Judul Cerita
Penulis
Total Chapter
Hak Akses
Hanya Untuk
: Board Game
: elngprtma
: 11 Chapter
: Member Eksklusif
: DEWASA!
DISCLAIMER!
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
Bab 1 – Ke Kostan
Jenny tampak masuk ke dalam taxi on-line, mendudukan diri di bangku belakang sembari berkata, “Sesuai aplikasi, ya pak.”
“Siap....” sahut driver taxi on-line itu sebelum ia menginjak gas lalu mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati-hati.
25 menit kemudian, Jenny sampai di depan mulut gang tempat kost-an Christy yang letaknya masih jauh masuk ke dalam gang. Ia bermaksud mengembalikan buku yang ia pinjam ke crishty.
Karena mobil taxi on-line tidak bisa masuk ke dalam gang, ia masih harus naik ojek pangkalan untuk sampai di depan kost-an Christy.
Baru saja Jenny mendaratkan kakinya, tiba-tiba langit Bandung berubah suram. Awan mendung mendadak berkumpul di sekitar Jenny. Sesaat kemudian, hujan tumpah begitu saja. Jenny pun panik, ia tampak bergegas lari dengan cepat ke arah pangkalan ojek yang berada tepat di samping gang sembari menggerutu dalam hati.
“Sial, kok mendadak ujan lagi, sih! Mana gak bawa payung....” ketus Jenny, kedua tangannya tampak sibuk melindungi diri dari serbuan air hujan yang menyerangnya tiba-tiba. Walau hanya beberapa detik saja tubuhnya diguyur air hujan, tetapi cukup membuat T-Shirt dan celana jeans pendek yang dikenakannya basah saking derasnya hujan.
“Bang, antar ke gang Melati IX ya!” pinta Jenny ke abang tukang ojek yang sedang duduk di atas sadel sepeda motornya. Sembari mengibaskan kedua tangannya, Jenny berusaha membersihkan bajunya dari cipratan air hujan.
Abang ojek tampak tercekat, melototi tubuh Jenny yang basah hingga pola di dadanya yang membusung itu terlihat dengan sangat jelas. Dasar Jenny, bukannya marah malah mengibaskan tangan kanannya ke arah abang ojek sembari berseru kencang.
“Woy! Bang! Mau bengong apa mau ngojek?!”
“Eh, maaf... iya, hayu... hayu.... ke gang melati IX, ya!” sahut abang ojek sembari buru-buru mengeluarkan sepeda motornya setelah Jenny berhasil duduk di belakang jok dan mengenakan helm yang disodorkannya.
Jenny terlihat pasrah walau harus tanpa jas hujan yang melindungi tubuhnya dari siraman airmata langit. Lain dengan abang ojek yang memang sudah mengenakan jas hujan sedari tadi.
“Curang!”
Makian Jenny itu hanya bisa menggema dalam hatinya, lalu kemudian pasrah menerima percikan airmata langit yang lumayan deras membasahi tubuhnya.
Kost-an Christy yang berada di ujung gang melati IX itu sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi karena jalan berlubang dan banyak polisi yang tiduran di jalan, membuat laju sepeda motor abang ojek seringkali tersendat-sendat, membuat tubuh Jenny terguncang ke atas lalu ke bawah, kadang-kadang maju ke depan secara tiba-tiba.
Setelah tiba di depan kost-an Christy, Jenny buru-buru turun dari sepeda motor abang ojek itu lalu menyodorkan uang satu lembar pecahan dua ribu.
“Loh kok cuma dua ribu? Biasanya lima ribu neng....” ucap abang ojek protes.
“Iya, tiga ribunya biaya buat mata abang yang jelalatan liat dada sama paha! Belum lagi ngerem ngedadak mulu di jalan, sengaja ‘kan? Biar ada yang kenyal-kenyal kena ke punggung abang?” sahut Jenny ketus.
Tiba-tiba, Christy yang ternyata sudah menunggunya di depan pintu kostan, tertawa terbahak, lalu berteriak ke arah Jenny. “Woy cepet masuk! Ujan tambah gede tuh!” teriak Christy melambaikan tangannya ke arah Jenny.
Belum sempat abang ojek itu kembali protes untuk yang kedua kalinya, Jenny sudah melesat ke arah kostan sembari melindungi kepalanya dari siraman airmata langit. Abang ojek itu pun hanya menggelengkan kepalanya, lalu putar arah tanpa dapat berbuat apa-apa lagi.
