
Judul Cerita
Penulis
Total Chapter
Hak Akses
Genre
: Terpaksa Menikah
: Siti Fatonah
: 24 Chapter
: Free/Gratis!
: Romance
DISCLAIMER!
Karya ini ditulis oleh penulis di luar fraksikata.com.Jika kamu menyukainya, traktir author secangkir kopi lewat tombol di akhir cerita. Bila penulis keberatan, silakan kunjungi halaman ini untuk penurunan atau penyematan no.rek/e-wallet..
Bab 1
Seorang laki-laki tampan merasa tidak tenang di atas kursi yang diduduki. Tangannya memijit batang hidung, tanda sedang berpikir keras. Namun, tidak
berapa lama, senyum sinis tersungging di wajahnya. "Aku tidak peduli soal karirku, mau kau menghancurkannya atau apa pun. Walau kau mau menghancurkan keluargaku, sahabat, dan wanita yang kucintai, silakan! Aku yakin, mereka akan lebih mempercayaiku dibandingkan wanita seperti kau!" ucap lelaki tampan itu dengan tegas.
Di seberang tempat laki-laki itu duduk, terdapat wanita cantik sedang menampilkan senyum manisnya. "Baiklah kalau seperti itu. Aku akan mengeluarkan kartu As, supaya kau mau menikah denganku!" ucap wanita cantik itu dengan senyum menawan. Laki-laki yang ada di hadapannya menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
Wanita itu tampak tidak terpengaruh oleh tatapan tajam laki-laki itu. Dikeluarkan sebuah foto, lalu disodorkan pada laki-laki yang ada di hadapannya.
Laki-laki itu menerimanya. Matanya seketika terbelalak dan menatap wanita itu dengan sinis. "Apa ini?" pekiknya. Emosi sudah menguasai dirinya kali ini. Namun, wanita itu tetap tenang, senyum manis tidak pemah hilang dari wajah cantiknya.
"Itu foto kita berdua waktu menghabiskan malam bersama, Sayang."
"Sejak kapan aku menghabiskan malam bersamamu?" Laki-laki itu sudah berteriak, tanda benar-benar emosi. Namun, wanita itu hanya terkikik geli, lalu berdiri dengan anggun.
"Redam emosimu itu, Sayang! Mulailah berpikir! Aku tunggu jawabanmu besok," ucap wanita itu.
Wanita itu menghampiri laki-laki tersebut dan mencium pipinya. Laki-laki itu hanya diam, tidak ingin emosi menguasai diri, lalu bertindak gegabah. Bisa-bisa, wanita itu memanfaatkan situasi.
"Aku tidak ingin menikah denganmu, Wanita Sialan!" ucap laki-laki itu dingin.
"Jangan gegabah! Pikirkanlah kalau sampai foto itu kusebar ke media kepercayaan orang-orang terdekatmu! Karirmu akan hancur seketika."
pergi. Setelah mengucapkan kata-kata itu, wanita itu beranjak.
"Wanita Sialan! Kau memaksaku menikahimu? Wanita macam apa kau?!" teriak laki-laki itu lagi.
Wanita itu menghentikan langkah dan menatap laki-laki yang sedang emosi itu dengan senyum manisnya. "Menikahlah denganku, walaupun terpaksa! Wanita sialan ini yang kelak akan menjadi istrimu. Aku tunggu jawabanmu. Aku pergi dulu, Calon Suamiku," ucap wanita itu dengan suara lembut, lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan ruangan restoran VIP tersebut.
***
cara musik pagi itu dipenuru penonton. Acara outbox begitu meriah oleb suara gemuruh penonton, kala artis yang mereka nantikan naik ke atas panggung untuk mempromosikan film yang dibintanginya.
"Diptaaa!" teriak para penonton histeris saat artis yang dipanggil Dipta itu memberikan senyum.
Orang lain biasa menyebutnya Dipta. Nama aslinya Pradipta Bagaskara, seorang artis yang sedang populer saat ini. Wajah rupawan. Alis tebal menghiasi mata indahnya, ditambah hidung mancung, dan bibir seksi yang semakin menambah ketampanan wajah. Senyum ramah yang selalu diperlihatkan di setiap kesempatan pun membuat kaum hawa berteriak histeris, mengelu-elukan namanya.
"Wuah, rame banget hari ini, yah? Ayo, Dipta, sapa para penonton!" ucap pembawa acara musik tersebut, Andhika Pratama.
"Pagi semua!" sapa Dipta.
"Pagiii!" teriak para penonton dengan kompak.
Acara pun dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan seputar film yang dibintangi Dipta. Setelah mempromosikan film, Dipta pun turun dari panggung dan langsung disambut oleh asisten pribadi yang langsung memberikan air mineral kepadanya. Dipta menerima dengan senyum geli.
"Kenapa kamu selalu memberikanku air mineral, Nadia? Bahkan, tadi aku tidak terlalu banyak bicara," protesnya. Namun, dengan suara sarat akan kasih sayang.
"Mau tadi banyak bicara atau tidak, kamu harus tetap banyak minum. Itu baik untuk kesehatanmu," jawab perempuan yang bemama Nadia itu.
"Oke, baiklah, Calon Ibu Dokter! Aku akan meminumnya. Namun, ngomong-ngomong, bukannya kamu ada kuliah hari ini?"
"Ya. Hehehe "
"Ya sudah, ngapain masih di sini? Cepat berangkat kuliah sana! Aku menjadikanmu asisten pribadi, bukan untuk bekerja. Namun, untuk menemaniku, supaya fans tidak curiga," ucap Dipta dengan suara pelan, yang hanya bisa didengar oleh Nadia.
"Baiklah, Bapak Superstar! Kalau begitu, aku berangkat kuliah dulu. Antarkan aku sampai ke mobil, ya?"
Dipta tersenyum gemas dan mencolek hidung mancung kekasihnya itu.
"Bay, gue antar calon ibu dokter ini ke mobilnya dulu, ya?" izin Dipta pada Bayu, manajernya.
"Ya. Tapi, jangan lama-lama! Habis ini masih ada segmen lu," jawab Bayu.
Dipta hanya mengangguk, lalu melangkah beriringan menuju mobil Nadia yang terparkir tidakjauh dari lokasi.
Nadia pun masuk mobil, diikuti dengan Dipta. Sesudah pintu mobil tertutup, mereka berpelukan.
"Belajar yang benar, jangan memikirkan aku terns!" ujar Dipta sambil mencium kepala gadisnya itu.
"Aku janji akan belajar yang benar. Namun, kalau soal tidak memikirkanmu, aku nggak janji." Nadia tersenyum kuda dan mendapatkan belaian sayang di kepala.
"Oke. Soal yang satu itu, aku tidak keberatan," ucap Dipta, yang langsung mendapatkan ciuman dari kekasihnya.
"Kalau begitu, Bapak Superstar, aku berangkat dulu.
Keluar sana dari mobilku!"
"Jadi, ngusir, nih?" goda Dipta.
"Kalau nggak diusir, nanti Kak Bayu nyusul lagi ke sini, karena artisnya lama nggak nongol-nongol."
Dipta pun keluar dari mobil setelah mencium kening kekasih yang mewarnai hari-harinya. Nadia Prameswari nama gadis itu. Mahasiswa fakultas kedokteran dan juga teman masa kecilnya.
***
Di belahan bumi lain, tampak seorang gadis cantik sedang tersenyum meperhatikan layar laptop yang sedang menampilkan acara musik Indonesia. Di mana artis yang sedang digandrungi banyak wanita itu sedang melakukan tantangan dubsmash di panggung Outbox. Teriakan penonton makin riuh. Dipta begitu memesona dan menghipnotis kaum hawa di mana pun berada. "Kau akan jadi milikku. Tunggu aku, My Prince!" gumam gadis cantik itu sambil tersenyum manis.
Senyuman manis gadis itu terhenti kala melihat teleponnya berbunyi. Panggilan masuk dari sang kakek. Dengan malas, ia pun mengangkatnya.
"Pulang ke Indonesia, Deeva! Sudah cukup kamu tinggal di sana," ucap kakeknya.
"Aku akan pulang, tetapi kakek harus bisa menjamin kebahagiaanku," jawab Deeva.
"Kebahagiaan apa pun yang diinginkan cucu Kakek, akan Kakek kabulkan."
"Aku bagian dari keluarga kalian, kan? Kalau begitu, aku ingin, bukan hanya diakui, tetapi diberikan kasih sayang, layaknya keluarga."
"Kakek menyayangimu. Apa itu tidak cukup? Kamu tahu alasannya kenapa mereka seperti itu? Berhenti meminta hal yang mustahil!"
Deeva tertawa terbahak. Namun, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Aku tahu, aku hanya seorang manusia yang tidak diinginkan siapa pun. Bahkan, ibu kandungku membuangku, kan, Kek?" tanya gadis itu lirih.
"Pulanglah dan jangan berpikiran macam-macam! Kakek tunggu di Indonesia."
Tut. Tut. Tut. Sambungan telepon itu pun terputus. Membuat Deeva menghela napas berat. Ia harus kembali ke tanah air, tanah kelahirannya. Tanah ia dibesarkan dan dilukai oleh sebuah kenyataan, yang membuatnya menjadi seorang wanita antagonis.
Kedalaman hati seseorang siapa yang tahu. Di kehidupan ini, yang bertampang jahat belum tentu jahat. Yang bertampang baik, belum tentu baik. Itu hanya sebuah identitas untuk mengenali antar manusia satu dan yang lainnya.
Deeva mengetik sebuah pesan di ponselnya. Setelah jemarinya lincah menari di layar ponsel, ia terdiam. Ia seperti berpikir, tetapi tidak berapa lama, ia pun menyentuh send, sehingga pesan itu terkirim.
To :grandpa
Aku ingin Pradipta Bagaskara menjadi milikku, apa pun caranya.
Karena, itu kebahagiaanku. la sumber kebahagiaanku.
Tidak berapa lama, balasan pesan pun diterima. Deeva membaca dan menyunggingkan senyum manis.
From : grandpa
Dia akan menjadi milikmu kalau memang dialah yang membuatmu bahagia. Pulanglah!
Deeva bangun dari ranjang, lalu memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Setelah semua selesai, ia pun bersiap-siap. Kini, tubuh jenjang Deeva terbalut dress putih yang panjangnya di bawah lutut dan berlengan pendek. Rambut hitam panjang dibiarkan terurai, menjuntai sampai ke pinggang. Kaki jenjangnya pun dihiasi heels hitam yang kontras dengan kulit seputih susu. Mata tajamnya ia bingkai dengan kacamata hitam. Membuat gadis bemama Adeeva Afsheen Hardinata itu begitu menawan.
Kakinya melangkah meninggalkan apartemen yang sudah lima tahun ini ia tinggali. "Selamat tinggal, Paris! Doak.an, supaya aku mendapatkan kebahagiaan yang tidak pemah didapatkan
selama ini!" gumam Deeva dan langsung masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke bandara.
Gadis itu menarik koper dengan langkah begitu anggun. Diinginkan. Hanya itu yang aku inginkan di dunia ini. Bila itu mustahil, biarkan aku mendapatkannya! Bagaimanapun caranya, aku datang, Calon Suamiku, gumamnya dalam hati.
-- Next Chapter--
Bab 2
Suasana Bandara Soetta pagi itu tampak sibuk oleh hilir mudik orang. Deeva salah satunya. Kakinya melangkah dengan mantap ke luar bandara. Deeva menghirup udara pagi Jakarta yang jauh dari kata segar. Namun, setidaknya, di sinilah ia pertama kali bernapas dan menatap dunia. Deeva pun keluar dari kawasan bandara dengan menggunakan taksi. Tidak ada jemputan atau orang yang menunggu kedatangannya. Namun, ia terlihat sudah terbiasa dengan hal itu.
Taksi yang ditumpangi Deeva berhenti di depan sebuah rumah mewah, yang membuat sopir taksi pun takjub. Setelah membayar, Deeva melangkah masuk ke halaman rumah yang sangat luas tersebut.
Halaman itu dibagi dua. Bagian halaman pertama dihias berbagai bunga, rumput hijau, dan pepohonan rindang. Halaman kedua terdapat kolam besar, membuat rumah itu tampak indah.
Deeva kini berdiri di depan pintu rumah. Lalu, menekan bel yang menempel di samping pintu. Tidak berapa lama, perempuan yang sudah berusia senja membukakan pintu.
"Deeva? Masyaa Allah, ini kamu, Nak?" pekik perempuan itu senang.
"Ya, Mbok, ini aku," jawab Deeva dengan suara serak. Ia kangen sekali dengan perempuan yang merawatnya sedari bayi dan sudah dianggap sebagai ibu sendiri.
"Alhamdulillaah, akhimya, kamu pulang juga," ucap perempuan berusia senja itu, mengucap syukur dan langsung memeluk Deeva erat. "Ayo, masuk! Kebetulan mereka sedang sarapan," ajak si Mbok.
Namun, Deeva masih diam di tempatnya.
Hadapilah! Waiau bagaimanapun, mereka keluargamu!
tegas Deeva dalam hati.
Deeva menghela napas, lalu mengikuti si Mbok masuk. Deeva melihat mereka, keluarganya. Ada ayahnya yang bernama Harry Hardinata, ibu yang bernama Liliana Hardinata, dan kakak laki-laki bernama Adarma Hardinata, yang kini menatapnya tanpa tatapan senang atau sapaan hangat. Mereka hanya menatap sekilas dan melanjutkan sarapan.
"Semua masih sama, temyata. Namun, izinkan aku menyapa kalian! Selamat pagi, Pa, Ma, Kak! Deeva pulang," ucap Deeva lantang, membuat dentingan piring itu berhenti.
"Ma, Papa berangkat kerja dulu," ucap seorang laki-laki yang dalam akta kelahiran sebagai ayah Deeva. Kini, laki-laki itu beranjak meninggalkan ruang makan dan melewati anaknya yang meghilang selama lima tahun. Tanpa pelukan hangat atau pun omelan khawatir.
"Pa, apa kau masih ingat darahmu ini mengalir di tubuhku? Apa kau tidak merindukanku sama sekali?" Pertanyaan Deeva hanya dijawab oleh hembusan angin yang menyuplai oksigen di ruangan itu. Suara kekehan terdengar nyaring di ruang makan keluarga Hardinata.
"Kemajuan yang luar biasa, Adik Kecil. Sekarang kau pandai sekali berbicara," ujar Darma, kakak laki-laki Deeva. Kini lelaki itu berdiri, menjulang di hadapan Deeva sambil menatapnya sinis.
"Kenapa? Kau merasa takut akan kemampuanku ini,
Kak?"
"Hahaha... takut? Kau harus tahu, aku tahu banyak sekali
kenyataan pahit soal hidupmu, yang akan membuatmu tidak bisa tersenyum lagi."
"Katakanlah kenyataan pahit itu, Kak! Semuanya! Dan lihat, apa aku masih bisa tersenyum ataukah tidak!"
"Sombong sekali kau! Satu kenyataan, kau tidak diinginkan oleh ayahmu sendiri, membuat masa remajamu kacau. Ditambah kenyataan, kau bukan anak ibuku. Kau kabur dan baru kembali. Apa kau siap mendengar kenyataan yang lain dan tetap mempertahankan senyum itu di bibirmu?" ucap Darma, melecehkan.
Mendengar ucapan itu, Deeva tetap bisa mempertahankan tatapan tajamnya. Tatapan yang tidak terlepas dari wajah Darma. "Aku akan mempertahankan senyuman ini. Jadi, ceritakanlah semuanya! Aku sudah siap mendengarnya."
"Oke. Aku akan memberitahumu satu persatu. Yang akan kuberitahu pertama kali yaitu, kau masih tidak diinginkan di keluarga ini. Jadi, jangan berharap apa pun!"
"Kakek menginginkanku," timpal Deeva.
"Kakek? Hahaha Kau harus ingat pepatah, orang yang
sangat dekat denganmu adalah orang yang akan paling melukaimu. Lihat apa pepatah itu berlaku terhadapmu!"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Darma meninggalkan ruangan makan. Kini, hanya ada Deeva, Mbok, dan nyonya besar yang masih menyantap sarapannya, tanpa terganggu dengan obrolan anaknya dan Deeva.
"Kau tidak berubah, Ma. Selalu menjadi pendengar yang baik," ucap Deeva sarkartis.
Deeva pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tidur dengan diantar si Mbok.
"Nak, beristirahatlah! Mbok tinggal dulu."
Deeva hanya mengangguk. Rasanya, stok kata-katanya sudah habis, hanya untuk sekadar mengucapkan ya. Tubuh jenjangnya direbahkan di atas ranjang. Matanya ditutup rapat-rapat.
"Pradipta Bagaskara, apakah kau akan memberikan perlindungan dan perbaikan untuk hatiku yang sudah koyak? Untuk memaksamu melakukan apa yang kuinginkan nanti, maafkanlah!" gumarnnya lirih, lalu mengambil selembar foto dirinya yang wajahnya terbalut banyak perban sedang memakai baju rumah sakit, ditemani Dipta yang masih memakai seragam SMA.
"Aku harap, kau masih berhati hangat, seperti dahulu, Dipta," gumarnnya lagi. Tidak berapa lama pun, ia terlelap, akibat kelelahan hati dan fisik.
Pintu kamar Deeva terbuka, memperlihatkan laki-laki yang tetap segar di usia yang tidak lagi muda. Ia Adianto Hardinata, orang terkaya kedua se-Indonesia, yang tak lain, kakek Deeva.
Ia melangkah mendekat ke ranjang cucunya yang sedang tertidur pulas.
"Apa pun akan Kakek lakukan untuk membuatmu bahagia. Kesalahan itu Kakek yang mengawalinya. Bila dengan membuatmu bahagia bisa menebus semuanya, akan Kakek lakukan. Kakek menyayangimu, Deeva," ucap Adianto dengan suara lirih, lalu mencium kening cucunya itu dengan sepenuh rasa sayang.
***
Di sebuah kamar tidur yang lain, Dipta masih terlelap dalam tidur. Jadwal keartisan membuatnya masih terjaga sampai dini hari. Tidur pun menjadi tidak teratur. Ia tertidur dengan nyenyak, begitu pun Deeva.
Setelah mereka terbangun, akan banyak hal yang akan dilewati. Melukai dan dilukai selalu jadi hal yang pasti ada di setiap jalan yang dilalui. Entah itu terpaksa, disengaja, maupun tanpa disadari!
Goresan Iuka selalu mengintai orang-orang yang berkecimpung di dunia ini, karena goresan itu mengantarkan pada keikhlasan dan rasa syukur. Bahwa kita sebagai manusia masih memiliki perasaan untuk merasakan. Karena, di mana ada kesusahan, di situlah ada kemudahan. Di mana ada kelukaan, di situlah ada kebahagiaan.
***
Suara heels beradu nyaring dengan lantai manner di sebuah kantor stasiun TV. Pegawai yang sebagian sudah meninggalkan kantor membuat suasana
sedikit sepi. Namun, masih terlihat pegawai yang barn datang bergantian shift dengan rekan-rekannya.
Sepatu heels yang membawa pemiliknya itu kini berhenti di dalam lift, membuat pegawai stasiun TV yang ada di dalamnya juga memperhatikan si pemakai heels itu. Pegawai stasiun TV yang kebanyakan kepo dan kritis ketika melihat orang barn mulai bertanya, "Mbak pegawai barn?" tanya salah seorang pegawai laki-laki.
Perempuan yang dipanggil mbak itu menatap pegawai tersebut hingga membuatnya salah tingkah. Si pemilik heels itu ternyata sangat memesona.
"Bukan, saya bukan pegawai barn. Saya ke sini mau bertemu Pak Danna," jawab si pemilik heels yang memesona itu.
"Apa Mbak kekasih Pak Danna?" tanya pegawai itu lagi. "Bukan, saya adiknya," jawab perempuan itu. Membuat pegawai laki-laki itu bungkam.
"Maafkan atas kelancangan saya, Mbak! Saya benar-benar tidak tahu kalau Mbak ini temyata adiknya Pak Darma."
"Tidak masalah! Saya sudah terbiasa tidak dikenali. Namun, kalau ingin mengenal siapa saya, lihatlah silsilah keluarga Hardinata! Kebetulan saya ada di sana, di mesin pencarian."
"Ya, nanti akan saya lihat. Sekali lagi, maafkan saya, Mbak!"
"Dimaafkan."
Pegawai laki-laki itu pun keluar lift, karena sudah sampai di lantai tujuannya.
Pegawai laki-laki itu langsung bergegas duduk di meja kerjanya. Menghidupkan komputer, lalu mengetik nama silsilah keluarga Hardinata di mesin pencarian Google dan langsung menampilkan artikel-artikel tentang keluarga terkaya kedua se-lndonesia itu.
Pegawai itu meng-klik sebuah foto keluarga Hardinata, lalu terbukalah sebuah artikel tentang silsilah keluarga Hardinata. "Adeeva Afsheen Hardinata. Kenapa tadi wajahnya terlihat seperti kakak tiri Cinderella? Di foto keluarga ini, kecantikannya bagai Cinderella yang lugu dan polos. Kehidupan di luar negeri, benar-benar mengubahnya. Sayang sekali!" gumam pegawai laki-laki itu, mengomentari perubahan diri Deeva saat ini.
Kembali lagi ke tempat di mana Deeva berada kini, gadis itu sedang berdiri di depan meja sekretaris kakaknya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya sekretaris itu, ramah.
"Siapa namamu?" Deeva malah balik bertanya.
Sekretaris itu tampak tidak kesal karena pertanyaannya
diabaikan. Ia malah tersenyum dengan manisnya. "Nama saya Anindiya Gahm Purnama," jawab sekretaris itu.
"Nama yang bagus! Berapa umurmu?" "20 tahun, Mbak."
"Sangat muda sekali untuk menjadi sekretaris CEO HNTV Group! Berarti, kau masih kuliah?"
"Ya, Mbak."
"Pak Darma sangat baik mempekerjakan pegawai yang masih mengenyam pendidikan, di posisi setinggi ini!"
"Ya, Bapak CEO memang baik sekali!"
"Baguslah. Setidaknya, ia masih punya hati! Saya Adeeva Afsheen Hardinata, usia 23 tahun," ucap Deeva. Namun, sekretaris itu malah terpaku di tempat, seolah habis mengetahui kenyataan yang mengejutkan. "Halo, Anindya! Kau mendengar ucapan saya?"
"Ah, ya, Mbak! Senang berkenalan dengan Mbak!"
"Pak Darma ada di dalam?" tanya Deeva.
"Ada, Mbak. Sebentar, saya akan memberitahu Pak Darma atas kedatangan Mbak." Nindy akan mengangkat teleponnya, tetapi dihentikan oleh Deeva.
"Tidak usah! Tidak usah memberitahu soal kedatangan saya! Kalau begitu, saya masuk dulu."
Sekretaris itu mengangguk. Deeva pun masuk ke ruangan Darma tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sepeninggal Deeva, sekretaris itu jatuh terduduk di kursinya. Tatapan matanya menerawang. "Akhirnya, aku bertemu dengannya, Bu." gumam gadis yang bemama Anindya itu.
***
Di ruangan itu, kedua kakak adik seayah itu saling menatap tajam. "Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Darma, sinis.
"Aku butuh bantuanmu, Kak."
"Butuh bantuanku? Berani sekali kau!"
"Bantulah aku untuk mendapatkan apa yang kuinginkan!" Darma tertawa, mendengar ucapan adik seayahnya itu. "Bodoh! Kaupikir, aku akan membantumu? Bukankah aku sudah bilang, kau jangan berharap apa pun!"
"Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau foto ini ada di tangan tunanganmu itu!" ucap Deeva sambil melemparkan sebuah foto. Foto yang memperlihatkan Darma sedang diam-diam mencium bibir sekretarisnya yang ketiduran di meja kerja. Darma menatap tajam Deeva. "Kau mengancamku, Adik Kecil?"
"Kalau itu disebut sebagai ancaman, berarti aku memang mengancammu."
Rahang Darma mengeras. Tampak ia sedang berusaha meredam emosinya.
"Tunangan cantik untuk memperbanyak kekayaan serta gadis polos sekretaris kesayangan. Kalau begitu, siapa yang ada di hatimu, Kak?"
"Diam kau, Adik Sialan!" geram Darma.
"Pasti Anindya yang ada di hatimu. Kalau kau memang mempunyai hati."
"Aku bilang, diam! Diam!" teriaknya, marah.
Deeva hanya terkekeh kecil. Ia tidak lari ketakutan, seperti dulu. Kali ini, ia tetap berdiri tegak, menatap kakaknya yang sedang marah. Tanpa tatapan takut, melainkan tatapan mengintirnidasi.
Deeva menyimpan selembar foto lagi di meja kakaknya. Ia tidak memedulikan bahwa kakaknya itu sedang marah. "Laki-laki di dalam foto itu, buatlah ia menjadi rnilikku! Ada acara penyambutan di kantor manajemen artis Kakek untukku. Datanglah ke acara itu! Jadilah kakak yang baik, sehingga laki- laki itu mau menajadi milikku tanpa perlawanan! Apa pun caranya, aku mengandalkanmu, Kak. Kalau begitu, aku permisi."
Deeva hendak berlalu dari ruangan kakaknya. Ketika ia memegang kenop pintu, ucapan kakaknya membuat ia terdiam.
"Miris sekali! Gadis kecil yang sedang tidak berdaya di rumah sakit, hanya ditemani oleh orang lain, bukan oleh ayah, ibu, kakak, bahkan kakek yang katanya menginginkannya."
Deeva tersenyum miris, tetapi ia berbalik, dan menatap kakaknya dengan senyuman menawan. "Tidak masalah sebenarnya Kakek menginginkanku ataukah tidak! Yang pasti, ia ada di pihakku sekarang," ucap Deeva sinis.
Gadis itu meninggalkan ruangan kakaknya dengan senyum terkembang di bibir.
"Sudah selesai urusannya, Mbak?" tanya Anindya. "Sudah, saya permisi!"
Sekretaris itu hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Deeva telah duduk di dalam mobilnya.
"Mau ke mana kita sekarang, Non?" tanya si sopir. "Ke salon."
***
Di lokasi syuting, tampak Dipta sedang membereskan barang-barangnya. "Syuting hari ini akhimya kelar juga. Jadwal gue selanjutnya apa, Bay?"
"Jadwal selanjutnya, menghadari acara penyambutan cucu bos kita."
"Cucu pak Adianto? Mungkinkah dia?" gumam Dipta. Perkataan Dipta terhenti, lalu ia terdiam. Seperti pikirannya ditarik ke masa itu. Masa di mana ia dipertemukan satu ruang dan waktu dengan gadis itu. Lamunannya buyar ketika Bayu menepuk bahunya.
"Sudah, jangan kebanyakan ngelamun! Ayo kita siap-siap!"
"Oh, oke! Gue akan ngajak Nadia kalau begitu," ucap Dipta, lalu menghela napas.
-- Next Chapter--
Bab 3
Suasana kantor manajemen artis yang bernama Hardinata Nusantara Media itu tampak ramai. Banyak orang berdatangan ke sana, baik itu artis yang berada dalam naungan manajemen, maupun rekan bisnis Adianto Hardinata.
Adianto sengaja mengadakan penyambutan itu di manajemen yang ia kelola. Ia ingin memperkenalkan Adeeva sebagai pengganti dirinya, sekaligus penyambutan cucu yang menghilang selama lima tahun.
Hardinata Group adalah perusahaan besar yang membawahi stasiun televisi yang bernama HNTV, singkatan dari Hardinata Televisi, yang dipimpin oleh Adarma Hardinata, juga perusahaan umum seperti hotel, pusat perbelanjaan, dan resort yang dipimpin oleh Harry Hardinata. Hardinata Group perusahaan yang mencakup banyak hal.
Ruangan yang digunakan untuk acara penyambutan itu tampak sudah dipenuhi para tamu undangan. Pintu ruangan itu terbuka. Masuklah sang tuan rumah, Adianto Hardinata dan Adeeva Afsheen Hardinata.
Adianto masih tampak gagah, walau usianya sudah senja. Sedangkan Adeeva begitu memesona dalam balutan long dress hitam yang mempunyai belahan sampai paha. Ketika ia berjalan, belahan long dress itu memperlihatkan kaki jenjang, yang mengenakan heels silver, dan tampak sempurna. Rambutnya dikepang satu dan disampirkan di bahu kanan, sehingga mempermanis penampilan.
Semua orang menatap takjub pada Deeva. Deeva sendiri hanya memberikan senyum manis.
Tampak Dipta di antara kerumunan para tamu undangan dan menatap Deeva dari tempatnya berdiri.
"Jangan bilang, kamu juga terpesona sama dia!" celoteh Nadia, kekasih yang berada di sampingnya.
Dipta tersenyum, lalu merangkul bahu gadisnya itu. "Tentu tidak, Sayang. Aku hanya melihat, ia begitu banyak berubah."
"Memangnya kamu mengenal Deeva, sampai tahu dia begitu banyak berubah?"
Dipta berdehem, lalu menampilkan senyumnya lagi. Beberapa saat setelah terdiam, ia bergumam, "Tidak. Hanya saja Pak Adianto sering menceritakan cucunya kepada kami, para artis. Beliau selalu memajang foto Deeva di ruang kerjanya. Di fotonya, ia tampak lugu dan polos."
Nadia mengangguk-angguk saja. "Kalau dulu ia begitu lugu, berarti ia yang sekarang memang banyak berubah. Namun, tetap cantik. Ya, kan?"
"Tentu. Ia cantik. Namun, di mataku, kamu yang paling cantik," gombal Dipta, membuat Nadia tersipu.
***
Acara penyambutan pun dimulai. Adianto memperkenalkan cucunya, sekaligus kelak yang akan menggantikannya. "Cucuku masih berusia 23 tahun. Sekarang, ia harus melanjutkan studi yang sempat tertunda. Kelak, mohon dukungan kalian ketika ia sudah siap memegang perusahaan ini!" ucap Adianto.
Semua orang di sana bertepuk tangan dengan semangat.
Acara pun berlanjut dengan lebih santai. Saling sapa satu sama lain dan menyantap makanan yang dihidangkan.
Deeva selalu menampilkan senyum manis ketika rekan kerja kakeknya menyapa.
"Dipta, kenapa kau diam di situ? Ke s1m, saya perkenalkan pada cucu saya!" ucap Adianto sambil menghampiri Dipta dan Nadia yang sedang menyantap hidangan.
"Ah, Kek! Nanti saya yang akan menghampiri Kakek. Kenapa Kakek yang menghampiri saya?" ucap Dipta tidak enak. Membuat Adianto menepuk bahu pemuda itu.
Semua artis asuhannya memanggil Adianto dengan sebutan kakek, supaya terkesan lebih akrab dan kekeluargaan. Itu permintaan dari Adianto sendiri.
"Kamu terlalu lama berada di situ. Bergabunglah bersama saya!" jawab Adianto. "Dipta, ini cucu saya. Deeva."
"Hallo, saya Dipta!" sapa Dipta, mengulurkan tangan.
Deeva pun menyambutnya dengan lembut.
"Tanganmu masih hangat, seperti dulu. Senang bertemu denganmu lagi, Kak Dip!"
"Kalian sudah saling mengenal rupanya? Ya sudah, saya tinggal dulu!"
Adianto pun meninggalkan Deeva dan Dipta, juga Nadia yang ada di antara mereka.
Dipta hanya tersenyum canggung. Setelah jabatan tangan itu terlepas, dirangkulnya pinggang Nadia. "Kenalkan, ini Nadia, kekasihku!" ucap Dipta.
Deeva tersenyum manis dan menyambut uluran tangan Nadia. "Senang bertemu denganmu, Nadia! Untung, tidak ada wartawan di sini! Kalau ada, mungkin publik akan geger."
"Aku tidak akan membiarkan media mencium hubungan kami. Jadi, publik tidak akan geger," jawab Dipta.
"Oh, oke! Kalian tampak seras1. Kalau begitu, saya pennisi."
Namun, sebelum Deeva menjauh dari sepasang kekasih tersebut, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Tampak Darma dengan banyak wartawan.
"Oh, Adikku, selamat datang kembali! Maaf, Kakak terlambat!" ucapnya, lalu memeluk Deeva. Wartawan pun tampak antusias, meliput pertemuan adik kakak itu.
"Kalian tampak sangat dekat," ucap seorang wartawan. "Tentu saja. Kami dekat, karena kami keluarga. Ya, kan,
Sayang?"
"Tentu saja. Sebagai keluarga, memang seharusnya saling menyayangi, bukan?" jawab Deeva. Membuat Darma tersenyum palsu.
"Hei, Pradipta, artis yang sedang naik daun, senang bisa bertemu denganmu secara langsung! Para pegawai wanita selalu membicarakanmu di kantor," ucap Darma, ramah. Dipta hanya tersenyum sopan, menanggapinya. "Sebentar, aku seperti mengingat sesuatu. Aku selalu membawa foto ini ke mana-mana. Poto yang kutemukan di kamar adikku."
"Bolehkah kami tahu fotonya?" tanya para wartawan. "Tentu kalau adikku mengizinkan."
"Foto apa memang, Kak? Bukan fotoku yang memalukan, kan?" tanya Deeva, dengan suara dibuat manja.
"Tentu bukan, dong, Sayang!"
"Kalau bukan, yah, perlihatkan saja! Toh, aku ini sudah cantik sedari lahir!"
Foto itu pun diperlihatkan dan para wartawan pun menyorotnya.
"Bukankah yang memakai seragam SMA itu Pradipta?" tanya wartawan. Membuat suasana di ruangan mendadak hening.
"Kak, foto apa yang Kakak perlihatkan?" teriak Deeva, seolah kesal. Deeva mengambil foto itu dan menyimpannya di tas tangan.
"Saudara Dipta, apa Anda mengenal Nona Deeva sebelumnya?" tanya seorang wartawan lain, bertanya pada Dipta.
"Ya, saya mengenalnya dulu."
"Jangan-jangan kalian memiliki hubungan khusus?" tanya wartawan lagi. Menduga-duga seperti apa kedekatan mereka.
Ketika Dipta akan berbicara, semua wartawan kembali menyorot Deeva, karena ia mengambil alih jawabannya.
"Tentu kami memiliki hubungan khusus kalau kalian memang ingin tahu," ucapnya, membuat ruangan itu dipenuhi bisik-bisik orang.
Deeva melangkah, mendekat ke arah Dipta, lalu menatap tajam Nadia. "Bisakah kau tidak berdiri di sini? Ini tempatku, di sampmg kekasihku," ucap Deeva, membuat Nadia bergeser terpaksa.
Setelah Nadia bergeser, Deeva merangkul tangan Dipta dengan sepenuh rasa sayang.
Dipta masih terdiam. Ia terlalu kaget untuk membaca situasi apa itu. Apa maksudnya itu.
"Saudara Dipta, jadi kalian benar-benar memiliki hubungan?" tanya wartawan kepada Dipta yang masih terdiam, tidak berbicara sama sekali.
"Sepertinya, ia marah karena aku membeberkan rahasia hubungan karni. Namun, aku akan memberitahukan satu rahasia lagi. Kami akan menikah dalam waktu dekat."
Kini, suasana menjadi hening. Dipta kini menatap tajam Deeva yang berada di sampingnya. "Apa maksudmu?" tanyanya, menuntut.
"Kita akan menikah, Sayang," jawab Deeva.
Dipta akan kembali protes, tetapi mulutnya langsung ditutup oleh ciuman Deeva yang lembut. Membuat wartawan berseru heboh.
Darma hanya tertawa sinis. "Sudah cukup berita hari ini!
Biarkan adikku menuntaskan rasa rindunya!" ucap Darma.
Para wartawan di ruangan itu pun bubar dengan berita yang akan menghebohkan publik keesokan harinya.
Deeva melepaskan ciumannya.
"Dipta, kenapa kau tidak bilang kalau kau berhubungan dengan cucuku? Apa kau takut, saya tidak merestuimu? Tenang saja, saya merestui kalian berdua!" ujar Adianto.
"Terima kasih, Kek," ucap Deeva, lalu memeluk kakeknya.
"Ikut denganku!" ajak Dipta, menarik tangan Deeva menjauh dari ruangan itu. Namun, langkah Dipta terhenti kala melihat Nadia yang berdiri dengan tatapan kosong.
"Jangan berpikir macam-macam! Percayalah padaku, tak ada apa-apa! Nanti akan kujelaskan semuanya!" ucap Dipta sambil menghampiri Nadia, lalu memeluknya. "Tolong, percayalah padaku! Itulah yang kuminta padamu saat ini."
Nadia hanya mengangguk. Setelah itu, Dipta kembali menyeret Deeva, meninggalkan ruangan itu.
"Apa maksud semua ini?!" teriak Dipta marah.
"Aku hanya memberitahukan apa yang sudah menjadi milikku."
"Milikmu? Siapa yang bilang, aku ini milikmu?!" teriak
Dipta.
"Aku yang bilang dan wartawan tahu semua itu." "Hentikan berita bodoh itu sebelum ditayangkan di
televisi besok!"
"Tidak akan."
"Kaul" Dipta mencengkeram bahu Deeva keras, tetapi Deeva tidak kesakitan sama sekali. "Wanita Jalang! Sebanyak itu temyata kau berubah. Kaupikir, aku mau berada di sisi gadis sepertimu? Menjijikkan!" ucap Dipta dingin. Matanya menatap tajam Deeva.
"Kau hams mau berada di sisiku, karena kau yang kuinginkan. Kalau tidak, aku akan menghancurkan orang-orang yang kaucintai. Bahkan, karirmu."
"Kau gila!" teriak Dipta.
"Ya, aku gila. Gila karenamu." "Berengsek!" pekik Dipta.
"Dip, Nadia, Dip! Dia pingsan!" teriak Bayu, manajer Dipta, yang menghampiri mereka.
Dipta melepaskan cengkeramannya dari bahu Deeva.
Ketika ia akan berlari, Deeva menahannya.
"Mau ke mana kau? Biarkan saja! Biarkan wanita tidak berguna itu!" teriak Deeva.
"Wanita tidak berguna itu adalah wanita yang kucintai." Dipta melepaskan tangan Deeva dengan keras, sehingga tubuh Deeva terjatuh ke lantai. Dipta tidak peduli. Ia tetap melanjutkan langkahnya.
Deeva menatap dua bodyguard yang menghampirinya. "Bawa laki-laki itu kepadaku sekarangjuga!" perintah Deeva.
Bodyguard itu menyusul langkah lebar Dipta, yang akan menghampiri kekasihnya.
Grip salah satu bodyguard mencekal bahu Dipta dari belakang.
Sebelum Dipta berteriak, satu bodyguard lagi menempelkan sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius. Dipta pun tak sadarkan diri.
"Bawa ia ke kamar hotel!" ucap salah satu bodyguard dan membawa tubuh Dipta dari ruangan itu tanpa membiarkan bertemu dengan kekasihnya.
***
Dipta terbangun dari tidurnya. Ia langsung memijit kening. "Pusing sekali!" gumamnya. la mendudukkan diri di atas ranjang dengan kaki menjuntai ke lantai. Matanya tampak melihat ke seluruh ruangan di mana ia terbangun pagi itu. "Di mana aku?" gumamnya lagi.
Kesadaran kini menghampiri sepenuhnya. Matanya pun langsung terbelalak lebar. Tubuh tinggi tegapnya langsung berdiri menjulang. "Apa yang terjadi padaku? Amghhh, shittt! Apa ini ulah wanita jalang itu? Sial!" teriaknya, frustasi.
Dipta melihat tubuhnya yang bertelanjang dada. Pasti ada sesuatu yang tidak heres terjadi padanya. Ia segera memakai bajunya, lalu keluar dari kamar hotel itu. "Aku akan membereskan wanita jalang itu. Namun, sebelum itu, aku akan menemui Nadia dulu. Bagaimana kabarnya saat ini?" ucapnya kepada diri sendiri.
Diambil ponsel dalam saku celana. Sebelum ia men-dial nomor telepon kekasihnya, ada satu panggilan masuk. Dipta urung menelepon Nadia. Nomor yang tidak dikenali. Dengan cepat, ia mengangkatnya.
"Pagi, Sayang!" sapa seorang wanita di ujung telepon sana. "Apa yang kaulakukan padaku?!" teriak Dipta.
Kini, ia sedang berada di dalam lift, jadi leluasa berteriak sesuka hati.
"Kamu sudah lihat infotainment pagi ini, Sayang?" tanya Deeva, tanpa menghiraukan teriakan Dipta.
Dipta mengacak rambutnya kasar. Ulah wanita itu benar-benar membuatnya pusing. "Apa yang kauinginkan dariku?" teriak Dipta lagi.
"Temui aku sekarang di restoran samping hotel yang kita tinggali semalam!" jawabnya.
***
Dipta segera melangkah ke arah restoran samping hotel bintang lima itu. Ia tidak peduli penampilannya seperti apa pagi itu. Ia benar-benar ingin menghabisi wanita jalang itu.
Setelah tiba di restoran, pelayan membawanya ke ruangan VIP. Di sanalah wanita itu berada. Duduk dengan manis, di sebuah kursi.
Dengan langkah lebar, Dipta menghampiri wanita itu dan menarik kerah bajunya dengan keras. Tubuh wanita itu terangkat ke atas. Dipta sudah dipenuhi amarah kali itu. Ia tidak peduli bahwa sosok di hadapannya adalah seorang wanita.
"Wow, wow, sabar, Honey! Bukankah kita sudah menghabiskan waktu semalaman? Apa itu belum cukup?" tanya Deeva, dengan suara menggoda.
"Jelaskan apa yang kaulakukan padaku!" teriak Dipta lagi. Mempertanyakan hal yang sama untuk sekian kalinya.
"Duduklah dulu! Nanti akan kujelaskan. Kau mau sarapan apa? Biar kupesankan," tanya Deeva manis.
"Tidak usah! Cepatlah berbicara, Wanita Jalang! Jangan berbasa-basi!"
"Baiklah! Pradipta Bagaskara, menikahlah denganku!" Dipta tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan Deeva.
"Kaupikir, aku sudi menikah denganmu?"
"Kau harus bersedia. Kalau tidak, aku akan menghancurkan karirmu dan orang-orang di sekelilingmu."
"Aku tidak peduli kau mau menghancurkan karirku, menyakiti keluargaku, sahabat, bahkan wanita yang kucintai, aku tidak peduli. Aku yakin, mereka lebih mempercayaiku dibanding wanita sepertimu."
"Baiklah! Aku akan mengeluarkan senjata terakhirku, supaya kau mau menikah denganku." Deeva mengeluarkan foto dari tas dan memperlihatkannya kepada Dipta-yang ada di hadapannya. "Kalau kau tetap tidak mau menikah denganku, aku akan memberikan foto ini ke media. Setelah itu, bukan hanya karirmu yang akan hancur, tetapi juga kepercayaan orang-orang di sekeliling terhadapmu."
Dipta melihat foto-foto itu dengan kesal. "Bagaimana bisa seperti ini? Kau menjebakku!"
"Apa pun itu, semalam kita telah menghabiskan malam bersama, Sayang."
"Sejak kapan aku tidur denganmu, Gadis Sialan!"
Deeva terkekeh, lalu menghampiri Dipta dan mengecup
pipinya.
Dipta hanya diam. Masalah itu benar-benar menguras
pikirannya.
"Daripada kau marah-marah, pikirkanlah ini! Temuilah aku secepatnya dan putuskan!" ucap Deeva, lalu meninggalkan Dipta.
"Wanita Sialan!" teriak Dipta. Ia meremas rambutnya kuat, tetapi tangan Deeva melepaskan cengkeraman itu dari rambutnya Dipta.
Deeva menggenggam tangan itu, lalu menciumnya lembut. Ditatap mata Dipta yang berkobar amarah. "Wanita sialan ini nantinya akan menjadi istrimu. Aku permisi pulang dulu. Pikirkanlah!" ucap Deeva dan mencium kembali pipi lelaki itu. Langkah Deeva yang baru sampai pintu ruangan itu terhenti.
"Kau mernaksaku menikah denganmu? Kau gila!" pekik Dipta tajam.
"Menikahlah denganku, walaupun terpaksa, Kak Dip!" ucap Deeva tanpa menoleh, lalu keluar dari ruangan itu.
"Lu di mana, Dip?" tanya Bayu manajemya, melalui ponsel.
"Jemput gue di hotel, Bay!"
Beberapa menit kemudian, Bayu menghampiri Dipta yang rnasih mematung di tempatnya, di ruangan restoran VIP itu. Bayu juga melihat foto-foto yang berserakan di atas meja, yang temyata, foto Dipta sedang tidur, memeluk Deeva.
Di foto itu, mereka tampak telanjang. Namun, Dipta yakin, malam itu tidak terjadi apa pun. Karena, ketika bangun, celananya rnasih rapi, bahkan ranjang yang ia tiduri pun masih rapi.
"Apa ini, Dip? Masalah apa lagi ini? Berita lu yang kemarin saja masih membuat heboh semua kalangan."
"Gue tidak ingin menjelaskan apa pun sekarang. Tolong bawa gue menemui Nadia!" ucap Dipta, yang dijawab anggukan oleh Bayu.
***
Dipta melangkahkan kaki menuju rumah Nadia. Ia mengenakan topi dan kacamata untuk menyamarkan siapa dirinya. Dipta mengetuk pintu rumah. lbunya Nadia yang membukakan.
"Dipta," gumam ibu Nadia.
Tanpa Dipta sangka, sosok ibunya sendiri pun muncul dari dalam rumah, menatapnya tajam. "Apa yang terjadi, Dipta? Jelaskan sama Thu!" tanya ibunya.
"Bu, nanti Dipta jelaskan. Dipta hanya ingin bertemu Nadia saat ini."
Kedua orang paruh baya itu pun mengizinkan. Tanpa bertanya macam-macam lagi.
Keluarga Nadia dan Dipta hidup bertetangga. Mereka tinggal di daerah Depok yang masih kental akan kebersamaan bertetangga, tidak seperti kota Jakarta. Di situ, Dipta dan Nadia dibesarkan bersama, sampai akhirnya memutuskan menjalin ikatan kasih. Kedua orang tuanya tahu akan hal itu, bahkan mendukung.
Dipta masuk ke kamar Nadia dan mendapati gadisnya duduk di atas ranjang, menatap dengan mata sembab.
Dipta menghela napas, lalu duduk di samping gadisnya itu. Digenggamnya tangan Nadia. "Maafkan aku, Nad!" ucap Dipta lirih.
Nadia hanya diam. Menunggu kekasihnya itu menjelaskan semuanya. Semua apa yang terjadi.
"Aku tidak menyangka akan seperti ini. Sungguh, ini di luar dugaanku! Aku minta maaf kalau keputusanku akan menyakitimu." Dipta meremas tangan gadisnya itu erat. "Aku memutuskan akan menikahinya," ucap Dipta lagi.
Nadia melepaskan tangannya yang digenggam Dipta. "Kau mengenal wanita itu?" tanya Nadia. Kini gadis itu berdiri, membelakangi Dipta.
"Ya, aku mengenalnya dulu. Waktu kelas 2 SMA ketika Ayah dirawat di rumah sakit, ia juga dirawat pada saat itu. Di sanalah kami bertemu dan saling mengenal. Namun, hanya satu bulan. Tidak terjadi apa pun di antara kami."
"Waktu itu aku hanya seorang sahabat bagimu," gumam Nadia.
"Nadia, aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya.
Sekarang aku menikahinya pun, karena terpaksa. Karena, keadaan yang mungkin bisa membuatmu pergi dari sisiku."
"Kau akan menikah, Dipta! Bagaimana kau berpikir, aku masih tetap akan berada di sisimu?" teriak Nadia.
Dipta memeluk gadisnya itu dari belakang. "Aku akan mempertahankanmu di sisiku. Percayalah padaku, hanya itu yang kubutuhkan! Ini caraku menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Setelah masalah ini terselesaikan dan wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap orang-orang di sekelilingku, aku akan kembali padamu."
