no fucking license
Bookmark
Iklan

Dipermainkan Atasan

“Adelia berusaha berkelit. Ia berusaha menggerakkan tangannya dan menepis tangan Dennis, tapi tangannya sangat lemas, benar-benar tidak bertenaga, jadi yang terlihat Adelia seperti hanya memegang tangan Dennis saja, tanpa berusaha menyingkirkannya."
-- Blurb --
Informasi Cerita :

Judul Cerita

Penulis

Total Chapter

Hak Akses

Hanya Untuk

:    Dipermainkan Atasan

:    elngprtma

:    7 Chapter

:    Member Eksklusif

:    DEWASA!

DISCLAIMER!

Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.

FeatureImage

Bab 1 – Pengakuan

Beberapa kali Frans menggebrak meja di depannya. Sementara wanita itu menutup wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan. Wanita itu adalah Adelia, istri Frans. Sedari tadi, tidak sekalipun ia berhenti menangis, bahkan sebelum Adelia menceritakan semuanya, tentang apa yang sudah ia alami kepada Frans, suaminya. 

Cerita yang benar-benar menyayat hati. Frans benar-benar marah, kaget serta tidak percaya semua itu terjadi kepada istrinya tercinta. Mendengar cerita Adelia, Frans merasa seolah ada gelegar petir yang menyambar tepat di atas ubun-ubunnya. Amarah Frans seketika bergejolak, bukan kepada istrinya, karena ia tahu Adelia hanya korban karena perbuatan lelaki brengsek itu. 

“Mas, ma ... maafkan a ... aku mas.... huhuhu .... “ 

Isak tangis Delia semakin terasa mengoyak hati dan perasaannya sebagai seorang suami. Saat ini Frans tidak bisa melakukan apa-apa untuk menenangkannya. Ia masih harus berusaha menguasai dirinya sendiri yang sudah hampir sepenuhnya dikuasai amarah dan dan rasa kecewa yang begitu besar. 

Frans tampak masih memikirkan tindakan yang harus ia ambil untuk membereskan semuanya, jika Ia melaporkan lelaki itu ke polisi, rekaman dan perbuatannya akan tersebar, setidaknya dilingkungan aparat yang berwenang, mereka akan leluasa melihat rekaman video yang diambil lelaki bejad itu. Aib yang sangat melecehkan itu akan menyebar dengan cepat ke keluarga dan lingkungan kerja mereka. Frans tidak mau hal itu terjadi. Ia merasa harus melindungi martabat keluarga dan pernikahannya.

Frans menikahi Delia belum genap 2 tahun, mereka mulai pacaran pada semester akhir di masa-masa kuliah, Frans tidak pernah melakukan hal-hal yang diluar batas, ia bahkan baru berani menggauli Adelia setelah mereka resmi menikah.  Walaupun sampai saat ini mereka belum dikarunia anak, tetapi mereka tetap bersabar dan berusaha. 

Frans benar-benar mencintai istrinya, ia adalah wanita yang paling cantik di kampus, banyak teman-teman kampus yang merasa iri karena Frans akhirnya bisa mendapatkan Adelia. Setelah menikah, Adelia memutuskan untuk memakai jilbab. Ia bilang mau menjaga penampilan dan dirinya, sehingga hanya Frans lah satu-satunya lelaki yang berhak atas dirinya. Tentu saja hal itu membuat Frans semakin menyayanginya.

Frans selalu bersyukur atas itu, dan ia bertekad untuk selalu menjaganya. Tapi sayangnya, malam itu, Frans benar-benar merasa menjadi orang yang tidak berguna, karena telah gagal menjaga istrinya, hingga lelaki itu memaksa Adelia untuk menyerahkan tubuh cantiknya. Mengingat semua itu membuat Frans beberapa kali menggebrak meja yang ada di depannya.

Adelia sudah menceritakan semuanya, dengan sangat detail. Benar-benar detail, tanpa ada sedikitpun yang ia sembunyikan. Frans sangat mengetahui karakter Adelia, ia tidak pernah bisa berbohong. Walaupun darahnya semakin mendidih mendengar semua cerita Adelia, walaupun Frans merasa tidak akan mampu untuk menerima semua kenyataan, tapi Frans harus menelannya mentah-mentah. Karena Adelia sama sekali tidak bersalah. Istrinya adalah korban yang mengalami kesialan di waktu dan tempat yang sangat tidak tepat untuknya. 

