no fucking license
Bookmark
Iklan
Books Collection

Teras Balkon

Teras Balkon
Jelita menerima pertunangannya dengan Matias hanya karena mengikuti keinginan kedua orangtuanya. Sedangkan Haikal mendekati Jelita karena ia tahu gadis itu adalah tunangan Matias, --lelaki yang sudah membuat Talita, --kakaknya sakit hati. Namun, setelah Haikal mendapatkan Jelita seutuhnya, rasa ingin memiliki tiba-tiba tumbuh begitu besar dalam hatinya, Haikal bermaksud untuk menjadikan Jelita sebagai istrinya. Lalu, bagaimana dengan nasib pertunangan Matiasn dan Jelita? Berlanjut, ‘kah? Dan, persoalan antara Talita dan Matias? Apakah mereka bisa saling menerima?
Informasi Cerita
Judul
Teras Balkon
Penulis
elngprtma
Total Chapter
9 Chapter
Hak Akses
Member Eksklusif
Kategori
DEWASA!
DISCLAIMER
Cerita ini hanya sebuah karangan belaka. Dengan ini kami menganggap pembaca adalah benar sudah DEWASA dan mampu mempertanggung-jawabkan pilihan bacaannya sendiri. Semoga semesta menjadi saksi, bahwa kami sudah sangat serius berusaha untuk mengingatkan.
FeatureImage

Bab 1 – Teras Balkon

Haikal menghentikan tarian jari tangannya. Saat itu juga, tubuh Jelita ambruk di samping pagar balkon rumah bertingkat milik lelaki yang saat itu bersamanya. 

Susah payah, Jelita berusaha keras mengatur deru napas yang semakin bertambah cepat. Tubuhnya seakan-akan tidak lagi bertulang, entah sudah berapa kali gadis itu menyemburkan cairan bening dari bagian tubuh sensitifnya yang paling dalam. 

Reaksi aktif tubuhnya memang sangat rentan dan sensitif, gerakan nakal jari-jari tangan Haikal begitu agresif, menjelajahi seluruh area tubuhnya tanpa permisi, membuat bagian-bagian tubuh Jelita yang paling sensitif itu benar-benar mengembang dan berdenyut-denyut kecil. 

Tangan Haikal bertambah liar, ia bahkan sama sekali tidak memerdulikan keadaan sekitar. Bibir, lidah serta jari-jari tangannya giat berkelana, bergerak lincah ke sana dan kemari, berusaha mengobrak-abrik kembali pertahanan Jelita yang sudah rapuh.

Menyadari tubuh Jelita sebentar lagi runtuh, Haikal segera membantunya berdiri sembari menghiasi beberapa area paling sensitif pada tubuh Jelita dengan hisapan-hisapan kecil yang menggigit. 

Tubuh Jelita kembali menggeletar, aliran listrik seolah-olah menjalar di dalam tubuh, menyengatnya kembali saat bibir Haikal menyerbu organ tubuhnya yang paling berbahaya. 

Haikal bergerak cepat, seakan-akan tidak mengenal kata lelah sedikitpun, sepertinya ia memang sengaja ingin membuat Jelita terbang melayang jauh ke angkasa. Memberi sebuah rasa yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun. 

Letupan keras di dalam dada mengalahkan segalanya, Jelita terdengar mengerang pelan, berusaha menahan diri agar tidak lagi menerima kekalahan. 

Mereka berdua sama sekali tidak lagi memerdulikan keadaan sekitar area kompeks perumahan yang rata-rata memiliki rumah bertingkat dengan balkon di setiap lantai atasnya. 

Di sebrang bangunan balkon tempat tinggal Haikal, seorang lelaki terlihat berjalan santai menuju teras balkon rumahnya, ditangannya terselip sebuah buku yang cukup tebal, berjalan santai sembari menikmati syahdunya cahaya matahari sore yang menyinari area kompleks. 

Sebelum ia menempatkan bokongnya di atas bantalan kursi sofa, lelaki itu memasang earphone di kedua daun telinganya. Ia sama sekali tidak menyadari, jika tepat di samping balkon rumah bertingkatnya, ada dua anak manusia yang berlainan jenis sedang melakukan aktifitas penyatuan diri. 

Kedua insan di atas balkon samping rumahnya melupakan sesuatu, bahwa kehidupan di planet ini bukan hanya milik mereka berdua, ada manusia lain di sekitar tempat mereka tinggal, hidup dan memadu cinta. 

Andai saja lelaki itu menoleh sedikit saja ke arah samping, ia pasti melihat dengan jelas pemandangan yang menjijikan seperti itu. Detak jantungnya dijamin akan berhenti saat itu juga. Terlebih saat tubuh Jelita bergetar hebat saat Haikal memainkan jari tengah di antara pangkal kedua pahanya yang putih mulus itu.

Entah sudah berapa lama tubuh Jelita dikuasai sentuhan dan permainan tangan Haikal, daerah lembab di bagian tubuhnya pun semakin basah. 

Jelita terlihat pasrah, tampak siap menerima buasnya arus kenikmatan, walaupun ia tahu, ada seseorang di sebrang balkon mereka. 

“Aahkk ... Haikal, Ssshhh  .... a ... ada ... ada Matias ... di sebrang ...“ 

“Biarin aja ... biar dia melihatnya ....”

“Jangan ... aduuh .... aaaahhhhh ... ssshhhh ....”

Jelita benar-benar pasrah, ia sudah tidak mampu lagi menghalau serangan-serangan liar dari lelaki itu, ia hanya bisa menutup bibirnya dengan telapak tangan kanan, agar jeritannya tidak sampai melengking kencang saat sebagian tubuh Haikal tiba-tiba menerobos masuk ke dalam tubuhnya. 

