Judul Cerita
Penulis
Total Chapter
Hak Akses
Hanya Untuk
: Napsu Besar
: elngprtma
: 9 Chapter
: Member Eksklusif
: DEWASA!
DISCLAIMER!
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
Bab 1 – Maniak!
Menurut cerita Lesti dan Weni, -saat mereka menginap di rumah Trian. Otak adik lelakinya itu sepertinya seorang maniak mesum.
Malam itu, ketika Lesti baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk kecil untuk menutupi tubuhnya, Kemal tiba-tiba menghampirinya dengan cepat lalu meremas bokong Lesti dengan tangan kanannya.
Setelah itu ia pergi begitu saja sembari mengerdipkan sebelah matanya ke arah Weni yang kebetulan saat itu Weni tengah membuka pintu kamar dan secara tidak sengaja melihat kejadian itu.
Lesti tentu saja terkejut setengah mati, ia menjerit sambil membelalakan kedua bola matanya ke arah Kemal. Hanya itu yang bisa Lesti lakukan, menatap punggung Kemal yang tampak sudah siap melarikan diri.
“Aw! Kemal!” jerit Lesti.
“Hehe ... Kakak beneran seksi banget! Maaf, ya kak!”
Kemal berteriak sembari membalikan badan sebelum ia kembali berlalu dan menghilang di balik tembok pembatas rumah.
“Errgh! Dasar! Maniak!” Pekik Lesti greget.
Weni yang melihat kejadian itu hanya tertawa kecil, ia memang sudah tahu kelakuan Kemal, dari dulu ia memang super menjengkelkan.
Weni ingat Trian pernah cerita, ia sering mendapati Kemal sedang menyentuh alat vitalnya sendiri di dalam kamarnya sembari merem melek. Bahkan, beberapa film “dewasa” pun sering ia temukan di ponselnya.
Untung saja, Kemal tidak pernah tertarik kepada kakak kandungnya. Bahaya jika Kemal sampai berani menyentuh dan berbuat macam-macam kepada kakaknya, bisa-bisa satu keluarga kena azab, ‘kan?
Syukurlah, masih ada sisi kewarasan di otaknya Kemal yang agak retak itu, -bukan retak dalam arti yang sesungguhnya, kamu tahu maksudku.
Mendengar cerita mereka, aku justru malah jadi penasaran, seperti apa sih tampang adiknya Trian. Apakah bagus? Menarik? Atau bahkan menggoda?
Otak kusutku kadang-kadang memang suka mendadak kotor, sudah seperti ruangan yang lama ditinggal pergi penghuninya, banyak debu, harus segera disedot menggunakan vakum cleaner keluaran terbaru.
Baiklah, aku ingin berterus-terang. Aku memang bukan wanita baik-baik, bahkan aku seringkali dicap sebagai wanita penakluk pria yang tidak pernah gagal.
Beberapa kali pacaran, aku dan pacarku bahkan berani melakukan hubungan layaknya seperti suami istri.
Dan gilanya, aku menyukai aktifitas seperti itu. Tentu saja itu salah, tidak seharusnya pacaran melakukan hal-hal seperti itu, terlepas karena dorongan cinta atau hawa napsu, hal itu jelas sangat tidak boleh dilakukan.
Awas, ya! Kalian jangan sampai berbuat seperti apa yang sudah dan -mungkin akan aku lakukan lagi.
Malam itu seplepas kerja, aku sengaja menunggu Trian. Ia kerja di kantor yang sama denganku, tepatnya di bagian admisitrasi, sedangkan aku bekerja di bagian produksi. Mungkin karena pekerjaanku di bagian produksi kali, ya? Mengapa aku selalu giat memproduksi libido. Hehe, bercanda.
“Hey Wit! Belum pulang? Lagi nunggu jemputan?”
Trian bertanya sembari menghampiriku.
“Dasar apes, Tri. Aku lupa bawa kunci rumah, Ibu tadi sore mengabari, Ibu ikut sama adiknya ke Tangerang, kakaknya yang paling besar sakit parah katanya.”
