Bab 1 – Kecil Kemungkinan
“Mi... sudah hampir satu minggu ke belakang, papi bolak-balik konsultasi dan memeriksakan diri ke dokter. Tadinya, jika papi sehat dan kondisi sperma papi baik-baik saja, papi akan membawa mami ke dokter, gantian periksa. Tetapi....” ucap Charlie tertahan untuk beberapa saat, ia tampak menutup matanya sebelum akhirnya mengambil napas dalam-dalam.
Setelah menikah, kami memang memutuskan untuk mengganti panggilan sayang menjadi Papi dan Mami, agar kelak jika kami mempunyai anak sudah terbiasa dengan panggilan seperti itu. Satu keluarga yang sempurna dengan kehadiran banyak anak.
“Tetapi kenapa, Pi?” tanyaku semakin merasa penasaran.
Setelah Charlie mulai menguasai kembali napasnya yang terasa berat dan sesak, ia kembali melanjutkan, “Menurut hasil Lab, dan setelah melakukan beberapa tes serta pemeriksaan ulang oleh doker. Fikrih, kemungkinan untuk papi punya anak sangat kecil sekali, Mi... tidak lebih dari 5 persen....” Ucapnya terdengar lirih. Kepala Charlie tertunduk dengan kedua telapak tangannya menutupi hampir seluruh bagian wajah.
Saat itu juga aku merasa lemas, tidak kuasa melihat suamiku tampak depresi dan putus asa. Aku mencintai suamiku dengan sebenar-benarnya cinta. Rasanya, tidak rela melihatnya seperti itu. Dengan perlahan aku menghampirinya dan melingkari tubuhnya dengan kedua tangankku sembari berkata pelan, “Tidak apa, Pi... kita masih bisa mengadopsi anak, ya ‘kan? Lagian, soal anak itu sepenuhnya hak mutlak Tuhan. Jika Sang Maha Kuasa sudah memberi takdir untuk kita punya anak, Mami yakin, kok. Mami pasti bisa hamil.” Ucapku lembut, berusaha untuk mengembalikan lagi semangatnya yang sudah tampak mulai kendor.
Setelah mengukir senyum cantik di wajahku, aku kembali berkata, “Yang paling terpenting, Papi jangan jadi lesu dan tidak semangat lagi untuk memberi nafkah batin buat mami, ya Pi... siapa tahu dari berjuta tetes cairan kental papi itu ada satu yang kuat dan gigih berjuang demi menembus rahim dan membuahi sel telur mami, ya ‘kan? Siapa yang tahu....”
Charles tampak membalas senyumanku. Kepalanya yang tertunduk, pelan-pelan terangkat sembari memandangiku dengan sinar mata yang perlahan mulai kembali menunjukan hasratnya.
Lalu, kami kembali menghabiskan malam dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuh. Charles benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untukku, hingga beberapa menit kemudian, tubuh kami melemas setelas beberapa detik menegang saat mengeluarkan cairan kental dari dalam tubuh.
Hal itu tidak berlangsung lama, beberapa hari kemudian Charles mulai sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk, terkapar di atas sofa ruang tengah tanpa sedikitpun menyentuh apalagi mengajakku berbincang.
Aku mengerti, saat ini Charlie sedang berperang melawan dirinya sendiri. Berusaha sekuat tenaga meredam semua kekecewaan yang membuat dirinya semakin merasa depresi. Bagaimana tidak? kemampuan beberapa sel reproduksinya yang ternyata lemah itu seakan sudah berhasil menghancurkan seluruh kebahagiannya dan juga keluarganya di Singapura.
Charlie yang merupakan anak tunggal, selama ini seringkali ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan seputar itu. Seperti, “Charlie, istrimu sudah hamil?” atau, “Sudah satu tahun kamu menikah, masa sih istrimu belum hamil juga?” atau yang lebih parah, “Jangan-jangan istri kamu mandul, kalau ia terbukti mandul ceraikan saja! Cari yang bisa hamil dan punya anak! Periksakan segera ke dokter kandungan!”
Semua perkataan kedua orangtuanya benar-benar membuat Charlie tertekan, terlebih saat ia mengetahui bahwa ternyata dirinya tidak mungkin memberiku keturunan, kalaupun masih ada tersisa harapan, kemungkinan itu sangat tipis sekali. Semenjak itu hari-hariku berubah hampa. Charlie mulai lebih sering menyibukan diri dengan pekerjaan-pekerjaannya bahkan kadang beberapa hari ke luar kota dan tidak pulang.