Kostan Jenny lumayan cukup luas dan ekslusif. Bahkan, di depan kamar-kamarnya terdapat teras yang dihiasi taman-taman kecil lengkap berserta bangku dan meja kecil. Ruangan kamarnya pun besar, dengan ukuran 3x5 meter cukup untuk salto dan jungkir balik ke segala sudut ruangan.
Setelah menaruh totebag yang berisi buku-buku novel yang sempat Jenny pinjam, ia lalu bersiap untuk ke kamar mandi agar dapat dengan segera membersihkan tubuhnya.
“Chris, gua minta shampoo dong, sama baju ganti sekalian, ya! Gua gak bawa baju ganti. Mana tau bakalan ujan lagi, padahal tadi waktu berangkat dari rumah langit cerah banget.” Ucap Jenny sebelum melepas T-Shirt dan celana jeans yang dikenakannya.
Karena ia cuma berdua di kamar, Jenny tampak bebas-bebas saja keluyuran di sekitar kamar hanya dengan mengenakan bra dan celana paling dalamnya saja.
“Tuh, ambil aja di lemari. Shampoo ada di kamar mandi, pake aja....” sahut Christy sembari menunjuk ke arah lemari.
Rambut yang terguyur air pancuran dari shower sedikit membuat rasa kesal karena kehujanan di jalan agak mereda. Jenny lalu membersihkan tubuhnya dengan sabun cair dan membilas rambutnya dengan segera.
Saat itu juga, kesegaran seketika menghampirinya, handuk ditangan bergerak ke sana dan ke mari mengeringkan badan dan rambut di puncak kepalanya. Karena celana paling dalam yang ia kenakan tidak sampai basah terkena air hujan, Jenny memutuskan untuk kembali mengenakannya.
Tetapi, satu detik kemudian, gerakannya sempat tertahan. Saat ia akan mengenakan bra milik Christy, Jenny tiba-tiba kesulitan, ia lupa, jika ukuran bra milik Christy terlalu kekecilan untuknya. Jenny merasa sesak saat memaksakan diri untuk mengenakan bra milik Christy.
Akhirnya, setelah beberapa detik kemudian Jenny memutuskan untuk tidak mengenakan bra sekalian, ia langsung mengenakan kaos yang agak longgar milik Christy, celana yang sangat pendek membuatnya terlihat seperti tidak mengenakan celana sama sekali, karena tertutup kaos yang terlalu panjang, membuat paha Jenny yang putih mulus itu terpampang nyata.
Bab 2 - Permainan
Ketika Jenny barus saja membuka pintu kamar mandi, ia baru sadar jika di luar kamar Christy sedang berbincang dan tertawa-tawa bersama orang lain. Jenny tidak mengetahui jika Christy baru saja kedatangan teman-temannya, karena saat ia berada di dalam kamar mandi, suara-suara di luar sama sekali tidak terdengar, terkalahkan oleh suara gemercik air dari shower serta gemuruh hujan di luar.
Jenny sempat berpikir untuk menunggu sampai teman-teman Christy pergi, karena ia merasa risih keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan bra. Tetapi, baru beberapa detik saja ia menunggu, dan teman-teman Christy tidak kunjung pergi juga, akhirnya Jenny berubah pikiran, ia memilih untuk bersikap bodo amat. Jenny memang suka terlihat seksi mata lelaki. Jenny lalu keluar dengan rambut yang masih sedikit basah dengan mengenakan baju gombrang sepaha, tanpa bra.
“Eh, lu lagi ada temen juga, ya Chris?” tanya cowok yang berambut ikal disamping Christy, ia tampak tersenyum lebar melihat mahluk bening yang baru saja keluar dari kamar mandi, di ruangan yang sama dengannya. Lelaki itu cukup tampan.
“Iya, kenalin nih temen kampus gua, Jenny!” ujar Christy, lalu menarik tangan Jenny agar mendekat.
Si rambut ikal dengan tubuh tinggi itu ternyata bernama Erlan, dan temannya satu lagi yang berambut agak gondrong tanggung itu minta dipanggil Bimo. Bimo memiiki tubuh yang ateltis, walau tidak terlalu tinggi
“Nah! Pas banget nih sekarang kita berempat, kayaknya bisa dimulai, ya?!” ucap Erlan mengerling ke arah Christy sembari tersenyum lebar.
“Eh, main apa, nih?” tanya Jenny penasaran.