"Kembali padaku? Siapa yang bisa menjamin hati yang bisa berpaling?" ucap Nadia.
Dipta membalikkan tubuh gadisnya itu. Mengusap pipi gadisnya yang basah, karena air mata. "Percayalah, hatiku tetap akan menjadi rnilikmu! Percayalah padaku, Nadia! Hanya itu yang kubutuhkan. Tetaplah berada di sisiku!"
Nadia hanya mengangguk lirih. Dipta pun tersenyum, lalu mencium bibir gadisnya itu lembut.
Air mata Nadia pun kembali mengalir.
***
Di tempat berbeda, seorang wanita sedang berenang dengan lincah. Tubuh indahnya bergerak ke sana kemari di atas air. Setelah merasakan badannya cukup lelah, ia menenggelamkan tubuh. Cukup lama, sampai kepala gadis itu kembali menyembul ke permukaan.
Ia naik ke atas kolam renang, mengambil handuk, lalu membalutkannya di pinggang.
"Ini Mbok buatkan susujahe. Dirninum, ya?"
Deeva tersenyum, mengambilnya. Lalu, meneguknya hingga tandas. "Terima kasih, Mbok. Kalau orang lain, setelah berenang itu rninumnya jus. Ini Deeva malah diberi susu jahe. Mbok ini ada-ada saja!"
Si Mbok hanya tersenyum, lalu mengusap kepala Deeva. "Itu supaya tubuhmu tetap hangat. Tadi berapa lama kamu menenggelamkan diri di sana?"
Deeva hanya tersenyum, lalu mengangsurkan tangan si Mbok dari kepalanya untuk menjauh. "Deeva masuk dulu, yah, Mbok! Mau mandi, lalu tidur," ucap Deeva, lalu meninggalkan si Mbok.
Sepeninggal Deeva, si Mbok melihat kolam renang dengan tatapan sedih. "Kenapa harus menangis di dalam air? Apa bahu Mbok tidak kaupercayai lagi?" gumam si Mbok dengan sedih.
Sementara, Deeva sendiri telah masuk ke dalam kamarnya dan terdiam di sana. Air mata kembali menetes di pipi. Dengan secepat kilat, ia menghapusnya. "Deeva, kamu kuat. Jangan biarkan siapa pun melihat penderitaanmu! Bahkan, si Mbok. Deeva, kamu kuat," ucap Deeva kepada dirinya sendiri.
Ia menutup mata. Menghela napas dalam, seperti menghilangkan segala sesak yang menghimpit hatinya. Namun, tak berapa lama kemudian, ia kembali membuka mata, lalu tersenyum manis.
-- Next Chapter--
Bab 4
Setelah menenangkan Nadia dan meyakinkannya untuk tetap percaya, Dipta pun meminta izin pada orang tuanya untuk menikahi Deeva. Orang tua Dipta dan adik perempuannya tidak bisa menyangkal apa pun, kalau memang sudah menjadi keputusan anak sulung di keluarganya itu.
"Aku putuskan menikah denganmu. Lebih tepatnya, terpaksa menikah," ucap Dipta di seberang telepon.
"Terima kasih, kau telah memilihku," jawab Deeva. "Memilihmu? Yang benar saja!" sindir Dipta, tidak terima.
"Apa pun itu, kau akan menjadi suamiku." "Terserah!"
"Besok kita akan mengadakan konferensi pers sekitar jam dua sore di kantor manajemen Kakek. Aku tunggu kau besok di sana."
Tidak ada jawaban apa pun dari Dipta, tetapi sambungan telepon masih tersambung. "Apa yang mengubahmu jadi seperti ini? Ini bukan kau yang dulu," gumam Dipta beberapa saat kemudian. Deeva tersenyum masam di ujung telepon sana.
"Kau masih mengingat sosok Deeva yang dulu temyata?
Kau mencintaiku, kan, waktu itu?" "Tidak. Jangan bermimpi!"
"Sayang sekali! Namun, setidaknya, kau yang mengajariku bagaimana cara berbagi es krim dengan benar kala itu."
Dipta terhenyak. Sebuah ingatan masa lalu menyergapnya.
Dua orang remaja sedang duduk-duduk di taman rumah sakit. Tampak seorang gadis sedang asyik memakan es krim. Sedangkan remaja Zaki-Zaki di sampingnya hanya melihat saja. Sesekali, ia tersenyum geli, melihat tingkah gadis remaja yang kakinya digips itu. KepaZanya juga tampak diperban.
"Apakah es krim itu begitu enak sampai kamu tidak mengacuhkanku?"
Gadis itu hanya nyengir, tidak memedulikan sindiran teman Zaki-Zakinya itu.
"Kau tidak mau berbagi es krim itu denganku, Deeva?"
"Tentu aku akan membaginya denganmu, Kak Dip. Nah, aaa ... buka mulutmu!" ucap Deeva yang masih remaja.
"Aku akan mengajarimu cara berbagi es krim dengan benar."
"Bagaimana caranya? " tanya Deeva. "Seperti ini."
Cup. Dipta mencium bibir Deeva, lalu menjilat es krim yang tersisa di bibir gadis itu. "Manis, " ucap Dipta.
Deeva berkedip-kedip, polos. "Oh, seperti itu caranya.
Kalau begitu, baiklah!"
Tanpa Dipta duga, Deeva memakan es krimnya, lalu membagi lewat bibir. Dipta remaja diserang rasa terkejut yang amat sangat.
"Bagaimana? Manis, kan? Nanti aku akan membagi es krim dengan cara seperti ini kepada suster dan dokter. "
"Yakkk! Jangan lakukan itu!" teriak Dipta, histeris. Kenapa gadis di sampingnya itu begitu polos? Ia tidak tahu sama sekali bahwa tadi Dipta menciumnya, mencium bibimya, yang biasanya membuat para gadis tersipu. Namun, Deeva malah mengira itu cara berbagi es krim yang baik.
"Kenapa jangan lakukan, Kak Dip? Bukankah kata Kakak itu cara berbagi es krim yang baik?"
Dipta tampak mengacak rambutnya, frustasi. "Tadi aku menciummu. Apa kamu tidak menyadarinya? Tadi itu hanya alibi, biar aku bisa menciummu. itu ciuman pertamaku, kamu harus tahu."
"Aku tahu. Itu juga ciuman pertamaku, " ucap Deeva, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Jadi, kamu tahu, tadi itu sebuah ciuman?"
Deeva hanya mengangguk, membuat Dipta terpaku di
tempat.
Deeva mengedarkan pandangan ke area taman rumah
sakit. Pandangannya terhenti pada anak gadis seusianya yang sedang duduk di kursi roda, ditemani orang tuanya. Mereka tampak tertawa bahagia bersama.
Tatapan Deeva remaja berubah sendu. Dipta pun melihat ha[ itu, lalu menarik wajah gadis itu, agar menatap wajahnya.
"Kenapa, Kak Dip?"
"Tatap mataku!"perintah Dipta.
Deeva pun menurut. Ia menatap laki-laki yang ada di sampingnya itu.
Dipta mulai tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Deeva. Aliran darahnya menjadi naik ke ubun-ubun. Membuat wajahnya memerah.
"Kak Dip, wajahmu memerah. Kenapa? Apa Kakak sakit?" tanya Deeva dengan polos.
"Ohl Hmmm ... itu ... hmmm ... ahhh, aku kedinginan!
Yah, aku kedinginan! "jawab Dipta, tergagap.
Kak?"
"Ya sudah, kita kembali masuk saja ke rumah sakit! Yuk,
Dipta hanya mengangguk, mengiyakan waktu itu. Kenapa gadis di sampingnya itu begitu polos? Tidak tahukah ia bahwasanya tadi Dipta merona, karena ditatap seperti itu olehnya?
"Kak, masih di situ?" tanya Deeva, menghentikan lamunan Dipta. "Kalau tidak mau bicara, aku akan memberitahu Kakak satu hal. Terima kasih waktu itu Kakak telah memberikanku rasa hangat. Rasa hangat yang membuatku ingin mempertahankan Kakak di sampingku."
Dipta langsung menutup sambungan telepon itu. Sudah cukup pikirannya melantur ke mana-mana.
***
Keesokan harinya, tepat jam dua sore, acara konferensi pers itu dimulai. Banyak pertanyaan yang dilontarkan media pada pasangan itu.
"Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian. Kami akan menikah lusa. Kami mengundang kalian ke acara pernikahan kami. Aku tidak hamil bila kalian ingin mempertanyakan hal itu," beber Deeva, membuat wartawan yang akan menanyakan hal itu bungkam.
"Saudara Dipta, bagaimana dengan karir Anda ke depan dan fans Anda?" tanya seorang wartawan kepada Dipta.
"Aku hanya memohon dukungan mereka," jawab Dipta,
singkat. Setelah mengucapkan hal itu, dua sejoli itu pun keluar dari ruangan konferensi dan beristirahat di ruangan kakek Deeva, Adianto.
"Sterilkan halaman kantor! Suruh wartawan itu berhenti menunggu! Sudah cukup berita yang mereka dapatkan," ucap Adianto di telepon.
"Kalau begitu, kami pulang dulu, Kek," pamit Deeva. "Hati-hati, Sayang! Dan kau, Dipta, jangan mengkhawatirkan apa pun! Karirmu akan baik-baik saja. Saya menjarnin itu," ucap Adianto.
Dipta hanya tersenyum sopan, lalu pergi dengan Deeva dari ruangan itu.
Kini Deeva dan Dipta ada di dalam mobil. Dipta yang menyetir.
"Bawa aku untuk menemui keluargamu!" "Untuk apa kau menemui keluargaku?"
"Aku hanya ingin menjadi menantu yang baik."
"Tidak perlu! Kaupikir, kau ini wanita baik? Ingat, aku menikahimu, karena terpaksa! Karena kau menjebakku!" jawab Dipta, dingin.
"Setidaknya, orang tuamu tidak menerimaku sebagai menantu dengan terpaksa. Bukankah seorang anak harus membawa calon istri ke rumahnya dulu sebelum menikah? Bukankah kau ini orang baik? Kenapa hal seperti itu saja kau tidak tahu?" sindir Deeva.
"Oke. Kita ke rumahku."
"Namun, bawa aku ke apartemenmu dulu! Aku mau berganti pakaian dan berdandan lebik baik sebagai seorang calon istri."
Dipta tidak berkata apa pun lagi. Ia hanya melajukan mobil menuju apartemen.
***
Sesampainya di apartemen, Deeva langsung masuk ke kamar Dipta tanpa disuruh. Menggunakan kamar mandi, lalu menghapus riasan yang membuatnya tampak seperti kakak tiri Cinderella.
Make up yang menempel di wajahnya terhapus sempurna. Kini hanya wajah lembut dengan polesan bedak tipis yang terlihat. Bibirnya dipoles juga oleh lip gloss merah muda. Rambut hitamnya dibiarkan terurai. Pakaian glamour yang dipakainya tadi diganti dengan dress sederhana.
Dipta yang duduk sambil memejarnkan mata di kursi, terganggu akibat belaian sebuah tangan di pipinya.
Mata Dipta terbuka dan terlihatlah sosok Deeva. Persis seperti waktu dulu. Wajah cantik polosnya kini tersenyum lembut ke arahnya.
"Kak, wajahmu pucat sekali! Sana mandi dulu! Aku akan memasakkan sesuatu untukmu. Apa ada bahan makanan di sini?"
"Tentu. Kekasihku tidak pernah membiarkanku makan sembarangan," jawab Dipta ketus, lalu meninggalkan Deeva begitu saja.
"Baguslah! Aku harus berterima kasih kepada Nadia, telah menjagamu dengan baik sebelum aku datang."
"Kau yang memaksa datang dan hadir di tengah-tengah kami," ucap Dipta, lalu membanting pintu kamarnya.
Setelah memakan waktu lumayan lama, Dipta pun keluar dari kamar. Hidungnya disambut oleh aroma masakan yang begitu harum.
Penasaran, Dipta melangkahkan kaki menuju dapur. Di sana, terlihat Deeva sedang sibuk memasak. Rambut panjangnya diikat dengan asal.
"Selesai juga!" ucap Deeva senang.
Dipta hanya mematung di tempatnya. Ia tidak menyangka, wanita seperti Deeva bisa memasak.
"Kak Dip sudah selesai mandinya? Yuk, kita makan dulu!" ajak Deeva.
"Tidak usah! Bukankah kau mau menemui orang tuaku?
Ayo, kita pergi! Jangan menyia-nyiakan waktu!"
"Kita makan dulu. Ayo, Kak, biar Deeva suapin!"
Kini Deeva menghampiri Dipta. Menyendok makanan buatannya, lalu menyodorkan ke mulut Dipta. "Aaa ... Kak, buka mulutnya!"
"Aku tidak lapar," jawab Dipta, dingin.
Namun, Deeva tidak mengindahkan penolakan Dipta. Ia tetap bersikeras menyodorkan makanan buatannya.
Prang!
Dipta membanting piring, juga sendok yang ada di tangan Deeva. "Aku bilang tidak usah, ya, tidak usah, Wanita Sialan!" teriaknya.
Deeva hanya tersenyum, menanggapinya.
"Aku tunggu di mobil. Jangan banyak berlagak seperti orang baik! Aku muak melihatnya!" ucap Dipta sebelum meninggalkan Deeva.
Mata yang biasanya tajam bak elang, kini redup. Tanpa dibantu make up yang memperlihatkan dirinya kuat, Deeva tampak rapuh di tempatnya.
"Tidak ada yang menginginkanmu di dunia ini, Gadis Malang. Aku membantumu mendapatkan kebahagiaan itu. Namun, kau harus tahu satu hal. Kebahagiaanmu itu kini mencintai wanita lain. Rasakan bagaimana hidup dengan suami yang mencintai wanita lain! Kau akan mati perlahan-lahan. Karma sudah berlaku terhadap kau, Anak Wanita Jalang! Kau akan merasakan bagaimana pahitnya di posisi ibuku waktu itu.
Hahaha .... Menyenangkan sekali!" Ucapan kakaknya, Danna, temgiang-ngiang di benaknya.
"lbu, apa yang kaulakukan dahulu, sehingga membuat hidupku menjadi seperti ini?" gumam Deeva lirih, di keheningan apartemen milik Dipta, sumber kebahagiaannya atau sumber yang akan membuat Deeva terluka semakin dalam.
-- Next Chapter--
Bab 5
Cipta menunggu di dalam rnobil dengan tidak sabar. Ketika melihat Deeva mengharnpiri mobil, ia mendesis geram. Deeva masuk dan duduk di jok samping Dipta.
"Lelet banget, sih, kamu! Tidak ada hal baik sama sekali dalam dirimu. Bikin susah orang saja bisanya!" sindir Dipta, tajam. Deeva hanya diam. Kalau ia menimpali, pasti tidak akan berkesudahan. Sesampainya di rumah keluarga Dipta, mereka pun disambut canggung. Keluarga Dipta tidak menyangka akan kedatangan calon menantu yang dipilih anaknya, karena terpaksa. "Selamat malam, Om, Tante! Maaf, Deeva belum sempat berkunjung sebelumnya!"
"Tidak apa-apa, Nak Deeva. Jadi, pernikahan itu akan dilaksanakan lusa?" tanya ibunya Dipta.
"Ya, Tante. Lebih cepat, lebih baik."
"Kakak tidak hamil, kan?" celetuk seorang gadis muda yang tiba-tiba datang, lalu duduk di samping Dipta. Menggeser Deeva yang duduk di sebelah calon suaminya itu.
"Radisti, kamu ini! Jaga bicaramu! Memang kamu mau punya Kakak seperti itu?" tegur ayah Dipta.
"Disti percaya Kak Dipta, kok, Yah. Siapa tahu saja cewek ini sengaja menjebak Kak Dipta, sehingga Kakak mau menikahinya. Ayah dan lbu tahu, kan, bagaimana sayangnya Kak Dipta ke Kak Nadia?" beber gadis yang temyata adiknya Dipta itu.
"Radisti, kamu!" Kali ini ibu Dipta yang menegur.
"Ya, deb, Bu, Yah! Maafl" ujar Radisti sebelum melanjutkan, "Kakak cantik, sih. Tetapi sayang, nggak punya hati!" ucap Radisti sebelum berlalu pergi.
Gadis yang bemama Radisti itu tidak mendengar teguran ayah dan ibunya lagi. Ia tetap melangkah menuju kamar.
"Maafkan Disti, Nak Deeva! Ia anaknya memang seperti itu. Maklum, masih kelas 1 SMA!" ucap ibu Dipta, merasa tidak enak hati.
Hati Deeva benar-benar terenyuh oleh sikap lembut ibu
Dipta.
"Sudah cukup lbu meminta maaf! Sudah berapa kali lbu meminta maaf, hanya karena hal sepeie? Deeva pasti paham, Bu. Jangan terlaiu memperlihatkan kebaikan lbu! Nanti ada orang yang akan memanfaatkannya."
"Dipta, kamu!" tegur ayahnya.
"Aku permisi puiang duiu. Ayo, Deeva!" ajak Dipta. "Kaiau begitu, Deeva permisi duiu, Om, Tante."
"Ya, hati-hati, Nak! Sebentar, kaki kamu itu kenapa, Nak Deeva?" tanya ibu Dipta ketika meiihat Deeva berdiri.
"Oh, ini! Tadi terkena pecahan beling, Bu." "Kok bisa?"
"Tadi Deeva ceroboh, menjatuhkan piring. Pecahannya jadi terkena betis Deeva," jawab Deeva.
"Kenapa hanya dipakaikan hansaplast? Lukanya sepertinya besar."
"Oh, itu tadi belum sempat diobatin, Bu."
"Ayo, biar Thu obati! Dipta, kamu ini bagaimana? Calon istri sendiri Iuka saja tidak tahu," tegur ibunya, membuat Dipta menatap tajam Deeva yang berdiri di sampingnya.
Seteiah Iuka Deeva diobati, mereka pun pamit untuk kedua kalinya, Ialu meninggalkan kediaman keiuarga Dipta.
***
Mobil yang dilajukan Dipta melaju dengan kencang, membelah jalanan malam ibukota. Memakan waktu cukup lama, sampai mobil yang dilajukan Dipta tiba di Jakarta. Selama itu, dua sejoli ini tidak terlibat pembicaraan sama sekali.
"Kamu sengaja?" pekik Dipta setelah lama terdiam. "Sengaja apa?"
"Sengaja membuat aku tampak buruk di hadapan orang tua! Dasar, Wanita Picik! Apa kamu sengaja melukai kaki sendiri, agar dikasihani?" sindir Dipta, tajam.
Deeva terkekeh pelan. Panggilan Dipta yang kini berubah kasar, membuat sindiran Dipta menjadi lebih tajam.
Laki-laki yang dulu berhati hangat itu, kini berhati bakes di kutub utara.
"Ya, aku melukai kakiku sendiri. Aktingku bagus, bukan?
Tadi ibumu mengasihani dan bersimpati kepadaku." "Berengsek!" pekik Dipta lagi.
Mobil itu pun tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. "Keluar dari mobilku, Wanita Berengsek!" teriak Dipta.
"Tidak usah berteriak! Aku mendengarnya," ucap Deeva
santai.
"Cepat keluar!"
"Kalau begitu, aku perm1s1 dulu, Sayang. Hati-hati
menjalankan mobilnya!"
Tatapan Dipta tampak semakin marah, mendengar ucapan Deeva itu. "Berhenti berucap manis seperti itu! Mulut busukmu tidak pantas mengatakannya!" Dipta lagi-lagi mengeluarkan caciannya kepada Deeva.
Deeva pun keluar dari mobil.
Setelah Deeva keluar, mobil itu melaju dengan kencang.
Deeva melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul dua dini hari. Kaki jejangnya melangkah, menyusuri trotoar jalan. Ia menghentikan langkah di atas jembatan. Di bawahnya mengalir air begitu deras, yang bisa menghanyutkan siapa saja.
Deeva menengadahkan wajah ke langit kelam. Malam tampak tidak berbintang sama sekali.
"Jika aku masuk ke dalam air itu, apakah Kau akan mengambil nyawaku, Tuhan? Ataukah Kau akan membiarkanku hidup seperti saat aku membiarkan tubuhku ditabrak oleh mobil? Kenapa susah sekali hanya untuk mengakhiri semua penderitaan ini!"
Kaki Deeva perlahan menaiki tangga jembatan satu persatu. Ketika ia sudah memejamkan mata dan siap menerjunkan diri, suara teriakan orang menghentikannya.
Deeva kembali membuka mata dan turun dari besi jembatan itu. Ia langsung berlari begitu saja tanpa mengindahkan panggilan orang-orang yang memergoki dirinya akan melakukan tindakan yang dilaknat Sang Maha Kuasa.
"Apa yang Kaurencanakan untuk hidupku ini sebenarnya, Tuhan? Sampai untuk kedua kalinya, Kau tidak juga membiarkanku membusuk di dalam nerakamu," gumam Deeva.
Kedua kaki membawa tubuhnya menjauh dengan cepat dari tempatitu.
***
Dipta masuk ke dalam apartemen, lalu membanting pintunya dengan keras.
Ia masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuh di bawah shower untuk mendinginkan kepala yang mendidih akibat tingkah laku Deeva.
Ketika kepalanya dirasa sudah dingin, Dipta keluar dari kamar mandi dengan memakai celana pendek dan kaus oblong. Kakinya melangkah ke dapur untuk mengambil minum.
Ketika ia akan meneguk air minum, rasa amarah itu kembali menguasai diri. Terutama, ketika melihat makanan yang tersaji di meja makan.
"Berhenti berpura-pura baik, Wanita Sialan!" raungnya, lalu membanting piring-piring yang berisi masakan itu.
Prang ... !
Suara piring yang berjatuhan beradu dengan lantai, membuat apartemen Dipta malam ini tampak gaduh.
Dipta meninggalkan ruang makan, lalu masuk ke kamar. Dibiarkan dapurnya berantakan karena ulahnya sendiri. Ia benar-benar dalam mood yang buruk saat itu.
Dipta duduk di atas ranjang, lali mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba, rasa perih terasa di betisnya. Darah mengalir di betis Dipta, membuatnya meringis ketika tangannya menyentuh Iuka itu. "Kenapa bisa terluka seperti ini?" gumamnya.
Dipta kembali keluar dari kamar. Ia kembali ke dapur untuk mengambil kotak p3k yang ada di lemari dapur. Dibukanya kotak itu dan hanya menemukan hansaplast di dalamnya.
Sebuah ingatan tiba-tiba menghantamnya. Ingatan ketika ia memecahkan piring-piring yang ada di meja makan, sehingga melukai betisnya. Di saat Dipta membanting piring beberapa jam sebelumnya, mungkin pecahannya melukai betis Deeva.
Pikiran Dipta berkecamuk. Pikirannya membuat penyangkalan bahwa wanita itu tidak mungkin terluka akibat pecahan piring yang ia banting itu. Namun, penyangkalan itu sia-sia. Nyatanya, pecahan piring itu kini juga melukainya. Sebuah tangan besar seperti meremas hati dan membuat pemiliknya terdiam.
"Dasar, wanita picik!" Cacian yang ia lontarkan menggema di pikiran. Cacian-cacian itu sating bersahutan. Seperti mengejek, bahwasanya siapa yang memiliki mulut busuk sebenarnya.
***
Dipta terbangun, karena mendengar suara gaduh di apartemen. Matanya yang masih berat, dipaksa untuk terjaga. Ia pun turun dari ranjang, lalu keluar kamar.
Langkah lebar Dipta membawanya ke dapur apartemen. Dapur yang semalam berantakan, kini sudah rapi. "Siapa yang membersihkannya?" gumam Dipta, karena tidak melihat orang lain di sana. "Apa mungkin wanita itu? Sudah kuduga. Mana mungkin ia marah padaku karena kejadian semalam?" gumam Dipta lagi.
Kejadian semalam benar-benar membuat pikiran Dipta tidak berhenti meledeknya. Hatinya seperti ikut marah kepada dirinya sendiri. Ada sesuatu yang aneh tengah dirasakannya kini.
Dipta mendengar pintu apartemennya dibuka. Ia pun langsung mengukir senyum sinis. Mendengar langkah kaki yang semakin dekat, Dipta kembali mengeluarkan kata-kata kejamnya. "Masih berani juga kamu datang ke sini?" hardiknya.
Derap langkah yang ada di belakang tubuhnya berhenti, membuat Dipta tersenyum puas.
"Maksud kamu apa, Dip?" tanya seseorang yang ada di belakang tubuhnya.
Deg.
Dipta membalikkan tubuh. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Nadia berdiri di situ dengan menampakkan wajah sedih.
"Nadia, maafl Kukira kamu wanita itu," ucapnya seraya menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Kamu menunggunya?" tanya gadis itu, curiga.
"Tidak. Aku hanya kesal padanya. Kukira, 1a masih berani datang ke sini setelah membuat kekacauan di apartemenku."
"Jadi, pmng-piring yang berserakan di lantai itu ulahnya?"
Dipta hanya mengangguk. Hatinya kini memaki-maki, karena sudah berbohong.
"Ia benar-benar wanita yang tidak bermoral," ucap Nadia
kesal.
"Jangan menghinanya seperti itu! Ia tidak seburuk yang kamu pikirkan," bela Dipta.
Nadia kini menatap Dipta, heran. "Kamu membelanya?" "Tentu tidak. Hanya saja, ternyata ia tidak seburuk yang
kita pikirkan selama ini."
"Oh, oke! Apa pun itu, lupakan! Aku akan membuatkanmu sarapan. Basuh dulu wajahmu!"
"Oke. Terima kasih, Nad," ucap Dipta. Kini, ia memeluk kekasihnya itu.
"Kamu itu orang baik, Dipta. Jadi, aku tidak heran, kamu membelanya. Kamu menyuruhku mempercayaimu. Jadi, aku percaya kalau sampai kapan pun hatimu tetap untukku," ucap Nadia.
Dipta hanya diam, lalu mengeratkan pelukannya terhadap Nadia.
"Aku tidak akan kalah dari wanita itu, karena aku tahu, kamu ada di pihakku."
Dipta kini melepas pelukannya, lalu membelai p1p1 gadisnya itu. "Aku ke kamar mandi dulu, ya? Tolong siapkan sarapan yang enak!"
Nadia mengangguk, antusias. "Siap laksanakan, Sayangku."
Dipta tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Nadia. Membuat gadis itu merasa, teramat sangat disayangi oleh kekasihnya itu.
Nadia tidak peduli statusnya nanti bagaimana. Yang penting, laki-laki itu memintanya untuk tetap tinggal di sisinya. Sebagai seorang wanita yang juga mencintai laki-laki itu, ia tidak akan menyia-nyiakan hal itu.
Dipta membasuh wajahnya, lalu menatap bayangan dirinya di cermin. Besok dirinya akan menikah. Namun, kini ia sedang bersama dengan Nadia, kekasihnya. Pernikahan yang memang tidak pada umumnya.
Dipta keluar dari kamar mandi, membersihkan wajahnya dengan handuk.
Ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya berdenting. Tanda sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dipta mengambil ponsel dan membukanya.
From: +628221Sxxxx
Temani aku menemui ayahku nanti di jam makan siang!
Hanya itu isi pesan yang Dipta terima dari calon istrinya. Tidak ada telepon menyebalkan pagi-pagi buta yang biasa wanita itu lakukan untuk membangunkan dan mengeluarkan kata-kata manis.
Jari-jari Dipta menari-nari di atas layar ponselnya.
To:+6282215xxxx
Kamu marah padaku?
Ketika ibu jarinya akan menyentuh tombol send, Dipta menghentikannya, lalu menghapus pesan itu.
Satu pesan lagi masuk ke ponselnya.
From: +628221Sxxxx
Aku akan menjemputmu.
Dipta tersenyum samar, lalu menggelengkan kepala, seperti berusaha menerbangkan pikiran-pikiran yang tidak dirinya inginkan.
***
-- Next Chapter--
Bab 6
Dipta dan Nadia sedang menyantap sarapannya masing-masing.
"Sebentar lagi wanita itu akan ke sini," ucap Dipta. "Kapan?"
"Mungkin sebentar lagi. Soalnya, ia akan menjemputku untuk menemui ayahnya."
"Kalau begitu, bersiap-siaplah! Alm akan tetap di sini sampai wanita itu datang."
"Aku tidak perlu bersiap-siap. Membuat ia kesal setiap hari, mungkin saja membuatnya cepat melepaskanku."
Nadia tersenyum, lalu menghambur ke pelukan Dipta.
Dipta dengan senang hati membalasnya.
Bel apartemen terdengar beberapa saat kemudian.
"Aku akan membukanya," ucap Nadia. Namun, Dipta menahannya, lalu kembali memeluknya. "Dip, aku mau membuka pintu."
"Biarkan saja nanti dia masuk sendiri!" "Dia tau password apartemen ini?"
"Harusnya kamu tidak perlu kaget jika wanita semacamnya tahu password apartemenku. Itu hal sepele baginya yang sangat berambisi terhadap apa pun yang ingin ia miliki."
"Kamu yang ingin ia miliki." "Hmmm," jawab Dipta.
Terdengar pintu apartemen dibuka, membuat Dipta kini mencium bibir gadisnya itu. Entah mengapa, Dipta ingin, Deeva marah atau cemburu melihat adegan itu.
Tidak ada yang mengusik kegiatan ciumannya, membuat Dipta heran. Ia pun melepaskan ciuman itu, lalu mengedarkan pandangan. Pandangannya terhenti tepat di mata Deeva, yang kini berdiri dengan anggun tidak jauh dari tempat Dipta dan Nadia berada.
"Sudah melakukan kegiatan pacarannya?" tanya Deeva manis. Ia seperti tidak terganggu sama sekali dengan hal itu. Tidak ada kecemburuan sedikit pun di matanya. Yang entah mengapa, sedikit banyak, membuat Dipta kecewa!
"Kau belum bersiap-siap? Cepatlah bersiap-siap! Aku tunggu di sini. Suruh asisten pribadimu itu membantumu
memilihkan pakaian yang pas untuk menemui calon mertua," ucap Deeva lagi.
"Aku bukan asistennya, Nona Deeva. Aku kekasihnya!" jawab Nadia, lantang.
Deeva hanya tersenyum manis. "Apa pun status kalian, aku tidak peduli."
Dipta tertawa, membuat kedua wanita itu menatapnya, aneh. "Kau tidak peduli? Kalau begitu, kenapa kau bersikeras mgm menikah denganku?" tanyanya, menatap Deeva dengan kilatan amarah di matanya.
"Kenapa kau marah? Karena, aku tidak peduli terhadap status kalian? Apa itu membuat hatimu terganggu?" tanya Deeva.
Kini, wanita itu melangkah menghampiri Dipta dan berhenti tepat di depannya. Tangannya diulurkan, menyentuh dada Dipta. "Aku memutuskan, aku izinkan kau mencintai asistenmu itu. Karena, aku tidak ingin melukaimu begitu banyak. Aku hanya meminta, tetaplah berdiri di sampingku sebagai suami! Aku tidak peduli hatimu itu untuk siapa."
Dipta semakin marah. Kini, ia mencengkeram bahu Deeva kuat. "Aku tidak perlu izin darimu untuk tetap mencintainya. Kaupikir, kau ini siapa, hah?!" teriak Dipta.
"Siapa aku? Aku akan menjadi istrimu besok ketika ijab qabul itu terucap dari bibirmu."
"Kau wanita sialan! Kenapa kau membuat hidupku kacau seperti ini? Kenapa kau semena-mena menyuruhku melakukan ini dan itu? Kaupikir, kau ini hebat?!" teriak Dipta lagi.
Dipta marah, karena wanita itu mengizinkannya untuk tetap mencintai Nadia. Bukannya berterima kasih, ia justru merasa hatinya pilu dan kecewa.
"Kau tahu? Kata-kata yang kaukeluarkan dari mulutmu itu selalu menyakitiku."
Ucapan Deeva seperti air memadamkan api, membuat amarah Dipta yang tadi meluap menjadi redam.
"Kau tahu? Aku selalu salah bersikap, bahkan berkata-kata di hadapanmu. Haruskah aku akhiri semua ini?" tanya Deeva.
Kata-kata Deeva yang ingin mengakhiri semua itu mencubit hati Dipta.
"Seharusnya aku tidak datang dalam hidupmu. Maaf untuk hal itu!" ucap Deeva. "Namun, berhubung aku sudah datang dalam hidupmu, terimalah! Aku menginginkanmu. Aku menginginkan hati yang dulunya milikku."
"Hati siapa yang kaumaksud?" tanya Nadia, tidak terima. "Sudah hentikan omong kosongmu! Kau ke sini
memintaku menemanimu menemui ayahmu, kan? Jadi, berhentilah berbicara yang lain!" potong Dipta.
Setelah mengucapkan itu, Dipta masuk ke kamarnya, membuat Deeva tidak menjawab pertanyaan Nadia.
Kini, di ruangan itu hanya ada Nadia dan Deeva, karena Dipta meninggalkan mereka untuk bersiap-siap.
"Ternyata, wanita baik sepertimu, bisa bertingkah juga," sindir Deeva, tajam.
Nadia hanya meredam amarahnya kuat-kuat. Wanita itu sengaja memancingnya, agar lepas kendali, lalu melakukan tindakan yang di luar dugaan. Kalau hal itu terjadi, siapa tahu wanita itu justru memanfaatkan dan membalikkan situasi, seperti yang ia lakukan kepada Dipta.
Beberapa menit kemudian, Dipta telah rapi dengan pakaian casual-nya. "Nad, aku berangkat dulu. Kau tunggulah di sini sampai aku pulang!" ucap Dipta.
Nadia hanya mengangguk. Seperti biasa, Dipta mengusap kepalanya.
***
Dipta dan Deeva kini berada di dalam lift.
Dipta terkesiap kala sebuah tangan memegang jemarinya, lalu meletakkannya di kepala gadis itu. "Apa yang kaulakukan?" tanya Dipta heran.
"Kau tidak mau mengusap kepalaku?" ucap Deeva polos. Dipta terkekeh geli, lalu mengacak rambut Deeva. "Yak,
berhenti bersikap polos seperti itu!"
"Aku tidak polos, Kak Dip," jawab Deeva, sebal.
Dipta tersenyum. Begitu pun dengan Deeva. Namun, tidak berapa lama, senyum itu hilang, bergantikan sikap salah tingkah. Mereka secara tidak sadar bertingkah layaknya orang dekat seperti dahulu. Tanpa mereka sadari, bahwa sekarang keadaan sudah berbeda.
-- Next Chapter--
Bab 7
Mobil yang ditumpangi Deeva dan Dipta berhenti di depan perusahaan besar dengan plakat nama Hardinata Group.
Perusahaan itu bergerak di segala bidang.
"Non, ada banyak wartawan di depan. Sepertinya mereka tahu kalau Non dan Den Dipta akan datang kemari."
"Kenapa para wartawan itu selalu merepotkan?" gumam Deeva. Ia pun bergegas membuka pintu mobil. "Kak Dip, kita turun saja. Petugas keamanan perusahaan akan menjaga kita untuk masuk ke dalam."
Dipta turun dan langsung dikerumuni banyak wartawan. Begitu pun dengan Deeva. Mereka berjalan, menembus kumpulan wartawan dengan dikawal petugas keamanan. Namun, jumlah wartawan itu terlalu banyak.
Dipta yang mempunyai langkah lebar sudah menembus kerumunan wartawan. Namun, Deeva masih terjebak di dalamnya.
"Saudari Deeva, bagaimana persiapan pernikahan Anda?" tanya seorang wartawan.
"Ada perlu apa Anda datang ke perusahaan milik keluarga?" Wartawan lain menyela.
"Apa benar kabar yang menyebutkan bahwa Anda memiliki hubungan tidak baik dengan keluarga sendiri?" tanya wartawan lainnya lagi, membuat wartawan sisanya yang ada di kerumunan itu berhenti untuk menyimak pertanyaan yang diajukan rekannya, yang tampak sangat menarik itu.
Deeva terdiam. Ia hanya berekspresi datar.
"Ada juga kabar yang menyebutkan bahwa Anda tidak tinggal di Indonesia selama lima tahun bukan karena menimba ilmu, melainkan melarikan diri dan bersembunyi dari keluarga. Benarkah itu?" Wartawan lain lagi kembali mencecar.
Deeva mematung. Bagaimana bisa wartawan itu tahu akan masalah keluargaku?
"Anda tidak bisa menjawab sedikit pun. Apa berarti, semua pertanyaan kami itu benar adanya?"
Kerumunan wartawan itu terbelah oleh sosok lelaki tegap yang langsung memeluk bahu Deeva dan membawanya pergi dari kerumunan. "Berikan kami jalan! Maaf, calon istri saya sedang lelah, karena mempersiapkan acara pemikahan kami! Mohon
kerja samanya!" ucap Dipta, membuat wartawan itu tidak berdesak-desakan lagi untuk mengerumuni mereka.
Dipta tetap merangkul bahu Deeva sampai masuk ke lift. "Kenapa kaujadi orang bodoh? Sejak kapan seorang Deeva kalah oleh pertanyaan para wartawan?" ledek Dipta.
"Aku tidak ingin berdebat kali ini." Pikiran Deeva blank sedari ia memutuskan menemui ayahnya hari ini. Pikirannya terfokus untuk bertingkah seperti apa nanti, agar Dipta tidak curiga terhadap hubungan ayah dan anak yang memang tidak baik sejak semula atau mungkin sejak dilahirkan.
Mereka berhenti di depan meja sekretaris perusahaan Hardinata Group.
"Silakan masuk, Mbak! Pak Harry ada di dalam," ucap sekretaris cantik itu.
Dipta hanya mengikuti calon istrinya yang tiba-tiba tidak banyak berbicara.
Pintu besar itu terbuka, menampakkan sosok gagah yang duduk di kursi kebesaran sedang membuka-buka berkas di meja.
"Halo, Pa!" sapa Deeva girang. Dihampiri ayahnya itu dan dipeluk bahunya.
Harry berjengit. Tampak risih dipeluk seperti itu oleh putrinya sendiri.
Deeva menangkap ketidaknyamanan ayahnya. Ia pun melepaskan pelukannya. "Pa, kenalin, ini Dipta, calon suamiku."
"Ya." Hanya itujawaban Harry.
Dipta yang mengulurkan tangannya juga tidak disambut sama sekali, membuat Deeva meredam amarah yang meluap dalam hati. Bisakah orang tua ini bersikap sewajarnya hanya untuk kali ini saja?
"Maaf, ya, Sayang? Papa sepertinya sangat sibuk, sampai tidak bisa menyambut uluran tanganmu," ucap Deeva, merangkul tangan Dipta.
"Ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Harry. Namun, matanya tetap fokus pada berkas di meja.
Tenggorokan Deeva tercekat. Menelan ludah pun rasanya sakit demi menerima perlakuan ayahnya yang sedari dulu membuatnya menangis dalam diam.
"Aku meminta kesediaan Papa untuk menjadi wali di acara pernikahanku besok," ucap Deeva dengan suara parau.
Mendengar suara Deeva yang berubah, Dipta menangkap bahwa ada hal yang tidak beres dalam hubungan keduanya.
Harry menutup berkasnya, lalu menatap mata putrinya itu. Mata yang selalu mengingatkan akan masa lalunya, sehingga tidak berapa lama, ia mengalihkan pandangannya terhadap hal lain. "Papa akan datang." Hanya itujawaban Harry.
"Kak Dip, tunggu aku di dalam mobil saja, ya? Nanti aku menyusul."
"Baiklah! Kalau begitu, saya permisi, Om."
Dipta meninggalkan ruangan itu dengan benak yang bertanya-tanya.
Kini, hanya ada ayah dan anak yang ada di ruangan itu. "Haruskah Papa bersikap seperti itu pada calon suamiku?
Kenapa Papa tidak bisa bertindak layaknya ayah kepada anaknya? Kenapa, Pa?" teriak Deeva, histeris.
"Hentikan omong kosongmu! Pergilah! Papa banyak kerjaan."
"Sebenarnya apa kesalahanku? Bukankah aku ini juga darah daging Papa? Apakah ini karena aku lahir dari wanita yang bukan menjadi istri Papa sekarang, jadi Papa bersikap seperti itu padaku?" tanya Deeva lagi dengan air mata menggenang. Bagaimana bisa bertindak setegar mungkin, jika tiap saat diperlakukan seperti itu oleh ayahnya sendiri?
Ketegaran yang ia perlihatkan pun sia-sia. Hatinya sakit, sehingga meruntuhkan ketegaran yang dibangun dengan susah payah.
Harry sendiri tercengang. Dari mana Deeva tahu masalah itu? Namun, ia berhasil menutupi keterkejutannya. "Pergilah! Jangan biarkan calon suamimu menunggu!" Hanya itu tanggapan Harry.
***
Dipta menunggu di dalam mobil dengan resah. Entah kenapa hatinya tidak tenang! Matanya menatap lurus pintu lobi perusahaan yang dilalui banyak orang itu. Namun, yang ia tunggu tidak kunjung datang. "Haruskah aku menyusulnya?" gumamnya. Sebelum Dipta sempat membuka pintu mobil, orang yang ditunggunya keluar dengan dikawal petugas keamanan, karena masih banyak wartawan yang menunggu di depan perusahaan.
Tanpa Dipta sadari, ia menghela napas lega ketika Deeva sudah duduk di sampingnya.
"Maaf, membuatmu menunggu lama!" ucap Deeva.
Dipta tidak menggubris permintaan maaf Deeva. Ia malah sibuk melirik wanita di sampingnya itu. Dari ekor matanya, wajah Deeva selalu tampak menyebalkan. Dipta menyimpulkan bahwa pantas Deeva tidak memiliki hubungan baik dengan siapa pun, bahkan dengan keluarganya.
Dipta terdiam selama beberapa saat. Berpikir bahwa dulu wanita di sampingnya tidak seperti itu. Praduga-praduga mengenai perubahan Deeva, membuat Dipta pusing. Refleks, ia memijit pelipisnya.
"Ya, halo!" sapa Deeva kepada seseorang yang menelepon.
Dipta berpura-pura tak acuh, melihat ke luar jendela mobil yang memperlihatkan pepohonan atau pun bangunan di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Deeva menyimak tawa puas dari seberang telepon.
"Adik kecil, coba kaulihat infotainment! Ekspresi wajahmu benar-benar membuatku tertawa. Perbanyaklah belajar untuk menutupi semuanya! Berekspresilah yang benar, Adik Manis!"
"Jadi itu semua ulahmu?"
"Wartawan itu? Tentu. Siapa yang selama ini suka berulah ingin menghancurkan hidupmu, selain aku?" tanya Darma balik. "Sudah, ya, Adik Kecil? Siapkan hatimu untuk kejutan selanjutnya yang akan Kakakmu ini berikan!"
Sambungan telepon itu pun terputus.
Dipta terkesiap ketika merasakan sebuah tangan melingkari tubuhnya. "Apa yang kaulakukan?" tanya Dipta, tidak nyaman.
"Aku sedang mengisi ulang daya tahan tubuhku," jawab Deeva sekenanya. Kepalanya disandarkan di dada Dipta.
Deg. Deg. Deg. Suara jantung Dipta yang berdetak membuatnya nyaman.
"Kenapa jantungmu berdetak begitu cepat?" tanya Deeva
pelan.
"Jangan berpikir macam-macam, hanya karena jantungku
berdetak kencang!" jawab Dipta, tidak suka.
Deeva tersenyum, lalu mengeratkan pelukan pada tubuh calon suaminya itu. "Kak Dip, terima kasih."
"Untuk apa?" tanya Dipta.
"Untuk rasa nyaman yang kauberikan."
"Aku tidak pemah memberikan rasa nyaman padamu."
"Ya, memang. Namun, tubuhmu selalu memberikannya. Memberikan kehangatan dan ketenangan untuk serakan-serakan kecil hatiku."
"Serakan-serakan kecil? Jadi, hatimu itu tidak utuh? Lalu, atas dasar apa kau ingin menikahiku?"
"Aku ingin membuatmu selalu berada di sisiku. Aku memang mencintaimu," jawab Deeva lembut.
Entah mengapa ucapan itu membuat jantung Dipta jumpalitan di tempatnya. Deeva yang mendengar detak jantung Dipta semakin tak karuan, hanya tersenyum.
Aku berharap, pikiran dan hatimu segera sejalan untuk menerimaku kembali di hidupmu, gumam Deeva dalam hati.
Tangan Dipta terangkat, mengelus kepala Deeva lembut.
Tindakan yang dilakukan atas perintah hati itu tidak terduga, bahkan tanpa disadari. Ketika hati berbicara, bahkan memerintah, anggota tubuh tidak kuasa menolak. Namun, ada satu hal yang membuat semua tindakan hati tidak ada artinya, yakni ego yang ada di setiap diri manusia yang bahkan bisa menutupi ketulusan hati.
***
Pernikahan antara Adeeva Afsheen Hardinata dan Pradipta Bagaskara akhirnya digelar. Hanya acara akadnya saja yang diliput media. Pesta pernikahannya diadakan secara privat.
Pernikahan mereka berjalan lancar dari acara akad sampai acara pesta.
Dipta langsung membawa istrinya ke apartemen. Ia tidak mau bermalam di hotel atau rumah Hardinata. Ia hanya ingin menjauh dari mata-mata yang mungkin ingin mengawasi gerak-gerik mereka.
Dipta lelah, sedari pagi harus tersenyum bahagia di depan kamera dan orang-orang. Sedangkan hatinya tidak merasakan kebahagiaan sama sekali.
Deeva langsung membersihkan diri dan berlama-lama di kamar mandi. Sedangkan Dipta, memilih tiduran di ruang TV apartemennya.
Dipta mengutak-atik ponsel, mengetik pesan pada Nadia bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sesaat kemudian, Dipta pun menyimpan ponselnya kembali ke atas meja, lalu memejamkan mata. Lelah menghampiri fisik, hati, bahkan pikirannya. Kehidupan seperti apa yang akan menunggu, setelah aku menjadi suami seorang wanita yang tidak kuharapkan sebagai istri?
Mata Dipta membulat ketika melihat Deeva yang keluar dari kamar dengan memakai lingerie merah menyala. Tubuh Deeva yang putih bersih terlihat dari pakaian transparan yang dikenakannya itu.
"Gimana, Sayang? Kau menyukainya? Aku milikmu seutuhnya malam ini," goda Deeva.
Deeva langsung duduk di pangkuan Dipta dan mengalungkan tangan di leher suaminya itu. Ditatapnya Dipta dengan penuh cinta, tetapi Dipta hanya menatap istrinya tanpa ekspresi.
"Menyingkir dari tubuhku!" pekik Dipta. "Tidak. Aku tidak akan menyingkir."
"Jangan salahkan akujika berbuat kasar kepadamu!" "Kau ingat ini baik-baik! Jika kau berbuat kasar padaku atau melakukan tindakan yang menyakitiku, aku juga akan melakukan tindakan yang sama kepada asistenmu itu," ancam Deeva.
Dipta tertawa terbahak. "Sudah kuduga, wanita jahat, tetap wanita jahat. Takkan berubah, meski ada perjanjian untuk berbuat baik. Bagaimana bisa seorang kakak Cinderella berubah menjadi sosok Cinderella? Itu tidak mungkin terjadi," ucap Dipta pada dirinya sendiri.
Deeva mendengarnya dengan baik. "Aku tidak ingin menjadi Cinderella yang lemah dan kalah oleh keadaan. Aku membenci karakter itu."
"Karakter yang kaubenci itu sosok yang berhati baik dan tulus. Sayang sekali, karakter sebaik dirinya harus dibenci!"
"Kaukira orang yang berhati baik itu seperti apa? Seperti Cinderella, seperti putri-putri Disney lainnya? Bersyukurlah, mereka hanya hidup dalam dunia dongeng! Kalau mereka hidup di dunia nyata, sosok Cinderella pun akan kehilangan kharismanya. Di dunia nyata, tidak semua akhir hidup itu berakhir kebahagiaan. Tidak seperti dongeng yang memang sudah diatur dengan akhir yang bahagia. Di dunia nyata, Cinderella yang hidup bersama ibu tiri akan bertindak sewenang-wenang, karena ia juga seorang manusia yang kadang muak akan kehidupan," ucap Deeva.