Bab 2 – Bercocok Tanam
Sekedar mengusir sepi, beberapa minggu ini aku rajin bercocok tanam di halaman belakang rumah yang memang cukup luas. Bunga-bunga tampak tumbuh segar, cukup mewarnai hari-hariku yang tiba-tiba berubah kelam.
Niat hati ingin menikmati pagi dengan memandangi warna-warna cerah dari bunga-bunga yang bermekaran tiba-tiba saat itu juga pupus. Tenggorokanku tercekat, mataku membeliak melihat bunga-bunga tampak layu dan sebagian tanaman hancur di gilas jejak-jejak kaki kucing tetangga yang memang beberapa hari ini sering berkeliaran di rumah.
Saat itu juga aku mulai panik, aku tidak ingin satu-satunya yang kini sudah menjadi sumber ketenangan dalam diri menghilang. Dengan segera aku menghubungi Lily, teman semasa kuliah dulu yang pertama kali menyarankan untuk menanam bunga-bunga dan beberapa tanaman hias di halaman rumah sebagai obat stress dan pengusir sepi dikala hati gundah.
“Lil, bunga-bunga punyaku layu semua! Gimana ini!?” tanyaku panik setelah tersambung dengan ponsel Lily.
“Ah! Masa, sih? Kamu ngurusnya gak bener, kali, Mey...” sahutnya diujung telepon.
“Gak tau juga, aku Cuma beli, siram. Udah gitu doang,”
“Yaaah gak gitu juga, kali. Harus di rawat bener-bener. Kasih pupuk sama penyubur atau apapun itulah biar tanamannya seger...”
“Aku ‘kan gak tau Lil, gimana dong?” tanyaku masih panik.
“Mmm, harusnya sih memang ada yang mengurusnya secara profesional, Mey. Kalau kamu mau, aku ada kenalan tukang kebun, namanya kak Andrian. Ia bukan tukang kebun sembarangan, ia lulusan IPB, masih muda pula, kayaknya seumuran deh ama kita, Mey... Eh, kak Andrian gak sempet lulus, deng... kalo gak salah, katanya sih ia kuliah hanya sampai semester enam. Karena keluarganya pailit, jadi ia harus kerja serabutan buat membantu ekonomi keluarganya.”
“Oh, gitu ya... boleh deh, Lil. Tolong, ya, Lil... kalau bisa Andrian hari ini ke rumahku, aku takut lama-lama semua tanamanku mati....” sahutku, tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujui saran dari Lily.
“Oke, aku kasih no kontak kamu, ya!” ucap Lilly sebelum akhirnya menutup sambungan teleponku. Kemudian, semampu yang aku bisa kedua tanganku mulai sibuk membereskan tanaman dan bunga-bunga yang berantakan, sembari menunggu kabar dari Andrian yang di rekomendasikan oleh Lily.
Setelah hampir satu jam kemudian, tiba-tiba ponselku berbunyi. Tampak di atas layar ponselku satu buah pesan muncul dari pop-up aplikasi berbagi pesan.
“Selamat pagi, saya andrian. Dapat informasi dari Kak Lily, katanya ini sama Kak Meymey, ya? Benar sedang membutuhkan tenaga profesional untuk merawat taman?”
Setelah membaca pesan itu, aku segera membukanya dan mengetikan beberapa kalimat singkat.
“Iya betul, kak.”
Usai mengetikan pesan singkat itu, cepat-cepat aku mengirimkannya kepada Andrian. Lalu bergegas masuk ke dalam kamar untuk merapikan diri setelah memberikan alamat lengkap rumahku. Aku tidak ingin terlihat kotor dengan beberapa percikan tanah basah terlihat di bajuku di depan tamu yang baru aku kenal.
Setelah selesai merapikan diri dan mengganti baju, aku duduk santai di depan televisi ruang tengah, saat itu bel rumah terdengar berbunyi dua kali, “Ah, itu pasti Andrian,” bisikku dalam hati, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu depan.
“Selamat pagi, Kak. Kenalkan saya Andrian.” Ucapnya sopan, sembari menganggukan kepala, tampak sebuah senyum melingkar manis di wajahnya yang sangat diluar prediksiku.