“Hihihi... seru deh pokoknya Jen! Gua baru diceritain sih sama di Erlan, tapi kayaknya lucu, seru banget. Lu pasti seneng, Jen!” sahut Christy sembari cekikikan, terdengar agak mencurigakan, tetapi Jenny merasa penasaran.
“Eh, bentar guys, masih kurang satu nih orangnya. Kita butuh bankir.” Ucap Erlan tiba-tiba saja ia beranjak keluar kamar. Lalu, tidak sampai satu menit, Erlan sudah kembali sembari menarik tangan cowok imut berkacamata lebar yang tampak gugup melihat ke arah mereka.
“Elu yang mau jadi bankirnya, Rob?” tanya Christy begitu melihat Robby yang tergugup, lalu sembari membenarkan letak kacamatanya, ia kemudian berkata dengan suara gagap, “Wa-waah, Ba-bankir a-apa? Tiba-tiba aku di... di-ditarik sama mas Er-erlan,” sahut Robby bingung.
“Udah ngikut aja dulu, pasti lu demen juga!” tukas Erlan sembari nyengir penuh teka-teki. Mendengar perbincangan mereka, Jenny semakin merasa penasaran. Lalu diam-diam melirik ke arah teman-temannya Christy satu persatu, seolah sedang mencari jawaban, permainan apa yang akan mereka mainkan.
Mereka berempat lalu duduk melingkar, sedangkan Robby cowok imut berkacamata tebal itu duduk di tengah-tengah lingkaran. Erlan segera menjelaskan bentuk permainan yang akan mereka mainkan setelah ia mengeluarkan kotak persegi panjang berukuran sekitar 25x50cm dari tas yang cukup besar di sampingnya.
“Halah! Ternyata cuma mau maen monopoli! Kirain apa!” ucap Jenny sebel. Ia pikir mereka akan memainkan permainan seru yang benar-benar baru ia tahu.
“Eits! Tunggu dulu, ini bukan monopoli biasa. Ini monopoli khusus dewasa. Kita ‘kan udah dewasa, right? Ahahaa....” tukas Erlan sembari tertawa lebar.
Lalu setelah tawanya mereda, ia kembali mejelaskan tentang permainan itu, “Namanya ini “Adult Board Game” ucapnya. Senyum yang terlukis diwajahnya patut dicurigai.
“Ouuhhh... apa itu “Adult Board Game?” sejenis monopoli juga?” guman Jenny pelan hampir tidak terdengar, ia sepertinya mulai penasaran lagi.
Jenny yang pada dasarnya memang selalu bercanda tentang banyak hal yang jorok-jorok; terutama hubungan fisik antara cowok dan cewek bersama Christy dan teman-teman cewek di kampusnya, tampak santai mendengar nama permainan itu, atau pura-pura santai.
“Yoi... hehe...”
Erlan nyengir diikuti suara gelak tawa cekikikan Christy dan Bimo. Sementara Robby duduk di tengah dengan gelisah ketika mendengar kata “Adult”, keringat dinginnya mulai menetes satu persatu dari atas dahinya.
“Jadi, pada dasarnya... aturan maennya tuh hampir sama kayak monopoli biasa. Kita giliran jalan pake dua buah dadu. Kalo udah muter sekali, boleh mulai beli properti. Dan seorang dapet modalnya ceban, yak!” jelas Erlan panjang kali lebar.
“Lah, apa bedanya sama monopoli biasa!” tukas Jenny.
“Sabar dulu, napa sih Jen, biarin si Erlan jelasin semuanya... pasti ada bedanya, dan yang pasti ini kayaknya lebih seru!” sanggah Christy, mulai protes mendengar kebawelan Jenny., segera disambut bibir kerucut yang mengarah kepadanya dari Jenny.
Bimo yang melihat bibir Jenny mengerucut seperti itu, merasa gemas. Ingin rasanya ia segera menghampiri bibir itu dan melumatnya. Bibir Jenny memang selalu menggoda banyak lelaki. Bentuk bibir Jenny yang sensual dengan warna merah muda natural itu, membuat Bimo rela melakukan apapun demi bisa mengecupnya habis-habisan.
“Oh, iya! Pertama, setiap sekali muter, ga dapat uang dari bankir, ya!” Terang Erlan. Melirik sesaat ke arah Robby yang mengkerutkan dahi mendengar jabatannya itu.
