no fucking license
Bookmark
Iklan

Cinta di Sajadah

"Di antara ribuan langkah manusia yang sibuk mengejar dunia, ada doa-doa lirih yang terucap di ujung sajadah—doa yang kadang dianggap sepele, tapi sesungguhnya menjadi jembatan takdir yang tak terlihat."
-- Blurb --
Informasi Cerita :

Judul Cerita

Penulis

Total Chapter

Hak Akses

Genre

:    Cinta di Sajadah

:    -

:    7 Chapter

:    Free/Gratis!

:    Romance

DISCLAIMER!

Karya ini ditulis oleh penulis di luar fraksikata.com.Jika kamu menyukainya, traktir author secangkir kopi lewat tombol di akhir cerita. Bila penulis keberatan, silakan kunjungi halaman ini untuk penurunan atau penyematan no.rek/e-wallet..

FeatureImage

Bab 1

Azan Subuh berkumandang lembut dari masjid kecil di ujung jalan. Suara itu biasa membangunkan sebagian besar warga komplek, kecuali Nadia. Gadis itu lebih sering terbangun oleh alarm ponsel yang berbunyi riuh dengan nada musik Barat favoritnya.

Pagi itu, seperti biasa, Nadia duduk di meja makan dengan secangkir kopi hitam. Rambut panjangnya masih tergerai, dan matanya fokus pada layar laptop. Jemarinya lincah menari di atas keyboard, menyiapkan presentasi penting untuk pekerjaannya di sebuah perusahaan multinasional.

“Nad,” suara berat ayahnya terdengar dari ruang tamu, “setidaknya berhenti sebentar, ikut shalat berjamaah sama Ayah.”

Nadia menoleh sebentar, tersenyum tipis. “Ayah duluan saja. Aku ada deadline pagi ini. Lagi pula, kan bisa shalat sendiri.”

Ayahnya, Ustadz Rahman, hanya menghela napas. Lelaki tua itu sudah puluhan tahun menjadi panutan jamaah di masjid sekitar. Kata-katanya selalu didengar orang banyak. Tapi entah mengapa, untuk urusan anak perempuannya sendiri, ia sering tak berdaya.

“Ayah bukan melarang kamu bekerja. Ayah cuma khawatir. Kamu terlalu sibuk sampai lupa kewajiban,” ucapnya lembut.

“Aku nggak lupa, Yah,” sahut Nadia sambil terus menatap layar laptop. “Tapi caraku menjalani hidup mungkin nggak harus sama persis kayak Ayah.”

Ustadz Rahman menatap putrinya lama-lama. Ada sedih yang ia sembunyikan di balik senyumnya. Dalam diam, ia kembali melangkah ke ruang shalat kecil di rumah itu. Di atas sajadah tuanya yang sudah berwarna pudar, ia bersujud. Bibirnya bergetar, berdoa lirih yang hanya ia dan Allah yang tahu.

“Ya Rabb… jaga anakku. Berikan ia jodoh yang bisa membimbingnya, meski ia sendiri belum tahu apa yang ia butuhkan.”

Di ruang makan, Nadia tidak menyadari ada air mata kecil yang menetes di ujung sajadah ayahnya. Baginya, hidup adalah tentang pilihan bebas, tentang kebebasan menentukan jalan sendiri. Ia percaya cinta pun begitu: datang dari keputusan hati, bukan dari restu doa orang tua.

Ia tidak pernah tahu, bahwa justru doa di ujung sajadah itulah yang kelak akan menggiring langkahnya menuju cinta sejati.


Bab 2

Hujan sore itu turun deras, mengetuk genteng rumah satu per satu. Di ruang shalat kecil yang temaram, Ustadz Rahman kembali menekuri sajadahnya. Punggungnya yang mulai bungkuk tampak bergetar setiap kali ia bersujud lama.

“Nadiahku…,” bisiknya dalam doa, “meski keras kepala, hatinya lembut. Jagalah ia, Ya Allah. Kirimkanlah seorang lelaki yang bisa memegang tangannya menuju jalan-Mu. Seseorang yang bisa menyayanginya tanpa syarat, bukan hanya karena dunia.”

Doa itu mengalir, lirih tapi penuh keyakinan. Seperti percikan air yang menyatu dengan hujan di luar, hilang dalam keabadian.