"Apa pun itu pemikiranmu, sosok Cinderella itu tetap tidak akan berubah. Walaupun ia berubah menjadi gadis yang mengerikan karena perihnya kehidupan, aku yakin, hatinya masih menyimpan kebaikan."
Ucapan Dipta membuat Deeva menatap suarninya itu, terpana. Lalu, memeluknya erat.
"Apa yang kaulakukan? Lepaskan pelukanmu!"
Deeva melepaskan pelukannya, lalu mencium bibir suaminya. "Terima kasih untuk bibirmu yang sangat indah dalam menyampaikan kata-kata. Aku harap, kau bisa melihat kebaikan hati yang masih tersimpan dalam sosok Cinderella yang menjadi gadis mengerikan ini. Aku akan berdoa untuk itu," ucap Deeva, riang.
Gadis itu turun dari pangkuan suaminya dan berlari ke kamar mandi sambil menggandeng tangan Dipta. "Aku lepaskan kau kali ini, tetapi bersihkan tubuhmu! Aku janji, aku tidak akan mengganggumu malam ini," ucap Deeva, tak kalah riang.
Dipta pun tidak menghempaskan tangan istrinya. Ia mengikuti langkah istrinya yang mengajak masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan, senyum ringan terukir di bibir kala istrinya bersenandung riang.
"Mandilah, Suamiku! Aku sudah siapkan air hangatnya." Deeva mendorong tubuh suaminya, agar masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya, ya, aku mandi. Nggak usah didorong-dorongjuga!" omel Dipta.
"Hehehe.... Maaf, Honey!" jawab Deeva sambil tersenyum lebar. Membuat Dipta gemas dan mencubit pipinya. "Sakiiittt, Kak!" rengek Deeva, manja.
Dipta terkekeh, lalu mengacak rambut istrinya itu. "Ganti pakaianmu itu! Nanti kau bisa masuk angin."
"Siap, Suamiku."
***
Setelah lama berkutat di kamar mandi, Dipta pun keluar hanya dengan memakai handuk di tubuhnya. "Gadis ini, apa ia mengerjaiku, supaya aku berpose seperti ini di hadapannya?" gerutu Dipta.
Langkah kaki Dipta terhenti kala mulutnya ingin memarahi istrinya itu, karena tidak menyimpan pakaian ganti di kamar mandi. Namun, ia mendapati istrinya sudah terlelap tidur.
Dipta melangkah menuju lemari, memilih baju yang akan ia kenakan, lalu memakainya. Ia hanya menggunakan celana pendek selutut dan kaus oblong putih. Rambutnya yang masih basah ia keringkan dengan handuk kecil di bahu.
Dipta membuka jendela balkon kamarnya. Membuat angin malam masuk ke dalam ruangan.
Deeva yang sudah terbuai di alam mimpi, hanya refleks mengeratkan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Dipta yang melihat itu, kembali menutup jendela dan merebahkan dirinya di atas ranjang, di samping Deeva.
Tidak berapa lama pun, dirinya terlelap. Dipta seketika membuka mata kala tidak bisa bemapas. Matanya terbelalak lebar, bertanya-tanya apakah ia tertindih makhluk halus, seperti kata orang-orang ketika mereka terlelap tidur. Namun, yang dilihatnya bukan makhluk halus, melainkan istrinya yang sedang tengkurap di atas tubuhnya sambil memencet hidungnya dan tersenyum usil. "Apa yang kaulakukan?" tanya Dipta, sebal.
"Aku sedang membangunkanmu."
"Turun dari tubuhku! Kau tahu, kau ini berat!"
Deeva menggeleng. Membuat Dipta senewen pagi-pagi. "Kau sepertinya suka sekali menggangguku! Aku bukan mainanmu, yang bisa kauganggu sesukanya! Aku ini suamimu yang harus kauhormati! Aku masih ingin tidur. Bisakah kau..."
Ucapan Dipta terputus, karena Deeva menutup mulutnya dengan bibimya, mengecup lembut.
"Kau jangan seenaknya menciumku! Kaupikir, aku ini mainan?" Lagi-lagi omelan Dipta terpotong, karena kecupan istrinya.
"Kau bukan mainanku. Kau ini suamiku, seperti yang kaubilang. Terima kasih, masih menyisakan kehangatan hatimu untukku. Aku senang."
Deeva turun dari tubuh suaminya, lalu turun dari ranjang. "Aku akan mengajakmu ke Paris hari ini. Kata Bayu, kau diberi waktu seminggu untuk bulan madu. Ayo kita pergunakan waktu ini dengan baik!"
"Aku tidak mau ke mana-mana. Aku bemiat untuk menghindarimu sebisaku. Kaupikir, aku suka berada di sisimu? Aku tidak suka sama sekali," ucap Dipta, dingin.
Kehangatan yang semalam terbangun, kini kembali membeku.
"Kau mau menghabiskan waktumu bersama Nadia, begitu?"
"Tentu. Karena, ia wanita yang kucintai."
Jawaban Dipta membuat hati yang mulai berangan-angan akan hubungan baik yang akan terjalin hancur sudah.
"Jangan kira aku bersikap seperti semalam, karena ingin berhubungan baik denganmu! Semalam aku hanya malas berdebat."
Deeva tersenyum masam. Matanya sudah berkaca-kaca. Dipta tidak melihatnya, karena masih di posisi tidur, membelakangi Deeva yang sedang berdiri.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri! Habiskanlah waktumu dengan Nadia! Namun, harus tahu tempat, agar tidak terlihat orang lain, terutama wartawan. Karena, yang orang-orang tahu, kau itu suamiku. Aku mau berkemas dulu."
Setelah mengucapkan itu, Deeva masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, juga hatinya yang sesak. Ia menangis dalam diam, karena sudah mengharapkan hal yang tidak mungkin.
Selesai mandi, ia memakai pakaian rapi.
Setelah semuanya siap, ia menghampiri suarninya yang masih terlelap. "Aku tidak akan berangan-angan lagi kali ini. Ada kau di sisiku, itu sudah cukup. Aku tidak mau memaksa hati yang memang bukan untukku. Namun, setidaknya, bisakah membuka hatimu sedikit saja, karena aku tidak ingin melepaskanmu sampai kapan pun? Aku ingin membangun keluarga bersamamu, mempunyai anak dan bahagia. Aku hanya ingin mempunyai sebuah keluarga yang saling menyayangi. Namun, kalau hal seperti itu susah kudapatkan setelah melangkah sejauh ini, haruskah aku mengakhiri semuanya?"
Hening. Tidak ada jawaban atas pertanyaan Deeva.
"Aku akan mengakhirinya suatu saat nanti. Namun, bisakah kau bertahan di sisiku sampai waktu di mana aku siap melepasmu? Aku butuh penopang dalam hidup kala semua kenyataan pahit itu terungkap. Aku butuh seseorang yang melindungiku kala orang-orang itu bertingkah atas hidupku. Maaf untuk tetap mempertahankanmu di sisiku, walaupun kau terpaksa! Aku mencintaimu."
Deeva mengakhiri ucapannya, lalu mencium pipi suarninya itu dan pergi.
Setelah Deeva pergi, mata yang tadinya tertutup itu terbuka. Dipta tidak tidur sama sekali. Ia mendengar semua yang diucapkan istrinya itu.
***
Sudah tiga hari kepergian Deeva. Selama itu juga, Nadia menemani Dipta di apartemen.
Harl itu mereka menonton film di ruang TV. Tersedia banyak camilan di atas meja.
Nadia bersandar di dada kekasihnya itu. Menikmati filmnya. Dipta pun fokus menatap layar televisi di depannya. Tangannya aktif, mengusap kepala kekasihnya.
"Kita benar-benar tidak bisa menghabiskan waktu di luar?"
"Tidak, Nad. Kau tahu sendiri, kondisinya tidak memungkinkan."
Di lain tempat, tepatnya di Paris, seorang wanita sedang berjalan di tengah gelapnya malam. Menyusuri trotoar yang membawanya ke sebuah sungai di sana yang sangat besar. Seperti waktu itu, kali ini juga ia bemiat mengakhiri semuanya.
Orang-orang Paris tidak seperti orang Indonesia yang peduli terhadap sesama. Mereka hanyalah orang-orang yang sibuk melawan kerasnya kehidupan. Jadi, kemungkinan besar Deeva akan berhasil mengakhiri hidup. Suami yang ia pertahankan tidak menginginkannya. Keluarga yang ia harapkan pun tidak menginginkannya. Setelah sekeras apa pun bertindak dan berusaha mendapatkan semuanya, tetap sia-sia. Semua tetap tidak menginginkannya.
Gadis itu menangis di atas jembatan sambil menatap arus air yang deras. Di bawah sana, terlihat gelap. Hanya terdengar gemuruh air yang menandakan tempat itu sangat tinggi. Ia akan mengakhirinya di sini, tempat di mana selama lima tahun ia bersembunyi untuk mengubah diri menjadi wanita yang bisa melawan keadaan. Namun, apa daya kala semua keadaan itu tambah melukainya semakin dalam?
"Tuhan, di sini tidak akan ada orang yang menghalangiku untuk membusuk di neraka-Mu! Terimalah aku, walau hanya di dalam neraka!" teriak Deeva, beradu dengan gemuruh suara derasnya air.
-- Next Chapter--
Bab 8
Malam itu terlihat sepi. Langit pun begitu hitam pekat. Tidak ada bintang sama sekali. Hanya terdengar suara isak tangis dan deru air yang terdengar menyedihkan.
Gadis itu kini sudah berdiri di atas besi jembatan. Matanya dipejamkan erat-erat. Walaupun matanya tertutup rapat, air mata tetap mengalir deras.
Ketika ia akan melepaskan pijakan kaki di atas besi itu, ponselnya berdering nyaring dan membuat mata itu terbuka. Untuk sejenak, ia menghentikan aksi dan mengambil ponselnya.
Ketika Deeva akan membuang ponsel yang terns berdering nyaring, aksi itu terhenti kala matanya sekilas melihat nama pemanggil di layar ponsel.
Matanya terpaku, menatap layar yang menampilkan nama si penelepon. Panggilan itu terhenti. Namun, beberapa saat kemudian, memanggil kembali. Lagi dan lagi.
Gadis itu hanya terdiam, menatap layar ponselnya.
***
Si penelepon tampak mondar-mandir di apartemennya. Ia tidak mengindahkan seseorang yang terus memperhatikannya.
"Kamu menelepon siapa, Dip?" tanya Nadia.
Dipta tidak menjawab. Hanya terus memfokuskan pendengaran yang sekali lagi dijawab oleh operator telepon.
Dijauhkan ponsel dari telinganya selama beberapa saat demi men-dial lagi nomor yang sedari tadi tidak kunjung tersambung. "Apa mungkin ia sudah tidur?" gumamnya. Tangannya meremas-remas rambut. Sesekali, mengacaknya kala panggilan itu tak kunjung ada jawaban. Tanpa disadari, ia menepuk dada, seolah ada yang menyesakkan di sana.
"Halo!" jawab suara di seberang sana.
Dipta mendesah lega. "Dari mana saja? Kenapa lama sekali kau mengangkat teleponnya?" teriak Dipta, kesal.
"Maafl" Hanya itu jawaban dari seberang telepon. Suara itu tampak parau. Sehingga, berbagai pikiran berkecamuk di benak Dipta.
"Aku akan menyusulmu ke sana."
"Ke sana, ke mana?" tanya Deeva dari seberang telepon.
Tampak bingung dengan ucapan Dipta.
"Ke sana, ke tempat istriku berada. Bisakah kau menjemputku di bandara?"
"Kau mau ke sini?"
"Kenapa? Kau tidak suka? Bukankah kau yang mengajakku untuk ke sana?" pekik Dipta, sebal.
"Aku akan menunggumu." Hanya itujawaban Deeva.
Panggilan itu pun terputus sepihak. Deeva yang memutuskannya terlebih dahulu.
"Apa ia marah padaku? Haduh, kenapa tingkahnya selalu membuatku serba salah?" rutuk Dipta, lalu ke kamar untuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
Nadia hanya memperhatikan tingkah kekasihnya itu dengan seksama. Dipta tampak sibuk dengan dunianya sendiri, seakan melupakan bahwa masih ada Nadia di sana.
Ketika Dipta sudah selesai berkemas dan membawa kopernya ke luar kamar, ia baru sadar bahwa masih ada Nadia di situ. "Nad, maaf, aku akan ke Paris sekarangjuga! Masih banyak waktu untuk kita habiskan bersama lain kali. Aku berangkat."
Nadia hanya mengangguk lirih tanpa kata. Seakan tak ada kekuatan lagi untuk menjawab apa-apa.
Dipta pun pergi tanpa pelukan atau kata-kata menenangkan yang biasanya di berikan pada kekasihnya. Pikiran Dipta seperti tidak berada di tempatnya. Nadia harus memaksa diri, membuang pikiran aneh-aneh yang menghampiri kepala.
Beberapa menit kemudian, Dipta sudah berada di dalam pesawat. Matanya menerawang keluar jendela yang menampilkan awan putih. "Maaf!" Suara lirih yang didengarnya tadi di seberang telepon itu membuatnya beberapa kali menghela napas.
***
Deeva turun dari besi jembatan dan duduk di atasnya. Setelah kemarin menolak untuk ikut bersamanya, kini suaminya sendiri menawarkan diri untuk menyusul ke Paris.
Panggilan itu ia putus sepihak, karena tidak kuasa lagi menahan tangis. "Aku tidak ingin berharap, Tuhan. Namun, kenapa Kau selalu membuatku ingin selalu berharap? Kenapa?" ucapnya lirih.
Suara isakan menyedihkan itu semakin terdengar lirih, hingga tak terdengar lagi. Hanya suara deru air deras yang tetap terdengar.
Deeva berdiri, melangkahkan kaki pergi dari tempat yang beberapa saat lalu akan menjadi tempat berakhir hidupnya.
Langit malam tidak begitu kelam kini. Langit hitam itu mulai menampakkan satu titik berkedip-kedip samar. Satu bintang yang berkedip malam itu tampak tidak berarti, karena keadaannya sangat kontras bila dibandingkan dengan langit pekat yang sangat luas. Namun, bintang itu sesungguhnya sangat berarti. Bintang yang mengumpulkan cahaya hanya untuk membuat satu titik terang di langit yang begitu hitam. Terkadang, satu titik cahaya itu tidak terlihat ketika hati sama hitamnya dengan langit malam itu.
***
Deeva sudah duduk di kursi bandara, menunggu penerbangan suaminya yang memakan waktu lama. Ia menunggu. Menunggu seseorang yang menghentikan aksi gilanya beberapa saat lalu secara tidak langsung. Deeva berpikir, mungkinkah suaminya itu adalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk memperbaiki hidup dan keimanannya yang kelam?
Entah berapa lama, Deeva terdiam di kursi bandara itu! Ia tidak memedulikan orang-orang yang melihatnya duduk di sana dan tidak kunjung pergi.
Dipta menarik koper, menyusuri bandara yang luas. Matanya menyusuri tiap sudut bandara itu. "Ke mana ia? Apa ia tidak menjemputku?" gumamnya.
Wanita-wanita berambut pirang menatap Dipta dengan senyuman menggoda. Laki-laki Asia selalu tampak memesona di mata mereka. Namun, Dipta tak menggubris dan terus melanjutkan langkah.
Langkah lebar itu terhenti kala melihat sosok seorang wanita yang sedang duduk di sebuah kursi. Kepalanya menunduk.
"Apa yang ia lakukan di sana?" gumamnya lagi.
Ia menghampiri wanita yang sedang duduk di kursi itu, lalu berjongkok di depannya. Dipta tersenyum ketika melihat mata si wanita tertutup rapat. Napasnya begitu teratur. "Wanita macam apa yang bisa tidur di tempat umum seperti ini?" desahnya, merasa geli.
Dipta menatap wajah yang sedang terlelap itu. Sekali-kali, ia terkikik geli kala kepala wanita itu akan terantuk ke belakang, tetapi buru-buru ditahannya. Melihat wanita itu begitu tidak berdaya seperti itu, begitu menyenangkan! "Banguuunnn!" pekik Dipta sambil memencet hidung Deeva.
"Aku bangun!" pekik wanita itu refleks.
Dipta tertawa terbahak-bahak, melihat wajah panik istrinya itu. Tidak berapa lama, tawanya terhenti kala mata yang tadinya tertutup, kini menatapnya. "Apa?" ucap Dipta, angkuh.
"Kau sudah datang," gumam Deeva. Dipta hanya mengangguk.
Deeva bangkit dan melangkah, menjauhi kursi bandara tanpa berkata apa pun lagi. Mau tidak mau, Dipta mengikutinya.
Suasana sangat hening, baik di taksi maupun ketika sampai di apartemen. Tidak ada percakapan yang terbit di antara keduanya. Deeva pun yang biasanya mengoceh panjang lebar, kali itu hanya terdiam.
"Beristirahatlah dulu!" Hanya itu yang diucapkan Deeva ketika tiba di apartemen. Wanita itu menunjuk sebuah kamar untuk tempat Dipta beristirahat sebelum meninggalkannya sendiri ke ruangan lain.
Dipta membuang napas frustasi. Sikap istrinya yang seperti itu sangat tidak disukai dibanding mengoceh dan suka mengatur ini, itu.
Dipta duduk di ranjang. Matanya melihat sekeliling ruangan. Terpaku, melihat foto di nakas samping tempat tidur. Di sana, ada foto Deeva bersama seorang laki-laki tampan. "Siapa ia? Aku yakin, ini bukan Kak Darma," gumamnya pada diri sendiri.
Dipta mengerutkan kening, tampak berpikir. Di foto itu, tampak Deeva sedang dipeluk dari belakang oleh seorang laki-laki. Mereka tampak tersenyum manis ke arah kamera.
Dipta membalik pigura foto itu dengan kesal, lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. "Benar-benar pemandangan yang mengganggu! Di mana wanita itu sekarang?"
Dipta kembali bangkit dari pembaringan, lalu keluar dari karnar. Dilihatnya layar televisi menyala. Istrinya itu ada di sana. "Haus sekaliii!" teriak Dipta.
Sosok istrinya menyembul dari sofa ruangan itu, menatapnya. "Kalau haus, minumannya ada di dapur. Cari saja di kulkas! Anggap saja sebagai apartemen sendiri!" ucap Deeva acuh tak acuh, lalu melanjutkan menonton televisi.
Dipta berdecak sebal. Dengan terpaksa, ia mengambil minuman sendiri.
Sambil memegang gelas di tangan, ia menyusuri apartemen Deeva. Bak seorang pengawas bangunan, ia mengomentari tiap inci ruangan itu.
"Televisi ini tampak tidak cocok diletakkan di sini," ucapnya memegang televisi besar yang sedang membuat perhatian istrinya itu teralih. "Dan televisi ini juga ukurannya terlalu besar, menghabiskan banyak tempat. Kenapa televisi ini serakah sekali? Dasar televisi tidak berguna!" ucapnya asyik sendiri.
"Aku mau mandi dulu," pamit Deeva, pergi meninggalkan suaminya yang sedang mengomeli televisi yang begitu serakah menghabiskan banyak tempat.
"Kau ini kenapa?" teriak Dipta, kesal. Ia sebal lantaran tak diacuhkan terus sedari tadi.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mau mandi."
"Aku sudah jauh-jauh menyusulmu ke mari. Inikah balasanmu padaku? Aku sudah rela meninggalkan kekasihku hanya untuk menemuimu, kau malah bersikap seperti ini padaku." "Aku tidak menyuruhmu kemari. Bahkan, aku mengizinkanmu untuk menghabiskan waktu bersama kekasihmu itu," jawab Deeva dingin. Ia berbalik akan melangkah, tetapi tubuhnya menabrak pintu kamar, membuat ia jatuh terduduk di
lantai. "Kenapa pintu ini ada di sini?!" teriak Deeva, kesal.
"Itu balasan karena mengacuhkan suami," ucap Dipta. "Kau yang tak mengacuhkanku terlebih dahulu! Kau ingat!" teriak Deeva.
"Maafkan aku soal itu! Bukankah sekarang aku ada di sini? Mari kita habiskan waktu bersama!" tawar Dipta.
"Kau ini pandai sekali berkata-kata!"
"Kenapa? Apa kau akan mengucapkan terima kasih kembali kepada bibirku, karena sangat pandai dalam berkata-kata?"
Deeva tersenyum, merona. "Apa yang kaukatakan barusan, sungguh sangat menyebalkan!" ucap Deeva, tersipu. Deeva berbalik untuk membuka pintu kamarnya. Sebelum melangkah masuk, tangannya telah ditarik dan membuat tubuhnya berada dalam pelukan suaminya.
"Jadilah wanita baik hari ini! Ucapkan terima kasih pada bibirku!" ucap Dipta, menatap wajah Deeva yang ada di depannya.
Deeva pun mencium lembut bibir suaminya itu. Dipta membalasnya. Terkadang, tindakan yang diinginkan hatinya tidak terduga.
Ponsel Dipta berdering, menghentikan kegiatan mereka. Dengan terpaksa, Dipta melepaskan ciumannya. "Halo? Ada apa dengan Nadia? Kecelakaan? Bagaimana bisa? Baiklah, aku akan pulang sekarang juga!" Dipta menjawab telepon dari Radisti.
"Aku harus kembali pulang," UJarnya pada Deeva kemudian.
"Pulang? Kau barn saJa sampa1. Bahkan, kita belum menghabiskan waktu bersama."
"Nadia kecelakaan. Aku tidak akan membiarkannya menderita sendirian."
"Ya sudah, pulanglah sendiri!"
"Tidak. Kau harus ikut pulang denganku!" "Tidak mau! Aku mau tetap di sini."
"Turuti perintahku! Aku ini suamimu. Bereskan barang-barangmu! Kita pulang hari ini."
Beberapa hari berlalu, mereka telah kembali ke tanah air. Perjalanan yang memakan waktu tidak sedikit, tapi tidak mampu memperbaiki hubungan yang kembali mendingin. Deeva mengikuti langkah suaminya yang berlari tergesa, menyusuri lorong rumah sakit tanpa semangat. Nadia, kekasihnya itu masih dalam perawatan.
Ketika mendapati kekasihnya sedang terbaring lemas di atas ranjang, Dipta menghampiri dan langsung memeluknya, tergesa. "Kau hampir membuatku jantungan. Kau tidak apa-apa? Apa yang terluka?" ucap Dipta. Terdengar jelas oleh Deeva yang mengikuti masuk ke dalam ruangan itu.
"Kak Deeva, boleh kita berbicara sebentar?" ucap Radisti.
Deeva pun menyetujui. Mereka kini berada di atap gedung rumah sakit.
"Mereka begitu saling mencintai. Apa Kakak tidak melihatnya?"
"Aku melihatnya." "Lepaskanlah kakakku!"
"Aku akan melepaskannya. Aku berjanji padamu." "Kapan?"
"Tunggulah sampai pernikahan ini berjalan! Ini baru satu minggu. Tidak etis rasanya kalau kami langsung bercerai."
"Aku pegangjanjimu, Kak."
Sementara itu, di Bandara Soetta, seorang laki-laki tampan melangkah dengan keren. "Sudah lama sekali! Delapan tahun itu begitu lama. Aku kembali, Adeeva." ucapnya penuh semangat.
-- Next Chapter--
Bab 9
Di atap rumah sakit itu, Deeva terpaku dalam larnunan. Angin malam yang dingin tidak membuatnya beranjak. Tubuhnya yang sudah
berteriak kelelahan, tidak digubris.
Tiba-tiba, ponselnya berdenting nyaring. Deeva membuka ponsel. Ada satu email masuk. Ia menyentuh icon e-mail dan terbukalah kotak masuknya. Terlihat isi email yang masuk barusan.
Sudah lama aku ingin memberitahumu mengenai hal ini bahwa aku akan datang ke Indonesia segera. Kini, aku sudah berada di Bandara Soetta. Jika kamu merindukanku, jemputlah aku!
Isi e-mail tersebut membuat Deeva dengan tergesa beranjak dari tempatnya, lalu berlari melewati lorong-lorong rumah sakit. Meski berlari, tetapi pikirannya entah berada di mana. Dipta yang berpapasan dengannya pun tidak membuatnya berhenti berlari.
Dipta menghentikan langkah, berbalik, dan tertegun di tempat demi melihat langkah istrinya yang terburu-buru. Namun, ia tak berucap apa-apa.
Beberapa menit kemudian, Deeva sudah berada di dalam taksi yang akan membawanya ke bandara.
Setelah sekian lama memakan waktu di perjalanan, akhirnya ia sampai.
Kakinya kembali melangkah tergesa. Matanya menelusuri isi bandara sampai menangkap sosok laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan memakai celana jin dan kaus ketat yang menampakkan otot-otot tubuh. Mata lelaki itu dibingkai dengan kacamata bening. Lelaki itu tampak tampan, juga terlihat berwibawa dan pintar.
Laki-laki itu tersenyum menatap Deeva. Direntangkan tangannya. Deeva sendiri, dengan langkah tergesa, menghampiri laki-laki itu dan memeluknya.
Laki-laki itu memeluk Deeva tidak kalah erat. Matanya terlihat berkaca-kaca. Rasa rindu yang terpendam selama delapan tahun itu tersalurkan sudah.
Deeva menangis sejadi-jadinya di pelukan laki-laki itu. Lelaki itu Mark Agas, sayap pelindungnya yang telah lama hilang.
Gadis remaja itu tampak sendu. Matanya redup, menatap pohon di taman. Tangannya terkepal kuat. Terlihat warna kebiru-biruan di tangannya. Darah kering menempel di sana. Jejak-jejak air mata terlihat di pipi yang masih basah. Gadis itu tampak menangis dalam diam kala kejadian barusan terputar kembali di otaknya.
"Ma, besok ada perkumpulan orang tua. Mama bisa hadir, kan?" tanya Deeva remaja.
Wanita yang dipanggil "Mama" itu diam, tidak menggubris perkataan putrinya.
"Ma, Mama dengar aku, kan? Kenapa Mama cuma diam
saja?"
Lagi-lagi, wanita paruh baya itu hanya diam.
"Sampai kapan Mama mendiamkan aku, seperti ini?"
lirih Deeva. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata.
"Ma, apa salahku sampai Mama berbuat seperti ini padaku?" rengek Deeva, mengguncang lengan ibunya itu. Tanpa diduga, wanita yang dipanggil mama itu menghempaskan tangannya dengan kasar, membuat Deeva remaja jatuh tersungkur ke lantai. Setelah itu, wanita itu meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
Suara tawa terdengar di telinganya. Seorang laki-laki tampan, tetapi tatapannya selalu sinis. "UpikAbu!" ledeknya.
"Aku ini adikmu, Kak Darma!" teriak Deeva sambil terisak.
"Ogah gue punya adik macam lu! Nangis saja terus! Memang itu, kan, yang lu bisa? Tangisan lu itu tidak akan mengubah keadaan bahwa lu nggak diinginkan di keluarga ini. Hidup lu cuma makan, sekolah, dan hal lainnya. Jangan menginginkan kasih sayang dari kami! Itu tidak akan pernah terjadi, " ucap Darma panjang lebar, membuat Deeva remaja menangis semakin menjadi, lalu berlalu dari rumah itu.
Di sinilah ia duduk menangis. Di salah satu bangku taman, sampai seseorang menghampirinya. Deeva mendongakkan wajah, melihat siapa orang itu, karena orang itu berdiri menjulang di hadapannya. Laki-laki tampan itu menatap Deeva dengan penuh sayang, menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk mata. Ia pun membawa kepala Deeva ke dekapannya. Menyandarkan di perutnya sambil mengusap kepala gadis itu lembut.
Sesudah tangis gadis itu mereda, laki-laki itu berjongkok di hadapan Deeva, menatap gadis itu yang kini diam tertunduk. "Kenapa dengan tanganmu?" tanya laki-laki itu.
"Ini hanya Iuka, karena jatuh tadi, Kak Agas. "
"Jangan berbohong padaku, Adeeva! Ceritakan yang sebenarnya terjadi!"
Dengan tangis lirih, gadis itu menceritakan apa yang membuatnya seperti itu.
Agas adalah orang yang sangat berarti dalam kehidupan Adeeva. Ia tahu segalanya tentang hidupnya. Ia yang selalu melindungi ketika kakaknya, Darma, bertingkah.
"Kakak yang akan menghadiri acara pertemuan orang tua itu, " ucap Agas setelah mendengar cerita Deeva.
"Tapi, Kak-"
"Sudah, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, " ucapnya menenangkan. Tangan besar Agas memegang tangan Deeva dan meniup Iuka-Iuka itu. "Ketika hatimu sakit, jangan menyakiti dirimu sendiri! Datanglah padaku dan ceritakan, agar dapat mengurangi bebanmu!"
Deeva mengangguk.
"Kalau suatu saat aku melihat tubuhmu terluka lagi, aku juga takkan segan-segan melukai tubuhku sendiri, " ucap Agas, membuat Deeva tercengang sambil menatap sosok laki-laki yang selalu ada di sekelilingnya sejak kecil demi melindunginya.
"Kenapa kamu tidak berhenti menangis, Adeeva?" protes Agas. Diangsurkan kepala Deeva untuk menjauh. Namun, kepala Deeva tetap menempel di dadanya. Dengan terpaksa, Agas berjalan sambil menyeret Deeva yang masih tidak mau menjauhkan kepala dari dadanya.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di kursi taksi yang mereka tumpangi. Namun, Deeva tetap tidak melepaskan pelukannya.
"Adeeva, kamu hanya ingin memeluk tubuhku. Tidak ingin melihat wajahku?"
Deeva hanya menggeleng dalam pelukan, membuat Agas terkikik geli.
"Ya sudah, aku akan membiarkanmu," ucapnya, menyerah.
Usapan lembut tangan Agas di kepalanya membuat Deeva tertidur.
Agas yang menyadari gadis kecilnya tertidur, membenarkan posisi Deeva dan menidurkan gadis itu di pangkuan. Dengan posisi seperti itu, ia bisa lebih leluasa memandangi wajah Deeva. "Delapan tahun itu sangat lama. Kenapa dulu aku menyetujui perjanjian bodoh itu? Sampai setiap detiknya, selama delapan tahun, aku harus menahan kerinduanku padamu?" Agas menghapus sisa-sisa air mata di pipi Deeva. "Apa yang terjadi selama aku tidak berada di sampingmu?" gumam Agas. Dengan sayang, diciumnya kening Deeva. "Aku merindukanmu."
Beberapa menit kemudian, ketika membuka pintu rumah, Agas disambut dua orang tua yang menatapnya heran.
"Adeeva?" ucap ibu Agas. Agas hanya mengangguk.
"Bun, Yah, Agas mau menidurkan Adeeva dulu, ya?" Kedua orang tua itu mengangguk dan tersenyum kikuk. Agas tidak tahu bahwa gadis kecilnya sekarang sudah menikah.
***
Dipta duduk termenung di kursi samping ranjang tempat Nadia dirawat. Pikirannya terus berputar sejak Deeva tidak menyadari kehadirannya ketika berpapasan tadi.
"Apa yang kaupikirkan sebenarnya, Deeva?" gumamnya.
Lagi-lagi, ia membuang napas berat.
Sudah memakan waktu yang cukup lama bagi Dipta untuk diam dan merenung sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon istrinya. Hatinya berteriak, penuh rasa ingin tahu kenapa istrinya itu mengabaikannya tadi. Hal apa yang membuat istrinya begitu berlari tergesa dan untuk pertama kali tak mengacuhkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu melebur, bagai puing-puing berserakan ketika suara seorang laki-laki yang mengangkat teleponnya. "Halo!" jawab laki-laki di seberang.
Dipta hanya diam, tidak berbicara. "Agas, ayahmu ingin berbicara, katanya." "Ya, Bun."
Sambungan telepon itu pun terputus.
Agas tidak melihat nama kontak si pemanggil, karena ia sibuk membenahi posisi tidur Deeva sambil mengangkat telepon. Ia meletakkan ponsel itu begitu saja kala memutuskan panggilan sepihak, karena ayahnya ingin berbicara.
Dipta tertawa, seperti mengejek dan mengasihani dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba, ia berhenti. Agas, nama itu seolah tidak asing di telingaku.
Dipta keluar dari rumah sakit setelah menjenguk ayahnya yang terbaring sakit di sana. Ia melihat seorang suster yang memohon-mohon kepada seorang pasien yang terjatuh dari kursi roda, tetapi si pasein tidak ingin duduk di kursi roda kembali. Pasien itu menjauhkan tangan-tangan suster yang akan membopong tubuhnya kembali duduk di kursi roda.
"Non, kaki Non belum sembuh. Tidak baik Non duduk seperti itu. Apalagi, barusan Non jatuh. Ayo, saya bantu duduk! Kita temui dokter. "
Pasien itu tidak berbicara. Hanya menepis tangan suster dan menatapnya tajam.
Karena kesal melihat kejadian itu, Dipta menghampiri mereka, lalu dengan sigap membopong pasien itu-yang temyata seorang gadis remaja. Gadis itu menatapnya tidak terima. Tangannya aktif memukuli tubuh, bahkan menampar wajah tampan Dipta. Namun, gadis itu tetap tidak berbicara.
"Ayo, Suster, di mana ruangan dokternya? Biar saya antar!" ucap Dipta.
Mereka pun berjalan menuju ruangan dokter. Dipta membiarkan wajahnya ditampar, bahkan dipukuli oleh gadis itu.
"Adeeva, hentikan!" teriak seorang dokter paruh baya, yang terlihat berwibawa.
Deeva menghentikan aksinya, lalu tertunduk. "Tolong turunkan ia di ranjang!" perintah dokter itu.
Dipta akan menurunkan Deeva remaja dari pangkuannya, tetapi tiba-tiba, gadis itu memeluk leher Dipta erat.
"Deeva, berhenti bersikap seperti itu! Om tidak masalah kamu tidak ingin berbicara tetapi Om tidak akan membiarkan kamu menyakiti dirimu sendiri. Lukamu itu perlu diobati, " ucap dokter itu, tegas.
Deeva tetap bersikeras tidak mau turun dari pangkuan Dipta.
"Baik/ah kalau kamu tetap bersikap seperti itu, jangan
salahkan Om kalau Om akan menyuruh Agas pulang I"
Ucapan dokter itu membuat gadis itu patuh, lalu melepaskan cengkeramannya di leher Dipta.
"Ayo, biar saya obati Iuka di wajahmu!" ucap salah seorang suster demi melihat wajah Dipta sedikit terluka, akibat cakaran jemari Deeva.
Dipta melihat wajah Deeva remaja yang tampak rapuh. "Gadis ini siapa, Sus?" tanya Dipta, penasaran.
"Ia hanya seorang pasien"
"Kelihatannya, ia begitu disegani di sini. Bahkan, tadi saya dengar seorang suster memanggilnya 'Non'. "
"Oh, itu! Ia salah satu orang yang memang kami segani. Soalnya, ia mempunyai hubungan sangat dekat dengan pemilik rumah sakit ini. "
"Pemilik rumah sakit ini, bukankah bapak-bapak yang mengobati gadis itu?"
Suster itu hanya mengangguk.
Setelah selesai diobati, Dipta menyusuri koridor, lalu melihat gadis itu dibawa ke ruangan rawat inap. Dipta mengikuti langkah gadis itu sampai di kamar inapnya.
Gadis itu terbaring di ranjang dan entah kenapa Dipta menunggu di depan ruangan itu!
"Ia harus berterima kasih padaku, juga minta maaf, karena menyebabkan, nih, wajah jadi seperti ini!" gumam Dipta penuh tekad, lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Deeva sedang tertidur lelap.
"Yah, ia malah tidur. Oke, aku ke sini lagi besok."
Ketika Dipta akan meninggalkan ruangan itu, didengar isakan tangis yang menyayat hatinya. Ia pun menghentikan langkah dan berbalik. Gadis itu yang ternyata menangis dalam tidur.
"Kak Agas,"gumamnya lirih.
"Oh, ternyata, ia bisa berbicara. Kukira, ia nggak bisa berbicara."
Deeva semakin tidak tenang dalam tidurnya. Membuat Dipta mendekat dan membangunkannya.
"Hey, bangun!" ucap Dipta sambil mengguncang pelan tangan gadis itu.
Mata Deeva terbuka. Tubuhnya refleks terduduk, lalu kembali menangis. Dipta hanya kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah, jangan menangis! Itu, kan, hanya mimpi.
Semuanya akan baik-baik saja, " ucap Dipta, menenangkan.
Deeva tetap menangis.
Dengan sigap, Dipta memeluknya. Ia pria sejati yang tidak tega membiarkan gadis manis seperti itu menangis sendirian.
"Jangan pergi!" ucap gadis itu.
"Ya, aku nggak akan ke mana-mana,"jawab Dipta.
Sampai Deeva kembali terlelap, Dipta tetap menemani di samping ranjang.
Pertemuan pertama mereka yang akhirnya membuat mereka terikat satu sama lain sekarang ini.
"Agas," gumam Dipta. "Seseorang dari masa lalunya. Apa yang membuat hatiku begitu tidak tenang begini? Apa yang kukhawatirkan?" Gumaman-gumamannya terhenti kala rasa kantuk menghampiri. Tubuhnya sangat lelah, sehingga mengesampingkan dahulu apa-apa yang mengganggu.
Deva membuka matanya. Perih yang dirasakan saat pertama kali terbangun. Ketika akan mengusap mata, sebuah tangan menghalangi.
"Jangan dipegang dulu! Basuh dulu wajahmu! Nanti kompres matamu dengan es!"
Suara itu, suara yang selama delapan tahun menghilang dari hidupnya. "Kak Agas," gumam Deeva.
"Ya, ini aku."
Deeva beranjak dari ranjang dan langsung masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.
Setelah selesai, dengan langkah pelan, ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti kala melihat laki-laki yang dulu menjadi sayap pelindungnya sedari kecil, kini sedang duduk di ranjang, menatap Deeva yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kenapa berhenti? Apa aku begitu tampan, sehingga kamu tidak mampu melangkahkan kakimu sendiri?"
Deeva tersenyum, lalu mempercepat langkah dan menghambur ke pelukan laki-laki itu. Rasa nyaman menyelimuti hatinya. Pelukan itu yang dahulu menjadi tempatnya menyembuhkan Iuka. Sampai suatu kenyataan, membuat Deeva mengizinkan laki-laki itu untuk pergi dari hidupnya, dengan syarat, tidak boleh saling menghubungi satu sama lain sampai laki-laki itu kembali ke Indonesia. Pada saat itu, Deeva hanya berharap, ia tidak begitu tergantung kepada laki-laki itu, sehingga membuat persyaratan seperti itu.
"Selalu menyusahkan orang lain! Memang hanya itu yang kamu bisa?"
"Maksud Kakak apa?"
"Maksudku, kamu punya mata, kan? Kamu nggak lihat, Agas mencintai seorang wanita? Namun, karena kehadiranmu, menghalangi langkahnya!" Kak Darma, kakaknya, membeberkan suatu hal yang membuat Deeva terluka. Waiau bagaimanapun, Agas adalah cinta pertamanya. "Urus saja hidupmu sendiri! Jangan membawa-bawa Agas dalam kehidupanmu, yang pasti akan kuhancurkan perlahan-lahan! Ia punya masa depan cerah sebagai dokter muda. Berbakat di masa depan. Jangan gara-gara kamu, ia tidak melanjutkan studinya ke luar negeri!"
"Kak Agas nggak akan pergi. Ia selalu bilang apa pun kepadaku. "
"Tanya saja sendiri sama dia kalau nggak percaya!" ucap Darma sambil berlalu pergi.
Deeva saat itu tidak mengerti kenapa kakaknya yang berbeda usia sampai sepuluh tahun itu begitu membencinya. Ia pun memutuskan untuk menanyakan kebenaran itu kepada Agas.
Ia melangkah, menyapa suster-suster rumah sakit yang berpapasan dengannya. Saat itu Deeva sedang berada di rumah sakit milik keluarga Agas. Banyak suster atau pun dokter yang berpapasan dengannya, menyapa atau menanyakan kabar. Rumah sakit itu sudah seperti rumah kedua baginya. Karena, ketika sedang sedih, Agas akan membawanya ke sana, memperkenalkannya dengan dokter, suster, dan pasien-pasien rumah sakit, sehingga hati Deeva tidak merasa kosong lagi.
Langkahnya terhenti di depan ruangan pemilik rumah sakit itu, Mark Abyan, ayahnya Agas. Ketika Deeva akan membuka kenop pintu, mendadak pintu itu terbuka, menampilkan sosok OB.
Ketika OB rumah sakit itu akan menyapa, Deeva menyimpan telunjuknya di bibir, agar ia tidak mengatakan apa pun, karena Deeva melihat, anak dan ayah itu sedang dalam pembicaraan yang serius.
Deeva memutuskan untuk menunggu di luar. Duduk di kursi yang jauh dari ruangan itu.
Tidak berapa lama, pintu ruangan itu terbuka. Dengan semringah, Deeva melangkahkan kakinya riang, menghampiri mereka. Namun, langkahnya terhenti, melihat wajah Agas yang tertunduk sendu.
Abyan menepuk bahu putranya. "Pikirkan lagi keputusanmu!"
"Aku tidak bisa meninggalkan Adeeva, Yah," ucap Agas,
lirih. Ucapannya membuat Deeva bersembunyi di balik tanaman tinggi yang diletakkan di samping tembok.
"Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Ayah tidak mau memaksa. Ambil jurusan kedokteran di Universitas Indonesia juga tidak masalah! Namun, bukankah dulu itu cita-citamu? Untuk mengenyam pendidikan di luar negeri? Bahkan, kau sudah Zulus seleksi dan diterima di sana. "
"Kalau aku pergi, bagaimana dengan Adeeva, Yah? Aku tidak ingin membiarkannya sendiri. Ayah tahu sendiri bagaimana keluarganya. "
"Pikirkan baik-baik! Jangan tergesa-gesa dan gegabah dalam memutuskan hal ini! Ini kesempatan yang bagus. Coba kamu bicarakan sama Adeeva! Mungkin saja ada jalan keluarnya. "
Agas hanya mengangguk lesu, lalu pergi.
Langkah lebar Agas membawanya ke atap rumah sakit milik keluarganya itu. Menatap langit sore dengan berbagai pikiran di benaknya.
Deeva memperhatikan laki-laki itu dari jauh. Benar kata Kak Danna, ia hanya menjadi penghalang langkah Agas untuk mengejar apa yang diinginkan.
Seorang wanita cantik menghampiri Agas. Membuat mata Deeva menyala, karena api cemburu. Entah apa yang mereka bicarakan! Karena, mereka berdiri cukup jauh dari tempat Deeva mengawasi mereka.
Wanita muda itu memegang tangan Agas, mengusap bahunya. Tidak berapa lama, memeluknya. Agas pun membalas pelukan wanita itu. Membuat hati Deeva sakit, sesakit-sakitnya.
Deeva pergi dari tempat itu. Mencoba menerima kenyataan dan melepaskannya, lalu berdamai dengan hatinya.
***
Dengan langkah lebar, Agas menghampiri Deeva yang sedang duduk di bangku taman. "Hai, Gadis Kecil!" sapanya.
Deeva hanya tersenyum, menanggapinya.
"Kenapa wajahmu begitu murung? Apa yang terjadi?
Kakakmu menyakitimu lagi?"
Deeva menggeleng. "Kak Agas sudah lulus SMA. Aku baru naik ke kelas 2 SMP. Aku berharap, aku juga sudah Zulus SMA, sehingga bisa mengikuti Kakak ke mana pun. "
Agas terkikik geli, lalu mengacak rambut Deeva. "Tidak perlu mengikutiku! Karena, aku juga akan selalu mengikutimu. Jadi, kita saling mengikuti satu sama lain. "
Deeva tersenyum samar, lalu menatap mata Agas. "Aku sudah tahu soal Kakak diterima di universitas yang Kakak inginkan. "
"Kau sudah tahu? Ka/au begitu, bagaimana menurutmu?"
"Pergilah, Kak! Kejarlah impianmu!"
"Ini bukan perkataan yang ingin kudengar dari mulutmu."
"Terus, perkataan apa yang ingin Kakak dengar?" "Jangan menyuruhku pergi!"
"Tidak. Aku tidak akan begitu. Hal ini baik untuk masa depan Kakak. Akan sangat egois bila aku melarang Kakak untuk pergi."
"Bisakah bersikap egois untuk kali ini saja?"
"Aku tidak akan bersikap egois untuk masa depan dan kebahagiaanmu, Kak. Jangan mengkhawatirkanku! Aku akan baik-baik saja di sini. "
"Apa yang bisa membuktikan bahwa kamu bisa baik-baik saja tanpaku di sisimu?"
"Aku tidak selemah yang Kakak kira. Masih ada orang-orang di sekelilingku. Si Mbok dan juga orang tua Kakak. Mereka masih akan di sini, bersamaku. "
Mata Agas berkaca-kaca menatap Deeva. Deeva sendiri pun hampir menumpahkan air matanya. Agas memeluknya erat. "Maafkan aku! Karena mimpiku ini, membuatku harus pergi darimu, " ucap Agas sendu.
"Tidak apa-apa, Kak. Sudah cukup selama ini Kakak berada di sampingku. "
Agas melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Deeva dengan seksama. Ia pun mencium kening Deeva lembut.
"Ada satu lagi. Selama Kakak pergi, jangan pernah menghubungiku!"
"Kenapa begitu?"
"Aku ingin Kakak fokus terhadap studi. Karena, yang kudengar, mengambil jurusan kedokteran itu sangat sulit. "
"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu. Aku tetap akan menghubungimu."
"Ka/au Kakak tetap bersikeras ingin menghubungiku, aku akan mengganti nomor ponselku, bahkan email dan yang lainnya."
"Kau gila!"
"Setujui saja persyaratanku!" Dengan terpaksa, Agas menyanggupi.
Setelah kepergian Agas, hidup Deeva terasa kosong. Ulah keluarga yang tak mengacuhkannya, kakaknya yang selalu mengganggu, membuatnya memutuskan untuk menabrakkan diri kepada sebuah mobil.
"Walaupun kau mati sekalipun, tidak ada yang akan peduli padamu, " ucap Darma yang selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Ketika Deeva membuka mata dari koma akibat aksi bunuh dirinya, tidak satu orang pun di sampingnya. Sampai suatu ketika, seorang lelaki datang, memenuhi ruang kosong hatinya dalam sekejap waktu. Laki-laki itu bemama Pradipta Bagaskara.
Deeva selalu bersikap apa adanya di hadapan keluarga Agas. Ia pun memutuskan untuk ikut ke rumah sakit, menemani Agas untuk diperkenalkan kepada staf rumah sakit sebagai dokter barn, juga sebagai pengganti ayah Agas nanti, memimpin rumah sakit itu.
"Yah, kenapa tidak membiarkan Agas beristirahat dulu, berlibur dulu, atau apa dulu begitu? Ini malah langsung disuruh terjun ke rumah sakit!"
"Perkara baik itu harus disegerakan." Hanya itu jawaban
Abyan.
Abyan dan istrinya tidak mengungkit masalah pemikahan
Deeva. Biarlah Deeva sendiri yang menjelaskan pada anaknya itu!
Ketika sampai di rumah sakit, mereka menjadi pusat perhatian, seiring langkah untuk masuk ke dalamnya. Deeva seolah merasa keadaan yang sama seperti dahulu. Selalu ditatap hangat oleh para staf rumah sakit yang sudah mengenalnya.
Bahkan, Deeva nyaris lupa bahwa kemarin ia mengantarkan suarninya ke situ, melihat kekasih yang katanya kecelakaan.