“Oalah, terus kamu masuk ke rumahnya gimana dong?”
“Justru itu masalahnya, aku lupa bawa kunci.” Aku mengulangi perkataanku yang pertama, menekankan pada kalimat “lupa bawa kunci”, berharap Trian menawariku untuk menginap di rumahnya. Dan itu berhasil.
“Hmm, kalau kamu mau, kamu bisa menginap di rumahku malam ini, gimana?”
“Emang boleh?”
“Ya boleh, lah … uumm, tapi sebenarnya aku suka merasa gak enak bawa teman ke rumah,”
“Kenapa?” Aku pura-pura tidak tahu.
“Kelakuan adik lelakiku kadang-kadang bikin jengkel dan malu …”
“Maksudnya?”
“Otak dan kelakuannya gak bener! Mesum mulu!”
“Oalah, Hahaha ….”
“Kok ketawa, sih?!”
“Gak apa-apa, masa puber kali dia, Tri!”
“Ga tau juga pokoknya aku gak bertanggung jawab, ya! Aku takut nanti adikku macam-macam sama kamu, Wit ….”
“Santai, aman!” sahutku buru-buru tersenyum demi menyakinkan Trian.
Rumah Trian letaknya tidak begitu jauh dari rumahku, dan sebenarnya aku selalu membawa kunci rumah, menjaga kejadian seperti hari ini, tiba-tiba Ibu mendadak pergi.
Hanya karena aku penasaran rupa dan bentuk adiknya Trian, aku pun berbohong kepada Trian. Lagian, aku memang belum pernah menginap di rumahnya Trian, sedangkan Trian sudah beberapa kali menginap di rumahku. Anggap saja ini sebagai kunjungan balasan, berbalut misi tersembunyi.
Tidak lama kemudian aku dan Trian sudah sampai di depan teras rumahnya. Trian dan adiknya itu tinggal bertiga bersama neneknya, sedangkan kedua orang tua mereka sudah lama meninggal.
Mungkin itu menjadi salah satu penyebab Kemal sering mengurung diri dalam kamar, dan bermain dengan dunianya sendiri.
Mungkin juga karena Kemal kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua, hingga akhirnya Kemal hidup dengan imajinasi dan khayalannya yang semakin hari semakin bertambah liar.
Di depan teras, aku melihat seorang lelaki muda sedang duduk bermain gitar, suaranya bagus, halus dan enak didengar. Perawakan dan wajahnya pun manis, mendekati kegantengan level maksimal, jika diukur dari angka 1 sampai dengan 10, lelaki muda itu berada di angka 8. Garis wajahnya agak-agak mirip Trian yang sebenarnya cantik jika Trian mau bebenah wajah dengan memolesnya, walau hanya dengan make-up tipis dan sederhana.
Aku sempat bertanya kepada Trian soal usia adiknya, ternyata mereka hanya berbeda 2 tahun saja.
Aku dan Trian sebaya, sampai hari ini aku sudah menghirup udara dunia selama 21 tahun, berarti sekarang Kemal berumur 19 tahun.
“Hmm, daun muda,” desisku dalam hati.
Menurut cerita Trian, ibunya Trian meninggal saat melahirkan Kemal, sedangkan Ayahnya meninggal saat Trian duduk di bangku kelas 1 SMU, berarti Kemal saat itu baru kelas 2 SMP.
Semenjak itu mereka tinggal bersama neneknya. Setelah Trian selesai sekolah, Trian mulai sibuk dengan pekerjaannya, setiap hari pergi pagi pulang malam, sedangkan neneknya sudah sangat tua, hingga tidak ada yang memperhatikan lagi Kemal.
“Kemal, belum tidur?” tanya Trian saat ia melewati Kemal yang tengah duduk di depan teras itu.
“Belum ngantuk!”
“Siapa itu, Tri?” tanyaku.
“Kemal, adikku yang aku ceritain ….”
“Ouhh itu, ya.” Sahutku menganggukan kepalaku ke arahnya sembari tersenyum.
