Judul Cerita
Penulis
Total Chapter
Hak Akses
Hanya Untuk
: Gairah Ibu Mertua
: elngprtma
: 6 Chapter
: Member Eksklusif
: DEWASA!
DISCLAIMER!
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
Bab 1 – Ke rumah Mertua
Bu Dilla selalu saja terlihat marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam, serta lebih memilih tidak meladeni ibu mertuaku ketika ia sedang marah-marah.
Ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di sana hanya duduk-duduk seharian sembari memandangi dan memeriksa area kebun dan sekitarnya.
Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa melihat pertengkaran demi pertengkaran di antara kedua orangtuanya. Terutama dengan sikap Ibunya yang kini tampak berbeda dibandingkan sewaktu mereka masih berada di Jakarta. Kami berdua hanya bisa menduga, kemungkinan Ibu mertuaku mengalami post power syndrome.
Karena istriku merasa segan untuk menanyakannya langsung kepada kedua orang tuanya, istriku meminta kepadaku untuk mencari tahu masalah sebenarnya kepada ibunya. Dan, kalau memungkinkan aku diminta untuk memberinya masukan-masukan positif agar kedua orangtuanya kembali rukun.
Untuk itu, aku dan istriku lalu menyusun rencana agar ibunya mau bercerita tentang masalah yang terjadi di dalam rumah tangganya. Maka istriku memintaku untuk menanyakannya perihal itu nanti saja, saat istriku tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya, agar ibu mertuaku tidak merasa sungkan bercerita.
Dan di hari ke-3 kedatanganku di rumah mertuaku, setelah menghabiskan santapan sarapan pagi, istriku pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya sambil membawa serta anakku ke kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang , dan akan pulang sore nanti.
“Lho, Yanni, kok Mas mu nggak diajak?” tanya ibunya kepada istriku Yanni.
“Nggak usah ‘lah bu, biar Mas Ded nemenin Bapak dan Ibu, wong aku nggak akan lama, kok” sahut istriku, lalu sembari sembunyi-sembunyi mengedipkan salah satu matanya ke arahku. Aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan, dan sampaikan salam mereka ke Bude di sana katanya.
Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tobby pun pamitan kepadaku dan istrinya untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sembari berkata kepadaku, “Nak Ded, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul saja bapak ke sana, ya.”
Aku hanya mengangguk pelan sembari melingkari wajahku dengan senyuman ramah.
Setelah bapak mertuaku pergi, sekarang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengorek keterangan perihal masalah dalam rumah tangganya, aku lalu mengambil secarik koran lokal dan membacanya di ruang tamu.
Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah aku baca semua, dari berita nasional sampai berbagai macam artikel dari para penulis-penulis lokal, semuanya aku lahap habis.
Tiba-tiba, saat aku membaca artikel di halaman terakhir koran itu, aku dikagetkan suara benda jatuh yang diikuti dengan suara mengaduh dari arah belakang.
Dengan gerakan spontan, aku segera berlari menuju ke ruangan belakang sambil berteriak, “Bu! Kenapa bu?”
Dari dalam kamar tidurnya aku mendengar suara ibu mertuaku merintih kesakitan, “Ded, tolong ibu!” teriak ibu mertuaku terdengar seakan tengah menahan sakit.
Begitu sampai di dalam kamarnya, ibu mertuaku terlihat sedang terduduk di lantai, ia tampak kesakitan. Sepertinya bu Dilla terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaiannya.
Sambil meringis dan mengaduh, ia tampak mengurut pangkal pahanya dengan sebelah tangannya. Dengan segera aku mengangkat tubuh ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar, lalu menidurkannya sambil bertanya, “Mana yang sakit Bu? Perlu panggil tukang urut?”
“Tidak usah, Cuma sakit sedikit di sini, tadi ibu terjatuh waktu mau mengambil baju di atas lemari,” sahut ibu mertuaku sembari menunjuk pangkal paha kananya, wajahnya masih tampak meringis menahan sakit.
Bab 2 – Ibu Mertua Jatuh
Dengan sedikit agak ragu, aku lalu membantu mengurut paha ibu mertuaku, berharap dapat meringankan rasa sakitnya itu sembari kembali bertanya, “Bagian mana lagi yang sakit, bu?”