Deeva dan Agas disapa oleh staf rumah sakit yang mengenalnya. Sekarang, Deeva sedang menjadi dirinya sendiri. Tertawa, tersenyum tulus, bahkan berbicara dengan riang. Ia melepas topeng sebagai sosok kakak Cinderella. Saat itu, inilah dirinya yang selalu bersikap lembut dan tulus kepada semua orang.
"Suster masih di sm1 saja!" pekik Deeva sambil memeluknya.
"Tentu saja. Bahkan, saya yang merawat Non kala itu." Deeva terdiam. Ia nyaris lupa bahwa waktu ia dirawat,
bahkan awal pertemuan dengan suaminya, yakni di rumah sakit itu.
"Dirawat apa?" Agas bertanya.
Banyak sekali hal-hal yang harus diceritakan pada Agas, membuat Deeva merangkul tangan Agas, lalu parnit dari staf rumah sakit itu. "Nanti akan kuceritakan semuanya. Soal hidupku tanpa ada Kakak di sampingku."
"Oke. Aku harap, tidak ada hal yang membuatku jantungan dari ceritamu itu."
Deeva hanya tersenyum masam. Kalau sudah begitu, Agas selalu mencubit pipinya.
"Jangan berpikir macam-macam! Semuanya akan baik-baik saja. Aku ada di sini sekarang," ucap Agas. Digenggamnya angan Deeva, lalu melangkah menuju ruang penyambutan diadakan.
Dari seberang, Dipta sedang mendorong kursi roda Nadia. Ia menutupi wajahnya dengan kacamata berkaca bening dan topi yang menutup kepala. Mulutnya ditutup dengan masker. Ia tidak melupakan bahwa dirinya suami orang lain di mata dunia, juga sebagai publik figur.
Mata Dipta sudah menangkap sosok istrinya yang sedang bercengkerama dengan seorang laki-laki, yang Dipta yakini bemama Agas. Sosok yang membuatnya terganggu. Laki-laki itu tampak begitu sempurna. Senyuman hangatnya memancar pada semua orang, tidak pemah terlepas sekali pun dari bibir.
Tangan Dipta mencekal erat kursi roda ketika tangan istrinya dan laki-laki itu saling bertaut. Istrinya menjadi gadis yang dahulu sangat dekat dengannya. Gadisnya yang lembut, yang kini Dipta lihat berdiri di samping laki-laki lain, bukan di sampingnya.
Rahang Dipta mengeras. Hatinya berteriak-teriak. Wanita itu istriku! Ia milikku! Hati itu terns berteriak. Membuat sang pemilik hati berhenti, lalu melangkah mendekati pasangan yang jadi pusat perhatian itu, meninggalkan Nadia.
Namun, ketika ia akan mencengkeram tangan istrinya, sebuah tangan lebih dulu mencengkeram tangannya. "Jangan melakukan hal gegabah! Kau ini publik figur," gumam Nadia, pelan.
Ucapan Nadia itu menghentikan aksi Dipta. Dengan terpaksa, diredam amarah yang sudah menggelegak di dalam hatinya itu.
-- Next Chapter--
Bab 10
Setelah menghadiri acara penyambutan Agas, Deeva dan Agas berjalan beriringan keluar dari rumah sakit.
"Sepertinya, aku akan sibuk selama tiga bulan ini," ucap Agas sambil memijit pelipisnya.
"Semangat, dong, Kak! Bukankah ini keinginan Kakak?" "Ya, tetapi, aku ingin menghabiskan banyak waktu
denganmu," godanya. Dikerlingkan matanya ke arah Deeva.
Deeva hanya mencubit lengan laki-laki itu, gemas. "Fokus saja sama pekerjaan Kakak! Nanti aku akan sering mengunjungi."
"Baiklah! Kalau begitu, hari ini kita habiskan waktu bersama dulu." Agas menggandeng tangan Deeva. Mereka masuk ke mobil dan membawa ke tempat-tempat yang sering mereka kunjungi dulu.
Langit berganti gelap. Kini, Deeva dan Agas sedang makan malam di restoran. Mereka bercengkerama dengan hangat, sampai seseorang menghilangkan suasana hangat itu dalam seketika.
"Wow, pemandangan yang bagus!" ucapnya.
Agas langsung menatap orang itu sengit. "Mau apa kamu?" tanya Agas, tidak sabar.
"Agas, di mana sopan santunmu? Waiau bagaimanapun, aku ini lebih tua darimu, juga kakak dari gadis yang berada di sampingmu. Bicaralah yang sopan, Bapak Dokter!"
Agas hanya tersenyum sinis. Ia tidak suka sama sekali pada laki-laki yang bemama Darma itu. Dari dulu, lelaki itulah yang selalu menyakiti Deeva dengan berbagai cara.
"Deeva, kenapa kau diam saja? Apa Agas sudah tahu apa yang terjadi dalam hidupmu?" Darma kembali meluncurkan kata-kata serangannya. Membuat Deeva terpojok. Selalu seperti itu. "Ah, sepertinya, belum! Apa perlu kakakmu ini yang memberitahu?"
Agas mengerutkan kening. Ia memang ingin tahu apa yang terjadi pada Deeva selama ia tidak ada di sisi Deeva. Namun, belum sempat Darma bercerita apa-apa, gadis kecilnya itu mencegah.
"Tidak usah, Kak! Biar aku saja yang menceritakannya!" jawab Deeva, membuka suara.
"Kau yang akan menceritakannya? Tidak seru, ah! Biar Kakak saja yang menceritakan kepahitanjalan hidupmu!"
"Kak Agas, ayo kita pulang saja!" ajak Deeva. Bagaimanapun juga, kakaknya itu susah dihalangi. Semakin lama ia di sana, akan semakin besar kesempatan Darma membeberkan seluruh cerita hidup yang ingin diungkap sesedikit mungkin oleh Deeva pada Agas.
Darma hanya tersenyum penuh arti. "Agas, aku akan memberitahumu satu hal. Deeva ini bukan anak ibuku," ucap Darma pelan, tetapi Deeva mendengar hal itu dengan jelas.
Mata Agas terbelalak saat mengetahui kenyataan itu. Sementara Darma, berlalu begitu saja, dengan santai meninggalkan dua orang tersebut yang masih tertegun di tempatnya.
Agas yang memahami situasi itu menggenggam tangan Deeva dan membawanya keluar dari restoran. Dibimbingnya Deeva untuk masuk ke mobil.
Gadis itu tampak tegang. Wajahnya kaku. Ia tak ingin ucapan Darma sesaat tadi akan memengaruhi hubungan baiknya dengan Agas.
Dengan penuh rasa sayang, Agas membelai wajah Deeva.
Membuat air mata luruh di pipi gadis itu.
Mata Agas sendiri sudah berkaca-kaca. Dipeluk gadis kecilnya itu.
Deeva menangis di dada Agas, menumpahkan segala Iara yang ia pendam sendiri selama Agas tak ada di sisi.
"Aku ada di sini, Adeeva. Kamu masih memilikiku," ucap Agas menenangkan.
Deeva hanya mengeratkan pelukannya. Sungguh, ia tidak bisa berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja di hadapan laki-laki itu!
Agas melepaskan pelukannya, menangkup wajah gadis kecilnya yang sembab, lalu menghapus jejak-jejak air mata di pipi Deeva.
Agas mendaratkan ciuman di kening Deeva, lalu di kedua mata gadis itu. Dikecupinya gadis itu dengan sepenuh rasa sayang. Deeva pun menutup matanya. Setiap sentuhan yang diberikan Agas selalu menenangkannya.
Deeva merasakan, embusan napas Agas semakin dekat di wajahnya. Ia membuka mata dan melihat wajah Agas sangat dekat dengannya. Deeva terpaku, melihat mata itu. Mata yang menatapnya dengan sorot yang membuat hati Deeva bergetar.
Pandangan Agas jatuh di bibir Deeva, lalu kembali mendekatkan wajahnya. Mata Agas kembali tertutup. Tinggal sedikit lagi, bibir mereka akan bersentuhan.
Deeva memalingkan wajah. Membuat Agas hanya bisa mencium pipinya.
wajah. Agas yang sadar akan penolakan Deeva pun menjauhkan. Untuk beberapa saat, mereka tampak canggung.
"Aku antar kamu pulang," ucap Agas, memecah keheningan.
Hingga mobil yang dikendarai Agas berhenti di depan kediaman Hardinata, tidak ada yang membuka percakapan.
Deeva keluar dari mobil. Tidak berapa lama, Agas menyusul. Digenggamnya tangan Deeva.
"Maaf soal kejadian yang tadi!"
Deeva hanya mengangguk, lalu berusaha melepaskan genggaman tangan Agas di jemarinya. Namun, Agas tidak melepaskannya.
"Kamu marah padaku? Kenapa tidak mengatakan apa-apa?"
"Aku nggak marah, Kak. Hanya saja, aku malu," ucap
Deeva, semakin menundukkan wajahnya.
Agas terkikik geli, lalu memeluk gadis kecilnya. "Sikapmu sama sekali tidak berubah. Aku akan sibuk sekali dalam tiga bulan ini. Jadi, sering-seringlah berkunjung ke rumah sakit!" Deeva hanya mengangguk dalam pelukan Agas.
***
Dipta tampak terduduk di sofa ruang keluarga apartemennya. Matanya menatap jam yang ada di dinding, yang menunjukkan pukul satu dini hari. Entah berapa lama ia berada dalam posisi seperti itu! Bahkan, ketika mendengar pintu apartemennya terbuka, ia tetap tidak beranjak dari posisinya.
Deeva masuk ke dalam apartemen suaminya. Tadi Agas mengantarkan ke rumah keluarganya. Ia kembali ke apartemen suaminya dengan menggunakan mobil pribadi yang terparkir di kediaman keluarga Hardinata. Bagaimanapun, Deeva belum siap berucap tentang perubahan statusnya pada Agas.
Deeva terkejut kala melihat suaminya yang duduk di sofa dengan mata terpejam. "Ia ada di sini? Aku kira, ia masih tetap berada di rumah sakit," gumam Deeva, nyaris tercekik. Ia mendekat menuju suaminya yang ia kira sedang tidur itu.
Deeva duduk di samping suaminya. Dipeluknya tubuh Dipta, lalu disandarkan kepalanya di dada suaminya itu. Deeva menyentuhjantungnya sendiri yang bertalu-talu.
"Selain rasa nyaman yang kurasakan ketika aku bersamamu, aku juga merasakan jantungku seperti menendang-nendang dadaku kala melihatmu," ucap Deeva, lirih. "Kak Dip, aku bertemu seseorang dari masa laluku, mungkin juga cinta pertamaku. Karena, ketika ia tidak berada di sisiku dulu, hidupku serasa hampa. Sehingga, aku melakukan hal-hal bodoh, yang membuatku terbaring di rumah sakit. Di sanalah, dulu aku bertemu denganmu. Kau sangat banyak bicara waktu itu. Entah kenapa, itu membuat hatiku yang kosong, terisi perlahan-lahan saat itu. Aku ingin mempertahankan kau di sisiku selamanya waktu itu. Namun, ternyata ...." Deeva tidak menyelesaikan ucapannya. Ia hanya mengeratkan pelukan.
Dipta yang sebenarnya tidak tidur, hanya mendengarkan ocehan istrinya itu dengan seksama. Ada rasa sakit yang perlahan menyelesap ke dalam hati ketika mendengar istrinya berbicara tentang lelaki lain dengan cara seperti itu.
"Berjanjilah bahwa kau akan hidup berbahagia bila aku tidak berada di sisimu lagi. Ah, aku lupa, kau pasti akan berbahagia. Karena, akulah sumber petaka, yang membuat kau tidak bahagia sama sekali. Aku telah merenggut kebahagiaanmu dengan Nadia. Maatkan aku!"
Dipta pura-pura menggeliatkan tubuh, membuat Deeva menjauh dari pelukan suaminya, lalu mengambil langkah seribu dan berlari ke dalam kamar mereka.
***
Pagi-pagi sekali Deeva terbangun karena mendengar suara gaduh di kamar. Ketika ia membuka mata, suaminya sedang memasukkan pakaian ke dalam koper. "Kakak mau ke mana?" tanya Deeva heran.
"Aku akan syuting di Bogor selama satu minggu."
"Biar aku bantu, Kak! Kakak mandi saja dan bersiap-siap.
Nanti biar aku yang kemasi barang-barangnya."
Dipta menurut dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mengepak barang-barang keperluan suaminya, Deeva menggulung rambut, lalu keluar kamar dan mendapati Bayu sedang menelepon. "Kenapa, Bay?" tanya Deeva ketika melihat wajah Bayu menekuk.
"Kami butuh asisten pengganti. Namun, tak ada yang bisa dihubungi dalam waktu yang mendadak begini. Kamu tahu sendiri, Nadia sedang sakit. Banyak hal yang kami perlukan di syuting kali ini. Namun, kami berdua tidak bisa meng-handle-nya sendiri."
"Ya sudah, aku ikut saja! Biar bisa membantu kalian." "Serius, Deev?"
Deeva mengangguk, membuat Bayu tersenyum semringah, lalu refleks memeluk Deeva.
"Makasih. Aku tahu, kamu itu orang baik." Pletak! Sebuah jitakan mampir di kepala Bayu.
"Bisa nggak lu jaga sikap, Bay? Ngapain lu peluk-peluk istri gue?" ucap Dipta, senewen.
Bayu hanya cengengesan, lalu menunjukkan dua jarinya tanda perdamaian. "Deeva akan membantu kita selama syuting di Bogor," ucap Bayu, menjelaskan.
"Oke. Kalau ia memang ingin membantu, kita tidak perlu repot-repot membayar asisten pengganti Nadia."
Bayu hanya mendelik, mendengar ucapan Dipta yang tidak ada manis-manisnya sama sekali.
"Kamu harus tetap membayarku, Kak Dip. Bukan pakai uang, tetapi pakai ... emmm," ucap Deeva sambil mengerling nakal.
Dipta langsung mencubit kedua pipi Deeva. "Jangan menggodaku dengan tatapanmu itu! Menyebalkan, tahu!"
"Kenapa? Tidak boleh?" goda Deeva lagi. "Deeva!" tegur Dipta.
"Ya, deb, ya! Namun, kalau morning kiss dulu, boleh,
dong?"
"Bay, ayo kita berangkat! Kita tinggal saja orang yang
banyak kemauan ini."
Deeva tersenyum, lalu mengejar langkah Dipta. Dihalanginya langkah Dipta dari depan. Deeva menjinjitkan kaki, merangkul leher Dipta, lalu mencium suaminya itu.
Dipta sekuat tenaga menolak, tetapi entah kenapa setiap sentuhan gadis itu membuatnya tidak berdaya! Bayu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Semoga secepatnya lu bisa membedakan rasa cinta dan sayang itu, Dip. Gue takut, orang yang lu kira tidak lu cintai, membuat lu terpuruk kembali ketika lu sadar atas perasaan lu dan ia sudah pergi untuk kedua kalinya." Bayu bergumam pelan. Ia tahu kehidupan temannya itu, karena ia teman Dipta dan Nadia sejak kecil.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Bayu yang menyetir. Jam masih menunjukkan pukul empat dini hari, sehingga Deeva dan Dipta melanjutkan tidur mereka.
Deeva tidur di dada suaminya sambil memeluknya. Dipta sendiri bersandar di jok mobil. Tangannya dilingkarkan di bahu istrinya.
"Aku harap, kamu bisa terbuka sama suamimu, Deev," gumamBayu.
Sebuah ingatan menghampiri Bayu ketika ia tidak sengaja mendengar percakapan Deeva dengan kakaknya, Darma.
Bayu bolak-balik ke ruangan satu dan yang lain untuk mengecek segala hal sebelum acara konferensi pers itu diadakan. Konferensi yang akan mengumumkan pemikahan Deeva dan Dipta.
Bayu sangat kesal sekali pada Deeva yang memaksakan kehendaknya. Kalau ia mencintai sahabatnya itu, kenapa dulu ia meninggalkan Dipta tanpa sepatah kata pun? Hanya meninggalkan sesuatu yang tetap disimpan Dipta, di suatu tempat yang tidak orang ketahui, juga yang Dipta ingkari bahwa ia menyimpan itu hanya untuk sebuah koleksi, hingga saat itu.
Langkah Bayu terhenti ketika mendengar percakapan sengit di pojok ruangan.
"Kenapa aku membantumu mendapatkannya? Karena, pada kenyataannya, ia mencintai wanita lain! Rasakan bila tiap harinya kau harus hidup dengan suami yang mencintai wanita lain! Kau akan mati perlahan-lahan, sehingga kau akan terluka dari berbagai sisi! Jangan coba-coba untuk melakukan percobaan untuk mengakhiri hidupmu sendiri, yang seringkali gaga! kaulakukan ketika lelah menghadapi masalahmu!" ucap Darma, tajam.
"Aku akan menghadapi apa pun masalah di hidupku.
Lebih tepatnya, masalah yang kaubuat. "
"Kau pantas mendapatkannya, Adik Manis. Kita hanya berbagi darah, tidak berbagi ikatan. Aku membencimu, karena telah membuat ibuku menderita. Aku akan memberitahu satu lagi rahasia hidupmu. Kau terlahir dari selingkuhan ayah kita. Jadi, kau tahu bagaimana menderitanya hidup ibuku ketika harus mengakuimu sebagai anak kandungnya di hadapan publik, Gadis Jalang? Bahkan, apa yang kulakukan untuk menghancurkan hidupmu belum ada apa-apanya. "
"Apa maksud Kakak? Kakak tahu siapa ibuku?"
"Tentu. Karena, wajahmu sama persis dengannya. Membuatku muak, bahkan membuat Ayah begitu muak padamu. Kau mengingatkan Ayah akan kekhilafannya di masa lalu. Makanya, ia tak mengacuhkanmu. Kau ini aibnya. Anak yang sama sekali tak pernah diharapkan. "
"Aku " Suara Deeva bergetar, menahan air mata yang
berdesakan ingin keluar.
Darma tersenyum puas, lalu menepuk pundak adiknya. "Bukankah kau ini kuat? Jangan menangis! Untuk apa kau menghilang bertahun-tahun jika karaktermu masih tetap seperti dulu, Gadis Cengeng?"
Deeva menahan sekuat tenaga tangisnya. Membuat Darma tertawa puas. Ia puas sekali melihat Deeva terluka, tetapi tidak bisa meratapinya.
"Oke, aku pergi dulu, Adik Manis. Semoga acara konferensi persnya berjalan lancar! Tersenyumlah di hadapan publik, walau hatimu sakit! Rasakan rasanya seperti apa! Itulah yang dulu ibuku rasakan waktu mengakui kau sebagai anaknya di hadapan semua orang. "
Darma meninggalkan Deeva yang terpaku di tempatnya.
Mau bagaimanapun Deeva menekan air matanya, tetapi kenyataan itu membuatnya sakit. "/bu ..., " lirihnya.
Tubuhnya luruh di atas lantai. Deeva menangis dengan tersedu-sedu. Tangisnya begitu pilu, membuat Bayu yang melihat kejadian itu merasakan rasa sakit gadis itu.
Bayu tersenyum pahit ketika melihat Deeva dengan sikap angkuh berbicara ketika konferensi pers itu digelar. "Gadis malang! " gumam Bayu.
Bayu menghela napas, lalu kembali menghempaskannya. Difokuskan kembali perhatiannya ke jalan yang ia telusuri.
-- Next Chapter--
Bab 11
Mereka sudab sampai di hotel tempat Bayu, Dipta, dan Deeva akan tinggal untuk sementara waktu. Sudah biasa apabila artis datang ke suatu tempat, pasti ditunggu olehfans-fans-nya. Jejeran fans sudah menunggu di depan hotel saat Dipta turun dari mobil. Teriakan histeris fans yang kebanyakan kaum hawa itu menggema, membuat Dipta hanya melambaikan tangan sambil menampilkan senyum manis. Sementara, Deeva dan Bayu sibuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil.
Deeva membantu membawakan tas, juga koper yang ia seret, berhubung barang bawaan suaminya untuk keperluan syuting sangat banyak.
Deeva dan Bayu dikawal petugas keamanan hotel, agar bisa lewat. Khawatirnya, ada kejadian yang tidak diinginkan jika tanpa pendampingan. Apalagi, Deeva membuat sebagian besar fans Dipta geram.
Dipta sendiri juga dikawal oleh tiga petugas keamanan. Namun, sesekali, ia melayani fans yang meminta foto dan tanda tangan. Senyuman tidak pemah terlepas dari bibirnya.
Deeva langsung dicengkeram bahunya oleh petugas keamanan ketika ada dorongan dari fans yang tidak suka akan kehadiran Deeva. Deeva hanya memberikan tatapan manisnya kepada gadis-gadis yang telah mendorongnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Dipta yang melihat itu tampak tidak suka. "Sayang!" teriaknya, membuat langkah Deeva dan petugas keamanan berhenti.
Dipta dengan tergesa menerobos kerumunan fans. Membuat tiga petugas keamanan yang menjaganya nyaris tidak bisa mengejar langkahnya.
Sesampainya di depan istrinya, ditepis tangan petugas keamanan yang bertengger di bahu istrinya dengan kasar. Walau bagaimana pun, Dipta tidak suka jika ada tangan lelaki lain yang menyentuh bahu istrinya dengan alasan apa pun. "Ya ampun, Sayang, kamu kenapa bawa tas segala? Sini, biar kubantu!" tawamya, lalu mengambil tas yang dijinjing Deeva. Tangan yang satu lagi menggenggam jemari istrinya, sehingga mereka berjalan beriringan menuju hotel. "Nanti kita bertemu lagi di lokasi syuting, ya? Terima kasih sudah datang ke sini!" teriak Dipta kepadafans-nya sambil melambaikan tangan.
Saat mereka sudah tiba di dalam lift, tiba-tiba Dipta menjatuhkan tasnya. "Bawa lagi tasnya!" perintahnya pada Deeva.
"Kalau tidak mau membawanya, kenapa mengambilnya tadi?" ujar Deeva.
"Bersikap baik pada istri di depan publik itu membuat imejku lebih baik."
"Dasar makhluk pencitraan!" ledek Deeva.
"Tentu. Aku ini seorang artis kalau kau lupa," ucap Dipta angkuh.
Dipta keluar lift duluan, diikuti dengan Deeva dan Bayu. "Ia menyebalkan, bukan?" tanya Bayu. "Ya, menyebalkan. Namun, entah mengapa aku menginginkan lelaki menyebalkan itu!"
"Kalau soal itu, tanyakan hatimu kenapa kau menginginkannya!"
"Harns kuakui, hatiku dikuasai olehnya. Menyebalkan, bukan?" rutuk Deeva, sebal. Membuat Bayu terkekeh.
Dipta yang melihat istrinya sedang bercengkerama hangat dengan manajer sekaligus sahabat di belakang punggung, langsung menghentikan langkah, lalu kembali berjalan ke belakang dan menarik tangan Deeva agar berjalan dengannya.
"Lelet banget jalannya! Kau kuajak ke sini bukan untuk bersantai, tetapi untuk membantuku di sini. Kalau nggak ada gunanya, pulang saja sana! Bikin repot saja!" makinya sambil menyeret Deeva, agar sejajar dengan langkahnya.
"Baik, Tuan," jawab Deeva patuh. Membuat Dipta semakin keki.
***
Mereka sudah berada di lokasi syuting. Setelah menyimpan barang-barang di hotel, mereka langsung meluncur ke lokasi dan tidak diperkenankan beristirahat sama sekali.
Setelah mengurus keperluan Dipta sampai ia take di depan kamera, barulah Bayu dan Deeva bisa beristirahat.
"Melelahkan!" gumam Deeva sambil memejamkan matanya dan duduk di kursi.
"Maklum saja bila kau lelah! Dipta manja sekali hari ini!
Apa-apa hanya mau dilayani olehmu," goda Bayu.
"Ia bukan manja, tetapi ingin menyiksaku, agar tidak tahan berada di sampingnya dan membuatku pergi dari sisinya tanpa berbuat ulah."
"Jangan melakukannya! Apa pun sikap Dipta padamu, tetaplah berada di sisinya!" ucap Bayu.
Deeva hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum. "Semoga takdir membuatku selalu berada di sisinya, walau ia tidak menginginkannya!" ucap Deeva, membuat Bayu hanya bisa diam, tidak menimpali ucapan Deeva.
Bayu meninggalkan Deeva di kursi sendirian, karena ada sebuah panggilan di telepon. Tidak berapa lama, Deeva pun menerima panggilan dari Agas.
Deeva menjauh dari lokasi syuting, mencari tempat yang enak buat menerima telepon.
Deeva mengangkatnya dan disapa oleh suara hangat yang selalu menentramkan jiwanya dari seberang telepon. Ketika tengah asyik mengobrol, ada sebuah teriakan yang membuat Deeva menutup panggilan itu. "Kalian memanggil saya? Ada perlu apa?" tanya Deeva ketika melihat tiga gadis yang tadi meneriaki namanya.
"Heh, jangan belagu, deh, lu! Lu pikir, lu itu cocok dengan Kak Dipta? Bercermin, dong! Lu, tuh, nggak ada cocok-cocoknya sama sekali dengannya! Wajah lu, tuh, jelek!" maki seorang gadis, mewakili teman-temannya.
Deeva tersenyum sinis dan menatap gadis-gadis remaja yang ternyata fans suaminya, tetapi haters-nya itu. Sepertinya, mereka tidak suka akan pernikahannya dengan Dipta.
Deeva berjalan lebih dekat. Mendekatkan wajahnya di depan ketiga gadis itu. "Coba perhatikan dengan seksama! Apa wajah seperti ini yang kalian bilang jelek? Aku memperlihatkan wajahku lebih dekat di depan mata kalian, takutnya, kalian menderita rabun jauh, sehingga tidak melihat dengan jelas kecantikan wajahku," ujar Deeva.
"Lu wanita tidak tahu diri! Menyebalkan! Wanita seperti lu tidak pantas bersanding dengan Kak Dipta kami!" teriak gadis lainnya lagi.
"Terserah apa tanggapan kalian. Yang pasti, sekarang Kak Dipta itu suamiku. Ah, sudah, sekarang daripada buang-buang tenaga, berteriak-teriak, dan sating memaki, lebih baik belajar dengan baik! Kalian masih seorang pelajar, kan?"
"Kami tidak butuh nasihat lu!"
"Ya sudah, terserah kalian! Kalau begitu, saya permisi. Atau ada yang ingin kalian titipkan atau sampaikan untuk suamiku?"
Ketiga gadis itu hanya diam.
Deeva menyentuh lembut bahu mereka, berniat meninggalkan mereka dalam damai. Namun, sebuah amukan dari fans Dipta membuatnya tetap tinggal di tempat itu lebih lama.
Sementara itu, Dipta sudah menyelesaikan syutingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika ia kembali ke tempat dan tidak menemukan istrinya. "Bay, Deeva ke mana?"
"Gue nggak tahu. Pas gue ke sini, ia sudah nggak ada." "Wanita itu pasti kembali ke hotel duluan. Untuk apa ikut
kalau capai sedikit saja langsung kembali ke hotel?"
"Gimana nggak capai, Dip? Lu memforsir tenaganya dari tadi. Sampai minum saja, harus dipegangi segala. Manja banget, sih, lu!" omel Bayu.
"Deeva istri gue, Bay. Kenapa lu yang repot?"
"Ya, gue tahu Deeva istri lu, tetapi nggak begitu juga kali! Kasian Deeva! Bagaimanapun, ia seorang wanita."
"Arghhh! Sudah, kenapa lu malah membelanya, sih?
Siapa yang sahabat lu di sini sebenarnya?"
"Oke, lu yang sahabat gue. Daripada lu marah-marah, lebih baik kita balik ke hotel, karena besok ada syuting pagi-pagi buta."
Ucapan Bayu menghentikan omelan Dipta. Mereka pun pulang menuju hotel.
Sesampainya di hotel, Dipta menemukan istrinya sedang terbaring di ranjang. "Deeva, bangun!" teriak Dipta.
"Ada apa, sih, Kak?" "Bangun, aku bilang!"
Dengan terpaksa, Deeva bangun sambil menundukkan wajahnya yang terluka parah. Akibat ulah tiga gadis fans Dipta tadi, wajahnya kini penuh Iuka lebam dan cakaran, sehingga ia memutuskan langsung kembali ke hotel. Kalau ia kembali ke lokasi syuting suaminya, pasti akan jadi santapan wartawan yang berkeliaran untuk mencari sensasi.
Deeva tidak habis pikir sama anak remaja zaman sekarang. Waktu dulu ia remaja, ia harus bergulat dengan perihnya sebuah kenyataan pahitnya kehidupan, tetapi remaja sekarang memilih bergulat dengan manusia untuk melampiaskan hal yang tidak ada untungnya sama sekali.
"Kalau aku ngomong itu tatap wajahku!" teriak Dipta lagi.
Deeva menggeleng dengan kesal. Dipta mencengkeram pipi Deeva, lalu memaksa istrinya untuk menatap, membuat Deeva mengaduh kesakitan. Dipta sudah siap mengeluarkan kata-kata kasar, tetapi demi melihat lebam-lebam di wajah istrinya, ia menelan kembali kata-kata umpatannya yang sudah di ujung bibir. "Kenapa dengan wajahmu? Kau berkelahi?"
"Ya, aku berkelahi dengan tante-tante yang menghalangi antrianku waktu mau membayar ke kasir."
"Itu memang sifatmu. Selalu berbuat ulah. Sekarang siapkan air hangat dan makan malam untukku! Aku lapar."
Deeva mengerjakan apa yang diperintahkan suaminya.
Setelah menyiapkan air hangat untuk Dipta, Dia langsung memesan makanan untuk makan malam mereka. Setelah pesanan makanan datang, Deeva pun menyiapkannya di atas meja .
Sementara itu, Dipta sudah mandi. Sehingga, ketampanannya makin terlihat sempurna.
"Makanlah! Aku akan memberikan makanan m1 Juga untuk Bayu. Pasti ia juga belum makan," ujar Deeva.
"Tidak usah! Kau ini istriku, bukan istrinya. Kau hanya melayaniku, bukan melayaninya," omel Dipta.
"Kak, Bayu kan sahabatmu. Kasihan, ia pasti belum sempat makan malam! Besok kalian harus kembali melakukan rutinitas."
"Aku akan menyuruhnya ke sini," ucap Dipta, akhimya.
Dipta mengambil ponsel, lalu menghubungi Bayu untuk supaya makan malam bersama.
Tidak berapa lama, Bayu datang. Ia kaget kala melihat wajah Deeva. "Wajahmu kenapa, Deev?" tanya Bayu, khawatir.
"Tadi hanya terjadi insiden kecil saja. Ayo, Bay, makan!" "Kamu tidak dipukuli sama Dipta, kan?" tanya Bayu lagi. "Lu pikir, gue lelaki apaan, Bay? Lu berteman sama gue
sudah sekian tahun. Kenapa sampai meragukan sikap gue?"
Bayu tertawa terbahak-bahak. "Sorry, Bro! Habisnya, akhir-akhir ini, emosi lu kayak perempuan yang sedang PMS. Sensi mulu kerjaannya!"
Dipta hanya mendengus, kesal. Deeva sendiri hanya tersenyum, mendengar percekcokan dua sahabat itu.
"Ayo, Bay, dimakan! Mumpung masih hangat," tawar Deeva lagi sambil mengambilkan nasi dan meletakannya ke piring Bayu.
"Makasih, Deev, lu memang the best."
Deeva hanya tersenyum tanpa melihat tatapan Dipta, yang seperti ingin membunuhnya demi melihat Deeva melayani Bayu.
"Bayu punya tangan, Deev. Biar ia mengambil sendiri makanannya," tegur Dipta, tampak tak senang.
"Walaupun gue punya tangan, gue juga pengin dilayani, supaya ngerasa 'oh, jadi seperti ini kalau nanti punya istri?"' ucap Bayu sambil mengucapkan terima kasih kepada Deeva dan tersenyum manis. "Wow, makanan basil pesanan kamu enak banget, Deev! Benar-benar lezat! Coba aku kenal kamu duluan, pasti kamu sudah kujadikan istri, deh!" ujar Bayu sengaja berlebihan.
Deeva hanya tersipu, lalu kembali melanjutkan makan malamnya.
"Sudah sana, lu balik ke kamar hotel! Banyak omong banget! Rese lu!" ucap Dipta, senewen.
Malam itu terjadi percekcokan manis antara Bayu dan Dipta. Bayu yang selalu menggoda Deeva dan Dipta yang tidak terima. Benih yang sekian lama tertimbun di kegelapan hati dan terabaikan, kini mulai tertimpa sedikit-sedikit sinar kehangatan sang mentari. Sehingga, benih itu menjadi tunas dan akarnya menancap di dalam hati.
***
Deeva bangun dan sudah tidak mendapati suaminya di kamar hotel. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia bangun kesiangan, sehingga tidak ikut suaminya syuting.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku, Kak?" tanya Deeva setelah sambungan telepon tersambung dengan suaminya.
"Aku tidak mungkin membawamu dalam keadaan seperti itu. Kau mau, aku dikira melakukan KDRT?" tanya Dipta.
"Ya, sih! Aku hanya khawatir, kalian tidak bisa meng-
handle semuanya."
"Kaupikir, tidak adanya kau di sini membuatku tidak bisa syuting? Apakah kau merasa penting sekali dalam hidupku?" ejek Dipta.
Deeva hanya mendengus kesal, lalu menutup telepon itu secara sepihak. "Selalu seperti itu jawabannya. Menyebalkan!" gumam Deeva.
Dipta menyimpan ponselnya, lalu kembali fokus membaca naskah skenario.
"Dip," panggil Bayu. "Hmmm?"
"Nih, ada yang mau bertemu sama lu!"
Dipta melihat seseorang di samping Bayu. Seorang gadis remaja. Pasti fansku, batin Dipta. "Hai, ada apa?" tanyanya.
Gadis itu tak menjawab. Ia tampak ketakutan. Membuat Dipta menatap Bayu, meminta penjelasan.
"Ayo, katanya, ada yang mau dikatakan sama Kak Dipta!" ucap Bayu.
Dengan tergeragap dan suara bergetar, gadis itu menjelaskan apa yang dilihatnya sehari sebelumnya. Waktu tiga fans Dipta melampiaskan amarahnya kepada Deeva.
"Ya ampun, gadis-gadis itu! Pantas saja, wajah Deeva lebam!" ucap Bayu.
"Kamu tahu siapa ketiga gadis itu?" tanya Dipta kepada
fans-nya.
Gadis itu menggeleng, seolah khawatir kalau memberitahu identitas sang pelaku, hidupnya tidak akan aman.
"Baiklah, pulanglah! Terima kasih infonya," ucap Bayu.
Fans itu berlalu. Langkah kecil gadis itu menghampiri sebuah taksi, lalu mengetuk kacanya.
Kaea itu terbuka. Memperlihatkan sekretaris Darma, Anindya.
"Kamu sudah memberitahunya?" tanya Nindya. Gadis itu mengangguk
Nindya memberikan beberapa lembar uang kepada gadis fans-nya Dipta itu. "Aku akan melindungimu sekuat yang aku bisa, Kak Deev. Bertahanlah sampai aku berani memberitahukan semuanya! Aku akan mengajakmu menemui ibu kandungmu, ibu kita," ujamya pelan.
Harl itu Dipta tidak fokus sama sekali dalam menjalani syuting. Berkali-kali sutradara meneriakkan kata cut.
"Kita break dulu!" teriak sang sutradara. "Kamu kenapa, Dip? Ada masalah? Kalau aktingmu begini terns, kita bisa nggak pulang-pulang. Kita istirahat dulu sebentar, setelah itu kembalilah fokus! Kasihan kru dan pemain lain," ucap sutradara memberi ultimatum pada Dipta.
Dipta hanya mengangguk, lalu berjalan lesu ke tempatnya.
Ketika ia sampai di tempat istirahat, matanya menangkap sosok istrinya sedang menatapnya.
Deeva ada di hadapannya. Dengan pakaian serba tertutup. Rambutnya dipakaikan topi rajut. Kacamata hitam dan masker bertengger di wajahnya. Deeva-lah orang yang membuat Dipta tidak fokus syuting. Perasaan bersalah menusuk-nusuk hatinya. Sikapnya yang selalu memperlakukan wanita itu sedemikian rupa, selalu membuatnya sakit sendiri pada akhirnya.
-- Next Chapter--
Bab 12
Deeva menatap suarrunya dengan seksama. Dipta kelihatan tidak bersemangat. Apa mungkin ada ma.salah? batin Deeva.
Dipta tidak menggubris kehadiran Deeva. Ia hanya melewati istrinya itu dan duduk di kursi ruangan tersebut, lalu mengambil naskah skenario dan membacanya.
Deeva mengerutkan kening. Tumben banget suamiku tidak banyak berbicara atau mengeluarkan kata-kata menyebalkan! Deeva memilih tidak memikirkan hal aneh-aneh. Ia duduk di kursi di samping Dipta, lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi.
Hening, tidak ada yang berbicara sama sekali. Sampai Bayu masuk ke ruangan itu.
"Deeva, kamu di sini?"
"Ya, Bay. Aku bete sendirian di hotel."
"Bagus, deh, kamu ke sini! Tuh, suamimu kerjaannya nggak benar dari tadi! Sampai syuting kita nggak kelar-kelar," adu Bayu. Membuat Dipta menutup naskah, lalu membantingnya di atas meja.
"Berisik banget, sih, lu!" pekik Dipta, lalu keluar dari ruangan itu.
Deeva dan Bayu hanya tertegun di tempatnya, karena kena semprotan amarah Dipta yang tanpa diduga-duga.
"Kaget banget aku!" gumam Bayu.
"Ya sudah, Bay! Aku susul Dipta dulu, ya?"
Bayu hanya mengangguk. Mempersilakan Deeva mencari suaminya yang tampak sedang kena PMS itu.
Deeva mencari-cari Dipta di lokasi syuting, sampai Deeva menemukan sosoknya berdiri bersandar di tiang rumah yang dipakai syuting film.
Deeva mendekat, berniat ingin mengagetkan suaminya. Deeva semakin dekat dengan tempat suaminya berada.
Namun, sebuah percakapan di telepon menghentikan langkahnya. "Aku merindukanmu, Nad," ucap Dipta.
Kata-kata suaminya membuat hati Deeva sakit. Ini kenyataan yang hams ia hadapi bahwa suaminya mencintai wanita lain. Ia tahu itu, tetapi hatinya tetap saja tidak siap mendengarnya dan merasa sakit.
"Aku baik-baik saja di sini Hmmm, aku akan menjaga kesehatanku," ucap Dipta lagi.
Deeva hanya berdiri mematung di belakang suaminya.
Mendengar percakapan itu bagai duri menancap di hatinya. "Beristirahatlah supaya lekas sembuh. Apa kamu sering memimpikanku?" ucap Dipta sambil terkekeh. "Namun, rinduku lebih besar dibanding rasa rindumu padaku. Hey, mengalahlah! Aku jauh lebih merindukanmu. Mengerti?"
Percakapan Dipta dan kekasihnya di seberang sana membuat Deeva hanya mampu berbalik dan meninggalkan lokasi itu.
"Rasakan bagaimana ketika suamimu mencintai wanita lain! Kau akan mati perlahan-lahan. Nikmatilah perasaan itu, karena perasaan seperti itu yang pernah ibuku alami waktu ibumu masuk ke rumah tangga ibuku!" kata-kata Darma, temgiang-ngiang di telinganya.
"Aku tidak meminta dilahirkan kalau hanya untuk menanggung semua karma ini. Apa salahku terhadap semua kejadian itu?" ucap Deeva lirih.
Deeva kembali masuk ke ruangan tempat suaminya beristirahat kala syuting. Ia duduk kembali di kursi, lalu merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa lelah, sangat lelah.
Ketika Bayu mau masuk ke ruangan, ia berpapasan dengan Dipta. "Lho, kok, lu sendirian? Mana istri lu?" tanya Bayu, heran kala melihat Dipta kembali sendirian.
"Gue sendiri dari tadi. Tidak bersama siapa pun, bahkan wanita itu."
"Tadi ia mau nyari lu, katanya." "Mungkin ia nggak menemukan gue."
Mereka pun masuk dan mendapati Deeva yang sudah tertidur pulas.
"Lu harus kembali take, Dip. Semangat, ya, Bro!" ujar Bayu.
Dipta kembali berakting di depan kamera. Kamera menyala. Beberapa menit kemudian, sang sutradara pun berteriak oke, menandakan akting Dipta bagus kali itu dan tidak melakukan kesalahan, seperti tadi.
Semua kru dan pemain lain mulai membereskan peralatan mereka. Mereka berbondong-bondong pulang untuk beristirahat, karena hari itu begitu menguras waktu.
Begitu pun dengan Dipta. Dibantu Bayu, dibereskan segala keperluannya yang tadi digunakan.
"Ayo, Dip, semuanya sudah masuk ke dalam mobil! Ah, gue bangunin Deeva dulu!" ujar Bayu.
"Tidak usah!" ucap Dipta, lalu masuk ke ruangan tempat istirahat dan menggendong istrinya.
Bayu yang melihat kejadian itu hanya tersenyum penuh
arti.
Dipta.
"Kenapa lu malah bengong? Bukain pintu mobil!" ucapnya tergesa, Bayu membuka pintu mobil, agar sepasang suami istri itu bisa masuk.
Beberapa menit kemudian, mobil yang ditumpangi mereka melaju, membelah kegelapan di jalanan kota hujan itu.
Bayu melirik sepasang suami istri itu lewat spion.
Dipta tampak melihat keluar jendela dengan tatapan menerawang. Entah apa yang ia pikirkan! Sedangkan istrinya, bersandar nyaman di bahunya.
Deeva terlihat menggeliat, mencari kembali posisi nyaman di tidurnya. Membuat Dipta terhenti dari pikiran menerawangnya.
Dibenarkan posisi duduknya, agar istrinya dapat tidur dengan nyaman, lalu ia pun mengusap pelan kepala istrinya. Membuat Deeva kembali nyenyak dalam tidur.
***
Setelah kejadian Deeva mendengar percakapan romantis suaminya dengan Nadia, sikap Dipta menjadi aneh. Ia cenderung banyak diam dan tidak banyak mengeluh ketika Deeva melakukan suatu kesalahan. Bahkan, kata-kata sinisnya tidak keluar sama sekali. Semua nyaris berjalan sempurna sampai di hari terakhir mereka berada di Bogor.
Waktu itu, Bayu, Deeva, dan Dipta sibuk membereskan pakaian ke dalam koper, karena hari itu mereka akan pulang. Namun, sebelumnya, harus melakukan satu kali syuting lagi. Jadi, mereka berencana membawa barang bawaan sekalian, agar setelah selesai syuting, langsung pulang, tidak perlu kembali lagi ke hotel.
Ada seseorang yang menekan bel kamar hotel mereka. Bayu yang membukanya, karena Deeva dan Dipta begitu fokus dengan barang-barang yang mereka bereskan.
"Siapa, Bay?" tanya Dipta. Ia masih fokus dengan mengepak barang-barangnya ke dalam koper.
"Ini aku, Dip," ucap suara perempuan yang familiar di telinga Dipta maupun Deeva.
Dipta menoleh, begitu pun dengan Deeva. Terlihatlah Nadia yang berdiri sambil memberikan senyum manis kepada Dipta.
Dengan sigap, Dipta berdiri, lalu menghampiri gadisnya itu dan memeluknya. "Kamu ke sini?" gumamnya.
"Hmmm," jawab Nadia.
Bayu termenung. Matanya tidak terlepas dari sosok perempuan yang seolah tidak terjadi apa-apa itu. Deeva, perempuan itu, tampak sibuk dengan pekerjaannya, seolah Nadia tak pernah ada di sana.
"Sudah beres, kan? Ayo, Dip, kita langsung ke lokasi!" ujar Bayu, membuat Dipta melepaskan pelukannya.
"Sebentar, Bay, gue belum selesai!" ucap Dipta.
"Sudah, biar aku yang bereskan! Kamu masukkan saja barang-barang ini ke dalam mobil bareng Bayu!" perintah Nadia, membuat Dipta melakukannya tanpa perlawanan.
Nadia melihat Deeva yang tidak banyak berbicara sedari ia datang. Setelah Bayu dan Dipta meninggalkan mereka berdua di ruangan itu, barulah Nadia berani berbicara. "Aku harap, kamu tidak terganggu dengan apa yang barusan terjadi. Walaupun Dipta suamimu, tetapi ia mencintaiku dan aku pun mencintainya," ujar Nadia.
Deeva tersenyum sinis, lalu berdiri, karena sedari tadi ia berjongkok untuk mengepak barang-barang. "Aku tidak terganggu sama sekali. Toh, aku sendiri yang mengizinkan suamiku untuk mencintaimu! Semua itu tidak masalah bagiku. Bagaimanapun, publik tahunya, ia suami sahku," ucap Deeva dingin sambil menatap Dipta yang barn masuk ke ruangan itu.
"Baguslah kalau kamu tidak masalah! Jadi, kapan kamu akan melepaskan Dipta?" tanya Nadia.
"Aku tidak tahu kapan pastinya, tetapi bersiaplah untuk hal itu! Pada akhirnya, aku akan melepaskannya juga, karena itu yang terbaik," ucap Deeva dingin, lalu melangkah melewati Nadia dan berhenti di depan suaminya.
Nadia yang berbalik terlihat kaget, melihat Dipta yang berdiri tidakjauh dari tempat dirinya berdiri.
"Aku sadar sekarang akan semuanya. Tak lama lagi, aku akan melepasmu. Aku janji. Anggap saja itu sebagai penebus segala dosaku!" ucap Deeva sambil menatap mata suaminya tajam.
Dipta terdiam. Kata-kata istrinya membuat hatinya berdenyut-denyut sakit. Tatapan mata Deeva membuatnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Tes.
Air mata menetes dari mata istrinya. Tidak banyak, hanya satu tetes. Membuat tetesan air mata itu mengalir turun, membasahi pipi Deeva.
Dipta melihatnya. Mata yang terlihat tajam itu begitu rapuh bila dilihat dari dekat. Dan entah kenapa hatinya sakit berkali lipat setelah melihat air mata istrinya itu! Bahkan, tenggorokannya tercekat.
Deeva secepat kilat mengusapnya, lalu berlalu. "Aku tunggu kau di mobil, Suamiku," ucap Deeva sembari mengecup pipi suaminya.
Harl terakhir syuting itu begitu hening. Tidak ada celotehan Bayu atau uring-uringan Dipta. Mereka tampak asyik dengan dunianya sendiri.
Setelah syuting selesai, mereka kembali pulang ke Jakarta. Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika mereka sampai di Jakarta.
"Bay, lu beristirahatlah! Biar gue yang mengantarkan Nadia," ujar Dipta di depan apartemen Bayu.
Bayu mengiyakan tanpa perlawanan. Ia benar-benar lelah, menyetir dari Bogor sampai Jakarta.
Dipta mengantarkan Deeva terlebih dahulu ke apartemen mereka. "Sepertinya, aku tidak akan pulang malam ini. Aku mau menginap di rumah Thu di Depok, sekalian mengantarkan Nadia," ucap Dipta.
"Oke, hati-hati!"
Deeva turun dari dalam mobil dan membiarkan suaminya pergi dengan wanita lain. Langkah-langkah kecil membawanya sampai di apartemen suaminya. Namun, langkah itu terhenti kala melihat sosok tinggi tegap sedang bersandar di daun pintu apartemen mereka. "Kak Agas," gumam Deeva.
Seperti merasakan kehadiran gadis kecilnya, Agas berdiri. Matanya menatap Deeva dari kejauhan. Bukan pandangan hangat seperti biasanya yang terlihat dari sorot matanya, tetapi tatapan tajam dengan berbagai rasa kecewa di dalamnya.
"Kak, kenapa Kakak bisa ada di sini?" tanya Deeva dengan suara bergetar.
"Darma yang memberitahuku tentang segalanya," jawab Agas, pahit.