Adelia mulai menceritakannya dari awal,  saat itu Adelia terpaksa harus lembur dan pulang agak telat. Sedangkan Frans, yang bekerja di kantor swasta, memang sering pulang terlambat. Dan sekarang  ia baru menyesal tidak pernah mengantar dan menjemput Adelia, karena selama ini Adelia memang selalu membawa kendaraan sendiri, seperti halnya hari itu.

Sebenarnya saat itu Adelia tidak sendiri, hampir semua temannya juga lembur, entah karena mau ada apa, mungkin karena ada rapat tahunan, atau semacamnya. Mereka baru selesai sekitar jam 7 malam. Meskipun tidak terbiasa pulang jam segitu, tapi karena jarak rumah dengan kantor tidak terlalu jauh, dan juga kondisi jalanan yang cukup terang dan ramai, Adelia tidak pernah merasa khawatir pulang sendiri.

Setelah berpamitan dengan teman-temannya yang kebetulan tidak ada yang searah dengan Adelia, diapun pulang naik motor maticnya. Tapi baru beberapa puluh meter meninggalkan gerbang kantornya, tiba-tiba motor Adelia dipepet oleh 2 buah motor yang memaksanya bergerak ke pinggir.

“Berhenti, atau kamu kami celakai!!” bentak seorang diantaranya.

Adelia tidak bisa melihat dengan jelas wajah keempat orang yang mencegatnya karena mereka semua memakai penutup wajah. Pria yang membentak tadi juga menodongkan parang ke arahnya, hingga nyali Adeliapun semakin ciut. Mau tak mau Adelia pun meminggirkan motornya, diikuti oleh keempat orang yang mengendarai kedua motor itu.

“Ada apa ini? Tolong, jangan sakiti saya ... ambil aja motornya, jangan lukain saya, bang ...”

“Heh! Diem lu! Gue yang nentuin bukan elu!”

Digertak seperti itu, nyali Adelia semakin menciut. Ia tidak berani berbuat apa-apa, hanya doa-doa yang mampu ia panjatkan, berharap para begal itu hanya mengambil motornya, lalu pergi tanpa harus melukainya.

“Siniin tas lu!!”

Tiba-tiba salah seorang begal yang membawa parang tadi mendekati Adelia, dan merebut tasnya dan langsung mengacak-acak isinya. Handphone Adelia diambil, dompetnya juga, dibuka dan mengambil semua uang yang ada. Tapi anehnya pria itu tidak langsung membuang dompet Adelia, ia tampak seperti melihat sesuatu dengan serius.

“Hmm, Adelia Wardhani. Cantik juga foto lu, coba buka helm sama masker lu!”

Saat itu Adelia memang masih memakai helm dan maskernya. Karena lagi-lagi ditodong dengan parang, Adeliapun menurutku kemauan begal itu. Sementara salah satu sedang mengancam Adelia, ketiga temannya terlihat berjaga-jaga melihat kondisi, yang entah kenapa malam itu lebih sepi dari biasanya.

Adelia berharap ada seseorang atau siapapun yang lewat untuk bisa menolongnya, tapi sejak tadi dia keluar dari kantornya, tidak ada satupun kendaraan yang mengarah kesini.

“Woy buruan, mau lu gue bacok?!”

“Ii ... iya, bang ....”

“Wuiih, beneran cantik rupanya lu ya. Eh bro, gimana kalau kita bawa sekalian ni perek, buat senang-senang malam ini.”

“Wah boleh juga tuh bro, cantik banget, udah lama gue nggak main sama cewek secantik ini, jilbaban lagi. Udah angkut aja.”

Adelia mendadak semakin takut, mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh para begal itu. Dan saat itu tiba-tiba muncul keberaniannya untuk membela diri. Dia tak mau sampai jatuh ke para begal itu, dia ingin melawan mereka, semampunya.

Brak!!!

“Aduh! Bangsat!!!”

Dengan sisa keberaniannya, Adelia melemparkan helm yang dia pegang sekerasnya ke wajah begal itu. Diapun langsung lari. Agak susah karena dia memakai rok panjang sehingga langkahnya tak begitu lebar.

“Kejar!! Bangsat tuh cewek, gue habisin juga lu!”

Adelia sempat melihat ke arah belakang saat keempat lelaki itu mengejarnya dengan cepat. Karena panik, Adelia masuk ke sebuah lokasi perkantoran, berharap ada seseorang disana, minimal petugas keamanan yang bisa dia mintai tolong, tapi sialnya tidak ada seorangpun disana. Saat hendak berbalik, ternyata para begal itu sudah berhasil menyusulnya.

“Mau lari kemana lu hah?!”

“Ampun bang ... tolong lepasin saya ....”