“Lalu, kalo lu masuk kotak Kesempatan dan Dana Umum, lu ngambil satu kartu Kesempatan atau Dana Umum juga. Nah, bedanya itu... diisi kartu-kartu ini,” pungkas Erlan puas sembari menunjukan kartu-kartu yang berisi beberapa perintah atau hukuman yang harus dilakukan oleh si pengambil kartu.
“Kalo isinya lu disuruh joget, ya lu wajib joget. Kalo isinya lu disuruh ciuman klasik dengan mainin lidah, ya lu wajib ngelakuin itu, hehe...” tambah Erlan sembari melingkari wajahnya dengan senyuman mesum, diikuti suara cekikikan Christy dan Bimo. Sementara Robby tampak semakin gemetaran. Keringat dingin bercucuran tiada henti.
“Aahhh kacau nih maenannya....” seru Jenny masih berusaha “menjaga image”
“Tenang Jen, semua isi perintah atau hukuman di kartu itu cocok kok buat kita-kita yang udah dewasa.” Sahut Bimo sambil menekankan pada kata “dewasa”.
“Iya bener, lu semua pasti pada demen deh! Hihihi...” kata Erlan sembari mengedipkan sebelah matanya genit.
“Iihhh jangan samain gua sama elu-elu semua, ya!” tukas Jenny pura-pura alim. Dalam hati sebenarnya ia mulai agak tersipu deg-degan. Bagaimanapun mereka baru pertama kalinya bertemu, beda dengan Christy yang tampak sudah sangat akrab dengan mereka, walaupun ia sempat berani mencubit paha Erlan yang duduk di sampingnya.
Erlan tidak berusaha menghindar cubitan Jenny, Ia hanya tersenyum sembari kembali menambahkan penjelasannya, “Kalau semua sepakat, kalian wajib nyerahin ponsel dan dompet kalian ke bankir. Jadi, kalau ada yang coba-coba melanggar alias tidak mau mematuhi aturan, perintah atau hukuman yang ada di dalam permainan ini, bankir berhak menyita secara permanen semua harta benda milik kalian, gimana?”
Wajah Robby tampak langsung berseri begitu mendengar aturan tersebut. Lalu dengan senyum yang mengembang, ia menyodorkan tangannya ke arah Christy dan Jenny meminta ponsel dan dompet mereka.
“Eh, nanti dulu, gua mau lihat isi kartu-kartu dulu!” ucap Jenny sembari menyingkirkan tangan Robby yang hendak meminta ponsel dan dompetnya untuk dijadikan jaminan.
Lalu, Jenny mengambil 3 buah kartu dari tumpukan kartu “Kesempatan” dan kartu “Dana Umum” sembari menambahkan, “Jangan-jangan ada kartu buatan lu sendiri yang isinya berhak dan bebas melakukan apapun juga kepada peserta lain! Gawat dong, enak di elu, ga enak di gua!” tambah Jenny galak. Lalu, ia mulai membaca ketiga kartu-kartu tersebut, mengabaikan gelak tawa dari peserta lainnya.
“Sumpah Jen, ga ada kartu yang isinya kayak gitu, kok!” jawab Bimo setelah tawanya mereda.
“Kalo pun bener ada, gua jamin gak berlaku deh!” tambah Erlan berusaha meyakinkan Jenny yang tampak tetap “keukeuh” ingin membaca beberapa kartu itu.
Bab 3 - Aturan
Kartu pertama isinya, “Nuzzle and kiss your partner neck” lalu yang kedua “Nibble his/her ear lubes and whisper “Lets fvck”, yang artinya ciumin leher partner kamu, lalu gigit-gigit kecil kupingnya sembari membisikan, “Tidur ama gua, yuk!”
Pipi Jenny seketika bersemu merah, tampak malu-malu. Tetapi diam-diam dalam dadanya berdesir. Andrenalinnya mulai sedikit terpompa. Lalu, dengan ekspresi datar agar dapat menutupi gairahnya yang tiba-tiba menyelinap diam-diam, Jenny melanjutkan membaca kartu yang kedua. Isinya, “Ajak partner kamu untuk bercinta dengan kata-kata paling mesum yang kamu punya, minimal dua kalimat.” Sedangkan kartu yang ketiga berbunyi, “Tatap mata partner kamu dengan penuh perasaan, sambil membelai dan meremas bagian tubuh kamu yang paling sensitif sembari mendesis selama dua menit.”
