Judul Cerita
Penulis
Total Chapter
Hak Akses
Hanya Untuk
: Penjaja Cinta
: elngprtma
: 9 Chapter
: Member Eksklusif
: DEWASA!
DISCLAIMER!
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
Bab 1 – Duniaku Hanya Satu, Sasha
Izinkan aku menceritakan kisah tentang hidupku yang sudah terlanjur hancur. Lebih tepatnya, menghancurkan diri dengan sengaja masuk ke dalam perangkap yang di tabur oleh Pak Wels, -pemilik perusahaan tempatku dulu pernah bekerja.
Saat itu, aku benar-benar tidak memiliki pilihan lain. Semuanya aku lakukan demi Sasha, anak dari hasil pernikahanku yang menemui jalan buntu dan harus berakhir di tengah jalan.
Pak Wels benar-benar ingin menguasiku secara penuh. Aku rasa, mungkin Pak Wels masih penasaran. Karena, waktu aku masih bekerja di perusahaannya, tidak pernah sekalipun ia berhasil mendapatkanku. Tubuhku lebih tepatnya.
Saat itu, aku masih kuat menggenggam prinsip. Tidak sekali pun, akal sehatku menyerah apalagi pasrah menyambut semua godaan dan rayuan busukknya. Bukannya aku tidak menyadari hal itu, aku hanya mengabaikannya, pura-pura semuanya baik-baik saja, demi menjaga posisiku agar tetap aman bekerja di perusahaannya kala itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja karena kondisi Sasha yang semakin bertambah parah.
Sekarang, keadaan berhasil memaksaku untuk mulai menenggelamkan diri ke dalam lembah hitam penuh noda menjijikan. Semuanya demi Sasha yang kini terbaring sakit, lemah dan tampak tidak kuasa melawan penyakitnya.
Aku rela melakukan apapun, bila saja nyawaku dapat ditukar untuknya, aku rela. Asal aku dapat melihat Sasha hidup dengan sehat. Aku benar-benar tidak menemukan satupun alasan untuk menolak itu. Tetapi, cara kerja semesta tidaklah begitu. Tidak perduli betapa besar keinginanku hanya untuk melihat Sasha tertawa riang dan bergerak lincah bersama teman-teman sebayanya walau hanya sekejap mata.
Sasha adalah satu-satunya duniaku, aku hidup berdua bersama Sasha di rumah kontrakan. Setelah proses perceraian dengan mantan suamiku selesai secara hukum, jadilah sekarang aku single parent untuk Sasha yang masih berusia 3 tahun. Sedangkan mantan suamiku kabur entah ke planet mana, aku tidak perduli. Aku hanya mendedikasikan hidupku untuk Sasha. Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini melebihi senyum kebahagiaannya.
Sudah satu tahun aku hidup menjanda akibat konflik rumah tangga yang berlarut-larut. Saat rumah tangga kami masih berjalan, sulit rasanya menyelesaikan pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi diantara kami dengan cara baik-baik. Bagaimana tidak? Siapa yang akan mampu bertahan hidup dengan suami yang pengangguran, hobi main judi dan mabuk-mabukan? Aku sudah tidak kuat lagi mendampinginya. Hampir setiap hari suamiku pulang dalam keadaan setengah sadar, bahkan tidak jarang berani berlaku kasar kepadaku.
Sampai pernah suatu ketika, ia benar-benar memuntahkan semua amarahnya, karena ia kalah di mjea judi, aku yang dijadikan sebagai sasaran pelampiasannya, hingga aku harus merasakan luka yang tidak hanya perih dalam hati, tapi fisik yang tega ia lebamkan, terutama di wajahku.
Kekacauan dalam hidupku seolah tidak ingin segera pergi dan berlalu. Setelah sah menyandang gelar janda muda, janda kembang dan istilah-istilah lainnya yang menggambarkan seorang janda yang masih muda dan cantik, aku merasa depresi dan tertekan.