“Ampun lu bilang? Lu udah lemparin helm ke muka gue, sekarang minta ampun? Gue perkosa abis lu, baru gue ampunin. Cepet tangkep dia!” Teriak lelaki itu.

“Siap boss!”

Dua orang anak buahnya langsung maju menyergap Adelia. Adelia yang tidak bisa apa-apa dengan mudahnya diringkus oleh kedua penjahat itu. Adelia dijatuhkan ke tanah, dengan kedua kaki dan tangannya dipegangi dengan kuat oleh kedua pria itu.

“Hahaha, sekarang lu rasain akibatnya. Malem ini, gue nikmatin tubuh lu abis-abisan, haha.”

“Ampun, tolong jangan. Jangaaaan…”

 


Bab 2 - Begal

Pria yang dilempar wajahnya dengan helm oleh Adelia tadi langsung menindih tubuh Adelia. Adelia tak bisa bergerak karena tangan dan kakinya masih dipegangi. Pria itu dengan leluasa menjamah tubuh Adelia.

Breeet…

Dengan sekali tarikan, kancing kemeja seragam Adelia langsung lepas semua, membuat tubuhnya terbuka, dan dadanya hanya tertutup oleh bra-nya saja. Tidak puas hanya sampai disitu saja, lelaki itu pun merobek bra Adelia dengan parangnya. Saat itu juga, sempurnalah tubuh bagian depan Adelia terbuka dengan lebar.

“Aaaaaaa jangaaaaaaann…”

“Hmmmm nyyymmmm enaak benget nih dada ... kencang dan kenyal ....ahahaha!”

Lelaki itu langsung melumat buah di dada Adelia yang cukup besar dan masih sekal. Begal itu benar-benar kasar memperlakukan Adelia, sedangkan Adelia hanya bisa berteriak sambil menangis, tanpa bisa melawan karena cengkraman di kedua kaki dan tangannya semakin erat. Mungkin mereka yang memegangi Adelia ikut bernafsu juga melihat tubuh indahnya yang terbuka dan sedang dikerjai oleh temannya.

“Hei apa apaan ini! Cepat lepaskan wanita itu!”

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang pria dari belakang mereka.

“Paak! Paak Dennis, tolong saya, pak ...”

Lelaki itu ternyata adalah Dennis, atasan Adelia di kantornya. Dennis nampak berdiri dengan wajah garang.

“Brengsek, gangguin aja. Mau mampus lu?!”

Pria yang tadi mengerjai Adelia tampak bangkit dan segera berdiri, menyerang Dennis yang dengan mudahnya menghindar, bahkan memukul balik si begal itu. Pertarungan mereka berlanjut dan bahkan dennis berhasil membuat parang yang dipegang pria itu terlepas. Saat temannya akan membantu, tiba-tiba Dennis mengeluarkan pistol dari balik bajunya. Adelia sama sekali tidak menyangka, Dennis mempunyai pistol.

“Kalau masih ingin hidup, cepat tinggalkan tempat ini!” bentak Dennis.

“Jangan mau dibohongi, itu pasti cuma pistol mainan,” ucap si begal kepada temannya.

“Dooorr!!”

Tiba-tiba Dennis menembakkan pistol. Tentu saja keempat begal itu menjadi ketakutan, dan merekapun lari begitu saja. Setelah mereka kabur, Dennis segera mengambil parang yang tadi dibawa begal itu dan membuangnya, berjaga-jaga agar para begal itu tidak menyerang lagi dengan tiba-tiba.

“Adelia, kamu nggak papa?” tanya Dennis sembari mendekat.

Adelia buru-buru merapikan pakaiannya, Dennis sempat sekilas melihat tubuh Adelia yang putih dan mulus itu terbuka.

“Ii... iya, saya nggak apa-apa pak ... terima kasih sudah menolong saya, pak .... huhuhu ...” ucap Adelia sembari menahan isak tangisnya.

“Ya udah, cepat rapikan baju kamu, kita pergi dari sini.”

Adelia kemudian berdiri dan mengikuti langkah Dennis. Mereka berjalan menuju ke tempat motor Adelia tadi ditinggalkan. Dan ternyata para begal itu sudah kabur tanpa membawa motor Adelia. Tas dan seisinya juga masih tergeletak disitu, hanya uangnya saja yang raib karena tadi sempat dimasukan kantong oleh begal itu.

“Kamu bisa pulang sendiri?” tanya Dennis.

“Hemm ...”