Setelah membaca seluruh keterangan yang tertera di dalam kartu-kartu tersebut, tanpa sadar Jenny menahan senyum sambil menggigit bibir bawahnya, lalu pelan-pelan ia meletakkan kartu-kartu itu kembali ke tumpukan asalnya.
“Terus, gimana caranya nentuin siapa partnernya? ‘Kan kita berempat?” tanya Jenny. Pertanyaannya itu seakan mengikrarkan diri bahwa ia setuju untuk ikut bermain bersama mereka.
“Gampang dong, partner lu yang duduknya pas di sebelah lu. Gantian sama sisi satunya setiap kali ngambil kartu lagi,” jelas Erlan merasa puas karena cewek bahenol di sampingnya, akhirnya setuju untuk ikut bermain.
“Hemm, pantes aja lu tadi ngatur duduknya selang-seling, cowok-cewek-cowok-cewek!” ucap batin Jenny agak senewen.
Lalu, Erlan kembali berkata, tanpa menghiraukan raut muka Jenny yang mengerucut tiba-tiba dengan dahi sedikit agak berkerut.
“Kalo lu setuju, serahin ponsel dan dompet kalian ke Robby sekarang” ucap Erlan.
“Ya udah, iya gua ikutan... kasian kalo si Christy ikut main sendirian,” sahut Jenny, masih pura-pura “jaga image”. Kemudian, satu detik kemudian Jenny menyerahkan iphone dan dompetnya ke tangan Robby. Di ikuti peserta yang lainnya.
“Tugas gua cuma naro ponsel sama dompet doang, nih?” tanya Robby sembari memasukan keempat ponsel dan dompet peserta ke dalam tas yang sudah Erlan siapkan.
“Gak, ‘lah! Lu juga nanti yang bantuin mastiin, gak boleh ada peserta yang gak bersedia ngelakuin tugasnya, sama nentuin bayaran harga kalau ada yang masuk ke properti orang lain.” Sahut Erlan kembali menjelaskan “job desk” buat bankir.
“Ambil kartunya sesuai warna areanya ya... kalo area properti biru, ya lu ambil dari yang kartu biru...” lanjut Bimo.
Robby manggut-manggut sambil memeriksa beberapa kartu yang terdiri atas 4 kelompok warna tersebut. Biru, Kuning, Hijau dan Merah.
“Eh, bayarannya bukannya pake duit monopolinya?” tanya Christy.
“Ga lah! Bayarannya sesuai hukuman dan perintah dari kartu-karu itu...” jelas Erlan sebelum kembali menambahkan, “Uang monopolinya cuma buat beli property aja” ucap Erlan.
“Lah, maksudnya gimana? Gua belum paham...” selidik Jenny curiga.
“Pokoknya amanlah... hampir selevel sama kartu “Kesempatan” dan “Dana Umum yang barusan lu liat... main aja dulu, nanti juga ngerti....” jawab Erlan, berusaha menenangkan mereka.
Tetapi, ketika mereka melihat ekspresi wajah Robby yang bersemu merah ketika membaca beberapa kartu RENT, Jenny dan Christy tidak begitu yakin. Namun, mau mereka tidak bisa mundur, ponsel dan dompet mereka sudah berada ditangan Robby.
Bimo lalu menutup penjelasan rule of the game dengan mengatakan, “Tapi kalo gua masuk ke properti Erlan atau Jenny masuk ke properti Christy, tidak perlu bayar sewa, ya!”
Christy dan Jenny baru saja hendak kembali melontarkan pertanyaan dan sesi keberatan, tapi Bimo tampak buru-buru tangannya sambil berkata, “Lu berdua bakal ngerti juga nantinya.”
Jenny dan Chrisy hanya saling pandang sembari mengangkat kedua bahu mereka.
Oke, permainan dimulai!” Teriak Robby sang bankir, lalu melempar kedua dadu ke “Adult Board Game”.
“Wah!! Gua duluan!” jerit Christy, lalu dengan cepat merebut dadu di papan dan melemparkannya lagi ke tengah papan.
“Tu, wa, ga, pat, ma.. yes! Gua beli PLN-nya” ucap Christy sembari menghitung jejak langkah bidaknya, ia tampak berteriak kegirangan.
“Woy... enak aja lu! Muter sekali lagi baru boleh beli!” tukas Jenny protes.
Hehehe... iya sorry sorry...” jawab Christy terkekeh.