Faktor himpitan ekonomi benar-benar membebaniku pundakku, semua terasa lebih berat, terlebih ketika informasi dari laboratorium rumah sakit mendatangiku. Sasha ternyata mengalami gagal fungsi ginjal, ia harus secepatnya mendapatkan penanganan lanjutan. Detik itu juga dunia seakan bertambah gelap, kondisi itu seolah menghantamku dengan sangat keras hingga terjungkal ke dalam got lalu digerogoti tikus-tikus kelaparan. Secarik kertas hasil tes labotarium, benar-benar menghancurkan semua pondasi pertahanan dan harga diri yang selama ini aku jaga.
Saat itulah, Winda, -sekertaris Pak Wels- menghubungiku. Ia mengetahui perceraianku dengan Mas Ben, -mantan suamiku. Winda menghubungiku hanya untuk menyampaikan kekhawatirannya, ia memintaku untuk tetap bersabar. Winda memang sahabatku sejak dari dulu saat aku masih bekerja di PT. Wijaya, perusahaan property milik Pak Wels.
Dengan getir, aku menceritakan semua masalah hidupku kepadanya, Winda hanya bisa menolongku dengan mengirimkan uang tiga ratus ribu rupiah ke rekeningku. Kemudian, Winda menyarankan agar aku mencoba untuk menghubungi Pak Wels, minta kepada atasannya itu agar mau kembali memperkerjakanku di perusahaannya, “Siapa tahu bisa mengajukan pinjaman lunak,” ujarnya. Walaupun aku dan Winda sama-sama tahu, hal itu sangat mustahil terjadi tanpa ada embel-embel lain yang menguntungkan Pak Wels.
“Maaf, ya Cin, sekarang tanggal tua. kalaupun bonusku sudah cair, gak akan nyampe sebesar itu. Mudah-mudahan ada jalan lain untuk kesembuhan Sashsa, ya Cin.” Ucapnya prihatin.
Aku mengerti, dan memang tidak terlalu berharap banyak kepada Winda. Saat itu aku butuh biaya yang tidak sedikit. Setidaknya aku harus menyiapkan 50 sampai 100 juta-an untuk keperluan pengobatan Sasha. Tetapi, bagaimanapun juga aku sangat berterima kasih kepada Winda, karena dengan menghubungiku saja pada hari itu, aku merasa sedikit lega. Setidaknya aku masih mempunyai seseorang untuk menumpahkan segala keluh kesah.
Dari perbincangan itu semuanya bermula. Aku akhirnya memberanikan diri menghubungi Pak Wels. Dengan suara yang terbata-bata aku menyampaikan semua permasalahanku sembari melemahkan nada suaraku dan menahan desakan isak tangis pilu yang mendesak dalam dada.
“Hmm, Cindy, 100 juta itu bukan uang sedikit, apalagi sekarang kantor lagi dalam keadaan yang cukup lemah, dan untuk saat ini pun kantor belum memerlukan karyawan baru ....” ucap Pak Wels, lalu terdiam sejenak sebelum ia kembali berkata, “Begini saja, kamu besok datang ke kantor, kita bicarakan semuanya di kantor, ya? Kalau kamu bersedia, sepertinya ada satu jalan ....”
“Ba-baik Pak, sebelumnya aku ucapkan terima kasih, Pak ... maaf mengganggu waktunya,” sahutku pelan dan penuh hormat. Untuk satu detik kemudian, aku merasa menemukan sedikit cahaya terang, walau belum mengetahui “jalan” seperti apa yang akan ditawarkan oleh Pak Wels, aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya.
Sebelum menutup sambungan telepon, aku menganggukan kepalaku beberapa kali walaupun aku tahu Pak Wels yang berada di sebrang telepon tidak akan melihat gerakan anggukan kepalaku sebagai tanda menghormati lawan bicara.
“Ma ... sesak ....”