Adelia tampak kebingungan. Sebenarnya ia masih bisa mengendarai motornya sendiri meskipun masih agak takut. Tapi masalahnya, kancing baju Adelia sudah terlepas semua, kalau dia membawa motor, dia bingung bagaimana kalau nanti bajunya terbuka dengan bebas. Rupanya Dennis menyadari hal itu.

“Ya udah, kalau gitu aku anterin kamu pulang aja.”

“Motor saya gimana pak?”

“Tinggal aja dulu, entar aku suruh orang buat ngambil.”

Akhirnya Adelia diantar oleh Dennis dengan mobilnya. Dalam perjalanan, tidak henti-hentinya Adelia berterima kasih pada Dennis, karena kalau lelaki itu tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.

“Sekali lagi terima kasih pak Dennis, kalau bapak nggak datang ... saya nggak tahu apa yang alan terjadi selanjutnya ....”

“Udahlah, tadi cuma kebetulan aja aku lewat. Terus aku lihat motor kamu ada disitu, tas kamu juga berserak isinya, aku curiga ada apa-apa. Dan bener, aku denger teriakan kamu dari tempat itu tadi, makanya aku datengin. Untungnya aku bawa senjata ini, jadi bisa buat nakutin mereka.”

“Buat nakutin? Jadi itu bukan pistol sungguhan pak?”

“Bukan. Ini cuma mainan, kayak yang dibilang begal itu tadi, tapi emang mirip banget sama aslinya, dan suaranya juga kayak pistol asli ‘kan?”

“Oh gitu? Saya pikir tadi itu pistol beneran, tapi ya apapun itu, saya benar-benar berterima kasih, saya berhutang budi banget sama pak Dennis.”

“Ah udahlah, nggak usah dipikirin.”

Sesampainya di rumah, Adelia menyerahkan kunci motor dan juga surat-suratnya kepada Dennis yang segera pamit tanpa mampir dulu, katanya ia tidak enak sama tetangga, apalagi saat itu suaminya juga memang belum pulang.

Saat Frans pulang, ia menyadari tidak tampak ada motor Adelia di garasi, ia sempat menanyakannya kepada Adelia, dan saat itu Adelia bilang, jika motornya bocor dan terpaksa harus ditinggal di kantor, dan tadi ia pulang diantar oleh Dennis. 

Saat itu Adelia tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya, karena ia takut membuat Frans khawatir. Pakaiannya yang sudah hilang semua kancingnya juga disembunyikan, sedangkan bra-nya yang robek pun sudah dibuang.

Sejak saat itulah Adelia semakin dekat dengan Dennis di kantor. Rasa hutang budinya membuat Adelia seperti itu. Dennis sendiri terlihat lebih perhatian kepada Adelia, tapi masih dalam batasan yang wajar. Tidak pernah Dennis menggodanya, mengajaknya pergi berdua juga tak pernah. Paling mentok Adelia diajak makan siang, itupun tidak pernah hanya berdua, selalu ramai-ramai dengan teman kantor yang lain.

Hingga peristiwa itu terjadi. Beberapa hari yang lalu tepatnya, saat itu Dennis mendapat undangan untuk mengikuti seminar di luar kota. Undangan itu untuk 2 orang, dan Dennis meminta Adelia untuk menemaninya. Adelia sebenarnya merasa tidak enak jika mereka pergi hanya berdua, namun mengingat kembali kebaikan dan jasa Dennis kepadanya, Adelia tidak kuasa untuk menolaknya.

Akhirnya, Adelia meminta ijin kepada Frans. Saat itu Frans mengijinkannya karena saat itu Adelia mengatakan mereka pergi berempat. Frans sama sekali tidak menaruh curiga, ia memang selalu menanamkan kepercayaan penuh kepada istrinya, dan saat itu tidak ada prasangka buruk sama sekali. Adelia berangkat pada hari kamis, dan ia baru akan pulang pada hari minggunya.

Adelia dan Dennis berangkat ke kota itu dengan menggunakan mobil Dennis. Perjalanan yang mereka tempuh sekitar 3 jam. Dalam perjalanan, Adelia tidak melihat ada hal yang mencurigakan dari Dennis, semua terasa biasa. Kecuali memang Dennis mulai sedikit terbuka dalam bicara, tidak seformal saat di kantor. Tapi itu menurut Adelia masih wajar, karena tidak menyinggung hal yang bersifat pribadi.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka langsung menuju ke hotel yang menjadi tempat acara. Rupanya panitia hanya menyiapkan 1 kamar untuk 1 undangan, yang artinya Adelia harus sekamar dengan Dennis. Tapi saat itu Dennis menolak, dan ia meminta 2 kamar meskipun harus membayar. Akhirnya setelah negosiasi yang cukup alot dengan pihak panitia dan hotel, mereka mendapatkan 2 kamar yang bersebelahan dan dihubungkan oleh sebuah connecting door.