“Nggak ada Ded, cuma di sepanjang paha kanan ini aja agak ngilu dan sakit sedikit,” jawabnya sambil meringis, lalu terdiam sejenak sebelum ia kembali berkata, “Oh iya Ded, tolong ambilkan minyak kayu putih di meja rias ibu, biar paha ibu terasa agak hangat, mudah-mudahan sakitnya cepet ilang,” pintanya sembari menunjuk ke arah lemari.
Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias kamar itu. Sesaat setelah menemukan minyak itu, aku segera membalikan tubuh hendak menghampiri ibu mertuaku.
Saat itu juga aku sangat kaget melihat ibu mertuaku ternyata sudah menyingkapkan rok yang dikenakannya ke atas, hingga kedua kedua pahanya dapat aku lihat dengan sangat jelas. Putih dan sangat mulus disertai bulu-bulu halus yang tipis dan rapih.
Aku tercekat, sempat tertegun untuk beberapa detik di depannya. Melihat keragu-raguanku, ibu mertuaku tiba-tiba berkata sembari memperhatikan kedua bola mataku yang tertuju ke arah kedua pahanya itu, “Ayo sini, Ded ibu sudah gak kuat, sakit. Kamu itu ya, gak usah sungkan, sama ibu mertua sendiri...” ucap ibu mertuaku memberik isyarat dengan anggukan kepalanya, dan kembali berkata, “Eumm, Ded... tapi kayaknya gak usah pake minyak itu, ya! Ibu takut terlalu panas juga,” ucap ibu mertuaku.
Sepertinya, setelah ia pikir-pikir, minyak kayu putih itu bisa membuat pahanya kepanasan dan tentu akan membuatnya merasa tidak nyaman. Lalu, dengan perasaan yang tidak menentu, aku mulai mengurut paha kanannya di bagian tanda agak dan memanjang akibat benturan sewaktu terjatuh tadi.
“Bagaimana bu, ini yang sakit?” tanyaku pelan sembari mengurut paha ibu mertuaku yang sangat putih dan mulus itu. Bulu-bulu halus di sekitar pahanya benar-benar membuat jantungku berdetak lebih kencang.
“Iya betul Ded, yang itu... tolong urut lagi agak keras dari atas ke bawah” pintanya sembari meringis. Tanganku terasa sedikit gemetar saat menyentuh pahanya semakin ke atas, sambil berusaha menepis segala kekotoran yang tiba-tiba melintas di kepalaku, aku mengikuti permintaan ibu mertuaku dengan patuh.
Setelah beberapa saat mengurut pahanya yang katanya sakit itu, ibu mertuaku kembali berkata sembari memejamkan kedua matanya, “Nak Ded, tolong agak ke atas lagi sedikit ngurutnya...” ucap ibu mertuaku sambil menarik roknya lebih ke atas, sehingga sebagian celana paling dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas olehku. Seketika itu juga aku tercekat, dadaku semakin bertambah bergetar aneh, apalagi area kewanitaan ibu mertuaku seolah mengintip ke arahku dengan bentuknya yang agak terlihat sedikit menggembung dari luar. Bahkan, beberapa helai bulu-bulu halus di sekitar area kewanitaannya itu seakan sengaja menampakan diri, keluar dari samping celana paling dalam yang dikenakannya.
“Ded, kok ngurutnya jadi berhenti?” pertanyaan ibu mertuaku membuatku tersadar dari lamunan dan khayalan kotor yang semakin tertancap dalam kepalaku.
“I-iyaa… bu maaf, uumm, ta-tapi… bu...” jawabku agak terbata-bata, karena keraguan dan rasa sungkan, aku benar-benar tidak dapat menyelesaikan ucapanku.
“Aaah! Kenapa, sih Ded?” tanya ibu mertuaku sembari mengambil tanganku dan menggoncangkannya pelan dan tampak greget, seolah memaksaku untuk mengikuti semua keinginannya.
“Bu... saa... sa-sayaa... saayaa...” sahutku benar-benar tergagap semakin merasa tidak menentu. Sisi lain aku adalah seorang lelaki dewasa yang mempunyai napsu birahi, tetapi sisi yang lain aku adalah anak menantunya yang harus menghormati bu Dilla sebagaimana layaknya aku menghormati ibuku sendiri.