Tiba-tiba suara Sasha terdengar samar merintih di belakangku, dengan segera aku menghampiri Sasha yang tampak terkulai lemah dan kesakitan di atas pembaringannya. Andai saja aku dapat dengan mudah mengambil posisinya untukku, aku rela mengalami segala sakit dalam tubuhnya untukku, agar Sasha tidak perlu merasakan penderitaan itu lebih lama lagi.
“Sabar ya nak, Mama akan berusaha agar kamu mendapatkan pengobatan dan penanganan yang layak secepatnya ....” sembari mengembuskan napas berulang kali, aku berusaha menenangkan Sasha. Ujung telapak tanganku bergerak pelan membelai rambut di ujung kepalanya yang terkulai lemah di atas pembaringan. Aku tidak kuasa lagi menahan derai airmata yang mulai berkumpul di ujung pelupuk mata.
Aku memang belum mampu membawanya kembali ke rumah sakit. Bantuan dari teman, saudara dan pemerintah masih belum mencukupi untuk mendapatkan perawatan yang serius. Menurut dokter yang menangani Sasha, penyakitnya sudah semakin menjalar kemana-mana, Sasha benar-benar membutuhkan penanganan yang beberapa hal tidak dapat di tanggung oleh asuransi kesehatan dari pemerintah.
Informasi yang datang dari rumah sakit seolah tiada henti membawa kabar yang menjepit hingga menghimpit ruang gerakku yang sempit. Birokrasi rumit berhasil melemparkanku dari wilayah sini sampai ke wilayah sana, membuatku selalu terpental tanpa hasil.
Aku benar-benar tidak mempunyai daya, segala upaya yang aku lakukan seakan sia-sia. Malam itu, aku hanya mampu memeluk tubuh mungil Sasha sembari menahan kristal-kristal bening yang berkumpul di sudut pelupuk mata, kepalaku lelah berputar.
Bab 2 – Satu-Satunya Jalan
Pagi hari.
Aku terbangun bersama harap yang kubawa dalam mimpi. Jarum jam terasa berdetak perlahan mendorong langkah kaki. Hari ini, aku harus siap menempuh jalan apapun yang nanti akan ditawarkan oleh Pak Wels. Demi Sasha yang terbaring lemah, aku tidak boleh berhenti.
Aku benar-benar terjepit, terpojok di ruangan gelap bersama sesak napas yang dihirupnya. Sasha benar-benar tidak mempunyai banyak waktu, ia harus segera mendapatkan penanganan serius jika aku tidak ingin kehilangannya.
Setelah menyiapkan semua keperluan Sasha, aku menitipkan Sasha kepada Nova, tetanggaku yang masih merupakan kerabat dari keluarga ibu sambil berkata, “Terima kasih, ya Nov.” ucapku.
Sesaat sebelum melangkahkan kaki menuju jalan raya, aku mencium kening Sasha, lalu merangkulnya dengan segenap cinta yang aku miliki untuknya. Nova mengangguk pelan, lalu berbalik kembali ke dalam rumah setelah punggungku tidak lagi terlihat oleh kedua matanya.
Perjalanan ke Asia Afrika tempat kantor Pak Wels berada hanya memakan waktu sekitar 20 menit kurang lebih. Suasana kantor masih tampak sepi, mungkin para karyawannya belum pada datang atau memang sudah terjadi pengurangan karyawan seperti kata Winda kemarin, aku tidak tahu.
Di depan Lobby kantor hanya ada Pak Maman, security kantor yang dulu. Pak Maman rupanya masih mengenaliku, ia tampak tersenyum ke arahku dan menjabat tanganku dengan sangat ramah, “Teh Cindy, apa kabar?” tanya Pak Maman, mengembangkan sebuah senyum bersahabat di wajahnya.
“Baik, Pak. Pak Maman sendiri gimana? Sehat, ya ....” sahutku sembari membalas senyumnya dengan ramah. Walaupun hati dan pikiranku masih tidak beraturan karena beratnya beban dan kesulitan hidup, aku tetap berusaha bersikap ramah, terlebih kepada orang yang sudah menyapaku sangat sopan.