 


Bab 3 – Kunjungan Kerja

Adelia merasa lega karena ia tidak harus sekamar dengan Dennis. Adelia semakin menaruh respek kepada Dennis karena ia sudah berusaha agar mereka tidak harus tidur satu kamar. Dennis tampak menghormati Adelia. Padahal saat itu, setelah acara berlangsung, Adelia baru mengetahui jika selain mereka, ada beberapa pasang peserta yang statusnya sama seperti dirinya dan Dennis, yaitu atasan dan bawahan, tapi mereka tetap satu kamar.

“Yaa, kamu tahulah Del, apa yang akan mereka lakukan jika sekamar, ‘kan?”

“Hmm, tapi mereka bukan pasangan yang sah, ‘kan pak?”

“Ya jelas bukan. Mereka pasangan selingkuh, selingkuh yang terfasilitasi. Kayak gitu udah bukan hal yang aneh del, udah sering aku lihat yang kayak gitu.”

Adelia hanya mengangguk saja, semakin besar rasa hormatnya kepada Dennis.

Acara yang diikuti oleh Adelia sebenarnya terasa membosankan. Seminar dimulai hari jumat pagi, itupun hanya sampai sore jam 3. Setelah itu peserta bebas mau apa saja. Sedangkan hari sabtunya, acaranya santai, hanya senam bersama, setelah itu penutupan. Tapi karena sudah terlanjur booking hotel sampai hari minggu, jadi mereka tetap stay di sana. Apalagi katanya malam harinya bakal ada acara hiburan.

Adelia sebenarnya sudah ingin pulang, karena merasa acara ini sama sekali tak ada manfaatnya untuk dia, tapi dia merasa tak enak dengan Dennis, sehingga terus saja mengikuti setiap acara sampai selesai.

Pada sabtu pagi, setelah senam bersama, saat sedang beristirahat tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Adelia. Adelia tidak mengenalnya, tapi lelaki itu berkali-kali coba menggoda Adelia, menanyakan dengan siapa datang kesini, sampai menanyakan nomer handphone ataupun PIN BBM Adelia, yang sama sekali tak diberikan, namun orang itu mulai memaksanya.

“Ehem, ada apa ya pak? Kok mepet-mepet istri saya dari tadi?”

Tiba-tiba Dennis datang dari belakang orang itu. Orang itu sempat terkejut, lalu kembali bersikap santai.

“Oh, jadi ini istri anda? Saya tidak tahu ada peserta yang suami istri disini, apa benar ini istri anda?” orang itu meragukan pernyataan dari Dennis.

“Hmm, jadi apa yang bisa saya buktikan kepada anda supaya percaya kalau dia benar-benar istri saya?” ucap Dennis yang tiba-tiba langsung memeluk dan mencium pipi Adelia.

Adelia sempat terkejut tapi dia tahu Dennis melakukan itu untuk meyelamatkan situasi, karena itulah dia balas memeluk Dennis.

“Oh maaf kalau begitu. Saya hanya mengagumi istri anda. Istri anda benar-benar mempesona. Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu. Dan saya minta maaf kalau sudah bikin anda tidak nyaman nyonya.”

Pria itu segera pergi setelah mendapat jawaban dari Adelia berupa senyuman. Tanpa menunggu lama Dennis yang masih memeluk tubuh Adelia mengajaknya pergi. Setelah agak jauh, dia melepaskan pelukan itu dan minta maaf pada Adelia.

“Del, maaf banget ya kalau aku udah lancang. Aku sama sekali nggak ada maksud apa-apa, hanya saja itu satu-satunya cara biar lelaki itu percaya dan segera pergi.”

“Iya pak, nggak papa, saya maklum kok.”

“Dia itu Jakcy, pemimpin salah satu dinas pemerintahan di kota ini. Dia sudah terkenal playboy, suka main cewek. Di acara kayak gini, selain dengan pasangan yang dia bawa, dia udah sering nyari wanita lain buat dia tiduri.”

“Jadi, pak Dennis kenal sama dia?”

“Kenal sih nggak, cuma tahu aja. Reputasi buruknya itu udah banyak yang tahu. Karena itulah aku harus bertindak kayak gitu tadi, jadi, aku minta maaf ya?”

“Oh iya pak. Harusnya saya yang berterima kasih sama bapak.”