Saat aku direkomendasikan tukang kebun profesinal, yang terbayang di dalam pikiranku adalah seorang lelaki dewasa dengan wajah kasar dan berkulit legam karena terlalu sering bekerja di lapangan dengan terik sinar matahari. Tetapi, ternyata aku salah. Lelaki yang kini sedang berdiri dan tersenyum di depanku tampak sangat rapi. Aku malu jika baru saja bertemu sudah mengakui kegantengannya.
Rambut pendek potongan gaya anak jaman sekarang, dilengkapi dengan alis tebal melengkung seimbang dengan kedua matan yang bersinar penuh semangat. Hidungnya cukup mancung dibanding lelaki pribumi pada umumnya, sedangkan bibirnya tidak terlalu tebal tapi tidak terlalu tipis juga.
Untuk sesaat aku sempat terdiam, memandangi postur tubuhnya yang kekar dengan bahu cukup lebar serta bentuk dada tegap, membuatku menelan air liurku tanpa terasa. Jika saja Andrian tidak kembali menyapaku, mungkin aku akan semakin terlihat seperti orang bodoh yang hanya berdiri seolah terpaku di depannya dengan mulut setengah terbuka.
“Maaf, kak, apa benar ini sama kak Meymey?” ucapnya, memastikan kembali jika ia tidak salah rumah.
“Oh, i-iya ma-maaf... benar, kak.... ayok, masuk! Tamannya di halaman belakang rumah,” sahutku agak tergagap. Sebelum aku bertambah kikuk di hadapannya aku segera mengajak Andrian untuk segera masuk ke dalam rumah lalu menuju halaman belakang.
Andrian benar-benar menguasai tentang tanaman serta semua jenis-jenis bunga dan segala hal yang berhubungan dengan kesuburan tanah serta vitamin-vitamin yang dibutuhkan tanaman.
Dengan cekatan ia merapikan taman di belakang halaman rumahku. Aku hanya menatapnya tampak berkedip. Sejujurnya, sejak Charlie mulai mengabaikanku berbulan-bulan lamanya, aku sangat merindukan sentuhan dan belaian lelaki.
Mengingat kembali bayangan masa-masa liarku yang penuh gairah bersama Charlie, tiba-tiba dadaku bergetar halus. Entah sudah berapa kali aku menelan air liurku sendiri saat melihat tubuh Andrian yang gagah itu membungkuk, mencabuti bunga-bunga yang sudah layu dan kering, lalu berjalan di antara tanaman hiasku dengan langkahnya yang tegap. Tanpa aku sadari, aku membayangkan tubuhnya erat menyatu denganku. “Ah! Sudah lama sekali....” keluhku dalam hati.
Karena awalnya taman bunga di halaman belakang rumahku memang tidak diurus dengan benar, Andrian meminta izin untuk merawat dan memantau perkembangan pertumbuhannya setiap hari. Tanpa berpikir panjang aku segera menganggukan kepalaku dengan cepat.
“Ya udah, kalau memang harus tiap hari, dan tidak mengganggu jadwal kak Andrian saya tidak keberatan...” ucapku.
“Kak Meymey tidak ada kegiatan? Atau ada assisten rumah tangga yang tinggal di sini? Jadi jika nanti kak Meymey keluar rumah, biar nanti saya sama asisten rumah tangganya kak Meymey saja.” Sahut Andrian, lengkung senyum di wajahnya kembali memberi kehangatan di dalam dadaku.
Bab 3 – Gak Bawa Baju
“Gak, kok. Aku gak pernah kemana-mana, tidak ada kegiatan apa-apa juga. Dan, di rumah ini memang sengaja tidak menggunakan jasa assisten rumah tangga, orang di sini cuma tinggal berdua sama suami,”
“Oh, begitu, ya kak... baik, kak terima kasih.”
Sejak itu Andrian setiap hari berkunjung ke rumah sembari membawa beberapa suplemen dan vitamin-vitamin yang dibutuhkan tanaman-tanaman hiasku beserta berbagai macam peralatannya.
Dua hari kemudian, saat Andrian sudah selesai dengan pekerjaannya, tampak baju dan celana yang kenakannya kotor penuh percikan tanah merah basah. Melihatnya seperti itu, aku lantas menyuruhnya untuk membersihkan diri di kamar mandi belakang.