Setelah Christy, lalu tiba giliran Erlan. Diikuti oleh Jenny, dan kemudian tentu saja Bimo. Kelihatan banget kalo kedua cowok tersebut berusaha keras agar bisa masuk ke kotak “Kesempatan” atau “Dana Umum”. Tapi ternyata, Christy lah yang pertama kali dapat mengambil kartu “Dana Umum”.
Dengan dada berdebar, Christy mengambil kartu pertamanya. Lalu, saat ia membacanya, rona wajah Christy yang putih, tiba-tiba merah merona.
“Uhh... bingung nih caranya gimana...” rajuk Christy, melirik ke arah Jenny seakan meminta bantuan sahabatnya itu.
“Lu dapet apaan, sih Chris?” tanya Jenny penasaran, lalu segera merebut kartu ditangan Christy dana membacanya.
“Oooohhh lu dapat yang rayuan mesum! Hihihi...” jerit Jenny sembari terkekeh. Ia terlihat melebarkan tawanya saat membaca kartu ditangan Christy. Itu adalah kartu yang Jenny buka di awal permainan, yang isinya “Ajak partner kamu bercinta dengan kata-kata paling mesum yang kamu punya”
“Ayo Chris, minimal dua kalimat... lu rayu tuh si Erlan! Hahaha....” timpal Bimo antusias menunggu adegan yang membuat dadanya mulai berdebar kencang.
“Bilang apaan dong!?” tanya Christy tambah panik.
“Udahh... pake aja kata-kata yang biasa lu pake pas lagi horny sama si Jacky, cowok lu itu!” tambah Jenny, wajahnya begitu puas menggoda Christy yang kebingungan.
“Aaaahh... Jen... lu jangan ikut-ikutan gangguin gua dong!” rajuk Christy malu-malu manja, Erlan yang di sebelahnya semakin bertambah gelisah menunggu pergerakan Christy.
“Ok ... ok ... diem dulu lu semua, yaa....” ucap Christy akhirnya sambil mengangkat kedua tangannya, berusaha mencegah Jenny dan Bimo agar tidak melanjutkan olok-olok mereka yang membuat ia tambah panik.
“Gua mulai ya...” lanjut Christy, terdiam sejenak sebelum akhinya ia kembali berkata pelan dan lirih.
“Erlan....” kata Christy terdengar lembut.
“Eh... sambil liatin Erlan dong... masa ngajak begituan nunduk!” Jenny kembali menyela dengan cepat.
“Iya... Iya.. Bawel amat sih lu Jen!” jawab Christy sambil memonyongkan bibirnya. Serempak tawa keempat orang itu pecah.
Setelah mereka terlihat tenang, Christy kembali berusaha untuk melakukan “tugas”nya.
“Erlan...” panggil Christy lirih sambil menatap Erlan dengan tatapan matanya yang sendu. Saat itu ruangan kamar Christy seketika hening. Bimo, Erlan dan Robby tampak tegang menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir Christy.
“Udah seminggu gua gak disentuh cowok, nih... gua ga tahan lagi... tidur sama gua yuuuk...” desah Christy terdengar manja. Suaranya terdengar agak bergetar.
Untuk beberapa detik, Erlan tampak terpana, menatap nanar cewek cantik yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat “mengundang” kelelakiannya. Lalu tanpa sadar ia sudah menelan air liurnya sendiri.
“Aahahahaahhaa!”
Tiba-tiba tawa Christy meledak.
Bab 4 - Pembayaran
“Denger gitu doang udah mupeng lu yaa! Ahahaa...” goda Christy dengan nakal. Melihat kelakuan mereka, Jenny tampak terkikik-kikik menahan tawa yang hampir saja meledak.
”Ah... Nggak kok, gua nggak kepengaruh sama omongan lu, yeee....” sanggah Erlan berusaha menutupi hasratnya, walau wajahnya tampak tidak meyakinkan.
“Udah ah, giliran gua sekarang!” Lanjut Erlan buru-buru, lalu melemparkan dadu ke tengah papan permainan agar mereka berhenti menertawakan dan mengejeknya. Permainan pun berlanjut.
Jenny dan Christy tidak begitu memperhatian jika Erlan dan Bimo berusaha mati-matian agar mereka bisa membeli semua blok properti di area merah, alias area yang terletak di jalur terakhir sebelum masuk kotak start lagi. Padahal area merah adalah area dengan harga paling mahal.
Sedangkan kedua cewek itu sudah mulai beli properti-properti di kotak-kotak awal area biru setelah putaran pertama, karena harganya paling murah. Maklum cewek, gak bisa lihat barang murah atau diskonan.