"Kak, biar kujelaskan!"
"Aku ke sini memang ingin mendengar penjelasanmu," jawab Agas lagi. Kali ini, ada nada dingin dalam suaranya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi.
Dengan langkah gemetaran, Deeva mengajak Agas masuk ke apartemen. "Duduklah, Kak! Biar kuambilkan minum!"
"Jelaskan sekarang!" ucap Agas, tidak mau dibantah.
Dengan kikuk, Deeva duduk di depan Agas, lalu mulai bercerita, dari proses bagaimana ia bertemu Dipta sampai pernikahan itu bisa terjadi.
"Ini kebahagiaan yang kaumaksud?" Deeva mengangguk lemah.
"Dengan merusak hubungan orang lain dan pemaksaan? Kalau seperti ini, apa bedanya kau dengan Darma? Melakukan tindakan tidak berperasaan untuk mendapatkan sesuatu!" ucap Agas, sengit.
"Kak, a . .. a . .. aku hanya berusaha mendapatkan kebahagiaanku," ucap Deeva, terbata.
"Mendapatkan kebahagiaan juga tidak hams mengorbankan kebahagiaan orang lain, Adeeva! Aku tanya, apa sekarang kau bahagia?"
Deeva tidak menjawab. Ia malah menangis tersedu-sedu. "Kau menikahi laki-laki yang mencintai wanita lain. Apa
itu yang disebut kebahagiaan? Ini bukan kebahagiaan, Adeeva! Kau menghancurkan dirimu sendiri dengan perlahan!" teriak Agas, penuh emosi. "Kau bertindak gegabah dalam memilih jalan hidupmu. Apa ini caramu, agar terlihat kuat dengan menantang Darma? Dengan bertingkah sepertinya? Apa yang sebenarnya kaulakukan dan inginkan, Adeeva? Aku kecewa padamu. Sekarang, apa pun yang terjadi pada hidupmu, aku tidak akan peduli lagi. Bukankah kau sudah memilih untuk bahagia tanpaku? Jadi, tunjukkan padaku kalau kau bahagia! Kalau kau sudah bahagia atas pilihanmu, datanglah padaku! Baru aku akan memaafkanmu," ucap Agas, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Namun, Deeva menghalanginya.
"Kak, jangan tinggalkan aku! Tolong, jangan berhenti untuk peduli padaku! Dengan Kakak bersikap seperti ini, membuatku lebih hancur."
"Kaupikir, aku tidak hancur, hah? Kalau soal kebahagiaan, aku bisa memberikannya padamu. Namun, kenapa kau tidak datang padaku? Malah, kau menyuruhku pergi dari hidupmu. Kenapa, Adeeva?" pekik Agas, marah.
"Aku tahu, Kakak bisa memberikanku kebahagiaan. Namun, aku tidak ingin merusak kebahagiaan Kakak hanya untuk membuat hidupku bahagia. Aku tidak akan melakukan itu!" pekik Deeva, dengan tangis yang semakin menjadi.
"Kita sudah saling mengenal sejak kecil, tetapi kau sama sekali tidak memahami hatiku," ujar Agas lirih.
"Aku memahamimu, Kak. Makanya, aku melepaskan Kakak untuk mengejar impian, agar tidak terbebani olehku, juga bisa dengan leluasa bersama gadis yang Kakak cintai."
"Gadis yang kucintai itu kau, Bodoh! Kenapa kau tidak mengerti, hah?" teriak Agas. Mata Agas sudah berkaca-kaca. Sementara Deeva, terpaku di tempatnya dengan air mata yang masih meleleh di pipi.
Agas mengusap air mata Deeva. "Jadi, sekarang kau tahu bagaimana hancurnya hatiku, Adeeva. Jangan tunjukkan wajahmu di depanku sampai kau benar-benar bahagia!" ujar Agas, lalu berlalu.
Kini, Agas benar-benar berlalu, meninggalkan Deeva yang termenung sendiri dalam keterkejutannya.
Deeva kembali tersedu. Ia memukul-mukul dadanya, lalu berteriak keras. "Apa yang sudah kulakukan?! Arghhh!!!" pekiknya, histeris.
Tangisan itu begitu terdengar lirih di apartemen dingin itu. Deeva menyadari, ia telah termakan tipu muslihat kakaknya. Sehingga, ia menghancurkan dirinya dan orang-orang yang ia sayangi sekaligus. Kakaknya-lah yang menghasutnya bahwa Agas mencintai wanita lain, bukan dirinya. Bisakah aku mengulang semua yang telah terjadi? Memperbaiki segala keadaan ini?
-- Next Chapter--
Bab 13
Suasana apartemen begitu hening. Kini, tidak ada lagi suara tangis yang mengiris hati.
Deeva sedang duduk di bawah shower. Air terns mengguyurnya tanpa ampun. Namun, ia hanya diam, tak melakukan gerakan apa pun. Wajahnya datar. Tatapan matanya kosong. Air dingin yang mengguyur tubuhnya seperti tidak mengganggu sama sekali.
Sementara itu, sebuah mobil yang melaju di kegelapan jalanan ibukota. Tampak Dipta fokus dengan kegiatan menyetirnya.
"Dip, aku nyalakan radio, ya?" ucap Nadia.
Dipta hanya mengangguk, lalu kembali fokus dengan kemudinya.
Radio itu menyala. Memperdengarkan satu lagu lama milik Katon Bagaskara featuring Ruth Sahanaya, "Usah Lara Sendiri", yang membuat Dipta kembali teringat pada istrinya.
Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu Tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu Sekilas kalau mata ingin berbagi cerita
Ku datang sahabat bagi jiwa. Saat batin merintih, usah kau Iara sendiri Masih ada asa tersisa
Letakkanlah tanganmu di atas bahuku Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu Di depan sana cahya kecilku memandu. Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya
Wajah istrinya yang sendu, dimulai dari kedatangan Nadia sampai di perjalanan pulang yang terus mengganggu pikirannya. Deeva yang duduk di kursi belakang dengan Nadia sepanjang perjalanan tadi, hanya diam ketika Dipta sesekali meliriknya lewat kaca spion depan. Ketika sampai di apartemen pun, istrinya tetap dengan wajah datar dan mata redupnya. Tidak ada lagi tatapan angkuh atau wajah sombongnya. Ia tampak mempunyai beban yang tak kasatmata di pundaknya. Istrinya itu tampak rapuh, tampak lelah.
Lagu itu seperti mencibir dirinya bahwa memang seharusnya suami istri itu saling berbagi keluh kesah. Namun, mereka bukan pasangan suami istri seperti itu. Mereka menikah karena keterpaksaan, karena pihak wanita yang memaksa dengan berbagai ancaman. Namun, kenapa semua ini begitu menggangguku? Dipta tampak tenggelam dalam segala pemikiran yang dibiarkan menusuk-nusuk relung jiwa. Sedangkan Deeva, ia sudah terkapar tidak berdaya di bawah shower. Air yang terus mengguyur tubuh membuat wajah pucat, bibir membiru, dan matanya tertutup.
Setelah mengantar Nadia, Dipta pulang ke rumah orang tuanya dengan wajah lelah. Perjalanan panjang dan pikiran yang berkecamuk membuat tubuhnya berteriak, membutuhkan istirahat.
Setelah membersihkan diri, Dipta tidur di ranjang. Tempat tidur yang dari kecil selalu ia tiduri hingga beranjak dewasa. Setelah membolak-balikkan tubuh, ia mencari posisi nyaman, agar matanya lekas mengantuk, tetapi tidak kunjung terpejam juga.
Ia pun bangun, menelusuri tiap inci kamarnya. Matanya terpaku di sebuah lukisan yang ia buat sendiri di kala lalu. Sebuah lukisan tidak berbentuk, hanya corat-coret berbagai cat warna di atas kanvas.
Dipta berdiri, mendekat ke arah lukisan itu. Dimiringkan lukisan itu danjatuhlah selembar foto dari dalamnya.
Dipta mengambil, membaliknya. Terlihat gadis cantik dengan wajah polosnya menatap kamera di foto itu. Dipta tersenyum, lalu membalik kembali foto itu yang terdapat nama Adeeva AJsheen Hardinata yang tampak ditulis oleh tangan Deeva sendiri. Wajah yang tadi tersenyum, kini hilang, bergantikan dengan guratan sedih di matanya.
Dipta remaja dengan langkah semangat memasuki area rumah sakit dengan menyapa para suster dan dokter yang sebulan ini dikenalnya, karena menemani Deeva.
Ayahnya sudah keluar dari rumah sakit besar itu tanpa prosedur macam-macam. /tu suatu kebahagiaan tersendiri buatnya. Namun, walau ayahnya sudah tidak dirawat di rumah sakit itu, Dipta tetap berkunjung untuk menjenguk seseorang.
Dipta membuka kamar rawat itu, tetapi tidak mendapati siapa pun. Tidak ada gadis remaja yang selalu menyambutnya dengan senyuman termanis.
Gadis itu sudah berjanji akan berfoto dengannya di hari itu. Karena di waktu sebelumnya saat mereka mengambil Joto, gadis itu masih menggunakan perban di wajah. "Besok berfotolah denganku! Aku akan berdandan cantik. Mulai besok, perban di wajahku akan dibuka," ucap Deeva di hari sebelumnya. Membuat Dipta dengan pakaian rapi datang ke rumah sakit dengan semangat di hari itu. Namun, gadis itu tidak berada di sana. Dipta hanya menemukan satu lembar Joto di atas ranjang yang selalu ditiduri Deeva selama ini.
Dipta terpaku menatap Joto itu. Gadisnya begitu cantik, tetapi ketika ia membalik Joto itu, ada nama Adeeva AJsheen Hardinata yang tersemat di sana. Membuatnya terdiam dan tersenyum masam. "Apa yang ingin kautunjukkan dengan nama belakangmu itu? Apa kau ingin menunjukkan bahwa status kita jauh berbeda, sehingga kau pergi tanpa pamit? Tak berharga sama sekalikah kebersamaan kita selama ini?" ucap Dipta lirih.
Dipta meninggalkan ruangan yang sudah kosong itu dengan langkah lesu. "Seharusnya aku tidak memakai perasaan sedari awal kalau ujungnya seperti ini, " gumamnya pahit. Ditinggalkan jejak-jejak cinta pertamanya di latar rumah sakit itu.
Di sisi lain, tanpa Dipta tahu, Deeva menangis dalam diam, menatap punggung seorang lelaki yang selama sebulan itu selalu memberikan rasa hangat dan kebahagiaan dalam hidupnya yang perlahan menjauh.
"Menangislah, karena itu yang kusukai! Melihat kau bahagia dan tersenyum bersama laki-laki itu, sungguh membuatku muak!" ucap Darma, di samping adik seayahnya itu.
Deeva waktu itu masih sangat remaja, tetapi hidupnya sudah sering dikacaukan oleh kakaknya itu.
"Jangan mengacaukan kehidupannya, Kak!"pinta Deeva sambil tersedu-sedu.
"Tentu aku tidak akan mengacaukannya kaZau kau menjauhinya. Sekali kau datang kembali kepada Zaki-Zaki itu, lihatlah apa yang akan terjadi pada hidupnya!"
"Kenapa Kakak melakukan semua ini?"
"Karena, aku tidak suka melihat kau bahagia, Adik Manis. Sedikit saja aku melihat kau bahagia, aku akan menghancurkan orang yang membuatmu bahagia itu. Camkan itu!" ucap Darma kejam, lalu menyeret tangan adiknya untuk pergi dari rumah sakit itu.
Dipta duduk di ranjang. Ada rasa berat dan sesak di hatinya. Dulu, ia begitu mencintai Deeva, tetapi tampaknya rasa itu tak berbalas. Direbahkan kembali tubuhnya sembari menghela napas panjang.
"Jika aku bukan seorang artis, akankah kau memaksa kembali pada kehidupanku dan merusak hubunganku dengan Nadia, Deeva?" gumam Dipta pada dirinya sendiri. Jawaban dari pernikiran-pernikiran negatif itu makin membuatnya sesak. Tiba-tiba, ia merasa teramat letih dan lelah pada hidup yang dijalaninya. Hingga, tidak berapa lama kemudian, ia terlelap, menuju dunia rnimpi.
***
Pagi datang. Dengan mengendap, Nadia masuk ke kamar Dipta untuk membangunkannya.
"Sayang, bangun!" ucap Nadia, berbisik di telinga kekasihnya, lalu mengguncang tubuh Dipta.
Dipta bukan orang yang susah dibangunkan. Ia langsung membuka mata saat guncangan kedua di tubuhnya. "Aku masih mengantuk, Nad. Biarkan aku tidur hari ini, karena jadwalku hari inifree! Aku lelah sekali!" ucap Dipta dengan suara parau.
Nadia mengangguk lirih sebelum berjalan-jalan sendiri di kamar itu. Melihat-lihat foto dirinya yang ada di kamar kekasihnya itu. Sesaat kemudian, Nadia terhenti di depan sebuah lukisan yang dari SMA selalu terpasang di sana. "Sebagus apa, sih, lukisan ini, sehingga tetap dipajang sampai sekarang?" guman Nadia. Diambilnya lukisan itu dari dinding. Saat itulah sebuah foto meluncur jatuh dari balik lukisan, menghentikan gerakan Nadia untuk memerhatikan lukisan itu dengan seksama. Kini, perhatian Nadia tercurah seratus persen pada foto itu.
Nadia meraih foto itu. Seketika itu juga, matanya membulat sempurna, tangannya bergetar hebat. "Bukankah gadis ini Deeva?" gumamnya, nyaris tidak bersuara.
Diambil foto itu, lalu dibawa ke rumahnya. Dengan hati bergemuruh akibat rasa cemburu, dinyalakan korek api, lalu dibakarnya foto itu tanpa tersisa. "Siapa pun kau dulu, di hidup Dipta sekarang hanya ada aku. Kau sudah tidak ada artinya lagi baginya. Akulah wanita yang Dipta cintai sampai kapan pun," ucap Nadia sinis, menghibur diri.
Dipta menghabiskan waktu luang dengan keluarganya di Depok.
"Harusnya kau mengajak istrimu ke s1m, Dip," ucap ibunya lembut saat sarapan pagi itu.
"Ya, Bu. Nanti Dipta akan mengajaknya."
Sore harinya, Nadia dan Dipta menghabiskan waktu bersama. Melihat tempat sekolahnya dulu, tempat bermain mereka, dan tempat-tempat kenangan lainnya.
Nadia tampak bahagia, begitu pun dengan Dipta. Namun, ketika Nadia menjauh dari sisinya untuk sejenak, Dipta kembali termenung. Perasaan rindu kepada istrinya kembali mendera.
Mungkinkah aku jatuh cinta pada saat yang sama dengan dua wanita berbeda? batin Dipta. Dan suara batin itu semakin menyiksanya. Dipta menyerah pada pergolakan batinnya.
Tiba-tiba, ia berdiri dari kursi taman yang diduduki. Membuat Nadia yang tengah bersandar di bahunya hampir terjatuh.
"Ada apa, Dip?" tanya Nadia, heran.
"Aku harus pulang ke Jakarta sekarang. Ayo, kuantar kamu pulang dulu!" jawab Dipta.
"Aku tidak mau pulang. Aku ingin tetap di sini. Lagipula, ini masih sore," ucap Nadia, bersikeras.
"Ayolah, Nad, kita pulang sekarang! Istriku menunggu di apartemen."
"Tidak! Aku tidak mau pulang!" Nadia semakin tidak mau pulang setelah tahu alasannya.
"Kalau begitu, terserah! Kau egois sekali! Istriku saja memperbolehkanku untuk mengantarmu pulang. Namun, kau menahanku berlama-lama di sini. Aku pulang duluan saja. Bilang pada orang tuaku bahwa aku ada urusan penting mendadak," ucap Dipta. Lalu, dengan langkah terburu-buru, ia masuk ke mobil. Tak dihiraukan lagi seperti apa ekspresi Nadia saat itu. Ia hanya ingin melihat istrinya secepatnya.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Dipta melajukan mobilnya. Namun, kemacetan yang melanda ibukota membuat ia sampai di apartemen lewat jam delapan malam.
Apartemen tampak sepi ketika Dipta masuk ke dalamnya. "Ke mana wanita itu? Apa ia sudah tidur?" gumam Dipta sambil memasuki kamar tidur mereka.
Kamar tidur juga tampak hening, kosong, dan gelap, karena lampunya tidak dinyalakan sama sekali.
"Ke mana ia?" gumam Dipta lagi.
Dipta akan menelepon istrinya itu. Menanyakan di mana keberadaannya, dan tentu saja akan memarahi wanita itu, karena berani pergi tanpa pamit sebelum suara gemericik air di dalam kamar mandi menghentikan aksinya. "Sedang mandi rupanya," ucap Dipta, tersenyum.
Dipta duduk di atas ranjang, menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum sendiri, membayangkan wajah syok istrinya yang akan dilihatnya ketika mendapatinya sudah pulang.
Dipta sudah tidak sabar menunggu. Sampai satu jam menunggu istrinya, tetapi istrinya itu tidak kunjung keluar juga. Dengan tidak sabar, digedornya pintu kamar mandi. "Deev, lama sekali, sih, mandinya? Ngapain saja? Cepat buka pintunya! Aku mau mandi! Sudah karatan, nih, aku nunggunya!" teriak Dipta.
Tidak ada jawaban. Membuat Dipta gusar dan semakin bernafsu menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras.
Sekian lama ia mengedor pintu sampai tangannya sakit, tetap saja tidak ada jawaban.
"Kau ingin bermain-main denganku? Baiklah, kalau begitu, aku akan mendobrak pintunya!" Dipta marah besar. Kesabarannya sudah habis.
Brak! Didobraknya pintu kamar mandi.
Kamar mandi itu pun terbuka. Dipta sudah membayangkan adegan Deeva akan menjebaknya dengan penuh nafsu. Atau sengaja menggoda, agar jatuh di pelukan istrinya malam itu. Namun, ketika ia memasuki kamar mandi, bukan senyuman hangat dan menggoda istrinya yang didapatkan, melainkan tubuh dingin istrinya yang sudah tergolek dengan bibir ungu serta wajah pucat pasi di bawah air shower yang terus mengguyur.
Dipta membelalakkan mata dengan sempurna.
Jantungnya mendadak berhenti dan mencelos dari tempatnya.
"Deev, a ... a ... pa ... yang terjadi padamu?" ucap Dipta terbata-bata. Dimatikan shower itu sebelum merengkuh tubuh istrinya yang basah kuyup serta kulitnya yang sedingin es.
Dipta terlalu panik. Kakinya serasa lemas untuk digunakan berdiri. "Deeva, bangun, Sayang! Suamimu sudah kembali," ucap Dipta lirih. Perlahan, ia menangis. Bayangan Deeva meninggalkannya bertahun dulu, kembali melintas. Kini, ia tak ingin kehilangan Deeva lagi.
Namun, mata istrinya tetap tertutup rapat.
Dipta makin terkesiap, melihat pakaian istrinya sama dengan pakaian waktu malam kemarin ia mengantarnya ke apartemen. "Deeva, bangun! Apa yang sudah terjadi? Katakan padaku, Deeva! Kalau aku menyakitimu, katakan padaku! Mana aku tahu jika hatimu sakit? Kau tak pernah tampak cemburu jika aku bersama Nadia atau siapa pun!" teriaknya.
Diraba leher Deeva, mencari-cari denyut nadi. Denyut itu begitu lemah dan nyaris hilang.
Rasa kehilangan menyeruak di hati Dipta tanpa ampun. Sebuah kekuatan tiba-tiba datang menghampirinya. Dengan langkah lebar, dibawa istrinya itu ke rumah sakit. Karena, jika ia menelepon ambulans, akan memakan waktu lebih lama. Belum tentu Deeva akan bertahan sampai selama itu.
Dijalankan mesin dan dilajukan mobil sekencang-kencangnya, menembus jalanan, membelah langit malam, hingga tibalah ia di rumah sakit.
Seorang suster membawa brankar untuk membawa tubuh Deeva. "Beritahu Dokter Agas, ini Nona Deeva!" ucapnya kepada seorang suster lain.
Suster yang diajaknya berbicara, bergegas mencari dokter mudaitu.
Tidak berapa lama, Agas menghampiri brankar di mana Deeva terbaring. "Ya Tuhan, Adeeva! Apa lagi yang telah kaulakukan ?" ucap Agas, panik. Ia mencoba profesional, melakukan pertolongan pertama. Namun, setiap alat yang akan dipasangkan di tubuh Deeva selalu terjatuh dari tangannya. Jemarinya tampak sepenuhnya gemetar.
Ayah Agas datang, menepuk bahu anaknya itu, lalu mengambil alih semuanya. "Keluarlah, Gas! Biar Ayah yang menangani!" titah ayahnya.
Agas menurut. Ia tahu, dalam etika profesi kedokteran, seharusnya orang yang berhubungan dekat dengan pasien, tidak boleh melakukan penanganan, karena akan menimbulkan perasaan emosional, yang akan mempengaruhi kinerja medis, terutama pada kasus berat.
Ia keluar dari ruangan UGD. Tangannya tetap gemetar, begitu pun dengan kakinya. "Bodoh! Kenapa kau selalu menyakiti dirimu sendiri sejak dulu?" gumamnya, frustasi. "Kalau kau datang padaku, aku pasti akan memberikanmu kebahagiaan, Adeeva. Tak harus seperti ini."
Sementara, di dalam ruangan UGD, denyut nadi Deeva semakin melemah, nyaris hilang. Ayah Agas melakukan pertolongan dengan sekuat tenaga.
Di luar ruangan, Agas dan Dipta serasa mau mati, karena rasa khawatir yang begitu terlalu mendera jiwa mereka. Kedua lelaki itu tampak diam di posisi masing-masing, sampai mata mereka saling menatap, dan menyadari kehadiran satu sama lainnya.
"Anda siapa? Anda yang membawa Adeeva kemari?
Saya belum pemah melihat Anda sebelumnya," tanya Agas. "Aku suami Deeva," jawab Dipta, tak sopan. Demi melihat Dipta tak berbicara sopan, Agas tersenyum sm1s dan berkata dengan tak kalah kasarnya. "Adeeva tidak membutuhkanmu di sini. Pergilah! Setelah ini, aku akan menyuruh Adeeva melepaskanmu secepatnya," ucap Agas dingin. "Deeva mencintaiku kalau kau mau tahu. Aku pacar pertamanya dulu," ucap Dipta. "Tampaknya, ia tak bisa melupakanku setelah sekian tahun berlalu."
"Cinta? Pacar pertama? Aku cinta pertamanya. Aku bisa menyuruhnya untuk melepaskanmu kapan saja dengan mudah. Aku lebih berharga dari apa yang kaukira. Ia hanya menganggapmu sebagai pelarian."
"Terserah apa katamu! Namun, 1a istri sahku," jawab Dipta, tak mau kalah.
Sementara kedua lelaki itu berdebat panjang di luar ruangan UGD, di dalam ruangan, ayah Agas bersama para perawat dan petugas anestesi harus berjuang keras. Dan lebih keras lagi kala mesin pendeteksi detakjantung menunjukkan garis lurus. "Oh, ya, Tuhan, jangan akhiri hidupnya begitu saja! Ia dan Agas belum bahagia," gumam ayah Agas, syok.
-- Next Chapter--
Bab 14
Agas berusaha mengembalikan denyut jantung Deeva yang mendadak berhenti dengan alat pompa jantung. Alat pengejut
jantung itu terus menempel di dada Deeva. Ditempelkan, dilepaskan lagi, ditempelkan lagi. Membuat tubuh lemas Deeva terangkat ke atas dua, tiga kali, hingga akhimya alat itu membuat jantung Deeva kembali berdetak.
Ayah Agas bersyukur dalam hati. Dicek suhu tubuh Deeva yang berangsur-angsur normal, karena sebelurnnya tubuh gadis itu sangat dingin ketika diberi penanganan pertama.
Ayah Agas keluar dari ruang UGD dan disambut oleh anaknya.
"Bagaimana Deeva, Yah?"
"Tadi jantungnya sempat berhenti, tetapi sekarang ia sudah melalui masa kritis. Suhu tubuhnya juga sudah berangsur normal. Ia akan dipindahkan ke ruang rawat inap," ujar ayah Agas.
Agas mendesah lega dan bersyukur bahwa gadis kecilnya baik-baik saja.
Ayah Agas menatap sekilas Dipta yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Ia mengenal pemuda itu, sebagai kekasih Deeva di masa lalu, juga suami Deeva. Ia menjadi salah satu saksi hidup saat Deeva terpuruk akan kehilangan Agas dan lelaki itulah yang menemani hari-hari Deeva. Juga saat tiba-tiba Deeva memutuskan menikah dengan lelaki itu setelah sekian tahun berlalu. Berbagai media menayangkan berita pernikahan itu.
Dipta hanya terpaku di tempatnya berdiri, tidak menghampiri sang dokter atau menanyakan bagaimana kabar istrinya. Ia merasa menjadi orang asing di situ, di tengah orang-orang yang sangat mengenali dan menyayangi istrinya.
Beberapa lama kemudian, Deeva dipindahkan ke ruang rawat inap. Agaslah yang mendorong brankarnya, sedangkan Dipta hanya mengikuti dari belakang, seperti orang bodoh.
Dipta terhenti di depan ruangan istrinya dirawat. Ia akan masuk, tetapi langkahnya mendadak terhenti, melihat ruangan itu. Ruangan yang dulu ditempati Deeva, tempat awal pertemuan mereka dan saling berbagi kisah. Hanya sebulan perkenalan dan kebersamaan mereka, tetapi berkesan di hati Dipta kala itu.
Dengan langkah ragu, ia masuk. Seketika itu juga, kenangan akan masa lalu seakan menyergap. Ruangan itu tetap sama, tidak berubah. Bedanya, sekarang Deeva tidak lagi sendirian. Ia ditemani oleh sosok laki-laki tampan yang kini duduk di samping ranjang, menjaganya.
Dipta berdehem dan duduk di kursi sofa yang disediakan di ruangan itu.
Agas tidak melirik sama sekali. Ia tetap fokus, mengusap-ngusap tangan Deeva, seperti ingin menghantarkan kehangatan.
"Ia istriku," ujar Dipta, memecah keheningan.
"Aku tahu. Tidak usah diperjelas," jawab Agas, dingin. "Seharusnya aku yang berada di posisi itu, menjaga
istriku, bukan kau. Apa kau tidak punya rasa malu, memperlihatkan rasa kasih sayang kepada seorang wanita di hadapan suaminya?" ledek Dipta.
Agas tidak menggubrisnya sama sekali. Mata itu justru menatap Dipta tajam. "Kau hanya orang lain di kehidupan Deeva, walaupun statusmu adalah suaminya. Aku yakin, kau tidak tahu apa pun perihal hidupnya."
"Aku memang tidak tahu apa pun tentang kehidupan Deeva, tetapi aku bukan orang asing. Akulah yang menemaninya dulu ketika kamu pergi dari hidupnya untuk mengejar ambisi dunia."
Agas tahu itu. Ayahnya yang menceritakan semuanya bagaimana Deeva ingin mengakhiri hidup kala itu, karena dirinya. Kali ini Deeva juga hampir mengakhiri hidupnya kembali, entah karena siapa. Dirinya, atau lelaki di hadapannya, yang tampak tak becus sebagai suami itu.
"Aku tahu. Bagaimanapun, terima kasih telah menemaninya saat itu. Namun, kau tetap orang asing di kehidupannya. Karena, Deeva tidak pemah menceritakan apa pun tentang kehidupannya, keluh kesahnya. Benar, kan, dugaanku bahwa ia tidak pemah menceritakan kehidupan detailnya padamu?"
Ucapan Agas menohok hati Dipta. Itu benar adanya. Deeva tidak pemah sama sekali bercerita soal hidupnya, bahkan ketika ia di-bully fans Dipta pun, Deeva tetap memilih diam, menutupi semua kejadian itu darinya.
"Seorang wanita tidak berbagi kisah detail kepada pasangannya itu hanya karena satu alasan. Karena, ia tidak mempercayai laki-laki tersebut, tidak percaya bahwa cinta itu ada pada sosok lelaki tersebut. Jadi, jangan berbesar hati ketika Deeva mengatakan bahwa ia mencintaimu! Itu bisa saja hanya lip service," ujar Agas. Lagi-lagi, membuat Dipta bungkam.
"Aku izinkan kau berada di sini. Namun, aku akan tetap di sini pula. Aku tidak ingin ada berita macam-macam di luar, karena memang seharusnya seorang suami menemani istrinya." Dipta kembali berkata-kata.
Telepon Dipta berdering. Ia pun langsung mengangkatnya. "Ya, Bay? Deeva dirawat di rumah sakit. Tidak ada berita aneh-aneh, kan, di luar? Tidak ada? Syukurlah!" ucap Dipta ketika berbincang dengan manajemya, Bayu.
Setelah ditutup, telepon itu kembali berdering. Kali ini
ibunya.
"Ya, Bu? Deeva masih belum siuman. Kalau Thu mau
menjenguk, besok saja! Ini sudah dini hari. Jam besuk belum dibuka. Aku tahu, Thu khawatir, tetapi Deeva baik-baik saja. Ya. Aku akan menjaganya dengan baik."
Agas tersenyum samar, mendengar perbincangan Dipta dan ibunya. Setidaknya, Deeva masih memiliki mertua yang menyayanginya di pernikahan palsu itu.
Deeva membuka mata perlahan. Rasanya berat sekali.
Ketika Deeva membuka kelopak mata, semuanya gelap.
Deeva mengedarkan pandangan. Temyata, ia berada di sebuah ruangan serba putih, yang Deeva yakini sebagai rumah sakit yang lampunya dimatikan. Hanya ada sebuah cahaya lampu neon di luar ruangan yang menerobos melalui sela-sela tirai jendela.
Deeva merasakan tenggorokannya kering. Ia sangat haus. Namun, tangannya terasa berat, menandakan ada yang menindih. Sebuah hembusan napas menyapu tangannya dengan teratur.
Deeva tersenyum. Ia tahu siapa yang tidur di sisi ranjangnya. "Kak Agas." Deeva berbisik lirih.
Seakan ada ikatan batin mahakuat, Agas langsung terjaga. "Adeeva, kamu sudah siuman?" tanya Agas.
Bukannya menjawab pertanyaan Agas, Deeva justru merajuk. "Aku haus, Kak," rengek Deeva, manja.
Agas langsung bangkit untuk mengambilkan Deeva gelas yang ada di nakas samping tempat tidur. "Minumlah! Kakak akan menyalakan lampu," ucap Agas sembari beranjak menjauh, hendak ke arah sudut ruangan di mana saklar lampu berada.
"Tidak usah, Kak! Biarkan saja seperti itu!" larang Deeva sembari menggamit jemari Agas erat.
Deeva duduk di ranjang. Agas pun tidak jadi berlalu. Ia memilih duduk kembali di samping Deeva. Mereka saling menatap di dalam kegelapan dan heningnya ruangan itu.
"Bukankah Kakak sudah bilang jika kamu melukai dirimu lagi, Kakakjuga akan melukai diri Kakak?"
Deeva malah menangis. Hatinya sungguh lega, mendapati Agasnya kembali bersikap seperti semula.
"Jangan lakukan hal seperti itu lagi! Kalau kamu melakukannya lagi, Kakak yang akan terbaring lebih dulu di timbunan tanah," ujar Agas lagi.
Deeva tetap menangis. Ketika ia merasa, semua masalah mendesak dan menghimpit hati, ia selalu bertingkah gegabah. Ketika malam itu ditinggalkan suaminya pergi bersama wanita yang suaminya cintai, ditambah Agas yang kecewa padanya, semua begitu menyesakkan, sampai membawa tubuhnya duduk di bawah shower dan mengguyurnya tanpa ampun. Malam itu Deeva hanya berharap, air dingin yang menghujani tubuhnya dapat membekukan hatinya yang terluka. Namun, air itu justru membekukan aliran darah yang membuat jantungnya sempat terhenti.
Agas memeluk tubuh Deeva, mengusap lembut kepala gadis kecilnya.
"Maafkan aku, Kak. Maafl" ucap Deeva, lirih.
"Kakak maafkan, asal jangan bertingkah seperti ini lagi!" "Namun, Kakak juga jangan bilang akan pergi dari hidupku! Aku tidak tahu apajadinya hidupku tanpa ada Kakak di sisiku. Aku tidak sanggup, Kak. Memikirkannya saja, aku tak kuat," ujar Deeva lirih.
Agas mengeratkan pelukannya. "Kakak hanya menginginkan kamu bahagia, Adeeva. Dengan siapa pun itu. Namun, jalan yang kamu pilih ini tidak membuatmu bahagia sama sekali, malah membuatmu terluka semakin dalam."
"Aku tahu," desis Deeva lirih.
"Lepaskan laki-laki itu yang telah kamu rampas kebahagiaannya! Ingat, kamu bukan Darma, yang gampang menyakiti orang lain!"
"Aku memang akan melepaskannya, Kak. Namun, tidak sekarang. Saat pemikahan kami baru berjalan dua bulan."
"Baiklah! Berjanjilah untuk mengakhiri semua itu dengan baik-baik tanpa menyakiti siapa pun! Minta maaflah kepada orang yang telah kamu sakiti! Karena, memaksakan kehendak itu menyakiti orang lain, Adeeva."
Deeva mengangguk dalam pelukan Agas. Sebenarnya, ia akui, ia menjadikan Dipta pelarian akan masalah hidupnya. Kesepiannya. Kehilangan akan cinta pertamanya pada Agas. Meskipun Deeva juga mencintai Dipta, ia tak bisa melupakan Agas begitu saja. Benar kata orang, cinta pertama itu takkan memahami.
Deeva dan Agas hanya fokus dengan dunia mereka. Melupakan bahwa di ruangan itu juga ada orang lain yang duduk di sofa, di tengah gelapnya ruangan, mendengar dengan baik semua percakapan itu dengan hati remuk redam.
Deeva memang tak pemah mencintaiku sejak dulu. Aku yang terlalu berharap padanya bertahun dulu, batin Dipta, pahit.
Pagi menjelang. Deeva kembali terlelap dalam tidur karena kelelahan setelah obrolan dini hari dengan Agas yang sangat memakan waktu.
Ruangan itu kosong. Agas telah meninggalkan ruangan itu setelah mengecek bahwa Deeva baik-baik saja. Ia dokter yang punya kesibukan dan rutinitas harian di rumah sakit.
Dipta masih bergeming. Tetap duduk dengan tenang di sofa ruangan itu. Hingga beberapa menit kemudian, Deeva kembali membuka matanya.
Tubuh Deeva sudah tampak lumayan segar. Ia bangun dan duduk di atas ranjang, lalu meminum air yang tersedia di nakas samping ranjang.
Deeva masih tidak menyadari bahwa ada orang lain di situ. Semalam waktu terbangun pun dan berbicara dengan Agas, ia tidak tau bahwa suaminya berada di ruangan yang sama.
Deeva turun dan berniat mau ke kamar mandi. Namun, ketika kakinya menyentuh lantai, ia mendadak ambruk. Kakinya lemas sekali, karena ia belum pulih benar.
Dipta yang melihat istrinya terjatuh, melangkah mendekatinya. Lalu, dengan sigap, membopong tubuh istrinya. Membuat Deeva terkesiap.
"Ka ... Kakak ada di sini?" ucap Deeva terbata.
Dipta tidak memedulikan keterkejutan istrinya. Ia dengan santai membawa istrinya ke kamar mandi sambil mendorong tempat cairan infus itu tergantung. Didudukkan istrinya itu di atas toilet. "Kau mau buang air atau apa?" tanya Dipta, tanpa memedulikan wajah Deeva yang sudah memerah, karena malu.
"Tidak. Aku hanya ingin membasuh wajah saja dan sikat gigi," jawab Deeva.
Dipta berjongkok di depan istrinya. Dengan cekatan, dibasuh wajah istrinya dengan air.
"Aku bisa sendiri, Kak," ucap Deeva.
Namun, Dipta tetap melanjutkan kegiatannya. Diusap wajah istrinya dengan air. Setelah itu, ia memberikan handuk kecil pada istrinya. Diberikannya juga pasta gigi dan sikat gigi. Dengan ragu, Deeva menerimanya sebelum menyikat gigi.
Wajah Dipta tampak tenang, tetapi ia seperti memendam gemuruh amarah. Rahangnya mengeras sedari tadi.
"Kak, keluarlah! Aku sekarang sudah tidak apa-apa. Alm mau mandi. Rasanya, tubuhku lengket semua," ujar Deeva
Ceklek. Pintu kamar mandi dikunci. Membuat Deeva mengerutkan keningnya.
"Kak, kok, pintunya dikunci?" "Bukannya kau ingin mandi?"
"Ya, tetapi aku bisa mandi sendiri."
"Aku akan mengawasi. Siapa tahu, kau bertindak gegabah lagi dan mati kedinginan di bawah shower," ujar Dipta dingin.
Deeva terkesiap. "Kakak yang membawaku ke sini?" Ia sempat berpikir bahwa Agaslah yang telah menemukannya sekarat dan membopongnya ke rumah sakit.
Seakan bisa membaca pikiran istrinya, Dipta berkomentar keras-keras, "Kaupikir siapa yang membawamu? Agas? Laki-laki yang sangat berarti di hidupmu itu?"
"Akuuu ... hmmm ... aku ...." Deeva seperti tidak bisa berkata-kata. Ia berpikir, suaminya itu belum akan pulang secepat itu. Dan masih asyik bersama Nadia.
"Apa yang membuatmu melakukan tindakan bodoh itu?" tanya Dipta.
"Malam itu aku hanya pusing, lalu jatuh pingsan di bawah shower yang menyala," jawab Deeva.
"Bohong! Kau bohong, Deeva!" Bentakan Dipta menggema di kamar mandi rumah sakit itu.
"Dari mana Kakak tahu, aku berbohong? Kakak tidak berada di sana malam itu."
Dipta tersenyum sinis. Senyum itu terlihat menakutkan bagi Deeva. "Seorang wanita yang tidak membagi kisah kepada pasangannya itu hanya karena satu alasan. Karena, wanita itu tidak mempercayai laki-laki itu, tidak percaya bahwa cinta ada pada sosok lelaki itu. Jadi, jangan berbesar hati jika Adeeva mengatakan bahwa ia mencintaimu! /tu bisa saja hanya lip service." Ucapan Agas yang menohok hati itu temgiang-ngiang di telinganya. "Lupakan masalah itu! Bukankah kau ingin mandi? Mandilah!" ucap Dipta dingin.
"Aku tidak mungkin mandi di hadapan Kakak, kan?" "Kenapa? Kau ingin mandi di hadapan Agas? Kalau di
depannya, kau akan dengan senang hati membuka segalanya, bahkan bentuk tubuhmu sekalipun?" sindir Dipta, sinis.
"Apa maksud Kakak? Aku tidak akan melakukan itu. Kakak pikir, aku wanita amoral sampai melakukan tindakan begitu?"
"Kau memang wanita amoral sedari awal, karena memaksaku untuk menikahimu!"
"Maafkan aku soal itu! Namun, bukankah aku sudah berjanji akan melepaskan Kakak?" ucap Deeva, tidak kalah sengit.
"Setelah kau melepaskanku, kau akan pergi pada Agas, laki-laki bak malaikat itu, yang tidak tahu diri menunjukkan secara terang-terangan bahwa ia mencintai istri orang lain?"
"Jangan berkata tidak-tidak tentang Kak Agas! Kakak
tidak tahu apa pun tentangnya!"
"Tentu, aku tidak tahu apa pun. Aku hanyalah orang
asing."
"Syukurlah kalau Kakak sadar diri!" ucap Deeva. Membuat amarah Dipta semakin memuncak.
Dicengkeramnya bahu Deeva. Matanya menatap Deeva tajam. "Aku akan menguji apa benar kau mencintaiku, seperti yang selalu kauucapkan. Jadi, berikan kehormatanmu padaku! Bukankah itu hakku sebagai suami? Aku meminta hakku sekarang sebelum kau melepaskanku. Baru semua itu impas. Bukankah kau menginginkanku?"
Mata Deeva terbelalak lebar. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Suaminya menjelma bak sosok singa lapar, yang sangat mengerikan.
Tanpa menunggu jawaban Deeva, Dipta mencium bibir Deeva dengan ganas. Direnggutnya kehormatan Deeva dengan sekali terjangan. Dipta tidak memedulikan keadaan Deeva yang dalam masa pemulihan. Nafsu telah merenggut seratus persen logika sehatnya.
Kesadaran menghantam Dipta ketika melihat darah mengalir dengan deras dari tangan istrinya yang infusnya terlepas. Wajah istrinya sudah pucat dalam dekapannya.
Dipta termangu sesaat sebelum melepaskan pelukannya.
Dipta langsung berbalik, merapikan kembali pakaiannya yang kusut masai. Meninggalkan Deeva begitu saja.
Sebelum ia membuka pintu kamar mandi, ucapan Deeva menghentikan langkahnya. "Jadi, di mata Kakak, aku hanya wanita sehina itu?" histeris Deeva.
Dipta yang akan membuka pintu kamar mandi sempat terdiam. "Benahi pakaianmu! Jangan membuat orang lain curiga! Kalau kau menganggap dirimu hina, baguslah! Namun, bukankah itu sudah kewajiban istri melayani suami? Sekarang lepaskan aku dari hidupmu!" ujar Dipta.
Setelah itu, ia benar-benar pergi, meninggalkan Deeva yang menangis pilu.
-- Next Chapter--
Bab 15
Ruangan rawat rumah sakit begitu hening. Tidak ada siapa pun, kecuali sang pasien yang menempati ruangan itu.
Deeva hanya terdiam di ranjangnya, menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Bajunya yang basah tidak dihiraukan. lnfusan yang lepas dari tangan pun tidak dihiraukan. Ia hanya terdiam terpaku dalam lamunan, karena kejadian tadi menyakiti hatinya begitu dalam, sehingga tubuhnya tidak merasakan kedinginan, akibat baju yang basah atau kesakitan karena tangannya terluka.
Agas masuk ke ruangan itu. Terkejut, mendapati tatapan kosong itu. Mata Agas melotot sempuma ketika melihat selang infus terlepas dari tangan gadis kecilnya.
Ia bergegas menghampiri Deeva. Setelah semakin dekat, ia menyadari bahwa baju Deeva basah kuyup. Membuat emosinya naik. "Apa yang kamu lakukan pada tubuhmu, Adeeva? Sampai kapan kamu akan terns menyakiti dirimu sendiri?" pekik Agas, marah.
Deeva terperanjat dari lamunan. Ditatapnya Agas yang sedang berdiri menjulang di samping ranjang. Sorot mata Agas tertuju sangat tajam padanya.
"Apa kamu tidak sayang pada tubuhmu, hah? Kenapa selalu bertindak bodoh seperti ini? Kakak begitu menyayangimu, tetapi kenapa kamu tidak menyayangi dirimu sendiri?" pekik Agas lagi.
Agas mengambil jarum suntik, lalu akan menusukkan ke tangannya. "Apa kamu ingin Kakak melukai diri juga seperti ini? Bukankah Kakak sudah bilang jika kamu melukai dirimu sendiri, Kakak akan melukai dirijuga?!" pekik Agas lagi.
Agas menatap Deeva. Begitupun dengan Deeva. Ditatap sayap pelindungnya itu dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Hatinya teriris.
"Jangan lakukan itu, Kak! Jangan sakiti dirimu, karenaku! Maaf!" ucap Deeva lirih. Air mata langsung membanjiri wajah pucatnya.
Agas menyimpan suntikan itu. Tanpa berkata apa pun, langsung dipasangnya kembali infus itu ke tangan Deeva. Deeva menatap Agas yang melakukan pekerjaannya.
Setelah selesai memasangkan selang infus, Agas duduk di ranjang Deeva. Menatap Deeva dengan seksama, mengusap air mata dari pipi gadis itu. "Apa yang terjadi? Hmmm? Apa yang membuatmu seperti ini? Ceritakan pada Kakak!" tanya Agas.
Deeva kembali menangis. Kali ini tangisan yang pilu dan terdengar menyayat hati. Ia tidak bisa menceritakan kejadian itu pada Agas, soal apa yang telah terjadi padanya.
Melihat Deeva hanya menangis dan tidak mau membuka mulutnya, Agas hanya bisa menghela napas. Ia tahu, Deeva tidak ingin bercerita padanya.
Agas langsung merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan dan memeluknya erat. Diusap pelan bahu gadis itu serta membisikkan kalimat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kakak hanya ingin kamu bahagia, Adeeva, walau bukan dengan Kakak. Kalau melihatmu menangis seperti ini, apa yang harus Kakak lakukan, hmmm? Memaksamu untuk hidup dengan Kakak, walau di hatimu ada orang lain?" ucap Agas, parau.
Agas ikut menangis. Kehidupan yang dijalani gadis yang dicintai itu begitu banyak Iuka. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Agas tahu, Deeva menginginkan Dipta yang membuatnya bahagia.
"Kakak mencintaimu, Adeeva. Dari dulu sampai sekarang. Namun, Kakak tidak bisa memaksamu untuk mencintai Kakak, bukan? Karena, itu malah akan semakin melukaimu. Jadi,
apa yang harus Kakak lakukan untuk membuatmu tersenyum bahagia di hari-harimu?" ucap Agas lagi.
Deeva hanya menangis. Ia tidak berbicara apa pun. Ia lelah dengan semua itu. Kalau ia masih seperti dulu, ia mungkin dengan senang hati akan berlari ke samping Agas, menjalani sisa hidup bersamanya. Namun, keadaannya kini tidak seperti dulu lagi. Kini, ada seseorang yang mengisi hari-harinya, mengikatnya, tetapi tidak menginginkan untuk berada di sisinya.
***
Harl, minggu, bulan pun berlalu. Tiga bulan tepatnya setelah kejadian itu. Kejadian di mana suarninya menyakiti dirinya begitu dalam, Deeva menyibukkan diri di manajemen artis kakeknya. Berharap, dapat bertemu suarninya lagi dan menyelesaikan segalanya. Setelah kejadian itu, suarninya menghilang, tidak pernah pulang ke apartemen sama sekali atau meneleponnya.
Deeva hanya melihat suarninya lalu lalang di berbagai channel televisi. Meski ia bekerja di manajemen tempat Dipta bernaung, tetap saja tidak pernah berhasil bertemu dengan suarninya sama sekali. Sebuah mobil terparkir di halaman manajemen artis itu.
Tidak berapa lama, Bayu keluar dari dalam mobil.
"Dip, lu hams masuk. Ini pembaharuan kontrak lu. Mau tidak mau, lu hams ikut ke dalam," ujar Bayu.
Dipta keluar dari mobil dengan malas, lalu berjalan beriringan dengan Bayu, masuk ke manajemen tempatnya bemaung.
Semua karyawan wanita menatapnya tanpa berkedip. Walau semua wanita tahu bahwa Dipta sudah beristri, tetapi pesonanya tetap tidak bisa pudar, malah semakin kuat menjerat wanita-wanita itu.
Dipta masuk ke lift dengan hati tidak kaman. Karena, semakin ia masuk ke gedung itu, semakin besar kemungkinan ia bertemu dengan istrinya yang selama ini dihindari.
Pintu lift terbuka. Terhenti tepat di lantai tempat tujuan mereka, di mana ruangan kakek Deeva berada.
Dengan langkah serasa berat, Dipta masuk ke ruangan, lalu menemukan seorang laki-laki yang sudah berumur senja sedang duduk di kursi kekuasaannya.
"Malam, Kek!" sapa Dipta.
"Malam! Ini pembaharuan kontrakmu. Tinggal kamu tanda tangani!" ucap kakek Deeva.
Tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang dilontarkan kakek Deeva, karena yang ia tahu, rumah tangga cucunya baik-baik saja, seperti yang Deeva selalu ceritakan padanya. "Deeva sedang menemui klien. Jadi, ia tidak ada di kantor. Ia sibuk sekali akhir-
akhir ini. Kamu tidak masalah istrimu sering pulang malam, kan?" tanya Adianto.