Kemal menatapku seolah sedang melihat sesuatu yang harus ia perhatikan dengan sangat teliti, kedua matanya tampak meyusuri setiap lekuk tubuhku dari atas sampai bawah, terlebih di bagian dadaku.
“Dasar, mesum! Benar kata Lesti dan Weni, Adiknya Trian ini ternyata seorang maniak gila!” jeritku dalam hati, “Awas, ya aku kerjain kamu nanti!” Otak kotorku seketika terbawa arus gelombang ide yang beraroma nakal.
Kami lalu masuk ke dalam rumah, setelah menyapa neneknya Trian dan menyimpan tas di dalam kamar yang disediakan oleh Trian, aku lalu duduk-duduk santai di depan televisi, sementara Trian membuatkan satu gelas coklat panas untukku sebelum ia bergabung diruang tengah.
Coklat panas itu tidak segera aku minum, aku biarkan uapnya sedikit menghilang agar coklat panas itu tidak langsung membakar lidahku saat aku minum.
Tanpa sengaja, aku melihat Kemal mengintipku dari balik kaca jendela depan rumah. Tiba-tiba ide gilaku mulai melintasi kepala. Perlahan, aku membuka kedua pahaku lebar-lebar, hingga rok kerja yang aku kenakan seketika itu juga terbuka dan kedua paha putih mulusku bisa terlihat dengan sangat jelas oleh kedua mata Kemal yang selalu terlihat jelalatan itu.
“Nih! Rasakan! Gak bakalan bisa tidur kau Kemal! Hehe ….”
Sungguh, aku tidak tahu apa yang akan diperbuat Kemal kepadaku. Lesti, yang tidak pernah mancing-mancing pun berani di sentuh olehnya, apalagi kepadaku yang jelas-jelas sudah memancing ikan di kolam yang keruh.
Saat itu aku sama sekali tidak memikirkan hal itu, aku hanya ingin iseng mempermainkan adiknya Trian saja, walau harus aku akui, saat aku melihat garis wajahnya, aku mulai merasa tertarik kepadanya, tapi aku, ‘kan tidak mungkin menunjukannya secara langsung.
Bab 1 – Goyang dikit, Muncrat!
“Diminum, Wit coklatnya nanti keburu dingin gak enak,” ucap Trian memintaku untuk segera mencicipi coklat panas buatannya.
“Iya, nanti, santai aja.”
“Coklat panas itu bagus, biar meredakan lelah. Abis minum coklat, cobalah untuk tidur dan istirahat.”
“Iya sih, aku memang jarang bisa tidur cepet, paling cepet tidur jam 1 atau jam 2 pagi,”
“Wah, masa, sih?”
“Iya, serius,”
“Hoaaaahhh …. aku malah udah ngantuk ini Wit, cape banget, hari ini kerjaan banyak banget.” sahut Trian sembari menguap.
“Ya udah gih, kamu tidur aja duluan, aku masih mau nonton televisi, gak apa-apa, ya?” ujarku, lalu menatap Trian yang memang sudah tampak lelah.
“Ya udah, aku tidur duluan, ya. Kamu jangan tidur larut malam, nanti sakit Wit!”
“Oke, aman!” sahutku sembari membuat lingkaran dengan menyatukan jari jempol dan telunjuk secara bersamaan sebelum mengalihkan pandanganku kembali ke layar televisi.
Beberapa menit kemudian, setelah beberapa kali memindahkan channel televisi, aku tidak menemukan satupun acara yang menarik.
Perlahan aku pun menguap, rasanya aku perlu meluruskan badan. Satu detik kemudian aku berdiri dan melangkahkan kaki menuju kamar dan mengganti pakaianku dengan daster.
Pintu kamar sengaja tidak aku kunci, aku ingin tahu apakah Kemal masih penasaran ingin melihat kedua pahaku lagi atau tidak.
Otakku ini mungkin memang sudah korslet, seakan-akanaku sengaja mengundang binatang liar agar ia leluasa mengancam tidur nyenyakku dengan sesuatu yang mambakar gairah.