“Yak bayar!!” Tiba-tiba Jenny berteriak happy, ketika langkah terakhir bidak Bimo jatuh di properti miliknya yang berada di area biru.
“Ayo bankir, tarik kartunya!” Perintah Christy yang tampak ikut-ikutan merasa antusias.
Dengan agak gugup, si bankir Robby mengambil tumpukan kartu RENT warna biru dan mengambil kartu dari posisi paling atas.
“Puji dan rayulah pemilik properti segombal mungkin dengan minimal 10 kalimat” Robby membaca tulisan yang tertera di kartu tersebut.
“Yahh… gitu doang?” tanya Jenny sedikit agak protes. Bimo hanya cengar-cengir, lalu ia mengeluarkan kata-kata rayuan yang sangat garing, mereka sontak menertawakan Bimo habis-habisan. Bimo hanya menggaruk rambut di ujung puncak kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal.
Giliran berikutnya adalah Christy, ia tampak semangat melempar dadu. Christy mendapatkan 9 langkah setelah putaran dadu berhenti. Dan bidak Christy sukses mendarat di kotak “Kesempatan”.
Dadanya tiba-tiba terasa deg-degan, Christy lalu menarik satu kartu dari tumpukan kartu “Kesempatan” dan mulai membacanya.
“Ahhh kok gua sih yang kena!” rengek Christy sambil melempar kartu tersebut ke tengah-tengah papan game. Dengan cepat Bimo memungut dan membacanya.
“Cium partner kamu selama 30 detik!” Bimo membacanya dengan sangat keras, seketika itu juga tampak senyuman lebar menghiasai wajahnya.
Tiba-tiba, Robby yang biasanya tidak banyak omong, berkata dengan suara yang terdengar agak bergetar, “Kalo bankir menganggap kurang terlihat “hot”, hukuman itu wajib diulang....”
“Ahh... lu kok malah memihak si Bimo, sih Rob!?” protes Christy sambil mendelik ke arah Robby yang langsung bersembunyi di balik punggung Jenny sambil berkata gugup.
“Euuum.. emang di situ aturannya gitu, kak....” sahut Robby.
Bimo yang sudah terlihat tidak sabaran, langsung menarik tangan Christy agar segera mendekatinya sambil berkata dengan suara bergetar, “Ayo buruan Chris... lu harus komit, ya!” ucap Bimo, wajahnya kini sudah dipenuhi dengan aura mesum yang menjalar kemana-mana.
“Iya... iya... ga usah narik-narik tangan gua juga napa!” ketus Christy pura-pura galak.
“hands off!” teriak Robby tiba-tiba sembari memunculkan kepalanya dari balik punggung Jenny ketika melihat tangan Bimo berusaha memegang leher Christy.
“Ih, berisik amat lu bankir!”
Sekarang, Bimo yang merasa sebal, tapi pandangannya sama sekali tidak terlepas dari bibir Christy yang berkilau ranum, basah dan menggodanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bimo langsung menyergap bibir Christy yang baru saja memajukan sedikit kepalanya ke arah Bimo. Christy yang merasa sedikit agak gelagapan karena serangan mendadak itu, bergegas membalasnya dengan melumat bibir bawah Bimo. Lidah mereka berdua saling bertaut dan berputar di dalam rongga mulut keduanya.
“Mmmm... mhhhh… ssmmmhhh....”
Suara desahan mereka berdua diiringi dengan kecipak basah air liur yang saling beradu yang terdengar jelas, membuat ketiga pasang mata lainnya hening memandang adegan ciuman tersebut tanpa berkedip dengan dada berdebar.
“Ahh... jago juga ni anak....” batin Christy tanpa sadar memuji cara Bimo menciumnya.
“STOP!”
Teriakan Robby tiba-tiba mengagetkan mereka, membuyarkan aktivitas dan fantasi liar yang kadung menari di kepala masing-masing. “
Udah pas 30 detik, nih!” sela Robby pelan seolah memohon maaf saat ia melihat pandangan tidak terima dari sudut mata Erlan dan Bimo, termasuk Christy dan Jenny juga.
Christy masih terlihat agak sedikit gelisah dan malu, ia menundukan kepala, pipinya tampak agak bersemu merah ketika Erlan; yang sepertinya tidak terima karena Bimo yang dapat aktivitas seperti itu lebih dulu.