Di tempat lain, beberapa kilometer dari rumah Nadia, seorang pemuda baru saja selesai merapikan jas putihnya. Fahri, dokter muda lulusan terbaik, baru pulang dari shift panjang di rumah sakit. Tubuhnya lelah, tapi wajahnya tetap tenang. Ia duduk di kamarnya yang sederhana, menyalakan lampu belajar, lalu mengambil wudhu.

Sajadah biru muda terbentang di lantai. Di sanalah Fahri bersujud, matanya terpejam, hatinya bergetar.

“Ya Allah, Engkau tahu isi hatiku. Aku lelah mencari, aku lelah ditanya keluarga kapan menikah. Jika memang sudah ada yang Engkau pilihkan, dekatkanlah. Jika belum, cukupkanlah aku dengan kesabaran.”

Doa itu sederhana, tanpa permintaan berlebihan. Fahri tidak menyebut nama, tidak menyebut rupa. Ia hanya ingin pasangan yang bisa menerima dirinya apa adanya—seorang dokter dengan kehidupan sederhana, tapi penuh niat untuk bermanfaat bagi orang lain.

Waktu berjalan, hari-hari berganti. Doa Ustadz Rahman terus menanjak ke langit dari ujung sajadah tuanya. Doa Fahri pun terulang di setiap shalat malam yang ia sempatkan di sela jadwalnya.

Mereka tidak tahu bahwa jalan yang mereka minta sebenarnya sudah mulai digoreskan. Langkah-langkah yang tampak biasa akan segera saling berpapasan.

Di satu sisi, ada seorang ayah yang menitipkan anaknya pada Allah. Di sisi lain, ada seorang pemuda yang menyerahkan hatinya pada takdir.

Dan di antaranya, ada Nadia—gadis keras kepala yang belum tahu bahwa ia sedang digiring perlahan menuju sebuah pertemuan yang akan mengubah hidupnya selamanya.


Bab 3

Matahari siang itu terasa terik, aspal jalanan memantulkan panas yang menyengat. Nadia baru saja keluar dari gedung kantornya dengan langkah terburu-buru. Tangannya sibuk menggenggam ponsel, matanya terpaku pada layar yang penuh dengan pesan masuk dari timnya.

“Halo, iya, aku lagi di jalan. Tenang, presentasinya sudah aku kirim ke email—” suara Nadia terhenti ketika langkahnya terguncang. Seorang pengendara motor melintas terlalu dekat, membuat tas kecil Nadia terseret jatuh ke jalan.

“Hey!” teriak Nadia spontan, meski suaranya tenggelam oleh bising kendaraan.

Sebelum ia sempat bereaksi lebih jauh, seseorang berlari menghampiri, mengambil tasnya yang hampir terlindas mobil. Lelaki itu mengembalikan tas tersebut dengan wajah sedikit berkeringat.

“Maaf, Mbak. Barusan hampir saja—”

“Thanks,” potong Nadia cepat, merebut tasnya. Ia masih menempelkan ponsel ke telinganya. “Tunggu sebentar, aku lagi sibuk.”

Lelaki itu hanya tersenyum tipis. Tingginya semampai, kemeja putihnya sederhana, dan matanya tenang. Ia tampak ingin berkata sesuatu lagi, tapi Nadia sudah lebih dulu berbalik sambil menutup telepon.

“Kalau jalan tuh hati-hati, Mbak. Jangan sambil main ponsel,” ucapnya dengan nada ramah, tapi jelas.

Nadia mendengus. “Aku bukan main ponsel. Ini kerjaan. Lagian, kamu siapa, sih, sok-sokan ngatur aku?”

Lelaki itu tidak tersinggung. Ia hanya tersenyum sabar. “Saya cuma ingatkan. Dunia ini bukan cuma layar ponsel. Kadang kita harus menoleh sekitar supaya nggak celaka.”

Nadia memutar bola matanya. “Ya ampun, baru ketemu sebentar aja udah kayak ceramah. Thanks for the advice, tapi aku baik-baik saja.”

Tanpa menunggu jawaban, Nadia pergi meninggalkan lelaki itu. Sambil berjalan, ia masih bisa mendengar suara hatinya sendiri: Siapa sih orang tadi? Sok sekali.

Di belakang, Fahri—ya, lelaki itu—hanya menggeleng pelan. Ia tidak marah, bahkan justru teringat wajah keras kepala yang penuh energi itu. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa segera melupakan.