Daster yang aku kenakan cukup pendek, jika ada orang yang masuk ke dalam kamar, paha putih mulusku pasti akan terlihat dengan sangat jelas, karena lampu kamar memang sengaja tidak aku matikan.
Aku tidak terbiasa tidur dalam keadaan gelap gulita. Gelap membuatku sesak, sulit untuk bernapas.
Perlahan, aku pejamkan mata sembari berhitung dalam hati, mulai dari angka satu. Dan pada hitungan ke sepuluh, aku mendengar suara pintu terbuka, didorong seseorang dari luar. “Hmm, siapa lagi kalau bukan Kemal!” bisikku dalam hati. Benar apa yang dikatakan Lesti dan Weni, Kemal ini memang orangnya nekad. Aku dapat merasakan langkahnya yang bergerak pelan menghampiri ranjang.
Tiba-tiba, satu sentuhan tangan terasa kasar dan memaksa, menyingkapkan daster yang aku kenakan dengan tergesa-gesa. Bersamaan dengan itu, sebuah kecupan yang hangat dan kenyal terasa menempel erat pada bibirku.
Kemal sudah berada di atas tubuhku, tangannya bergerak cepat berusaha melucuti semua yang aku kenakan.
Aku berusaha untuk mendorong tubuhnya, tetapi walaupun badan Kemal tidak terlalu besar, napsu birahinya telah memberinya tenaga ekstra, ia benar-benar sudah menguasaiku. Aku yang memancing srigala ini masuk ke dalam kamar sempat terkejut, tidak menyangka Kemal akan berbuat se-brutal ini.
Ketika ia selesai menciumi bibirku dengan liar dan terkesan terburu-buru, Kemal tiba-tiba bangkit dan menduduki tubuhku.
Tanpa aku duga, kedua tangannya mencekik leherku. Kedua matanya tampak sangat mengancam. Diantara gerakan tanganku yang berusaha menyingkirkannya, tiba-tiba aku merasakan sensasi yang lain dari biasanya.
Baru kali ini aku diperlakukan seperti ini, dan rasanya sangat luar biasa. Andrenalinku seakan terbakar dengan sempurna.
“Jangan berteriak, diam! Lemaskan saja! Atau, besok Kakak tidak bisa lagi melihat sinar matahari! Tolong, kak! Aku sudah tidak kuat …” desis Kemal, suaranya terdengar berat dan sesak, tanpa keraguan sedikitpun ia mengencangkan cengkraman tangannya pada leherku, napasnya sudah terdengar memburu.
“Uugghhh! A-a-ak-ak-ku ti-tidak bi-sa na-na-na-pas!” ucapku sesak, berusaha melepaskan cengkraman kedua tangan Kemal.
Melihat raut wajahku yang mulai memucat, Kemal mulai mengendurkan cekikannya dan berkata pelan, “Lalukan apa yang aku suruh, cepat buka daster kakak sekarang!” bisik Kemal, kedua matanya menatapku dengan pandangan yang dipenuhi dengan napsu birahi yang memuncak.
Kemal sepertinya sudah sangat tidak sabar, karena aku tidak segera melakukan apa yang ia minta, Kemal tiba-tiba menyingkapkan dasterku ke atas hingga menutupi seluruh wajahku, ia tarik terus sampai ke atas kepalaku, mengeluarkan kedua tanganku dari daster itu hingga terlepas seluruhnya. Tanpa melihat ke arah lantai, Kemal melemparkan daster milikku itu ke bawah.
Tidak cukup sampai di sana, Kemal menarik celana yang aku kenakan paling dalam, melewati kedua ujung jari kaki ku sampai terlepas, pun begitu dengan bra yang melilit dadaku.
Setelah melucuti pakaianku, Kemal lalu kembali menindih tubuhku sembari menciumi wajahku dengan brutal. Lidahnya memaksakan diri untuk masuk ke dalam rongga mulutku, sementara kedua tangannya bergerak bebas mengitari kedua bukit kembarku yang sudah mulai mengencang.