Meskipun sebenarnya ada rasa tidak terima, karena Dennis adalah lelaki pertama yang mencium Adelia selain suaminya, tetapi mempertimbangkan kondisinya tadi, Adelia bisa menerima dan memakluminya. Hal itu memang sepertinya dilakukan untuk menghindarkan bahaya yang lebih jauh untuk Adelia.

Tetapi karena mereka masih berada di hotel itu sampai keesokan harinya, mau tak mau jika keluar kamar, Adelia harus bersikap lebih mesra dengan Dennis. Saat mereka makan siang di restoran hotel, kebetulan sekali meja makan yang mereka tempati berdekatan dengan pria yang tadi mendekati Adelia. Pria itu duduk dengan seorang wanita cantik, tapi terus-terusan melirik ke arah Adelia, membuat Adelia merasa tak nyaman. Tapi genggaman tangan dari Dennis bisa sedikit menenangkannya.

Saat itu, sekali lagi Dennis berbisik kepada Adelia. Dia meminta maaf tapi mereka harus berakting layaknya suami istri. Adelia bingung harus bersikap seperti apa, karena selama ini dia hanya pernah berhubungan dengan Frans suaminya. Sebelumnya, Adelia tak pernah berpacaran. Melihat kebingungan Adelia, Dennis terus menggenggam tangan Adelia, dan lama kelamaan itu membuatnya nyaman.

Yang membuat Adelia risih sebenarnya bukan genggaman tangan Dennis, tapi lelaki yang tadi menggodanya, tidak segera pergi dari tempatnya, padahal sang wanita yang duduk bersamanya sudah berulang kali mengajaknya pergi. Akhirnya justru Dennis yang berinisiatif mengajak Adelia pergi. Lega sudah rasanya, terbebas dari tatapan liar lelaki itu, meskipun Adelia kembali harus merelakan tubuhnya dipeluk oleh Dennis.

Setelah makan siang, Adelia dan Dennis kembali ke kamar mereka masing-masing. Tidak banyak yang dilakukan oleh Adelia. Ia sempat beberapa kali berkirim pesan dengan Frans, tapi karena Frans sedang bekerja, jadi ia tidak bisa langsung membalasnya. Meskipun hari sabtu, dan meskipun Frans kerja di swasta, tapi Frans memang tetap masuk kerja seperti biasa.

Hingga sejam lebih Adelia berdiam diri di kamar sampai akhirnya ada WA masuk dari Dennis.

“Adelia, kamu lagi sibuk nggak?”

“Nggak pak, ada apa?”

“Kamu bosen nggak sih? Aku bosen banget nih. Gimana kalau kita keluar, sekalian cari oleh-oleh?”

Adelia sempat berpikir sejenak. Dia memang belum berpikir untuk mencari oleh-oleh, karena setiap ia keluar kota memang jarang sekali pulang membawa oleh-oleh. Namun, karena ia pun merasa bosan di kamar, akhirnya Adelia menyetujui usul dari Dennis.

“Boleh pak, kebetulan saya juga lagi bosen.”

“Ya udah, 10 menit lagi ya.”

Tanpa menjawab Adelia merapikan dirinya. 10 menit kemudian dia sudah berjalan ke lift dengan Dennis. Dan sialnya lagi, di lift mereka bertemu dengan lelaki yang dari tadi pagi menggoda Adelia. Lagi-lagi Adelia harus berakting layaknya istri dari Dennis. Dennis pun tanggap, ia langsung merangkul tubuh Adelia denan sangat erat. Sesampainya mereka di bawah, mereka bergegas keluar hotel dan menuju ke parkiran.

Sekitar 2 jam mereka berkeliling mencari oleh-oleh. Sebenarnya tak banyak yang dibeli, mereka menghabiskan waktu agar tidak buru-buru kembali ke hotel dan menghadapi rasa bosan lagi disana. Saat jalan-jalan itu, entah sadar atau tidak, tangan Adelia tidak pernah lepas dari genggaman Dennis. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Saat itu Adelia berpikir kalau Dennis mungkin ingin menjaganya, karena kondisi di tempat mereka jalan-jalan yang cukup ramai.

Dalam perjalanan pulang mereka banyak bercanda. Suasana diantara keduanya sudah lebih cair dari biasanya. Adelia juga sudah mulai bisa menanggapi candaan Dennis, yang sebelumnya selalu dia tahan-tahan. Sampai di hotel, mereka kembali ke kamar masing-masing. Sebelumnya Dennis sempat bertanya apakah Adelia ikut acara makan malam atau tidak.