“Aaasssshhhhh .... Haikaaaalll .... aaakkhhh!!”

Kedua mata Jelita terlihat sedikit membesar saat Haikal mulai menyatukan dirinya dari arah belakang tanpa aba-aba. 

Jelita sama sekali tidak menduga Haikal berani melakukannya di atas teras balkon, walaupun ia menyadari celana rok pendek yang dikenakannya memang sudah tidak lengkap sedari tadi. 

Ya memang benar, beberapa menit lalu, celana paling dalam yang dikenakannya sudah tidak lagi berada di tempat yang seharusnya. Tangan nakal Haikal telah melemparkannya jauh entah kemana.

Walaupun beberapa gelas wine yang mereka minum beberapa saat lalu masih mempengaruhinya, namun Jelita masih mampu menggunakan akal sehatnya agar ia tidak menjerit kencang.

Hentakan demi hentakan pinggul Haikal bergerak semakin cepat, menghantam area belakang tubuh Jelita yang padat membentuk dua bulatan sempurna, berkali-kali dan tanpa henti.

Beberapa detik kemudian, Jelita mulai meresapi penyatuan diri mereka. Kedua tangannya menggenggam pinggiran pagar teras balkon dengan kepala menunduk, berusaha menghindari jarak pandang dari arah bawah. Ia tidak ingin penyatuan diri mereka disaksikan manusia-manusia lain dari area lingkungan itu. 

“Aaahhhk .... Haikal ... ssssshhhh .... su-sudaaah ... ja-jangan di sini ... Haiikaaall .... ssshh ... aaaakkkhh ....“`

Jelita akhirnya mendesis panjang, kali ini ia tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak mengeluarkan suara-suara lengkingan halusnya. Sensasi dahsyat yang ia peroleh senja itu berhasil membombardir sistem yang bertugas memicu gelora hasrat biologis dalam tubuhnya, terlebih saat area tubuhnya yang paling sensitif tersentuh secara berulang dan terus menerus. 

“Haikaaall ... aduuhhh .... aaaakkhhsss .... “

Jelita masih berusaha menahan jeritannya agar tidak terdengar sampai jauh terbawa embusan angin sore. Ia mengerang, suaranya terdengar serak dan tertahan, membuat Haikal semakin merasa tertantang. 

Lelaki itu kembali menambah laju kecepatan pinggulnya, bergerak maju dan mundur secara teratur dengan kedua tangan kencang mengikat erat pinggang Jelita dari belakang. 

Gila! Mereka benar-benar mengabaikan area kompleks perumahan itu. Bangunan-bangunan rumah di sana memang mirip kawasan villa, tidak begitu rapat namun cukup berjarak, sehingga suara-suara jeritan tertahan dari bibir mereka tidak begitu terdengar sampai ke sebrang teras balkon tetangga. 

Sementara itu, Matias masih mendengarkan musik melalui earphone yang menempel di kedua daun telinganya. Alunan musik kesukaannya telah berhasil mengabaikan keadaan di sekitarnya. Karena itulah ia tidak mendengar suara jeritan tertahan yang keluar dari mulut Jelita. 

Kecuali, jika saja ia sempat memutarkan kepala ke arah samping dan menajamkan kedua matanya, pemandangan yang dapat meruntuhkan jantungnya itu pasti akan sanggup memaksanya untuk segera bangkit dari tempat duduknya dan berdiri dengan cepat, lalu berlari ke arah mereka.

Di teras balkon milik Haikal, pergulatan di antara dua manusia berlainan jenis itu masih berlangsung, Haikal terus saja menghujani tubuh Jelita dengan hentakan-hentakan pinggul yang bergerak cepat. Menikam bagian tubuh Jelita yang berlubang. Kuat, penuh tenaga dan berkali-kali. 

“Aku sudah mau sampai, di dalam atau di luar?” bisik Haikal. 

Setelah beberapa menit mereka menyatukan sebagian tubuh, akhirnya Haikal merasa ada satu desakan kuat dari dalam tubuhnya, menuntut untuk segera dikeluarkan. 

Napas keduanya terdengar cepat memburu, keringat bercucuran di sekitar pelipis hingga ujung rambut, Haikal segera mempercepat proses hentakan pinggulnya sembari menutup kedua matanya, meresapi segala kenikmatan biologis yang sebentar lagi akan segera meledak di atas puncak kenikmatan, membawa mereka terbang jauh ke awang-awang.

“Di luaar .... tolong ... jangan di dalam!”

 


---------   Batas Preview    ---------


Maaf, cerita terkunci!

Khusus Member

PAKET EKSKLUSIF

Sepertinya kamu belum memiliki akun. Registrasi dulu, yuk!

Dapatkan Hak Akses Eksklusif untuk membuka SEMUA judul cerita yang terkunci.

Login / Registrasi

Maaf, kamu belum memiliki
Hak Akses Eksklusif.
Silahkan berlangganan terlebih dahulu.

Data Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -

Klik tombol di bawah ini

Langganan Paket
Paket Eksklusif Sudah Berakhir 💔

Maaf, masa aktif Paket Eksklusif yang kamu miliki sudah berakhir.


Data Kamu
*Info ini hanya kamu yang lihat
-
Paket: -

Masa Aktif : -


Silahkan berlangganan kembali.

Langganan Paket

Maaf, paket eksklusif hanya dapat diakses oleh member yang berlangganan PAKET EKSKLUSIF. Paket kamu saat ini adalah Silakan berlangganan paket eksklusif untuk mengakses cerita ini. Terima kasih.

Post a Comment

Post a Comment

Romance
Lihat Semua