Dan tanpa disadari, begitu pula dengan Nadia. Meski bibirnya mencibir, entah kenapa bayangan tatapan mata lelaki itu terus menempel di kepalanya.

Mereka tidak tahu, pertemuan singkat yang penuh salah paham itu hanyalah pintu kecil menuju kisah yang jauh lebih besar.


Bab 4

Hari Ahad itu, halaman masjid besar di kompleks tempat Nadia tinggal tampak ramai. Ada acara bakti sosial: pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian sembako untuk warga kurang mampu. Seperti biasa, Ustadz Rahman menjadi penggerak utama kegiatan tersebut.

Nadia datang dengan enggan. Ia sebenarnya lebih suka menghabiskan akhir pekannya di kafe atau jalan bersama teman-teman. Namun karena ibunya memaksa, ia akhirnya muncul dengan dress sederhana dan kerudung instan yang dipakainya seadanya.

“Setidaknya sekali-sekali terlibat, Nad. Biar kamu tahu kegiatan Ayahmu itu bukan sekadar ceramah,” kata ibunya tadi pagi.

Dengan perasaan malas, Nadia berjalan ke tenda utama. Saat matanya menyapu kerumunan, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia mengenali sosok yang sedang sibuk memeriksa warga satu per satu. Kemeja putih, stetoskop di leher, wajah tenang—ya, itu lelaki “sok ceramah” tempo hari.

Ya ampun… jangan bilang dia dokter di acara ini, batin Nadia, mendesah kesal.

Sementara itu, Fahri yang fokus bekerja sempat menoleh, dan matanya bertemu dengan Nadia. Sekilas senyum terbit di bibirnya. Senyum sederhana yang membuat Nadia semakin jengkel, entah kenapa.

“Assalamualaikum, Dokter Fahri.”

Suara ayah Nadia menyapanya hangat. “Terima kasih sudah mau meluangkan waktu. Jamaah sangat terbantu.”

“Waalaikumussalam, Pak Ustadz. InsyaAllah, ini juga jadi amal buat saya,” jawab Fahri sopan.

Nadia mendengar itu jelas. Hatinya berdesir aneh—antara kagum dan enggan mengakuinya. Ia bahkan sempat melihat bagaimana para warga tersenyum tulus kepada Fahri, memuji kebaikannya.

Selesai acara, ibunya berbisik pelan, “Nad, itu lho, Dokter Fahri. Ayahmu sering cerita. Orangnya rajin ke masjid, sopan, dan insyaAllah baik akhlaknya. Cocok, kan?”

Nadia menatap ibunya dengan mata melebar. “Bu! Baru lihat sebentar aja udah cocok? Aku tuh nggak suka dijodoh-jodohin.”

Ibunya hanya tertawa kecil, tak menggubris bantahan itu.

Malamnya, saat Nadia kembali ke kamarnya, ia merebahkan diri di kasur. Pikirannya terus memutar adegan tadi siang: tatapan Fahri, kesabaran wajahnya, dan bagaimana ia diterima semua orang.

Ia menggerutu sendiri. “Kenapa sih aku kepikiran? Padahal jelas-jelas nyebelin waktu ketemu pertama…”

Di sudut lain kota, Fahri juga duduk di mejanya. Tangannya merapikan laporan pasien, tapi matanya sesekali kosong. Tanpa bisa ia cegah, wajah keras kepala Nadia terlintas lagi. Senyum kecil mengembang di bibirnya.

Barangkali, ini bukan pertemuan kebetulan.


Bab 5

Beberapa hari setelah acara bakti sosial di masjid, Nadia duduk termenung di kamarnya. Laptopnya terbuka, layar penuh dengan grafik dan angka untuk laporan kerja. Namun pikirannya melayang entah ke mana. Bukan ke kantor, bukan ke proyeknya—melainkan ke sosok dokter muda yang belakangan ini sering muncul di kepalanya tanpa permisi.

“Kenapa sih aku kepikiran dia terus? Padahal nyebelin banget waktu pertama kali ketemu,” gumamnya sambil menopang dagu.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton serial favoritnya. Namun setiap kali karakter utama tersenyum, wajah Fahri yang ramah itu kembali muncul. Argh! Nadia memeluk bantal, frustrasi pada dirinya sendiri.

Di rumah sakit, Fahri pun mengalami kegelisahan serupa. Setelah memeriksa pasien, ia duduk sebentar di ruang dokter. Temannya, dr. Andi, memergoki senyum samar di wajahnya.