“Baik, teh ... ngomong-ngomong, mau ketemu siapa, ya?’ tanya Pak Maman sembari membungkukan punggungnya sedikit.
“Ummm, aku ada janji sama Pak Wels, Pak. Apakah beliau sudah datang?”
“Oh, beliau belum datang, Teh Cindy. Ditunggu saja dulu di ruang Lobby, ya?”
“Baik, Pak. Terima kasih ....”
Setelah memberi anggukan kepala serta senyum ramah ke arah Pak Maman, aku lalu menuju area Lobby, mendudukan tubuhku di bantalan kursi sofa yang empuk itu. Sambil menunggu, aku mengambil ponsel dalam tas dan segera mengirimkan pesan kepada Winda, memberitahukan kepadanya bahwa aku sudah berada di Lobby kantor.
“Oalah, Cindy maaf, hari ini aku lagi cuti. Tapi aku sudah memberitahukannya kepada Pak Wels, beliau masih dalam perjalanan, beberapa menit lagi katanya beliau sampai di kantor, kamu tunggu saja dulu, ya.” Ucap Winda, ia segera menghubungiku setelah beberapa saat yang lalu ia membaca pesan singkat dariku.
“Siap, Win. Terima kasih banyak, ya.” Sahutku, lalu menutup sambungan telepon itu.
Ruangan kantor masih tampak sama seperti saat aku masih bekerja di tempat ini sebagai office girl, semua tertata rapi dan bersih. Walaupun aku tidak menempati posisi penting di kantor ini, tetapi saat itu banyak sekali teman-teman karyawan yang menaruh perhatian kepadaku, bahkan beberapa diantaranya ada yang nekat mendekatiku walau mereka tahu saat itu aku masih mempunyai suami.
Menurut Winda, mereka menyukaiku karena wajahku yang sedikit agak oval dengan rambut ikal yang terurai, mempunyai kulit putih bersih, hidung agak sedikit mancung dan bentuk bibir yang terukir sensual. Belum lagi jika mereka melihat pinggulku. Waktu itu Winda sempat berkelakar, “Bokong dan dada kamu itu berbahaya sekali Cin! Kamu sadar, gak sih selalu jadi pusat perhatian orang-orang di kantor ini?” tanyanya sembari tertawa usil. Aku hanya tersenyum, sama sekali tidak meresponnya. Saat itu aku masih menjungjung tinggi kesetiaan dan sangat menjaga kehormatan keluarga.
Sekarang? Aku tidak tahu lagi wujudku yang sebenarnya. Keadaan benar-benar telah memaksaku bertempur seorang diri melawan tekanan demi tekanan yang semakin berat membenani pundak. Mungkin, kepalaku kini sudah tampak bertanduk dengan beribu nanah menyelimuti tubuhku. Sejak aku memutuskan untuk menerjunkan diri ke dalam genangan lumpur kotor dan dengus napas memburu para lelaki, aku tidak tahu lagi apa itu kehormatan dan harga diri.
Sisi kelam hidupku dimulai dari tatapan aneh kedua bola mata Pak Wels saat ia mendekatiku dari arah pintu depan menuju Lobby. Sembari menghiasi wajahnya dengan lingkar senyum yang membuatku merasa agak risih, ia menyalamiku dan berkata, “Kamu semakin cantik aja, Cin. Sorry nunggu lama, ya?” sapa Pak Wels menggenggam erat tanganku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tampak mengelus punggung tanganku yang menyalaminya. Jika aku tidak segera berusaha menarik tanganku, sepertinya hal itu akan berlangsung cukup lama.
“Ti-tidak, Pak. Saya baru sampai juga.” sahutku menganggukan kepala sembari berusaha menetralisir suasana kaku dalam diriku.
“Ya sudah, kalau begitu kita ke ruanganku saja. Waktuku sedikit, sebentar lagi ada meeting.” Ajak Pak Wels sebelum melangkahkan kakinya menuju ke area lift.