Awalnya, ia sempat menolak sembari berkata, “Gak apa-apa, kak. Nanti saja saya mandi di rumah,” ucapnya. Kedua tangannya saat itu masih sibuk merapikan peralatannya ke dalam tas yang cukup besar.
“Mandi saja dulu di sini, biar nyampe rumah udah seger,” ucapku setengah memaksa. Andrian tampak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi dan membersihkan tubuhnya di rumahku.
Sembari menunggu Andrian mandi, aku sengaja memasak spagehetti untuk 2 porsi. Aku ingin menjamunya makan setelah seharian ini ia lelah bekerja merawat taman di halaman belakang rumah.
15 menit kemudian, tiba-tiba Andrian keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa, lalu menghampiri tas besar yang ditaruhnya halaman teras taman. Posisi kamar mandi yang letaknya di samping dapur membuat kedua mataku dapat dengan leluasa memandangi punggung Andrian yang tengah membelakangiku, mengaduk-aduk tasnya hanya dengan selembar handuk pemberian dariku yang melilit di pinggang sampai menutupi pahanya dipenuhi bulu-bulu halus.
“Aduh! Gawat!” Walau teriakan Andrian seperti tertahan, tetapi aku masih bisa mendengarnya, karena merasa penasaran aku lalu bertanya kepadanya, “Kenapa, kak?”
“A... a-aku lu-lupa gak bawa baju ganti, kak.... aduh... mana baju tadi basah, jatoh di kamar mandi....” keluhnya.
“Oalah, ya sudah pakai dulu baju suamiku, ya? Kayaknya seukuran, deh... atau, mmm lebih kecil dikit, ntr aku cari dulu, ya....” ucapku sembari melangkah ke arah kamar utama yang letaknya memang di lantai satu, aku tidak begitu suka tinggal di lantai atas, terasa sangat sepi di sana.
Sebelum Andrian menolak tawaranku, aku sudah menghilang dari pandangannya. Saat itulah semuanya bermula. Karena aku merasa kebingungan memilih baju yang cocok di tubuh Andrian, aku kembali keluar kamar dan memanggil Andrian, “Kak! Bisa tolong ke sini?” teriakku.
Beberapa detik kemudian, tampak Andrian berjalan ke arahku dengan handuk berwarna biru yang melilit pinggang sampai di atas pahanya yang kekar dan berbulu. Sungguh mati, saat itu pula aku tercekat, tidak mampu lagi untuk tidak menelan air liurku sendiri.
Berulang kali aku berusaha keras menepis pikiran dan bayangan-bayangan jorok dalam pikiranku. Tetapi, semakin keras aku berusaha, rasanya dadaku semakin berdesir, libidoku seakan bergemuruh, rindu akan sesuatu yang telah lama tidak aku dapatkan dari suamiku.
“Gila!” teriakku dalam hati, memaki diriku sendiri sembari menggelengkan kepalaku kencang.
Andrian tampak agak sedikit sungkan untuk mendekat, terlebih saat aku sudah kembali masuk ke dalam kamar dan membuka lemari tempat baju-baju Charilie tersimpan, lalu menoleh ke arahnya dan berkata, “Sini! Kamu pilih aja sendiri, mana yang cocok dan pas di badan kamu, kak!” ucapku.
“Eh, mmmmp, gak u-usah, kak. Gak enak, nanti apa kata suami kakak....” sahutnya, perlahan bergerak mundur hendak kembali ke ruangan belakang.
Dengan cepat aku menarik tangannya sambi berkata, “Lalu kamu mau pake baju yang mana, kak?” tanyaku.
“Gak apa-apa pake yang tadi saja, kak...”
“Kan, basah?”
“Iya, gak apa-apa...”
“Jangan, nanti masuk angin, udah sini tinggal pilih aja, kok!” ucapku. Entah mengapa aku sampai berani memaksanya seperti itu.
“Eh, mmmp ...” sembari melangkah ragu, akhirnya Andrian melangkahkan kakinya perlahan menuju ke depan lemari. Tampak kedua bola matanya berputar mengelilingi seisi kamar sebelum akhirnya menatapku lekat dengan tatapan sedikit agak malu-malu.
“Ya udah, ambil yang mana kakak suka...” ucapku sembari melingkari wajahku dengan senyum yang tidak menentu, menahan debaran jantung di dalam dada yang semakin terasa kencang.
Melihat Andrian hanya diam dalam keraguannya, aku lalu segera menghampirinya sembari bertanya, “Mau aku pilihin?”
