”
Tiba-tiba tangan Jaka melepaskan tubuhku yang sedang menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang melambung dan melayang-layang, hingga akhirnya tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku.
Lalu, tidak berapa lama kemudian, bagian bibir kewanitaanku dilumat oelh Jaka dengan sangat buas seperti orang yang sedang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu tubuhku seketika kembali meliuk-liuk dengan sangat hebat.
Rintihan dan suaran eranganku semakin meninggi, menahan rasa geli yang bercampur kenikmatan yang selama ini telah hampir aku lupakan. Sampai-sampai kepalaku bergerak cepat dan menggeleng ke kanan, ke kiri berulang-ulang sembari memejamkan kedua mataku sebelum kemudian kembali setengah terbuka.
Cukup lama bibirnya mencumbu dan melumati area kewanitaanku, tubuhku benar-benar gemetar dibuatnya, terlebih-lebih pada bagian atas lubang unik di area kewanitaanku yang paling sensitif itu.
“Jaka... sudah... sudah... oooohhhh... ampun Jaka... aakkhhhh... sssshhh...” rintihanku semakin panjang, tubuhku yang mengejang-ngejang tidak kuat menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa. Lalu, satu detik kemudian, aku rasa tangannya pun mulai berebutan dengan bibirnya.
Bab 3 – Aku Terhanyut
“Ah... Jaka...” pekikku, ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir di area kewanitaanku. Sedetik kemudian aku merasa telapak tangannya menggosok-gosok bibir di area kewanitaanku itu naik dan turun, lalu kemudian membelah bibir kewanitaanku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan.
Jari tengahnya tiba-tiba dicelupkan ke dalam lorong kecil kewanitaanku lalu mengorek-ngorek isi di dalamnya. Aku kembali mendesis entah untuk keberapa kalinya, “Ooooookkkh... Jaka..”
Aku mendesah, menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri.
“Joice... saya suka sekali harum lendirmu, sayang!” ucap Jaka yang sudah tidak lagi memanggilku dengan sebutan ibu sebagai penghormatannya kepada majikan. Lagipula, usia kami memang seumuran, bahkan mungkin lebih muda dariku.
Suara Jaka yang setengah bergumam itu bercampur dengan kegiatannya yang terus saja menjilat dan menghisap seluruh area kewanitaanku tanpa henti hingga beberapa menit lagi lamanya.
Setelah puas mulutnya bermain dan berkenalan dengan bibir kewanitaanku yang menyegarkan matanya itu, Jaka lalu mendekati wajahku sambil meremas buah di dadaku yang ranum dan kenyal itu sembari berkata, “Joice... saya masukin sekarang, ya sayang...” bisiknya pelan, napasnya benar-benar sudah sangat memburu.
“Aakkkhhh!”
Aku terpekik saat merasakan di belahan pangkal pahaku ada benda tumpul yang cukup keras dan besar mendesak setengah memaksa untuk memasuki lubang unik milikku.
“Tahan sebentar, sayang... tenang... dikit lagi... dikit lagi...”
“Aakkkhhh... sak... kiit...” Aku menjerit cukup keras menahan ngilu yang teramat sangat sampai-sampai duburku rasanya berdenyut-denyut menahan perihnya.
Setelah beberapa detik kemudian, Akhirnya batang kelelakian milik Jaka tenggelam hingga merasuk ke dalam, dibalut oleh lorong lubang kewanitaanku.
Jaka sepertinya sengaja, membiarkan tongkat pusakanya itu berada di dalam tubuhku, diam tidak bergerak untuk beberapa saat lamanya. Lalu, satu detik kemudian, hentakan itu mulai terasa di dalam liang unik milikku. Batang kelelakiannya ditarik dan keluar perlahan-lahan, lalu didorongnya hingga kembali masuk lagi.
Hentakan demi hentakan pinggulnya pelan dan hati-hati, seakan-akan ia benar-benar ingin menikmati gesekan-gesekan pada dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu.
Makin lama, gerakannya semakin cepat dan bertambah cepat sehingga tubuhku berguncang dengan hebatnya sampai tiba-tiba ia mendesis panjang, “Oooookkkkhh...” Tiba-tiba suara Jaka dan suaraku sama-sama beradu nyaring, panjang melengking saat puncak klimaks itu tiba.