Di dalam lift yang terpasang kamera cctv, Pak Wels tidak banyak bicara, ia hanya terdiam sembari mengecek sesuatu dari gawainya. Aku pun menjaga jarak, sama-sama terdiam dalam keheningan.
Sampai tiba di ruangan pribadinya, Pak Wels mendekat. Ia lalu duduk di sampingku hingga sebagian tubuh kami saling bersentuhan. Perlahan, aku mencoba menggeser tubuhku, tetapi Pak Wels segera menahan gerakan tubuhku dan berkata langsung tanpa basa-basi, “Aku hanya bisa menawarkan satu-satunya jalan untukmu, 100 juta itu bukan uang yang sedikit, tidak akan pernah ada yang mau memberikan pinjaman cuma-cuma sebesar itu tanpa ada sesuatu yang setimpal.” Ucapnya, tampak tatapan matanya lekat memandangiku dari ujung rambut hingga ke ujung kaki dengan napas yang mulai terdengar cepat memburu.
“Mak-maksudnya ... gi-gima-na, pak?” tanyaku tergagap.
“Dengar, jika aku harus memberikan uangku untuk menutupi semua keperluan kamu, apa kamu sanggup memenuhi semua keinginanku, Cindy?” tanyanya tegas, seolah ingin mendominasi keadaan dengan menunjukan bahwa ia adalah seseorang yang mempunyai kuasa penuh atas diriku.
Mendengar ucapannya, aku mulai memahami kemana arah pembicaraannya. Aku lalu tertunduk dalam diam. Suara-suara batinku mulai berperang dan saling serang. Keinginan untuk menolak seketika terkalahkan oleh bayangan seraut wajah kecil yang teramat aku cintai. Sasha, ia harus segera mendapatkan pengobatan, agar kelak ia dapat tumbuh besar dengan sehat dan sanggup berjuang demi kehidupannya sendiri.
“A ... a-apa yang ha-ha-rus sa-saya la-lakukan, pak?” tanyaku terbata-bata. Jantungku seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik saat Pak Wels mendekatkan wajahnya ke kepalaku.
“Kamu jangan pura-pura tidak paham, Cindy. Kamu tahu apa yang aku inginkan ....”
“Ti-tidak, pak ... a-aku ... uummmmph ....”
Aku tidak sempat menyelesaikan ucapanku, bibir Pak Wels sudah mendarat di atas bibirku. Tanpa merasa sungkan sedikitpun, ia mengecup bibirku beberapa detik, kemudian melepaskannya kembali sembari tersenyum penuh kemenangan saat melihatku terdiam tanpa melakukan reaksi penolakan yang berarti.
“Kamu tenang saja, sudah aku siapkan cek sebesar 50 juta untuk kamu, 50 juta lagi jika kamu menuruti semua perintahku, kamu bersedia?” tanya Pak Wels, lalu mengeluarkan secarik kertas cek yang berisi sejumlah nominal uang sebesar 50 juta rupiah dan menyodorkannya kepadaku.
Sekelabat bayangan wajah Sasha kembali memenuhi seluruh sel dalam kepalaku. Seolah sudah terhipnotis bujuk rayu setan bertanduk emas, seketika itu juga tangan kananku terangkat dan menjulur ke arah Pak Wels hendak mengambil secarik surat berharga tersebut. Tetapi, dengan cepat Pak Wels menarik tangannya dan kembali menghampiri bibirku yang menurut Winda, bibirku itu seolah sengaja Tuhan ukir dengan bentuk yang sangat sensual.
--------- Batas Preview ---------
Maaf, cerita terkunci!
Khusus Member
PAKET EKSKLUSIF
Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!
Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.
Login / Registrasi
Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan
terlebih dahulu.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Klik tombol di bawah ini
Langganan PaketMaaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Silahkan berlangganan kembali.
Langganan PaketMaaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.