Tangan kanan Andrian tampak menggaruk rambut dipuncak kepalanya sambil menahan senyum di wajahnya karena merasa sungkan dan malu. Melihat ia hanya terdiam, aku lantas mengambilkan beberapa baju milik suamiku yang memang sudah sangat jarang sekali dipakai.
Tanpa aku sadari, ternyata aku sudah menyelinap melewati jarak sempit di antara tubuh Andrian dan lemari pakaian. Hingga saat aku membalikan tubuh, aku benar-benar tepat berada di depannya. Jarak kami mungkin hanya tinggal beberapa kepalan tangan saja.
Wangi sabun dan shampoo yang wangi dan segar seketika itu juga semakin tercium olehku, seakan mengisi seluruh tubuhku dengan getaran-getaran halus yang mendebarkan. Dengan terbata-bata dan tangan yang terasa bergetar, aku menyodorkan beberapa helai pakaian sembari berkata, “Co... co-coba ini, kak....” ucapku setengah mendesis.
Saat itulah terjadi yang sangat tidak aku duga, ketika Andrian menjulurkan kedua tangannya hendak mengambil beberapa helai pakaian dari tanganku, tiba-tiba handuk yang melilit pinggangnya merosot dan terjatuh ke bawah lantai tersenggol ayunan tanganku saat menyerahkan pakaian itu.
Untuk beberapa kilatan cahaya, aku sempat melihat sesuatu yang mengantung di antara kedua pangkal pahanya. Diantara rimbunnya bebuluan hitam, ada sebuah tongkat tumpul yang bulat dan panjang berwarna hitam kecoklat-coklatan bergerak ke sana dan ke mari.
Jantungku seakan berhenti berdetak, dadaku berdebar dengan cepat. Lalu, tanpa aku suruh, di area sekitar kewanitaanku tiba-tiba terasa ada yang berdenyut-denyut halus. Rasanya, hari ini benar-benar hari yang membuatku merasa kelelahan sendiri menahan gairahku.
“Aduuuuhhh!” pekik Andrian panik, lalu berjongkok berusaha mengambil kembali handuknya yang sudah terlanjur tergeletak di bawah lantai. Dengan cepat ia mengenakan kembali handuk itu dan berdiri sembari menekukan wajahnya yang sudah memerah tanpa berani memandang ke arahku.
Di dadanya yang bidang dan kekar itu tampak ada satu luka berupa goresan tipis memanjang, sepertinya kuku tanganku yang cukup runcing dan panjang telah mengukir segaris luka itu di dadanya. Entahlah, semuanya terjadi begitu cepat.
Tanpa sadar, telapak tanganku sudah berada di atas luka tersebut. Sembari perlahan-lahan membelai lembut dadanya yang kekar, aku berkata terbata-bata, “Ma... ma-maf, ya kak. Kayaknya luka ini kena kuku tanganku,” ucapku sembari menahan napas.
Andrian masih terdiam, pelan-pelan aku mulai merasakan deru napasnya mulai bertambah cepat. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan diri. Lalu tanpa mempertimbangkan apapun, bibirku sudah menyambar bibirnya dengan cepat.
Tubuh Andrian seketika itu juga tampak menegang, tidak menduga aku akan berbuat senekat itu. Untuk beberapa saat lamanya, Andrian tidak menunjukan reaksi apapun. Tidak ada penolakan maupun reaksi balasan. Ia hanya diam mematung sembari meresapi kecupan demi kecupanku di bibirnya.
Bab 4 – Konsekuensi
Andrian baru membuka bibirnya saat lidahku mulai memaksa dan mendesak maju, berusaha untuk menari-nari di dalam mulutnya dan mengikat erat lidahnya dengan lidahku. Setelah hampir tiga puluh detik menerima seranganku, bibir kami mulai saling berpagut. Saling mengecup dan menjulurkan lidah masing-masing.
Napas ku semakin terasa tersenggal, terlebih saat kedua tangan Andrian mulai berani menjelajahi tubuhku. Gerakan halus tangannya mulai membelai tubuhku dengan sangat perlahan, mulai dari pinggang hingga ke samping paha lalu tmenjalar ke atas punggung dan dadaku sambil tetap membalas gigitan demi gigitanku di bibirnya.