"Oh, itu! Hmmm ... tidak masalah, Kek. Saya ... juga ... sering ... pulang malam. Jadi, Deeva tidak perlu suntuk di apartemen ... kalau saya tak ada," jawab Dipta, sedikit terbata.
"Ia gadis yang malang. Andai Kakek tahu bahwa dengan mempertahankannya di keluarga ini membuatnya tersakiti, mungkin dulu Kakek akan membiarkannya hidup bersama ibu kandungnya," ucap Adianto, seperti menerawang masa lalu.
"Maksud Kakek?" tanya Dipta.
"Deeva sudah menceritakan padamu, kan, soal keadaan keluarga? Pasti sudah. Makanya, Kakek berbicara seperti ini padamu. Kakek menyesali perbuatan Kakek dahulu. Andai saja Kakek dulu tidak egois, memaksanya untuk menjadi bagian keluarga Hardinata, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
Dipta mengerutkan kening. Ia benar-benar terkejut soal kenyataan hidup istrinya yang diceritakan Adianto itu. Meskipun, tidak secara eksplisit diutarakan, Dipta bisa menarik kesimpulan bahwa Deeva bukan anak dari istri ayahnya Deeva yang sekarang. "Dulu Kakek hanya takut, dengan membiarkannya hidup bersama ibu kandungnya, suatu hari ia akan merusak reputasi keluarga Hardinata dengan merninta pengakuan bahwa ia masih bagian keluarga ini. Namun, ketakutan Kakek itu hanya membuat semua orang terluka. Hmmm, maaf, Kakek malah berkeluh kesah
padamu! Kau pulanglah! Pasti sudah lelah bekerja seharian."
"Ya sudah, Kek! Saya pamit dulu."
"Sampaikan salam sayang Kakek untuk istrimu!" Dipta hanya mengangguk, lalu berlalu dari ruangan itu.
Perkataan Adianto terns terngiang di pikiran ketika ia keluar dari ruangan itu. "Kalau saja dulu Kakek membiarkannya hidup dengan ibu kandungnya "
Bayu yang menunggu di luar, hanya menatap heran Dipta yang keluar ruangan dengan wajah serius. "Kenapa lu, Dip?" tanya Bayu, menepuk pundak sobatnya itu.
"Tidak kenapa-kenapa. Gue hanya lelah. Ayolah, kita pulang!" jawab Dipta.
"Pulang ke apartemen gue lagi?" "Rm.mm."
"Sampai kapan lu numpang di apartemen gue? Ada masalah apa, sih, lu sama Deeva? Ini sudah tiga bulan, Dip. Ada masalah itu diselesaikan, bukan malah menghindar," ucap Bayu, menasihati.
"Gue tidak butuh nasihat kali ini. Gue tahu apa yang gue lakuin," ucap Dipta, sinis.
"Oke, deh, terserah lu!" ucap Bayu, pasrah.
Sesampainya di apartemen Bayu, Dipta kembali terdiam. Kembali tenggelam dalam pikirannya tentang perkataan Adianto.
Sementara itu, di apartemen lain, seorang wanita keluar dari apartemen dengan pakaian hangat menutup tubuhjenjangnya.
Ia berlari-lari kecil, menghampiri gerobak nasi goreng yang tidak jauh berjualan dari situ.
Deeva melihat jam. Sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, ia mendadak bangun dari tidur, lalu ingin sekali makan nasi goreng.
Di situlah Deeva kini berada. Duduk di salah satu kursi yang disediakan penjual nasi goreng.
"Lagi ngidam, yah, Neng? Kenapa beli sendiri? Ke mana suaminya?" tanya si abang penjual nasi goreng.
"Ya, nih, Bang, lagi ngidam! Suami saya sudah tidur. Kasihan kalau dibangunkan! Ia sudah kerja seharian," jawab Deeva dengan senyum miris, karena nyatanya, suarninya tidak ada di sampingnya sama sekali.
"Neng baik sekali! Istri saya dulu kalau ngidam mintanya aneh-aneh. Bahkan, saya sering bangun dini hari seperti ini, nyari makanan. Makanya, saya jualan sampai dini hari, supaya para suarni yang nyari makanan untuk istrinya yang ngidam, tidak susah. Walaupun, yang ngidam, tidak semuanya pengin nasi goreng," ujarnya, sambil terkekeh.
Abang penjual itu pun memberikan nasi goreng yang masih mengepul asapnya kepada Deeva. Aromanya langsung membuat Deeva ngiler. "Ayo, Neng, dimakan! Mumpung anget." Deeva dengan senang hati memakannya. Nafsu makannya benar-benar meningkat kala dini hari, tetapi ketika pagi menjelang, Deeva selalu muntah-muntah. Agas bilang itu biasa untuk awal kehamilan, biasanya disebut morning sickness.
Agas yang mengetahui pertama kali bahwa Deeva hamil. Walaupun ia bukan dokter kandungan, tetapi insting dokter biasanya tajam.
Deeva sering mengeluh mual dan muntah di pagi hari pada Agas. Agas langsung menyuruh dirinya mengecek sendiri pakai testpack. Hasilnya positif. Awalnya, Deeva terkejut, tetapi makin ke sini, ia merasakan kebahagiaan tidak terkira bahwa dirinya tidak sendirian lagi. Ada seseorang yang hidup di dalam perutnya. Ada seseorang yang menemaninya. Ia tidak peduli, suaminya menghindari dan juga tidak menginginkannya. Deeva tidak mempermasalahkan lagi hal itu, karena sekarang ada yang menginginkannya. Menginginkannya untuk menjadi seorang ibu. Itu sudah lebih dari cukup baginya.
Deeva tetap akan melepaskan Dipta, laki-laki yang mengisi hatinya, memberikan kebahagiaan yang sudah ia rampas dengan seenaknya. Ia tidak akan memberitahukan bahwa di dalam perutnya sedang tumbuh darah daging Dipta. Ia akan menutupi soal kehamilan itu dari suaminya sampai kapan pun. Karena, Deeva yakin, kehamilan itu malah akan membuat Dipta semakin terbebani.
"Berapa bulan, Neng, us1a kandungannya?" tanya s1 abang lagi.
"Tiga bulan, Bang," jawab Deeva sambil mengusap perutnya dengan senyum semringah.
***
Deeva terbangun di pagi hari, dengan tubuh menggigil dan bersin-bersin. Pasti karena semalam ia lumayan lama berada di luar, sehingga ia terserang flu seperti itu.
Rasa mual kembali menyerang. Deeva kembali memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
Telepon berdering. Dengan langkah lunglai, ia mengangkatnya.
"Pagi, Cucuku! Jangan lupa hari ini kau harus bertemu dengan klien, menggantikan Kakek. Karena, Kakek tidak bisa datang, harus mengecek kesehatan rutin," ucap Adianto dari seberang telepon.
"Baik, Kek! Aku tidak lupa, kok. Kakek yang tenang saja, eek kesehatannya! Aku bisa meng-handle semuanya."
Setelah percakapan di telepon itu, Deeva bersiap ke kantor. Diminumnya teh min untuk menghilangkan rasa mual.
Deeva keluar dari apartemen menuju mobilnya terparkir. Dilajukannya mobil itu menuju kantor. Itulah rutinitas Deeva sehari-hari tanpa ada Dipta di sisinya.
Di sisi lain, Dipta juga tampak menggigil dalam tidur. Berkali-kali ia bersin dan batuk, membuat Bayu yang sedang membuat sarapan, kembali masuk ke dalam kamar. Dirabanya kening Dipta dan ia terkesiap.
"Panas sekali!" pekiknya, tertegun.
Dengan sigap, Bayu membatalkan jadwal Dipta hari itu, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk mengisi acara siang nanti.
Nadia yang sengaja berkunjung ke apartemen Bayu, dikagetkan dengan keberadaan seorang dokter di apartemen itu. "Apa yang terjadi?" tanya Nadia, khawatir. Dengan pindahnya Dipta ke apartemen Bayu, membuat Nadia lebih leluasa datang ke situ kapan pun ia mau.
"Ia kecapain. Kamu lihat saja sendiri di dalam! Aku mau mengantar dokter ini dulu ke depan," ucap Bayu.
Dengan tergesa, Nadia masuk, mendapati Dipta yang terbaring tidak berdaya di ranjang. Suhu tubuhnya begitu panas. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Nadia mengambil sebaskom air dingin, lalu mengompres Dipta dengan handuk kecil. Dipta sendiri tetap memejamkan matanya, tanda tubuhnya benar-benar lemah. Kepalanya sangat pusing, sehingga ia enggan untuk membuka mata.
Namun, Nadia membangunkannya. Terpaksa, Dipta pun bangun. Nadia menyuapinya bubur serta memberinya obat.
"Wajah kamu pucat banget, Dip!" ucap Nadia, cemas. "Ya, kepalaku pusing sekali!" ucap Dipta.
"Lu istirahat lagi saja, Dip! Gue sudah ngebatalin jadwal lu hari ini," ucap Bayu.
"Trims, Bay," ucap Dipta sembari kembali mengistirahatkan tubuh.
Nadia dan Bayu tetap menunggui Dipta di ruangan itu tanpa ada obrolan sama sekali. Mata mereka fokus menatap Dipta yang sedang terlelap.
"Deeva... ," gumam Dipta. Gumaman itu begitu pelan. Namun, di ruangan yang hening, membuat gumaman itu begitu jelas. "Deeva... ," gumam Dipta lagi.
Nadia terpaku di tempatnya. Begitupun dengan Bayu.
Gumaman itu membuat pikiran kedua orang itu berkecamuk. "Maaf, Deev!" gumam Dipta lagi. Kini bukan hanya gumaman, tetapi air mata juga meleleh dari sudut matanya yang terpejam.
Dipta bermimpi, melihat kebejatannya sendiri ketika mengambil kehormatan istrinya tanpa mengindahkan bahwa saat itu istrinya sedang sakit. Di dalam rnimpi, ia melihat air mata itu, melihat kesakitan itu, melihat Iuka itu. Istrinya begitu terluka dan semua itu karena dirinya.
Beribu-ribu jarum serasa menusuk hati, ketika sadar telah membuat istrinya terluka. Rasa sakit yang teramat sangat menghampiri kalbu. Selalu seperti itu sejak dulu. Sejak dipertemukan pertama kali dengan Deeva, saat dipertemukan kembali di suatu waktu, hingga saat itu, ketika dipersatukan dalam pernikahan paksa.
-- Next Chapter--
Bab 16
Matahati kembali ke peraduan. Langit yang biru bergantik:an langit hitam yang bergantungan bintang-bintang. Cantik, berkerlap-kerlip, memberikan keindahan di 1angit malam yang hitam itu. Tampak sebuah mobil meluncur mulus di jalan raya. Sang pengemudi tampak begitu fokus dalam kemudinya, hingga membawa sang pengemudi ke sebuah gedung tinggi menjulang. Sang pengemudi itu turun dari mobil. Tampaklah semua orang mengenali siapa ia. Ia adalah Adeeva, orang kepercayaan sang pemilik manajemen artis itu.
Deeva berjalan dengan langkah pelan. Sesekali, dipegang perutnya, kadang juga dipijat pelipisnya.
Ia masuk ke dalam lift yang akan membawa ke ruangan kakeknya. Ada berkas yang harus ia ambil sebelum pulang ke apartemen. Ia bersandar di dinding lift, menyandarkan tubuhnya yang sangat lelah. Flu yang menyerang tubuh membuat kepalanya pening, belum lagi janin yang dikandungnya. Dipejamkan matanya, bermaksud agar rasa pusingnya menghilang. Tangannya yang bebas, terns aktif mengelus perutnya.
"Yang kuat, yah, Sayang? Kita harus menjadi orang yang kuat," gumam Deeva.
Dibelai kandungannya, karena ia mulai merasakan kram di perut. Ada ketakutan dalam diri, takut terjadi apa-apa pada kandungannya. Namun, ketika diusap-usap selama beberapa lama, rasa kram itu menghilang dengan sendirinya, membuat Deeva lega.
"Nanti setelah mengambil berkas, kita langsung pulang dan istirahat, ya? Atau mau makan apa pun yang kamu mau, Bunda akan mencarikan dan kita akan memakannya," ucap Deeva, masih sambil menutup matanya.
Di dalam lift, ia hanya sendiri. Jadi, dengan leluasa, ia bisa mengobrol dengan bayi dalam kandungannya, seperti yang sering ia lakukan ketika sendirian.
Beberapa menit kemudian, lift berdenting, pertanda ia sudah sampai ke lantai yang dituju.
Deeva membuka mata. Rasa pusing itu semakin menjadi-jadi sampai semua pandangan menjadi gelap. Deeva tidak sadarkan diri.
Para karyawan yang melihat kejadian itu, langsung bergegas menghampiri tubuh atasannya yang sudah terkulai lemas itu.
"Ya ampun, badannya panas sekali!" pekik salah satu karyawan.
"Ayo, kita bawa ke rumah sakit!" ucap karyawan lainnya. Deeva pun dibawa ke rumah sakit milik keluarga Agas.
Para karyawan seperti tahu rumah sakit itu memiliki ikatan yang baik dengan keluarga Hardinata. Dan sudah tentu, rumah sakit terbaik di Jakarta.
Suster yang mengenali Deeva, langsung memanggil Agas. Dengan tergesa, Agas memeriksa Deeva.
Ia mendesah lega ketika Deeva hanya terkena flu. "Kau selalu membuatkujantungan, Adeeva," gumam Agas.
Agas membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh jenjang itu, lalu dikecupnya lembut kening Deeva. "Yang kuat kamu di sana, ya? Jaga Bunda, ya, Jagoan Kecil!" ucap Agas sambil mengusap perut Deeva yang belum terlihat besar.
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di apartemen Bayu, Dipta terbangun dari tidur. Ia membangunkan tubuhnya, lalu duduk di ranjang sambil menyandarkan tubuh di sandaran
ranjang, karena kepalanya masih pusing, walaupun tidak sepusing sebelumnya.
Diraba keningnya. Panasnya sudah menurun, hanya saja tubuhnya lemas sekali. Diamatinya ruangan itu. Ia melihat Bayu yang sudah tertidur di sofa, lalu ia pun melihat Nadia yang berdiri di samping jendela kamar Bayu sambil menatap keluar, entah apa yang dipikirkan tidak menyadari bahwa Dipta terbangun! "Nad, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Dipta dengan suara serak. Nadia berbalik, tersenyum manis, lalu menghampiri kekasihnya dan duduk di ranjang samping Dipta. "Kok, bangun?" tanya Nadia sambil mengusap keringat dingin yang membanjiri kening Dipta.
"Entahlah, tiba-tiba saja terbangun!" jawab Dipta.
Nadia menatap manik mata kekasihnya itu. Mata hitam tajam yang mampu membuat semua gadis bertekuk lutut kepadanya. Walaupun Dipta sedang sakit, tatapan mata itu tetap memancarkan kharismatik sang pemilik.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dipta, karena Nadia terns menatapnya lekat.
"Aku mencintaimu, Dip. Teramat sangat," ujar Nadia. Dipta terdiam, lalu tersenyum manis. Tangannya terulur,
mengusap pipi Nadia. "Aku tahu," ucap Dipta.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Nadia. Membuat senyum manis itu hilang di wajah tampan Dipta.
"Tentu saJa aku mencintaimu. Bukankah aku sering mengatakan itu padamu?" ujar Dipta sebiasa mungkin, walaupun hatinya entah kenapa, begitu pilu kala mulutnya berbicara seperti itu!
Tiba-tiba, ia teringat akan sebuah quotes "The Master's Sun", "Ketika hati tidak mengatakan yang sejujurnya, rasa sakit yang kaurasakan akan memberimu jawaban."
Quotes itu seperti menjadi jawaban ketika Dipta merasakan pilu di hati kala berbicara bahwa ia mencintai Nadia, sahabat kecil juga kekasihnya. Ia memang begitu mencintai Nadia dulu. Ketika Deeva tiba-tiba pergi dari hidupnya dan membuatnya terluka. Kini, setelah Deeva datang lagi untuk kedua kali dalam hidupnya, ia merasakan perasaan yang entah. Jika ia bilang, ia tak mencintai Deeva, sepertinya ia sangat memungkiri perasaan yang mulai ia rasakan kembali pada diri wanita itu.
"Kalau kamu mencintaiku, milikilah aku seutuhnya, Dip! Dengan ada buah cinta di rahimku. Mau tidak mau, wanita itu akan melepaskanmu secepatnya," ucap Nadia, membuat Dipta menatap kekasihnya itu tidak percaya.
"Apa maksudmu? Kamu mau aku menghamilimu seperti itu?" tanya Dipta tidak percaya.
Nadia mengangguk mantap, tetapi Dipta segera menggeleng kuat.
"Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan merusakmu," ucap Dipta, tegas.
"Bukankah kamu bilang, kamu mencintaiku? Jadi, lakukanlah!"
"Tidak, Nadia. Aku ... hmmm ...." Ucapan Dipta terpotong kala Nadia mencium bibir Dipta dengan penuh nafsu.
Awalnya Dipta terdiam, tak bereaksi, tetapi lama kelamaan, ia terhanyut dalam suasana itu dan membalas ciuman Nadia. Merasa mendapatkan respon, Nadia semakin berani melakukan aksinya.
Namun, ketika Dipta memejamkan mata, wajah Deeva tiba-tiba tergambar jelas dalam pikiran. Membuat Dipta refleks menjauhkan tubuh.
Nadia yang terdorong, sehingga tubuhnya hampir saja terjatuh, hanya tersenyum miris.
"Nad, maaf, aku ... hmmm ...." Ucapan Dipta lagi-lagi terpotong. Nadia kembali mengambil peranan.
Dipta hanya diam, tak bereaksi. Hatinya seolah benar-benar membeku.
Hati Nadia sakit, mengetahui Dipta sama sekali tak tampak menginginkannya.
"Maaf, seharusnya aku tidak bertindak seperti itu," ujar Nadia parau.
Hening. Tidak ada jawaban. Hanya terdengar dengkuran halus Bayu yang tidur di atas sofa.
Nadia menangis tersedu. Ia merasa, Dipta sudah tidak menepati janjinya bahwa hatinya akan tetap milik Nadia. Atau mungkin hati itu tidak pernah benar-benar terisi namanya. Mungkin ia hanya pelarian Dipta akan rasa sakitnya pada Deeva di masa lalu.
"Jangan melakukan hal seperti itu lagi! Jangan menghancurkan dirimu atas dasar cinta, meskipun itu untukku!" ucap Dipta, akhirnya. "Pulanglah! Ada Bayu di sini yang menemaniku. Jernihkan kembali pikiranmu!" ucap Dipta.
"Aku akan tetap di sini, menemanimu," ucap Nadia, lalu mendekat kembali ke arah Dipta.
Dipta hanya diam. Pikirannya benar-benar kacau. Perasaan sesak itu membuatnya begitu ingin bertemu dengan istrinya.
Nadia tidak menggubris Dipta yang tidak meresponnya. Ia tetap melingkarkan tangannya, memeluk tubuh kekasihnya itu.
Mata Dipta terpejam. Berusaha mengistirahatkan dirinya, tetapi bayangan wajah istrinya semakin nyata. Membuat rasa sesak itu semakin menjadi-jadi di dalam hatinya.
Ia terganggu ketika mendengar suara deringan telepon Bayu. Sebelum ia mengomeli sahabatnya itu, Bayu keburu mengangkatnya.
"Ada apa menelepon malam-malam?" ucap Bayu dengan suara mengantuknya. "Dipta sakit. Jadi, teleponnya aku silence. Ada apa memangnya? Kenapa dengan Deeva?" tanya Bayu, membuat Dipta membuka matanya. Dari tadi ia mendengarkan percakapan Bayu dengan seseorang di seberang sana. "Ia jatuh pingsan di kantor? Terns, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Bayu lagi ke seseorang di seberang sana yang kemungkinan staf manajemen artis tempat Dipta bernaung.
Dipta bangun dari tidurnya. Membuat Nadia yang sebenarnya tidak tidur pun ikut bangun.
"Dip, kenapa lu bangun?" tanya Bayu, heran.
Dipta tidak menjawab, malah ia berdiri, mengambil jaket yang tersampir di kursi, lalu berlalu dari kamar Bayu.
Nadia dan Bayu pun mengejarnya.
"Dip, kamu mau ke mana? Kamu masih sakit," ucap
Nadia.
"Lu mau ke mana, sih, Dip? Sudah, lu tidur lagi saja!"
timpal Bayu.
"Antar gue ke rumah sakit sekarang, Bay!" perintah
Dipta.
"Lu mau periksa?" tanya Bayu.
"Bukankah tadi orang yang menelepon lu bilang, istri gue
jatuh sakit? Makanya, antar gue ke rumah sakit!" ucap Dipta lagi, penuh penekanan.
"Namun, tadi ia nggak bilang Deeva dirawat apa nggak.
Soalnya, teleponnya terputus, karena gue ngejar lu," ucap Bayu. "Jangan banyak omong! Antarkan gue ke rumah sakit
sekarang!"
"Oke, kita ke rumah sakit."
Bayu dan Dipta berlalu meninggalkan Nadia yang tertawa pilu. Cerita cintanya begitu miris dan mengenaskan, tetapi ia selalu mencoba memungkirinya.
***
Seorang laki-laki tinggi tegap sedang menerima telepon. Tubuhnya yang tinggi menjulang berdiri di samping jendela besar ruangannya, sehingga ia bisa melihat kerlap-kerlip lampu mobil di bawah sana yang tampak sangat kecil. "Ia pingsan? Baguslah!" ucapnya. "Kenapa aku tidak mengganggunya tiga bulan ini? Karena, wanita itu sudah menderita tanpa aku mengacaukannya. Suaminya tidak menjenguknya? Tidak ada? Sudah kuduga. Aku suka, ia berpura-pura kuat seperti itu. Terns mata-matai ia! Jika kelihatan suaminya menjenguk, lalu kau melihat senyum kebahagiaan di wajah wanita itu, beritahu aku! Karena, aku akan langsung melenyapkan senyum itu."
Ucapan laki-laki tampan itu terdengar oleh sekretarisnya sedari tadi. Gadis berjilbab itu mengepalkan tangan. "Adarma, apa yang harus kulakukan terhadap laki-laki jahat sepertimu?" gumamnya pelan sambil menahan gejolak emosi di dalam dada.
Darma keluar dari ruangannya dan mendapati Anindya, gadis manis yang telah mencuri hatinya selama ini, sedang terpekur sendirian. "Kau sedang memikirkanku?" tanyanya dengan senyum penuh percaya diri.
"Bapak sudah mau pulang? Kalau begitu, hati-hati di jalan, Pak!" ucap Nindya, tidak menggubris pertanyaan Damia.
Darm.a hanya tersenyum. Matanya memancarkan cinta, juga harapan kepada gadis itu. Gadis yang diam-diam masuk ke dalam hatinya, karena kelembutan sikapnya. Tanpa Darma tahu bahwa gadis itu memiliki keterkaitan dengan dua wanita yang ia benci dalam hidupnya yakni Deeva juga seorang wanita selingkuhan ayahnya yang membuat Darm.a menghancurkan Adeeva perlahan-lahan.
Sementara itu, di tempat lain, Dipta berjalan dengan langkah lebar di koridor rumah sakit. Ia tidak mengindahkan pusing di kepala atau tubuh yang sebenarnya sangat lemas. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, tetapi Dipta tetap berjalan dengan terburu-buru.
Sesampainya di ruangan tempat istrinya selalu dirawat kala sakit, Dipta membuka pintu ruangan itu, lalu terlihatlah Deeva sedang tertidur pulas. Tidak ada infus yang tergantung di tangan atau alat medis lainnya. Dipta menyimpulkan bahwa istrinya tidak kenapa-kenapa, mungkin hanya butuh beristirahat saja.
Dengan sigap, dibopong tubuh istrinya itu. Membuat Deeva terbangun dari tidurnya.
"Apa yang Kakak laku ...." Teriakan Deeva tercekat di tenggorokan ketika melihat siapa yang membopongnya, membawanya keluar dari ruangan itu. "Kak Dip, apa yang Kakak lakukan? Turunkan aku!" ucap Deeva pelan. Entah kenapa, mendadak rasa gugup dan kerinduan itu membuncah, menjadi satu, ketika menghirup aroma tubuh suaminya yang tiga bulan tidak pemah sating bertemu.
Langkah Dipta terhenti ketika Agas menghadang langkahnya. "Turunkan ia! Ia sedang sakit, butuh istirahat," ucap Agas, berusaha meredam emosi.
"Aku tahu istriku sakit. Ia hanya butuh istirahat, kan? Ia bisa beristirahat di apartemen kami. Itu akan membuatnya lebih cepat sembuh," ucap Dipta.
Rahang Agas mengeras. Ia benar-benar tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah Dipta agar tidak membawa gadis kecilnya, karena bagaimanapun, laki-laki itu suami sah Deeva.
"Aku pulang, Kak. Nanti aku akan menemuimu. Aku tidak apa-apa. Kakak jangan khawatir!" ucap Deeva, memberi pengertian kepada Agas.
"Tentu saja kamu tidak akan apa-apa. Kamu bersamaku, bersama suamimu. Jadi, kau, Dokter Muda, jangan terlalu mengkhawatirkan istriku! Ia aman bersamaku," ucap Dipta, menatap tajam Agas yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dipta mengukir senyum kecil di wajahnya, lalu berlalu dari rumah sakit itu. Deeva hanya mengeratkan tangannya yang berada di leher suaminya, lalu diam-diam, ia juga tersenyum dengan tingkah aneh suaminya.
Dipta merasakan rasa sesak di dadanya kian menipis. Kehangatan tubuh istrinya seperti menghilangkan rasa sesak itu. Rasa sesak yang menyiksanya selama tiga bulan. Rasa sesak yang membuat hatinya ingin selalu bertemu dengan istrinya itu.
Tanpa mereka ketahui, seorang laki-laki yang selalu memata-matai kehidupan mereka, menelepon bosnya.
Darma yang sedang di dalam perjalanan pulang, mengangkat teleponnya yang berdering. "Lenyapkan senyum itu! Aku ingin, besok pagi senyum itu kembali lenyap," ujar Darma, sinis. Ditutup teleponnya, lalu menatap bayangan dirinya yang terpantul dari kaca mobil. "Setiap melihat senyummu, aku kembali teringat kepedihan ibuku, kepedihan yang membuatnya tidak bisa tersenyum bahagia sampai sekarang," gumamnya, tanpa perasaan.
-- Next Chapter--
Bab 17
Suasana di dalam mobil yang melaju itu begitu helling. Tidak ada percakapan sama sekali. Bayu yang mengemudikan mobil tampak sering mencuri-curi pandang lewat kaca spion, melihat sepasang suami istri yang bertemu kembali setelah sang suami bersembunyi di apartemen miliknya.
Bayu yang gemas dengan keadaan itu pun membuka suara. "Bagaimana kabarmu, Deev? Tadi katanya, kamu jatuh pingsan. Sekarang sudah baikan?" tanya Bayu.
"Sudah baikan. Hanya perlu beristirahat saJa. Kamu gimana kabarnya?" tanya Deeva balik.
"Kabarku tentu saja baik. Suamimu, tuh, yang tidak baik. Tadi pagi badannya panas banget. Sekarang juga masih panas," jawab Bayu.
Deeva melirik suaminya yang duduk di sampingnya. Sedari tadi, suaminya hanya menyandarkan tubuh di jok mobil sambil memejamkan mata.
Ragu-ragu, Deeva menempelkan tangannya di dahi Dipta dan hasilnya panas. "Gimana bisa sakit kayak gini, sih, Kak?" tanya Deeva, lebih ke dirinya sendiri, karena ia berbicara sangat pelan.
Bayu yang melihat kelakuan Deeva dan meyakini bahwa sahabatnya itu tidak tidur, hanya tersenyum sendiri. "Kaya pengantin barn saja, kamu, Deev, pakai malu-malu segala pegang suamimu sendiri," goda Bayu. Membuat wajah Deeva memerah seketika.
"Aku takut, ia marah kalau kusentuh, Bay. Kamu sendiri tahu, ia tidak suka padaku," ucap Deeva, pelan.
"Sudah, jangan ngomong yang aneh-aneh! Suamimu itu nggak tidur sebenarnya," ucap Bayu.
Deeva menutup mulutnya dengan tangan, lalu menjauhkan tubuh dari suaminya. Namun, sebelum tubuhnya sempat menjauh, sebuah tangan menahannya, lalu mata yang tadinya terpejam kini terbuka.
Deeva kaku di tempat ketika mata hitam itu menatapnya. "Aku sakit. Sudah seharusnya, bukan, seorang istri
mengurus suaminya? Jadi, jangan jauh-jauh dari sisiku! Mendekatlah!" ucap Dipta, menarik tangan Deeva, agar duduknya lebih dekat.
Dipta menyandarkan kepala di bahu istrinya, membuat panas dari kulit Dipta terasa di pundak Deeva. "Tubuhku lemas sekali," gumam Dipta.
"Ya ampun, kenapa badannya panas sekali! Apa kita perlu balik ke rumah sakit, Kak?"
"Aku tidak butuh rumah sakit, aku butuh kamu," ucap Dipta.
Deeva mencerna perkataan itu dengan perasaan campur aduk di hatinya. Namun, ia kembali menghilangkan perasaan itu. Perasaan yang akan menghalangi langkah untuk melepaskan suarninya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di apartemen. Dipta langsung membaringkan diri di ranjang. Sementara Deeva, mengantarkan Bayu dulu sampai pintu apartemennya. "Besok aku ke sini lagi. Di tanganmu, pasti tuh anak besok sudah sembuh," ucap Bayu. "Mudah-mudahan," jawab Deeva.
Setelah kepergian Bayu, Deeva ke dapur, mengambil sebaskom air dingin beserta handuk kecil, lalu membawanya ke kamar.
Dipta melihat istrinya masuk ke kamar, lalu menyandarkan tubuh di sandaran ranjang.
"Lho, kok, Kakak malah bangun? Tidurlah lagi, Kak!
Badan Kakak panas sekali! Aku akan mengompresnya." Deeva duduk di ranjang samping suaminya.
"Kepalaku pusing kalau tidur terns."
Deeva tidak berkomentar, hanya membuka kemeja yang dipakai suaminya, lalu membersihkan tubuh suaminya dengan air dingin. "Aku akan mengambil baju tidurmu, Kak," ucap Deeva.
Beberapa menit kemudian, dengan sabar dan penuh perhatian, Deeva memakaikan baju tidur untuk suaminya, agar tubuh suaminya tidak lengket dan nyaman ketika tidur. "Sekarang tidurlah!" pinta Deeva.
Dipta kembali mengistirahatkan tubuh. Sebuah kain dingin ditempelkan di dahinya. Ketika kain itu sudah tidak terasa dingin, diangkat, direndam air dingin, lalu ditempelkan lagi di dahinya. Begitu terus-menerus. Sampai sebuah tangan lembut meraba keningnya, membuat Dipta merasa seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuh.
Setelah mengecek suhu tubuh Dipta sudah tidak sepanas tadi, Deeva mengganti bajunya dengan pakaian tidur, lalu tidur di samping suaminya. Ia tidur terlentang, menatap langit-langit kamar. Tangannya mengusap perutnya, tetapi usapan tangannya terhenti kala sebuah tangan menyentuh perutnya.
Mata Deeva berkaca-kaca. Tangan itu, tangan yang menyentuh perutnya, adalah ayah dari janin yang ia kandung, tetapi Deeva tidak akan pemah membeberkan kenyataan itu sampai kapan pun. Ia sudah berjanji, tidak akan membebani kehidupan Dipta lebih jauh lagi.
Dibalikkan tubuhnya, sehingga berhadapan dengan suarninya yang sudah terlelap. Tangan Dipta yang tadinya menyentuh perutnya, kini digenggam erat, lalu disimpan di pipi.
Deeva terus menatap wajah Dipta yang sedang tertidur. Wajah yang akan menjadi penyesalan dalam hidupnya, karena telah mengambil kebahagiaan laki-laki itu, laki-laki yang terukir namanya di hatinya.
Air mata Deeva menetes. Merasa berat, melepas seseorang yang diamat cintai itu. Namun, itulah yang harus Deeva lakukan. Ia ingin semuanya berakhir dengan baik. Itu saja.
Dipejamkan matanya, berusaha menghalau air mata yang terus berdesakan ingin keluar. Tangan yang sedari tadi digenggam erat, kini menggenggamnya tak kalah erat. Membuat Deeva membuka mata, yang langsung bersitatap dengan mata suarninya. "Kak, bolehkah aku mengatakan sesuatu?" ucap Deeva.
"Apa?"
"Aku ... aku ... hmmm ... aku merindukanmu." Akhimya kata-kata itu lolos dari bibir mungil Deeva. Tanpa Deeva duga, ia menangkap senyum hangat dari wajah suarninya.
"Aku tahu. Sekarang tidurlah!" ucap Dipta, lalu membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan.
Dicium kepala istrinya, lalu dihirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam. Kini Dipta tahu, perasaan sesak apa yang ia rasakan ketika jauh dari istrinya. Perasaan rindu. Rindu yang menghampiri ketika istrinya jauh.
Seperti biasa, Deeva merasa mual ketika pagi hari menjelang. Ia terbangun dari tidur, tetapi Dipta masih memeluknya erat. "Kak ...." Deeva berusaha membangunkan suaminya, tetapi apa daya, Dipta masih betah dalam tidurnya.
Dengan terpaksa, Deeva berusaha keras melepaskan pelukan itu. Karena, rasa mual itu tak bisa lagi ditahan.
Dipta terbangun dari tidur, akibat gerakan istrinya itu.
Dengan tergesa, diikuti istrinya itu ke kamar mandi.
Deeva memuntahkan isi perutnya yang hanya air saja. Ia terns muntah-muntah sampai sebuah tangan mengusap-usap punggungnya.
"Kamu sakit?" tanya Dipta khawatir.
Deeva menggeleng, lalu berdiri. Dibasuh mulutnya dengan air.
Dipta menatap istrinya dengan seksama. "Benar kamu tidak sakit?"
"Ya, Kak, aku tidak sakit, hanya selalu seperti ini kalau tiap pagi. Jadi, sudah biasa."
"Selalu seperti ini? Kamu sering muntah-muntah di pagi hari selama aku nggak ada di sini?" tanya Dipta. Ada sarat keingintahuan yang tinggi dari pertanyaannya.
"Tidak juga. Hanya sesekali. Gimana, Kak, sudah mendingan?" Deeva balik bertanya. Takut, Dipta menerka-nerka sesuatu yang sama sekali tak diinginkannya.
"Hmmm ... sudah mendingan."
"Syukurlah! Kakak basuh dulu wajah Kakak! Aku akan buatkan bubur," ucap Deeva, lalu bergegas keluar dari kamar mandi, menuju dapur.
Dipta pun membasuh wajahnya. Rasa segar menyergap tubuh. Tubuhnya sudah kembali seperti sedia kala.
Usai membasuh wajah, ia pun menghampiri istrinya yang sedang membuat bubur. Perasaannya begitu nyaman dan tentram, melihat istrinya sibuk dengan kegiatan.
Sebuah kerinduan tak biasa menyergap tiba-tiba. Keinginan untuk mendekap istrinya dan tak melepasnya lagi. Keinginan itu begitu kuat, hingga Dipta tak kuasa untuk tak memeluk istrinya dari belakang. Membuat Deeva terkejut.
"Kak, apa yang Kakak lakukan?" tanya Deeva, was-was.
Ia masih saja tak terbiasa dipeluk suarninya tiba-tiba. "Aku hanya ingin memeluk istriku."
Deeva mencoba tidak terganggu dengan kehadiran suarninya yang memeluknya begitu erat. Namun, ketika suarninya menciumnya, ia mulai terganggu. "Kak, aku sedang membuat bubur," ucap Deeva, berusaha melepaskan pelukan suarninya.
Deeva melihat tatapan gelap itu ketika suarninya membalikkan tubuh. Ia bertanya-tanya, apa kejadian buruk tiga bulan lalu akan terulang lagi? Ia masih trauma. Meski ia tahu, Dipta suarni sahnya. Bagaimanapun, ia tak ingin dikasari dan diperlakukan bak wanita amoral. "Maaf, Kak, buburnya gosong!" pekik Deeva, lalu mematikan kompor, karena buburnya sudah hitam. "Yah, gosong, hams buat lagi! Tunggu, ya, Kak, aku akan buatkan lagi buburnya."
Dipta berusaha keras menekan hasratnya yang sudah sampai ubun-ubun. Kini, ia merasa begitu gila, tiap kali melihat istrinya ada di dekatnya. "Aku mau mandi dulu," ucap Dipta, meninggalkan Deeva seorang diri di dapur.
Deeva mendesah lega, lalu melanjutkan kegiatan memasaknya.
Dipta mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia masih ingin memeluk dan mencumbu istrinya, tetapi Deeva tampak ketakutan padanya. "Ah, aku bisa gila ... !" pekiknya di bawah shower yang menyala.
Bel apartemen berdenting sesaat kemudian. Deeva pun membukanya.
"Mana Dipta?" tanya tamu itu, lalu masuk ke apartemen dengan seenaknya.
"Ia sedang mandi," jawab Deeva, lalu kembali ke dapur. "Dipta itu sedang sakit. Kenapa malah membiarkannya
mandi?"
"Ia sudah baik-baik saja. Kau tenang saja, Nadia!" "Kaupikir, aku bisa tenang, membiarkan kekasihku
bersama wanita sepertimu?" pekiknya tajam.
"Terserah! Lakukan apa yang kau mau!" ucap Deeva. Ia kembali mengaduk-aduk buburnya saat terdengar pintu kamar terbuka.
"Dip, kok kamu mandi? Kamu kan masih sakit?" "Aku sudah sehat, kok, Natl."
"Syukurlah! Aku buatkan kamu bubur. Dimakan, ya?"
Dipta melirik Deeva yang tidak menggubris percakapan mereka. Istrinya tetap fokus dalam kegiatan.
"Kok malah bengong? Mau aku suapin?" ucap Nadia.
Dipta hanya menurut. Situasi seperti itu membuatnya serba salah. Ia telanjur berjanji bahwa hatinya akan selalu menjadi milik Nadia. Kini, ia bingung apa yang harus ia katakan dan lakukan kala hatinya sudah dimiliki sepenuhnya kembali oleh Deeva. Dipta baru menyadarinya ketika kehadiran Deeva selalu membuat perasaannya hangat, selalu membuatnya rindu kala berjauhan, selalu membuatnya gila kala berdekatan, dan selalu membuat dirinya sendiri terluka kala mencoba melukai istrinya itu, seberapa besar pun ia ingin menyangkal perasaannya.
Dipta mencekal lengan istrinya yang hendak ke luar apartemen. "Mau ke mana kau?" tanya Dipta.
"Aku mau jalan-jalan dulu sebentar. Silakan kalian menikmati waktu bersama!" jawab Deeva, lalu berlalu begitu saja.
Dipta refleks berdiri dari duduk dan hendak mengejar istrinya, tetapi Nadia menahannya.
"Kamu sudah berjanji, Dip. Hatimu tidak akan berubah," Ucapan Nadia membuat Dipta terdiam. "Kenapa kamu mudah berjanji kalau tahu tidak akan bisa menepatinya? Kenapa, hah? Kamu senang mempermainkan perasaanku!" teriak Nadia.
"Maaf, kukira, ia sudah terhapus dari dalam hatiku, tetapi kenyataannya, tidak. Ia masih berdiam di ruang hati, yang berusaha kumungkiri," jawab Dipta, akhimya menyadari perasaannya.
"Jadi, kamu masih mencintainya? Dari awal sebenarnya aku ini apa dalam hidupmu, Dipta?!" teriak Nadia lagi dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Maafkan aku, Nadia! Aku sudah berusaha memungkiri perasaan ini, tetapi aku tidak bisa. Aku menginginkannya. Menginginkannya berada di sampingku."
Nadia tertawa bercampur tangis. "Lihatlah, wanita yang membuatmu menyakitiku sudah berulah kembali! Memang sedari awal, ia hanya ingin menghancurkan kita," ucap Nadia, sinis.
"Apa maksudmu?"
Nadia memperlihatkan sebuah artikel online dengan judul berita "Dipta Bagaskara dan Istri Dikabarkan Pisah Ranjang, Dikarenakan Orang Ketiga."
Dipta membaca berita itu. Di sana, disebutkan nama Nadia sebagai orang ketiga danjuga selama tiga bulan Dipta tidak pemah pulang ke apartemen.
"Bukankah ia akan melepaskanmu? Mungkin dengan cara seperti ini, ia melakukannya. Melepaskanmu tanpa ia rugi sama sekali," ucap Nadia lagi.
Dipta mencengkeram ponselnya kuat-kuat. Kemarahan juga Iuka, kini terpancar jelas di matanya.
Sementara itu, di sebuah taman, Deeva sedang duduk ditemani Bayu. Ia bertemu Bayu ketika baru saja keluar dari apartemen.
"Aku menemukan berita ini di internet. Bacalah!" ucap Bayu, lalu menyodorkan ponselnya pada Deeva.
Deeva menerima, lalu membacanya. Isi berita itu mampu membuat matanya membulat sempuma. "Kak Darma," gumamnya, tanpa sadar.
"Siapa Darma?" tanya Bayu, yang sebenamya sudah tahu bagaimana hubungan Darma dengan istri sahabatnya itu.
"Bay, aku harus pergi dulu. Nanti aku akan kembali. Aku hanya minta tolong, agar Dipta jangan sampai melihat berita ini! Ia pasti akan mengira, aku yang membeberkan rahasia rumah tangga kami. Kamu tahu sendiri, aku begitu buruk di matanya," ucapDeeva.
"Oke. Ia sendirian di apartemen?" tanya Bayu.
"Tidak. Ia bersama Nadia ...." Jawaban Deeva membuat dua orang itu terdiam mendadak.
"Aku harap, Nadia belum tahu berita ini," ucap Bayu, khawatir. Kini mereka berjalan tergesa menuju apartemen.
Deeva membuka pintu apartemen, yang langsung disambut tatapan membunuh Dipta.
Semuanya sudah terlambat. Dipta sudah tahu.
Dipta menghampiri Deeva, lalu mencengkeram kerah bajunya, membuat tubuh Deeva terangkat. Ia benar-benar marah di saat menyadari perasaan cintanya, tetapi istrinya malah melakukan hal picik semacam itu.
"Memang harusnya aku yakin, seorang kakak tiri Cinderella tidak mungkin berubah menjadi Cinderella yang baik hati. Dasar, Wanita Picik!" ucap Dipta marah. Matanya menatap tajam mata istrinya itu. "Apa ini caramu untuk melepaskanku? Dengan cara picik seperti ini hingga reputasiku hancur? Aku tak masalah andai kau tak melibatkan wanita yang kucintai dalam berita ini!" pekik Dipta.
Nadia tahu apa yang diucapkan Dipta itu bohong belaka. Dipta mencintai Deeva. Ia mengatakan itu hanya ingin membuat Deeva terluka.
Deeva memejamkan matanya. Semuanya sudah terlambat. Dijelaskan juga tidak mungkin. "Aku wanita gila. Jangan lupakan hal itu! Aku bisa melakukan apa pun yang kumau. Bukankah kau ingin lepas dariku? Aku mengabulkannya dengan cara seperti ini. Suka atau tidak, terima saja!" ucap Deeva, sinis.
Kata-kata Deeva sukses membuat Dipta terluka. Dilepaskan cengkeramannya, lalu memunggungi Deeva. "Pergi kau, Wanita Sialan! Pergi dari hidupku!" teriak Dipta.
Mata Deeva berkaca-kaca.
Bayu yang melihat kejadian itu tak habis mengerti kenapa wanita itu malah menyelesaikan masalahnya dengan cara seperti itu. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Deeva.
Dengan tangis tertahan, Deeva melajukan mobilnya ke gedung pertelevisian itu. Langkahnya lebar-lebar menuju ruangan kakaknya.
Deeva masuk tanpa mengetuk pintu dahulu, lalu bersimpuh di kaki kakaknya. "Aku mohon, Kak, hentikan berita itu!" ucap Deeva lirih di kaki kakaknya, Darma, dalang dari semua kejadian itu.
Deeva tahu, kakaknya akan terns mengacaukan hidupnya. Bahkan mungkin, akan menghancurkan orang yang membuatnya bahagia. Seperti waktu itu, bagaimana kakaknya mengancam akan berbuat sesuatu di hidup Dipta kala ia tahu telah tumbuh cinta di hati Dipta dan adiknya. Mungkin sekarang Darma memiliki firasat bahwa cinta itu kembali hadir. Jadi, ia berusaha melenyapkan benih-benihnya sebelum kebahagiaan tumbuh subur, memenuhi hati adik yang sangat ia benci.
***
Suasana ruangan itu begitu menyedihkan bila ada orang yang melihatnya. Seorang lelaki tampak tidak mengindahkan sang adik yang menangis di kakinya.
Ia hanya menatap keluar jendela dengan santai.
Laki-laki itu akan melangkah, tetapi terhenti oleh Deeva yang terns memohon padanya.
"Kalau aku menghentikan berita itu, apa yang bisa kaulakukan untukku, hah?" tanya Darma, akhimya.
"Terserah apa yang ingin Kakak lakukan dan inginkan dariku! Apa pun yang pantas untuk membayar semua itu," jawab Deeva dengan suara yang sudah serak.
"Yang kuinginkan adalah semua ini terjadi. Suamimu membencimu dan kalian berakhir. Sudah, itu saja!"
"Tanpa Kakak suruh pun aku akan melepaskannya, Kak.
Aku akan menjauh dari laki-laki itu."
"Tentu aku tahu hal itu. Namun, mengakhiri semuanya dengan baik-baik, itu sama sekali tidak menyenangkan bagiku. Jadi, biar berakhir seperti ini saja!"
"Kak, kumohon!" ucap Deeva.
"Dengarkan aku, Adik Manis! Aku membuatmu jadi korban dalam berita ini, sehingga dikasihani oleh masyarakat! Harusnya kau senang, tetapi kenapa kau meminta kakakmu untuk menghentikan berita ini? Ah, aku tahu! Kau tidak mau dibenci olehnya. Namun, ia sudah telanjur membencimu. Laki-laki itu sudah membencimu sedari awal. Jadi, sekarang lebih baik kau pulang. Karena, jelas-jelas, aku tidak akan mengabulkan permohonanmu."
Darma melangkah, melewati Deeva yang bersimpuh di lantai.
Dengan sekuat tenaga, Deeva memeluk kaki Darma.
Namun, dengan keras pula, Darma menyentakkan tubuh Deeva dari kakinya, hingga membuat Deeva terjengkang dan punggungnya membentur ujung meja.
Seketika, Deeva merasakan sakit menyerang punggungnya. Yang kemudian mengakibatkan perutnya kram. "Kak, bisakah untuk kali ini saja membiarkanku terlihat baik di matanya? Aku ingin mengakhiri semuanya dengan baik. Untuk urusan ini, aku ingin mengakhirinya sendiri tanpa ada campur tanganmu," ucap Deeva lirih, tampak tak menyerah.
Darma tertawa terbahak-bahak, lalu berbalik berlutut di hadapan Deeva yang duduk bersimpuh. Dicengkeram kedua pipi adiknya, agar bertatapan dengannya. "Aku tidak akan membiarkan hal baik itu menghampirimu, Deeva. Meskipun, hanya satu orang saja yang menganggapmu baik. Akan kuhilangkan imej baik darimu selamanya. Kaudengar?" ucap Darma tajam. Mata hitamnya berkobar, penuh api amarah. Ditatap mata adiknya yang sudah sendu. Mata itu begitu rapuh. Tubuh di hadapannya pun tampak begitu rapuh. Namun, Darma tidak peduli.