Aku seolah berada di ujung jurang yang serba membingungkan, tanpa tahu lagi apa yang harus aku katakan. Maksud hati ingin menolak, tetapi sesuatu dibalik celanaku terasa semakin membengkak dan mengeras, benar-benar terasa pegal. Terlebih bagian yang menggelembung di tengah-tengah area kewanitaan bu Dilla itu seolah-olah terus saja mendelik ke arahku dengan melemparkan undangan birahinya berkali-kali.
“Ded...” ucap bu Dilla, kini suaranya terdengar lirih, menarik tangan kananku yang seketika itu juga mengikuti tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan.
Tiba-tiba, aku benar-benar sangat tidak menyangka, bu Dilla akan mencium punggung tanganku sembari menggeser-geserkan bibirnya yang tipis dan sensual itu. Entah berapa kali ia mengecup dan menggeser bibirnya di atas punggung tangannku.
Hingga pada akhirnya aku semakin tercekat, saat ia membawa tanganku tepat ke area kewanitaannya yang masih tertutup celana paling dalam yang ia kenakan. Aku benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa selain menuruti semua keinginannya sembari berusaha mengatur ritme pernapasanku yang mulai terasa semakin cepat dan memburu.
Sambil memegang tanganku, bu Dilla lalu mengusap area kewanitaannya dengan telapak tangannku yang tertindih tangannya sendiri. Beberapa detik kemudian aku dapat mendengar ibu mertuaku mendesis pelan, “ssshh… ssshh...” kedua matanya tampak tertutup rapat, lalu perlahan-lahan kedua bola matanya itu mulai membuka kembali walau tidak sepenuhnya terbuka.
Kejadian yang tidak pernah aku duga ini benar-benar mengagetkanku, aku tidak mampu untuk menolak dan menghindar, andrenalinku seolah terpompa dengan sangat cepat.
“Buuu… saa… sa-yaa...” belum sempat menyelesaikan ucapanku, dari mulut ibu mertuaku itu terdengar suara lirih dan mendesis, “Ded... kamu seperti anak kecil aja, siiih?!” ucap bu Dilla setengah mengiba.
.“Buu... saa... sa-saya... ta-takut, nanti... bapak pulang....” sahutku dengan nada suara bergetar. Aku memang merasa takut dan sungkan sekali, mencoba untuk menarik tanganku. Tetapi, tangan ibu mertuaku benar-benar kencang memegang tanganku di atas area kewanitaannya, bahkan semakin lama semakin menekan tanganku hingga menggosok-gosok area kewanitaannya yang paling sensitif dari bagian tubuh wanita manapun.
“Ded... bapak pulang hanya untuk makan siang saja nanti jam 1 tolong ibu, ya.... sssshhhh....” bu Dilla terdengar kembali mendesis semakin mengiba. Aku pun sebenarnya benar-benar sudah tidak mampu menahan diri, ingin rasanya menerkam ibu mertuaku saat itu juga.
Tetapi karena ini baru pertama kualami, dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, perasaan sungkan dan takut pun memenuhi hatiku.
“Ayolah Ded, ibu tahu kamu sebenarnya tertarik sama ibu ‘kan? Ibu tahu diam-diam kamu suka memperhatikan paha dan dada ibu, benar? Ayolah jangan kayak anak kecil ....”
Ucapan ibu mertuaku itu membuat mataku terbelalak, aku tidak menyangka bu Dilla mengetahui kelakuanku selama berada di rumahnya. Kedua bola mataku memang suka jelalatan saat melihat bu Dilla menyapu atau pun mengepel lantai sehingga belahan dadanya terlihat.
Lalu tiba-tiba tanpa aku sadari, beberapa detik kemudian aku sudah berada di pelukannya, dengan perasaan yang sungkan dan malu, aku pun berbisik ke arahnya, “Se-sebentar bu, saya kunci dulu pintunya, ya...” pintaku dengan suara masih terdengar agak gemetar. Aku betul-betul khawatir, jangan sampai nanti tiba-tiba ada orang masuk dan kejadian ini membuat geger sekampung. Tentu hal itu sangat tidak aku inginkan.
Bab 3 – Tanpa Aku Duga
Tetapi, ibu mertuaku seolah sudah sangat tidak bisa menahan diri, ia dengan entengnya menjawab, “Nggak usah Ded, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi datang ke rumah” ucapnya, lalu secepat kilat ia sudah mengecup bibirku dengan penuh napsu, sampai-sampai aku merasa sedikit kewalahan untuk mengambil napas.