“mmmmhhh... su-sudaah... kaakk.... ma-maaf... a-aku ta...ta-kut nan...nan-ti suami ka.. ka-kak pu... pu-pulang... mmmhhhh....” ucapnya dengan susah payah setelah berhasil melepaskan desakan bibirku mencumbunya dengan liar.
Aku benar-benar merasa seperti wanita yang tidak mempunyai harga diri, desakan libido yang membara dalam dada seakan ingin meledak saat itu juga, aku sama sekali tidak mampu melawan hasrat yang sudah berbulan-bulan tertahan dan terpenjara di dalam diri.
Dengan gerakan cepat kedua tanganku tiba-tiba sudah mendorong tubuh Andrian hingga terjatuh ke atas ranjang di belakangnya tanpa aku sadari. Sedetik kemudian aku berbisik kepadanya setelah t-shirt yang aku kenakan sudah terlempar ke samping oleh gerakan tanganku, “Jangan takut, suamiku sudah lama tidak pulang... bahkan, ia tidak lagi menjamahku selama berbulan-bulan...”
Kini, hanya tinggal bra dan celana pendekku saja yang masih melekat di tubuhku. Seperti wanita keturunan Chinnes pada umumya, aku berkulit putih dan mulus dengan bentuk tubuh seperti biola, aku pikir Andrian pun tidak akan sanggup untuk menolakku.
Benar saja, Andrian yang terlentang tampak pasrah sembari menatapku yang duduk di atas kedua pangkal pahanya. Tatapannya seolah enggan untuk melarikan diri dari wajah orientalku yang menurut banyak lelaki, memiliki wajah yang bukan hanya cantik, tetapi juga unik dan sensual.
Aku tersenyum penuh arti kepadanya. Setelah saling mengikat pandang, aku kembali mendekati Andrian, dan satu detik kemudian, bibir kami pun kembali saling berpagut dengan napas yang sama-sama memburu.
Pelan-pelan aku mulai membimbing tangan Andrian, hingga kedua tangannya akhinya melingkari punggungku. Andrian mengerti, dengan segera ia melepaskan kaitan bra yang masih menutupi dadaku. Saat kaitan itu terlepas, dua gundukan yang bulat, kencang dan sangat putih di dadaku pun terbuka dengan bebas.
Tanpa aku sangka, tiba-tiba Andrian mendorong tubuhku dan membalikan posisinya, kini ia yang menindihku, tampak kedua bola matanya masih saja lekat memandangi wajah orientalku, lalu perlahan pandangannya turun, tanpa berkedip sedikitpun ia melihat ke arah buah di dadaku yang sudah mulai mengeras dan semakin membulat.
Kedua tangan Andrian saat itu juga langsung menjulur, menjamah buah di dadaku dengan napsu sembari berbisik pelan sebelum kembali mendaratkan ciuman bibirnya, “Kak, se-sebenarnya... selama aku bekerja di sini, a-aku selalu curi-curi pandang, tapi karena kakak sudah bersuami aku tidak berani macam-macam...” ucapnya pelan hampir tidak terdengar karena dengus napasnya yang mulai semakin memburu.
Mendengar ucapannya membuatku merasa lega, setidaknya gayung telah bersambut dan hasratku kepadanya kini bisa benar-benar tersalurkan tanpa ada yang merasa terpaksa atau harus ada yang memaksa.
Aku tidak membalas ucapannya, hanya gerakan kedua tanganku yang memberikan reaksi dengan menarik handuk yang tadi dikenakannya kembali, saat terjatuh ke bawah lantai.
Hanya dengan satu tarikan, handuk yang melilit tubuh Andrian seketika itu juga terlepas. Seolah tidak ingin polos tanpa busana sendirian, Andrian pelan-pelan menurunkan tubuhnya dan menarik celana pendekku beserta celana paling dalam yang aku kenakan sekaligus.
Akhirnya, aku dan Andrian sudah tidak lagi tertutupi sehelai benang pun. Andrenalinku terpompa dengan sangat cepat saat Andrian kembali menindihku, lalu ia menyusuri setiap centi tubuhku dengan lidahnya. Mulai dari melumat bibirku dan mengaitkan lidahnya hingga menari-nari di dalam rongga mulutku, lalu beberapa saat kemudian menuruni leherku sampai akhirnya berlabuh di atas puncak bukit kembarku, menggigit tipis sebutir daging kecil di atas puncak buah di dadaku.