Tubuhku yang sempat menegang untuk beberapa saat itu kemudian melemas, bagaikan tidak lagi mempunyai tulang di dalam tubuh. tanpa tulang rasanya. Begitu pula dengan Jaka, ia langsung terhempas ke samping tubuhku.
“Sialan kamu Jaka!”
Setelah beberapa menit mengatur kembali deru napas, aku mendelik ke arah Jaka dan berkata lagi kepadanya dengan nada geram, “Kamu gila Jaka! Sadar gak sih kamu!? Kamu udah memperkosa istri majikanmu kamu sendiri!” ucapkupelan sembari memandang tubuhnya yang masih terkulai di sampingku.
“Bagaimana kalau aku hamil?” ucapku lagi dengan nada kesal.
“Tenang Joice... saya punya pil anti hamil ....” ucapnya dengan tenang.
“Iya... tapi kan udah telat!” balasku dengan nada ketus.
“Tenang... tenang... setiap pagi ‘kan Joice selalu minum air putih, dan Joice tahu, gak? Selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkannya dengan obat anti hamil itu. Jadi Joice enggak usah khawatir bakalan hamil...” ucapnya terkekeh, raut wajahnya tampak tenang dan santai sekali.
“Oh! Jadi selama ini kamu sudah merencanakan ini!? Sialan kamu Jaka!” ucapku, kedua mataku tampak membelalak, aku benar-benar terkejut, ternyata Jaka sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan rapi dan matang.
“Hehee... jadi, bagaimana?”
“Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Jaka!” kataku masih dengan nada yang terdengar kesal dan gemas. Walaupun, aku mengakui sangat menikmati permainannya tadi.
“Maksudnya, tadi itu enak ‘kan?” tanyanya lagi sembari membelai rambutku dengan sangat lembut. Wajahku seketika langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan olehnya. Namun dalam hati kecilku tidak dapat aku pungkiri, walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan orgasme sampai dua kali.
“Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi dengan pandangan matanya yang nakal dan menggoda.
“Iya.. iya... tapi sekarang lepasin talinya dong Jaka!” ucapku menggerutu, lama-lama tanganku terasa pegal dan kaku.
“Nanti saja yah! Sekarang kita mandi dulu!” ucapnya terkekeh dan segera menggendong tubuhku, lalu berjalan ke arah kamar mandi yang berada di samping ranjang dikamarku.
Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih terikat itu diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding.
Setelah itu, Jaka lalu menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air hingga tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu.
Melihat tubuhku yang tersorot cahaya lampu, kulit dan tubuhku yang putih bersih, padat dan kencang itu tampak jelas di kedua bola matanya. Tubuhku yang basah terlihat mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi.
Lalu Jaka pun berjongkok di dekatku, kemudian duduk di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas shower. Kedua bola mata Jaka tampak memandangiku lain dari biasanya, ia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh kasih sayang seperti seseorang yang sedang menyayangi seorang anak kecil.
Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di dalam botol dan menumpahkan pada tubuhku, perlahan, ia mulai menggosok tubuhku dengan telapak tangannya.
Mulai dari pinggul, perut lalu naik ke atas lagi ke buah di dadaku sebelah kiri kemudian ke buah di dadaku sebelah kanan. Tangannya yang terasa sedikit agak kasar itu terus saja menggosok dan menggosok sambil sesekali bergerak memutar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kits.
Sesekali dia meremas dengan lembut buah di dada, dan mengelus sebutir daging kecil di puncak bukit kembarku itu, hingga aku merasa geli dibuatnya. Lalu perlahan ia naik lagi di atas buah di dadaku, pundakku, leherku sampai ke bahuku, kemudian turun lagi ke lenganku.
“Ah... Jaka...” pekikku, ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir di area kewanitaanku. Sedetik kemudian aku merasa telapak tangannya menggosok-gosok bibir di area kewanitaanku itu naik dan turun, lalu kemudian membelah bibir kewanitaanku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan.
Ia lalu kembali menggosok-gosokkannya hingga sabun Lux cair itu semakin tampak berbusa. Setelah memandikan tubuhku, lalu ia pun membasuh tubuhnya sendiri sambil membiarkan tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower.