Semakin lama ibu mertuaku semakin bertambah agresif, sembari menciumiku dan memaksa lidahnya untuk masuk ke dalam rongga mulutku, kedua tangannya bergerak ke arah pinggangku dan menarik kaos oblong yang kukenakan hingga berhasil melepaskannya dengan dengan mudah.
Bunyi napasnya kini sudah terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus saja mencium wajah serta bibirku tanpa henti, lalu perlahan-lahan ciumannya mulai bergerak ke arah leher dan kemudian berlabuh di sekitar area dadaku.
Ciuman dan jilatan lidah ibu mertuaku ini tentu saja membuat libidoku semakin bertambah bergejolak dengan sangat hebat. Bahkan, rasa sungkan dan takut yang sempat menggangguku sejak awal tadi, kini semuanya seolah menguap dan menghilang, berganti dengan hasrat dan gairah yang meletup-letup.
“Bu... sshh... sa-saya... buka roknya, ya....“ ucapku setengah mati menahan debaran kencang dalam dada, masih ada sedikit rasa sungkan dalam diriku hingga aku merasa perlu untuk meminta izin ibu mertuaku untuk berlaku lancang kepadanya.
“I... ya-yaa... la...la-lakukan Ded... la-lakukan a...apa... sa-saja...” ucapnya dengan suara terputus-putus sembari kembali menciumi dadaku diantara napasnya yang cepat itu.
Lalu beberapa saat kemudian, bu Dilla mulai melepas kancing celana pendek yang menutupi pinggang sampai kedua pahaku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, Kulingkari kedua tanganku ke belakang punggungnya dan melepaskan kaitan bra yang melindungi kedua bukit kembarnya itu.
Seketika itu juga, tersembul dua gundukan bukit di dadanya yang tidak begitu besar itu. Walaupun sudah agak sedikit menggelantung ke bawah dan sebutir daging kecil di atas puncak bukit kembarnya itu berwarna agak kecoklat-coklatan, tetapi untuk ukuran wanita seusianya kedua bukit kembar itu masih cukup kencang.
Sembari mengusapnya dengan kedua tangan, aku kembali terbata-bata bertanya setengah berbisik, “A...aa-aku... cium... ya... bu....” pintaku, napasku terdengar sedikit agak memburu saat mengucapkan itu.
Bu Dilla tampak tersenyum, dengan sedikit mendesah ia pun menjawabku lirih, “Cium saja Ded ... lakukan apapun yang kamu mau ... ibu sudah lama sekali tidak melakukannya dengan bapak, ibu sangat kesepian Ded...” Keluhnya pelan setengah berbisik, kedua tangannya tampak kembali menjelajahi tubuhku ke sana dan ke mari dan sedetik kemudian ia pun mengangkat dadanya yang dengan segera aku sambut dengan jilatan lidahku yang menari di atas puncak bukit kenyal itu.
Pelan-pelan, aku mendorong tubuh ibu mertuaku sampai ia terlentang di atas kaDed, dan dengan bebas aku mulai melancarkan aksiku. Mengecup dan menjilati daerah sekitar dada ibu mertuaku dengan pelan dan lembut.
Saat itu juga dari mulut ibu mertuaku terdengar suara desahan yang tertahan, “ssshh… aahh... sayaang… ooohh… teruuus… sa-sayaang… bikin ibu pu-puaass… Ded....” Suara ibu mertuaku yang mulai kembali terdengar menghiba membuatku semakin merasa terangsang. Sampai-sampai aku lupa kalau yang sedang aku geluti ini adalah ibu mertuaku sendiri. Otak kotorku benar-benar sudah sepenuhnya menguasai segala tindakanku saat ini.
“Ded....” Desis bu Dilla setengah berbisik, sembari meremas rambut di puncak kepalaku, ia berkata, “Ibu… ingin melihat punyamu, Ded… buka, yaa....” desisnya semakin melantur kemana-mana. Kedua tangannya tampak berusaha menggapai tongkat pusaka milikku yang masih tertutup celana pendekku.
“Iyaa… bu… saya buka, ya buuu....” sahutku pelan.