"Kalau begitu, biarkan aku mengakhiri hidupku! Bunuh aku, Kak! Kalau memang kehadiranku hanya membuat hidupmu dipenuhi kebencian."
"Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah. Menyakiti dan mengacaukan hidupmu sedemikian rupa sampai akhir hidupmu itu akanjauh lebih menyenangkan."
"Kenapa Kakak begitu membenciku? Apakah karena aku terlahir dari rahim wanita lain?"
"Tentu saja kau lahir dari rahim wanita lain, wanita yang tidak tahu malu! Yang hadir dalam keluargaku, menghancurkannya, dan meninggalkan kau sebagai pengingat Iuka!"
"Kakak pikir, aku mau dilahirkan, kalau aku tahu akan menyebabkan Iuka buat semua orang? Aku juga tidak menginginkan berada di dunia ini jika tahu hidupku akan begini, Kak."
Selalu ada yang mendengar percakapan sengit mereka, Anindya. Gadis itu sudah menangis dalam diam, mendengar dari selajendela ruangan Darma yang sengaja ia buka.
Sementara itu, di apartemen Dipta, sang pemilik tampak duduk diam. Amarah masih menguasainya.
"Ia seorang wanita, Dip. Sebenci apa pun lu kepada Deeva, tidak sepatutnya lu memperlakukannya seperti tadi," ucap Bayu. Membuat amarah Dipta kembali keluar ke permukaan.
"Tidak sepatutnya, kata lu? Apa yang ia lakukan pada gue itu sudah keterlaluan! Di saat gue menyadari semuanya, menyadari perasaan sayang gue, ia malah menghancurkannya!" pekik Dipta, nyalang.
"Salah sendiri lu terlambat menyadarinya! Lagian, kalau sudah tahu sayang sama Deeva, nggak seharusnya lu memperlakukannya seperti tadi. Justru, lu harus tunjukkan rasa sayang lu. Lu itu egois. Memangnya Deeva bisa baca hati lu? Memangnya lu sendiri tahu semua tentang kehidupan istri lu? Sebegitu yakinkah bahwa ia wanita yang tidak baik? Lu itu tidak tahu apa-apa! Lu hanya mementingkan perasaan sendiri, menyalurkan amarah padanya. Ia seorang wanita, Dip!
Diperlakukan seperti tadi itu, jelas akan membuatnya terluka parah. Lu harusnya rnikir!" ucap Bayu, menasihati.
"Oke, lu bener. Gue memang egois. Gue tidak tahu apa pun tentang hidupnya, bahkan tak pemah mencoba menanyakannya."
"Kalau lu tidak tahu apa pun tentang hidupnya, kenapa nggak lu cari tahu? Belum tentu apa yang diucapkan Deeva adalah kebenaran, Dip."
"Maksud lu apa?" tanya Dipta.
"Gue akan mengajak lu ke tempat yang mungkin bisa membuka mata lu akan semua kebenaran," jawab Bayu.
Bayu langsung menarik tangan Dipta dan membawanya ke gedung pertelevisian tempat Adarma Hardinata itu berkuasa. Walau ia sendiri tidak habis mengerti kenapa membawa Dipta ke sana. Entah kenapa ia yakin, Deeva pasti ke situ menyelesaikan masalah berita itu!
Dipta sendiri tetap mengikuti Bayu tanpa banyak berkilah.
Hingga sampailah mereka di lantai yang dituju.
Di ruangan itu tidak ada karyawan lain. Hanya khusus tempat sang CEO dan sekretarisnya bekerja.
Dipta dan Bayu berjalan perlahan, lalu memergoki sekretaris Darma yang sedang mengintip di sela-sela jendela yang terbuka.
Bayu memegang pundak gadis itu. Membuat Anindya syok, tetapi Bayu langsung membungkam mulutnya dengan tangan. "Sssttt ... biarkan kami juga melihat dan mendengar apa yang membuatmu tidak sadar akan kedatangan kami!" ucap Bayu.
Tanpa perlawanan, Anindya menggeser posisinya.
Bayu menempatkan Dipta paling depan. Ia di belakang Dipta. Dan gadis itu di belakangnya.
Mata Dipta terbelalak ketika melihat istrinya sedang bersimpuh dengan air mata berlinang. Pipi istrinya tengah dicengkram kuat oleh sang kakak. "Kenapa bisa seperti ini, bukankah hubungan mereka harmonis?" gumam Dipta dalam hati.
"Sekarang kau pulang. Aku ingin semuanya seperti ini.
Berakhir dengan dramatis," ucap Darma, lalu kembali berdiri. "Ini hidupku, Kak. Bisakah kali ini saja kau tidak mengacaukannya?"
"Berhenti berkata-kata, Gadis Sialan! Keluar kau dari ruanganku!" teriak Darma menggelegar.
Deeva tidak kehabisan akal. Ia mencoba berdiri dengan rasa sakit yang teramat sangat di perutnya. Lalu, kembali menghampiri kakaknya, memeluk dari belakang.
"Lepaskan! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" teriak Darma lagi.
Deeva melepaskan pelukannya. Lalu, berdiri tegak di hadapan Darma. Darma sendiri tetap menatap ke arah lain, mengabaikan adiknya yang keadaannya sudah kacau.
"Baiklah, Kak, aku akan menerimanya! Aku akan menerima akhir pemikahanku seperti ini."
Darma hanya tersenyum sinis. Sudah ia duga, adiknya akan menyerah begitu saja.
"Kak, aku hanya ingin bertanya kenapa Kakak tidak pemah membiarkanku bahagia?" tanya Deeva.
"Bukankah aku senng mengatakannya? Ketika melihatmu tersenyum, aku tidak suka, aku muak! Orang yang telah menyebabkan ibuku tidak pemah tersenyum bahagia sampai sekarang itu karena ulahmu."
"Ulahku? Bukankah aku 1m Juga korban, Kak? Aku terlahir karena kesalahan ayah dan ibuku. Hanya karena ketakutan Kakek bahwa aku akan menuntut pengakuan ayahku, aku dipertahankan di keluarga ini. Andai tidak pun, aku takkan menuntut pengakuan. Percuma! Papa tak mengacuhkanku, karena mengingatkan akan aibnya di masa lalu! Mama tidak pemah berbicara padaku, karena aku adalah lukanya! Kakak membenciku, karena aku melukai Mama! Kenapa kalian menumpahkan Iuka ini padaku? Menumpahkan semua amarah kalian padaku? Tidakkah kalian menyadari bahwa aku juga terluka, hah?" teriak Deeva dengan air mata tumpah ruah di pipi.
"Di tengah hidup yang diacuhkan keluarga, hidupku juga dikacaukan olehmu! Kaukira aku ini sekuat apa, Kak? Kalian merusak hatiku dari berbagai sisi!" teriak Deeva lagi.
"Terima saja! Itu sudah takdir hidupmu. Jangan mengeluh!" ucap Darma sekenanya.
"Bisakah satu kali ini saja hentikan berita itu, Kak? Aku mohon untuk terakhir kalinya. Aku hanya ingin mengakhiri pernikahanku dengan baik-baik." Lagi-lagi, Deeva memohon. Membuat Darma berang, lalu mencengkeram bahu Deeva.
"Sekali lagi kau memohon, aku akan menghancurkan laki-laki itu. Menghancurkan karimya tanpa tersisa. Jadi, tutup mulutmu! Berhentilah untuk mengernis dan memohon kepadaku! Sekarang keluar!" Suara Darma menggelegar. Didorong tubuh Deeva menjauh dari hadapannya.
"Apa dengan melakukan semua ini, kau bahagia, Kak? Kalau memang dengan menghancurkan hidupku membuatmu bahagia, aku terima. Walau bagaimanapun, kau tetap kakakku. Kita berbagi darah yang sama. Aku rela, hidupku tidak bahagia, yang penting kau selalu bahagia dalam hari-harimu."
Ucapan Deeva menyentakkan hati Darma. Apa ia bahagia melakukan semua itu. Jawabannya tentu tidak, ia hanya puas melihat Deeva terluka.
Darma yang tengah tenggelam dalam pikiran tidak menyadari pintu ruangannya terbuka. Dipta masuk, mencengkeram bahu Danna dan melayangkan tinju ke wajah tampannya.
"Berengsek! Manusia macam apa kau sampai tega menyakiti adik sendiri?" teriak Dipta, marah.
Darma terkapar di lantai, dengan Dipta yang terus memukulnya tanpa ampun.
Dipta mendengar semuanya. Semua kenyataan itu membuat hatinya sakit dan marah sekaligus.
Bayu berusaha melerai perkelahian itu. Sementara Deeva, wanita itu langsung meninggalkan ruangan tempat suami dan kakaknya berkelahi.
Ia berjalan dengan tergesa. Bukan karena takut dikejar suarninya yang tahu semua kehidupan menyedihkannya, tetapi karena perutnya kali ini merasakan sakit teramat sangat. Ia takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.
Deeva mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Digigit bibir demi menahan rasa sakit di perutnya. "Yang kuat, ya, Sayang? Semuanya akan baik-baik saja," gumamnya lirih pada kandungannya.
Darah segar mengalir, mengucur deras di kakinya. Air mata Deeva sudah berlinang ketika akhirnya ia sampai di parkiran rumah sakit.
Ketika ia akan keluar, rasa sakit itu semakin menjadi. Dengan tangan gemetar, Deeva mengambil teleponnya. "Kak Agas, sakit! Perutku sakit banget ... !" rintih Deeva, lirih.
Agas yang mendengar rintihan itu lewat telepon langsung s1gap berdiri dan berlari dari ruangannya. "Di mana kamu, Adeeva?" tanya Agas. Setelah mendengar jawaban Deeva akan posisinya, ia berlari tergesa.
Hatinya mencelos ketika mendapati gadis kecilnya sudah tidak berdaya. Darah sudah memenuhi kakinya. Mata gadis kecilnya itu menatap nanar dengan air mata yang terns meleleh dari sudut mata.
"Kak, tolong selamatkan anakku!" ucap Deeva lirih sebelum tak sadarkan diri.
Dengan gemetaran, Agas membopong tubuh rapuh itu.
Membawanya ke ruangan UGD untuk ditangani.
Dokter spesialis kandungan yang bekerja di rumah sakit itu pun langsung memberikan pertolongan. Agas berdiri di samping, menunggu penanganan itu selesai.
Dokter kandungan itu menepuk bahu Agas, lalu menggeleng. "Janinnya tidak bisa diselamatkan. Saya akan siapkan ruang untuk melakukan kuretase," ucap dokter itu.
Seperti ada halilintar yang menghantam hati, Agas menangis. Dengan lunglai, ia berjalan ke arah Deeva yang tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Agas langsung memeluk gadis kecilnya itu, lalu menangis tersedu-sedu.
"Adeeva, apa yang harus Kakak lakukan? Kenapa semua ini begitu menyesakkan? Bagaimana perasaanmu nanti setelah tahu semua ini?"
Kuretase akhimya selesai dilakukan. "Pindahkan ia ke ruang rawat!" Perintah Abyan.
"Tidak, Ayah. Aku ingin ia dirawat di rurnah kita," ujar Agas. "Siapkan ambulans dan amankan mobil Deeva yang terparkir!" perintah Agas langsung ke pegawai rumah sakit.
Deeva dibawa oleh ambulans dengan ditemani Agas.
Peralatan yang dibutuhkan sudah dibawa terlebih dahulu.
Sebelum menaiki mobil ambulans, ia berpesan ke semua pegawai rurnah sakit. "Jangan beritahu apa pun soal kejadian ini! Anggap saja kejadian ini tidak pemah terjadi! Bila ada yang menanyakanku dan Deeva, baik itu keluarga maupun suarninya, jangan diberitahu!" Amanat Agas diangguki oleh semua pegawai.
Setelah mobil ambulans pergi, Dipta dan Bayu berlari masuk ke rurnah sakit itu. Dipta yakin, Deeva akan ke situ ketika sedang terluka. Namun, perkiraan Dipta salah. Semua orang di rurnah sakit mengatakan bahwa mereka tidak melihat Deeva. Bahkan, Agas sedang bertugas di luar kota.
Dengan langkah lunglai, Dipta keluar dari rumah sakit. "Gue harus mencarinya ke mana lagi, Bay?" tanya Dipta frustasi.
"Lu sabar, Dip. Kita tunggu saja di apartemen. Barangkali saja nanti ia pulang," jawab Bayu, memberikan semangat.
Akhimya, kedua laki-laki itu meninggalkan rumah sakit itu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
-- Next Chapter--
Bab 18
Di rumah, Agas terus menggenggam tangan Deeva.
Ayahnya masuk dengan membawa kotak di tangannya.
"Ini janinnya. Haruskah kita kuburkan sekarang atau menunggu Deeva siuman?" tanya Abyan.
"Tunggu ia siuman dulu, Yah! Ia pasti mau melihat anaknya untuk yang terakhir kali."
Abyan menyimpan kotak itu di meja samping ranjang.
Pagi menyapa. Matahari menghantarkan kehangatan untuk makhluk hidup di bumi.
Deeva pun membuka mata. Tangannya langsung mengusap perut. Ia merasa ada yang aneh. Rasa perih di bawah perutnya. Dari rasa perih itu, ia tahu, anaknya sudah tidak ada lagi dalam rahimnya.
Air matanya menetes. Ia menangis dalam diam. Harus seberapa besar lagi hatinya untuk mengikhlaskan semua hal menyedihkan yang terus menghampiri hidup.
Agas yang baru masuk dan melihat Deeva menangis, langsung menghampiri. "Menangislah, Adeeva! Jangan ditahan! Sekarang Kakak ada di sini," ucap Agas.
"Aku lelah, Kak," jawab Deeva.
Agas tersenyum samar, lalu menaikkan ranjang Deeva. Ia melihat kelelahan itu di wajah Deeva. Diusapnya pipi Deeva sebelum merengkuhnya dalam pelukan. "Jangan ditahan, Adeeva! Keluarkan semua bebanmu! Menangislah di dada Kakak!"
Tangis Deeva pun pecah. Dieratkan pelukannya di sekeliling tubuh Agas. "Kenapa akhimya selalu seperti ini, Kak? Kebahagiaan itu seperti enggan menghampiriku. Apa salahku, Kak? Apa salahku, sehingga hidupku begitu menyedihkan seperti ini?" raung Deeva.
Setelah tangisan memilukan hati itu reda, Agas memperlihatkan janin yang tak berbentuk itu kepada Deeva. "Ia pasti bayi yang indah, karena keindahannya membuat Sang Pencipta pun mengambilnya kembali," ujar Agas.
Deeva hanya mengangguk sambil tersenyum miris. "Kamu ingin menguburkannya di mana?" tanya Agas. "Di taman belakang rumah Kakak, boleh? Karena, aku
ingin anakku tidur di tempat yang selalu memberikan ibunya kehangatan dan kebahagiaan."
"Tentu saja."
Janin itu akhimya terkubur dalam timbunan tanah.
Dengan nisan bemama Angelo Bagaskara.
"Ia pasti bahagia di sana. Jadi, kamu juga harus bisa melewati semua ini," ujar Agas.
"Aku lelah, Kak. Aku sudah putus asa. Kadang aku ingin tubuhku bisa menghilang ketika terluka, sehingga Iuka itu tidak datang lagi dan menyakitiku. Kadang juga, aku ingin tidak pemah dilahirkan."
"Sssttt, Adeeva, dengar! Setelah badai berlalu, selalu ada pelangi. Badai yang sangat hebat pasti akan menghasilkan pelangi yang sangat indah. Jadi, hadapi semua ini! Kakak ada di sini bersamamu. Kakak akan memberimu cahaya ketika tersesat, akan membantumu berdiri ketika kamu terjatuh, akan memberikan sandaran ketika kamu lelah. Akan terus mendoakan, agar kamu mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya," ucap Agas.
Air mata Deeva meleleh. Ia bersyukur, ada Agas di sisinya. Agas selalu memberikan tangannya, memberi senyum hangat, bahwa semua itu pasti bisa dilalui.
Deeva langsung memeluk Agas. "Makasih, Kak, sudah menjadi sayap pelindung. Melindungiku tanpa mengharapkan apa pun."
"Sudah seharusnya cinta itu tidak kenal balas budi. Cinta itu juga tak harus memiliki. Orang mungkin akan bilang, Kakak hanya pecundang cinta. Namun, percayalah, orang yang tulus mencintai, tidak akan takut merelakan!" ucap Agas.
Deeva semakin mengeratkan pelukan. "Kakak tahu apa yang kusesali dalam hidup?"
"Tentu saja. Kamu menyesal, tidak bisa menyemikan kembali cinta untuk Kakak dalam hatimu."
"Kenapa Kakak selalu tahu?" tanya Deeva, merajuk. "Karena, Kakak sayap pelindungmu. Namun, ada hal
yang membanggakan di hidup Kakak. Kamu mau tahu?" "Apa?"
"Kakak adalah cinta pertamamu."
"Aishhh, kata siapa?" pekik Deeva dengan wajah memerah. Dipukulinya Agas dengan mesra demi menutupi rasa malu yang kini mendera.
Di sisi lain, ada seorang laki-laki yang terus mengitari Jakarta, mencari istrinya. Mencari seorang wanita yang sempat ia ragukan kebaikannya. Perlahan, sebersit sesal terbit di hatinya. Seiring mentari Jakarta yang kian membubung tinggi.
***
Alam itu berbintang. Bulan tampak ikut mempercantik langit malam. Mobil-mobil melaju di jalanan yang disinari lampu bias. Hilir mudik orang memperiihatkan bahwa ibukota memang tidak pernah tidur. Selalu saja ada aktivitas setiap detik, bahkan di dini hari sekalipun.
Dari semua yang terlihat, begitu hidup. Namun, tidak begitu halnya dengan seseorang yang terdiam di dalam mobil. Ia seperti memikirkan banyak hal. Gurat kelelahan sangat jelas terpancar di wajahnya.
Suara deringan telepon menyadarkan dari keterdiaman. "Ya, Bay?" jawabnya. "Gue nggak akan pulang sebelum menemukan istri gue. Gue hanya ingin bertemu dengannya. Tidak ada hal apa pun yang lebih penting dari itu saat ini."
Laki-laki itu, Dipta.
Kini, ditutup teleponnya secara sepihak. Di saat seperti itu, Bayu selalu memperingatkan akan tubuh Dipta yang belum pulih. Namun, ada yang lebih penting dari sakit di tubuhnya. Ia takut, istrinya akan melangkah menjauh darinya tanpa mau berbalik lagi. Jadi, ia berusaha keras, mencari wanita itu di mana pun. Namun, setelah memakan banyak waktu dan tempat, tetap ia tidak menemukan jejak istrinya. Ia tidak memiliki ide tentang tempat-tempat yang bakal istrinya kunjungi, bahkan tidak mengetahui soal teman-teman istrinya. Ia hanya mencarinya secara acak.
"Deev, bisakah kautinggalkan jejakmu, sehingga aku bisa mengikuti dan menemukanmu? Memperbaiki semua itu, menyusun langkah kita dari awal, bersama-sama," ucap Dipta diliputi kecemasan dan juga penyesalan.
Sementara di lain tempat, Darma sedang mengobati lebam di wajahnya. Diobati sendiri Iuka-Iuka yang dibuat adik iparnya itu tanpa bantuan siapa pun. Namun, di tengah kegiatannya itu, tiba-tiba, pintu ruangan terbuka, memperlihatkan sosok Anindya.
Dikerutkan keningnya. Harusnya, sekretarisnya itu sudah pulang, karena saat itu sudah dini hari. "Nindya, ada apa?" tanya Darma, lembut.
Anindya tidak menjawab. Matanya memancarkan kemarahan luar biasa. Ia meletakkan surat pengunduran diri di atas meja bosnya itu. "Saya tidak mau menunggu waktu sampai besok. Terima kasih telah memberikan pekerjaan ini kepada saya. Saya permisi," ucap Nindya tanpa basa-basi sedikit pun.
Langkah gadis itu ditahan oleh Danna. Dicengkeram lengan Anindya, lalu dibalikkan tubuh gadis itu, agar menatapnya. "Apa maksudmu? Kau ingin berhenti bekerja? Kenapa? Apa sikapku selama ini melukaimu?" tanya Danna bertubi-tubi, menuntut penjelasan.
"Ya. Anda selalu melukai saya. Anda melukai saya setiap waktu," ucap Anindya,jauh lebih formal dari biasanya.
"Aku selalu bersikap baik padamu. Jadi, sikapku yang mana yang selalu melukaimu?"
"Sikap Anda yang selalu melukai saudara tiri saya, Adeeva Afsheen.Walaupun kami tidak lahir dari rahim yang sama, Tetap saya menyayanginya dan lagi, seorang wanita yang anda benci adalah seorang ibu yang luar biasa jauh dari vonisanmu selama ini padanya. Jadi, lepaskan tangan Anda dari tubuh saya, karena anda lebih menjijikkan dari adik Anda!"
Anindya menghempaskan tangan Darma.
Danna terdiam. Dicema baik-baik perkataan gadisnya itu. Setelah beberapa lama, ia berhasil memahami apa yang dikatakan Anindya. Ia tertawa sarkastis. "Karma, apa kau sedang bermain-main denganku? Aku mencintai seorang gadis yang memiliki keterkaitan dengan wanitajalang yang paling kubenci."
Dengan langkah angkuh dan dingin, ia keluar dari kantor menuju rumah, seakan tak terjadi apa-apa.
Sesampainya di sana, ia dikagetkan dengan ibunya yang sudah menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang terlihat menahan air mata, serta kakeknya tampak merangkul adiknya yang bersimpuh di lantai.
"Ma, tolong maafkan aku kalau memang aku yang menyebabkan kelukaan di hati Mama! Sungguh, tidak ada sedikit pun niatku menyakiti siapa pun! Aku sudah merasakan bagaimana pahitnya berada di posisi Mama, merasakan kelukaan yang sama. Bisakah Mama berbahagia dalam hidup, mengembangkan senyum indah Mama lagi?"
Thu Darma diam, tetapi air mata mengalir deras, membasahi pipi.
"Pa, aku tidak ingin menyalahkan siapa pun di sini. Tidak ingin menyalahkan keadaan maupun takdir. Aku hanya ingin kalian memaafkanku. Dan tolong lepaskan aku! Aku ingin lepas dari keadaan ini. Keadaan yang selalu membuatku jadi pelampiasan untuk Iuka dan amarah kalian."
Adianto semakin mengeratkan pelukan pada cucunya.
Deeva ingin membereskan semuanya. Ia ingin berdarnai dengan hatinya maupun keadaan itu.
Tawa Darma menggelegar, menyaksikan adegan itu. Membuat semua orang menatapnya. "Apa yang kaulakukan, Adik Manis? Meminta maaf?" ujarnya, lalu duduk di samping ibunya.
"Ma, untuk apa Mama menangis karena bocah ini? Ia adalah luka di keluarga ini. Jangan ditangisi, tetapi lukai ia balik!" ujarnya angkuh, seperti biasa.
"Darma, hentikan!" pekik Harry, akhirnya. "Papa yang salah di sini. Papa yang menyebabkan semua ini terjadi. Jadi, hentikan tingkahmu yang selalu melukai adikmu!" teriaknya.
"Oh, jadi, sekarang Papa sudah menyadari kalau Deeva anak Papa? Luar biasa sekali!" sinis Darma. "Kata-kata apa yang kaukeluarkan, sehingga membuat keluargaku bersimpati kepadamu, Deev?" teriak Darma.
Adianto hanya memeluk Deeva erat. Keadaan itu murni kesalahannya. Dulu waktu Harry membawa kekasihnya yang tidak sesuai untuk menjadi menantu keluarga Hardinata, Adianto murka. Nama keluarga yang sudah dijunjung tinggi secara turun-temurun bisa hancur. Jadi, ia menyuruh Harry menikah dengan wanita lain, yang sederajat. Mereka menikah dari basil perjodohan.
Waktu itu Adianto memaksa wanita yang dijodohkan dengan anaknya untuk mengakui Deeva sebagai anaknya di hadapan publik. Walaupun Adianto sendiri yang menjadi saksi atas pernikahan diam-diam Harry dan perempuan itu. Jika Adianto tidak mengikuti keinginan anaknya, Harry, dia akan kehilangan keutuhan silsilah Hardinata. Dari pernikahan diam-diam itu mereka melahirkan Deeva. Pernikahan yang tidak diketahui istri pertama anaknya. Ia membuat ibu kandung Deeva pergi tanpa bisa berbuat apa-apa serta Harry menceraikan kekasih hatinya itu. Kekuasaan teiah mengalahkan segalanya.
Darma kecil yang harusnya masih bermain riang sudah harus melihat ibunya menangis tidak berdaya. Bahkan, melihat ibunya beberapa kali akan mengakhiri hidup. Sampai detik ketika dewasa, ia tidak pemah melihat senyum itu dari wajah ibunya. Membuatnya merasakan sakit, sehingga Darma seialu mengacaukan hidup adiknya itu. Menutupi Iuka dirinya yang dihasilkan sedari kecil dengan bertingkah menyebalkan.
"Kak, maatkan aku! Aku tahu, Kakak terluka. Aku tahu, semua orang di sini terluka. Namun, apakah kalian tidak Ieiah hanya mengenang Iuka yang harusnya disembuhkan?" ucap Deeva Iirih.
"Kaupikir, menyembuhkan Iuka itu mudah? Luka yang digoreskan di hati ini tidak bisa disembuhkan, bahkan oieh waktu. Luka ini terasa lebih ringan ketika aku meiukaimu," ujar Darma.
Deeva benar-benar tak tahan Iagi. Ia ingin mengakhiri semuanya, semuanya tanpa terkecuali. Ia hendak meiangkah pergi tanpa berucap apa pun Iagi.
Darma yang merniliki firasat buruk Iangsung mencegah. "Jangan coba-coba menghiiang dari jangkauan pandanganku! Kalau kau menghiiang, suamimu itu akan hancur tanpa tersisa!" ancam Darma.
Darma berdiri, akan meninggalkan ruangan itu juga.
Namun, sebuah tangan Iembut menahannya.
"Hentikan berita itu! Ini permintaan Mama," ucap seorang wanita paruh baya yang selama ini selalu menutup mulutnya itu. "Biarkan Deeva memutuskan hidupnya sendiri! Di usia sepertinya, Mama dulu masih bersenang-senang dengan masa muda Mama, tetapi Deeva harus merasakan penderitaan, akibat keegoisan kita semua. Mama tidak menyalahkan Deeva, Darma. Tidak sama sekali. Mama hanya bersikap egois, merasa paling terluka. Padahal, semua orang di sini terluka," ucapnya lembut.
Wanita itu merengkuh Deeva ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang baru Deeva rasakan itu membuatnya semakin menangis.
"Maafkan Mama, Deeva! Kata-katamu menyadarkan Mama. Mama akan berusaha menghentikan berita itu. Berbahagialah dalam hidupmu!"
Deeva menangis sejadi-jadinya. Dirasakan rasa hangat menyapu hatinya yang selama ini dingin, dikarenakan gelap yang selalu menyelimuti.
Harry mengusap rambut istrinya. "Ma, ini salah Papa. Andai saja dulu Papa tidak melakukan perbuatan itu." Akhimya, Harry juga berbicara. Dipeluk istrinya dan Deeva sekaligus untuk menguraikan kembali ketegangan yang selama ini berdiam di dalam rumah itu.
Adianto tersenyum melihat kejadian itu. Suasana dingin yang selama ini tercipta kini telah mencair.
Deeva yang berada di dalam pelukan orang tuanya menatap kakaknya tanpa sadar. Hati Darma sedikit goyah, melihat hal itu. Namun, ia lebih memilih meninggalkan ruangan tanpa terbawa perasaan lebih lanjut.
"Aku akan pergi, Ma, Pa. Aku mohon izin kalian," pamit Deeva.
"Pergi ke mana? Tinggallah di sini! Urusan Darma, biar
nanti kami bereskan," ucap Adianto.
"Aku ingin memulai hidup baru bersama ibu kandungku." Harry dan istrinya saling tatap. Begitupun dengan Adianto. Mereka semakin berpandangan ketika melihat seorang
gad.is muda tiba-tiba memasuki ruangan.
"Ia Anindya. Ia yang menasihatiku untuk berdamai dengan semua ini. Kebahagiaan itu bukan dari orang lain, tetapi dari diri kita sendiri. Semua orang pemah terluka, tetapi tergantung kita yang menghadapinya. Selama ini aku menghadapinya terlalu belebihan," ucap Deeva. Ia berdiri, melangkah, dan menggandeng tangan saudara tirinya.
"Aku merasakan kehangatan waktu Nindya memberikan pesan Thu untukku. Katanya, Thu menyesal, karena ia yang menyebabkanku terluka." Deeva berbicara sambil menangis. "Aku sadar kenapa selama ini aku selalu menyalahkan orang-orang. Karena, aku tidak pemah mendapatkan kebahagiaan."
Harry dan istrinya ikut menangis. Deeva benar, mereka menyadari kekeliruan yang selalu menyalahkan orang lain, tetapi segan untuk menyalahkan diri sendiri. Bahkan, segan mengakui kesalahan kepada Sang Maha Tahu Segalanya.
***
Danna terusik dari lamunannya ketika ada yang memeluknya dari belakang. "Jauhkan tubuhmu itu!" pekiknya.
"Untuk yang terakhir kali, Kak. Setelah ini, aku akan pergi," ujar Deeva.
"Kaupikir, kau bisa lari dariku? Kau ingin mati?" tanya
Danna.
"Kak, cobalah berdamai dengan semuanya! Terutama,
dengan Iuka di hatimu. Alm akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Kak. Maafkan aku! Namun, ada satu hal yang tidak pemah Kakak tahu. Aku menyayangi Kakak." Deeva mengecup pipi kakaknya, lalu melepaskan pelukan dengan tersenyum manis. Ditatapnya Danna lekat-lekat sebelum berlalu.
Setetes air mata jatuh dari pipi Danna tanpa disadari.
Sementara itu, Deeva merasa lega. Kini, ia duduk di dalam bus yang akan membawanya ke kehidupan baru. "Kak Dip, berbahagialah jika tanpaku!" gumamnya lembut pada diri sendiri. Tetes air mata mengiringi langkahnya menjauh dari kehidupan Dipta.
Deeva menunduk, menatap Anindya yang tertidur bersandar pada bahunya. Ia menghela napas pasrah. Semoga ikut bersama Anindya adalah keputusan terbaik untuk memperbaiki hidup yang sempat kacau.
Bus itu menghilang, menyusuri jalan-jalan yang akan membawa ke tempat kehidupan baru Deeva berada.
Di sisi lain, langkah Dipta terhenti kala melihat Agas bersandar di pintu apartemen. "Ada perlu apa kamu datang ke sini? Aku belum menemukan istriku kalau kau mencarinya juga," ujar Dipta malas.
Agas tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya melangkah mendekat dan memberikan sebuah amplop ke tangan Dipta. Setelah itu, ia pergi.
Dipta membawa amplop itu ke dalam dengan kelelahan yang bergelayut di tubuhnya.
Hati Dipta merasakan sesak yang luar biasa ketika membuka dan melihat isi amplop itu. "Surat gugatan cerai? Apa-apaan ini?" gumam Dipta emosi. Ketika ia hendak melangkah mengejar Agas, sebuah surat lain menempel bersama kertas itu. Mengalihkan perhatiannya dengan cepat.
Hai, Kak! Aku hanya ingin menyampaikan kata maaf. Maaf, aku tidak bisa menemuimu untuk memberikan surat perceraian ini! Karena, jika itu kulakukan, aku takkan sanggup pergi dan berbalik arah.
Maafkan aku, sudah merampas kebahagiaanmu!
Terima kasih sudah memberikan kehangatan di hatiku, ya, Kak. Terima kasih mau menikah denganku, walaupun terpaksa. Jangan merasa bersalah akan sikap Kakak kepadaku selama ini! Aku tidak ingin ada penyesalan di hati Kakak.
Berbahagialah bersama wanita yang Kakak cintai! Berbahagialah dengan hidup Kakak!
Saat Kakak membaca surat ini, aku sudah dalam perjalanan jauh. Menuju kehidupanku sendiri. Tak perlu mengharapkanku kembali, Kak. Aku tahu, aku bukan wanita yang Kakak cintai.
Terima kasih telah merelakan hidup Kakak untukku selama beberapa bulan ini. Saal berita di media, aku sudah mencoba menyelesaikannya. Berbahagialah, Kak!
Salam, Adeeva Afsheen Hardinata.
Setelah membaca surat itu, Dipta tak kuasa lagi membendung air matanya. Di dalam amplop itu, ada cincin pernikahan mereka.
Dipta menangis sejadi-jadinya, melepaskan rasa sesak di hati. Penyesalan itu selalu datang terlambat.
Dipta masuk ke kamar, lalu membuka lemari istrinya. Ia melihat baju-baju istrinya yang masih rapi tergantung di sana.
Bagai kesetanan, diambil baju-baju itu dan dipeluknya. "Kenapa kamu memilih menghilangkan jejakmu tanpa tersisa, Deev? Dua kali kau melakukannya dalam hidupku. Oulu, saat aku menyadari, kaulah cinta pertamaku. Kini, saat aku menyadari, kaulah sesungguhnya wanita yang sejak dulu selalu kucintai," ucapnya lirih.
Sebuah benda ikut terjatuh tepat di samping tumpukan baju itu. Benda kecil panjang yang membuat Dipta mengalihkan pandangan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat benda itu adalah testpack yang memperlihatkan tanda positif.
Entah bagaimana keadaan hatinya sekarang! Dipta tak lagi bisa merasa. Tanpa suara, air mata semakin deras membasahi pipi.
"Kamu sering muntah seperti ini?" tanya Dipta pagi itu. "Oh, hanya sesekali saja, Kak!"jawab istrinya.
Kenapa aku tidak menyadari bahwa Deeva waktu itu sedang hamil? batin Dipta, frustasi.
Dengan kekuatan yang masih tersisa, ia keluar dari apartemen dan melajukan mobil ke sebuah alamat rumah. Rumah Agas.
Dini hari yang dingin semakin dingin ketika Agas mempersilakan Dipta masuk. "Ada apa?" tanya Agas.
"Di mana istriku? Beritahu aku! Kau tidak berhak menyembunyikan keberadaannya! Aku tidak akan menceraikannya sampai kapan pun!" teriak Dipta.
"Ia menghilangkan jejaknya Juga dariku." Agas memperlihatkan surat dari dalam sakunya.
"Bagaimana bisa ia pergi meninggalkanku di saat ia mengandung anak kami?" pekik Dipta, kesal.
Dengan santai, Agas mengajak Dipta ke halaman belakang rumahnya.
Setelah sampai di sana, Dipta seakan kembali terperosok dan jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. "Ia, anak kalian, sudah berbahagia di sana," ucap Agas.
Setelah mendengar kenyataan itu, hidup Dipta serasa gelap. Teramat gelap. Hatinya beku.
Penyesalan selalu datang belakangan. Penyesalan itu selalu disimpan di akhir, bukan untuk membuat orang hidup dalam penyesalan, tetapi untuk membuat hidup dalam kesadaran. Penyesalan datang karena kesadaran itulah yang menghampiri.
-- Next Chapter--
Bab 19
Udara dingin dini hari yang menerpa tubuh tidak ia hiraukan. Tubuh yang tinggi tegap itu kim roboh, jatuh bersimpuh di gundukan tanah yang masih basah. Suara tangis memilukan itu pun terdengar, walau begitu pelan.
Agas menatap Dipta. Punggung lebar itu bergetar hebat, menandakan bagaimana sakit di hatinya.
Agas mendekat, berjongkok di samping laki-laki yang dicintai Deeva itu, lalu mengusap bahunya pelan. "Pulanglah, Dip! Sekarang sudah hampir pagi. Tidak ada yang berubah dengan keadaanmu sekarang. Tak ada guna kau menangis dan diam meratapi," ucap Agas.
"Aku tidak akan menceraikannya. Aku mencintainya.
Tidakkah ia tahu itu?" ucap Dipta, lirih.
Agas mencengkeram bahu Dipta kuat. "Sepertinya, ia tidak tahu. Kau harus tahu, wanita yang penuh dengan Iuka selalu menganggap dirinya tidak pantas untuk dicintai serta takut lukanya membuat orang yang ia cintai kehilangan kebahagiaan."
"Ia hamil dan aku tidak tahu sama sekali akan hal itu.
Lelaki macam apa aku ini? Lelaki berengsek!"
Agas hanya mendesah, frustasi. Ternyata, sedari tadi Dipta berbicara pada diri sendiri dan merutuki tingkahnya pada istrinya ketika masih bersama.
Dengan terpaksa, diguncang tubuh Dipta dengan keras. Membuat si pemilik tubuh tersadar. "Pulanglah! Istirahatkan dulu pikiranmu!" perintah Agas. Namun, Dipta bergeming. Ia tetap duduk bersimpuh di kuburan anaknya itu dengan pandangan kosong tanpa menghiraukan perintah Agas.
Agas memaksa Dipta berdiri dan menyeretnya keluar dari rumahnya. Laki-laki itu tetap tidak memberikan reaksi. "Arggghhh, Adeeva, lihat apa yang telah kamu lakukan padanya! Ia begitu kehilanganmu." Agas semakin frustasi.
Dibukanya mobil Dipta. Diambil ponsel yang tergeletak di jok mobil, lalu men-dial nomor telepon manajer Dipta.
Setelah pembicaraan selesai, Agas membantu Dipta duduk di jok belakang mobil. Dipta tetap terdiam tanpa kata.
Tidak berapa lama, Bayu datang dengan langkah lebar. "Bagaimana keadaannya?" tanya Bayu.
"Kacau. Ia butuh beristirahat. Semua kejadian ini membuatnya syok dan menyalahkan diri sendiri," jawab Agas.
Bayu hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil, duduk di jok kemudi. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun melajukan mobil keluar dari halaman rumah besar itu.
Bayu melirik Dipta dari kaca spion dalam. Sahabatnya itu tampak kacau. Ada rasa kehilangan yang terlihat jelas dari pancaran matanya.
Dinyalakan musik, agar sahabatnya itu sedikit rileks. Lagu Ada Band, "Akal Sehat", mengalun indah. Suara sang vokalis yang lembut memenuhi ruangan mobil itu.
Dulu ku mencintaimu Terasa bahagia
Namun kau hilang tanpa jejak Membuat bertanya
Apa salah diriku
Lagu itu membuat ingatan Dipta terhempas ke masa lalu. Ingatan kebersamaannya dengan Deeva di masa remaja menari-nari di kepala. Kebersamaan mereka kala itu begitu singkat, tetapi mampu meninggalkan memori yang membekas.
Hapus memori itu
Tak semudah dibayangkan
Bagai hantu siang malam mendera batinku Bayang dirimu begitu merasuk kalbu
Setelah Deeva remajanya menghilang, Dipta mencoba melupakan, sekeras apa pun yang ia bisa, walau bayangan gadis itu begitu menusuk kalbunya. Keputusannya memasuki dunia keartisan, karena ia ingin bertemu kembali dengan gadis itu. Walau ia mencoba memungkiri, tetapi tetap langkahnya mendekat ke wilayah gadis itu berada, di lingkungan keluarga Hardinata. Tanpa Dipta ketahui, waktu itu gadisnya juga menghilang dari jangkauan keluarga Hardinata.
Akal sehatku berhenti kala menatap indah matamu Hingga melumpuhkan jiwa dan mencuri perhatian dan sayangku
Takkan lagi kupungkiri semua
Saat kucoba tegar Hadirmu kembali
Ada gerah di sekujur tubuh Lelah tuk berpikir
Sakit ku melihatnya
Bawa sejuta maaf Pinta dari hati
Letakkan janji sekali lagi Di atas segalanya
Adakah ini hanya pelarian tanpa ujung
Setelah sekian lama Dipta berkeliaran di lingkungan Hardinata, tidak sedikit pun bertemu gadisnya. Kadang, ketika memasuki ruangan kakek Deeva kala itu, jantungnya berdetak sangat cepat. Berharap, gadis itu ada di sana, melihatnya yang sudah bermetarnorfosis menjadi orang terkenal. Sesekali, ia berkhayal, Deeva akan melompat dan memeluknya dari belakang, menyatakan rasa penyesalan.
Tahun demi tahun yang bergulir, membuat Dipta sadar, semua itu hanya khayalannya. Deeva tak pernah menginginkannya. Di sisi lain, ada Nadia, yang selalu memberikan perhatian 24 jam.
Di saat Dipta mulai membalas perhatian Nadia dengan cara yang sama, Deeva datang untuk kedua kali dalam hidupnya. Deeva yang berbeda dengan yang ia kenal dulu. Deeva yang ini jauh lebih anggun, lebih cantik. Namun, keanggunan dan kecantikannya tak dapat menghilangkan kesan angkuh yang terlihat jelas dari auranya.
Di pertemuan pertama setelah bertahun-tahun itu, jantung Dipta masih berdetak sekencang dulu. Namun, ia berusaha mengabaikan. Alasan pertama, karena sudah ada Nadia yang mengisi hari-harinya. Yang kedua, meski seberapa pun hebatnya
Dipta berusaha menjadi artis papan atas, ia sadar, ia dan Deeva begitu berbeda.
Walau mereka disatukan dalam ikatan pernikahan sekalipun, disatukan dalam ruangan yang sama, tetap Dipta mencoba memungkiri hatinya. Penolakan-penolakan yang ia lakukan, bahkan cacian dan makian yang dilontarkan pada Deeva hanya untuk menunjukkan bahwa ia kuat dan sanggup hidup tanpa Deeva. Ia tak ingin jatuh cinta terlalu dalam untuk kedua kali dan terpuruk untuk kedua kali.
Akal sehatku berhenti
Kala menatap indah matamu Hingga melumpuhkan jiwa
Dan mencuri perhatian dan sayangku Takkan lagi kupungkiri semua
Aku memang cinta padamu
Ketika ia merenggut kegadisan Deeva dan mengetahui bahwa ia pula yang pertama merenggut kesucian Deeva, Dipta tak bisa lupa. Ia selalu terbayang-bayang pada Deeva, pada kejadian itu. Ia sadar, seberapa pun keras usahanya untuk menepis keberadaan Deeva, hatinya memang untuk Deeva sejak lama.
Namun, keraguan demi keraguan terus menggerogoti hati. Menghancurkan semuanya. Ia dilema dengan komitmennya pada
Nadia. Juga, rasa cinta Deeva padanya. Ia cemburu buta pada Agas, yang ia ketahui adalah cinta pertama Deeva.
Kini, semua sudah terlambat. Deeva pergi lagi, kedua kali meninggalkannya. Bukan untuk bersama Agas. Namun, untuk mengejar kehidupannya sendiri.
Ingin Dipta berlari, mengejar istrinya itu. Ingin meminta maaf semampu yang ia bisa. Namun, ia bisa apa? Lagi dan lagi, Deeva menghilang tanpa meninggalkanjejak.
Lagu Ada Band itu terhenti. Air mata semakin deras membasahi pipi Dipta. Rasa sesak kembali melingkupi hatinya.
Sesaat kemudian, kembali musik mengalun. Menyenandungkan lagu Last Child, "Tak Pemah Temilai", yang menohok hatinya.
Kau menyiksaku di sini Dalam rasa bersalah
Yang kini membunuhku secara perlahan
Kau selalu menghindar dari Aku yang selalu mencoba Ungkapkan semua
Lewat tatap mata ini
Ternyata maafmu tak pernah pantas untukku Kauanggap aku tak ada
Dan kau tak pernah mengenal diriku
Setidaknya diriku pernah berjuang Meski tak pernah ternilai di matamu
Setidaknya ku pernah menanti terkapar melawan sepi hatiku
Yang tak pernah bisa berhenti mencintaimu
Kau menghukum hati ini
Hati yang dulu kauyakini takkan pernah kecewakanmu Kau memutuskan tuk pergi
Belumku sempat memohon dan mengemis agar kau tetap di sini
Ternyata sedalam itu kaubenci diriku
Kauanggap ku tak terlihat meski ku tepat di depan matamu
Lagu itu mengalun, menemani mobil itu melaju menuju apartemen Dipta. Dipta tetap terhanyut dalam segala pikirannya, membuat Bayu hanya menggeleng pelan, tak habis pikir akan jalan hidup sahabatnya itu.
Sesampainya di apartemen, apartemen sudah mulai terang, karena cahaya matahari yang masuk lewat kaca.
Dipta masuk ke kamar, lalu membaringkan tubuh di atas ranjang. Menekan hatinya yang kini diserang rindu yang teramat sangat. Ketika masuk ke dalam kamar, bekas aroma istrinya tercium pada seprai yang belum diganti. Membuat rasa rindu itu
tidak bisa terelakkan. "Bay, gue akan mempertahankannya," gumam Dipta, akhimya.
"Sudahlah, Dip! Lu istirahat saja! Tubuh lu sudah lelah." "Gue merindukannya, Bay," gumam Dipta lagi.
"Gue tahu. Besok kita akan mencarinya lagi. Sekarang istirahatkan tubuh lu, agar besok kembalifit."
"Apa ia juga merindukanku, Bay?"
"Berhenti berbicara macam-macam, Dip! Gue nggak mau lu gila. Gue tahu, lu terluka, menyesal, dan segala macam perasaan itu, tetapi jangan seperti ini juga! Ini belum kiamat," omel Bayu.
Dipta tidak menjawab. Ia memilih memejamkan mata dalam segala perasaan yang berkecamuk di hati.
***
Darma mengerutkan kening ketika pada jam istirahat hari itu ia mendapati tamu istimewa. "Saya kaget, ada dokter muda mencari saya. Ada perlu apa? Kalau menanyakan keberadaan wanita itu, saya tidak tahu, Dok," ucap Darma.
"Pastikan setelah melihat ini kau masih manusia yang memiliki hati apa tidak," ucap Agas. Diletakkannya selembar foto di atas meja dalam keadaan tertutup. "Jangan dulu melihatnya! Apa kau berjanji, benar-benar melepaskan Deeva dan tidak akan mengganggunya?" tanya Agas.
"Tentu. Thu saya yang meminta. Namun, saya tidak janji ketika saya bisa menemukannya kembali, saya tidak akan melukainya," jawab Danna.
"Ia terluka."
"Saya yang lebih terluka." "Ia kehilangan."
"Saya juga kehilangan kebahagiaan ketika ia masuk ke dalam keluarga "
"Ia kehilangan anaknya. Anak yang berada dalam kandungannya," Ucapan Agas langsung membungkam mulut Danna. "Malam itu ia datang dengan kondisi yang sudah memprihatinkan. Dengan mata sendu, ia bilang padaku untuk menyelamatkan anaknya, tetapi aku tidak bisa menyelamatkan. Penyebab kegugurannya karena stres dan juga benturan di punggung, sehingga membuat kandungannya yang lemah tidak bisa dipertahankan. Aku yakin, Deeva tahu persis apa dan siapa penyebab kandungannya keguguran. Kau yang menyebabkannya, bukan?" ucap Agas dingin.
"Kau yang menyebabkan tekanan demi tekanan dalam hidupnya! Kau yang menyebabkan lebam di punggungnya! Dan kau pula yang menyebabkan ia kehilangan bayinya! Namun, kenapa ia tidak menyalahkanmu?! Coba kaupikir!!!" teriak Agas.
Danna terdiam. Bayangan waktu ia menyentakkan tubuh adiknya itu, sehingga tubuh mungil adiknya membentur meja, berkelebat di ingatan.
"Ia tidak menyalahkanmu, karena ia menyayang1mu, seperti kakaknya sendiri. Kau masih dianggap keluarga dengan apa yang telah kaulakukan pada hidupnya. Bisa saja ia menyalahkanmu atas kehilangan ini. Namun, ia tidak pemah melakukannya. Kini, masihkah kau membencinya? Membenci adik yang begitu rapuh, yang mengedepankan kebahagiaan kakaknya lebih dari apa pun?"
Ucapan Agas itu membuat tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Darma.