Tubuhku menggeletar dengan sangat hebat, merasakan kembali sensasi yang sudah terlalu lama tidak lagi aku dapatkan dari Charlie, suamiku. Sampai saatnya kepala Andrian terbenam di tengah-tengah kedua pangkal pahaku, punggungku seketika melenting ke atas, terlebih saat lidahnya menyelinap masuk ke dalam area kewanitaanku yang sudah terasa basah oleh cairan alami yang keluar dari dalam tubuhku.
“Aaaakkkhhh ... Kakk.... Sssssshhhh ..... iyaaaa... di situ, akaaakk.... aaakkhhh...” Aku mulai meracau tidak karuan, merasakan sensasi kelezatan yang aku rindukan selama berbulan-bulan ini.
Selama hampir 2 menit lebih, bibir dan lidah Andrian berkelana menjelajahi selak beluk kedalaman lubang kewanitaanku yang semakin lama semakin basah dan lengket oleh cairan putih alami yang tiada henti mengeluarkan cipratan demi cipratan.
Setelah merasa cukup puas, Andrian lalu menegakan punggungnya, lalu duduk sembari merapatkan kedua pahaku dan mengangkat kakiku hingga lurus ke atas, seketika itu juga pinggulku agak terangkat sedikit, tampak belahan dari dua buah daging lembut yang membentuk dua garis tebal berwarna merah muda itu mulai terbuka.
Perlahan, Andrian mengarahkan tongkat kelelakiannya tepat ke area kewanitaanku lalu menghentakan pinggulnya dengan lembut. Satu hingga beberapa hentakan pelan mulai mendobrak, batang kelelakiannya dengan pelan-pelan mulai masuk setengahnya.
“Akkkhhhh... kaaaakk... punya kakak besaaaar, iiiyaaa.... ngiluu, kaaakk... pelaan-pelaaan...” Saat itu juga tanpa sadar aku menjerit lirih, menahan sedikit ngilu dalam area kewanitaanku.
Walau milikku sudah basah, tetapi karena ukuran batang kelelakian Andrian sangat jauh lebih besar dari kepunyaan Charlie, lubang unik milikku masih belum terbiasa menerima kunjungan dari barang sebesar itu.
Kedua kakiku yang sengaja dirapatkan oleh Andrian membuat batang kelelakiannya itu terjepit. Perlahan, gerakan maju dan mundur dari pinggulnya semakin lama semakin mendesak maju, memaksa agar segera masuk seluruhnya. Rasa ngilu kemudian berubah menjadi sensasi rasa yang sangat nikmat.
Andrian tampak memejamkan kedua matanya saat aku memberikan perlawanan dengan menggerakkan otot-otot kewanitaanku hingga menyedot dan mencengkram batang kelelakiannya dengan cukup kencang.
“Aaakkkhhhhh... kaaaakk.... enaaaakkk... sssshhh... aaakkhhh...” Andrian mendesis di antara dengus napasnya yang terdengar semakin memburu.
Irama hentakan pinggulnya semakin bertambah cepat, tubuh dan buah di dadaku sampai terlihat bergoyang hebat mengikuti desakan demi desakan dari pinggulnya, tongkat kelelakiannya pun masuk dan keluar dengan kecepatan yang stabil.
“Aaaakkkhhh.... Kaaaakk..... Shhhhh... tambah kencang kakkkk...... aaakkhhh...”
Lorong di dalam area kewanitaanku benar-benar telah di penuhi seluruhnya oleh batang besar milik Andrian. Entah sudah berapa kali aku menjerit, mendesah hingga mendesis tidak tertahankan saat hentakan pinggulnya berulang kali menyodokan batang kelelakiannya ke dalam lubang unik milikku sampai mentok ke ujung lorong di dalam area kewanitaanku.
Sampai tiba waktunya, setelah hampir 10 menit Andrian menyatukan tubuhnya ke dalam tubuhku, tiba-tiba ia menegang. Sambil memejamkan kedua matanya, Andrian terdengar mendesis panjang, lalu saat itu juga memuntahkan lahar putihnya ke dalam saluran rahimku. Rasanya hangat, basah dan menggelegar.
Begitu pula tubuhku yang saat itu sudah kedua kalinya mencapai orgasme. Tubuhku bergetar, di antara deru napas yang tersenggal-senggal dan keringat yang sudah saling bercampur, Andrian lalu menjatuhkan tubuhnya ke sampingku.