“Eh, lagi senyum-senyum sendiri. Kayaknya ada yang spesial, ya?” goda Andi.

Fahri hanya menggeleng, berusaha menyembunyikan perasaannya. “Nggak, cuma kepikiran sesuatu aja.”

Namun dalam hatinya, ia tahu siapa yang ia pikirkan. Wajah tegas dengan tatapan mata tajam itu… meski keras kepala, ada sesuatu pada Nadia yang membuatnya tak bisa mengalihkan perhatian.

Malam itu, Nadia dan ayahnya kembali berselisih paham. Ustadz Rahman sedang duduk di ruang tamu, membaca Al-Qur’an. Nadia turun dengan ponsel di tangan, berpakaian rapi.

“Mau ke mana malam-malam begini?” tanya ayahnya tenang.

“Meeting sama teman-teman, Yah. Ada rencana proyek baru,” jawab Nadia singkat.

Ayahnya mengangguk pelan. “Nad, Ayah nggak melarang kamu beraktivitas. Tapi jangan sampai dunia membuatmu lupa arah. Lihatlah orang-orang di sekitar. Ada yang sederhana, tapi hidupnya tenang karena dekat dengan Allah.”

Nadia menghela napas panjang. “Ayah lagi-lagi membandingkan aku, ya? Aku tahu maksud Ayah. Tapi aku punya jalan sendiri.”

Ia kemudian menambahkan dengan nada setengah berbisik, “Aku nggak butuh diatur-atur soal jodoh, apalagi dijodohin sama orang yang Ayah pilih.”

Ucapan itu membuat Ustadz Rahman terdiam. Hatinya perih, tapi ia hanya tersenyum tipis, menutup mushaf di tangannya. Dalam diam, ia memilih kembali ke sajadahnya.

Nadia melangkah keluar rumah dengan hati panas. Namun di balik semua kemarahannya, ia tahu kata-kata ayahnya ada benarnya. Hanya saja, egonya terlalu besar untuk mengakuinya.

Dan di situlah pergulatan hatinya dimulai—antara keras kepala yang selalu ia pegang, dengan bisikan lembut yang entah mengapa membawa nama Fahri.


Bab 6

Pagi itu, Nadia menerima sebuah email penting di kantornya. Tawaran kerja dari perusahaan mitra di Singapura—gaji berkali lipat, jenjang karier menjanjikan, dan kesempatan tinggal di luar negeri. Ia menatap layar laptopnya lama sekali, jantungnya berdegup kencang.

“Ini kesempatan emas,” gumamnya. “Mungkin ini saatnya aku membuktikan, aku bisa berdiri sendiri.”

Namun di saat bersamaan, bayangan wajah Fahri muncul. Entah kenapa, kehadirannya kini terasa seperti benang halus yang menahan langkah Nadia.

Malamnya, Nadia pulang ke rumah. Di ruang tamu, ayah dan ibunya sudah menunggu. Ustadz Rahman membuka percakapan dengan suara lembut, namun tegas.

“Nad, Ayah dengar kamu dapat tawaran kerja di luar negeri.”

Nadia mengangguk, mencoba tenang. “Iya, Yah. Ini impian aku. Aku ingin mencoba hidup mandiri di luar, meraih sesuatu dengan caraku sendiri.”

Ayahnya terdiam sebentar, lalu menatapnya dalam-dalam. “Nad, dunia luar itu luas dan penuh godaan. Ayah tidak melarang, tapi Ayah khawatir. Dan… ada hal lain yang ingin Ayah sampaikan. Fahri datang kemarin, membantu jamaah lagi. Ayah melihatnya sebagai lelaki yang baik untukmu.”

Nadia terbelalak. “Yah! Lagi-lagi Ayah sebut dia. Aku sudah bilang, aku nggak mau dijodoh-jodohin. Aku bisa pilih sendiri!”

Suara Nadia meninggi, membuat ibunya gelisah. Namun Ustadz Rahman tetap sabar. “Ayah tidak memaksa. Ayah hanya berharap. Karena Ayah tahu, doa yang Ayah panjatkan di ujung sajadah bukan untuk Ayah, tapi untukmu.”

Ucapan itu membuat dada Nadia sesak. Namun ia memilih berlari ke kamar, menutup pintu dengan keras. Air matanya mengalir, bukan hanya karena marah, tapi juga bingung.