Seperti ceritaku sebelumnya, aku memang bukan wanita baik-baik yang selalu menjaga kehormatan seorang wanita. Kesucianku sudah direnggut oleh pacar pertamaku sewaktu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMU.
Pengalamanku dalam berhubungan intim sudah cukup banyak, tetapi permainan seperti yang dimainkan Kemal saat ini baru aku rasakan sekarang. Aku baru mengetahui, begini rasanya dipaksa, menjadi objek pemuas napsu adik dari teman kerjaku ternyata bisa menjadi sensasi yang luar biasa, lain dari biasanya. Entah mengapa aku menyukainya. Gila! Aku mungkin sudah gila.
Dengan buru-buru, Kemal menarik celana kolornya sendiri, sementara baju t-shrit yang dikenakannya itu sudah dari awal tadi ia lepaskan. Batang keras miliknya sangat jelas terpampang menempel di antara selangkangannya. Hitam, tegang dan tampak mengeras. Ukurannya melebihi ukuran rata-rata lelaki di usianya. Tanpa aku sadari aku menelan ludahku sendiri.
“Pu-punyamu besar se-sekali, Kemal,”
Aku mendesis tanpa sadar.
“Hmm, kakak suka?”
Dari gelagatnya, Kemal bertanya tanpa membutuhkan jawaban apapun dariku, ia tampak buru-buru membuka kedua pahaku dengan cukup kasar, hingga posisi pangkal kedua pahaku kini sudah tepat berada di area bidiknya.
Tanpa basa-basi lagi, Kemal mendorong pinggulnya sampai seluruh batang miliknya itu amblas ke dalam area kewanitaanku yang sedari tadi memang sudah basah karena libidoku memang sangat cepat terbakar.
“Jleeeeeb! Ssshhhhhhh Kaaakkk enaaaak sekalii ….”
Kemal merintih sembari kembali menghentakan pinggulnya berulang kali. Tidak cukup puas sampai di situ, kedua tangannya mulai meremas kedua bukit kembarku yang sudah terpampang bebas di depan kedua matanya.
“Uuuuggghhhh … Kemal ….”
Tidak terasa aku mulai mendesis, baru kali aku merasakan sensasi paksaan seperti ini. Aku merasa seolah-olah sedang dikuasi sepenuhnya oleh monster pemuas napsu. Belum pernah rasanya dadaku berdebar sekencang ini.
Tetapi, baru beberapa kali aku menggoyangkan pinggul, hentakan demi hentakan yang menusuk area intim kewanitaanku terasa semakin cepat dan semakin cepat, diiringi dengan suara napas Kemal yang memburu, lalu beberapa detik kemudian otot-otonya tampak kaku. “Uuuuuugghh Kak, a-aakuuu ma-mauu keluaar, aaaggghhh ….”
“Jangan! Jangan dulu keluar!” teriakku tanpa sadar.
“Aaaahhh Kaaaaakkkk, aa-aaakuuu keluaaarrr!”
“Croot!”
“Croooot!”
“Eeerrgrhhh!!”
Seketika itu juga aku berteriak kesal ke arahnya. Lelaki macam ini hanya napsunya saja yang besar. Pertahanannya lemah, padahal baru beberapa kali genjot, sudah muncrat!
“Huh! Segitu aja kekuatan kamu Kemal?” ucapku gusar, lalu dengan kasar aku mendorong tubuhnya yang tampak sudah lemas itu.
Aku benar-benar greget! Bagaimana tidak? Aku sama sekali belum mencapai puncak klimaks itu, bahkan mendekati pun tidak.
--------- Batas Preview ---------
Maaf, cerita terkunci!
Khusus Member
PAKET EKSKLUSIF
Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!
Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.
Login / Registrasi
Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan
terlebih dahulu.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Klik tombol di bawah ini
Langganan PaketMaaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Silahkan berlangganan kembali.
Langganan PaketMaaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.