 

Bab 4 – Niat Yang Terselubung

“Del, nanti kan ada gala dinner, kamu mau ikut nggak?”

“Hmm, nggak tahu pak. Pak Dennis ikut nggak? Kalau pak Dennis ikut, ‘kan berarti saya harus ikut juga.”

“Aku sih dapet undangan. Tapi kalau kamu capek ya istirahat aja nggap papa.”

“Hmm, kalau gitu saya ikut aja deh pak.”

“Ya udah kalau gitu, dandan yang cantik ya.”

“Hehe, siap boss.”

Jam 7 malam Adelia sudah bersiap. Seperti pesan Dennis tadi, malam ini dia berdandan cukup cantik. Belum pernah sebelumnya dia berdandan secantik itu untuk urusan dengan orang kantornya, termasuk Dennis. Biasanya dia berdandan seperti itu jika pergi dengan Frans suaminya. Adelia kemudian keluar kamar, dimana Dennis sudah menunggunya.

“Wow, kamu bener-bener beda malem ini, cantik banget,” puji Dennis.

“Makasih pak,” jawab Adelia tersipu.

“Ya udah, yuk?”

Dennis menggerakkan tangannya, tanda meminta Adelia untuk merangkulnya. Adeliapun tanpa sungkan lagi melakukannya, jadilah mereka berjalan bergandengan. Acara makan malam itu tidak terlalu ramai, karena tidak semua peserta seminar mendapat undangan. Hanya orang-orang tertentu, yang menurut Adelia mereka adalah para senior. Bahkan Dennis terlihat paling muda diantara mereka.

Semua mata tampak tertuju pada pasangan Dennis dan Adelia. Para lelaki tampak mengagumi kencantikan Adelia malam ini, dan itu membuatnya senang. Terlebih Dennis, dia terlihat merasa bangga dengan kondisi itu.

Makan malam itu berlangsung singkat. Sebenarnya, setelah acara makan malam masih ada lagi acara hiburan, tapi Dennis kemudian mengajak Adelia untuk kembali ke kamar saja.

“Adelia, masih mau disini apa balik ke kamar?”

“Pak Dennis gimana?”

“Aku bosen disini, balik aja yuk?”

“Ya udah pak, saya juga, hehe.”

Akhirnya mereka berdua kembali ke kamar. Tapi Dennis mengajak Adelia untuk masuk ke kamarnya. Awalnya Adelia sempat ragu, tapi Dennis bilang dia hanya ingin ada teman ngobrol saja, karena belum mengantuk, Adeliapun akhirnya mau.

Di dalam kamar, Dennis menyalakan TV dan terlihat mengeluarkan sebuah botol dari dalam kulkas. Dia menyiapkan 2 buah gelas, lalu menuangkan isi botol itu ke masing-masing gelas, lalu memberikan salah satunya kepada Adelia.

“Ini apa pak?”

“Itu cuma wine, tenang aja nggak ada alkoholnya kok, aman,” jawab Dennis sambil tersenyum.

Adelia termasuk wanita yang lugu, dan ia percaya saja dengan ucapan Dennis. Adelia sama sekali tidak mengerti soal minuman-minuman seperti itu. Ia hanya pernah mendengar kalau minuman keras itu rasanya pahit, namun, saat dia mencicipi minuman itu ternyata rasanya enak, dan ia pun menegaknya sampai habis. 

Mereka kemudian terlibat obrolan santai, sampai tanpa disadar Adelia sudah beberapa kali mengisi gelasnya. Dan kini, ia mulai merasakan kepalanya pusing, dan tubuhnya agak menghangat. Adelia merasa badannya mulai lemas, bahkan tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas yang dipegangnya.

“Loh kamu kenapa, Del?”

“Hmm nggak tahu pak, rasanya pusing, dan badan saya lemas.”

“Waduh, kayaknya kamu kebanyakan minum deh. Mau balik ke kamar aja?”

“Iya pak, tapi saya lemes banget.”

“Ya udah, ayo aku bantu.”

Dennis kemudian menghampiri Adelia. Ia membantu Adelia berdiri, tapi karena tubuh Adelia yang lemas, ia malah jatuh ke pelukan Dennis. Adelia yang merasa pusing hanya menutup matanya. Ia hanya merasa kalau tubuhnya diangkat oleh Dennis, lalu direbahkan di ranjang. Adelia bahkan tidak tahu ia berada di ranjang kamarnya, atau masih di kamar Dennis. Adelia hanya menutup matanya karena masih merasa pusing.