Setelah menghentikan hisapanku pada kedua gundukan kenyal di dadanya itu aku segera bangkit dan duduk di dekat wajah ibu mertuaku. Bu Dilla tampak antusias memegang batang kelelakianku yang sudah berdiri tegak hingga terlihat menonjol dari luar celana paling dalam yang masih aku kenakan.
Seakan benar-benar sudah tidak sabar, ibu mertuaku yang masih menyentuh tongkat pusakaku itu berkata dengan napas tersenggal, “Besar banget Ded.... keras lagi.... ayo buka cepet Ded.... ibu udah gak sabar ih pengen lihat ....” ucapnya, benar-benar tidak sabaran.
Tanpa harus disuruh untuk kedua kalinya, aku segera melepas semuanya, hingga tongkat kelelakianku yang mengacung tegak berdiri menghadap ke atas itu tepat berada di depan wajah bu Dilla.
Seketika itu juga ibu mertuaku berteriak kecil, “Aduuuh… Ded… besaar sekali....” desisnya dengan mata terbelalak.
Padahal, menurut anggapanku ukuran kepunyaanku ini tampak wajar-wajar saja, sesuai standar ukuran kebanyakan orang Indonesia. Atau mungkin, menurut bu Dilla, tongkat pusakaku ini mungkin lebih besar dari batang kelelakian yang pernah ia lihat sebelumnya.
Tanpa meminta persetujuanku, ibu mertuaku langsung saja memegangnya dan mengocoknya pelan-pelan, hingga tanpa kusadari aku sudah mengeluarkan desahan-desahan kecil, “ssshh … aahhkk...” desisku, sembari mengusap wajah dan rambutnya dengan kedua telapak tanganku pelan-pelan.
“Aduuuh… Bu, sakiiit....” teriakanku sedikit tertahan saat ibu mertuaku berusaha menarik tongkat kelelakianku ke arah wajahnya. Mendengar keluhanku, ia segera melepas tarikannya dan lalu memiringkan badannya kemudian mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya agar semakin mudah mendekati tongkat pusaka milikku.
Setelah mulutnya semakin mendekat, tanpa memberi aba-aba, ibu mertuaku segera mengeluarkan lidahnya lalu menjilati kepala kelelakianku, sementara tangan kirinya itu meremas pelan bola-bola di bawah tongkat pusaka milikku.
Sementara bu Dilla tengah menyalurkan hasratnya, tangan kiriku kembali membelai dan meremas rambut di puncak kepalanya sembari menahan kepala ibu mertuaku agar semakin dalam menjilati seluruh area tongkat kelelakianku. Beberapa saat kemudian, tangan kananku menjulur ke bawah dan berusaha menggapai dada bu Dilla lalu meremasnya pelan-pelan sembari sesekali memelintir sebentuk daging kecil di atas puncak bukit kenyalnya itu.
Setelah beberapa kali kepala penisku habis dijilatinya, pelan-pelan aku menekan kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah tongkat pusakaku.
Ibu Dilla mengerti apa yang kumaksud, tanpa berkata-kata lagi, ia langsung bersiap diri untuk menenggelamkan mulutnya mengikuti tarikan kedua tanganku. Sambil memegangi batang pusakaku, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan kepunyaanku yang sudah basah oleh air liurnya itu sampai setengahnya amblas ke dalam mulutnya.
Saat itu juga aku merasakan lidah ibu mertuaku menari-nari di dalam, menggesek-gesekan lidahnya ke kepala batang kelelakianku dengan cepat dan liar. Setelah itu, kepala ibu mertuaku ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga nikmat itu benar-benar sangat terasa melambungkan jiwaku ke awang-awang.
Menerima semuanya itu membuatku tanpa sadar mendesis, “ssshh… aaakkhhh... ooouuchh ....” aku mendesah sembari beberapa kali merem melek mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu mertuaku.
Semakin lama gerakan kepala ibu mertuaku yang maju mundur itu semakin cepat, benar-benar menambah volume kenikmatan semakin bertambah hebat.
Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan kepunyaanku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal itu terus berlangsung. Sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya.
--------- Batas Preview ---------
Maaf, cerita terkunci!
Khusus Member
PAKET EKSKLUSIF
Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!
Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.
Login / Registrasi
Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan
terlebih dahulu.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Klik tombol di bawah ini
Langganan PaketMaaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Silahkan berlangganan kembali.
Langganan PaketMaaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.