Tidak lama kemudian Andrian memelukku, lalu menciumi pipi dan keningku dengan sangat lembut dan berkata, “Terima kasih, ya kak... aku benar-benar tidak menyangka mendapatkan kesempatan langka seperti ini,” ucapnya berbisik ke telingaku. Napasnya masih terdengar seperti orang yang habis lari mengelilingi stadion.
“Langka?” tanyaku sembari berusaha mengatur kembali napasku yang masih menderu kencang.
“Iya... langka, karena katanya, wanita Chinna itu tidak boleh mempunyai hubungan sama lelaki pribumi ‘kan ya? Padahal aku paling suka sama wanita Chinna seperti kakak... cantik, putih bersih, pinggul berisi dan buah di dadanya ranuuuumm....” seru Andrian tersenyum nakal sembari meremas buah di dadaku sebelah kiri.
“Iiiiihhh ...” aku pura-pura merajuk dan menutupi bukit kembarku dengan kedua telapak tangan, lalu berkata dengan nada mesra, “Iya, sih rata-rata begitu... tapi, ada juga kok, wanita keturunan China yang nikah sama lelaki pribumi...” sahutku, melingkari wajah dengan senyuman ke arahnya.
“Benar? Ada? Siapa? Dimana?” tanya Andrian dengan antusias.
“Kamu bener-benar mau, ya? Punya istri keturunan China?”
“Iya, mau...” Andrian menganggukan kepalanya sembari tersenyum
“Nanti, ya aku cariin... hehe...” ucapku menggodanya sembari tertawa dan mencubit kecil dadanya yang kekar itu.
“Aku maunya, kamu kak... tapi... sayang, kakak udah punya suami...” ucapnya.
Mendengar itu aku hanya tersenyum dan balas memeluknya dengan mesra, lalu bibir kami pun kembali berpagut hingga terasa lengket dengan mengikat kedua lidah kami yang menari-nari di dalam rongga mulut kami.
Sejak saat itu tiada hari bagi kami selain mengisinya dengan kegiatan seperti layaknya sepasang suami istri. Kebetulan Charlie setelah selesai urusannya di Surabaya ia melanjutkan perjalanannya ke Malaysia hingga hampir lebih seminggu ia di sana.
Aku tidak terlalu memikirkannya, hari-hariku sudah kembali hangat dan ceria. Tidak ada lagi sepi yang menggerogoti hari-hariku. Semuanya berkat Andrian, lelaki keturunan pribumi yang pandai merawat diri. Bertubuh atletis, dan memiliki wajah yang selalu membuatku rindu.
Walaupun Charlie ketika kepulangannya kembali ke Indonesia sempat menyentuhku dan memberikan nafkah batinnya sebagai seorang suami kepada istrinya, aku tetap melakukannya dengan Andrian di setiap ada waktu dan kesempatan.
Tidak terasa, hubunganku dengan Andrian sudah berjalan hampir satu bulan. Dan di awal bulan kedua, tiba-tiba aku sering merasa pusing. Kadang, perutku terasa mual dan muntah-muntah di pagi hari. Hari demi hari keadaan semakin parah, aku jadi lebih sering muntah dan badanku terasa gampang lelah.
Setelah konsultasi dengan dokter, aku di sarankan memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dan benar saja, aku hamil!
Untuk beberapa menit, aku sempat berpikir, “Apa aku akan memberitahukan Charlie perihal kehamilanku atau hanya memberitahukannya kepada Andrian?” tanyaku dalam hati.
Setelah memikirkannya masak-masak, akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukan kehamilanku kepada Charlie. Agar ia menganggap, bahwa ia sudah berhasil menjadi lelaki seutuhnya yang memiliki keturunan seperti yang diinginkan oleh keluarganya.
Kepada Andrian, untuk sementara aku belum bisa memberitahukannya. Mungkin nanti saat perutku sudah mulai membesar, perlahan-lahan aku mulai menjauhinya demi keutuhan rumah tanggaku.
Rencana kedua, jika Charlie menaruh curiga dan sampai menceraikanku, aku tidak keberatan jika harus menikah dengan Andrian.
Beberapa detik kemudian, diam-diam sebuah senyum perlahan-lahan melingkar menghiasi wajahku.
--------- Selesai bacanya? ---------
Semoga rezekinya terganti dan berlipat ganda.



Post a Comment