"Kalau bisa, ia mungkin akan menyalahkanmu, agar hatinya puas. Namun, ia justru meminta maaf kepada semua keluarga. Ingin berdamai dengan semua ini. Namun, kau masih saja menyalahkannya dari waktu ke waktu. Di mana hatimu, hah? Ah, aku lupa, pembunuh tidak mungkin memiliki perasaan!" ucap Agas sinis. "Seharusnya, ia sadar, ia tidak pantas meminta maaf padamu, kepada orang yang telah membunuh anaknya."
Setelah mengucapkan itu, Agas berlalu. Membanting pintu ruangan dengan begitu keras.
Kini, Darma melihat foto itu. Foto Deeva yang sedang bersimpuh di kuburan kecil. Wajah adiknya itu begitu pucat. Begitu banyak goresan Iuka yang terlihat di binaran matanya yang perlahan sima.
Dinding hati Darma yang kokoh perlahan runtuh. Hatinya sakit, melihat foto itu. Lalu, sebuah kesadaran menghantam pikirannya. "Apa Kakak bahagia melakukan ha/ ini padaku?
Kalau Kakak bahagia, lakukanlah! Kakak harus tahu satu hal. Aku menyayangimu. "
Ucapan Deeva menggores hati Darma. Kini, air mata tertumpah ruah, membasahi pipinya. "Maatkan Kakak, Deev!" gumamnya. Tangisannya begitu sarat akan penyesalan. Penyesalan yang tidak terperi.
Thu Darma terkejut, melihat anaknya yang pulang dalam keadaan kacau.
Darma seperti tidak kuat untuk menopang berat tubuhnya. lajatuh tersungkur di lantai. Membuat ibunya menghampiri.
"Ada apa, Nak?"
"Aku menyesal, Ma. Apa yang telah kulakukan pada Deeva?" ucap Darma di sela-sela isak tangis. "Aku seorang pembunuh. Pembunuh janin dalam kandungannya. Kenapa Iuka ini membuatku menjadi monster?"
lbunya Darma ikut menangis. "Maafkan Mama, Darma!
Ini salah Mama."
Darma terisak dengan memeluk ibunya, erat. Rasa penyesalan yang begitu menyesakkan hati membuat kesadaran menghampiri pikirannya.
Pikiran yang selama ini selalu dipenuhi kebencian pun sirna. Deeva benar-benar pergi, meninggalkan rasa penyesalan di hati orang-orang yang ia tinggalkan.
-- Next Chapter--
Bab 20
Hari-hari berlalu dan semuanya masih sama, tidak ada yang berubah. Kehidupan masih enggan mempertemukan Dipta dengan istrinya, sekeras apa pun ia mencoba mencari.
Kini, Dipta diam termenung di atas ranjang. Dengan jadwal keartisan yang menuntut untuk tersenyum seharian, membuatnya lelah. Ketika hingar-bingar dunia keartisan menjauh, dicopotnya atribut itu. Tidak ada senyum menawan dari wajah tampannya. Hanya ada wajah sendu yang menggelayuti.
Pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok ibu dan adiknya, Radisti.
Dipta beranjak, lalu menyalami ibunya itu. "Ada apa, Bu, malam-malam ke sini?" tanya Dipta, berusaha sebiasa mungkin.
"Jangan berusaha menyembunyikan apa pun! Thu sudah tahu semuanya."
Dipta tersenyum miris, lalu kembali duduk di atas ranjang. "Karena aku, istriku pergi, Bu."
lbunya tidak berkata-kata. Wanita berwajah lembut itu memilih duduk di samping anak lelakinya, lalu mengusap lembut wajah anaknya.
"Ia pergi dan meninggalkan surat perceraian. Kemarin seorang pengacara yang katanya diutus Deeva untuk mengurus perceraiannya, datang ke sini. Ia bertanya kenapa aku tidak melayangkan surat itu ke pengadilan hingga kemarin."
Dipta menghela napas, lalu kembali melanjutkan ceritanya. "Namun, aku tidak ingin menceraikannya, Bu. Aku akan mempertahankan pemikahanku. Apa keputusanku sudah benar, Bu?"
"Ikuti kata hatimu, Nak! Jadi, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Entahlah! Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi hasilnya nihil. Keluarganya pun bilang tidak tahu apa-apa soal kepergian Deeva." Kini suara Dipta bergetar.
lbunya kini memeluk putranya itu. Dipta pun kembali menangis. Sungguh rasa penyesalan itu setiap hari semakin membelit hati!
"Aku merindukannya, Bu. Aku merasa bersalah padanya, juga pada bayi kami."
lbunya terkejut, mendengar penuturan putranya. "Istrimu
hamil?"
"Ya, tetapi ia mengalami keguguran. Sebagai suami, aku
baru mengetahuinya tidak lama ini. Setelah ia keguguran." Dipta menangis tersedu-sedu. Membayangkan istrinya yang kesakitan sendirian waktu mengalami keguguran selalu menjadi mimpi buruk. "Kini, Deeva seperti lenyap ditelan bumi, Apa yang harus kulakukan, Bu?"
Radisti yang melihat kakaknya begitu terpuruk hanya diam, melihat. Tempo hari ia sempat marah waktu kakaknya lebih memilih wanita itu daripada Nadia. Namun, ketika melihat keadaan kakaknya seperti ini, Radisti pun ikut bersedih.
Malam itu Dipta menangis cukup lama.
Setelah lelah menangis, ia bangkit. Walau sesedih apa pun hatinya, sebesar apa pun penyesalan yang ia rasakan, hidup tetap harus berjalan. Profesi mengharuskannya selalu terlihat baik-baik saja.
Sementara itu, di tempat lain, Darma tampak memarahi seseorang. "Kau tidak menemukannya?"
"Tidak, Bos. Saya tidak menemukannya," jawab seorang laki-laki muda dengan setelan serba hitam. "Nona Deeva hilang begitu saja. Saya benar-benar tidak mendapatkan jejaknya," ucapnya lagi.
"Bagaimana bisa hilang begitu saja bila ia masih di bumi ini? Cari ia sampai dapat! Cari di mana pun itu! Bahkan, kalau perlu, ke seluruh dunia ini untuk menemukannya!" ucap Darma, tidak mau dibantah.
Laki-laki itu mengangguk patuh.
"Aku ingin bertanya padamu satu hal. Apa kau tahu kalau adikku mengandung?" tanya Darma.
Laki-laki itu terdiam, kaku. Lalu, tidak berapa lama, mengangguk.
"Jadi, kau tahu ia hamil?! Kenapa kau tidak memberitahuku?" teriak Darma marah.
"Saya takut, Bos menyakiti bayinya juga. Jadi, saya lebih memilih menyembunyikannya," jawab laki-laki itu, ragu.
Darma tertawa. Bukan tawa menyebalkan seperti biasa, tetapi tawa kosong dan hampa. Ia tertawa, tetapi matanya sama sekali tidak. Mata itu memancarkan kesedihan yang teramat dalam. "Pergilah! Cari adikku sampai ketemu!" perintah Darma, akhirnya.
Laki-laki berpakaian serba hitam itu pergi, meninggalkan Darma yang kembali terhanyut dalam pikirannya sendiri.
Penyesalan dalam hati laki-laki itu pun semakin hari, semakin besar. Segala usaha telah ditempuh untuk mencari adiknya, tetapi hasilnya nihil. Adiknya itu benar-benar hilang, ditelan bumi.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Dua tahun sudah, Deeva menghilang dari jangkauan orang-orang yang pemah menyakitinya.
Pradipta Bagaskara berjalan dengan angkuh di karpet merah. Ia menghadiri acara penerimaan piala bergengsi tahunan di bidang entertainment. Malam itu, ia terlihat begitu tampan dengan pakaian resmi.
Salah seorang host menghadang langkah Dipta. "Malam, Dipta! Wah, kamu keren banget malam ini!" sapa host wanita itu.
Dipta hanya tersenyum, menanggapinya.
"Mana, nih, istrimu? Kok, nggak diajak?" tanya host pria. "Tidak. Ia lebih baik di rumah saja," jawab Dipta. "Wuah, sudah hampir tiga tahun menikah, tetapi istrimu
jarang sekali dibawa ke acara seperti ini. Rumah tanggamu baik-baik saja, kan?" tanya host pria itu tanpa rasa sungkan.
"Baik-baik saja. Tidak perlu mengumbar apa pun soal rumah tangga kami. Karena, di sini, aku yang artis, bukan istriku," jawab Dipta, mulai tidak suka terhadap pertanyaan host itu.
"Oke, deh, Dipta! Makasih, ya, atas waktu luangnya. Silakan menikmati acaranya!" ucap host wanita, mempersilakan Dipta masuk ke ruangan acara.
Dipta masuk ke ruangan dengan perasaan lega. Wawancara yang detail itu tidak berlangsung lama. Ia berjalan ke arah di mana para artis senior maupun junior berkumpul.
Seorang laki-laki melambaikan tangan dan menyuruh Dipta duduk di sampingnya.
"Sudah lama, Kak?" tanya Dipta.
"Lumayan. Kau baik-baik saja? Wajahmu kelihatan pucat," tanya Darma.
Darma telah berubah. Beberapa hari lalu, ia mendatangi Dipta dan menceritakan semua yang ia rasakan.
Ketika dua orang laki-laki merasa kehilangan hal berharga, apalagi hal berharga itu sama, mereka akan bekerja sama untuk mendapatkannya.
Ajang penghargaan itu begitu meriah. Diisi pengisi acara yang bagus-bagus serta menampilkan penyanyi papan atas Indonesia.
Kini, saatnya menyebutkan pemenang penghargaan di nominasi "Aktor Pria Terpuji".
Nama Pradipta Bagaskara yang keluar sebagai pemenang.
Tepuk tangan riuh bergemuruh di ruangan itu.
Dipta naik ke panggung dan menerima penghargaan itu. Penghargaan yang selalu ia dapatkan dalam beberapa tahun terakhir. Kini, saatnya ia mengucapkan terima kasih.
"Selamat malam!" sapa Dipta. "Terima kasih untuk Tuhan Yang Maha Esa, orang tua, serta semua keluargaku. Lalu, buat kakak iparku yang selalu dikejar-kejar oleh artis-artis cantik, Kak, pilihlah salah satu! Ingatlah umurmu!"
Ucapan Dipta itu mengundang gelak tawa tamu undangan serta penonton. Darma ikut tertawa. Para penonton itu tidak tahu, hati kedua laki-laki tampan itu begitu kosong dan hampa.
"Terima kasih juga untuk istriku. Sayang, ini penghargaan untukmu. Tidak akan pernah bosan aku bilang bahwa aku mencintaimu. Kau harus tahu, bahagiaku adalah bersamamu," ucap Dipta. Membuat semua penonton histeris.
Darma tersenyum miris. Ia hanya berharap, Deeva melihat acara itu dan mendengar perkataan suaminya.
Setelah acara usai, Bayu mengemudikan mobil itu di jalanan Jakarta pada dini hari. Dipta, di sampingnya, hanya terpekur sendiri setelah menyelesaikan pekerjaannya. Selalu begitu semenjak kepergian Deeva yang kedua. Senyuman yang selalu ia tampilkan kepada publik tidak ia perlihatkan ketika sendiri.
"Dua tahun sudah berlalu. Dan tahukah kau, berapa banyak rasa rindu di hati ini untukmu, Deev? Aku merindukanmu. Hanya merindukanmu. Aku tak bisa
menggantikan hadinnu dengan wanita lain," ucap Dipta lirih pada diri sendiri. Memandang langit dini hari melalui kaca mobil.
Bayu yang sedang fokus menyetir bergumam pelan, "Keluarlah dari persembunyianmu, Deev! Lihatlah, sahabatku yang terluka semenjak pergimu! Tuhan, tolong sambungkan lagi garis takdir yang terputus itu! Dipta sudah mendapatkan semua pelajaran berharga dari apa yang terjadi."
Gumaman mereka terbawa semilir angin dingin dini hari.
Hilang, tanpa ada jawaban sama sekali.Pagi harinya, Dipta sudah berada di bandara kembali dengan langkah malas. "Gue nggak butuh liburan, Bay," omelnya. "Sudah, deb, Dip! Bawel banget, sih, lu? Gue cuma takut,
sahabat gue jadi gila, gara-gara semua ini. Makanya, gue ajak lu liburan. Biar nggak makin stress."
"Males gue! Lebih baik, gue cari istri gue."
"Sudah dua tahun lu berteman dengan peta dan mendatangi tempat di mana kemungkinan istri lu itu berada. Sekarang beristirahatlah dulu sejenak! Tubuh lu itu bukan robot!" omel Bayu balik.
Dipta terkekeh, lalu menyentuh dagu Bayu lembut. "Bawel banget, sih! Berasa punya istri gue!" ucap Dipta, dengan suara menggoda.
"Dih, najis lu! Lu benar-benar gila!" pekik Bayu, langsung menjauh dari sahabatnya itu.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di Bandara Ngurah Rai Bali. Ketika turun dari pesawat, adat-istiadat Bali yang begitu kental sangat terasa sekali.
Melihat suasana Bali yang begitu romantis, Dipta justru nelangsa. Ia semakin teringat dan rindu pada istrinya. "Bay, gue ingin bernyanyi."
"Ya sudah, nyanyi saja! Kita sudah di dalam mobil ini." "Aku baper terbawa perasaan. Aku baper terbawa
perasaan." Dipta bernyanyi dengan kepala yang ia geleng-gelengkan.
Sang sopir yang membawa mobil mereka hanya tersenyum, sedangkan Bayu sudah berdoa komat-kamit, agar sahabatnya itu tidak sampai gila sungguhan.
Sesampainya di hotel, Dipta langsung tengkurap di atas ranjang, bersiap-siap akan tidur.
"Siapa yang suruh lu tidur? Ini sudah sore. Lebih baik, kita lihat sunset di pantai. Sunset yang menentramkan jiwa," ucap Bayu. Diseret tubuh sahabatnya itu, agar keluar kamar.
"Sunset yang menentramkan jiwa? Kayak judul lagu," ucap Dipta, nggakjelas.
"Lagu apa, sih?" tanya Bayu keki. "Lagunya Isyana Dewi."
"Lu benar-benar sudah nggak waras. Jauh benar 'sunset menentramkan jiwa' dengan judul lagu Isyana, 'Tetap dalam Jiwa'."
"Beda dikitlah! Apa perlu gue nyanyiin juga lagunya?" tawar Dipta.
Bayu hanya pasrah ketika Dipta kembali bernyanyi.
Langit senja itu begitu indah. Matahari yang akan kembali ke peraduan memendarkan cahaya kejinggaan di langit sore. Bias cahayanya terpantul di air laut yang biru. Gemuruh ombak yang bersahut-sahutan, semilir angin yang menentramkan, juga suara burung-burung yang akan kembali ke sarang, semua itu terdengar begitu indah bagai melodi. Melodi yang ditulis oleh Sang Maha Pencipta.
Dipta memejamkan mata. Membiarkan cahaya kejinggaan menerpa tubuh. Ia tak ingin menatap keindahan alam itu begitu lama, karena rasa rindu akan kembali menelusup di hatinya tanpa ampun.
"Anindya, tungguin Kakak, dong!" teriak suara seseorang yang begitu akrab di telinganya.
Dipta terkekeh sendiri di pantai itu. Kali ini, rindu telah membuatnya benar-benar gila. lndranya mendengar suara seseorang yang sangat ia rindukan.
"Kakak lelet banget! Cepat sini, nanti mataharinya keburu tenggelam!" pekik seorang wanita lain.
"Senja itu indah, tetapi malam tak kalah indah. Jangan hanya menyukai salah satu keindahan Tuhan! Sukailah semua, juga penciptanya!" Suara yang Dipta rindukan itu kini begitujelas di telinga.
Dipta membuka mata. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Suara itu terdengar begitu nyata.
Dipta mengedarkan pandangan ke sekitar dan tatapannya terhenti di sosok seorang wanita yang tengah tersenyum, menatap matahari tenggelam. Cahaya kejinggaan membuat tubuh wanita yang Dipta rindukan itu berpendar cahaya yang sangat indah.
Mulut Dipta kaku. Wanita itu terlihat dalam jangkauan mata, juga tangannya. Ia berdiri tidak jauh dari tempat Dipta berselonjor di pantai itu. Berbagai perasaan berkecamuk di hati. Air mata kini menggenang di pelupuk mata Dipta. Sosok yang ia cari selama ini ada di situ, di pulau yang sangat indah, di pulau di mana semua orang ingin mengunjunginya.
"Oke, sudah, yuk, kita pulang!" ajak Nindya, menggandeng tangan kakaknya.
Mereka melewati Dipta tanpa menyadarinya. Karena, saat itu Dipta sedang menyamar. Memakai pakaian yang menutup wajah. Di tempat seramai itu, sebagai artis, Dipta tidak mungkin memperlihatkan wajah.
Saat itu Deeva begitu cantik. Ia kembali kepada sosok dirinya dahulu. Dengan wajah naturalnya. Sehingga, semua orang di pantai itu tidak menyadari bahwa wanita itu adalah istri dari seorang artis terkenal, kecuali Dipta sendiri.
Dipta melangkah, mengikuti kedua wanita itu. Diinjak-injak jejak istrinya di atas pasir. "Aku menemukan jejakmu sekarang, Istriku," gumam Dipta.
Deeva menghentikan langkah, membalikkan tubuh, karena merasa ada orang yang mengawasi. Namun, ketika berbalik, tidak ada siapa pun.
Dipta mengikuti kedua wanita itu diam-diam, dengan taksi, hingga di kediaman mereka.
-- Next Chapter--
Bab 21
Ayu kelimpungan mencari Dipta di berbagai tempat. Ia semakin kesaJ ketika mendapati sababatnya pulang dengan wajah kosong
kembali. Bahkan, lebih kosong dari sebelumnya. "Lu dari mana, Dip? Gue nyari lu ke mana-mana! Nomor lu juga nggak aktifl" tanya Bayu, sekaligus melampiaskan kekesalan.
Dipta tidak menjawab. Ia memilih meninggalkan Bayu, menuju kamar.
Langsung dijatuhkan tubuhnya di atas ranjang, lalu terdiam menatap langit-langit kamar hotel. Bayangan senyum istrinya tergambar jelas di langit-langit kamar itu.
Dipta menghela napas. Dibalikkan tubuh, sehingga tengkurap. Dipejamkan mata, agar bayangan itu tidak menyesakkan batinnya.
Bayu yang melihat sahabatnya kembali dalam suasana galau seperti itu, hanya bisa menggeleng, mendekat, dan duduk di samping Dipta. "Ada apa lagi, sih, lu, Dip? Sudah, deh, jangan kebanyakan mikir!" Bayu kembali membuka suara.
Dipta membalikkan tubuh, kembali terlentang. Diambil tangan Bayu dan diletakkan di dadanya.
"Lu mau apa?" tanya Bayu mulai takut. "Lu jangan gila, deh! Ditinggal Deeva lu jadi suka sama gue. Sadar, Dip, sadar!" pekik Bayu, mencoba melepaskan tangannya dari dada Dipta.
"Bisa diam, nggak? Kalau nggak bisa diam juga, gue cmm, nih!" Ucapan Dipta membuat Bayu hampir pingsan di tempat.
"Lu membuat hati gue ketar-ketir, Dip. Sudah, deh, cepat sadar, Bro!" teriak Bayu, mulai putus asa.
"Gue sadar, Bay. Jantung gue masih berdetak tidak normal. Selalu seperti ini bila bertemu dengannya," ucap Dipta, lebih pada diri sendiri.
Bayu mengerutkan kening. Dirasakan jantung Dipta yang masih bertalu-talu dengan irama tak beraturan. "Bertemu dengan siapa?" tanya Bayu, tak mengerti.
"Istri gue."
"Maksud lu Deeva? Lu bertemu dengannya? Di mana?" tanya Bayu, mulai tidak sabar.
Dipta bangun dari tidurnya, lalu melangkahkan kaki ke dekat jendela kamar hotel. Ia terdiam di sana, menatap suasana luar yang dihiasi kerlap-kerlip lampu. "Gue melihatnya, tetapi ia tidak tahu gue ada di sini." Dipta tampak sedih. Matanya memancarkan kegalauan terus-menerus. "Ia tertawa lepas, tersenyum, tetapi itu bukan karena gue. Ia tertawa, karena tidak ada gue di sisinya lagi. Apa ia mau menerima gue kembali?" tanya Dipta.
"Gue tidak bisa menjawab, karena gue bukan Deeva. Gue tidak tahu isi hati istri lu."
"Apa gue lepaskan saja, seperti ia melepaskan semuanya, juga melepaskan gue?" Dipta mempertanyakan keraguannya kepada Bayu, yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban.
"Cari tahu saja, Dip! Jangan menanyakan hal itu sama gue! Gue juga nggak tahu jawabannya. Lu harus tanya pada Deeva sendiri. Lu sudah mencarinya sejauh ini. Jangan mundur, hanya karena rasa ketakutan akan mengecewakannya!" ucap Bayu, bijak. Ditepuk bahu sahabatnya itu. "Lebih baik, istirahatkan dulu pikiran lu! Mungkin esok pagi lu sudah sanggup mengambil keputusan terbaik."
Setelah mengucapkan itu, Bayu meninggalkan sahabatnya.
Sementara itu, di tempat berbeda, di sebuah kamar, seorang wanita sedang menatap langit malam lewat jendela kamar yang terbuka. "Langit malam itu hitam. Yang membuatnya cantik adalah bintang dan juga bulan. Bila tidak ada bulan dan bintang, langit malam itu akan tetap hitam, tidak indah sama sekali.
Namun, kalau tidak ada langit, bulan dan bintang pun tidak akan pemah ada." Deeva bergumam tidakjelas sendiri.
"Karena, bintang dan bulan diciptakan untuk menghiasai langit malam yang hitam itu. Sang pencipta selalu berimbang dalam menciptakan apa pun. Jadi, bila tidak ada salah satunya, semua itu tidak akan lengkap." Seorang wanita paruh baya menimpali gumaman tidak jelas putrinya itu.
"Thu, kok, belum tidur?" tanya Deeva.
"Thu bertanya-tanya apa yang sedang kamu pikirkan dan meresahkanmu, Deev. Apa langit malam itu begitu menguras pikiranmu? Rasanya, tidak. Pasti, ada hal lain yang menyita pikiranmu, hingga insomnia," tanya ibunya Deeva.
Deeva menggeleng, lalu memeluk ibunya. Pelukan hangat yang ia rasakan membuat hati dan pikirannya tentram.
"Hati tetaplah hati. Cinta tetaplah cinta. Dia tetaplah dia. Ketika di hati ada cinta dan dia, kenapa tidak coba kaupertanyakan?" Ibunya mulai bersyair.
Deeva melepaskan pelukannya, lalu menatap ibunya penuh tanda tanya.
"Dia adalah dia. Dia adalah masa lalumu. Dia adalah yang pemah berbagi rasa hangat denganmu. Jangan memutuskan garis yang belum tentu diputuskan! Tetap lihat dia dari tempatmu sekarang berada!"
Deeva semakin mengerutkan kening, tanda ia tidak mengerti akan kata-kata ibunya.
"Dengar, Deeva! Kamu lihat bintang itu, juga bulan itu? Dari jauh, mereka tampak indah, tetapi coba lihat mereka lebih dekat! Bulan tidak seindah itu, begitupun dengan bintang. Begitupun juga keadaan seseorang. Jika kamu lihat dari kejauhan, seseorang itu akan terlihat baik-baik saja, tetapi coba lihat lebih dekat! Ketika lebih dekat, kadang keadaan seseorang itu tidak sebaik yang terlihat dari kejauhan. Jadi, bagaimana kamu bisa berpikir dia baik-baik saja, sedangkan kamu tidak pernah melihatnya sama sekali?"
Deeva akhirnya mengerti apa maksud perkataan ibunya. Selama ini, selama dua tahun, ia tidak pernah melihat media yang bisa membuatnya mengetahui keadaan keluarganya ataupun Dipta. Deeva menjauhkan diri dari hal-hal seperti itu. Ia pikir, inilah yang terbaik. Mereka akan baik-baik saja tanpa ada dirinya di sisi mereka.
"Jangan menutup hati dan matamu! Bukankah kau ingin berdamai dengan semuanya? Berdamailah jangan setengah-setengah!" Ibunya kembali menasihati. "Tidurlah, besok kamu harus mengajar pagi-pagi!"
Deeva mengangguk, lalu berbaring di atas ranjang dan mencerna baik-baik nasihat ibunya tadi.
Pagi harinya, Deeva sudah pamit untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa, mengajar di taman kanak-kanak yang selama setahun ini ia geluti.
Deeva berjalan kaki, menyusuri deretan rumah-rumah warga. Sesekali, ia menyapa atau menjawab sapaan para warga.
Tidak jauh dari langkahnya, seorang laki-laki yang menutupi wajahnya dengan masker dan topi, mengikuti diam-diam.
Deeva sampai di sekolah taman kanak-kanak itu, lalu disambut oleh ucapan ceria dari anak didiknya.
"Pagi, Thu Guru Cantik!" sapa seorang anak. "Pagi, Sayang!"
Dipta melihat itu dengan hati miris. Andai dulu ia tak gelap mata, sekarang mungkin mereka sedang bermain dengan malaikat kecil dengan bahagia.
Rasa sesak itu kembali melingkupi hati Dipta. Matanya sudah kembali berkaca-kaca. Ia tahu, tidak seharusnya menyalahkan diri sendiri, tetapi setiap mengingat istrinya kehilangan buah hati mereka, selalu menamparnya berkali-kali.
Deeva mengajar dengan suara ceria, mengayomi anak-anak dan mengajarkan pelajaran demi pelajaran dengan sabar.
Dipta melihat itu lewat kaca dengan perasaan bercampur aduk.
Di tengah keterdiaman menatap istrinya itu, sebuah
tangan langsung meringkusnya. "Ada apa ini, Pak?" tanya Dipta. "Ikut saya ke ruangan kepala sekolah dan jelaskan di sana! Gerak-gerik Anda sangat mencurigakan," ujar satpam itu.
Dipta hanya patuh, digiring satpam itu menuju ruangan kepala sekolah.
Deeva yang melihat ada sedikit ribut-ribut di luar, hanya menatap penuh tanda tanya.
Dipta masuk ke ruang kepala sekolah, lalu duduk di depan kepala sekolah tam.an kanak-kanak itu yang ternyata seorang wanita muda cantik.
"Maaf, dari tadi gerak-gerik Anda sangat mencurigakan! Sekarang banyak sekali penculikan terhadap anak kecil, bahkan pencabulan. Jadi, saya meminta penjelasan Anda mengapa bertingkah mencurigakan seperti itu atau saya akan melaporkan kepada pihak yang berwajib," ucap kepala sekolah itu panjang lebar.
Dipta tidak banyak bicara. Ia langsung membuka topi dan masker yang menutup wajahnya. Membuat kepala sekolah wanita itu bungkam, terpesona.
"Maaf, saya mengganggu kenyamanan sekolah! Saya hanya melihat-lihat tadi," ucap Dipta, akhirnya.
"Pradipta Bagaskara?" ujar kepala sekolah setelah sedikit hilang syoknya. "Oh, tidak apa-apa! Saya yang meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Bolehkah saya meminta foto bersama?" ucap kepala sekolah itu dengan wajah berseri-seri.
Dipta mengangguk.
Sebelum kepala sekolah itu mengeluarkan ponsel, suara ketukan pintu menghentikannya.
"Masuk!" perintahnya. Pintu ruangan itu terbuka.
"Oh, Thu Deeva, ada apa?" tanya kepala sekolah itu.
Dipta diam membeku. Langkah kaki itu mendekat dan berhenti tepat di belakangnya.
"Tadi saya melihat ada keributan di luar. Apa terjadi sesuatu?" tanya Deeva.
"Tidak ada. Hanya kesalahpahaman," jawab kepala sekolah.
"Kalau begitu, saya permisi, mau melanjutkan mengajar
lagi."
Deeva melihat punggung itu, pun menyadari aroma tubuh
itu, tetapi ia hanya menggeleng keras-keras, berusaha menepis apa pun yang singgah di otak pikirnya, dan memilih berlalu pergi dari ruangan itu.
Setelah berfoto dengan kepala sekolah, Dipta meninggalkan sekolah itu. Ia menunggu di luar, duduk di bawah pohon, tidakjauh dari bangunan sekolah.
Deeva sendiri membereskan barang-barangnya ke dalam tas, karena sudah waktunya pulang.
"Thu Deeva, ibu kepala sekolah beruntung. Ia bertemu dengan Pradipta Bagaskara dan berfoto dengannya!" teriak Thu Ani, rekan sesama guru.
Bruk. Buku-buku yang akan Deeva masukkan ke dalam tas, jatuh. Tangannya mendadak lemas, mendengar nama itu disebutkan.
"Thu Deeva nggak apa-apa?" tanya Thu Ani.
Deeva menggeleng, lalu membereskan buku-buku yang berserakan di lantai. Thu Ani pun ikut membantu.
"Thu Deeva, lihat, nih, fotonya!" Thu Ani memperlihatkan foto itu. Hati Deeva mencelos. Firasatnya tak pemah salah. Pun, setelah dua tahun mereka tak bertemu. Degup jantungnya masih berdetak aneh setiap kali bertemu dengan lelaki itu. Laki-laki yang ada di ruangan kepala sekolah sesaat lalu, yang tak lain, tak bukan adalah Dipta.
"Aslinya, ia tampan sekali, katanya, Bu! Lebih tampan dari fotonya, bahkan di layar kaca," celoteh Thu Ani. "Sepertinya, ia sedang bulan madu bareng istrinya di Bali."
Istrinya? Jadi, Dipta sudah menikah lagi? batin Deeva, miris. Hatinya masih merasakan sakit itu, meskipun ia yang memutuskan untuk segera melepaskan suaminya. "Bu Ani, saya pulang duluan, ya?" pamit Deeva.
"Yah, Bu, padahal saya masih mau berbicara banyak soal
Dipta!"
"Untuk apa membicarakan suami orang?" ucap Deeva senewen. Hatinya tersulut api cemburu.
"Ia memang suami orang, tetapi ia artis yang dicintai masyarakat. Dipta itu sudah tampan, baik, juga bintang besar. Beruntung sekali istrinya!"
"Ya, istrinya memang beruntung," timpal Deeva.
Darahnya sudah mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Ya, benar, Bu. Istrinya dari kalangan terhormat, sih! Adeeva Afsheen Hardinata, anak pengusaha kaya di Indonesia. Mereka sudah menikah selama tiga tahun, walau pernah tertimpa gosip tidak menyenangkan. Rumah tangga mereka baik-baik saja sekarang."
Celotehan panjang Thu Ani membuat Deeva terpaku. Jadi, istri Dipta itu diriku sendiri? Apa yang terjadi sebenamya dengan hubungan Dipta dan Nadia?
"Yang saya sayangkan, istrinya itu kalau dandan terlalu glamour. Saya yakin kalau ia menghapus make up-nya tidak akan ada yang mengenali."
Setelah mendengar perkataan Thu Ani, Deeva berlari, meninggalkan sekolah dengan terburu-buru. Membuat Thu Ani heran.
Deeva sudah berada di luar sekolah. Matanya menyusuri tiap sudut wilayah itu. Pasti Dipta mengikutinya.
Mata Deeva terhenti, melihat seseorang yang duduk di bawah pohon rindang, Perlahan, Deeva mendekat. Ketika didengar dengkuran halus dari orang itu, ia semakin mendekatkan dirinya.
Deeva berjongkok, menatap mata itu yang kini terpejam. Ia menutup mulutnya, agar tidak berteriak. Ia syok, melihat Dipta yang selama ini dipikirkannya, kini ada di depan mata. Air mata sudah meluncur dari matanya.
Ia tidak membangunkan Dipta. Deeva lebih memilih berlari menjauh. Kaki-kakinya melangkah dengan cepat, masuk ke dalam rumah.
"Deeva, kamu kenapa?" tanya ibunya khawatir, karena Deeva masuk ke dalam rumah dengan tergesa, lalu menangis sejadi-jadinya.
"Thu benar. Bagaimana aku bisa tahu ia baik-baik saja bila aku hanya menutup mataku?"
"Sssttt. .. ada apa, Sayang? Ceritakan pelan-pelan sama Thu." Deeva bercerita tanpa ada yang terlewat. Pun, tentang
keadaan Dipta yang natural tanpa make up. Lelaki itu tampak sedih dan mengenaskan.
Ibunya merengkuh, menenangkannya. "Mungkin ini saatnya garis takdir itu kembali bertemu, arungilah!"
Deeva mengangguk, lalu meminjam ponsel ibunya dan mencari berita tentang suami serta keluarganya.
Sebuah video di youtube membuatnya terpaku. Ketika melihat kakaknya, Darma, dan Dipta duduk berdampingan dan terlihat bercengkerama hangat. Keadaan sepertinya telah berubah. Lalu, Deeva melihat suaminya mendapatkan penghargaan. Dan ucapan suaminya di video itu membuat tangisnya semakin keras. "Penghargaan ini untukmu, Sayang. Tidak pemah bosan aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Bahagiaku adalah bersamamu. "
Dipta merutuki kebodohannya, karena tertidur hingga istrinya sudah pulang. Ia pun memutuskan kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Dilirik sekilas rumah yang Deeva tinggali, lalu kembali melanjutkan langkah. Ia masih ragu untuk mengetuk pintu rumah itu dan meminta Deeva kembali ke dekapan. Malam itu, ia akan kembali ke hotel dan meminta pendapat sahabatnya lagi.
Dipta melangkah perlahan. Seakan tak ingin pergi jauh, meninggalkan tempat Deeva berada. Langkahnya terhenti, karena mendengar langkah kaki yang teramat dekat dan tergesa di belakangnya.
Dipta berbalik dan melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan derai tangis bercampur rasa lega dan bahagia.
Deeva melangkahkan kakinya mendekat ke arah suaminya yang diam terpaku. "Aku ralat isi suratku waktu itu. Aku sekarang akan berbalik dan kembali menatapmu, memegang tanganmu, dan mengikuti langkahmu," ucap Deeva dengan suara bergetar.
Dipta bergeming. Ia hanya menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku yang berbalik perg1 tanpa mengindahkanmu!" ucap Deeva lagi. "Kenapa kau hanya diam? Kau tak menginginkanku lagi?" ujar Deeva.
Dipta tersenyum. Dielus pipi istrinya itu dan dihapus air mata yang mengalir di sana. Dibuka maskernya, lalu berbicara, "Aku merindukanmu, Istriku," ucap Dipta.
Deeva menangis sejadi-jadinya, lalu memeluk suaminya itu, erat. Mereka sating menumpahkan kerinduan masing-masing dalam sebuah pelukan hangat dan tangisan kelegaan.
Hari itu pun tiba. Senma keluarga berkumpul, baik keluarga ibunya Deeva, keluarga Dipta, keluarga Agas, bahkan keluarga Hardina ta. Semua duduk berdampingan, menyaksikan kembali ijab qabul Dipta yang dilakukan secara tertutup, karena orang di luar, tahunya rumah tangga Deeva dan Dipta baik-baik saja.
Setelah disahkan kembali, Deeva mencium tangan suaminya dengan perasaan haru. Begitupun dengan Dipta, dicium kening istrinya dengan perasaan haru juga. Hatinya membuncah karena bahagia.
Nadia tampak asing di ruangan itu. Ia menghadiri acara itu, meski dengan hati remuk redam.
"Nad, kamu datang?" ucap Deeva, lalu memeluk wanita itu.
"Iy ... iyaaa . .. a ... aku .. . hmmm .. . maksudku, selamat," ucap Nadia, terbata-bata.
Deeva menggenggam tangan Nadia, menenangkannya. "Terima kasih, ya?"
Sementara itu, di sudut lain, Bayu dan Dipta sating berpelukan. Bayu terlihat menangis tersedu-sedu. "Gue bahagia, lu mendapatkan kebahagiaan lu. Gue terharu," ucap Bayu.
"Sudah, berhenti nangisnya! Kalau tidak, gue cium, nih!" ancam Dipta. Membuat Deeva dan Nadia yang melihatnya, hanya menggelengkan kepala, tak habis mengerti dengan candaan garing itu.
***
D1 tengah-tengah keluarga ibunya, Deeva bercengkerama hangat. Walaupun Anindya anak bawaan suami ibunya. Deeva
menyayanginya seperti adiknya sendiri. Keiuarga ini mengajarkan berbagai hal untuk hidupnya kemarin. Dipta pun nyaman berada di dekat mereka, orang-orang yang tidak gampang menghakimi masa lalu.
Malam itu, Deeva, ibunya, dan Anindya sedang memasak untuk makan malam.
"Kakakmu itu belum menikah?" tanya ibunya.
"Belum, Bu. Kakak itu pemah jatuh cinta sekali dalam hidup, tetapi cintanya tak berbalas. Aku dan Mama sudah berusaha mencarikan pengganti wanita itu, tetapi tak ada yang sreg," cerocos Deeva.
"Thu merasa bersalah. Ia menyimpan Iuka di hatinya, karena kesalahan Thu. Apa mungkin ia takut menjalani hubungan?"
"Jangan berpikiran seperti itu, Bu! Hanya saja, Kakak telanjur mencintai wanita pilihannya dulu begitu dalam. Aku malah curiga, perempuan yang ia inginkan sebenarnya adikku."
Anindya hanya mendengarkan tanpa menimpali obrolan ibu dan anak itu. Meski, hatinya bergetar hebat, mendengar kalimat Deeva yang terakhir.
Sebuah dering ponsel berbunyi. Menghentikan obrolan Deeva dan ibunya.
"Halo, Kak!" ucap Deeva. Membuat jantung Anindya bertalu-talu.
Anindya tahu, tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu. Namun, siapa yang bisa menolak pesona Darma? Terlebih, Darma sangat perhatian kepada Anindya di setiap waktu saat Anindya masih bekerja bersamanya.
"Jangan bekerja terns, Kak! Cari istri!" ucap Deeva. "Tidak sempat? Ish, Kakak sudah tua, ingat!" Tanpa sadar, Deeva menangkap basah ekspresi Anindya yang menatapnya. Wajah adiknya itu menjadi semerah tomat. Tampak ada rasa campur aduk yang terpancar di dalamnya. Timbul ide usil Deeva saat itu. "Kak, dapat salam dari Anindya. Katanya, kangen."
Anindya mencubit pinggang Deeva, tetapi tidak sungguh-sungguh.
Beberapa menit kemudian, Deeva memberikan ponselnya ke arah Anindya. "Nih, kakakku mau berbicara!"
Dengan ragu dan jantung sudah mencelos ke arah bawah, Anindya menempelkan ponsel Deeva ke telinga. "Halo!" ucap Anindya.
Darma yang sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya mendadak berdiri. Adiknya itu selalu membuatnya mati kutu. Sesaat yang lalu, ketika Deeva menggodanya, ia tak berpikir, akan berbicara dengan Anindya. Ia hanya bilang pada Deeva kalau ia menyampaikan salam balik. "Ha ... halo!" jawabnya dengan suara gemetar. Sekian lama tak mendengar suara Anindya, menghantarkan kegugupan terlalu dalam hatinya.
Hening. Tidak ada yang berbicara sama sekali.
Tangan Anindya berkeringat dingin. Jantungnya seakan mau melompat ke bawah kakinya.
"Aku ini sudah tua," ucap Darma.
Setelah mengucapkan itu, ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa susah sekali untuk berkata-kata. Ia hanya ingin merninta maaf dan memperbaiki semuanya. Lalu, berharap, Anindya bisa menyempumakan asanya.
"Aku tahu, CEO memang sudah tua." Anindya menjawab dengan nada yang familiar kembali. Tak seperti pada saat ia mengundurkan diri dulu. "Kak Deeva bilang, sudah saatnya CEO menikah," jawab Anindya.
Danna mengatupkan bibir rapat-rapat. Tanda ia sedang berpikir. "Bolehkah aku ke rumahmu?" tanya Danna.
"Tentu. Kak Deeva pasti senang, kakaknya mengunjungi."
"Selain menjenguk adikku, apa pantas laki-laki sepertiku melamannu?" ucap Darma, akhimya. Dikerahkan seluruh kekuatannya ketika ia mengucapkan itu.
Anindya kaget. Refleks, ia menjatuhkan ponsel itu. Ia merasa, seperti kejatuhan bulan. Seorang Darma yang angkuh dan high class ingin melamar seorang wanita biasa dan sederhana, seperti dirinya. Ia merasa, sudah ada yang tidak beres dengan indra pendengamya.
"Ya ampun, Nindya! Ponsel Kakak, kok, malah dijatuhkan?" pekik Deeva. Diambil ponselnya di lantai yang layamya sudah mati dan dalam keadaan sedikit lecet. "Kakak tahu, kamu benci sama Kak Darma, tetapi jangan lempar-lempar ponsel Kakak juga. Kak Danna sudah berubah baik, kok, sekarang. Ia sudah insyaf. Maafkan ia, Nindya!" ucap Deeva.
Deeva meninggalkan Nindya yang terdiam seribu bahasa. Di seberang, Danna terus mencoba
menelepon nomor itu kembali. "Mana Anindya?" tanya Darma, begitu adiknya
mengangkat telepon.
"Ia sedang makan. Kalau Kakak ingin melamamya, datang saja ke sini! lbu dan Bapakjuga pasti senang, kok."
Ucapan Deeva membuat Anindya yang sedang makan, tersedak dan terbatuk-batuk hebat. Darma pun tak kalah terkejut di seberang telepon. Adiknya itu selalu bisa membaca kata hatinya.
"Aku hanya ingin menyatukan dua orang yang seharusnya bersatu. Kalian terlalu gengsi untuk saling jujur tentang perasaan kalian satu sama lain." Deeva berbicara lagi sembari mengedipkan mata ke arah adiknya.
Kedua orang tua Nindya di belakang hanya tersenyum samar dengan tingkah Deeva di malam itu.
Beberapa hari setelah itu, Darma datang melamar ke kediaman Anindya. Lamarannya diterima dengan baik.
Keluarga yang akan melakukan sesi foto bersama, tiba-tiba dikejutkan oleh suara Deeva yang mual-mual. Serempak mereka menatap ke arah Deeva.
"Sayang, apa mungkin kamu hamil?" tanya Dipta, penuh harap cemas.
Deeva tak menjawab. Hanya kembali mual-mual.
Semua keluarga mengukir senyum. Sepertinya, kebahagiaan mereka akan bertambah.
***
Kandungan Deeva sudah menginjak sembilan bulan. Dengan langkah seperti penguin, ia berjalan di koridor rumah sakit dengan ditemani suarninya.
"Hey, pinguin cantik!" teriak seorang wanita. Wanita itu, Yura. Pasien Agas yang dikenal Deeva selama ia rutin memeriksakan kandungan ke rumah sakit.
"Hei, Yura! Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik. Aku merindukanmu. Kenapa tidak pernah ke sini menjengukku?" rajuknya sambil memonyongkan bibir.
"Kamu sakitnya terlalu lama. Jadi, aku bosan menjengukmu," jawab Deeva.
"Sayap pelindungmu itu masih belum membuka hatinya untukku. Jadi, aku tetap di sini. Setelah dipikir-pikir, aku hanya membuang-buang waktu," ucap Yura sedih. "Aku akan kembali ke Korea," ujarnya dengan raut yang semakin sedih.
Deeva langsung memeluk Yura. Yura pun membalasnya.
Deeva hanya mengusap bahu itu pelan. Setelah itu, Yura kembali ke ruangan rawatnya. Meninggalkan sepasang suami istri yang sating bertatapan penuh arti.
"Aku akan berbicara dengan Kak Agas. Kakak tunggu di ruanganku saja, ya?"
Dipta mengangguk, lalu mencium kening istrinya sebelum pergi.
Deeva berjalan menuju ruangan Agas, lalu masuk tanpa mengetuk pintu.
"Masih sama. Perasaanku padamu tidak akan berubah, walaupun sekarang kamu sedang mengandung," ucap Agas tanpa menatap Deeva. Ia sudah hapal siapa orang yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Jangan bekerja terns, Kak! Cari istri sana!" pekik Deeva.
Agas terkekeh, lalu berdiri dan menghampiri Deeva yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. Dicondongkan wajahnya sambil mengusap perut buncit Deeva. "Bundamu kenapa, Jagoan Kecil? Tidak mungkin ia sedang PMS, kan?" ujar Agas, lalu menciumi perut Deeva, sepenuh rasa sayang.
"Kak!" rengek Deeva, kesal.
"Apa?" Agas kini menatap manik mata Deeva. "Biarkan wanita itu pergi! Aku sudah tahu maksudmu. Kamu tidak perlu menjelaskan dan menyadarkan perasaanku, karena perasaanku masih sama. Masih untukmu," ucap Agas.
Hati Deeva tiba-tiba sakit. Sayap pelindungnya itu tidak bisa membuka hati kepada wanita lain, karena dirinya. Air mata menggenang di pelupuk mata Deeva.
"Hey, kenapa menangis?" tanya Agas. Dengan cepat, diusap jejak air mata itu.
"Maafl" ucap Deeva.
Agas merengkuh tubuh gadis kecilnya itu. "Jangan meminta maaf! Ini perasaanku. Semua ini tidak semudah itu, Adeeva. Jangan memaksaku!"
Deeva yang berada di pelukan Agas merasakan perutnya sakit. Temyata, sudah saatnya Deeva melahirkan. Walaupun Agas bukan dokter kandungan, ia tetap ikut ke ruang persalinan, memantau bahwa semuanya baik-baik saja.
Dipta memegang tangan Deeva erat. Membuat Agas tersenyum samar. Bagaimanapun, ia bahagia, melihat kebahagiaan gadis kecilnya.
Suara tangis malaikat kecil, akhimya, terdengar.
Membuat lega semua orang yang mendengar.
Dipta menangis bahagia, begitupun Deeva.
Di luar ruangan persalinan, seorang wanita sedang memegang koper di tangan. Setelah mendengar tangis bayi, wanita itu pergi. "Berbahagialah, Deev! Aku akan selalu mendoakanmu," gumamnya sambil lalu.
Dipta melihat punggung kecil itu menjauh dari penglihatan. Ia merutuki kebodohan Agas, yang tak menyadari ketulusan hati wanita itu.
Di ruangan itu, semuanya bersuka cita. lbunya Deeva datang secara khusus dari Bali demi melihat cucu pertamanya. Agas menyaksikan kehangatan keluarga itu dengan perasaan hampa. Dipta memberitahunya bahwa Yura sudah pergi. "Kejarlah ia, Kak! Aku melihat kehampaan itu di matamu. Kejarlah ia sebelum terlambat!" Deeva membisikkan
kata-kata itu ke telinga Agas.
Dipta yang melihat Agas tidak beranjak, menepuk bahunya keras. "Jangan jadi laki-laki bodoh, sepertiku dahulu!
Kejarlah ia mumpung masih ada dalamjangkauanmu!" ujar Dipta menasihati.
"Kejar! Aku tidak ingin berteman dengan laki-laki bodoh," ujar Darma menimpali, dan langsung mendapatkan cubitan dari Anindya.
Agas beranjak, mengejar hal yang tidak ingin ia sesali di kemudian hari.
Beberapa menit kemudian, ia telah berlari-lari di bandara dan melihat penerbangan ke Korea sudah berangkat. Bahu Agas langsung terkulai.
Dengan langkah lemas dan lunglai, ia kembali menuju tempat mobilnya terparkir.
"Hei, Dokter Bodoh! Kau mencari siapa?!" teriak sebuah
suara. Agas menatap sekeliling dan melihat Yura sedang berdiri,
bersandar di mobilnya yang terparkir.
Agas tersenyum lega, lalu menghambur ke dekapannya. Ada hal yang baru ia sadari. Sebuah cinta baru yang telah mulai mengakar di hati.
--------- T A M A T ---------
Bank BCA
Dana / OVO / Gopay
Terima kasih, semoga rezekinya terganti dan berlipat ganda. Amin.