Sementara itu, Fahri sedang duduk di masjid setelah shalat Isya. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit yang penuh ukiran sederhana.

“Ya Allah,” doanya lirih, “jika memang Nadia bukan untukku, jauhkanlah perasaan ini. Tapi jika ia benar jodohku, tolonglah lembutkan hatinya. Aku tak ingin melawan kehendak-Mu.”

Dalam doanya, Fahri memilih menyerahkan segalanya. Ia tidak ingin memaksa, apalagi melukai.

Hari-hari berikutnya menjadi penuh pertanyaan bagi Nadia. Setiap kali membuka email tawaran kerja, ia merasa bimbang. Di satu sisi, mimpi besarnya menunggu di negeri orang. Di sisi lain, doa ayahnya terus menggema di telinga.

Untuk pertama kalinya, Nadia mulai bertanya pada dirinya sendiri: Apakah semua yang kuinginkan benar-benar yang kubutuhkan?

Dan dalam kebimbangan itu, doa yang tak pernah ia pedulikan mulai mengetuk hatinya.


Bab 7

Malam itu, rumah terasa sunyi. Nadia duduk di kamarnya, memandangi layar laptop yang menampilkan surat kontrak kerja dari Singapura. Tangannya gemetar, hatinya penuh keraguan. Semua yang ia impikan ada di depan mata, tapi entah mengapa dadanya sesak.

Suara samar dari ruang tamu terdengar—lantunan doa ayahnya di atas sajadah. Suara yang sejak kecil selalu ia dengar, tapi sering ia abaikan. Kali ini, Nadia menutup laptopnya, berdiri, lalu melangkah pelan menuju ruang shalat kecil itu.

Ayahnya masih bersujud. Nadia hanya berdiri di ambang pintu, menatap punggung renta itu yang bergetar setiap kali ayahnya berbisik lirih. Ada bulir air mata jatuh dari mata Nadia.

Pelan-pelan, ia mengambil wudhu. Tangannya gemetar ketika membentangkan sajadah di sebelah ayahnya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadia shalat dengan hati yang benar-benar ia pasrahkan.

Saat bersujud, ia merasakan ketenangan yang asing tapi hangat. Dari hatinya yang paling dalam, keluar doa sederhana:

“Ya Allah, jika Engkau tahu jalanku bukan di Singapura, maka jauhkanlah. Jika Engkau tahu aku butuh seseorang untuk menuntunku, dekatkanlah. Jangan biarkan aku berjalan sendirian.”

Tangisnya pecah di atas sajadah. Ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa siapa yang paling berkuasa atas hidupnya.

Beberapa hari kemudian, Nadia mendatangi ayahnya. Wajahnya masih sembab, tapi ada cahaya baru di matanya.

“Ayah…” suaranya bergetar. “Aku ingin bicara. Aku sudah memutuskan untuk menolak tawaran kerja itu. Dan… aku ingin minta restu Ayah.”

Ustadz Rahman menatap putrinya lama, sebelum akhirnya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Restu Ayah selalu untukmu, Nad.”

Nadia menunduk, hatinya berdebar. “Dan soal Fahri… kalau memang dia yang Ayah doakan untukku, aku ingin mencoba mengenalnya dengan hati yang lebih tenang.”

Air mata bahagia mengalir di pipi Ustadz Rahman. Ia meraih tangan anaknya, menggenggam erat, seakan syukurnya akhirnya terjawab.

Beberapa bulan kemudian, di masjid yang sama, berlangsung akad nikah sederhana. Fahri duduk dengan wajah tenang, sementara Nadia di balik tirai menahan haru.

Ijab kabul terucap sekali lafaz. Doa-doa dipanjatkan, ucapan selamat bergema. Saat itu, Nadia tahu: bukan kebetulan, bukan paksaan, bukan pula sekadar pilihan egonya.

Cinta ini lahir dari doa yang tak pernah berhenti, doa yang mengalir di ujung sajadah seorang ayah yang mencintainya dengan tulus.

Dan kini, di atas sajadah yang sama, cinta itu menemukan ujungnya—bukan akhir, tapi awal dari perjalanan baru. 



---------   Selesai bacanya?    ---------


BCA
Bank BCA
0551802468
E-Wallet
Dana / OVO / Gopay
082130478461
Terima kasih ya 🙏
Semoga rezekinya terganti dan berlipat ganda.
Romance
Lihat Semua