Lalu, sedetik kemudian, Erlan pun kembali memulai putarannya. Sampai beberapa putaran kemudian, kartu-kartu yang muncul mengharuskan Jenny menari erotis selama 30 detik, membuat kedua mata Bimo melongo, dan air liur Robby menetes tanpa sadar.
Bimo dapat kartu yang mengharuskannya melepas kaos yang dipakainya, dan hal itu menuai protes dari Jenny dan Christy yang merasa tertipu, karena sebelumnya gak ada pemberitahuan yang mengatakan bahwa ada kartu-kartu yang hukumannya mengharuskan mereka lepas baju. Erlan mencoba berkelit dengan mengatakan bahwa dia pun sebenarnya tidak hapal keseluruhan isi kartu.
Erlan tidak mengatakan kepada kedua cewek tersebut, bahwa masih ada 4 kartu lainnya yang senada atau mirip-mirip seperti itu, bahkan yang lebih “menjurus” ke arah hubungan fisik antara lawan jenis.
Lalu, beberapa saat kemudian, keberuntungan dewa mesum kembali berpihak kepada Erlan saat ia mendapatkan kartu yang isinya mengharuskannya menciumi leher dan telinga Jenny yang sebenarnya Jenny pun menikmatinya. Tapi ia mati-matian tidak pernah mau mengakuinya.
Padahal semua orang jelas-jelas melihat Jenny memejamkan mata dan mendesah pelan walau dengan sekejap ketika lidah Erlan menjilat dan menggigit kecil telinganya.
Melihat adegan seperti itu, Bimo rela membayar berapa saja untuk bertukar posisi dengan Erlan, agar ia dapat menjilati leher jenjang Jenny. Karena jujur saja, sejak ia melihat Jenny untuk pertama kalinya, yaitu ketika Jenny keluar dari kamar mandi, Bimo memang sudah tertarik kepada Jenny. Gairah dan hasrat yang terpendam benar-benar memuncak di atas ubun-ubunnya.
Dan, pada akhirnya, dewa mesum pun menjawab doa Bimo, ketika bidak Jenny mendarat di properti Bimo pas di area Merah. Dan karena itulah, Jenny dan Christy baru menyadari, mengapa area merah harganya paling mahal.
“Ayo cepat ambil kartunya, Rob!” desak Bimo, ia benar-benar sudah sangat tidak sabar. Buru-buru Robby mengambil kartu RENT merah dan membacanya, “Pemilik properti berhak memegang, membelai dan meremas dada ATAU bokong penyewa properti selama 1 menit”.
Tangan Robby sampai gemetaran saat membaca isi kartu tersebut. Dia tidak percaya Bimo seberuntung itu. Dan, Jenny seketika itu juga langsung protes.
“Ahhhh apaan kok gitu bayaran hukumannya!” Keluh Jenny sembari merebut kartu dari tangan Robby dan membacanya sendiri. Pipi Jenny tiba-tiba bersemu merah, saat itu juga ia membuang kartu tersebut dan sontak melindungi dadanya dengan kedua tangan.
“Ga mau ah!” ujar Jenny sembari cemberut memandang ke arah Bimo yang tampak menghiasi wajahnya dengan senyum mesum melebar.
“Ayolah Jen, elu ‘kan udah setuju sama aturan maennya....” rayu Bimo sembari bergerak perlahan menghampiri Jenny, dan berusaha dengan lembut menyingkirkan kedua tangan Jenny yang melindungi buah di dadanya itu.
Untuk beberapa saat, Jenny bersikukuh, tetap melindungi dadanya dengan kedua tangan dan cemberut. Sampai akhirnya ia mendengar Robby berkata kepadanya dengan nada mengancam.
“Kalo gitu Iphone dan dompet Kak Jenny, Robby sita, ya!” ancam Robby.
“kok elu gitu sih, Rob....”
Jenny terdengar memelas. Lalu tiba-tiba Christy pun ikut menimpali, “Yee tadi aja lu dukung Erlan cium gua. Giliran elu, gak mau....” balas Christy dengan nada yang nakal menggoda Jenny.
--------- Batas Preview ---------
Maaf, cerita terkunci!
Khusus Member
PAKET EKSKLUSIF
Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!
Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.
Login / Registrasi
Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan
terlebih dahulu.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Klik tombol di bawah ini
Langganan PaketMaaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.
*Info ini hanya kamu yang lihat
Masa Aktif : -
Silahkan berlangganan kembali.
Langganan PaketMaaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.