Usai membersihkan badan, Jaka lalu menggendongku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terlebih dahulu.
“Tunggu, saya akan bawakan makanan ke sini yah!” ucapnya sembari melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya, lalu pergi ke luar kamarku tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk balas mengucap.
Sudah hampir tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan lagi kehangatan yang demikian memuncak, karena keegoisan suamiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Atau mungkin benar Mas Bram sudah mempunyai wanita lain selain diriku. Entahlah.
Dalam hal keuangan aku memang tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti aku dapatkan dari suamiku, namun untuk urusan nafkah batin kepada istrinya, aku sudah lama tidak mendapatkannya lagi darinya.
Entah mengapa perasaanku saat ini agak terasa senang, tenang, nyaman, gembira atau, entah apalah namanya, yang pasti hatiku yang selama ini terasa kosong, berat dan selalu merasa bosan, hilang begitu saja. Walaupun dalam hati kecilku juga ada rasa malu, benci, sebal dan kesal.
Jaka cukup lama meninggalkanku sendirian, saat ia kembali Jaka sudah membawakan masakan nasi goreng dengan telor yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku.
Lalu tubuhku disandarkannya pada teralis ranjang. “Biar saya yang suapin Joice yah!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya.
“Kamu yang masak Jaka?!” tanyaku ingin tahu.
“Iya, siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si Yeti ‘kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata Jaka.
“Ayo makan...” katanya lagi.
Mulanya aku ragu untuk mencicipi nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang sudah terasa lapar, akhirnya memaksaku untuk memakannya sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya itu cukup lumanyan enak juga rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring habis ledis tidak bersisa.
“Hmm, btw, tidak apa-apa saya tetap memanggil kamu, nama? Joice? tanyanya sembari membasuh mulutku dengan tissue basah yang dibawanya dari dapur.
“Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku.
“Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya, hehe.. hmm, kalau saya boleh manggil Joice aja, berarti Joice panggil saya abang aja yah?!” celetuknya meminta dengan tatapan mata genit.
“Terserah kamu saja ” kataku singkat.
“Sudah nggak capai lagi ‘kan Joice?” tanya Jaka kembali.
“Memangnya kenapa!?” tanyaku.
“Masih kuat ‘kan?” tanyanya lagi dengan senyum nakal sembari mulai kembali meraba-raba tubuhku. Aku tidak memberi jawaban apa-apa, hanya menundukan kepalaku malu, sembari berkata dalam hati, “Tadi saja aku dipaksanya malah membuatku puas, apalagi babak yang kedua...” ucapku dalam hati.
Sejujurnya, aku masih tidak rela tubuhku diperkosanya, namun aku tidak mampu untuk menolak permintaannya yang sanggup membuat tubuhku melayang-layang di udara seperti dulu saat aku pertama kali menikah dengan Mas Bram.
Aku tahu ini salah. Tetapi aku masih muda, umurku masih 25 tahun. Dan selama beberapa tahun ini aku sudah tidak di nafkahi secara batin oleh suamiku. Membuat pikiran-pikiran burukku selalu terlintas dalam kepala. Bisa saja Mas Bram pun melakukan hal sama dengan wanita lain di luaran sana. “Lelaki mana tahan bertahun-tahun tidak melakukan hubungan suami istri?” Desisku dalam hati.
Semenjak itu, Jaka benar-benar memperlakukan aku bak seorang ratu di hatinya. Kejantanan dan kelembutannya sangat seimbang, membuatku merasa nyaman. Selanjutnya, aku serahkan pada sang waktu. Jika memang harus berpisah dengan Mas Bram, aku siap. Keluargaku masih terlalu banyak menyimpan harta untuk anak cucu keturunannya, aku rasa aku dapat memulai usahaku sendiri bersama Jaka.
Oh, iya, terakhir. Untuk para suami di luar sana. Tolong, jaga istrinya dengan baik. Perlakukan ia sebagai mana mestinya seorang wanita yang harus dijaga dan disayangi sepenuh hati. Bangun rumah tangga yang harmonis.
Jangan sepertiku. Walau mungkin ini jalan yang sudah ditetapkan untukku, aku tetap merasa bersalah.
--------- Selesai bacanya? ---------
Semoga rezekinya terganti dan berlipat ganda.



Post a Comment