Sesaat kemudian, Adelia merasa jika sepatu hak tinggi yang dipakainya mulai terlepas satu persatu dari kakinya. Setelah itu ia merasa ranjangnya bergoyang. Saat membuka mata, ternyata Dennis sudah berada di sampingnya.

“Kamu masih pusing?”

Adelia hanya mengangguk dengan tatapan sayu. Dennis hanya tersenyum.

“Ya udah, tutup lagi aja mata kamu, aku bantu biar pusingnya hilang.”

Adelia tak mengerti apa maksud Dennis, tapi dia menuruti saja kata-kata lelaki itu. Saat Adelia menutup matanya, dia merasakan keningnya dipijat oleh Dennis dengan lembut. Pijatan itu mulai membuatnya rileks, sehingga dia diam saja dan tetap terpejam.

Pijatan Dennis kemudian turun ke tengkuk Adelia. Karena posisinya agak susah, Dennis mengarahkan kepala Adelia agar menengok ke samping, sehingga dia bisa memijat tengkuknya. Tengkuk Adelia adalah salah satu titik sensitifnya. Adelia tidak tahan jika disentuh di bagian itu, tapi yang terjadi  saat itu Adelia justru merasa nyaman menerima sentuhan Dennis.

“Hhmmm…”

Adelia bergumam tak jelas saat Dennis terus memijat tengkuknya. Perlahan-lahan Adelia merasa semakin nyaman, ia tidak tahu lagi apa yang sedang dilakukan oleh Dennis. Sampai akhirnya Adelia terkejut dan membuka matanya. Adelia terbelalak kaget, karena kini tangan Dennis yang tadi memijat tengkuknya sudah berada di atas dadanya, sedang meremas kedua buah di dadanya itu. 

“Eh ... Bapak ngapain? Jangan paaak ...”

“Udah kamu rileks aja ... ini biar pusingmu hilang ...” ucap Denis, napasnya mulai terdengar memburu.

Adelia berusaha berkelit. Ia berusaha menggerakkan tangannya dan menepis tangan Dennis, tapi tangannya sangat lemas, benar-benar tidak bertenaga, jadi yang terlihat Adelia seperti hanya memegang tangan Dennis saja, tanpa berusaha menyingkirkannya.

“Udah Adelia ... nikmati saja ... kamu jangan nolak, ya .... Inget lho, kalau bukan karena aku, kamu udah diperkosa para begal itu tempo hari ... Anggep aja ini balas budimu kepadaku ...”

“Paak jangan gini, saya udah punya suami.”

“Iya aku tahu, karena itu aku semakin penasaran sama kamu, sama tubuh sintal  kamu, Adelia ...”

“Paaak jangaahhmmmpp…”

Tidak sampai Adelia menyelesaikan ucapannya, bibir Adelia segera dilumat Dennis. Lelaki itu menciumi bibir Adelia dengan sangat bernapsu. Hilang sudah sosok Dennis yang simpatik dan membuat Adelia menaruh rasa hormat. Kini telah berganti dengan Dennis yang liar bagaikan binatang buas, siap menerkam mangsanya yang sudah tak berdaya.

Mendapati kondisinya yang lemah dan tidak bisa melawan, Adelia akhirnya menangis. Air matanya turun tidak lagi tertahan. Ia berusaha mengatupkan bibirnya namun terlambat, lidah Dennis sudah masuk menjelajah isi mulut adelia. Cukup lama Dennis mengecup madu kenikmatan dari bibir Adelia, sebelum kemudian ia melepaskannya. 

“Sudahlah, kamu pasrah saja ... kalau kamu nggak mau nurut, aku kasih tubuh cantik kamu ini kepada begal-begal suruhanku tempo hari itu ... hehee ...”

Betapa terkejutnya Adelia mendengar ucapan Dennis. Rupanya para begal itu adalah suruhannya. Berarti semua ini memang sudah direncanakan dengan matang oleh Dennis. Pantas saja waktu itu para begal yang kekar-kekar itu dengan mudah dia kalahkan. Bahkan saat kabur, tak satupun barang berharga milik Adelia yang dibawa. Kini Adelia menyesali dirinya sendiri, yang dengan polosnya masuk ke perangkap Dennis. 


---------   Batas Preview    ---------


Maaf, cerita terkunci!

Khusus Member

PAKET EKSKLUSIF

Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!

Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.

Login / Registrasi

Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan terlebih dahulu.

Akun Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -

Klik tombol di bawah ini

Langganan Paket
Paket Eksklusif Sudah Berakhir 💔

Maaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.


Akun Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -


Silahkan berlangganan kembali.

Langganan Paket

Maaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.